cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 199 Documents
Perspektif Pendidikan Kristen tentang Penilaian untuk Pembelajaran yang Holistik dan Transformatif Thasya Kesaulya; Wiyun Philipus Tangkin
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.212

Abstract

Assessment plays a crucial role in education as teachers can track students' development through their learning outcomes. However, teachers tend to struggle to assess according to predefined standards. As a result, students do not experience holistic and transformative growth in their learning. The purpose of this writing is to elucidate the study of the Christian educational perspective on student assessment to achieve holistic and transformative learning. The method used is a literature review to examine and generate the basis of thought: (1) Encouraging students to respond to their identity as the image of God; (2) Assessment principles need to be comprehensive to achieve holistic and transformative learning. In conclusion, teachers play a vital role in assessing students' competencies, based on Biblical truth that encourages students to think critically, creatively, collaboratively, and communicatively. Suggestions for teachers include consistent implementation of assessment principles, knowing the true truth through the Word of God in the Bible, seeking the help of the Holy Spirit in assessment, and collaborating with parents to facilitate student learning at home. Penilaian berperan penting dalam pendidikan karena guru dapat mengetahui perkembangan siswa melalui hasil belajar siswa. Namun guru cenderung belum mampu menilai sesuai standar yang telah ditentukan. Akibatnya siswa tidak mengalami pertumbuhan holistik dan transformatif dalam pembelajaran. Tujuan penulisan ini untuk memaparkan kajian perspektif pendidikan Kristen tentang penilaian siswa untuk mencapai pembelajaran yang holistik dan transformatif. Metode yang digunakan yaitu kajian literatur untuk mengkaji dan menghasilkan dasar pemikiran: (1) Mendorong siswa untuk meresponi identitasnya sebagai image of God; (2) Prinsip penilaian perlu komprehensif untuk mencapai pembelajaran yang holistik dan transformatif. Kesimpulannya yaitu guru memiliki peranan penting dalam menilai kompotensi siswa secara utuh, bersumber pada kebenaran Alkitabiah yang mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Saran bagi guru yaitu, implementasi prinsip penilaian perlu secara konsisten, mengetahui kebenaran sejati melalui Firman Tuhan dalam Alkitab, meminta pertolongan Roh Kudus dalam menilai, serta bekerjasama dengan orang tua untuk memfasilitasi siswa saat belajar di rumah.
Eksistensi dan Karya Kristus menurut Surat Filipi 2:5-11 dan Relevansinya bagi Gereja Masa Kini Tabita Kustiati; Paulus Kunto Baskoro
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.213

Abstract

There are several views on the existence of Christ among various groups and teachings in the world. The Holy Bible as the main guide for Christians states that Christ is God who took human form and died on the cross as the atonement for the sins of mankind. However, other religions as well as other beliefs such as some of the classical teachings of Judaism, Islam, or Jehovah's Witnesses do not recognize Christ as God. There are also some groups who think Christ was just an ordinary man. The real existence and work of Christ is God who was incarnated as a human in the flesh, humbled himself and died on the cross to atone for human sins, and rose on the third day. In the present, the existence and work of Christ can be illustrated by the example of true believers and the fellowship of believers. This paper was conducted using a literature study approach to evaluate the relevance of the chapter for the church today, showing how this view of the existence of Christ can be used to strengthen faith, increase obedience, and help the church spread the gospel. Through this paper, we will also examine how Christ's work can become a basic guideline and motivation to live according to Christ's will.Pandangan terhadap eksistensi Kristus bervariasi di antara berbagai kelompok dan ajaran di dunia.  Kitab Suci Alkitab sebagai panduan utama orang Kristen menyatakan bahwa Kristus adalah Tuhan yang mengambil rupa manusia dan mati di kayu salib sebagai penebus dosa umat manusia. Namun, agama-agama lain serta kepercayaan lain seperti beberapa ajaran klasik Yahudi, Islam, atau Saksi-saksi Yehuwa tidak mengakui Kristus sebagai Tuhan. Ada juga beberapa kelompok yang menganggap Kristus hanyalah seorang manusia biasa. Eksistensi dan karya Kristus yang sesungguhnya adalah Allah yang telah berinkarnasi menjadi manusia di dalam daging, dan telah merendahkan dirinya dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit di hari yang ketiga. Dalam masa kini, eksistensi dan karya Kristus dapat digambarkan dengan teladan orang percaya dan persekutuan orang percaya yang benar. Tulisan ini dilakukan dengan pendekatan studi pustaka untuk mengevaluasi relevansi pasal bagi gereja masa kini , menunjukkan bagaimana pandangan tentang eksistensi Kristus ini dapat digunakan untuk memperkuat iman, meningkatkan ketataatan, dan membantu gereja dalam penyebaran injil. Melalui tulisan ini juga akan dikaji bagaimana karya kristus dapat menjadi pedoman dasar dan motivasi untuk hidup sesuai dengan kehendak Kristus.
Kompetensi Pedagogik Guru Pendidikan Agama Kristen Dengan Menerapkan Faktor Kognitif Dalam Proses Pembelajaran Peserta Didik Budiman Halawa
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.219

