cover
Contact Name
Sugeng Nugroho
Contact Email
stagaw.kototabang@bmkg.go.id
Phone
+62752-7446089
Journal Mail Official
megasains@gawbkt.id
Editorial Address
Jalan Raya Bukittinggi - Medan KM.17 Palupuh, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat 26151
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Megasains
ISSN : 20865589     EISSN : 27232239     DOI : https://doi.org/10.46824/megasains
Core Subject : Science,
Buletin MEGASAINS diterbitkan oleh Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototobang sebagai media apresiasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang bersumber dari kegiatan penelitian berbasis ilmu-ilmu meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika (MKKuG), serta lingkungan.
Articles 214 Documents
KAJIAN TINGKAT KEKERINGAN DI BALI PADA TAHUN EL NINO MENGGUNAKAN METODA STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX (SPI) Made Dwi Jendra
Megasains Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i3.191

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola curah hujan bulanan di wilayah Bali, mengetahui tingkat kekuatan El Nino terhadap curah hujan di Bali dan untuk mengetahui tingkat kekeringan secara meteorologis di wilayah Bali ketika terjadi El Nino. Tingkat kekeringan di wilayah Bali diukur menggunakan metode SPI (Standardized Precipitation Index). Intensitas El Nino ditentukan dengan menggunakan nilai Anomali Suhu Muka Laut daerah Samudera Pasifik Ekuator bagian tengah atau daerah Nino 3,4. Penelitian ini menggunakan data curah hujan bulanan 53 (lima puluh tiga) titik pos hujan yang tersebar merata diseluruh Bali dan data suhu muka laut daerah El Nino 3,4 periode tahun 1991- 2010. Kondisi curah hujan bulanan dan panjang musim di wilayah Bali sangat bervariasi, bagian tengah wilayah Bali adalah daerah yang memiliki nilai curah hujan bulanan yang lebih tinggi dan lama musim hujan lebih panjang jika dibandingkan dengan wilayah lainnya. El Nino yang terjadi pada tahun 1997/1998 dengan Intensitas Kuat, sedangkan El Nino yang terjadi pada tahun 2009/2010 dengan Intensitas Lemah – Sedang.. El Nino dengan Intensitas Kuat (1997/1998) curah hujan seluruh wilayah Bali mengalami penurunan dari normalnya dengan sifat hujan bawah normal. El Nino dengan intensitas lemah-sedang (2009/2010) sifat hujan yang terjadi di wilayah Bali sangat bervariasi dari Bawah Normal hingga Atas Normal. El Nino dengan Intensitas Kuat (1997/1998) kondisi kekeringan agak kering hingga sangat kering konsisten terjadi di bagian selatan Bali, pesisir pantai Gianyar, Klungkung dan sebagian Karangasem. El Nino tahun 2009/2010 dengan Intesitas Lemah-Sedang umumnya kondisi kekeringan di wilayah Bali dalam kategori Normal
PERUBAHAN PARAMETER METEOROLOGI PADA SAAT GERHANA MATAHARI TOTAL DI WILAYAH BANGKA BELITUNG DAN PALANGKARAYA Nurjaman
Megasains Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i3.192

Abstract

Gerhana matahari merupakan fenomena alam yang terjadi saat matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis lurus. Fenomena gerhana matahari sangat berkaitan dengan penurunan nilai radiasi yang sampai ke permukaan bumi. Radiasi matahari sebagai sumber energi memiliki pengaruh terhadap nilai-nilai parameter meteorologi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahuiefek Gerhana Matahari Total (GMT) terhadap perubahan parameter meteorologi (suhu dan kelembaban).GMT terjadi pada tanggal 9 Maret 2016. Fenomena GMT kali ini hanya terjadi dapat diamati di Indonesia dan Samudera Pasifik dengan fase pengulangan 360 tahun sekali pada tempat yang sama. Lokasi yang dipilih untuk pengamatan yaitu Palangkaraya dan Tanjung Pandan. Kedua lokasi tersebut merupakan 2 dari 11 lokasi di Indonesia yang mengalami GMT. Hasil menunjukkan bahwa terjadi penurunan suhu di Palangkaraya dengan delay waktu 15 menit setelah puncak GMT ( T = 25.42 ), sedangkan di Tanjung Pandan, penurunan suhu terjadi 05 menit setelah puncak gerhana (T = 25.40 ). Kedua wilayah menunjukan peningkatan kelembaban realtif yang sama dengan nilai maksimum kelembaban sebesar 96 %. Penghitungan standar deviasi nilai suhu udara dilakukan untuk mengetahui signifikasi perubahan parameter. Hasil menunjukkan bahwa baik perubahan suhu maupun kelembaban relatif di kedua lokasi signifikan jika dibandingkan dengan rerata nilai suhu dan kelembaban realtif 3 hari sebelum dan sesudah kejadian GMT pada waktu yang sama.
STUDI KEKERINGAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI TANAMAN PADI DI KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR Sutarni
Megasains Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i3.193

