cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 199 Documents
Prinsip Evaluasi Pembelajaran berdasarkan Proses Penciptaan sebagai Fondasi Evaluasi Pendidikan Agama Kristen Yusak Noven Susanto; Agus Marpaung
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/ttv2rb38

Abstract

God in the creation process not only shows His creativity but also shows His role as an evaluator. This study can be used as a theological and pedagogical foundation for implementing Christian Religious Education learning evaluations. Evaluation is not only understood as a process of assessing results but also as a divine act. This study employs qualitative research methods and theological and pedagogical literature studies. The findings in this research are that God's evaluation of the creation process reflects the principles of continuity, quality, relational involvement, and finality. These principles can be implemented in the design of holistic Christian Religious Education learning evaluations. Thus, God's evaluation is not a mechanical evaluation but a reflection of God's will, purpose and relationship with His creation.   Allah dalam proses penciptaan tidak hanya menunjukkan kreativitas-Nya, namun juga menunjukkan peran-Nya sebagai seorang evaluator. Kajian ini dapat dijadikan sebagai fondasi teologis dan pedagogis dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Evaluasi bukan hanya dipahami sekadar proses penilaian hasil, melainkan sebagai tindakan ilahi. Penelitian ini dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dan kajian literatur teologis serta pedagogis. Temuan dalam penelitian ini adalah evaluasi yang dilakukan Allah pada proses penciptaan mencerminkan prinsip kontinuitas, kualitas, keterlibatan relasional dan finalitas. Prinsip-prinsip ini dapat diimplementasikan dalam desain evaluasi pembelajaran Pendidikan Agama Kristen yang holistik. Dengan demikian evaluasi yang Allah lakukan bukanlah evaluasi yang mekanis melainkan refleksi dari kehendak, tujuan, dan relasi Allah dengan ciptaan-Nya.
Gagalnya Pluralisme? Kajian Historis dan Teologis Menuju Paradigma Baru Moderasi Beragama Daud Manno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/thntg378

Abstract

This article examines the crisis of pluralism within the theological and historical framework of interfaith engagement. It traces the root causes of pluralism's shortcomings through a historical-theological lens and proposes religious moderation as a new paradigm that is more realistic and biblically grounded. Integrating theological, practical, and contextual approaches, this paper provides a foundation for a more discerning interreligious dialogue based on love, justice, and active societal participation. While pluralism offers inclusive values, it often fails to address the deep spiritual and sociological dynamics of religious communities. Religious moderation is not presented as a compromise of faith, but as a balanced approach that upholds theological fidelity while encouraging dialogical openness. The article highlights the importance of education, church involvement, and mission praxis oriented toward peace and reconciliation. By reimagining the role of theology in the midst of religious diversity, this work seeks to contribute both academically and practically to the development of a contextual, responsible, and peace-oriented interfaith engagement, particularly in pluralistic societies like Indonesia.Artikel ini membahas krisis pluralisme dalam konteks teologi dan sejarah interaksi antaragama. Penulis menelusuri akar kegagalan pluralisme melalui pendekatan historis dan teologis, lalu menawarkan moderasi beragama sebagai paradigma baru yang lebih realistis dan biblika. Dengan menggabungkan pendekatan teologis, praksis, dan kontekstual, artikel ini memberikan dasar bagi dialog lintas agama yang lebih bijaksana, berdasarkan kasih, keadilan, dan partisipasi aktif dalam masyarakat pluralistik. Gagasan utama yang diangkat adalah bahwa pluralisme, meskipun memiliki nilai inklusif, cenderung gagal menjawab realitas sosiologis dan spiritual umat beragama. Moderasi beragama diusulkan bukan sebagai bentuk kompromi iman, tetapi sebagai pendekatan yang menyeimbangkan antara kesetiaan teologis dan keterbukaan dialogis. Penulis juga menekankan pentingnya pendidikan, partisipasi gereja, dan misi Kristen yang berorientasi pada damai sejahtera sebagai wujud nyata dari paradigma moderasi tersebut. Dengan demikian, artikel ini bertujuan memberi kontribusi ilmiah dan praktis dalam merumuskan pendekatan yang kontekstual terhadap keragaman agama di Indonesia.
Unsur Didaktik dalam Epilog Amsal 31:15-16, 18-19, 26-27 sebagai Pembentukan Karakter Aska Aprilano Pattinaja; Farel Yosua Sualang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/q5q81481

