cover
Contact Name
Fatwa Nurul Hakim
Contact Email
hakiimfatwa@gmail.com
Phone
+6282134205810
Journal Mail Official
mipksb2p3ks@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kesejahteraan Sosial No. 1 Sonosewu, Kasihan Bantul DIY
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial
ISSN : 20884265     EISSN : 25279750     DOI : -
Core Subject : Social,
Hasil penelitian maupun studi literatur bidang kesejahteraan sosial meliputi Penanganan fakir miskin, rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial serta pemberdayaan sosial
Articles 136 Documents
Pelayanan Sosial bagi Penyandang Cacat melalui Program Asistensi Sosial Orang dengan Kecacatan (Asodk) Akhmad Purnama
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 40 No 1 (2016): Volume 40 Nomor 1 April 2016
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v40i1.2282

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pelayanan sosial bagi penyandang cacat melalui program asistensi sosial orang dengan kecacatan (ASODK), diketahui faktor pendukung dan penghambat program ASODK. Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif evaluatif, yakni ingin mengetahui implementasi program ASODK yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Sosial. Penentuan lokasi penelitian secara purposive, yaitu Kota Makassar Provinsi Sulawesi. Informan ditentukan secara purposive, yaitu penerima bantuan ada delapan orang, pelaksana dua orang dan pendamping program ASODK 3 (tiga) orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Implementasi Program ASODK sudah diberikannya secara tepat waktu, tepat sasaran dan sesuai dengan target yang didistribusikan. Program ASODK yang dilakukan dapat memberikan dampak positif bagi yang menerima yaitu mengalami perubahan yang lebih baik yang ditandai dengan perubahan pola makan dan penambahan gizi serta peningkatan kesehatan; perubahan perilaku keluarga, setelah pemberian ASODK penyandang tidak lagi disembunyikan dan keluarga lebih terbuka. Ada kepedulian petugas pelaksana dan pendamping untuk melakukan sosialisasi, home visit, bimbingan kepada keluarga yang memiliki anggota keluarga disabilitas dan masyarakat lebih terbuka dan berperan dalam menginformasikan apabila ada anggota keluarganya yang penyandang disabilitas. Rekomendasi yang ditujukan kepada Kementerian Sosial Cq. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, secara teknis dilakukan oleh Direktorat Rehabilitasi Sosial Orang Dengan Kecacatan, dalam menyalurkan bantuan ASODK sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan. Pemberian bantuan tidak hanya kepada penderita cacat namun juga bagi keluarga ODK untuk dapat dikembangkan dalam upaya peningkatan perekonomian keluarga. Pemberian program pelatihan yang diberikan kepada pendamping ataupun wali agar lebih memahami dan mengetahui tentang tatacara pengasuhan orang cacat dengan jenis kecacatan dalam keluarga.
Jeritan Tukang Becak dengan Merebaknya Bentor Tyas Eko Raharjo F
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 42 No 1 (2018): Volume 42 Nomor 1 April 2018
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v42i1.2250

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan tukang becak melalui pemenuhan kebutuhan keluarga, baik fisik, psikis, dan sosial. Pendekatan yang digunakandeskriptif kualitatif untuk mengungkap kesejahteraan tukang becak dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Penelitian dilaksanakan di Kota Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, telaah dokumen dan kepustakaan, dengan analisis data secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa kesejahteraan tukang becak tradisional belum sepenuhna dapat terpenuhi, hal ini terbukti dalam pemenuhan kebutuhan dasar baru dapat terpenuhi pada kebutuhan makan, sementara kebutuhan kesehatan, pendidikan anak, pakaian belum sepenuhnya terpenuhi.Demikian pula pemenuhan kebutuhan psikis belum dapat terpenuhi terutama dalam melakukan rekreasi. Kebutuhan sosial masih mengalami kesulitan dalam mengatur waktu antara pekerjaan dengan kegiatan bermasyarakat, sehingga belum dapat terpenuhi untuk kebutuhan sosial. Keberadaan bentor dirasaberpengaruh terhadap penghasilan para tukang becak terutama berkait dengan berkurangnya pelanggan. Direkomendasikan agar pemerintah daerah/SKPD khususnya pemerintah Kota Yogyakarta dapat sinergi dengan pemerintah provinsi untuk melakukan bimbingan terhadap tukang becak tradisional dan bentor. Bimbingan keterampilan ekonomis produktif dapat menjadi alternatif kepemilikan usaha keluarga tukang becak demi meningkatkan kesejahteraan keluarga.Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta perlu memberi ruang bagi berbagai alat transportasi tradisional yang ada di Kota Yogyakarta. Dengan demikian antara tukang bentor dan tukang becak tradisional akan saling berdampingan dalam melakukan pekerjaan.
Penanganan Kemiskinan melalui Kelompok Usaha Bersama (Kube) Lidia Nugrahaningsih Ayal
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 40 No 2 (2016): Volume 40 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v40i2.2294