Abstract

Jurnal ini membahas tentang penentuan indeks kekeringan dengan metode Standardized Precipitation Index (SPI), dengan menggunakan aplikasi skopis di Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Data curah hujan yang digunakan dalam jurnal ini dari tahun 2010 hingga 2014 dengan skala waktu bulanan yang digunakan indeks kekeringan adalah 4 bulan. Nilai indeks kekeringan diperoleh dengan mencari data rata-rata curah hujan bulanan, menguji konsistensi data, dan memetakan wilayah yang mengalami kekeringan, mencari korelasi antara indeks kekeringan dengan produksi padi. 1. Mengingat indeks kekeringan di Kabupaten Indrapuri periode tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap produksi tanaman padi sepanjang tahun yaitu sebesar 0,890. Hasil produksi padi tertinggi pada penelitian ini terjadi pada musim tanam Rendeng tahun 2012 yaitu 10.653,30 ton dengan indeks kekeringan 1,1 dan produktivitas 6,30 ton/ha. Sedangkan hasil produksi terendah terjadi pada musim tanam Rendeng tahun 2013 yaitu 5.491,38 ton dengan indeks kekeringan -1,8 dan produktivitas 5,7 ton/ha.
AKURASI PRAKIRAAN CUACA HARIAN DI PROVINSI BALI Made Dwi Jendra
Megasains Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i3.194

Abstract

Verifikasi dari produk informasi prakiraan cuaca sangatlah dibutuhkan, untuk menentukan tingkat akurasi atau kebenaran dari informasi prakiraan cuaca yang telah dibuat sebagai representasi yang cukup dari fenomena cuaca yang terjadi. Hasil verifikasi prakiraan cuaca memberikan manfaat, bukan saja pada saat prakiraan itu benar, tetapi prakiraan yang salah juga dapat dimanfaatkan untuk memahami bagaimana memperbaiki prakiraan. Dalam penelitian ini tingkat akurasi produk prakiraan cuaca diperoleh dari proses verifikasi prakiraan cuaca harian di Bali dengan data curah hujan harian yang mewakili daerah prakiraan dengan periode data tahun 2014-2016, metode verifikasi yang dilakukan menggunakan metode pembobotan. Akurasi tertinggi Prakiraan Cuaca Harian Bali terjadi pada Periode SON dengan Prosentase 89%, terendah pada Periode DJF sebesar 57%, akurasi rata-rata Prakiraan Cuaca Harian Bali seluruh periode sebesar 76%. Kejadian Hujan Prosentase terbesar terjadi pada periode DJF sebesar 49.43%, Cuaca Dominan Cerah/Berawan sebesar 90.72% terjadi pada periode SON
ANALISIS PARAMETER KUALITAS UDARA PADA KONDISI KABUT ASAP TAHUN 2015 Di SUMATERA BARAT Sulistiyono, Andi; Utri, Harika
Megasains Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i3.195