Abstract

Proverbs 31, functioning as the epilogue of the book, carries a significant instructional dimension, particularly in shaping character. The portrayal of the wise woman (eshet hayil) serves as a concrete example of how a person of wisdom embodies quality character traits. A review of existing literature indicates a research gap: most studies have emphasized ethical values, idealized female morality, or general themes of wisdom literature, yet have not sufficiently examined its didactic dimension. Utilizing a hermeneutical approach appropriate to the wisdom literature sub-genre, this research identifies four pedagogical elements that contribute to character formation: (1) exemplifying and modeling (vv. 15a, 16, 18, 19); (2) providing instruction (v. 15b); (3) imparting teaching and counsel (v. 26); and (4) exercising supervision and evaluation (v. 27). The findings of this study offer a valuable contribution to the process of personal maturation and the cultivation of virtuous character.   Amsal 31 sebagai epilog memiliki unsur didaktik yang sangat kuat, khususnya dalam pembentukan karakter. Narasi ini menyajikan perwujudan kehidupan wanita bijak (eshet hayil) dalam bahasa hikmat sebagai panduan untuk membentuk karakter yang berkualitas. Dalam penelusuran literatur, terdapat kesenjangan penelitian yang terfokus hanya kepada kajian nilai etika, moralitas perempuan ideal, atau aspek literatur hikmat, sementara tidak terlalu mengeksplorasi bagian didaktik ini. Dengan pendekatan hermeneutik yang sesuai dengan subgenre sastra hikmat, maka empat unsur didaktik sebagai pembentuk karakter, adalah pertama, menjadi contoh dan teladan (Ay. 15a, 16, 18, 19), kedua, memberi petunjuk atau instruksi (Ay. 15b); ketiga, memberi pelajaran dan nasihat (Ay. 26); dan keempat, melakukan pengawasan dan evaluasi (Ay. 27). Hasil penelitian ini menunjukkan kontribusi signifikan terhadap proses pendewasaan individu dengan menguraikan bagaimana nilai-nilai yang dikaji berperan dalam pembentukan karakter yang baik.
Signifikansi Mazmur 119:9-16 dalam Penggunaan Media Digital bagi Generasi Z Kristen Indonesia Galuh Pandandari; Dina Elisabeth Latumahina; Iwan Setiawan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/fmzdd864

Abstract

Currently, the rapid expansion of digital media has become increasingly complex and intensive, exerting significant influence on human language, habits, mindsets, and behavior when not managed wisely. Many individuals, including Christian members of Generation Z, experience mental health problems ranging from mild to severe as a result of excessive gadget use. Furthermore, criminal activities on social media continue to increase. This study aims to articulate the spiritual principles of Psalm 119:9–16 as a foundational framework for digital media use among Christian Generation Z, enabling them to maintain moral and spiritual integrity in the digital era and emphasizing the relevance of this biblical passage for guiding behavior in accordance with God’s will. This research employs a qualitative descriptive method using a hermeneutical approach to interpret and explain the biblical text as the primary data source. In addition, content analysis and narrative research methods are applied to examine documents and interview data reflecting Generation Z experiences with digital media and its behavioral impacts. The findings demonstrate that digital media can be used constructively and with eternal value when Generation Z applies the principles of Psalm 119:9–16, including moral purity, wholehearted devotion to God, obedience to His commandments, and internalization of God’s Word.     Saat ini, perkembangan media digital yang sangat pesat menjadi semakin kompleks dan intensif, serta memberikan pengaruh yang signifikan terhadap bahasa, kebiasaan, pola pikir, dan perilaku manusia apabila tidak dikelola dengan bijaksana. Banyak individu, termasuk generasi Z Kristen, mengalami gangguan kesehatan mental mulai dari tingkat ringan hingga berat sebagai akibat dari penggunaan gawai yang berlebihan. Selain itu, aktivitas kriminal di media sosial juga terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prinsip-prinsip spiritual dalam Mazmur 119:9–16 sebagai kerangka dasar penggunaan media digital bagi generasi Z Kristen, sehingga mereka mampu mempertahankan integritas moral dan spiritual di era digital, serta menegaskan relevansi bagian Alkitab ini dalam membimbing perilaku sesuai dengan kehendak Allah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan dan menjelaskan teks Alkitab sebagai sumber data utama. Selain itu, metode analisis isi dan penelitian naratif diterapkan untuk mengkaji dokumen dan data wawancara yang merefleksikan pengalaman generasi Z dalam penggunaan media digital serta dampaknya terhadap perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital dapat dimanfaatkan secara konstruktif dan bernilai kekal apabila generasi Z menerapkan prinsip-prinsip Mazmur 119:9–16, yang meliputi kemurnian moral, penyerahan diri sepenuh hati kepada Allah, ketaatan pada perintah-Nya, serta penghayatan terhadap firman Allah.
Reinterpretasi Konsep Mesias dalam Korpus Perjanjian Baru: Dari Harapan Mesianik Politis-Apokaliptik Menuju Penggenapan dalam Yesus Sulistiono
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/mf4k4s22

