cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 199 Documents
Role Model Kompetensi Kepemimpinan Rohani Paulus dalam Kisah Para Rasul: Studi pada Majelis Daerah GPdI Papua Timotius Dawir; Doni Heryanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.76

Abstract

An important demand is placed on a leader, which is their leadership competency. The purpose of this research is to demonstrate the spiritual leadership competency of Paul, as portrayed by the author of Acts, as a role model for the Pentecostal Church in Indonesia in Papua. The method used is descriptive with a qualitative approach to the literature review related to the issue or topic of leadership with Paul as the role model. Leadership narratives in Acts become the main source, supplemented by various references from sources such as journal articles and books. In conclusion, Paul's post-conversion spiritual competency can be a guide and role model for leaders of the Majelis Daerah GPdI in Papua.  AbstrakAda hal penting yang dituntut dari seorang pemimpin, yakni kompetensi kepemimpinan-nya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan kompetensi kepemimpinan rohani Paulus yang diperlihatkan oleh penulis Kisah Para Rasul, sebagai sebuah role model kepemimpinan bagi majelis daerah Gereja Pantekosta di Indonesia di Papua. Metode yang digunakan adalah deksriptif dengan pendekatan kualitatif pada kajian literatur terkait isu atau topik kepemimpinan dengan Paulus sebagai role modelnya. Penggunaan narasi kepemimpinan dalam Kisah Para Rasul menjadi sumber utama yang dilengkapi dengan berbagai referensi terkait dari berbagai seumber seperti artikel jurnal dan buku-buku. Kesimpulannya, kompetensi kerohanian Paulus pascapertoba-tannya dapat menjadi sebuah panutan dan role model bagi pemimpin Majelis Daerah GPdI Papua. 
Pentingnya Partisipasi Pemuda dalam Pembangunan Jemaat: Studi Kasus Pada Gereja Masehi Injili Minahasa Syaloom, Karombasan Julio Eleazer Nendissa
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.108

Abstract

This paper aims to describe and analyze various factors causing the lack of participation of GMIM Syaloom Karombasan youth in Sunday worship services. In terms of quantity, the church youths are around 379 members, but only 13 people are involved in Sunday worship services, namely the youth commission. This makes the author feel concerned to examine more deeply the problems experienced by young people. This paper uses a qualitative research method with a descriptive analysis and interview approach because it can present data related to the lives of youth in service. This paper uses data collection techniques such as structured in-depth interviews. This paper uses the theory of church development from Rob Van Kessel as a knife to sharpen the analysis of the problem. In the results of the research that the author got, it was caused by youth not taking the initiative, promiscuity, musical instruments and sound systems were inadequate, youth creativity was lacking. BPMJ does not facilitate youth in service, lack of communication between BPMJ and youth, and the formation of youth groups who are rich, poor, beautiful, and handsome.  AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa berbagai faktor penyebab minimnya partisipasi pemuda GMIM Syaloom Karombasan dalam pelayanan ibadah minggu. Secara kuantitas para pemuda gereja terbilang banyak sekitar 379 anggota, tetapi yang terlibat dalam pelayanan ibadah minggu hanya 13 orang yaitu komisi pemuda. Hal tersebut membuat penulis merasa prihatin untuk mengkaji lebih dalam terkait permasalahan yang dialami para pemuda. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dan wawancara karena dapat menyajikan data terkait kehidupan pemuda dalam berpelayanan. Tulisan ini menggunakan teknik pengumpulan data seperti wawancara mendalam secara terstruktur. Adapun tulisan ini menggunakan teori pembangunan jemaat dari Rob Van Kessel sebagai pisau untuk mempertajam analisa permasalahan. Dalam hasil penelitian yang penulis dapatkan disebabkan pemuda tidak berinisiatif, pergaulan bebas, alat musik dan sound system tidak memadai, kreatifitas pemuda kurang. BPMJ tidak memfasilitasi pemuda dalam pelayanan, minimnya komunikasi BPMJ dan pemuda, dan terbentuknya kelompok-kelompok pemuda yang kaya, miskin, cantik, ganteng.
Makna “Ayah Jangan Menyakiti Hati Anak” dalam Pendidikan Anak Generasi Z: Sebuah Refleksi Kolose 3:21 Kezia Yemima; Ika Murwantiningtyas
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.112