Abstract

Analisis kualitas udara pada periode terjadinya kabut asap wilayah sumatera barat Bulan Oktober 2015 telah dilakukan untuk mengetahui tingkat konsentrasi parameter kulaitas udara terhadap kesehatan masyarakat saat itu. Analisis dilakukan dengan menggunakan data yang terukur di Stasiun GAW Bukit Kototabang terhadap parameter PM10, CO dan SO2, selanjutnya dispersi kabut asap dianalisis menggunakan aplikasi Hysplit dan diverifikasikan dengan pola medan angin. Dari hasil analisis terhadap parameter data didapatkan bahwa kabut asap yang terjadi pada periode tersebut merupakan kabut asap yang terparah dari 5 tahun terakhir. Kabut asap berpengaruh langsung terhadap kenaikan konsentrasi PM10 dan gas CO sedang pada parameter SO2 tidak ada indikasi pengaruh yang signifikan. Kabut asap yang terjadi di wilayah sumatera barat berasal dari hotspot yang berada di Propinsi Sumatera Selatan dan Riau yang menyebabkan kualitas udara pada level “Berbahaya” terhadap kesehatan. Hal ini ditunjukkan terhadap parameter PM10 sedangkan untuk parameter gas CO dan SO2 masih berada pada “keadaan baik”.
HUJAN ASAM DI CITEKO BOGOR DAN KEMAYORAN JAKARTA Nazarudin, Leni
Megasains Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i3.196

Abstract

Menggunakan data ion sulfat dan ion nitrat yang tertampung di stasiun pengamatan kualitas udara di Citeko, Puncak Bogor dan di Kemayoran, Jakarta Pusat dari tahun 1993 – 2012, telah dilakukan perhitungan deposisi asam menggunakan teknik analisis kation dan anion dari sampel air hujan menggunakan metode ion kromatografi. Wilayah Citeko yang berada di wilayah puncak Bogor telah terekspose hujan asam. Deposisi asam di Citeko rata- rata 10.5 meq/m2/bulan setara dengan 5.04 kg/ha/bulan dengan kisaran antara 6.11 – 13.03 meq/m2/bulan. Di Kemayoran, deposisi asam bulanan rata-rata sebesar 8.5 meq/m2/bulan atau setara dengan 4.08 kg/ha /bulan dengan kisaran antara 5.15 - 15.2 meq/m2/bulan. Di kedua lokasi, jenis asam yang terdeposisi sebagian besar dari kontribusi asam sulfat masing masing 69.9% di Kemayoran dan 64.9 di Citeko. Di Kemayoran, asam sulfat terdeposisi lebih banyak daripada di Citeko. Nitrat terdeposisi lebih banyak di Citeko daripada di Kemayoran. Berdasarkan data windrose bulanan dan normal tahunan di Citeko, kemungkinan telah terjadi transpor polutan SO2 dan NO2 yaitu dari wilayah DKI Jakarta, Depok, Tangerang dan sekitarnya ke wilayah puncak Bogor. Vektor angin lokal (angin laut-darat) juga berperan dalam membawa polutan ke daerah Citeko di Puncak Bogor
Verifikasi Perhitungan Energi Radiasi Matahari Menggunakan Metode Prescott Terhadap Kondisi Aktual Sanur, Dwi Lestari
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.197

Abstract

Radiasi matahari merupakan sumber energi yang mempengaruhi proses-proses fisika di atmosfer. Berbeda dengan sumber energi yang berasal dari fosil, radiasi matahari memiliki jumlah energi yang ketersediaannya melimpah namun tergantung dari letak astronomis. Indonesia sebagai wilayah yang terletak di daerah tropis banyak menerima radiasi matahari, sehingga energi radiasi matahari di Indonesia sangat berpotensi untuk dimanfaatkan. Akan tetapi , terbatasnya informasi energi matahari di Indonesia membuat pemanfaatan energi radiasi matahari kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal. Untuk itu diperlukan suatu formula yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan energi radiasi matahari untuk melengkapi informasi yang ada berdasarkan data yang ada. Perhitungan energi matahari metode Prescott merupakan sebuah metode yang digunakan untuk melakukan perhitungan matahari berdasarkan lama penyinaran matahari dengan lintang. Akan tetapi perlu diteliti lebih lanjut sejauh mana kesesuaian hasil perhitungan dengan metode Prescott terhadap kondisi aktualnya sehingga data yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Berdasarkan perbandingan energi matahari aktual dengan perhitungan energi matahari menggunakan metode Prescott diketahui bahwa kedua nilai memiliki pola yang sama yang ditunjukkan dengan nilai korelasi yang tinggi untuk Kayuwatu, Kototabang, Banjarbaru, Maros dan Pondok Betung, sedangkan untuk Pulau Baai memiliki pola yang tidak terlalu sama yang ditunjukkan dengan nilai korelasi yang sedang namun memiliki nilai akar rata-rata kuadrat error (RMSE) yang rendah dapat ditoleransi.
Pengaruh Southerly Surge Terhadap Curah Hujan di Wilayah Nusa Tenggara Timur Pada Bulan Januari 2007 Taryono; Ruwe2, Natalia Eunike
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.198

