cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 199 Documents
Keteladanan Guru Pendidikan Agama Kristen: Membangun Karakter Berlandaskan Iman Riswan Riswan; Mersilina Ndruru
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/7jxtnr29

Abstract

Teacher exemplarity in Christian religious education plays an important role in building students' character based on faith. Christian religious education does not only focus on theoretical instruction, but also on character formation through the example provided by teachers. This research aims to examine the role of teacher exemplarity in shaping students' Christian character in Christian religious education schools. The study employs a pure qualitative approach with a library research method. This method was chosen to analyze in depth the concept of Christian Religious Education teacher exemplarity in building student character based on comprehensive literature review. The research findings indicate that teacher exemplarity in Christian religious education holds a vital role in building students' faith-based character. As educators, teachers not only transfer knowledge, but also become living examples that reflect Christian values in daily actions. Through exemplarity in attitudes, behavior, and interpersonal relationships, teachers instruct students to live according to Christ's teachings, such as love, forgiveness, patience, and honesty. This exemplarity becomes the most effective tool in character formation because students tend to imitate what they see rather than merely what they hear.   Keteladanan guru dalam pendidikan agama Kristen memainkan peran penting dalam membangun karakter siswa yang berlandaskan iman. Pendidikan agama Kristen tidak hanya berfokus pada pengajaran teori, tetapi juga pada pembentukan karakter melalui teladan yang diberikan oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran keteladanan guru dalam membentuk karakter Kristiani siswa di sekolah-sekolah pendidikan agama Kristen. menggunakan pendekatan kualitatif murni dengan metode studi pustaka (library research). Metode ini dipilih untuk menganalisis secara mendalam konsep keteladanan guru Pendidikan Agama Kristen dalam membangun karakter siswa berdasarkan kajian literatur yang komprehensif.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa keteladanan guru dalam pendidikan agama Kristen memegang peranan yang sangat vital dalam membangun karakter siswa yang berlandaskan iman. Sebagai pendidik, guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menjadi contoh hidup yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani dalam tindakan sehari-hari. Melalui keteladanan dalam sikap, perilaku, dan hubungan interpersonal, guru mengajarkan siswa untuk hidup sesuai dengan ajaran Kristus, seperti kasih, pengampunan, kesabaran, dan kejujuran. Keteladanan ini menjadi alat yang paling efektif dalam pembentukan karakter karena siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat daripada sekadar apa yang mereka dengar.
Dibenarkan oleh Iman, Bukan Perbuatan: Refleksi Pembenaran Menurut Roma 3:21-31 Roy Haries Ifraldo Tambun
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/7mj5e053

Abstract

In theological studies of Christianity, the doctrine of justification is a fundamental topic that requires comprehensive discussion. Thoroughly, Romans 3:21-31 explains that justification originates from the righteousness of God, not from human works. In the contemporary era, issues regarding truth claims have become increasingly prevalent, leading to attitudes of superiority between individuals. Therefore, this study aims to analyze Romans 3:21-31 to explain that human justification is derived from the righteousness of God, not from human deeds, thus eliminating any basis for humans to elevate their own sense of superiority. The method used in this research is biblical exegesis, involving an in-depth analysis of both the textual and historical contexts of Romans 3:21-31. The study’s findings show that justification is an act of God who justifies humans through faith in Jesus Christ, not through works of the law. Faith is understood as both an existential response and a gift from God that enables humans to receive justification. In conclusion, salvation is solely the initiative and work of God, received with humility through faith as His gift.     Dalam kajian teologis kekristenan, doktrin pembenaran menjadi sebuah bagian yang fundamental untuk dibahas secara komprehensif. Secara komprehensif, Roma 3:21-31  menjelaskan pembenaran bersumber dari kebenaran Allah bukan perbuatan manusia. Dalam era kontemporer isu truth claim semakin banyak terjadi yang menimbulkan paham superior antara dirinya dengan orang lain. Oleh karena itu, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Roma 3:21-31 untuk menjelaskan bahwa pembenaran manusia bersumber dari kebenaran Allah, bukan dari perbuatan manusia sehingga tidak ada alasan untuk manusia dapat meninggikan superioritas dirinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tafsir Biblis dengan menganalisis konteks teks maupun konteks historis Roma 3:21-31. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembenaran adalah tindakan Allah yang membenarkan manusia melalui iman dalam Yesus Kristus, bukan melalui perbuatan hukum Taurat. Iman dipahami sebagai respons eksistensial dan anugerah Allah, yang memampukan manusia untuk menerima pembenaran. Kesimpulannya, keselamatan adalah inisiatif dan karya Allah semata, yang diterima dengan kerendahan hati melalui iman sebagai anugerah-Nya.
Soteriologi Paulus dan Tantangan Gereja Kontemporer: Telaah Teologis dan Implementasinya bagi Umat Kristen Masa Kini Mozes Lawalata
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/4nbbeb89