Abstract

The organization of Christian Religious Education (CRE) at present is not easy due to significant challenges related to developments that can influence the faith and spirituality of students. Learning difficulties refer to situations faced by students during their participation in the learning process, caused by disruptions in neurological (cognitive) and psychological functions, as well as other aspects. These learning difficulties can be experienced by students in both general academic aspects and more specific fields. The purpose of this research is to integrate cognitive principles into pedagogical competencies with the aim of enhancing the quality of teaching and learning. To achieve this objective, the research utilizes a qualitative approach, relying on data collection and analysis rather than statistical calculations. Additionally, the author conducted a literature review using relevant sources on the pedagogical competencies of CRE teachers, integrating cognitive factors into the learning process, providing analysis, and explanations. The results of this research are intended to help improve the professionalism of CRE teachers in delivering more engaging, relevant, and meaningful learning materials to students. It also aims to enhance the quality of Christian religious education, assisting students in understanding and internalizing Christian values within the context of their lives. Penyelenggaraan Pendidikan Agama Kristen saat ini tidaklah mudah karena dihadapkan pada tantangan berat yang terkait dengan perkembangan yang dapat mempengaruhi kehidupan iman dan spiritualitas peserta didik. Kesulitan belajar merujuk pada situasi yang dihadapi oleh peserta didik saat berpartisipasi dalam proses belajar karena gangguan dalam fungsi neurologis (kognitif) dan psikologis, serta gangguan pada aspek lainnya. Kesulitan belajar ini bisa dialami oleh peserta didik baik dalam aspek akademis secara umum maupun dalam bidang yang lebih spesifik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengintegrasikan prinsip kognitif ke dalam kompetensi pedagogik, dengan tujuan meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan tujuan tersebut, penelitian ini memanfaatkan pendekatan kualitatif karena mengandalkan hasil dari pengumpulan dan analisis data, bukan dari perhitungan statistik. Selanjutnya, penulis melakukan kajian pustaka dengan memanfaatkan berbagai literatur yang relevan tentang kompetensi pedagogik guru PAK dengan mengintegrasikan faktor kognitif dalam proses pembelajaran dengan memberikan analisis dan penjelasan. Hasil dari penelitian ini yaitu untuk membantu meningkatkan profesionalisme guru PAK dalam menyampaikan materi pembelajaran yang lebih menarik, relevan, dan bermakna bagi peserta didik dan meningkatkan kualitas pembelajaran agama Kristen dan membantu peserta didik dalam memahami dan menginternalisasi nilai-nilai agama kristen dalam konteks kehidupan mereka.
Dampak Media Gambar dan Media Serbaneka terhadap Minat Anak Mendengarkan Cerita Alkitab Yeremia Hia; Juni Yarti Zega
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.220

Abstract

Children's interest in listening to Bible stories can be stimulated by the selection of media used. Some of them are: image media and miscellaneous media. Both of these media are very relevant if they are used and designed effectively. However, the selection of inappropriate learning media can result in students or children experiencing a dislike of the learning given to them. For this reason, in order to stimulate and encourage children to feel at home and comfortable listening to Bible stories, at least two media are needed, namely: various media and pictures. This study used a qualitative method with a literature research approach. This study aims to provide an offer of thought on the existence of some children who experience decadence in their interest in listening to Bible stories due to improper media selection. The final conclusion of this study is that using pictures and various media can increase the interest of children aged 5-12 years in listening to Bible stories.Minat anak mendengarkan cerita Alkitab dapat dipacu dengan pemilihan media yang digunakan. beberapa di antaranya yakni: media gambar dan media serbaneka. Kedua media tersebut sangat relevan apabila digunakan dan didesain dengan efektif. Namun, pemilihan media pembelajaran yang kurang tepat dapat mengakibatkan peserta didik atau anak mengalami rasa kurang suka terhadap pembelajaran yang diberikan kepadanya. Untuk itu, guna memacu dan memberikan dorongan kepada anak supaya betah dan nyaman mendengarkan cerita-cerita Alkitab dibutuhkan setidak-tidaknya dua media, yakni: media serbaneka dan gambar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan riset pustaka. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan tawaran pemikiran atas adanya sebagian anak yang mengalami dekadensi minat mendengarkan cerita Alkitab karena pemilihan media yang tidak tepat. Kesimpulan akhir penelitian ini adalah menggunakan media gambar dan serbaneka dapat meningkatkan minat anak usia 5-12 tahun mendengarkan cerita Alkitab.
Kualitas Kepemimpinan Guru PAK Menjadi Figur Utama yang Diteladani Peserta Didik Elfin Warnius Waruwu; Riste Tioma Silaen
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.221

