Articles
214 Documents
Simulasi DYMEX untuk Pendugaan Potensi Resiko Kehilangan Hasil oleh Hama Penggerek Batang Padi Kuning di Indramayu
Nurhayati, Eva
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i2.201
Penggerek Batang Padi Kuning (PBK) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi yang memiliki intensitas serangan cukup tinggi pada areal sentra produksi padi, khususnya di wilayah Jawa Barat. Iklim merupakan salah satu faktor eksternal lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pola dinamika populasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem informasi iklim melalui simulasi model DYMEX dalam rangka mengurangi tingkat resiko kehilangan hasil produksi padi oleh serangan hama PBK di wilayah Indramayu, Jawa Barat. Pendugaan resiko kehilangan hasil dapat diprediksi dari hasil pemodelan dinamika populasi hama PBK dengan membutuhkan input paramater iklim dan suhu ambang bawah perkembangan (To) untuk menggambarkan siklus hidup PBK dari tahap telur, larva, pupa hingga dewasa (imago). Uji kalibrasi dan validasi model menunjukkan adanya nilai koefisien determinasi (R2) antara hasil prediksi model dan observasi pada wilayah kajian yang baik sehingga dapat menggambarkan perkembangan, mortalitas, transfer individu dari satu tahap ke tahap kehidupan selanjutnya serta fekunditas dan reproduksi PBK. Informasi iklim yang dapat diberikan dari data keluaran model menunjukkan perkembangan fase imago akan lebih cepat bereproduksi pada kondisi suhu tinggi dan rendahnya intensitas curah hujan sehingga dapat memicu laju perkembangan larva yang dapat merusak tanaman padi pada berbagai stadia. Dengan demikian, potensi kehilangan hasil padi dapat diduga dengan baik melalui pemodelan dinamika populasi PBK
Pengaruh El Niño Dan La Niña Terhadap Curah Hujan Di Biak Selama 30 Tahun (1981-2010)
Ismail , Prayoga
Megasains Vol 7 No 2 (2016): Megasains Vol. 7 No. 2 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i2.202
ENSO (El Niño-Southern Oscillation) merupakan anomali memanas atau mendinginnya suhu permukaan laut yang terjadi di Samudera Pasifik ekuatorial. ENSO memiliki dua fase: El Niño dan La Niña. Penelitian tentang pengaruh aktivitas ENSO selama periode 1981-2010 ini difokuskan di wilayah Biak yang memiliki tipe curah hujan ekuatorial. Data curah hujan bulanan Biak selama periode 1981-2010 adalah hasil observasi Stasiun Meteorologi Frans Kaisiepo Biak. Aktivitas ENSO dan telekoneksinya terhadap variabilitas curah hujan bulanan di wilayah tersebut telah dikaji dengan analisis respon curah hujan bulanan terkait aktivitas ENSO melalui perbandingan curah hujan bulanan normal dan komposit kejadian ENSO. Pada saat aktivitas El Niño, curah hujan bulanan Biak cenderung mengalami penurunan hingga mencapai 42,55% yaitu terjadi pada bulan Oktober. Aktivitas La Niña cenderung memberikan pengaruh positif terhadap curah hujan bulanan Biak hingga mencapai 54,27% yang terjadi pada bulan September. Pengaruh El Niño dan La Niña paling besar terhadap curah hujan musiman terjadi pada bulan SON atau musim transisi dari musim kemarau ke musim penghujan. Analisis korelasi antara curah hujan bulanan Biak dengan indeks Niño 3.4 selama periode 1981-2010 mengungkap bahwa aktivitas ENSO secara umum memberikan pengaruh negatif terhadap curah hujan bulanan Biak dengan koefisien korelasi tertinggi terjadi pada bulan Oktober yang mencapai -0,55. Angka ini mengindikasikan korelasi antara kedua variabel cukup kuat
Jeda hujan (dry spell) dan curah hujan berbasis probabilitas pada tipologi lahan kering di Lombok
Mahrup
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i1.204
Jeda hujan (dry spell) dan probabilitas curah hujan sangat esensial bagi pertanian tadah hujan, dan lahan kering. Kedua parameter tersebut sebagai indikator penting status kekeringan dan memiliki relevansi dengan resiko tanaman di daerah tipologi lahan kering. Tujuan penelitian untuk mengetahui durasi jeda hujan (dry spell) dan curah hujan berbasis probabilitas di daerah tipe iklim D dan E Lombok bagian selatan. Penelitan Deskriptif telah dilakukan pada tahun 2014 dengan mengumpulkan data curah hujan harian dari 13 stasiun curah hujan yang ditetapkan secara “‘purposive sampling” mewakili daerah Lombok bagian selatan. Sifat bersyarat atas kejadian hari hujan atau hari tanpa hujan dianalisis menggunakan model rantai Markov level satu, menggunakan data curah hujan harian 16 tahun. Probabilitas curah hujan ditetapkan menggunakan rumus transformasi guna memenuhi sifat distribusi kurva normal. Penilaian tingkat kekeringan musim tanam dilakukan berbasis nilai indeks presipitasi standar (Standarized Precipitation Index, SPI) menggunakan data curah hujan musim tanam rentang 30 tahun. Hasil penelitain menunjukkan, bahwa jeda hujan dan curah hujan berbasis probabiltitas bervariasi secara spasial, dan temporal serta dipengaruhi oleh variasi indeks presipitasi standar; jeda hujan semakin ke timur lebih panjang, dan curah hujan berkurang. Jeda hujan bersifat parabolik; selalu lebih panjang pada awal (Nopember) dan akhir musim tanam (April), dan relatif pendek di antaranya. Jeda hujan pada SPI-Negatif lebih panjang daripada SPI-Positif. Sifat musim tanam mengarah ke sifat kering dengan harkat agak kering