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menggambarkan program penanggulangan kemiskinan melalui Kube, beserta faktor pendukung dan penghambat dalam kegiatan usaha ekonomi profduktif. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive di sepuluh kecamatan kota Banjarmasin, dengan pertimbangan di kecamatan tersebut terdapat Kube. Hasil penelitian menemukan  bahwa Kube di kota Banjarmasin telah melaksanakan kegiatan usaha ekonomi produktif berkelanjutan dan dapat meningkatkan taraf kesejahteraan anggota, yang dibuktikan dengan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, papan, kesehatan), serta mempunyai keterampilan memecahkan masalah, juga mampu menjalin kerjasama sesama anggota dan masyarakat sekitar. Direkomendasikan bagi Kementerian Sosial, melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (Pusdiklat Kesos) dan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (B2P2KS) dalam pelaksanaan persiapan permberdayaan (diklat) terhadap sasaran Kube, perlu dialokasikan waktu yang cukup, materi dan kurikulum yang relevan, sarana dan prasarana yang memadai dan praktik lapangan yang cukup, sehingga Keluarga Binaan Sosial (KBS) dapat lebih mengelola Kube dengan baik. Dalam peningkatan SDM pendamping Kube, hendaknya menggunakan fasilitator, narasumber, praktisi yang memiliki kompetensi memadai dan memiliki pengalaman praktis dalam bidang pendampingan, sehingga ilmu dan materi yang diberikan kepada sasaran lebih aplikatif, bukan teoritis.
Kegiatan Produktif Lanjut Usia dalam Mewujudkan Hidup Bahagia Akhmad Purnama
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 41 No 3 (2017): Volume 41 Nomor 3 Desember 2017
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v41i3.2261

Abstract

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk memahami kehidupan lanjut usia (lansia) yang mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif. Penentuan lokasi penelitian secara purposive yaitu daerahyang jumlah lansia produktifnya cukup banyak. Hasil wawancara dan pengamatan diketahui, bahwa di Desa Panggungharjo yang berpusat di Dusun Pandes Kecamatan Sewon Bantuldijumpai lansia yang memanfaatkan waktu luang dengan membuat produk dolanan anak. Kegiatan yang mereka lakukan dapat menambah penghasilan sehingga mereka tidak tergantung orang lain. Kegiatan ini menjadikan kehidupan sehari-hari merekamenjadi lebih bermakna. Pemerintah diharapkan peduli dan mendukung kegiatan tersebut. Pemerintah dan masyarakat sekitar Dusun Pandes agar memberikan bantuan dan pelatihan untukmengembangkan produk dolanan anak yang sudah dijadikan sebagai mata pencaharian guna meningkatkan kesejahteraan mereka.
Dampak Kekerasan Seksual di Ranah Domestik Terhadap Keberlangsungan Hidup Anak Tateki Yoga Tursilarini
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 41 No 1 (2017): Volume 41 Nomor 1 April 2017
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v41i1.2277

Abstract

Fakta menunjukkan semakin meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak di ranah domestik. Ranah domestik/keluarga seharusnya merupakan tempat yang aman dan nyaman bagi anak, dalam kenyataannya menjadi tempat mendapatkan kekerasan. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan dampak kekerasan seksual ranah domestik terhadap keberlangsungan hidup anak. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, sedangkan pendekatan yang digunakan studi kasus. Informan utama adalah korban dan informan lain adalah orangtua, dan lembaga perlindungan anak. Teknik analisis kualitatif yaitu menyajikan data dengan menarasikan, dan menginterpretasikan data. Temuan penelitian, dampak bagi anak korban kekerasan seksual menyebabkan, emosi tidak stabil; cenderung diam, tidak mau keluar rumah; depresi, ketakutan, cemas; suka melamun; malu dan minder; putus sekolah; diasingkan oleh keluarga; diasingkan tetangga; keberlangsungan hidup keluarga dan korban terganggu; dan kejelasan status anak hasil inses; anak yang dilahirkan mengalami kelainan fisik dan psikis.Saran, pencanangan darurat inses dengan pendekatan melalui agama menjadi mendesak untuk segera diwujudkan, karena selama ini para tokoh maupun ulama belum memusatkan perhatian terhadap persoalan kekerasan inses. Kejelasan status hukum anak hasil inses, aturan agar korban tetap melanjutkan sekolah, pengembangan keterampilan untuk penguatan potensi diri korban agar mandiri, perlindungan, dan jaminan sosial bagi anak hasil inses dan korban. 
Strategi Pelestarian Budaya Lokal dalam Menjaga Kesetiakawanan Sosial Suryani Suryani; Akhmad Purnama
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 42 No 2 (2018): Volume 42 Nomor 2 Agustus 2018
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v42i2.2245

