cover
Contact Name
Sugeng Nugroho
Contact Email
stagaw.kototabang@bmkg.go.id
Phone
+62752-7446089
Journal Mail Official
megasains@gawbkt.id
Editorial Address
Jalan Raya Bukittinggi - Medan KM.17 Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat 26151
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Megasains
ISSN : 20865589     EISSN : 27232239     DOI : https://doi.org/10.46824/megasains
Core Subject : Science,
Buletin MEGASAINS diterbitkan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototobang sebagai media apresiasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang bersumber dari kegiatan penelitian berbasis ilmu-ilmu meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika (MKKuG), serta lingkungan.
Articles 214 Documents
Koreksi Bias Hasil Proyeksi MIROC5 Keluaran WRF dengan Metode CDFDM Muharsyah, Robi
Megasains Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v9i1.179

Abstract

Proyeksi Iklim wilayah Indonesia pada tahun 2006 -2040 dari data MIROC 5 telah dihasilkan melalui teknik Dynamical Downscaling menggunakan model WRF. Selanjutnya keluaran model WRF tersebut (data model) dikoreksi biasnya menggunakan Cumulative Distribution Function Downscaling Method (CDFDM) sehingga dihasilkan data terkoreksi. Data observasi berupa curah hujan harian pada 148 stasiun BMKG (2006 – 2015) digunakan sebagai data training pada metode CDFDM. Tingkat akurasi diukur dengan menghitung persentase kesesuaian antara data model dan data terkoreksi terhadap data observasi. Digunakan empat idikasi : Mean daily precipitation (MEA), Intensity of precipitation (INT), Fraction of Wet days (FRE) dan Percentile- 90 (Q90) untuk mengukur tingkat akurasi tersebut. Hasilnya penggunaan metode CDFDM mampu memberikan peningkatan akurasi dengan rata- rata sebesar 15% baik untuk periode JJA maupun DJF
Perbandingan Akurasi Data Observasi Dengan Hasil Keluaran Model Wrf-Arw Asimilasi Dan Non Asimilasi (Studi Kasus: 7 Januari 2015, Stasiun Meteorologi BIM) Wulandari , Eka Suci Puspita
Megasains Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v9i1.180

Abstract

WRF adalah salah satu model prediksi cuaca numerik skala meso yang digunakan secara luas dalam prediksi cuaca dan kebutuhan penelitian atmosfer. Model ini mempunyai keistimewaan inti dinamik yang berlipat, variasi 3-dimensional (3DVAR) sistem asimilasi data dan arsitektur perangkat lunak yang mengijinkan untuk melakukan komputasi secara paralel dan sistem yang ekstensibel. model WRF dapat digabungkan dengan data observasi yang disebut dengan teknik asimilasi model. Dalam penelitian ini menggunakan data FNL untuk di olah dalam WRF-ARW baik diasimilasi maupun tanpa asimilasi untuk melihat seberapa jauh tingkat akurasi hasil keluaran model WRF terhadap data pengamatan sebenarnya di Stasiun Meteorologi Klas II Padang dengan studi kasus pada tanggal 7 Januari 2015 jam 00.00 UTC hingga 8 Januari 2015 jam 00.00 UTC. Untuk parameter suhu permukaan, RH, kecepatan angin, suhu vertikal dan RH vertikal, hasil keluaran model WRF-ARW setelah diasimilasi mempunyai hasil yang lebih mendekati hasil observasinya dibandingkan hasil keluaran model WRF-ARW sebelum diasimilasi. Untuk parameter titik embun, tekanan dan hujan, hasil keluaran model WRF- ARW setelah diasimilasi mempunyai hasil yang lebih mendekati hasil observasinya dibandingkan hasil keluaran model WRF-ARW sebelum diasimilasi. Untuk parameter arah angin permukaan kedua keluaran WRF-ARW (asimilasi mapun tanpa asimilasi) kurang bisa mempresentasikan dengan baik
Uji Keakurasian Estimasi Hujan Menggunakan Hubungan Z-R (Reflektivitas – Rain Rate) Untuk Tipe Awan Hujan Konvektif dan Stratiform di Jakarta Kusuma1, I Kadek Nova Arta
Megasains Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v9i1.181