Abstract

The doctrine of salvation (soteriology) constitutes the central focus of preaching and teaching within the New Testament, particularly in the writings of the Apostle Paul. A robust and accurate understanding of salvation carries profound theological implications for both the church and individual believers. Nevertheless, this doctrine has often been subject to distortion in both its conceptual formulation and practical application. Certain churches are inclined toward legalism, while others fall into antinomianism, thereby neglecting the ethical demands of the gospel. This study seeks to examine Pauline soteriology through a theological lens and to assess its continuing relevance for contemporary Christian life and practice. The research employs a qualitative literature review of theological and biblical scholarship that centers on Paul’s epistles. In addition, an exegetical methodology is utilized to interpret selected key passages, specifically from Romans, Galatians, and Ephesians, in order to elucidate Paul’s understanding of salvation. The findings indicate that salvation is grounded in the unmerited grace of God, appropriated through faith in Christ, independent of human works, and inherently involves the transformation of life through the agency of the Holy Spirit. Misrepresentation of this doctrine may result in significant deviations within ecclesial life, manifesting either as rigid legalism or as an abuse of Christian freedom. Consequently, the church must intentionally cultivate a biblically grounded soteriological framework that fosters both theological soundness and consistent ethical living. The study concludes that Pauline soteriology remains theologically indispensable and practically pertinent in addressing the doctrinal and ministerial challenges confronting the contemporary church.     Doktrin keselamatan (soteriologi) merupakan inti pemberitaan dan pengajaran Perjanjian Baru, khususnya dalam tulisan Rasul Paulus. Pemahaman yang benar mengenai keselamatan berdampak besar bagi gereja dan umat Kristen. Namun, doktrin ini kerap mengalami distorsi, baik secara konseptual maupun praktis. Beberapa gereja cenderung jatuh dalam legalisme, sementara yang lain terjebak dalam antinomianisme yang mengabaikan dimensi etis Injil. Artikel ini mengkaji soteriologi Paulus secara teologis dan mengevaluasi relevansinya bagi umat Kristen masa kini. Tema-tema utama diidentifikasi melalui studi kepustakaan terhadap karya teologis dan biblikal yang berfokus pada surat-surat Paulus. Metode analisis eksegetis digunakan untuk menafsirkan teks-teks kunci, seperti Roma, Galatia, dan Efesus, guna menelusuri pemahaman Paulus tentang keselamatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keselamatan berakar pada anugerah Allah, diterima melalui iman kepada Kristus, bukan perbuatan manusia, dan mencakup pembaruan hidup oleh karya Roh Kudus. Distorsi terhadap doktrin ini dapat memicu penyimpangan, baik dalam bentuk legalisme maupun kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, gereja perlu menanamkan pemahaman soteriologis yang sehat, berakar pada ajaran Alkitab, dan membentuk kehidupan etis yang konsisten.
Logos Abadi dalam Kefanaan:Eksplorasi Kristologi Identitas Ilahi dalam Pengkhotbah 3:11 Refamati Gulo; Syalom Denish Imanuell Sahapudi
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/pqkq6711

