cover
Contact Name
I Gusti Made Widya Sena
Contact Email
pangkajaihdndenpasar@gmail.com
Phone
+6281236464019
Journal Mail Official
pangkajaihdndenpasar@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kenyeri No.57 Denpasar
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Pangkaja: Jurnal Agama Hindu
ISSN : 14127474     EISSN : 26232510     DOI : -
Pangkaja: Jurnal Agama Hindu dengan No ISSN 1412-7474 dan e-ISSN 2623-2510 yang dikeluarkan oleh LIPI dikelola oleh Pascasarjana Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar dan diterbitkan oleh IHDN Denpasar Jurnal Pangkaja adalah media untuk mempublikasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan berbagai masalah Agama, Sosial dan Budaya Hindu yang semakin kompleks dewasa ini seiring perkembangan globalisasi. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun yakni pada bulan Maret dan September. Fokus Jurnal Pangkaja : Agama Hindu, Sosial dan Budaya Hindu
Articles 153 Documents
SARATHI BANTEN DI BALI ANTARA PROFESI DAN YADNYA DALAM PERSPEKTIF PERSAINGAN PASAR BEBAS Adhikang, Lilawati
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 22, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Of the three basic frameworks of Hinduism which consist of Tattwa, Susila and Upacara, the elements of the ceremony that look very dominant compared to the other two. Ceremonial facilities usually called banten consist of many components, knick-knacks vary with various types of variations. Nowadays, preparing ceremonial facilities is no longer possible to make itself, the practicality paradigm, fast because it is pursued by a limited time so buying facilities is a fast, appropriate and safe choice. The demand for fast and instant modern society opens opportunities for service providers and ceremonial products. The emergence of the banter artisans or Sarathi who are ready to provide all the ceremonial necessities quickly. This collaboration on the basis of mutual need raises new social capital in the community. Sarathi is a fast-paced social capital that will be contested by the perpetrators to become a new industry. There is demand followed by the provision of placing Sarathi as the seller of the providers of cash facilities. Sarathi enters the market for aid facilities like the market will be competitive. Free competition in the digital era is one of them. Sarathi Banten will be a special profession sought by modern society. This study will answer the role of Sarathi in the Hindu view, the role of Sarathi in being part of traditional free market competitionand the digital era and to provide a view of the role of government and publicity institutions to Sarathi so that they are able to play a role in tattwa but survive in the market.
KONSEP VIRAT VIDYÄ€ DALAM TEKS TUTUR BHUWANA MAREKA Adnyana, Ida Bagus Putu; Redi, I Wayan; Sena, I Gusti Made Widya
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teks Tutur Bhuwana Mareka merupakan teks lontar yang bernuansa Siwaistik dan kental akan ajaran Tattwa. Pemilihan teks ini sebagai objek kajian penelitian didasarkan pada kenyataan bahwa teks ini memuat ajaran Virat Vidyā atau Kosmologi Hindu. Rumusan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini berkaitan dengan konsep Virat Vidyā yang terdapat dalam teks Tutur Bhuwana Mareka yang terdiri dari tiga konsep pembahasan yaitu proses penciptaan (uttpti), pemeliharaan (stiti), dan peleburan (pralina). Proses penciptaan (uttpti) alam semesta dalam teks Tutur Bhuwana Mareka berawal dalam keadaan alam semesta yang sangat sunyi dan hampa, tidak ada satu ciptaan pun yang tampak oleh mata, yang ada hanyalah alam sunyi yang disebut hning sunya nirbhana. Intisari atau esensi dari hning sunya nirbhana ini adalah Sang Hyang Nora. Setelah Sang Hyang Nora hadir maka mulailah transformasi atau evolusi penciptaan alam semesta. Dari Sang Hyang Nora lahir Sang Hyang Mareka Jati sebagai entitas tertinggi yang menjadi cikal-bakal terjadinya penciptaan alam semesta melalui evolusi yoga-Nya. Kemudian terjadilah proses pemeliharaan (stiti) alam semesta yang berlandaskan pada konsep dasar Tri Sakti yang meliputi pikiran (idep), nafas (bayu) dan suara (sabda). Serta yang terakhir adalah proses peleburan (pralina) alam semesta yang menganut konsep Śiwa Lingga. Konsep ini menghendaki adanya proses penciptaan alam semesta yang dilakukan oleh Sang Hyang Mareka Jati, pada hakikatnya akan kembali lagi kepada Beliau sebagai entitas tertinggi yang menciptakan alam semesta. 