Abstract

Fathers are required to pay great attention to their duties and obligations in the spiritual education of children because children learn to know God through the father figure. So the Bible teaches fathers to educate their children properly according to the truth in God's word. Science and technology are always developing and undergoing major changes in accordance with the times. This development certainly affects the spiritual education of fathers, especially in Generation Z. The research aims to explain the implementation of the meaning of the father not to offend the child in Colossians 3:21 in the spiritual education of Generation Z's children. This research uses a qualitative approach with descriptive methods in achieving the objectives. This research uses a literature study and interview method for data collection purpose. The result is that Christian values form the basis of good relationships between Generation Z fathers and children. ABSTRAKAyah diharuskan memberi perhatian yang besar terhadap tugas dan kewajibannya dalam pendidikan kerohanian anak, karena anak belajar mengenal Allah melalui figur ayah. Maka Alkitab mengajar para ayah untuk mendidik anak dengan baik sesuai dengan kebenaran dalam firman Tuhan. Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami perubahan besar sesuai dengan perkembangan zaman. Perkembangan tersebut tentu mempengaruhi pendidikan kerohanian ayah kepada anak khususnya Generasi Z. Penelitian bertujuan untuk menjelaskan implementasi makna ayah jangan menyakiti hati anak dalam Kolose 3:21 dalam pendidikan kerohanian anak Generasi Z. Dalam mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode dekriptif. Penelitian ini menggunakan metode study literatur dan wawancara dengan narasumber untuk pengumpulan data. Penelitian ini berhasil menemukan nilai-nilai kekristenan menjadi dasar dalam relasi yang baik antara ayah dan anak Generasi Z. 
Implementasi Makna Teologis Persekutuan dalam Praktik Ibadah Virtual Masa Kini: Refleksi Teologis Ibrani 10:19-25 Abraham Geraldi; Purim Marbun; Dio Angga Pradipta Gunawan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.115

Abstract

This research covered the contrary viewpoint to the practice of virtual worship that hasn’t been containing or removing the element of fellowship as duly due to do with virtual without physically meeting or physical contact reality. On other hand, fellowship is one of the church’s callings and Hebrews 10:19-25 affirmed and recommended for every believer to fellowship constantly from their worship meeting. This research aims to find out what is the meaning of fellowship worship within Hebrews 10:19-25 and find out the implementation of practical virtual worship in this era, so that can answer all the contrary viewpoints about fellowship in virtual worship. The researcher used the research method with descriptive qualitative and library research as a type of this research. Data analyzed with content analysis method with exegesis study. The resources were taken from the Bible, books, journals, and other literature related to this research. The research found that: (1) The theology’s meaning of fellowship contained in Hebrews 10:19-25 consist of three meanings divine fellowship, fellowship in the present period and in the future period; (2) The fellowship according to Hebrews 10:19-25 have two urgencies that are to realize faith, love, and hope also to savor the manifestation of eschatological fellowship; (3) The appropriate implementation from practical virtual worship to realize the theology’s meaning of this fellowship are worship using the digital platform of video conference, forming and worshiping within a small group and worship with utilization family community in house. AbstrakPenelitian ini dilatar belakangi oleh adanya pandangan yang kontra terhadap pelakasanaan ibadah virtual yang dianggap tidak mengandung atau telah menghilangkan unsur persekutuan sebagaimana mestinya karena tidak adanya pertemuan fisik ataupun kontak fisik secara langsung. Di sisi yang lain, bersekutu adalah salah satu tugas gereja dan di dalam Ibrani 10:19-25 juga ditegaskan serta dianjurkan agar setiap orang percaya tetap bersekutu melalui pertemuan ibadah yang dilakukan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan bagaiamana makna sebenarnya dari persekutuan ibadah yang tergandung dalam Ibrani 10:19-25 dan   mencari implementasinya dalam praktik ibadah virtual di masa kini agar dapat menjawab setiap pandangan yang kontra mengenai persekutuan dalam ibadah virtual. Peneliti menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian library research dan selanjutnya data dianalisis dengan metode analisis isi (content analysis) melalui studi eksegesis. Sumber data diperoleh dari Alkitab, buku-buku, jurnal-jurnal dan literatur lainnya yang berkaitan dengan materi penelitian. Dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa: (1) Makna teologis persekutuan yang terkandung dalam Ibrani 10:19-25 terdiri atas tiga makna yaitu persekutuan Ilahi, masa kini dan masa mendatang; (2) Persekutuan menurut Ibrani 10:19-25 memiliki dua urgensi yaitu untuk mewujudkan iman, kasih serta pengharapan dan untuk mengecap manifestasi persekutuan eskatologis; (3) Implementasi yang tepat dari makna teologis persekutuan tersebut dalam pelaksanaan ibadah virtual adalah melangsungkan peribadahan  menggunakan platform digital video conference, membentuk dan melaksanakan peribadahan dalam kelompok kecil serta pelaksanaan ibadah dengan pemanfaatan komunitas keluarga di rumah. 
Tradisi Wiwitan sebagai Pendampingan Pastoral Berbasis Budaya di Desa Bansari Imanuel Teguh Harisantoso; Ones Mahanugraha; Anki Yula Putri Mein
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.121