Abstract

This study explores the Christological dimension of Ecclesiastes 3:11 through a systematic hermeneutical approach to the concept of divine wisdom in the Old Testament context. The focus of the analysis is on the phrase “He put eternity in their hearts” as a starting point for the prefiguration of the concept of Logos in John's Gospel. By combining Hebrew textual studies, intertextual studies with New Testament Christological texts, and systematic theological synthesis, this study puts forward four main findings: (1) the term haolam in Ecclesiastes 3:11 exhibits a conceptual relationship with the Logos; (2) the anthropological structure in the phrase provides the basis for the reception of Christological revelation, formulated as the “principle of ontological correspondence”; (3) the tension between temporality and eternity in the text anticipates the paradox of the incarnation; and (4) a dialectical structure is found in the passage that parallels the pattern of classical Christology. Overall, this study contributes a new hermeneutical model to Ecclesiastes in the light of Christology, and introduces the framework of a “theology of temporal beauty” as an attempt to bridge between the beauty of time and the reality of the incarnation.     Penelitian ini mengeksplorasi dimensi kristologis dari  Pengkhotbah 3:11 melalui pendekatan hermeneutik sistematis terhadap konsep hikmat ilahi dalam konteks Perjanjian Lama. Fokus analisis tertuju pada frasa “Ia menaruh kekekalan di dalam hati mereka” sebagai titik awal prefigurasi terhadap konsep Logos dalam Injil  Yohanes. Dengan memadukan kajian tekstual Ibrani, studi intertekstual dengan teks-teks Kristologis Perjanjian Baru, dan sintesis teologis sistematis, penelitian ini mengemukakan empat temuan utama: (1) istilah haolam dalam  Pengkhotbah 3:11 memperlihatkan hubungan konseptual dengan Logos; (2) struktur antropologis dalam frasa tersebut memberikan dasar bagi penerimaan wahyu Kristologis, dirumuskan sebagai “prinsip korespondensi ontologis”; (3) ketegangan antara temporalitas dan kekekalan dalam teks ini mengantisipasi paradoks inkarnasi; dan (4) ditemukan struktur dialektis dalam ayat ini yang sejajar dengan pola kristologi klasik. Secara keseluruhan, penelitian ini menyumbangkan model hermeneutika baru terhadap  Pengkhotbah dalam terang Kristologi, serta memperkenalkan kerangka “teologi keindahan temporal” sebagai upaya menjembatani antara keindahan waktu dan realitas inkarnasi.
Kajian Teologis Roma 3:21-26 tentang Pembenaran oleh Iman sebagai Tanggapan terhadap Konsep Universalisme Jürgen Moltmann Abraham Sanjaya
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 2 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kvf24604

Abstract

The concept of universalism has developed from the beginning of church history to modern times. Jürgen Moltmann, one of the theologians who advocates universalism, uses Romans 3:23-24 as one of his supporting texts. However, Romans 3:21-26 is a paragraph that contains the theme of justification through faith, which is contrary to the concept of universalism. In this research, a theological study was carried out on Romans 3:21-26 to provide a response to Moltmann's concept of universalism. The method used in this research is library research with a descriptive qualitative approach, carried out through an exegetical analysis of Romans 3:21-26. Based on the theological studies conducted, it is evident that in Romans 3:21-26, justification is consistently associated with faith. Therefore, it can be concluded that the use of Romans 3:23-24 to support Moltmann's concept of universalism is not in accordance with Paul’s theological intent in this paragraph, as Paul consistently relates justification to faith in Christ.   Konsep universalisme telah berkembang sejak awal sejarah gereja sampai pada zaman modern. Jürgen Moltmann, salah satu teolog yang mengajarkan universalisme, menggunakan Roma 3:23-24 sebagai salah satu teks pendukungnya. Sebaliknya, Roma 3:21-26 merupakan paragraf yang memuat tema pembenaran melalui iman, yang bertolak belakang dengan konsep universalisme. Dalam penelitian ini, peneliti menelaah Roma 3:21-26 secara teologis untuk memberikan tanggapan terhadap konsep universalisme Moltmann. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilakukan melalui analisis eksegetis terhadap Roma 3:21-26. Hasil kajian teologis menunjukkan bahwa pembenaran dalam Roma 3:21-26 selalu terkait dengan iman. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan Roma 3:23-24 untuk mendukung konsep universalisme Moltmann tidak sejalan dengan maksud teologis Paulus dalam paragraf tersebut, karena Paulus secara konsisten mengaitkan pembenaran dengan iman kepada Kristus.
Strategi Gereja Membangun Opini Publik Positif di Era Digital: Mengelola Perbedaan Teologi Suryanto Sidabutar
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/yjnk7q82