EDUKASI TRI HITA KARANA DALAM PERTUNJUKAN DRAMA GONG PENOPANG KEBERLANJUTAN BUDAYA BALI Sugita, I Wayan
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya ilmiah ini bertujuan membahas edukasi Tri Hita Karana (THK) dalam pertunjukan drama gong era society 5.0 dan maknanya bagi keberlanjutan budaya Bali. Makalah ilmiah ini merupakan hasil penelitian kualitatif yang datanya dikumpulkan melalui observasi, studi dokumentasi dan wawancara mendalam terhadap pelaku seni dan wakil penonton drama gong, serta pemerhati seni-budaya Bali. Analisa deskriptif kualitatif dilakukan dengan menerapkan teori semiotika, teori interasionisme simbolik, dan teori tindakan sosial (Bourdeau). Hasil penelitian menunjukkan: Pertama, model drama gong inovatif, antara lain terwakili oleh kisah “Jayaprana” diyangkan Bali TV (2020/2021), serta “Ni Diah Tantri” dan “Cupak Madeg Ratu” ditayangkan TVRI Bali (2021). Drama gong dengan menyampaikan edukasi Tri Hita Karana (THK) dimaksudkan agar penggemarnya  menjadi masyarakat pintar sesuai era 5.0, mampu mewujudkan kehidupan yang harmonis: antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesamanya (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan). Kedua, edukasi THK melalui pertunjukan drama gong memiliki makna dalam memperkuat tradisi dan menopang keberlanjutan budaya masyarakat Hindu Bali.
FUNGSI DAN PERANAN PEREMPUAN HINDU DALAM PELAKSANAAN YADNYA DI BALI kartika, ni gusti ayu
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali merupakan salah satu daerah yang sangat menjunjung tinggi budaya, dimana sampai saat ini budaya bali masih berakar kuat di setiap gerak langkah kehidupan masyarakatnya. perempuan bali memiliki nilai tambah yang berperan penting dalam melestarikan budaya, karena perempuan bali menduduki posisi yang sangat strategis sebagai sosok panutan dalam pelaksanaan budaya. perempuan bali memiliki triple roles yakni peran keluarga, peran ekonomi dan peran adat keagamaan. pelaksanaan peran yang maksimal, baik di lingkungan keluarga, lingkungan tempat bekerja, maupun masyarakat umum (komunitas sosial budaya/adat keagamaan). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan fungsi dan peranan perempuan hindu dalam pelaksanaan yadnya di bali mengingat posisi wanita memiliki peran dan kedudukan yang sangat penting dalam ajaran agama hindu, bahkan wanita merupakan tiang yadnya yang memiliki peran mulai dari persiapan dan pelaksanaan yadnya. karena masyarakat hindu di bali yang begitu kental dengan pelaksanaan upacara keagamaan, sehingga kaum wanitanya hendaklah juga terampil dalam membuat sarana upacara dan ulet dalam hal melakukan aktifitas yadnya. penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian ini berusaha mengungkap fungsi dan peranan perempuan Hindu dalam pelaksanaan yadnya di Bali hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk-bentuk peranan perempuan di Bali khususnya dalam kegiatan ritual keagamaan kebanyakan berperan dalam mengatur acara ritual secara keseluruhan. Maksudnya adalah para perempuan Bali dari awal dan dari jauh-jauh hari sudah mempersiapkan upacara kegiatan ritual yang akan dilaksanakan hampir setiap bulannya bahwa di Bali banyak sekali kegiatan yang benuansa ritual keagamaan 
KEBERADAAN TUHAN DALAM FILSAFAT NYAYA DAN ARGUMEN KOSMOLOGI (STUDI KOMPARASI PANDANGAN RSI GAUTAMA DAN THOMAS AQUINAS) Yasa, Putu Dana
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

keberadaan Tuhan hingga saat ini masih menimbulkan berbagai pertanyaan karena belum ada satupun manusia yang mampu menjelaskan Tuhan dengan sempurna. tulisan ini berupaya menyampaikan pandangan Rsi Gautama dengan sistem filsafat Nyaya sebagai upaya memperoleh kebenaran melalui logika serta pandangan filsafat barat tentang Tuhan yang disampaikan oleh Thomas Aquinas dengan salah satu penjelasan yaitu argumen kosmologi sebagai argumentasi terhadap sumber pertama dari segala sebab yang ada
ME-REVIEW PEMIKIRAN PARA FILSUF ATAS KONSEPSI MASYARAKAT DALAM BUKU “REALITAS SOSIAL, REFLEKSI FILSAFAT SOSIAL ATAS HUBUNGAN INDIVIDU-MASYARAKAT DALAM CAKRAWALA SEJARAH SOSIOLOGI” Wisarja, I Ketut; Suastini, Ni Nyoman
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat adalah suatu kesatuan hidup manusia yang dapat saling eksklusif menurut aturan, norma, dan adat istiadat tertentu yang berkesinambungan dan terikat oleh suatu identitas bersama. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat terbentuk tanpa adanya interaksi individu sebagai penyusun utama masyarakat. Oleh karena itu, individu adalah kunci dari bentuk ideal pembangunan komunitas. Artikel ini mengkaji pemikiran beberapa filsuf yang berkecimpung di bidang filsafat sosial dan membandingkannya dengan pemahaman yang utuh tentang konsep masyarakat yang mereka cita-citakan, yaitu konstruksi masyarakat yang damai, tanpa rasa takut, dan jauh dari perilaku kekerasan.
