cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 199 Documents
Implementasi Cara Hidup Jemaat Mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2: 41-47 bagi Pertumbuhan Gereja Masa Kini Andreas Sese Sunarko
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 2 No. 2: Januari 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v2i2.33

Abstract

The growth of church has been one of crucial issues that becomes a concentration point to church leaders, which is priestas the senior pastor or church council as the representative of local church members. The growth of church perceived as one of paramaters stating the existence of church to the people who are served as well as to other churches as ministry partner. The growth of church can be seen from two aspect is the quality of church members in terms of spiritual maturity reflected from the faith to God they whorship and in term of their daily behavior bringing positive impact. The other aspect is the quantity of church members from time to time.   The growth of church can  be achieved by the method or serving system that is believed by priest or church council to be implemented. In academic terminology, that method is also known as church growth system or method . They are many system or method of church growth . One of them is Cell Church system that is a system of naturaly growing church growth method with the starting point from the way of life the eraly church taken from Act 2:41-47. This idea, later on, can be implemented by today’s churches is improving church growth.AbstrakPertumbuhan gereja menjadi salah satu isu penting yang terus menjadi konsentrasi bagi para pimpinan gereja, baik itu Pendeta sebagai Gembala Jemaat atau Majelis sebagai representasi jemaat lokal. Pertumbuhan gereja dinilai sebagai salah satu parameter eksistensi gereja tersebut dimata jemaat yang dilayaninya maupun dimata gereja-gereja lain sebagai mitra pelayanan. Pertumbuhan gereja bisa dilihat dari dua segi yaitu segi kualitas yang ditandai dengan kematangan jemaat atas nilai-nilai relegiositasnya yang terpancar dari tingkat keyakinannya terhadap pribadi Allah yang disembahnya dan terpancar dari perilaku sehari-harinya yang mendatangkan dampak positif. Adapun segi yang lain adalah segi kuantitas yang ditandai dengan pertumbuhan jemaat yang terlihat dari bertambahnya jumlah jemaat dari waktu ke waktu. Pertumbuhan gereja ini dapat terwujud dengan metode dan sistem pelayanan yang diyakini oleh Pendeta atau Majelis untuk diterapkan atau dalam dunia akademis disebut dengan metode atau sistem pertumbuhan gereja. Ada banyak metode atau sistem pertumbuhan gereja yang ada diantaranya metode atau sistem Gereja Sel, metode atau sistem pertumbuhan Gereja Modern dan lain sebagainya. Melalui tulisan ini penulis ingin menunjukan salah satu metode pertumbuhan gereja yang bertitik tolak pada cara hidup jemaat yang pertama sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 2 : 41-47 yang nantinya dapat diterapkan oleh gereja-gereja masa kini dalam melakukan proses pertumbuhan gereja.
Implementasi Pola Pemuridan Yesus Menurut Injil Matius Johannes Sembiring
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 2 No. 2: Januari 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v2i2.34

Abstract

Matthew does not emphasize the apostle's understanding of Jesus' disciples in his writings, but instead uses the term "disciple." Matthew, dealing with Jews who are peculiar to discipleship, certainly considers the root importance of the term "disciple", a learner. A person who serves God should be a disciple of Christ, who loves and follows Christ and lives according to the character of the Lord Jesus with all his heart. This is a literature review article that uses descriptive methods. Descriptive study was applied to the pastors of the GPdI session in Jember Regency which numbered 28 people as participants. Research data obtained directly from the field using research instruments in the form of a questionnaire. After analyzing to get answers based on the percentage of participant scores, it can be concluded that the implementation value of Jesus' discipleship pattern according to the Gospel of Matthew among the Pastors of the GPdI Session in Jember district is very high, namely 90.30%. AbstrakMatius tidak menekankan tentang pemahaman rasul pada murid-murid Yesus pada Tulisannya,  akan tetapi menggunakan istilah “murid.” Matius berhadapan dengan orang Yahudi yang khas dengan pemuridan, pasti menganggap penting akar istilah “murid” tersebut, yaitu seorang yang belajar. Seorang yang melayani Tuhan seharusnya adalah seorang murid Kristus, yang mengasihi dan mengikut Kristus serta hidup sesuai karakter Tuhan Yesus dengan sepenuh hati. Ini merupakan artikel kajian literatur yang menggunakan metode deskriptif. Kajian deskriptif diterapkan pada gembala-gembala sidang GPdI se-Kabupaten Jember yang berjumlah 28 orang sebagai partisipan. Data-data penelitian diperoleh secara langsung dari lapangan dengan menggunakan instrument penelitian dalam bentuk angket. Setelah dilakukan analisis untuk mendapatkan jawaban berdasarkan prosentasi skor partisipan, maka dapat disimpulkan bahwa nilai implementasi pola  pemuridan Yesus menurut Injil Matius dikalangan Gembala Sidang GPdI se-kabupaten Jember adalah sangat tinggi, yaitu 90,30%. 
Efektivitas Peran Gembala Jemaat dalam Pertumbuhan Gereja Yulia Santoso
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 2 No. 2: Januari 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v2i2.35

