cover
Contact Name
Firdawsyi Nuzula
Contact Email
nuzulafirdawsyi@gmail.com
Phone
+6282141839721
Journal Mail Official
p3m.rustida@gmail.com
Editorial Address
Jl. RSU. Bhakti Husada, Krikilan, Banyuwangi 68466
Location
Kab. banyuwangi,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida
ISSN : 23562528     EISSN : 26209640     DOI : -
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida is an open access journal with contents scope of nursing, education, humanities, medicine & pharmacology, public health
Articles 216 Documents
Combination of Foot Massage and Active Range of Motion in Nursing Care for Diabetic Neuropathy Patients with Ineffective Peripheral Perfusion: a Case Study Halimatus Sa'diyah; Jon Hafan Sutawardana; Ruris Haristiani; Jumanto Jumanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 13 No 2 (2026): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v13i2.305

Abstract

Diabetic neuropathy is one of the most common chronic complications found in patients with type 2 diabetes mellitus, characterized by decreased foot sensitivity and impaired peripheral circulation. A frequently encountered nursing problem is ineffective peripheral perfusion, which increases the risk of diabetic foot ulcers and amputation. Non-pharmacological interventions such as foot massage and active range of motion (ROM) exercises have been proven effective in enhancing peripheral perfusion and sensory function. This study aims to explore the implementation of a combination of foot massage and active ROM exercises in improving sensitivity and peripheral circulation in patients with diabetic neuropathy. A case study design was used, employing a nursing care approach based on Evidence-Based Nursing (EBN). The therapy was administered over three consecutive days, consisting of a 25–30-minute foot massage followed by approximately 30 minutes of active ROM exercises each morning. Evaluation was conducted using the Toronto Clinical Neuropathy Score (TCNS) and Ankle Brachial Index (ABI) screening with Doppler ultrasound before and after the intervention. The results showed a decrease in TCNS score from 12 (severe neuropathy) on the first day to 6 (mild neuropathy) on the third day. ABI values increased from 0.30 (severe) to 0.71 (mild). Improvements were also observed in capillary refill time, skin color, reduced edema, and decreased paresthesia. In conclusion, the combination of foot massage and active ROM exercises effectively improved sensitivity and peripheral circulation in patients with diabetic neuropathy, thereby supporting conventional therapies provided during hospital care.
Hubungan Usia dan Jenis Kelamin dengan Perkembangan Motorik Halus pada Anak Melalui Bermain Origami Adelia Maharani; Liza Chairani; Fadillah Fadillah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 13 No 2 (2026): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v13i2.389

Abstract

Motorik haluis beirasal dari muiskuiluis keicil yang hanya buituih keikuiatan keicil keitika ingin meingeirakkannya seipeirti meilipat keirtas, meinuilis, dan meinggambar. Dalam meilatih keimampuian teirseibuit adalah keigiatan beirmain origami. Peineilitian uintuik meincari huibuingan uisia dan jeinis keilamin deingan peirkeimbangan motorik haluis anak meilaluii keigiatan beirmain origami di TK Peisona Buinda Paleimbang. Peineilitian meingguinakan deisain obseirvasional analitik deingan peindeikatan potong lintang. Teirdapat 30 anak yang akan meingikuiti keigiatan beirmain origami deingan 19 anak peireimpuian dan 11 anak laki-laki. Peinilaian motorik haluis dilakuikan meilaluii obseirvasi keimampuian anak dalam meilipat origami deingan tingkat keisuilitan beirbeida, yaitui beintuik amplop, peisawat, dan ikan. Data dianalisis meingguinakan uiji Fisheir’s Eixact Teist. Hasil penelitian meinuinjuikkan bahwa seibagian beisar anak beirada pada kateigori teirampil, teiruitama pada beintuik origami deingan tingkat keisuilitan muidah dan seidang. Hasil peineilitian ini uisia anak nilai p=0.039 terdapat hubungan signifikan usia anak dengan perkembangan motorik halus dan jeinis keilamin tidak teirdapat huibuingan yang signifikan p=0.89. Simpulan peineilitian bahwa uisia dan jeinis keilamin buikan meiruipakan faktor uitama yang meimeingaruihi peirkeimbangan motorik haluis anak, seipeirti cara stimuilasi, lingkuingan, dan peingalaman beilajar. Keigiatan beirmain origami dapat diguinakan seibagai alteirnatif stimuilasi motorik haluis pada anak.
Terapi Rendam Kaki Air Hangat terhadap Tekanan Darah Lansia Hipertensi Nuzula Irfa Nuriana; Ulva Hari Andini
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 13 No 2 (2026): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v13i2.392