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelestarian budaya lokal dalam rangka menjaga kesetiakawanan sosial. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan telaah dokumen. Sumber data lima orang terdiri dari ketua karang taruna, ketua dan anggota paguyuban karawitan, ketua Tim Penggerak PKK, dan Kepala Urusan Pembangunan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif model Miles dan Hubermann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dalam melestarikan budaya lokal antara lain dengan upaya generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan budaya peninggalan nenek moyang. Generasi muda mempelajari budaya bukan hanya sekedar mengenal tetapi juga mempraktekan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menyelenggarakan pertunjukkan budaya lokal antardusun dengan tujuan untuk melestarikan dan menanamkan nilai-nilai kesetiakawanan sosial di kalangan generasi muda. Para pemuda berpartisipasi dalam berbagai pertunjukkan  dengan mengikuti lomba menari tarian daerah, berpartisipasi mementaskan budaya tradisional pada acara perayaan hari ulang tahun kemerdekaan, mengadakan pementasan kethoprak dengan tema nilai perjuangan dan mengikuti kirab budaya.  Berbagai kegiatan tersebut bertujuan agar generasi penerus memiliki kecintaan pada budaya lokal sehingga tidak musnah dan tetap dapat bertahan. Oleh karena itu, diharapkan agar nilai kesetiakawanan sosial dan budaya lokal menjadi salah satu materi pembelanjaran bagi siswa dan dimasukkan dalam kurikulum pelajaran di sekolah. Rekomendasi ditujukan kepada Kementerian Sosial melalui Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan, dan Kesetiakawanan Sosial agar meningkatkan  berbagai kegiatan yang  bertujuan untuk menumbuhkan dan menanamkan rasa kesetiakawanan sosial,  dengan upaya melestarikan budaya lokal yang memang sudah dimiliki dan diwariskan oleh para leluhur, sehingga tetap bertahan dan menjadi warisan budaya yang tinggi nilainya.
Mewujudkan Kesejahteraan Keluarga melalui Harmonisasi Masyarakat Tapal Batas Tyas Eko Raharjo F
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 41 No 3 (2017): Volume 41 Nomor 3 Desember 2017
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v41i3.2256

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan upaya kesejahteraan keluarga dengan menjalin harmonisasi masyarakat baik harmonisasi secara keluarga, bermasyarakat, dan harmonisasi berbudaya. Terjalinnya harmonisasi masyarakat antar Jagoi Babang Indonesia dan Serawak Malaysia mewujudkan kesejahteraan keluarga pada masyarakat Jagoi Babang, karena dengan hubungan yang baik akan terjadi transaksi perdagangan yang saling menguntungkan. Dengan demikian penelitian ini dapat memberi manfaat bagi pemerintah pusat sebagai masukan terkait model pelayanan masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga, khususnya masyarakat di daerah perbatasan antar negara dengan memperhatikan elemen-elemen kemasyarakatan setempat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan mendasarkan pola berpikir secara induktif. Pendekatan kualitatif lebih menekankan pada makna dari pada generalisasi (Bagong Suyanto dan Sutinah, 2007), untuk mengungkap terkait dengan terwujudnya kesejahteraan keluarga melalui harmonisasi masyarakat tapal batas. Pengumpulan data diperoleh dari informan yaitu pemimpin pemerintahan di tingkat kecamatan, tokoh masyarakat dan masyarakat Jagoi Babang. Data diperoleh melalui teknik wawancara, untuk mengungkap upaya masyarakat Jagoi Babang dalam memelihara keharminisasian antar masyarakat yang ada di perbatasan. Observasi juga dilakukan untuk mengetahui secara langsung aktivitas masyarakat di tapal batas (perbatasan antar negara). Lokasi penelitian ditetapkan secara purposive yakni Kecamatan Jagoi Babang, karena Jagoi Babang merupakan wilayah kecamatan yang memiliki daerah perbatasan darat langsung dengan Negara Malaysia. Data yang terkumpul dianalisa secara deskriptif, dan dipaparkan dalam bentuk naratif. Berdasar hasil observasi, wawancara dengan informan yang tinggal di Jagoi Babang menunjukkan, bahwa kesejahteraan keluarga dapat diwujudkan dengan melakukan harmonisasi keluarga, harmonisasi bermasyarakat, dan harmonisasi berbudaya. Harmonisasi tersebut di jalin dengan melakukan silaturahmi yang dikaitkan dengan moment tertentu seperti perayaan hari raya keagamaan di manfaatkan untuk berkunjung antar keluarga dengan masyarakat negara tetangga. Wujud harmonisasi bermasyarakat nampak pada adanya kesepakatan masyarakat Jagoi dan Serawak yang melakukan perdagangan di Pasar Serikin. Masyarakat saling sepakat dalam menggunakan jasa ojek sebagai alat transportasi perdagangan dengan mengatur dan membagi jasa tukang ojek dalam mengangkut dagangan.
Kehutanan Sosial sebagai Pecegahan Perambahan Ilegal Masyarakat Miskin Lingkungan Hutan Gunanto Surjono
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 44 No 3 (2020): Volume 44 Nomor 3 Desember 2020
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v44i3.2190