Abstract

This article is a research result of the role of the pastor's effectiveness in church growth. As for the object examined in this thesis in accordance with the context of the pastor, "about the effectiveness of the pastor who is very influential in the growth of the church in accordance with the ministry and responsibilities as a shepherd." Although there are many strong and hard obstacles that can cause occurrence obstacles in growth, seem slow and stagnant, but the pastoral task must continue to be done and the pastor needs to increase its effectiveness by finding more effective methods so as to find a better way of pastoral care. The effectiveness of the pastor's ministry is very important to be done seriously in order to obtain success in carrying out this ministry from God. AbstrakArtikel ini adalah sebuah hasil penelitian dari peranan efektivitas gembala jemaat terhadap pertumbuhan gereja. Adapun yang menjadi objek yang diteliti dalam tesis ini sesuai dengan konteksnya yaitu gembala jemaat, “ tentang efektivitas gembala jemaat yang sangat berpengaruh terjadinya pertumbuhan gereja sesuai dengan pelayanan dan tanggungjawabnya sebagai gembala.” Walaupun ada banyak hambatan-hambatan yang kuat dan keras yang dapat menyebabkan  terjadinya hambatan dalam pertumbuhan, terkesan lambat dan stagnan, namun tugas  penggembalaan harus tetap dilakukan dan gembala jemaat perlu meningkatkan efektivitasnya dengan mencari metode yang lebih efektif sehingga menemukan cara yang lebih baik dalam tugas penggembalaan. Efektivitas pelayanan gembala ini sangat penting dilakukan dengan sungguh- sungguh agar memperoleh keberhasilan dalam melaksanakan tugas pelayanan dari Tuhan ini.
Kecerdasan Emosional dalam Mengatasi Tekanan pada Masa Akhir Studi Thomas Pandawa Efrata Tarigan; Elisabeth Sitepu
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 3 No. 1: Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.36

Abstract

This paper specifically wants to give a different perspective to the final year students who are facing the final period of completion of their studies. Challenges from an economic standpoint, various difficulties when preparing the final project, difficulties in establishing good interaction and communication with the mentors, even the difficulties of students in dealing with the diversity of ways of thinking among the guiding lecturers. This often makes students depressed, feel hopeless, even stressed, which can result in the disruption of personal health. By using library research methods, researchers show that the emotional intelligence of students in overcoming stresses or difficulties at the end of the study. AbstrakTulisan ini secara khusus hendak memberikan sebuah sudut pandang yang berbeda terhadap mahasiswa tingkat akhir yang sedang menghadapi masa-masa akhir penyelesaian studinya. Tantangan dari sudut ekonomi, berbagai ragam kesulitan ketika sedang menyusun tugas akhir, kesulitan dalam membangun interaksi dan komunikasi yang baik dengan para pembimbing, bahkan kesulitan mahasiswa di dalam menghadapi ketidakseragaman cara berpikir antar dosen pembim-bingnya. Hal ini sering sekali menjadikan mahasiswa menjadi tertekan, merasa putus asa, bahkan stress, yang dapat berakibat terganggunya kesehatan diri. Dengan menggunakan metode penelitian pustaka, peneliti menujukkan bahwa kecerdasan emosional mahasiswa dalam mengatasi tekanan atau kesulitan pada masa akhir studi.
Prinsip Pernikahan Menurut Efesus 5:22-33: Penerapan Doktrin Pernikahan bagi Jemaat GPdI Maranatha Sarawandori, Serui Lukas Takanyuwai; Daud Manno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.37