Abstract

Lanjut usia (lansia) lansia) merupakan fase yang ditandai dengan merosotnya fungsi organ tubuh secara alamiah, sehingga risiko terjangkit beragam penyakit degeneratif meningkat. Sebuah masalah kesehatan yang paling dominan ditemukan pada lansia ialah hipertensi. Sebagai intervensi non-farmakologis yang ekonomis dan praktis untuk dilakukan di kediaman masing-masing, terapi rendam kaki memakai air hangat akan diterapkan. Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui pengaruh terapi rendam akaki air hangat terhadap tekanan darah lansia hipertensi. Populasi yang diambil sebanyak 40 lansia dan ditemukan 20 sampel yang sesuai kriteria. Desain pre-experiment pada rancangan one group pre test-post test design diterapkan sebagai kerangka kerja studi. Terapi dilakukan dengan memasukkan sepasang kaki mulai ujung jari hingga mata kaki ke wadah berisi air hangat selama 1-3 x (seminggu sekali) dengan durasi 15-30 menit menggunakan air hangat (37- 400C). Teknik pengambilan sampel yang dipakai utnuk studi ini ialah purposive sampling. Uji analisis menggunakan paired T-test. Hasil studi didapatkan angka p value 0.000 (<0,05) sehingga tersimpulkan ada dampak terapi rendam kaki memakai air hangat terkait penurunan tekanan darah untuk lansia hipertensi.
Sikap Masyarakat dan Perilaku Pencegahan Demam Berdarah Dengue: Studi pada Wilayah Endemik Ahmad Abdul Ahmad Ghofar Abdulloh; Ruminem Ruminem; Vera Veriyallia; Ni Made Ahmad Sekar Sari
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 13 No 2 (2026): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v13i2.429

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah endemik. Keberhasilan pengendalian DBD bergantung pada keterlibatan masyarakat melalui perilaku pencegahan yang dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah sikap terhadap penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara sikap dengan perilaku pencegahan DBD pada masyarakat yang tinggal di wilayah endemik. Penelitian deskriptif analitik cross-sectional ini melibatkan 500 responden yang direkrut dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner sikap dan perilaku pencegahan DBD. Data penelitian dianalisis menggunakan uji chi-square. Pelaksanaan penelitian telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Nomor: 4010-KEPK. Temuan penelitian menunjukkan bahwa masyarakat dengan sikap mendukung lebih banyak menunjukkan perilaku pencegahan DBD yang positif (35,2%) dibandingkan dengan masyarakat dengan sikap tidak mendukung (21,8%). Masyarakat dengan sikap tidak mendukung memiliki peluang lebih besar untuk memiliki perilaku pencegahan DBD yang berisiko dibandingkan dengan yang memiliki sikap mendukung. Terdapat hubungan yang signifikan antara sikap dengan perilaku pencegahan DBD pada masyarakat yang tinggal di wilayah endemik (p = 0,001, OR = 1,892; 95% CI: 1,321-2,709). Sikap merupakan salah satu faktor penting yang berhubungan dengan perilaku. Intervensi pengendalian DBD perlu memperkuat pembentukan sikap terhadap pencegahan DBD, pemberdayaan masyarakat, dan intervensi berbasis perilaku supaya pencegahan DBD dapat diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Komplikasi Kehamilan pada Ibu Hamil di Polindes Ketandan Wulan Tridianti; rosyidah alfitri
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 13 No 2 (2026): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v13i2.426