Abstract

Wilayah dengan tipe hujan monsunal pada umumnya memiliki puncak curah hujan pada bulan Januari. Namun pada bulan Januari 2007, sebagian besar wilayah dengan tipe curah hujan monsunal mengalami anomali negatif, yang berarti terjadi penurunan curah hujan. Berdasarkan penelitian Taryono (2012), aktifitas southerly surge berpengaruh terhadap penurunan curah hujan atau fase break monsun di Pulau Jawa. Oleh sebab itu dilakukan penelitian untuk mengetahui keterkaitan antara aktifitas southerly surge terhadap penurunan curah hujan Januari 2007 khususnya di Nusa Tenggara Timur. Indeks southerly surgeditentukan dengan cara menghitung variansi angin meridional harian rata-rata bulan Januari 1980-2010 sehingga memperoleh indeks surge 11,5 m/s. Pada bulan Januari 2007 terdapat dua kali kejadian southerly surge, yaitu pada tanggal 3 dan 11 Januari 2007. Hasil analisis keduanya menunjukan bahwa penurunan curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Timur disebabkan oleh aktifitas southerly surge. Southerly surge ini menggeser Intertropical Convergence Zone (ITCZ) ke utara sehingga menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Timur, sebagai akibat dari tertahannya massa udara basah dari Belahan Bumi Utara dan masuknya massa udara kering dan dingin dari Belahan Bumi Selatan
Studi Variasi Spasial Parameter Seismotektonik Untuk Mengetahui Kondisi Stress Lokal Tektonik dan Tingkat Keaktifan Kegempaan Di Wilayah Sumatera Barat dan Sekitarnya Raharjo, Furqon Dawam
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.199

Abstract

Variasi spasial parameter seismotektonik. a dan b value dapat menggambarkan kondisi stress tektonik dan tingkat keaktifan seimik disuatu wilayah. a dan b value merupakan tingkat aktivitas seismik dan karakterisitik seismotektonik di suatu wilayah. a value yang rendah mencerminkan tingkat keaktifan kegempaan yang rendah dan sebaliknya pada a value yang tinggi, sedangkan b value yang rendah dapat menggambarkan kondisi stress lokal tektonik yang tinggi dan sebalikanya pada b value tinggi. Pada studi ini, menggunakan katalog dari BMKG dan NEIC/USGS periode observasi 1 januari 1973 – 31 desember 2010 dengan batas koordinat 2 LU – 4 LS dan 94 BT – 104 BT meliputi wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya. Untuk menentukan variasi spasial parameter seismotektonik menggunakan software ZMAP (Wiemer and Wyss, 2002). Dari analisis didapatkan variasi spasial b-value berkisar 0.6 – 2.0 dan nilai a- value berkisar 4 – 11. Kondisi stress lokal yang tinggi (low b-value) teramati disekitar Kep.Mentawai, pulau Nias bagian selatan dan disepanjang bukit barisan Sumatera Barat dan kondisi stress lokal yang rendah (high b- value) teramati dibagian barat-barat laut pulau Nias dan disepanjang bukit barisan Sumatera bagian utara. Sedangkan tingkat keaktifan kegempaan yang rendah terjadi di kep.Mentawai dan tingkat keaktifan kegempaan yang tinggi terjadi di barat-barat laut pulau Nias dan disepanjang bukit barisan Sumatera bagian utara
Kajian Klimatologis Banjir Kilat (Flash Flood) Singkawang Tanggal 21-22 Mei 2016 Setiawati, Firsta Zukhrufiana; Wandayantolis
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46824/megasains.v7i2.200