Abstract

Tipe awan hujan menjadi salah satu hal yang secara signifikan mempengaruhi hubungan reflektivitas - rain rate (Z-R) untuk mencapai keakurasian yang lebih baik. Sementara ini untuk wilayah Indonesia termasuk Jakarta masih menggunakan hubungan Marshall-Palmer pada operasional radarnya tanpa memperhatikan klasifikasi tipe awan hujan. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengklasifikasian tipe awan hujan dalam menentukan keakurasian estimasi curah hujan dari hubungan Z-R yang digunakan. Penelitian ini diawali dengan mengklasifikasikan tipe awan hujan menjadi hujan dari awan konvektif dan hujan dari awan stratiform berdasarkan fluktuasi dan batasan rain rate 10 mm/jam. Kemudian tahap selanjutnya yaitu membandingkan kasus hujan dari awan konvektif dan dari awan stratiform terhadap hasil estimasi hujan menggunakan hubungan Marshall-Palmer, WSR-88D Convective dan Rosenfeld Tropical. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kondisi hujan dari awan konvektif dan stratiform yang sangat mempengaruhi hasil estimasi hujan melalui hubungan Z-R. Penggunaan hubungan Z- R yang berbeda untuk tipe awan hujan yang berbeda sangat diperlukan untuk mencapai keakurasian estimasi yang lebih baik. Kemudian penentuan hubungan Z-R tersendiri di wilayah Jakarta sangat diperlukan untuk keakurasian estimasi yang lebih baik dengan memperhitungkan distribusi ukuran tetes hujannya
Analisa Kerawanan Kejadian Petir dan Hubungan dengan Pola Curah Hujan di Wilayah Bengkulu Sepanjang Tahun 2017 Diansari, Angga Vertika
Megasains Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v9i1.182

Abstract

Fenomena lepasnya muatan listrik adalah penyebab kejadian Petir. Bengkulu merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang cukup berbahaya akan kejadian petir. Hal ini disebabkan oleh letak Provinsi Bengkulu yang berada di sekitar khatulistiwa. Tujuan dari kajian ini adalah : (1) mengetahui tingkat kerawanan bahaya petir di wilayah Bengkulu, (2) mengetahui daerah yang rawan petir di wilayah Bengkulu, (3) menganalisa hubungan antara pola CH dengan kejadian petir di wilayah Bengkulu sepanjang tahun 2017. Data yang digunakan dalam kajian ini adalah data primer yang tercatat oleh Linghting Detector yang kemudian diolah dengan Excel dan dipetakan dengan software GMT. Jenis petir yang dianalisa merupakan jenis CG+ dan CG- karena jenis ini yang paling merusak dan memiliki dampak yang signifikan. Kajian ini memiliki kesimpulan bahwa : (1) wilayah Bengkulu sangat rawan bahaya sambaran petir pada bulan Maret, April, dan Mei 2017, (2) daerah yang memiliki tingkat kerawanan petir tinggi adalah daerah Pendopo, Puguk, dan sekitarnya, (3) kejadian petir memiliki pola yang signifikan dengan jumlah curah hujan (CH) di wilayah Bengkulu
Perbandingan Panjang Periode Minimum Data Klimatologi Untuk Analisis IklimDengan Metode Mackus’s, n-hat Dan Multistage Nonfinite Population (MNP) Sagita, Novvria
Megasains Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v8i1.183

Abstract

Fenomena iklim tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi pertanian di Indonesia. Analisis variabilitas iklim diperlukan untuk mengantisipasi adanya fenomena iklim esktrim yang nantinya berdampak pada produksi pangan. Analisis variabilitas iklim memerlukan data yang cukup agar memperoleh analisis yang akurat. Data yang cukup merupakan data yang memiliki panjang periode mencukupi panjang data minimum. Beberepa metode untuk menghitung panjang data minimum telah diperkenalkan diantaranya Mackus, n-hat dan Multistage Nonfinite Population (MNP). Hasil pengolahan data stasiun meterologi Lhoksumawe dari tahun 1992 hingga 2011 menggunakan ketiga metode tersebut menunjukkan hasil yang berbeda. Pengolahan data dengan metode Mackhus memperoleh hasil yang berbeda dan tidak stabil untuk panjang data minimum antar data bulanan, 3 bulanan, musiman dan tahunan, sedangkan metode n-hat dan MNP memperoleh hasil yang cenderung stabil karena tidak terpengaruh dengan jumlah populasi data.
KONDISI SINOPTIK MESOSCALE CONVECTIVE SYSTEM JENIS SQUALL LINE DI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG Fadholi, Akhmad
Megasains Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v8i1.184