Abstract

Christian Marriage, ideally, is based on the truth of God's Word. However, issues are often found in practice, such as marriages ending in divorce or not reflecting the happy and blessed Christian family life. This study aims to formulate the principles of Christian marriage through an understanding of the text of Ephesians 5:22-33. Using a descriptive method, several things are produced as principles of Christian marriage taught to the congregation, especially at GPdI Maranatha Sarawandori, Serui. In conclusion, the principles in Ephesians 5:22-33 can become the spirituality of Christian marriage that makes the Christian family strong and increasingly blessed by God. AbstrakPernikahan Kristen, idealnya, dilandaskan pada kebenaran firman Tuhan. Namun demikian persoalan di lapangan sering ditemukan masih adanya pernikahan yang berujung pada perceraian atau pernikahan yang tidak mencerminkan kehidupan keluarga Kristen yang bahagia dan diberkati Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prinsip pernikahan Kristen melalui pemahaman teks Efesus 5:22-33. Dengan menggunakan metode deskriptif, maka ada beberapa hal yang dihasilkan sebagai prinsip pernikahan Kristen yang diajarkan kepada jemaat, khususnya di GPdI Maranatha Sarawandori, Serui. Sebagai Kesimpulannya, prinsip dalam Efesus 5:22-33 tersebut dapat menjadi spiritualitas pernikahan Kristen yang membuat keluarga Kristen kuat dan semakin diberkati Tuhan.  
Analisis tentang Peran Penatua dalam Pertumbuhan Gereja Sri Wahyuni; Marciano Antaricksawan Waani
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 3 No. 1: Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.38

Abstract

This research is about the role of elders in the Pentecostal Church in Indonesia (GPdI) of the Gethsemane church in Kuta, which has been initiated since May 18, 1979, by Ms. Nani Soetarni, and has experienced growth both in quality and quantity. As the church grows, the church leader or pastor appoints elders to help with the stewardship. The purpose of this study was to find out how the church's perspective on the stewardship task carried out by the elders at Gethsemane Gethsemane Kuta, Bali. The method used is a qualitative method, in which the participants are the GPdI Gethsemane Kuta congregation with a total of 44 people. Data collection techniques by distributing and collecting question questionnaires, where the results are, not all elders carry out their duties to the maximum. This is due to the lack of understanding of the elders about the duties and responsibilities related to the growth of the church, ineffective communication among the elders.AbstrakPenelitian ini tentang peran penatua di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) jemaat Getsemani Kuta, yang telah dirintis sejak tangal 18 Mei 1979, oleh ibu Nani Soetarni, serta telah mengalami pertumbuhan baik secara kualitas maupun kuantitas. Seiring dengan pertumbuhan gereja, maka pemimpin gereja atau gembala sidang menun-juk para penatua untuk membantu tugas penatalayanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perspektif jemaat tentang tugas penatalayanan yang dilakukan oleh para penatua di GPdI Getsemani Kuta, Bali. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, di mana partisipan merupakan jemaat GPdI Getsemani Kuta yang berjumlah sebanyak 44 orang. Teknik pengumpulan data dengan mengedarkan dan mengumpulkan angket pertanyaan, di mana hasilnya adalah, belum semua penatua melaksanakan tugas pelayanannya dengan maksimal. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pemahaman para penatua tentang tugas dan tanggung jawabnya yang berhubungan terhadap pertumbuhan gereja, komunikasi yang tidak efektif di antara para penatua.
Pemahaman dan Keterlibatan Masyarakat Papua dalam Kargoisme Roberth Ruland Marini
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 3 No. 1: Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.39