Abstract

Public opinion in the digital age has a significant influence on various aspects of life, including the church and its ministry. Technological developments have enabled the widespread dissemination of public opinion through digital media. This can have both positive and negative impacts on the church. One of the main challenges that is the focus of this study is the theological debate between church denominations in the digital space, which has the potential to create negative opinions about the church. This study uses a qualitative method with a literature review approach and descriptive analysis to analyze 20 YouTube videos as a sample to examine this phenomenon. The results of this study indicate a tendency for negative opinions to form in society due to theological debates among church leaders in digital media, particularly due to the use of harsh language and judgmental terminology. Factors such as the spread of misinformation, social media algorithms, and media agenda setting also influence public opinion, which is not always based on objective and balanced information. Therefore, the church needs to adopt an inclusive stance that prioritizes mutual respect, conduct healthy and academic theological dialogues, and use inclusive language in digital communication as efforts to build positive public opinion.     Opini publik di era digital memiliki pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk gereja dan pelayanannya. Perkembangan teknologi memungkinkan penyebaran opini publik secara luas melalui media digital. Hal ini dapat berdampak positif maupun negatif bagi gereja. Salah satu tantangan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah perdebatan teologis antar denominasi gereja di ruang digital, yang berpotensi menciptakan opini negatif terhadap gereja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur (library research) dan analisis deskriptif untuk menganalisa 20 video di YouTube sebagai sampling dalam melihat fenomena tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kecenderungan terbentuknya opini negatif dalam masyarakat dengan adanya perdebatan teologis antar tokoh-tokoh gereja di media digital karena penggunaan kata kasar dan diksi menghakimi. Faktor-faktor seperti penyebaran hoaks, algoritma media sosial, dan agenda setting oleh media juga turut memengaruhi opini publik yang tidak selalu didasarkan pada informasi yang objektif dan berimbang. Untuk itu, gereja perlu bersikap inklusif yang mengedepankan saling menghormati, menyelenggarakan dialog teologis yang sehat dan akademis, serta menggunakan diksi yang inklusif dalam komunikasi digital sebagai upaya membangun opini publik yang positif.
Dari Kharisma ke Ekopraksis: Kajian Interdisipliner Mengenai Isu Lingkungan dalam Perspektif Etika Kristen dan Sosiologi Agama Merling Tonia Litron Litos Conthes Messakh; Fibry Jati Nugroho
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/ethc4c14

Abstract

This interdisciplinary study examines the transformation of charisma concept in Christian tradition toward ecopraxis through the integration of Christian ethics and sociology of religion perspectives. The research aims to analyze the theological basis for ecopraxis in charismatic tradition, identify sociological factors influencing its implementation, and develop an interdisciplinary model to strengthen faith-based environmental movements. Using qualitative descriptive-analytical design with bibliographic approach, this study analyzed 85 primary sources from theological, sociological, and interdisciplinary literature published between 1990-2024. Data analysis employed qualitative content analysis with NVivo 12 assistance and hermeneutic approach. Results indicate that 78% of contemporary theological sources support the paradigmatic shift from charisma as supernatural individual manifestation to transformative service dimension encompassing entire creation. The study developed a four-stage Charisma-Ecopraxis Transformation Model: Personal Awakening, Community Formation, Institutional Integration, and Social Transformation. Sociological analysis reveals three main factors: institutional, cultural, and ritual dimensions. The interdisciplinary integration produces a comprehensive framework combining theological, sociological, practical, and contextual dimensions. The study concludes that charisma-to-ecopraxis transformation occurs through pneumatological reinterpretation and requires dialectical interaction between theological reflection and social action for sustainable spiritual transformation.   Penelitian interdisipliner ini mengkaji transformasi konsep kharisma dalam tradisi Kristen menuju ekopraksis melalui integrasi perspektif etika Kristen dan sosiologi agama. Tujuan penelitian untuk menganalisis dasar teologis ekopraksis dalam tradisi karismatik, mengidentifikasi faktor sosiologis yang mempengaruhi implementasinya, dan mengembangkan model interdisipliner sebagai kerangka refleksi dan aksi ekologis berbasis spiritualitas. Menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan bibliografi, penelitian ini menganalisis 85 sumber primer dari literatur teologi, sosiologi, dan interdisipliner yang diterbitkan tahun 1990-2024. Analisis data menggunakan teknik analisis konten kualitatif dengan bantuan NVivo 12 dan pendekatan hermeneutik. Hasil menunjukkan 78% sumber teologi kontemporer mendukung pergeseran paradigma dari kharisma sebagai manifestasi supranatural individual ke dimensi pelayanan transformatif yang mencakup seluruh ciptaan. Penelitian mengembangkan Model Transformasi Kharisma-Ekopraksis empat tahap: Kebangkitan Personal, Pembentukan Komunitas, Integrasi Institusional, dan Transformasi Sosial. Analisis sosiologis mengungkap tiga faktor utama: dimensi institusional, budaya, dan ritual. Integrasi interdisipliner menghasilkan kerangka komprehensif yang menggabungkan dimensi teologis, sosiologis, praktis, dan kontekstual. Penelitian menyimpulkan transformasi kharisma menuju ekopraksis memerlukan dialog antara refleksi pneumatologis dan keterlibatan sosial kontekstual demi terwujudnya spiritualitas ekologis yang berkelanjutan.
Pendidikan Kristen dan Adaptasi Budaya: Tinjauan Sistematis terhadap Strategi Pedagogis dalam Konteks Sosio-Religius Unik Bali Sara Wahyuni
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/q4sjbd25