Abstract

This paper examines the view of the Messiah in the New Testament. It focuses on the portrayal of the Messiah throughout the canon. The analysis covers the Gospels, Acts, Paul’s epistles, the general epistles, and Revelation. The main focus of this research is to explore how the concept of the Messiah was understood, interpreted, and proclaimed by the early Christian community in light of the theological heritage of the first century Jews. This research uses a qualitative approach with a bibliographic study method, analyzing biblical texts and related scholarly sources. The findings show that the figure of the Messiah in the New Testament underwent a reinterpretation of the Messiah concept from political and apocalyptic hope to spiritual fulfillment in the person of Jesus Christ. Each part of the New Testament places its own emphasis on the messiahship of Jesus, whether as the Son of God, High Priest, King in the heavenly kingdom, or as the fulfillment of the prophecies of earlier prophets. This overall understanding forms a solid theological basis for the faith and identity of the early church and affirms the hope for eternal Messianic reign.   Tulisan ini menelaah pandangan tentang Mesias dalam Perjanjian Baru. Fokusnya adalah pada penggambaran Mesias di seluruh kanon. Analisis mencakup Injil, Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus, surat-surat umum, dan Kitab Wahyu. Fokus utama penelitian ini adalah menelusuri bagaimana konsep Mesias dipahami, ditafsirkan, dan diwartakan oleh komunitas Kristen mula-mula dalam terang warisan teologi Yahudi abad pertama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, menganalisis teks-teks Alkitab dan sumber ilmiah terkait. Temuan menunjukkan bahwa figur Mesias dalam Perjanjian Baru mengalami transformasi makna dari harapan politis dan apokaliptik menjadi penggenapan rohani dalam pribadi Yesus Kristus. Setiap bagian kitab Perjanjian Baru memberikan aksen tersendiri mengenai kemesiasan Yesus, baik sebagai Anak Allah, Imam Besar, Raja dalam kerajaan surgawi, maupun sebagai penggenap nubuatan nabi-nabi terdahulu. Keseluruhan pemahaman ini membentuk dasar teologis yang kokoh bagi iman dan identitas gereja mula-mula serta menegaskan pengharapan akan pemerintahan Mesianik yang kekal.
Identitas dalam Kristus sebagai Fondasi Transformasi Sikap Hidup dan Keteladanan Umat John Christ Dwiaprianto A; Yanto Paulus Hermanto; Victor Deak
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/rqhf2f19