Abstract

The leadership quality of a PAK teacher has a major role in shaping the character and behavior of students. This article explores how teachers, especially PAK teachers, become central figures who become role models for students. Teacher leadership in this context is not only limited to administrative or managerial capacity, but also includes moral and ethical dimensions that influence students in various aspects of life. PAK teachers play an important role in guiding students in understanding the values, ethics and attitudes that are considered positive in society. PAK teachers are not just instructors, but role models who are looked up to by students. Therefore, the leadership qualities of Sir teachers must be taken seriously. Traits such as integrity, empathy, fairness, and firmness are the main components in forming teachers as good role models. Teacher behavior, both inside and outside the classroom, influences how students see the world and respond to it. The high leadership quality of PAK teachers has a positive impact on student character development. Teachers inspire students to achieve academic achievements and develop positive attitudes such as discipline, cooperation and responsibility. Kualitas kepemimpinan seorang Guru PAK memiliki peran utama dalam membentuk karakter dan perilaku peserta didik. Artikel ini mengeksplorasi bagaimana guru, khususnya Guru PAK, menjadi figur sentral yang menjadi teladan bagi siswa. Kepemimpinan guru dalam konteks ini bukan hanya terbatas pada kapasitas administratif atau manajerial, tetapi juga mencakup dimensi moral dan etis yang memengaruhi siswa dalam berbagai aspek kehidupan. Guru PAK memainkan peran penting dalam membimbing siswa dalam memahami nilai-nilai, etika, dan sikap yang dianggap positif dalam masyarakat. Guru PAK bukan sekadar instruktur, melainkan model peran yang dijunjung tinggi oleh siswa. Oleh karena itu, kualitas kepemimpinan guru Pak harus diperhatikan dengan serius. Sifat-sifat seperti integritas, empati, keadilan, dan ketegasan adalah komponen utama dalam membentuk guru sebagai teladan yang baik. Perilaku guru, baik di dalam maupun di luar kelas, memengaruhi cara siswa melihat dunia dan meresponnya. Kualitas kepemimpinan guru PAK yang tinggi memiliki dampak positif pada perkembangan karakter siswa. Guru menginspirasi siswa untuk meraih prestasi akademis dan mengembangkan sikap positif seperti disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.
Studi Deskriptif Karya Roh Kudus sebagai Karunia Rohani berdasarkan Perspektif Teologi Paulus Ariel Hizkia Karundeng; Mardahai Siburian
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.222

Abstract

This research is a descriptive study that provides a contribution for the laity to understand the gifts of the Holy Spirit. Through the method of exposing Paul's letters, the results show that these spiritual gifts include the gifts of wisdom, knowledge, faith, healing, performing miracles, prophesying, discerning of various spirits, speaking in tongues, interpreting tongues, apostles, prophet, evangelist, pastor, teacher or instructor, serving, teaching, advising, distributing, leading and mercy. This gift was not only given to the early church. This gift becomes an inherent attribute in the life of a believer so that with it the kingdom of God becomes real in every human life. Not only as a gift but also important to be trained and nurtured to encourage God's work in the church to grow and be useful for the congregation and others. This gift is given not to all believers but specifically to certain people partially or to the community. Penelitian ini merupakan studi deskriptif ini memberikan suatu kontribusi bagi kaum awam untuk memahami karunia-karunia Roh Kudus. Melalui metode eksposisi surat-surat Paulus, hasilnya menunjukkan bahwa karunia-karunia rohani tersebut menyebut karunia hikmat, pengetahuan, iman, kesembuhan, mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dengan bahasa roh, menafsirkan bahasa roh, rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, guru atau pengajar, melayani, mengajar, menasihati, membagi-bagikan, memimpin dan kemurahan. Karunia itu tidak saja diberikan bagi gereja mula-mula. Karunia tersebut menjadi atribut yang melekat di dalam kehidupan orang percaya sehingga dengannya kerajaan Allah menjadi nyata dalam setiap kehidupan manusia. Tidak hanya sebagai anugerah saja tetapi juga penting untuk dilatih dan dipelihara untuk mendorong pekerjaan Allah digerejanya menjadi berkembang dan berguna bagi jemaat dan orang lain. Karunia ini diberikan tidak kepada semua orang percaya namun khusus kepada orang-orang tertentu secara parsial maupun komunitas.
Pengajaran Firman Secara Sehat menurut 1 Timotius 1:3-11 dan Implementasinya bagi Pengajar GKI “Galet” Niufmuti Kupang NTT Victor Immanuel Rahardjo; Dwi Setio Budiono Santoso; Yandri Tana
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.223