Abstract

Pada tanggal 28 hingga 29 Desember 2013 terjadi gangguan cuaca dalam skala meso (Mesoscale Convective System) dalam bentuk Squall Line yang memanjang di atas wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Fenomena yang tepantau oleh Multifunctional Transport Satellite pada citra kanal infra merah ini berdampak pada hujan lebat dengan durasi cukup lama hingga teridentifikasi sebagai nocturnal heavy rain yang dibuktikan menggunakan data satelit Tropical Rainfall Measuring Mission. Informasi media menyatakan hujan lebat terjadi selama berjamjam mengguyur Pulau Bangka dan Belitung menyebabkan banjir dan kerusakan lainnya. Analisis kondisi sinoptik menggunakan data reanalysis National Center of Environmental Prediction dan Global Spectral Model, serta data sounding memenunjukkan adanya peran windshear, low level jet, moisture transport, moisture convergence, serta indeks stabilitas yang mengindikasikan potensi pertumbuhan awan konvektif dalam skala luas dan massa hidup yang cukup lama.
Uji Skema Debu Vulkanis BMKG dan Skema Ash RGB (Studi Kasus: Erupsi Gunung Barujari 04 November 2015) Setiya Wati, Kadek
Megasains Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v8i1.185

Abstract

Abstrak. Sejak pertama kali ditemukan, satelit telah menjadi solusi untuk pengamatan wilayah jarak jauh ke tempat yang sulit untuk dijangkau oleh manusia. Dalam perkembangannya satelit digunakan untuk pengamatan cuaca. Sejak pertengahan 2015, Satelit Himawari 8 diluncurkan sebagai pengganti satelit MTSAT-2 yang berakhir masa orbitnya. Penambahkan kanal pada Himawari 8 memungkinkan melakukan pengamatan atmosfer yang lebih luas tidak hanya terbatas pada awan meterologis tapi juga dapat digunakan untuk pengamatan debu vulkanis. BMKG telah mengembangkan sebuah skema untuk mendeteksi debu vulkanis yang menggunakan kanal I4, IR, dan I2 pada satelit Himawari 8. Prinsip utama dari penggunaan kanal ini adalah adanya Brightness Temperature Different (BTD) dari kanal IR dan I2 yang berbeda ketika melewati awan meteorologis dan debu vulkanis. Prinsip ini juga digunakan oleh JMA dalam menentukan skema deteksi debu vulkanis yang bernama skema ash RGB. Perbedaannya adalah pada penggunaan kanal MI pada skema ash RGB. Menurut JMA, kanal MI dapat mendeteksi SO2 yang pada umumnya terkandung dalam debu vulkanis. Dari hasil pengolahan data, baik skema debu vulkanis BMKG maupun ash RGB JMA, keduanya sama-sama dapat menggambarkan sebaran debu vulkanis dengan baik. Akan tetapi, ketika menggunakan skema BMKG, ada kesulitan ketika debu vulkanis berdekatan dengan awan-awan menengah. Hal ini dikarenakan warna merah dari debu vulkanis skema BMKG berwarna hampir sama dengan warna dari awan meteorologis tersebut. Pada jam yang sama skema ash RGB berhasil mengeleminasi awan-awan tersebut sehingga sebaran debu vulkanis dapat diamati dengan lebih baik.
PEMODELAN STATISTIK DAN SIMPLE RADIATIVE MODEL UNTUK MENDUGA RADIASI MATAHARI GLOBAL HARIAN Ilahi, Asep Firman; Sopaheluwakan, Ardhasena
Megasains Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v8i1.186

Abstract

Artikel ini mengevaluasi akurasi dan penerapan tujuh radiasi matahari global estimasi yang menggunakan suhu lingkungan harian, curah hujan total dan kelembaban relatif di kawasan tropis benua maritim Indonesia. Dua model yang dievaluasi ini adalah model baru model yang diusulkan (PM) untuk memperkirakan tenaga surya radiasi pada permukaan horizontal. Pertama model PM1 menggunakan suhu-presipitasi sebagai input (berbasis TP) sedangkan PM2 kedua Model yang digunakan adalah suhu-presipitasi-relatif kombinasi kelembaban sebagai input (berbasis TPRH). Semua model dievaluasi berdasarkan kesalahan statistik mis. Fraksi Prediksi dalam satu atau dua faktor (FAC2), Mean Bias (MB), Mean Kesalahan Kotor (MGE), Bias Rata-rata yang Dinormalisasi (NMB), Rata-rata Kesalahan Kotor yang Dinormalisasi (NMGE), Kesalahan Root Mean Square (RMSE), Koefisien determinasi (r) dan Koefisien Efisiensi (COE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbasis TPRH model memiliki akurasi yang lebih baik dibandingkan berbasis T atau berbasis TP. Model PM2 menunjukkan performa terbaik di antara semua model saat Quej et.al model 2016 memiliki akurasi yang baik namun kurang presisi. Ciri-ciri iklim tropis dimana kelembaban tinggi sangat mempengaruhi radiasi matahari yang masuk ke permukaan sementara atau spasial.
ANALISA POLA CURAH HUJAN DIURNAL DI WILAYAH PROVINSI BENGKULU MENGGUNAKAN DATA MODEL ECMWF (2012 – 2016) Paski, Jaka Anugrah Ivanda
Megasains Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v8i1.187