Abstract

True Christian identity is the foundation that determines the direction of life and witness of believers. Since its mention in Antioch (Acts 11:26), the term "Christian" has emphasized Christlikeness. However, in the contemporary context influenced by materialism, moral relativism, and secularization, many believers experience an identity crisis, resulting in faith that stops at verbal confession without being realized in concrete behavior. This research applies qualitative methods through literature analysis, in which data are analyzed descriptively and analytically through biblical sources, classical and contemporary theological literature, and related academic studies. The results show that true Christian identity is rooted in a relationship with Christ and the Imago Dei, which guides believers to live holy, fruitful lives, and serve as examples in the family, church, and society. The restoration of Christian identity has ethical, ecclesiological, and missiological implications and is only possible through the renewing and strengthening work of the Holy Spirit. Thus, awareness of Christian identity becomes the foundation for restoring an authentic attitude to life and witness to faith in the modern world.     Identitas Kristen sejati merupakan dasar yang menentukan arah hidup dan kesaksian umat percaya. Sejak penyebutannya di Antiokhia (Kis. 11:26), istilah “Kristen” menegaskan keserupaan hidup dengan Kristus. Namun, dalam konteks kontemporer yang dipengaruhi materialisme, relativisme moral, dan sekularisasi, banyak orang percaya mengalami krisis identitas sehingga iman hanya berhenti pada pengakuan verbal tanpa diwujudkan dalam perilaku nyata. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif melalui analisis kepustakaan, data dianalisis secara deskriptif-analitis melalui sumber Alkitab, literatur teologi klasik maupun kontemporer, serta kajian akademik terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Kristen sejati bersumber pada hubungan dengan Kristus dan Imago Dei, yang menuntun umat untuk hidup kudus, berbuah, serta menjadi teladan di keluarga, gereja, dan masyarakat. Pemulihan identitas Kristen memiliki implikasi etis, eklesiologis, dan misiologi, serta hanya dimungkinkan melalui karya Roh Kudus yang memperbarui dan meneguhkan umat. Dengan demikian, kesadaran identitas Kristen menjadi fondasi pemulihan sikap hidup dan kesaksian iman yang autentik di tengah dunia modern.
Pelayanan Diakonia terhadap Lansia dalam Gereja Lokal:  Evaluasi Teologis dan Hostoris Berdasarkan  Matius 25:35-46 Haniel O.P. Yoewono; Doni Heryanto; Daud Manno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/59s9ed27

Abstract

This article examines elderly ministry within the context of the local church using a pure literature approach based on the IMRAD structure. The central focus is to evaluate both the social and spiritual services provided to the elderly, rooted in the biblical foundation of Matthew 25:35-46, and to explore theological contributions, cultural mandates, and the mission of the church across various traditions (Catholic, Orthodox, Protestant, and Pentecostal). The study reveals that while elderly care is often viewed as ordinary diaconal work, it theologically represents a concrete expression of transformative Christian faith. A historical and interdenominational comparison shows the development and challenges of elderly ministry in the modern era. The novelty of this article lies in integrating biblical-theological perspectives with contextual cross-tradition analysis, as well as advocating for renewed models of elderly church ministry. It concludes that the church must shift its service paradigm from merely charitable acts to empowering and participatory spiritual formation, in alignment with the Gospel values and the church’s marturia today.   Artikel ini mengkaji pelayanan lansia dalam konteks gereja lokal melalui pendekatan literatur murni. Fokus utama adalah mengevaluasi pelayanan sosial dan rohani terhadap lansia dengan menggunakan Matius 25:35–46 sebagai dasar biblika, serta menelaah kontribusi teologis, mandat budaya, dan misi gereja dari berbagai tradisi (Katolik, Ortodoks, Protestan, dan Pantekosta). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pelayanan lansia sering dianggap sebagai tugas diakonia biasa, secara teologis pelayanan ini mencerminkan tindakan nyata iman Kristen yang transformatif. Tinjauan historis dan perbandingan lintas denominasi memperlihatkan perkembangan dan tantangan pelayanan kepada lansia di era modern. Kebaruan artikel ini terletak pada integrasi pendekatan biblika-teologis dengan studi kontekstual lintas tradisi, serta dorongan pembaruan model pelayanan gereja terhadap lansia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gereja perlu memperluas paradigma pelayanannya dari sekadar karitatif menjadi pembinaan yang memberdayakan dan partisipatif, sejalan dengan nilai-nilai Injil dan marturia gereja masa kini.
Memahami Ulang Perintisan Gereja: Persepsi Pelayan Injil GSJA terhadap Istilah Church Starting dan Church Planting Christian Arisandi Kiding Allo; Yulius Aleng; Eliazar Roi Sulistiono
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/bs5eh837