Abstract

The cargo cult is a pattern of belief and is considered to be the initial religion of the Papuan people, this is deeply embedded in the Papuan people. They have become Christians but also at certain times take part in ritual practices related to cargoism. The purpose of the study is to have a detailed understanding, also of the Sorido village community response, about cargoisme and also the consequences of what they experience as adherents of this belief. In the research analysis conducted was a qualitative analysis, with 16 participants answering 12 questions from 3 indicators sourced from one variable. Then the understanding and involvement of the Sorido village community in Biak Numfor Papua district on cargoisme has shown ontetic data that is in accordance with data calculation procedures, so it is known that 12.5% of participants trust cargoism and 87.5% of participants do not trust cargoism. And 87.5% of participants believed in the legend of Manarmakeri while 12.5% of the participants did not believe in the legend of Manarmakeri.AbstrakKultus kargo adalah pola kepercayaan dan diangap sebagai agama yang awal dari orang Papua, hal ini sangat tertanam di dalam diri orang Papua. Mereka telah manjadi Kristen tetapi juga masih pada waktu-waktu tertentu turut mengambil bagian dalam praktik-praktik ritual yang berhubungan dengan kargoisme. Tujuan penelitian agar ada pemahaman yang detail, juga mengetaui respon masyarakat kampung sorido, tentang kargoisme dan juga konsekuensi apa yang dialaminya sebagai penganut kepercayaan ini. Dalam penelitian analisis yang dilakukan adalah analisis kualitatif, dengan 16 partisipan menjawab 12 pertayaan dari 3 indikator yang bersumber dari satu variabel. Maka pemahaman dan keterlibatan masyarakat kampung Sorido kabupaten Biak Numfor Papua tentang kargoisme telah menunjukan data ontetik yang sesuai dengan prosedur perhitungan data, maka diketahui bahwa 12,5% partisipan mempercayai kargoisme dan 87,5% partisipan tidak mempercayai kargoisme. Dan 87,5% partisipan mempercayai legenda manarmakeri sedangkan 12,5% partisipan tidak mempercayai legenda manarmakeri.
Pentingnya Kurikulum dalam Pelayanan Pemuridan di Gereja Handreas Hartono; Vitaurus Hendra
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 3 No. 1: Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.40

Abstract

This article was written to be a proposal for discipleship's curriculum for Gereja Sungai Yordan (GSY) Jemaat Rajawali Pasar Baru Jakarta base on the church's vision & mission.  Church's vision and the mission were base on Matthew 28:19-20 and being implemented by the discipleship program. The method used in this study uses qualitative methods through the study of documents, interviews, and observations. In this study, it was found that Gereja Sungai Yordan Rajawali used discipleship as their core movements, but this movement has not been systematically structure and implements in their programs, procurement of discipleship materials, and socialization actions. The research purpose is to make a systematized discipleship curriculum for GSY Rajawali. AbstrakArtikel ini bertujuan memberikan usulan kurikulum pemuridan bagi Gereja Sungai Yordan (GSY) Jemaat Rajawali Pasar Baru Jakarta berkaitan dengan visi misi gereja yang diambil dari Matius 28:19-20. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi dokumen, wawancara dan observasi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa GSY menjadikan pemuridan sebagai pusat kegerakkan gereja, namun belum tersusun sistematis dan diimplementasikan sebagai program utama gereja, belum memiliki bahan ajar pemuridan, dan sosialisasi tindakan. Penelitian yang dilakukan ini untuk menyusun kurikulum pemuridan GSY Rajawali.
Panggilan dan Pemilihan Allah dalam Konstruksi Soteriologis Petrus: Refleksi Teologis 2 Petrus 1:3-11 David S. Tjandra
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The assumption that salvation has been completed is very unbiblical because humans must complete God's work of salvation that has been given. Salvation for humans who have fallen into sin and have a sinful nature is not enough just with the forgiveness of sins; they must leave their sinful nature. The Holy Spirit was sent to help a man become holy by changing his nature throughout life from sinful to divine. Using a qualitative method with a literature study approach and text analysis, it can be concluded that Jesus' redemption for all people has been completed, but for believers, there is a demand to do what He taught. Because of Christian salvation, Christianity does not tolerate sin; Christianity is not a teaching that allows sinners to enter heaven because of grace. The salvation that is understood to have been completed or perfect is "poison" for every believer because without realizing it, someone with this concept of salvation will feel "safe and secure" without feeling any risk of failure. Salvation has three dimensions in human life. They are past, present, and future. Christian salvation must be worked out actively and progressively with perseverance until it reaches the stage that pleases the Father. This is one of the most essential reasons Christianity must actively seek salvation and grow immediately. AbstractAnggapan keselamatan telah selesai sangat tidak alkitabiah, sebab manusia harus menyelesaikan karya keselamatan Allah yang telah diberikan. Keselamatan bagi manusia yang sudah jatuh dalam dosa, yang memiliki sifat dosa, tidak cukup hanya dengan pengampunan dosa, namun wajib meninggalkan sifat dosanya. Dan Roh Kudus diutus untuk menolong manusia menjadi kudus dengan mengubah kodratnya sepanjang hidup, dari kodrat dosa menjadi kodrat Ilahi. Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisa teks, maka dapat disimpulkan bahwa Penebusan yang dilakukan Yesus untuk semua orang telah selesai, tetapi bagi orang percaya ada tuntutan untuk mengerjakan apa yang diajarkanNya. Sebab kese-lamatan Kristen, kekristenan tidak toleransi terhadap dosa, kekristenan bukan ajaran yang meng-izinkan orang berdosa bisa masuk sorga dengan alasan anugerah. Keselamatan yang dipahami telah selesai atau sempurna adalah “racun” bagi tiap orang percaya karena tanpa disadari seseo-rang dengan konsep keselamatan seperti ini akan merasa “aman-aman saja” tanpa merasa ada risiko kegagalan. Keselamatan memiliki tiga dimensi dalam kehidupan manusia. Yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Keselamatan Kristen harus dikerjakan secara aktif dan progresif dengan ketekunan sampai pada tahap yang menyenangkan hati Bapa. Inilah salah satu alasan terpenting mengapa kekristenan harus aktif mengerjakan keselamatan dan segera bertumbuh.  
Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak pada Masa Pandemi Covid-19 Frans Pantan; Priskila Issak Benyamin
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 3 No. 1: Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.43

