cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 199 Documents
Pokok Anggur Sejati: Teologi Kesatuan, Ketaatan, dan Kasih dalam Yohanes 15:1-17 de Fretes Hanoch; Marciano Antaricksawan Waani; Sutikto Sutikto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/gfyd1506

Abstract

This study focuses on the analysis of the theology of unity, obedience, and love in John 15:1-17, which uses the metaphor of the true vine to describe the relationship between Christ and believers. The background of this research is the need to understand the integration of these three elements in the life of the church and individual Christians. The purpose of this research is to explore in greater depth the meaning of the theology of unity, obedience, and love, and their relevance in the context of contemporary Christianity. The research method used is a literature review with a systematic theological approach and biblical exegesis. The results of the study show that unity with Christ as the true vine, obedience to His commandments, and self-sacrificial love are foundational and interconnected in the life of believers. The discussion emphasizes the importance of maintaining a relationship with Christ to produce abundant spiritual fruit in the life of the church and society.   Penelitian ini berfokus pada analisis teologi kesatuan, ketaatan, dan kasih dalam Yohanes 15:1-17, yang menggunakan metafora pokok anggur sejati untuk menggambarkan hubungan Kristus dan orang percaya. Latar belakang masalah penelitian ini adalah kebutuhan untuk memahami integrasi ketiga elemen tersebut dalam kehidupan gereja dan individu Kristen. Tujuan dari penelitian ini adalah menggali lebih dalam makna teologi kesatuan, ketaatan, dan kasih, serta relevansinya dalam konteks kekristenan kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan teologi sistematis dan eksegesis Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesatuan dengan Kristus sebagai pokok anggur, ketaatan kepada perintah-Nya, dan kasih yang mengorbankan diri merupakan fondasi yang saling terikat dalam kehidupan orang percaya. Pembahasan ini menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Kristus untuk menghasilkan buah rohani yang berlimpah dalam kehidupan gereja dan masyarakat.
Etika Kekristenan yang Berakar dalam Kasih: Analisis Teologi Sistematis Efesus 4:1-32 Margaretha Sara Fauubun; Daud Manno; Jonar Situmorang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/7vj95919

Abstract

This study analyzes Christian ethics rooted in love based on Ephesians 4:1-32 through a systematic theological approach. The introduction highlights the importance of love as the core of ethical teachings in Christianity, particularly in shaping character and church unity. The aim of this research is to explore how love plays a role in shaping the ethical and relational life of believers, as well as in creating harmony within the church and society. The method used is a systematic theological analysis of the text of Ephesians 4:1-32, emphasizing the principle of love in interpersonal relationships, forgiveness, and obedience to Christ as the Head. The findings and discussion reveal that love serves as the primary foundation for the development of Christian character, church unity, and ethical transformation in daily life. The love taught in Ephesians is not merely a moral command but a call to a life that fully reflects Christ.   Penelitian ini menganalisis etika Kekristenan yang berakar dalam kasih berdasarkan Efesus 4:1-32 melalui pendekatan teologi sistematis. Pendahuluan menyoroti pentingnya kasih sebagai inti dari ajaran etika dalam Kekristenan, khususnya dalam membentuk karakter dan kesatuan gereja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana kasih berperan dalam membentuk kehidupan etis dan relasional orang percaya, serta dalam menciptakan harmoni di dalam gereja dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah analisis teologis sistematis terhadap teks Efesus 4:1-32, dengan menekankan pada prinsip kasih dalam hubungan antar sesama, pengampunan, dan ketaatan kepada Kristus sebagai Kepala. Hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa kasih menjadi dasar utama bagi pengembangan karakter Kristen, kesatuan gereja, dan transformasi etis dalam kehidupan sehari-hari. Kasih yang diajarkan dalam Efesus bukan hanya perintah moral, tetapi panggilan untuk hidup yang mencerminkan Kristus secara keseluruhan.
Makna Teologis Amanat Agung dan Implementasinya di Indonesia: Perlukah Pemaknaan Ulang? Murni Hermawaty Sitanggang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/8c3wdc92