Abstract

The terms church planting and church starting are often used interchangeably within contemporary missional discourse, particularly in the Assemblies of God Church (Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah, GSJA) in Indonesia. However, developments in theological literature reveal a significant conceptual and missiological distinction between the two. This study explores GSJA pastors’ perceptions of these terms through a qualitative approach employing Focus Group Discussions (FGDs) involving 57 pastors from the East Java Regional Leadership Body 2. The findings show that most participants perceive the two terms as synonymous, referring broadly to the establishment of new churches, while only a few demonstrate conceptual awareness based on literature or ministry experience. Building on these insights, this study proposes a conceptual distinction: church starting as expansion-oriented ministry emphasizing the lower room (programs, facilities, networks), and church planting as evangelism-based mission rooted in the upper room (discipleship and missio Dei). Clarifying these concepts is essential for guiding GSJA’s mission strategies and preventing the reduction of church growth to mere institutional expansion. This article contributes to contemporary missiology by refining terminological understanding and laying a theological foundation for contextual mission practices in Indonesia.   Istilah church planting dan church starting kerap digunakan secara bergantian dalam wacana misi kontemporer, khususnya di lingkungan Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (GSJA) di Indonesia. Namun, perkembangan literatur teologis menunjukkan adanya perbedaan konseptual dan misiologis yang signifikan antara keduanya. Penelitian ini mengeksplorasi persepsi para pendeta GSJA terhadap kedua istilah tersebut melalui pendekatan kualitatif dengan metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 57 pendeta dari Badan Pengurus Daerah 2 Jawa Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan memandang kedua istilah tersebut sebagai sinonim yang merujuk secara umum pada pendirian gereja baru, sementara hanya sebagian kecil yang menunjukkan pemahaman konseptual berdasarkan literatur atau pengalaman pelayanan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menunjukkan perbedaan konseptual, yakni church starting sebagai pelayanan yang berorientasi pada ekspansi dengan penekanan pada lower room (program, fasilitas, dan jaringan), serta church planting sebagai misi berbasis penginjilan yang berakar pada upper room (pemuridan dan missio Dei). Penjernihan konsep ini penting untuk menuntun strategi misi GSJA dan mencegah reduksi pertumbuhan gereja menjadi sekadar ekspansi institusional. Artikel ini berkontribusi pada misiologi kontemporer dengan memperjelas pemahaman terminologis dan meletakkan dasar teologis bagi praktik misi kontekstual di Indonesia.
Yesus dalam Injil Lukas: Pemimpin Inklusif di Tengah Struktur yang Eksklusif Tomi Jefri Selan; Daud Manno
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/ezhgns30

Abstract

This study aims to explore the leadership character of Jesus Christ according to the Gospel of Luke and its implications for contemporary Christian ministry. The research arises from the widespread reality of church leadership practices that are exclusive, hierarchical, and often disconnected from marginalized communities. In this context, the Lukan narrative is particularly relevant as it consistently highlights Jesus’ solidarity with the socially and religiously outcast. A qualitative method was employed, using narrative and linguistic analysis of selected texts in Luke. Greek terms such as ??????? (salvation) and ?????? (forgiveness/liberation) were examined to uncover the theological depth of Jesus’ actions. The findings indicate that Jesus is portrayed as an inclusive leader who actively challenges oppressive social structures. His leadership is relational, empathetic, and transformative centered on restoring dignity rather than enforcing authority. He welcomes the poor, sinners, women, and foreigners into the heart of His ministry. In conclusion, Jesus' leadership in Luke critiques exclusivist ecclesiastical models. The study contributes both theologically and practically to reimagining Christian leadership as contextually grounded, community-centered, and radically inclusive. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakter kepemimpinan Yesus Kristus sebagaimana digambarkan dalam Injil Lukas serta implikasinya bagi pelayanan Kristen masa kini. Kajian ini berangkat dari realitas kepemimpinan gerejawi yang dalam banyak konteks masih bercorak hierarkis dan eksklusif, sehingga berjarak dengan kelompok-kelompok marginal. Dalam situasi tersebut, Injil Lukas menjadi narasi yang relevan karena secara konsisten menampilkan solidaritas Yesus dengan orang miskin, pendosa, perempuan, dan mereka yang terpinggirkan secara sosial maupun religius. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif dan linguistik terhadap teks-teks terpilih dalam Injil Lukas. Analisis terhadap istilah Yunani seperti ??????? (keselamatan) dan ?????? (pengampunan/pembebasan) digunakan untuk menggali kedalaman teologis tindakan Yesus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lukas menampilkan Yesus sebagai pemimpin inklusif yang secara aktif menantang struktur sosial yang menindas. Kepemimpinan Yesus bersifat relasional, empatik, dan transformatif, dengan fokus pada pemulihan martabat manusia. Kesimpulannya, model kepemimpinan Yesus dalam Injil Lukas memberikan kritik teologis terhadap pola kepemimpinan yang eksklusif serta menawarkan kerangka reflektif bagi pengembangan kepemimpinan Kristen yang kontekstual, komunal, dan inklusif.