Abstract

Research on the topic "Wiwitan Tradition as Cultural-Based pastoral care in Bansari Village" Temanggung wants to answer problems related to wiwitan tradition and pastoral care contained in it. How is the tradition of wiwitan as a tools, agrarian community media to do mutual caring? Whatever happens with the results of farmers' hard work: crops are eaten by pests, crops are loss-making, tobacco prices are unfavorable, the weather is not supportive or rainfall is high, farmers still hold wiwitan rituals. Farmers remain strong, still have new expectations of God's abundant blessings in the next growing season. To answer the above problem, the methodology that will be used is a kwalitative approach that is carried out by observative data excavation techniques and participatory interviews. Why participatory? Because researchers are directly involved in wiwitan rituals carried out by farmers. In this way researchers can produce research findings related to the meaning of wiwitan tradition in spiritual and social pastoral care in the spirit of harmony of jagad ageng and jagad alit, the spirit of personal and communal relations is imbued by spiritual and philosophical values of solidarity, harmony and feelings of handarbeni (having) as a family that is tied geographically and culturally. Wiwitan rituals become tools for the way humans to sustain, guide, reconcile and empower others. AbstrakPenelitian dengan topik “Tradisi Wiwitan sebagai Pendampingan Pastoral Berbasisi Budaya di Desa Bansari” Temanggung hendak menjawab persoalan-persoalan terkait tradisi wiwitan dan pendampingan pastoral yang terkandung di dalamnya. Bagaimana tradisi wiwitan sebagai tools, media masyarakat agraris untuk melakukan mutual caring? Apapun yang terjadi dengan hasil kerja keras petani: tanaman dimakan hama, hasil panen merugi, harga tembakau tidak menguntungkan, cuaca tidak mendukung atau curah hujan tinggi, petani tetap mengadakan ritual wiwit. Petani tetap tegar, tetap memiliki pengaharapan baru akan berkah Tuhan yang melimpah pada musim tanam berikutnya. Untuk menjawab persoalan di atas, metodologi yang akan digunakan adalah pendekatan kualitatif yang disokong oleh teknik penggalian data secara observatif dan wawancara partisipatif. Mengapa partisipatif? Dikarenakan peneliti terlibat secara langsung dalam ritual wiwitan yang dilakukan masyakatat petani. Dengan cara demikian peneliti dapat menghasilkan temuan penelitian yang berkaitan dengan makna tradisi wiwitan dalam pendampingan pastoral secara spiritual dan sosial dalam semangat harmoni jagad ageng dan jagad alit, semangat relasi personal dan komunal dijiwai oleh nilai-nilai spiritualitas dan filosofis tentang solidaritas, guyup rukun dan perasaan handarbeni (memiliki) sebagai keluarga yang diikat secara geografis dan kultural. Dengan demikian ritual wiwitan menjadi tools cara manusia menopang, membimbing, menuntun, mendamaikan dan memberdayakan sesama. 
Perspektif Alkitab tentang Pilihan Menikah atau tidak Menikah Styadi Senjaya; Jessica Elizabeth Abraham; Tjutjun Setiawan; Meriwati Meriwati
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.154