Abstract

Theologians generally agree that Jesus' command in Matthew 28:19-20 is a mission for God's people to reach and disciple those who do not yet believe. Discipleship is marked by a person's entry into the Christian community. This is what makes mission or evangelism considered the same as church planting. However, when discussing the implementation of this mandate in a pluralist country like Indonesia, calls emerge to reconstruct the mission from evangelism to dialogue between religious communities to maintain harmony and prevent friction with adherents of the majority religion. This research aims to examine why this happens and then answer the main question of whether this reinterpretation cannot be avoided. The research was carried out using descriptive analysis methods with a literature study approach. The author reviews various literature related to the topic and then analyzes it to produce descriptive and systematic thoughts. The conclusion is that we cannot separate the mission from the context. The majority of Indonesia's population is Muslim and they view evangelization as an effort to Christianize, a threat that needs to be guarded against and suppressed so that it often causes friction. Therefore, considering that believers also have an obligation as citizens to maintain harmony, reinterpretation cannot be avoided. However, we need to ensure that the reinterpretation does not change the essence of the mandate. Para teolog umumnya sepakat bahwa perintah Yesus di dalam Matius 28:19-20 merupakan misi bagi umat Tuhan untuk menjangkau dan memuridkan mereka yang belum percaya. Pemuridan itu ditandai dengan masuknya seseorang dalam komunitas Kristen. Hal inilah yang kemudian menjadikan misi atau penginjilan dianggap sama dengan penanaman gereja. Namun, ketika membahas soal implementasi mandat tersebut di negara pluralis seperti Indonesia, muncul seruan untuk merekonstruksi misi dari penginjilan menjadi dialog antar umat beragama untuk memelihara kerukunan dan mencegah gesekan dengan pemeluk agama mayoritas. Penelitian ini bertujuan mengkaji mengapa hal itu terjadi untuk kemudian menjawab pertanyaan utama apakah memang pemaknaan ulang tersebut memang tidak dapat dihindari. Penelitian dilakukan dengan memakai metode deskriptif analisis dengan pendekatan studi literatur. Penulis mengkaji berbagai literatur terkait topik untuk kemudian dianalisis sehingga menghasilkan pemikiran yang bersifat deskriptif dan sistematis. Kesimpulan yang didapat adalah kita tidak dapat melepaskan misi dari konteks. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan mereka memandang penginjilan sebagai upaya kristenisasi, ancaman yang perlu diwaspadai dan ditekan sehingga tak jarang menimbulkan gesekan. Oleh sebab itu, mengingat orang percaya juga memiliki kewajiban sebagai warga negara untuk menjaga kerukunan, maka pemaknaan ulang tidak dapat dihindari. Namun, kita perlu memastikan pemaknaan ulang itu tidak mengubah esensi amanat tersebut.
Kepemimpinan Kaum Awam: Analisis Yohanes 21 tentang Kepemimpinan Otentik Asep Afaradi
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/sv0pwk49

Abstract

Authentic leadership among laypeople is a crucial aspect of church ministry that often receives inadequate attention. In John 21, there is a profound example of leadership through Jesus' restoration of Peter, emphasizing that true leadership is rooted in love, responsibility, and service. This study aims to analyze the concept of authentic leadership in John 21 and identify its characteristics and implications for laypeople in the church. The methodology used is qualitative analysis with a theological approach, through literature review and biblical text analysis, focusing on John 21 to explore the meaning and application of authentic leadership. The results indicate that authentic leadership is marked by sincere love for God and others, love-based service, and responsibility in shepherding, which are essential for building a healthy and effective church community. Kepemimpinan otentik di kalangan kaum awam merupakan aspek krusial dalam pelayanan gereja yang sering kali kurang mendapat perhatian. Dalam Yohanes 21, terdapat contoh mendalam tentang kepemimpinan melalui pemulihan Petrus oleh Yesus, yang menekankan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada kasih, tanggung jawab, dan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan otentik dalam Yohanes 21 serta mengidentifikasi karakteristik dan implikasinya bagi kaum awam di gereja. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan teologis, melalui kajian literatur dan analisis teks Alkitab, dengan fokus pada Yohanes 21 untuk menggali makna dan penerapan kepemimpinan otentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik ditandai oleh kasih yang tulus kepada Tuhan dan sesama, pelayanan berbasis kasih, serta tanggung jawab dalam penggembalaan, yang penting untuk membangun komunitas gereja yang sehat dan efektif.
Konsep Prophetic Pragmatism Willy Jenkins: Membangun Ekologi Spiritual untuk Kehidupan Berkelanjutan Menggereja di Indonesia Tony Salurante
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/zqvcxc56