Abstract

This study examines the implementation of Christian Religious Education (CRE) in Bali through a systematic literature review approach. Analysis of 32 selected documents (policies, reports, and academic works from 2013-2023) reveals that 78% of Christian educational institutions have adapted local cultural elements, particularly Balinese language (62%), traditional arts (45%), and Tri Hita Karana values (58%). However, only 40% of schools have formal CRE curricula based on local wisdom, with main constraints being teacher competency gaps (68%) and teaching material limitations (55%). The research method follows PRISMA protocol through three stages: (1) document identification in Google Scholar, Scopus, Garuda, and church archives; (2) selection based on inclusion criteria; (3) content analysis using Krippendorff's approach. Findings identify three effective adaptation models: value integration, arts-based approach, and interfaith dialogue, despite theological challenges regarding contextualization boundaries. Theoretical implications enrich Banks' multicultural education model with a specific framework for religious minorities. Practically, recommendations include developing technical guidelines for Balinese CRE, culture-based teacher training, and local material development. Study limitations include uneven document coverage and absence of direct observation data. This research highlights the urgency of developing CRE models that simultaneously maintain theological integrity while responding to Bali's unique socio-cultural context.   Penelitian ini mengkaji implementasi Pendidikan Agama Kristen (PAK) di Bali melalui pendekatan studi literatur sistematis. Analisis terhadap 32 dokumen terpilih (kebijakan, laporan, dan karya akademik 2013-2023) mengungkap bahwa 78% institusi pendidikan Kristen telah mengadaptasi unsur budaya lokal, terutama bahasa Bali (62%), seni tradisional (45%), dan nilai Tri Hita Karana (58%). Namun, hanya 40% sekolah yang memiliki kurikulum PAK tersurat berbasis kearifan lokal, dengan kendala utama pada keterbatasan kompetensi guru (68%) dan bahan ajar (55%). Metode penelitian mengikuti protokol atau prosedur PRISMA melalui tiga tahap: pertama, identifikasi dokumen di Google Scholar, Scopus, Garuda, dan arsip gereja; kedua, seleksi berdasarkan kriteria inklusi; ketiga, analisis konten dengan pendekatan Krippendorff. Temuan menunjukkan tiga model adaptasi efektif: integrasi nilai, pendekatan seni-budaya, dan dialog lintas agama, meskipun menghadapi tantangan teologis terkait batasan kontekstualisasi. Implikasi teoretis penelitian ini memperkaya model pendidikan multikultural Banks dengan kerangka spesifik untuk minoritas agama. Secara praktis, diajukan rekomendasi penyusunan panduan teknis PAK Bali, pelatihan guru berbasis budaya, dan pengembangan materi lokal. Keterbatasan penelitian mencakup cakupan dokumen yang tidak merata dan ketiadaan data observasi langsung. Studi ini menyoroti urgensi pengembangan model PAK yang secara simultan menjaga integritas teologis sekaligus merespons konteks sosio-kultural Bali yang unik.
Penggunaan Metode “Godly Play” dalam Pembentukan Iman Anak Sekolah Dasar: Studi Kajian Teologis dan Pedagogis Pestaria Happy Kristiana
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/a2b03040