Abstract

Komplikasi kehamilan merupakan salah satu penyebab tingginya Angka Kematian Ibu yang memerlukan penanganan dini melalui pemeriksaan kehamilan yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan komplikasi kehamilan di Polindes Ketandan, khususnya faktor kadar hemoglobin (Hb), jarak kehamilan, dan paritas. Jenis Penelitian ini merupakan kuantitatif non-eksperimental dengan metode deskriptif analitik secara cross-sectional. Studi ini dilaksanakan dengan memanfaatkan data sekunder yang diperoleh dari dokumentasi antenatal care di Polindes Ketandan. Jumlah sampel sebanyak 30 ibu hamil dengan teknik total sampling. Analisis penelitian ini menggunakan Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi alpha (α) = 0,05. Hasil analisis Hasil analisis bivariat dari tiga faktor independen yang diteliti. Hubungan Kadar Hb dengan Komplikasi Kehamilan p-value = 0,009; 95%CI: 0,060-0,366. Seluruh responden kategori anemia (100%) mengalami komplikasi kehamilan. Sebaliknya, tidak terdapat hubungan signifikan jarak kehamilan p-value = 0,548; 95% CI: 0,579-0,923 maupun paritas p-value = 1,000 OR = 0,600; (95% CI: 0,058-6,213) terhadap komplikasi kehamilan. Kesimpulan penelitian ini kadar Hb merupakan faktor utama yang berisiko langsung terhadap komplikasi kehamilan di Polindes Ketandan dan menunjukkan pentingnya pemantauan kadar Hb sebagai bagian dari pelayanan antenatal untuk mendukung deteksi dini ibu hamil yang berisiko mengalami komplikasi.
Gambaran Nilai Gizi Substitusi Ekstrak Sawi Hijau (BrassicAnJuncea L.) pada Mie Ikan Patin (Pangasius Hypophthalmus) Davod Boanarges Hasudungan Sinaga; Lastrie Asrya; Waisaktini Margareth; S.T Austa Nusra; Azzahra Nur Fadhilah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 13 No 2 (2026): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v13i2.430

Abstract

Mie merupakan produk pangan berbasis tepung terigu yang sangat populer di Indonesia. Penambahan bahan pangan fungsional seperti ekstrak sawi hijau (Brassica juncea L.) dan daging ikan patin (Pangasius hypophthalmus) ke dalam formulasi mie berpotensi meningkatkan nilai gizi produk secara signifikan. Menggambarkan kandungan nilai gizi (kadar air, protein, lemak, dan karbohidrat) pada mie ikan patin dengan berbagai tingkat substitusi ekstrak sawi hijau dan membandingkannya dengan standar mutu SNI 2987:2015. Penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan substitusi ekstrak sawi hijau (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%) terhadap adonan mie ikan patin. Perlakuan terbaik (A5, substitusi 20%) ditentukan berdasarkan hasil uji organoleptik oleh 30 panelis tidak terlatih. Analisis proksimat dilakukan menggunakan metode AOAC (1995) di Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi, meliputi analisis kadar air (metode oven), protein (mikro-Kjeldahl), lemak (Soxhlet), dan karbohidrat (by difference). Perlakuan terbaik (A5: 80% adonan mie ikan patin + 20% ekstrak sawi hijau) menghasilkan kadar air 36,70%, protein 15,38%, lemak 4,17%, dan karbohidrat 42,07% per 100 Gram produk. Dibandingkan kontrol (A1: 100% mie ikan patin tanpa sawi hijau), substitusi 20% ekstrak sawi hijau meningkatkan kadar air sebesar 2,19% dan karbohidrat sebesar 7,56%, namun menurunkan kadar protein sebesar 1,76% dan lemak sebesar 1,19%. Kadar protein produk (15,38%) telah melampaui syarat minimal SNI 2987:2015 untuk mie basah matang (≥6,0%). Substitusi ekstrak sawi hijau sebesar 20% pada mie ikan patin menghasilkan produk dengan nilai gizi yang memadai dan memenuhi standar SNI. Produk ini berpotensi sebagai alternatif pangan bergizi tinggi, khususnya sebagai sumber protein dan karbohidrat bagi masyarakat.