Abstract

Metode penelitian menggunakan pos-eksperimen deskriptif, bermaksud mengung-kap efektivitas program kehutanan sosial, dengan partisipan program anggota masyarakat miskin  dan rawan melakukan perambahan secara ilegal. Teknik pengumpulan data dilakukukan melalui wawancara dengan 10 informan yang mengetahui seluk beluk program kehutanan sosial dan observasi terstruktur dengan 150 participan, untuk mendapatkan data kuantitatif efektivitas program. Hasil penelitian menunjukkan ada efektivitas program kehutanan sosial yang ditunjukkan melalui lima indikator sikap partisipan sebelum dan sesudah program diimplementasikan.  Sikap-1, menebang pohon hutan utama untuk tujuan komersial. Sikap-2, membudidayakan lahan hutan negara tanpa izin pemerintah. Sikap-3, berburu binatang dan unggas untuk konsumsi sendiri. Sikap-4, merusak hutan tanpa menebang pohon utama untuk kebutuhan hidup dasar.Sikap-5, menggembalakan ternak dan merabas daun untuk pakan.
Melacak Akar Permasalahan Gelandangan Pengemis (Gepeng) Sri Kuntari; Eni Hikmawati
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 41 No 1 (2017): Volume 41 Nomor 1 April 2017
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v41i1.2272

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui berbagai akar permasalahan yang dialami gelandangan dan pengemis. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di Dusun Muntigunung Desa Tianyar Barat Kecamatan Kubu Kabupaten Karangasem Provinsi Bali dengan pertimbangan masyarakat daerah ini banyak yang menjadi pengemis dengan cara menggelandang di beberapa kabupaten dan kotadi Provinsi Bali. Subyek penelitian ditentukan secara purposive[ME1]  didasarkan pada kriteria tertentu, yakni gepeng yang terjaring razia satuan polisi pamong praja dan diserahkan kepada Dinas Sosial Kabupaten Karangasem, petugas dinas sosial yang menangani gepeng, dan pendamping sosial dari Kecamatan Kubu yang mengetahui permasalahan gepeng. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara dan telaah dokumen. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Penelitian ini mengungkap bahwa 95 persen gepeng adalah perempuan dan beberapa diantaranya membawa anak balita. Keputusan menggepeng atas persetujuan suami dengan alasan faktor ekonomi atau kemiskinan, kendala geografis daerah asal, serta adanya faktor sosial psikologis dan sosial budaya. Penghasilan yang relatif banyak dari mengemis menyebabkan mereka enggan melakukan pekerjaan lain. Agar gepeng berhenti dari mengemis, Kementerian Sosial RI melalui Dinas Sosial Kabupaten Karangasem telah melakukan pembinaan berupa bimbingan keterampilan disertai pemberian modal usaha sebesar Rp 5.000.000,- per orang. Rekomendasi yang diajukan diantaranya adalah pembentukan kelompok kerja dan forum paguyuban eks gepeng. Fungsi forum adalah untuk menampung dan mengatasi berbagai permasalahan yang dialami eks gepeng yang selanjutnya dapat diatasi oleh instansi yang berwenang
Relasi Sosial Anak Jalanan dalam Komunitas Jalanan Soetji Andari
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 42 No 2 (2018): Volume 42 Nomor 2 Agustus 2018
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v42i2.2239

Abstract

Dinamika kehidupan anak jalanan selalu menyisakan berbagai tindakan kekerasan yang menyebabkan anak menjadi pelaku kekerasan bagi anak jalanan lain atau sebaliknya menjadi korban. Bagi anak jalanan hidup di jalan bukan pilihan akan tetapi kebutuhan yang harus dijalani. Mereka kerap kali berhadapan dengan kerasnya hidup di jalanan seperti kejahatan, kekerasan, maupun kebebasan. Tak ada seorang pun yang menginginkan untuk hidup di jalanan. Tujuan penelitian untuk mengetahui relasi sosial yang terjadi antara anak jalanan dan komunitas jalanan untuk bertahan hidup di bawah tekanan dan keterbatasan. Kelompok anak dan komunitas jalanan memiliki ciri solidaritas kelompok yang membela salah satu anggotanya. Dinamika interaksi kelompok komunitas jalanan menghasilkan sebuah fenomena masyarakat jalanan dalam sosiologi budaya disebut sebagai solidaritas kelompok (group solidarity). Fenomena ini merupakan lawan dari semangat individualitistik dalam masyarakat umum