Abstract

Faith formation in children within church and Sunday school settings often tends to emphasize cognitive aspects and memorization, frequently neglecting the personal and profound spiritual dimension of the child. This issue highlights the need for a theologically grounded, narrative, and reflective learning approach. This study aims to examine the theological principles of the Godly Play method and its implications for faith formation among children at the elementary education level. The method used is a qualitative literature study with a thematic analysis approach, drawing from various theological and Christian pedagogical sources. The findings indicate that Godly Play positions children as spiritual subjects, uses silence and narrative as sacred spaces for encountering God, and presents the Bible as a living and meaningful story. In conclusion, the strong theological foundation of Godly Play makes it an effective method for nurturing children’s faith in a holistic, participatory, and transformative manner, relevant to contemporary Christian education contexts.     Pembentukan iman anak di lingkungan gereja dan sekolah minggu masih cenderung berfokus pada aspek kognitif dan hafalan, sehingga sering mengabaikan dimensi spiritual anak yang bersifat personal dan mendalam. Permasalahan ini menimbulkan kebutuhan akan metode pembelajaran yang berbasis teologis, naratif, dan reflektif. Penelitian ini bertujuan mengkaji prinsip-prinsip teologis dalam metode Godly Play serta implikasinya dalam pembentukan iman anak pada jenjang pendidikan dasar. Metode yang digunakan adalah studi literatur kualitatif dengan pendekatan analisis tematik terhadap berbagai sumber teologi dan pedagogi Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa Godly Play menempatkan anak sebagai subjek spiritual, menggunakan keheningan dan narasi sebagai ruang perjumpaan dengan Allah, serta menyajikan Alkitab sebagai kisah yang hidup dan penuh makna. Kesimpulannya, dasar teologis yang kuat dalam Godly Play menjadikannya metode yang efektif untuk menumbuhkan iman anak secara holistik, partisipatif, dan transformatif, serta relevan dalam konteks pendidikan Kristen masa kini.  
Dimensi Pneumatik dalam Ruang Publik: Studi Eksposisi Kisah 4:1-22 Lidia J. F. Sondakh; Marthinus Seobele
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/8qzf1529

Abstract

This article explores the manifestation of the pneumatic dimension in Acts 4:1–22, with a particular focus on the role of the Holy Spirit in the speech and actions of Peter and John in the public sphere, as they faced institutional pressure from the Sanhedrin. Employing a theological and exegetical approach, the article argues that the proclamation of the Gospel in the context of religious conflict cannot be separated from the active role of the Holy Spirit, who imparts courage, wisdom, and prophetic authority to the apostles. The discussion engages with various theological perspectives, including Craig Keener, who views the Spirit’s role as a continuation of Jesus’ ministry; Michael Green, who highlights the transformation from fear to boldness; and James D.G. Dunn, who emphasises the internal process of spiritual formation. The article also responds to charismatic interpretations that tend to limit the Spirit’s role to supernatural manifestations. In contrast, the author asserts that the pneumatic dimension encompasses integrity in witness, steadfastness in suffering, and contextual awareness in mission. This study is particularly relevant to the contemporary church, which faces the challenges of religious pluralism and the need for faithful and courageous Gospel proclamation. The Holy Spirit remains the source of power sustaining Christian witness both historically and today.     Artikel ini mengeksplorasi manifestasi dimensi pneumatik dalam Kisah Para Rasul 4:1–22, dengan fokus pada peran Roh Kudus dalam perkataan dan tindakan Petrus dan Yohanes di ruang publik saat menghadapi tekanan institusional dari Sanhedrin. Dengan pendekatan teologis dan eksegetis, artikel ini menunjukkan bahwa pewartaan Injil dalam konteks konflik religius tidak dapat dilepaskan dari peran aktif Roh Kudus, yang memberi keberanian, hikmat, dan otoritas profetik kepada para rasul. Diskusi ini mengangkat berbagai pandangan teolog, seperti Craig Keener yang melihat peran Roh sebagai kelanjutan pelayanan Yesus, Michael Green yang menekankan transformasi dari ketakutan menjadi keberanian, hingga James D.G. Dunn yang menyoroti proses internal formasi spiritual. Artikel ini juga menanggapi pendekatan karismatik yang cenderung membatasi peran Roh pada manifestasi supranatural. Sebaliknya, penulis menegaskan bahwa dimensi pneumatik mencakup integritas dalam bersaksi, keteguhan dalam penderitaan, dan kesadaran kontekstual dalam misi. Studi ini relevan dalam konteks gereja masa kini yang menghadapi tantangan pluralisme dan kebutuhan akan pewartaan Injil yang setia dan berani. Roh Kudus tetap menjadi sumber kuasa yang menopang kesaksian Kristen dalam sejarah dan masa kini.