Abstract

This research exposes Paul's letter to his spiritual children in 1 Timothy 1:3-11. The method used is field qualitative. There is advice that is relevant for every teacher of God's word at GKI "Galet" Niufmuti Kupang NTT. This study shows if the problem in the context of the Philippians is significant to the problems that occur in the church today. The importance of teaching healthy teachings is still being discussed today. By exposing this passage, we hoped that an awareness will be formed to be able to prepare higher quality teaching for the spiritual life of the congregation. In the sense that following the teachings of the apostles and their successors properly. In addition, even though evangelical preachers work in other professions, as God's servants it is important to prioritize activities that support the spiritual growth of the congregation. This is to avoid the inclusion of unhealthy teachings in the congregation which can be fatal. Penelitian ini mengeksposisi surat Paulus kepada anak rohaninya dalam 1 Timotius 1:3-11. Metode yang digunakan adalah kualitatif lapangan.  Terdapat nasehat yang relevan bagi setiap pengajar firman Tuhan di GKI “Galet” Niufmuti Kupang NTT. Kajian ini menunjukkan jika masalah dalam konteks di jemaat Filipi signifikan dengan masalah yang terjadi di jemaat zaman sekarang. Pentingnya mengajar ajaran sehat masih menjadi diskusi sampai saat ini. Dengan menelaah ulang perikop ini diharapkan akan terbentuk kesadaran untuk dapat mempersiapkan pengajaran lebih bermutu demi kehidupan spiritual jemaatnya. Dalam arti bahwa mengikuti ajaran rasuli dan penerusnya dengan baik. Di samping itu, sekalipun pemberita Injili mengerjakan profesi lain tetapi sebagai hamba Tuhan penting untuk mengutamakan aktivitas yang menunjang pertumbuhan spiritual jemaat. Hal ini untuk menghindari masuknya ajaran yang tidak sehat di tengah jemaat yang bisa berakibat fatal.
Memaknai Kesatuan Orang-orang Percaya menurut Yohanes 17:20-23 Nicholas Raja Hatigoran Nababan; Jefit Sumampouw
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.224

Abstract

This article examines John 17 about the theological meaning of unity. In the midst of the many denominations and teachings of Christianity, this passage has significance for the diversity of the church today. Interpreting this biblical passage will answer the many meanings of this topic. The meaning of being one is investigated using available sources from scholars specializing in the Gospel of John. The result, using qualitative data in the form of literature, which shows that the meaning of the passage is not about the unity of the entire organization of believers, but the unity that occurs in Christ. Under these conditions, every church will have one direction to glorify God's name in His eternal plan.Penelitian ini mengkaji Yohanes 17 tentang makna kesatuan secara teologis. Di tengah banyaknya denominasi dan ajaran kekristenan maka perikop ini memiliki signifiknasi bagi keragaman gereja saat ini. Memaknai dengan biblikal perikop ini akan menjawab banyaknya pemaknaan dari topik ini. Makna dalam menjadi satu diinvestigasi menggunakan sumber-sumber yang ada dari sarjana yang khusus mendalami Injil Yohanes. Hasilnya, dengan menggunakan data kualitatif berupa literatur kepustakaan, di mana menunjukkan bahwa makna dari perikop bukan tentang kesatuan seluruh organisasi orang percaya, tetapi kesatuan yang terjadi dalam Kristus. Dengan kondisi itu maka setiap gereja akan memiliki arah yang satu untuk memuliakan nama Allah dalam rencana kekal-Nya.
Pastoral Holistik Yesus tentang Pernikahan dan Perceraian dalam Matius 19:1-9 Doni Heryanto; Terry Reney Manopo; Pestaria Happy Kristiana
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/stq6y080