Pemanfaatan citra satelit Landsat 5 untuk menganalisis kejadian longsor Mei 2008 di Desa Paya Ateuk - Aceh Selatan
Pristiwantoro, Eko Cahyo
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i1.205
Tulisan ini membahas penggunaan citra satelit landsat 5 multitemporal untuk menganalisis perubahan lahan akibat kejadian longsor di Paya Ateuk Aceh Selatan pada Mei 2008. Citra satelit yang di gunakan adalah citra tahun 2007 dan 2009. Metode change vector analisis (CVA) dan image differencing dengan analisis komponen utama kehijaua, kecerahan dan kebasahan dan komponen indeks vegetasi NDVI, BI dan NDWI di gunakan dalam jurnal ini. Diketahui bahwa perubahan lahan akibat longsor bisa di deteksi menggunakan metode CVA dan image differencing, metode CVA dapat digunakan untuk stratifikasi berbagai jenis perubahan tutupan lahan akibat tanah longsor. Menggunakan klasifikasi multispektral komponen NDVI diketahui bahwa luas lahan terbuka akibat longsor adalah 1.170 m2, yaitu dengan panjang longsoran 1.823 m, pada slope ata kemiringan lahan 25-40% hingga >40 %
Seismic Gap di Sesar Geser Sumatera
Kurniawan , Telly
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i1.206
Sumatera mempunyai sistem tektonik yang menarik untuk dikaji, karena terdapat sistem subduksi yang mengakibatkan dibawah daratan Sumatera terdapat 19 segmen patahan yang memanjang mulai dari Banda Aceh hingga ke Selat Sunda. Tujuan penelitian ini adalah menentukan nilai aktivitas seismik (a) dan nilai kerapuhan batuan (b) pada setiap segmen sepanjang sesar sumatera, dengan menggunakan metode Gutenberg-Richter pada database gempabumi BMKG dan ISC (International Seismological Center) dari mulai 01-01-1964 sampai 31-05-2012. Segmen Barumun dan Segmen Aceh mempunyai nilai a = 4.809 dan 4.770, paling tinggi dibanding segmen lainnya dibawah daratan Sumatra ini, nilai a paling tinggi ini berarti Segmen Barumun dan Segmen Aceh mempunyai tingkat aktifitas seismik paling tinggi, sedangkan Segmen Sumpur dan Sianok di Sumatera Barat mempunyai nilai b yang rendah yaitu 0.237 dan 0.382. Rendahnya nilai b tergambar jelas dengan adanya zona seismic gap di wilayah ini. Nilai b terendah ini berarti nilai kerapuhannya paling kecil sehingga mempunyai elastisitas yang cukup tinggi dan mampu menyimpan stress yang besar, sebelum akhirnya dilepaskan sebagai gempabumi. Jadi Segmen Sumpur dan Sianok merupakan segmen yang perlu diwaspadai, karena batuan pada segmen ini bisa sewaktu-waktu mempunyai potensi gempa dengan kekuatan yang sangat besar. Pengambilan lokasi penelitian pada setiap segmen sesar Sumatera dikarenakan wilayah ini merupakan Megathrust dan dipermukaannya sudah banyak pemukiman, sehingga diharapkan dengan mengetahui lokasi yang mempunyai aktifitas seismik yang tinggi dan nilai kerapuhan batuan yang rendah, dapat dijadikan rujukan untuk keperluan mitigasi diwilayah tersebut
Penentuan normal musim hujan di Indonesia berdasarkan frekuensi curah hujan dasarian
Wandayantolis
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i1.207
Umumnya klimatologis menganggap bahwa penyusunan normal iklim cukup dengan merata-ratakan data dalam periode minimal 30 tahun. Konsep merata-ratakan data juga diterapkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam menyusun normal musim yang diperoleh dengan merata-ratakan curah hujan pada masing-masing dasarian (10 hari) dalam periode 30 tahun. Melalui kajian ini disajikan penentuan normal musim dengan menghitung frekuensi terjadinya curah hujan total 50mm dalam masing-masing dasarian. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan normal musim yang dihitung dengan cara merata-ratakan curah hujan. Secara umum pada kajian ini disimpulkan bahwa dengan menggunakan distribusi frekuensi “central tendency” atau pusat kejadian dari penentuan normal musim terlihat lebih jelas periodesasinya, normal musim yang dihitung dengan cara frekuensi memberikan deviasi yang lebih kecil terhadap awal musim aktual dan panjang musim kemarau menghasilkan periode yang lebih panjang setiap tahunnya dibandingkan dengan cara rata-rata