Abstract

Views about marriage are changing. Factors such as culture, environment, and family also influence. Several studies show the number of people who choose not to marry has increased due to economic reasons, the trauma of divorce, or lifestyle choices. This paper aims to find a biblical perspective on a person's choice to marry or not to marry. The research used in this paper, which is a qualitative method of literature study, finds that a person's choice to marry or not to marry must be focused and based on God's will, not because of personal considerations. This paper is expected to help the church to provide guidance and biblical teaching for the congregation so that they can make decisions according to God's will.  AbstrakPandangan tentang pernikahan mengalami perubahan. Faktor seperti kebudayaan, lingkungan, dan keluarga ikut memengaruhi. Beberapa studi menunjukkan jumlah orang yang memilih untuk tidak menikah mengalami peningkatan dikarenakan alasan ekonomi, trauma perceraian ataupun pilihan gaya hidup. Tulisan ini bertujuan menemukan perspektif Alkitab tentang pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah. Penelitian yang digunakan dalam penulisan ini, yaitu metode kualitatif studi pustaka, menemukan pilihan seseorang untuk menikah atau tidak menikah harus berfokus dan berdasar kepada kehendak Tuhan bukannya karena pertimbangan pribadi. Tulisan ini diharapkan membantu gereja untuk memberikan bimbingan dan pengajaran Alkitabiah untuk jemaat agar dapat mengambil keputusan yang sesuai kehendak Tuhan. 
Peran Guru Kristen Sebagai Fasilitator dalam Upaya Pembentukan Keaktifan Belajar Siswa Robet Kristian Lase; Wiyun Philipus Tangkin
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.160

Abstract

The impact of the pandemic requires the world of education to implement the online learning system. However, the implementation of the online learning activity causes students to not be involved in discussions, or not do tasks as a result of boredom arising from monotonous learning systems and dense materials that must be studied. Because of that, the purpose of this research is to examine the role of Christian teachers as facilitators in efforts to establish the student learning activity reviewed from epistemological studies using literature study methods. The role of Christian teachers as facilitators not only facilitates students but also has an obligation to make each student a disciple of Christ and help them to learn actively and more responsibly in developing the talents and abilities given by God to be a blessing to many. Because of that, it takes good communication and cooperation with parents as a supervisor and a motivator of students to active learning from home. Behind it all, Christian teachers must also submit themselves and their classes to the Holy Spirit, so that learning can be according to His will.  AbstrakDampak pandemi mengharuskan dunia pendidikan menerapkan sistem pembelajaran daring. Namun, pelaksanaan pembelajaran daring menimbulkan berbagai permasalahan keaktifan belajar siswa seperti; siswa tertidur selama pembelajaran, tidak terlibat dalam diskusi, atau tidak melakukan tugas sebagai akibat dari kejenuhan yang timbul dari sistem pembelajaran monoton dan materi padat yang harus dipelajari. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran guru Kristen sebagai fasilitator dalam membentuk keaktifan belajar siswa pada pembelajaran daring yang ditinjau dari kajian epistemologi dengan menggunakan metode kajian literatur. Peran guru Kristen sebagai fasilitator bukan hanya memfasilitasi siswa tetapi juga memiliki kewajiban untuk menjadikan setiap siswa sebagai murid Kristus dan membantu mereka untuk belajar secara aktif dan lebih bertanggung jawab dalam mengembangkan bakat dan kemampuan yang diberikan oleh Allah untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Karena itu, dibutuhkan komunikasi yang baik dan kerja sama dengan orang tua sebagai pengawas dan motivator siswa untuk aktif belajar dari rumah. Di balik itu semua, guru-guru Kristen juga harus menyerahkan diri dan kelas kepada Roh Kudus, sehingga pembelajaran dapat sesuai dengan kehendak-Nya. 
Tanggung Jawab Penginjilan Bagi orang Percaya: Sebuah Refleksi Teologis 1 Korintus 9: 16-17 Ita Lintarwati; Carolina Etnasari Anjaya; Yonatan Alex Arifianto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 5 No. 1: Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v5i1.164

Abstract

Evangelism is the duty of every human being because, according to God's plan, all human beings need to be returned to their original design, namely to eternity. However, at present, the meaning of evangelism is experiencing bias and decline in its actualization because the mission of evangelism is used to boast. This study aims to describe and analyze the theological study of evangelism according to the narrative text of 1 Corinthians 9:16-17, and from this study, it is found that in carrying out evangelism, the most important needs are self-denial and a willing heart. Because without self-denial, the mission of evangelism will lead to self-aggrandizement and fulfillment of self-interest. AbstrakPenginjilan merupakan tugas setiap umat manusia karena sesuai rencana Allah, semua manusia perlu dikembalikan kepada rancangan semula yaitu kepada kekekalan. Namun saat ini, makna penginjilan mengalami bias dan kemerosotan dalam aktualisasinya sebab tugas penginjilan justru dijadikan sarana untuk memegahkan diri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisa kajian teologis penginjilan sesuai narasi teks 1 Korintus 9:16-17 dan dari kajian tersebut ditemukan bahwa dalam menunaikan penginjilan, kebutuhan paling utama adalah penyangkalan diri dan kerelaan hati. Sebab tanpa penyangkalan diri tugas penginjilan akan mengarahkan pada kemegahan diri dan pemenuhan kepentingan diri sendiri.  
Menggagas Perbandingan antara Konsep Eksklusivisme Agama dalam Teologi Gereja Bethel Indonesia dengan Konsep Pluralisme Politik Miroslav Volf Angga Putra Manggala Sunjaya
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.195