PERSEPSI GURU AGAMA HINDU TERHADAP KENAKALAN SISWA SAAT PEMBELAJARAN DARING (STUDY KASUS DI SMA DHARMA PRAJA DENPASAR) wahyuningsih, kompyang sri
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru Agama Hindu, Kenakalan Siswa,Pembelajaran Daring
KONSTRUKSI SOSIO-RELIGIUS UMAT HINDU DI BALI PADA MASA COVID-19 Sukrayasa, I Wayan
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tatanan sosial dan perilaku keberagamaan di Indonesia khususnya di Bali mengalami banyak perubahan yang disebabkan oleh fluktuasi pandemi Covid-19. Selain dampak pada kesehatan, juga menyentuh pada perilaku sosio religius umat  Hindu di Bali. Perspektif agama ini memiliki pengaruh sangat kuat dalam menyadarkan masyarakat khususnya umat Hindu di Bali untuk melakukan tindakan tertentu, termasuk dalam menghadapi wabah Covid-19 ini. Hal ini juga sebagai tantangan yang sangat berat pada kehidupan umat Hindu khususnya di Bali di masa pandemi ini yaitu pada saat menyelenggarakan upacara-upacara yajna. Beberapa perubahan perilaku umat Hindu adalah contoh tahapan pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia yang jauh berbeda dengan masa sebelum adanya pandemi Covid-19. Hal ini tentunya telah mengkontruksi kembali kehidupan sosial serta religiusitas umat Hindu di Bali selama masa Pandemi Covid-19. 
PERBEDAAN AGAMA DENGAN AKULTURASI TRADISI SUBAK DALAM MEMPENGARUHI PSIKOLOGIS, KARAKTER, DAN PERILAKU MASYARAKAT Putra, Kadek Ari Setia Utama
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bali tidak terlepas dari budaya dan kearifan lokalnya yang dipadukan dengan budaya dari umat agama lain salah satunya adalah akulturasi budaya Subak yang dilaksanakan oleh Umat Hindu dan Umat Islam. Berbagai hal yang terjadi di Indonesia mengenai peristiwa intoleransi keberagaman, sehingga masyarakat membentuk sebuah organisasi masyarakat di Bali yang mengatur air untuk persawahan dari suatu sumber air di dalam suatu daerah yang anggotanya terdiri dari gabungan Umat Hindu dan Umat Islam yang tinggal di daerah pedesaan. Organisasi ini dibentuk masyarakat untuk menjaga keharmonisan masyarakat dan digunakan sebagai wadah dalam membentuk akulturasi budaya. terjaganya akulturasi budaya Subak yang dilaksanakan di Desa Yeh Embang, Mendoyo, Jembrana mampu mengubah psikologis masyarakat dalam memengaruhi karakter dan perilaku masyarakat. Adapun tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah mendiskripsikan eksistensi budaya Subak pada era modern saat ini, menganalisis proses adanya akulturasi budaya antara Umat Hindu dan Islam di Subak Yeh Santang dan, menganalisis dampak akulturasi budaya Subak antara Umat Hindu dan Islam terhadap psikologis dan karakter masyarakat. Instrument penelitian ini meliputi wawancara, kuesioner, dokumentasi, objek pengamatan serta buku dan jurnal. Data yang diperoleh dianalis dengan metode deskriptif kualitatif. Adapun hasil penelitian ini sebagai berikut; akulturasi budaya Subak dapat mempererat keharmonisan antar warga atau masyarakat dan adanya dampak positif dari akulturasi budaya Subak terhadap psikologis, pola pikir, dan perilaku masyarakat yang memengaruhi karakter masyarakat kearah yang lebih baik dengan persentase pengaruh akulturasi budaya Subak terhadap psikologis masyarakat sebesar 87% dan peran masyarakat sebesar 78,11% menunjukkan bahwa masyarakat berperan sangat penting dalam pelaksanaan akulturasi budaya ini.
EKSISTENSI BARONG DAN RANGDA (EKSPLORASI TEOLOGI HINDU) Susandi, I Made Ari
PANGKAJA: JURNAL AGAMA HINDU Vol 24, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The dynamics of Balinese people's lives are constantly under the spotlight because of the variety of cultural activities that blend with various lives. The arts of barong and rangda are spread across all districts and cities in Bali, but not all pakraman villages or temples have barong and rangda arts. This is due to the existence of barong and rangda in the religious dynamics of Balinese Hindu society. although in reality barong and rangda are not merely an art form, but furthermore they are the implementation of theology (divine teachings) of Hinduism, both concerning the philosophical (essential) religious side and religious psychology (psychological/emotional aspect).

Page 8 of 16 | Total Record : 153