Abstract

The divorce rate continues to increase, including among Christian couples in the city of Jember, Indonesia. This study is an effort to find divorce solutions and strengthen the unity of the Christian family. Is it true that the congregation's pastor allows divorce? Is it true that Matthew 19:1-9 can be used as a Biblical basis for divorce? Using the interview method, to see what are the pastoral theological views held and what are the pastoral empirical attitude of the Pastor of the GPdI Jember Congregation regarding marriage and divorce. The literature study method was carried out to support a historical narrative hermeneutical study of Matthew 19: 1-9. The goal is to discover Jesus' holistic pastoral view and attitude towards marriage and divorce. It is hoped that the results of this study will be useful to help pastoral ministers who are looking for the pastoral theological basis of marriage and therefore argue that this passage can be used to legitimize divorce. Angka perceraian di Indonesia terus meningkat. Keluarga Kristen di kota Jember juga mengalaminya. Studi ini merupakan upaya menemukan solusi bagi perceraian dan memperkuat keutuhan keluarga Kristen. Benarkah Gembala Jemaat mengijinkan perceraian? Apakah benar bahwa Matius 19: 1-9 dapat digunakan sebagai dasar Alkitabiah bagi perceraian?  Dengan metode wawancara, untuk melihat pandangan teologis pastoral yang dipegang dan sikap empiris pastoral Gembala Jemaat GPdI Jember terkait pernikahan dan perceraian. Metode studi pustaka dilakukan guna mendukung kajian hermeneutis naratif historis terhadap Matius 19: 1-9. Tujuannya, menemukan pandangan dan sikap pastoral holistik Yesus terhadap pernikahan dan perceraian. Hasil studi ini diharapkan bermanfaat membantu pelayan pastoral yang mencari dasar teologis pastoral pernikahan dan karena itu membantah bahwa perikop ini dapat digunakan untuk melegitimasi perceraian. 
Pemaknaan “Duri dalam Daging” di 2 Korintus 12:7 sebagai Penguatan dalam Menghadapi Penderitaan Orang Percaya Efesus Suratman
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.226

Abstract

Suffering knows no boundaries; everyone can experience various hardships, including believers. The presence of suffering often leads believers to forsake God, posing a problem addressed in this research. The method used in this study is literature research, where the first thing explained is the understanding of suffering for believers, followed by the search for the meaning of "thorn in the flesh" using hermeneutic exegetical approach. The objective of this research is to provide a strong foundation for believers to endure and become resilient when facing suffering. The findings reveal that the "thorn in the flesh" experienced by the Apostle Paul refers to individuals who obstructed and disturbed his ministry, representing those who opposed him. As a result, Paul endured profound suffering. Paul's condition serves as an example of how unwavering faith and loyalty to God enable one to persevere and remain strong in the face of trials. His experience provides insights and inspiration for believers to overcome suffering with conviction and steadfastness in following God's calling. Penderitaan tidaklah pandang buluh, semua orang dapat mengalami banyak penderitaan termasuk Orang Percaya, dengan adanya penderitaan tidak jarang menjadikan Orang Percaya dapat meninggalkan Tuhan, hal tersebut merupakan persoalan yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, di mana pertama-tama yang dijelaskan adalah pengertian penderitaan Orang Percaya, pencarian makna “Duri Dalam Daging” dengan pendekatan eksegesis hermeneutik. Tujuan dari penelitian ini yaitu supaya Orang Percaya memiliki landasan yang kuat pada saat mengalami penderitaan maka dapat bertahan dan menjadi kuat. Adapun temuan dari penelitian ini adalah Duri dalam daging yang dimilik rasul Paulus itu merupakan orang-orang yang menghalangi dan mengacaukan pelayanan Rasul Paulus, mereka adalah orang-orang yang memusuhi Rasul Paulus. Karena mereka Rasul Paulus mengalami penderitaan yang begitu hebat. Kondisi Rasul Paulus tersebut memberikan contoh bagaimana iman yang teguh dan kesetiaan kepada Tuhan memungkinkan seseorang untuk tetap bertahan dan kuat dalam menghadapi cobaan. Kondisi Rasul Paulus memberikan wawasan dan inspirasi bagi Orang Percaya untuk mengatasi penderitaan dengan keyakinan dan keteguhan hati dalam mengikuti panggilan Tuhan.