Proyeksi model WRF-Chem kualitas udara dan kondisi atmosfer di Sumatera Barat
Nurpambudi, Ramadhan
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i1.208
WRF-Chem adalah bentuk model WRF (Weather Research and Forecasting) yang dikombinasikan dengan perhitungan kimia yang digunakan untuk menyimulasikan emisi, transpor, percampuran, dan transformasi dari gas dan aerosol secara meteorologis. Penelitian ini menggunakan parameterisasi PBL10 (TEMF Scheme) dan PBL99 (MFR Scheme) yang kemudian dibandingkan dengan data observasi dari Stasiun Meteorologi Tabing Padang untuk data kecepatan angin dan dari GAW Kototabang untuk data karbon monoksida. Hasil yang didapat adalah parameter PBL yang paling mendekati keadaan sebenarnya untuk pengukuran kecepatan angin adalah PBL99 (TEMF Scheme). Walaupun begitu, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemodelan di daerah Padang
Pengukuran radiasi matahari UVB di Bukit Kototabang periode Januari-Desember 2015
Andri, Yosfi
Megasains Vol 7 No 1 (2016): Megasains Vol. 7 No.1 Tahun 2016
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v7i1.209
Pengamatan fluks Radiasi Matahari UVB permukaan bumi merupakan salah satu program pengukuran yang dilakukan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang. Stasiun ini telah mengoperasikan pengukuran radiometer UVB untuk melakukan monitoring. Hasil pengukuran untuk periode tahun 2015 memperlihatkan variasi diurnal radiasi UVB mencapai maksimum pada sekitar pukul 12.00 WIB, dengan intensitas sebesar 5,5 Wm-2. Sementara itu untuk variasi hariannya, kondisi maksimum terjadi pada tanggal 20 Februari 2015 sedangkan nilai minimum pada tanggal 18 Februari 2015. Untuk variasi bulanan, nilai tertinggi UVB terjadi di bulan November sementara nilai minimum di bulan Oktober. Nilai Radiasi Matahari UVB memiliki korelasi linier positif dengan Radiasi Matahari Global
PENILAIAN TERHADAP SISTEM PREDIKTIF BERBASIS ENSO DI INDONESIA
Ripaldi, Adi;
Abawi, Yahya
Megasains Vol 6 No 3 (2015): Megasains Vol. 6 No.3 Tahun 2015
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v6i3.210
Penggunaan Model Prakiraan Iklim (SCF) di negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang paling rentan terhadap dampak variabilitas iklim dan perubahan iklim, belum banyak diaplikasikan. Keterbatasan utama adalah; kapasitas nasional yang terbatas untuk pemantauan iklim dan prakiraan; rendahnya tingkat kesadaran para pengambil keputusan dengan dampak lokal dan regional dari variabilitas iklim (misalnya ENSO); dan kurangnya respon kebijakan yang efektif terhadap variabilitas iklim dan perubahan iklim. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah, untuk menganalisis hubungan curah hujan musiman dengan prediksi berdasarkan ENSO kunci dan menentukan yang paling "kuat" sistem prediktif (s) untuk masing-masing daerah tersebut. Penggunaan software FLOWCAST dengan tiga metode penyelidikan. Hasil regresi dan analisis tabel kontingensi menunjukkan bahwa hubungan antara SOI, Nino 3.4, SST dan Indonesia curah hujan secara signifikan lebih kuat di semua zona iklim selama 2 periode musiman yang dipilih (Mei - Oktober dan November- April) di wilayah hujan dengan tipe monsunal dan lokal. Kekuatan hubungan ini juga berhubungan dengan keterampilan peramalan tinggi (Leps) yang ditemukan terutama di daerah type monsunal dan lokal, yang mempengaruhi crah hujan musiman
TINGKAT RESIKO GEMPABUMI WILAYAH SUMATERA UTARA
Nurhafizah , Chichi
Megasains Vol 6 No 3 (2015): Megasains Vol. 6 No.3 Tahun 2015
Publisher : Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46824/megasains.v6i3.212
Akselerasi maksimum tanah adalah percepatan tanah terbesar yang tercatat di wilayah ini akibat gempa. Nilai risiko percepatan tanah gempa perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari perencanaan bangunan tahan gempa. Risiko adalah produk dari bahaya kalikan dengan kerentanan yang hasilnya tergantung pada kedua faktor. Potensi bencana tanah faktor akselerasi, sementara kerentanan merupakan faktor total populasi. Menggunakan data historis gempa dari USGS di Sumatera Utara yang terletak di 1ºS - 5ºN dan 96,5 - 100,5ºE, periode 2005-2014 menghitung percepatan tanah maksimum dengan rumus Boore (1997). Nilai adalah 372,5 gal. Medan dan Deli Serdang memiliki populasi terbesar dari Provinsi Sumatera Utara, itu merujuk bahwa risiko terbesar yang dihasilkan oleh faktor kerentanan terbesar