Abstract

Abstrak. Curah hujan di suatu wilayah memiliki pola yang berbeda-beda, baik secara tahunan, bulanan dan harian (diurnal). Hal ini disebabkan adanya perbedaan lintang, gerak semu matahari, topografi, letak geografis serta interaksi berbagai macam sirkulasi udara baik itu lokal, regional maupun global. Provinsi Bengkulu yang terletak di pesisir barat Sumatra merupakan wilayah Non-ZOM (Zona Musim) sesuai kriteria Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dimana pola curah hujan bersifat equatorial (memiliki dua puncak hujan dalam setahun). Untuk mengetahui pola curah hujan di wilayah Provinsi Bengkulu dalam periode harian dilakukan analisa secara spektral menggunakan data model reanalysis dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) dengan data curah hujan dan angin permukaan. Hasil menunjukan distribusi curah hujan secara spasial terjadi merata pada siang-sore hari (13.00 - 19.00 WIB) dan distribusi rata-rata curah hujan tertinggi terjadi pada rentan waktu malam hari (19.00 WIB – 01.00 WIB) dengan arah angin dominan dari barat daya hingga barat. Interaksi angin darat dan angin laut di pesisir barat Sumatra memberikan pengaruh yang sangat kuat terhadap sirkulasi hujan di wilayah Provinsi Bengkulu
ANALISIS KETERKAITAN HARI HUJAN DAN HUJAN LEBAT BERDASARKAN ANGIN ZONAL LAPISAN 850 hPa Fadila, Riska
Megasains Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v8i1.188

Abstract

Abstrak. Sumatera Barat memiliki bentangan alam dari pesisir pantai hingga wilayah perbukitan yang dikenal dengan Bukit Barisan. Bentuk topografi ini sangat berpengaruh terhadap pola hujan di wilayah tersebut. Bentuk wilayah yang berbatasan dengan lautan menyebabkan adanya pengaruh angin darat-laut serta adanya hambatan pegunungan menyebabkan hujan di wilayah ini bertipe orografi. Pada penelitian ini akan dilakukan identifikasi pola angin yang mendukung terbentuknya awan hujan. Identifikasi yang dilakukan berdasarkan pengaruh angin zonal lapisan 850 hPa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Teluk Bayur memiliki frekuensi hujan lebat tertinggi dan wilayah Padang Panjang memiliki jumlah Hari Hujan terbanyak. Adapun pola angin zonal lapisan 850 mb yang sangat berpengaruh terhadap hujan lebat adalah pola perlambatan angin dari barat. Hal ini dikarenakan angin dari barat membawa udara yang mengandung banyak uap air yang berasal dari laut

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 15 No 1 (2024): Megasains Vol. 15 No. 1 Tahun 2024 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol. 14 No. 2 Tahun 2023 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol.14 No.2 Tahun 2023 Vol 14 No 1 (2023): Megasains Vol.14 No.1Tahun 2023 Vol 13 No 2 (2022): Megasains Vol.13 No.02 Tahun 2022 Vol 13 No 1 (2022): Megasains Vol.13 No.1 Tahun 2022 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol. 12 No. 2 Tahun 2021 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol.12 No.2 Tahun 2021 Vol 12 No 1 (2021): Megasains Vol.12 No.1 Tahun 2021 Vol 11 No 01 (2020): Megasains Vol 11 No.01 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol. 11 No. 2 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020 Vol 10 No 02 (2019): Megasains Vol.10 No.02 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Megasains Vol. 10 No. 2 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Vol 10 No 2 (2019) Vol 10 No 1 (2019): Vol 10 No 1 (2019) Vol 10 No 1 (2019): Megasains Vol. 10 No. 1 Tahun 2019 Vol 9 No 1 (2018): Vol 9 No 1 (2018) Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018 Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017 Vol 8 No 1 (2017): Vol 8 No 1 (2017) Vol 7 No 3 (2016): Vol 7 No 3 (2016) Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016 Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016) Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016 Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016 Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016) Vol 6 No 3 (2015): Vol 6 No 3 (2015) Vol 6 No 3 (2015): Megasains Vol. 6 No.3 Tahun 2015 Vol 6 No 1 (2015): Vol 6 No 1 (2019) Vol 6 No 1 (2015): Megasains Vol. 6 No.1 Tahun 2015 Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013) Vol 4 No 3 (2013): Megasains Vol. 4 No.3 Tahun 2013 More Issue