Abstract

The occurrence of the Covid-19 pandemic virus caused the family's role in children's education to become increasingly strategic. Until now not many studies have examined the role of families in children's education. This study aims to analyze deeply the role of the family in children's education. This research is a qualitative ethnographic study. Data were collected using in-depth interview techniques and participatory observation. The data source is the primary source (both parents and mothers) approached by purposive technique and continued with a snowball. The data is then validated by source triangulation techniques and methods. The collected data is then analyzed using the interactive data analysis technique of the Miles and Huberman model, which consists of the stages of data collection, data reduction, data display, and conclusion. The results showed that there were 7 main roles of the family in children's education, namely: (1) The function of the faith; (2) Educational functions; (3) The function of socialization; (4) Protection or protection functions; (5) Affection function; (6) Economic functions; (7) Recreational functions. After going through a process of discussion with relevant theories and research results, it was found that the seven roles holistically had never been raised together before. This is a new finding from this research, where this finding will certainly be different from the findings if there is no pandemic, or if disasters occur in other forms.AbstrakTerjadinya pandemi virus covid-19 menyebabkan peran keluarga dalam pendidikan anak menjadi semakin strategis. Hingga saat ini belum banyak penelitian yang mengkaji peran keluarga dalam pendidikan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai peran keluarga dalam pendidikan anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif etnografi. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sumber data adalah sumber primer (orangtua baik ayah maupun ibu) yang didekati dengan teknik purposive dan dilanjutkan dengan snowball. Data selanjutnya divalidasi dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis data interaktif model Miles and Huberman, yang terdiri dari tahap data collection, data reduction, data display, dan conclution. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 peran utama keluarga dalam pendidikan anak, yaitu: (1) Fungsi keimanan; (2) Fungsi edukatif; (3) Fungsi sosialisasi; (4) Fungsi proteksi atau perlindungan; (5) Fungsi afeksi; (6) Fungsi ekonomi; (7) Fungsi rekreasi. Setelah melalui proses pembahasan dengan teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan, ditemukan bahwa ketujuh peran tersebut secara holistik belum pernah diangkat secara bersama-sama sebelumnya. Hal inilah yang menjadi temuan baru dari penelitian ini, di mana temuan ini tentu akan berbeda dengan temuan jika tidak terjadi pandemic, maupun jika terjadi bencana dalam bentuk-bentuk yang lain.