Abstract

Publikasi beberapa media lokal provinsi Kalimantan Barat menyebutkan bahwa tanggal 21-22 Mei 2016 di kota Singkawang terjadi banjir akibat jebolnya tanggul Semelagi. Hujan lebat disinyalir menjadi penyebab meningkatnya debit air daerah aliran sungai Semelagi, sehingga mengakibatkan tanggul jebol. Kejadian banjir ini dikabarkan merendam pemukiman warga di desa Semelagi Kecil seluas 1724 Ha, juga mengakibatkan terganggunya akses transportasi antar kabupaten/ kota. Penelitian ini dilakukan guna mengetahui tipe banjir di Singkawang tanggal 21-22 Mei 2016, berikut faktor penyebabnya. Untuk menelaah kejadian ini, penulis melakukan penelitian klimatologis dengan menggunakan data curah hujan pada 8 lokasi di tiga kabupaten yaitu kabupaten Sambas (Selakau, Salatiga); kabupaten Bengkayang (Ledo, Sanggau Ledo, Sei Duri) dan kota Singkawang (Singkawang Barat, Singkawang Tengah, Singkawang Timur). Data yang digunakan adalah data 3 hari yaitu tanggal 21, 22, 23 Mei 2016. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode studi kasus dan pendekatan kualitatif dengan mempertimbangkan topografi. Diketahui hujan lebat lebih dari 50 mm/hari yang terjadi di hampir seluruh lokasi data mengakibatkan peningkatan debit air di daerah aliran sungai Semelagi mengingat wilayah Semelagi merupakan wilayah yang memiliki elevasi paling rendah, sehingga diasumsikan menerima air limpahan dari wilayah sekitarnya. Hujan lebat disinyalir merupakan akibat dari kondisi dinamika atmosfer yang cukup mendukung, seperti OLR semakin rendah, SOI memasuki La Nina, kondisi perawanan yang mendukung dan meningkatnya anomali curah hujan di wilayah kejadian. Dan akhirnya diketahui bahwa banjir di Singkawang ini tergolong Flash Flood atau banjir kilat. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan perhatian bagi masyarakat, terutama masyarakat yang membangun pemukiman di daerah bantaran sungai

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 15 No 1 (2024): Megasains Vol. 15 No. 1 Tahun 2024 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol. 14 No. 2 Tahun 2023 Vol 14 No 2 (2023): Megasains Vol.14 No.2 Tahun 2023 Vol 14 No 1 (2023): Megasains Vol.14 No.1Tahun 2023 Vol 13 No 2 (2022): Megasains Vol.13 No.02 Tahun 2022 Vol 13 No 1 (2022): Megasains Vol.13 No.1 Tahun 2022 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol. 12 No. 2 Tahun 2021 Vol 12 No 2 (2021): Megasains Vol.12 No.2 Tahun 2021 Vol 12 No 1 (2021): Megasains Vol.12 No.1 Tahun 2021 Vol 11 No 01 (2020): Megasains Vol 11 No.01 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol.11 No.2 Tahun 2020 Vol 11 No 2 (2020): Megasains Vol. 11 No. 2 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol 11 No.1 Tahun 2020 Vol 11 No 1 (2020): Megasains Vol. 11 No.1 Tahun 2020 Vol 10 No 02 (2019): Megasains Vol.10 No.02 Tahun 2019 Vol 10 No 2 (2019): Vol 10 No 2 (2019) Vol 10 No 2 (2019): Megasains Vol. 10 No. 2 Tahun 2019 Vol 10 No 1 (2019): Megasains Vol. 10 No. 1 Tahun 2019 Vol 10 No 1 (2019): Vol 10 No 1 (2019) Vol 9 No 1 (2018): Vol 9 No 1 (2018) Vol 9 No 1 (2018): Megasains Vol. 9 No. 1 Tahun 2018 Vol 8 No 1 (2017): Megasains Vol. 8 No. 1 Tahun 2017 Vol 8 No 1 (2017): Vol 8 No 1 (2017) Vol 7 No 3 (2016): Vol 7 No 3 (2016) Vol 7 No 3 (2016): Megasains Vol. 7 No. 3 Tahun 2016 Vol 7 No 2 (2016): Vol 7 No 2 (2016) Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016 Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016 Vol 7 No 1 (2016): Vol 7 No 1 (2016) Vol 6 No 3 (2015): Vol 6 No 3 (2015) Vol 6 No 3 (2015): Megasains Vol. 6 No.3 Tahun 2015 Vol 6 No 1 (2015): Vol 6 No 1 (2019) Vol 6 No 1 (2015): Megasains Vol. 6 No.1 Tahun 2015 Vol 4 No 3 (2013): Megasains Vol. 4 No.3 Tahun 2013 Vol 4 No 3 (2013): Vol 4 No 3 (2013) More Issue