Abstract

This article discusses the comparison between the theological concept of religious exclusivism of the Indonesian Bethel Church (GBI) and the concept of political pluralism of Miroslav Volf. A comparative study is the method used to explore this study. This article argues that the religious exclusivism of GBI has similarities to the concept of political pluralism in Miroslav Volf's view. These similarities were found in both's characters, such as biblical, revelational, and visionary. However, the concept of political pluralism in Miroslav Volf's view is unique compared to the religious exclusivism of GBI. This comparative study will also produce several useful contributions for GBI.Artikel ini membahas perbandingan antara konsep eksklusivisme agama dalam teologi Gereja Bethel Indonesia (GBI) dengan konsep pluralisme politik dalam pandangan Miroslav Volf. Studi komparasi adalah metode yang dipakai untuk mengeksplorasi kajian ini. Argumentasi dalam artikel ini adalah bahwa konsep eksklusivisme agama dalam teologi GBI memiliki kemiripan-kemiripan dengan konsep pluralisme politik dalam pandangan Miroslav Volf. Kemiripan-kemiripan tersebut terdapat dalam karakternya, antara lain sama-sama bersifat biblikal, revelasional, dan visionaris. Meskipun demikian, konsep pluralisme politik dalam pandangan Miroslav Volf memiliki ciri khas tersendiri dibanding konsep eksklusivisme agama dalam teologi GBI. Studi komparasi ini juga diharapkan dapat menghasilkan beberapa kontribusi yang bermanfaat bagi GBI.
Gereja yang Bertumbuh menurut Rick Warren dan Implikasinya di Gereja Toraja Jemaat Ebenhaezer Palopo Reyka Dhesta Vira; Wandrio Salewa
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.198

Abstract

This article aims to describe the concept of a growing church according to Rick Warren and its relevance to the Toraja Church of the Ebenhaezer Congregation in Palopo. A growing church according to Rick Warren is living loving one another and doing the preaching of the Gospel. The ideas built by Rick Warren are very relevant and good to be used as a measure for the church to experience growth. Based on the author's observations, within the scope of the Ebenhaezer Palopo congregation there is an inharmonious relationship as a fellowship which can have a negative impact in the midst of the ministry and the congregation. The research method used is a qualitative method using a library approach, observation and descriptive analysis. A growing church is a church that is moved by the Holy Spirit so that it produces fruit according to what has been ordained by God. So that there will be an increase in church members, expansion of ministry, mutual love, fellowship, unity, obedience to the Word of God, extensive evangelism and construction of church facilities. So that the church's goals can be achieved, namely to spread the good news about Jesus Christ and to love God and others. Tulisan ini hendak menguraikan gambaran tentang konsep gereja yang bertumbuh menurut Rick Warren dan relevansinya bagi gereja Toraja jemaat Ebenhaezer Palopo. Gereja yang bertumbuh menurut Rick Warren yaitu hidup saling mengasihi dan melakukan pemberitaan Injil. Gagasan yang dibangun oleh Rick Warren sangat relevan dan baik untuk dijadikan ukuran bagi gereja untuk semakin mengalami pertumbuhan. Berdasarkan observasi penulis, dalam lingkup jemaat Ebenhaezer Palopo terjadi relasi yang tidak harmonis sebagai satu persekutuan yang dapat membawa dampak negatif di tengah-tengah pelayanan dan jemaat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan kepustakaan, pengamatan dan deskriptif analisis. Gereja yang bertumbuh adalah gereja yang digerakkan oleh Roh Kudus sehingga menghasilkan buah sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah. Agar terjadi pertambahan anggota jemaat, meluasnya pelayanan, saling mengasihi, adanya persekutuan, persatuan, taat firman Allah, pekabaran Injil yang luas dan pembangunan fasilitas gereja. Sehingga tujuan gereja dapat tercapai yaitu mengabarkan kabar sukacita tentang Yesus Kristus dan mengasihi Tuhan serta sesamanya.