Abstract

This article examined the concept of Prophetic Pragmatism by William James Jenkins as a foundation for developing ecological spirituality within the context of the church in Indonesia. The study stemmed from the ecological crisis in Indonesia, including environmental degradation, exploitation of natural resources, and the lack of ecological awareness within Christian communities. Using an interdisciplinary theological approach, the article explored the practical dimensions of Prophetic Pragmatism, which emphasized collective action, reconciliation between humans and creation, and solidarity in responding to environmental crises. The findings showed that this paradigm enabled churches to adopt an adaptive and transformative form of ecological spirituality. Churches were called not only to teach environmental doctrines but also to practice ecological justice through advocacy, liturgical renewal, and collective lifestyle changes. The implementation of this concept in Indonesian churches provided a model of ecological sustainability that was locally relevant and contributed to the global Christian witness regarding environmental responsibility.     Artikel ini mengkaji konsep Prophetic Pragmatism dari William James Jenkins sebagai landasan untuk membangun spiritualitas ekologi dalam konteks gereja di Indonesia. Latar belakang kajian ini adalah krisis ekologis yang dihadapi Indonesia, seperti kerusakan lingkungan dan eksploitasi sumber daya alam, serta minimnya kesadaran ekologis dalam komunitas Kristen. Dengan pendekatan teologis interdisipliner, artikel ini mengeksplorasi dimensi praksis Prophetic Pragmatism yang menekankan tindakan kolektif, rekonsiliasi manusia dengan ciptaan, dan solidaritas menghadapi krisis. Temuan menunjukkan bahwa paradigma ini memungkinkan gereja mengadopsi spiritualitas ekologis yang adaptif dan transformatif. Gereja dipanggil tidak hanya mengajarkan doktrin lingkungan, tetapi juga mempraktikkan keadilan ekologis melalui advokasi, liturgi, dan perubahan gaya hidup kolektif. Penerapannya di Indonesia dapat melahirkan model keberlanjutan ekologis yang relevan secara lokal dan berkontribusi pada kesaksian global tentang tanggung jawab iman Kristen terhadap bumi.
Kajian tentang Problematika Persembahan Persepuluhan dalam Gereja Masa Kini Adi Putra
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/3vx5yn62

Abstract

Tithing has caused polemics among churches or Christians. Some agree that this practice is no longer relevant, but generally churches still practice it, including churches in Indonesia. This is what is examined in this study, specifically how should the church practice the practice of tithing? Is it still relevant or not? By using qualitative research, especially literature review, the following conclusions were found. The practice of tithing is still allowed in the church. This is because tithing means returning ten percent of every income to God, the giver of blessings. Even though Christ has come and has redeemed Christians, it only emphasizes that Christians are obliged to give tithes to God. Just as Abraham tithed to Melchizedek, so Christians tithe to Christ who has redeemed and saved Christians. Tithing offerings are given and offered to God and managed by each minister in an institutional (not personal) context. It is intended to be used to support stewardship in the church as well as to support the lives of the ministers and their families. However, it is not wrong if tithes are also allocated to help the poor, migrants and orphans. Because the church should not be trapped in the practice of the scribes and Pharisees who were so keen on tithing but neglected love and justice.     Persembahan persepuluhan menimbulkan polemik di kalangan gereja atau orang Kristen. Ada yang setuju bahwa praktik ini sudah tidak relevan lagi, tetapi umumnya gereja masih mempraktikkannya tidak terkecuali gereja-gereja di Indonesia. Hal inilah yang diteliti dalam penelitian ini, khususnya bagaimana seharusnya gereja mempraktikkan praktik persepuluhan ini? Apakah masih relevan atau tidak? Dengan menggunakan penelitian kualitatif khususnya kajian literatur, maka dijumpai beberapa kesimpulan sebagai berikut. Praktik persepuluhan memang masih diperbolehkan dalam gereja. Oleh karena dengan memberikan persepuluhan berarti mengembalikan sepuluh persen dari setiap penghasilan kepada Tuhan sang pemberi berkat. Sekalipun Kristus telah datang dan telah menebus orang Kristen, namun hal justru semakin mempertegas bahwa orang Kristen wajib memberikan persembahan persepuluhan kepada Tuhan. Sama halnya Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek, demikian pula orang Kristen memberikan persepuluhan kepada Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan orang Kristen. Persembahan persepuluhan diberikan dan dipersembahkan kepada Tuhan dan dikelola oleh setiap pelayan dalam konteks kelembagaan (bukan personal). Hal itu bertujuan supaya digunakan untuk mendukung penatalayanan dalam gereja sekaligus untuk membantu kehidupan para pelayan dan keluarganya. Namun tidaklah keliru apabila persepuluhan juga dialokasikan untuk membantu orang-orang miskin, pendatang dan anak yatim. Oleh karena jangan sampai gereja terjebak dalam praktik yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang Farisi yang begitu giat memberikan persepuluhan namun mengabaikan kasih dan keadilan.
Pendidikan Agama Kristen Transformatif: Kunci Pembentukan Karakter dan Pertumbuhan Rohani Siswa Sandra Rosiana Tapilaha
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/bwdqxx70

Abstract

A holistic approach allows for the integration of Christian values into daily life, so that students not only understand religious doctrine theoretically, but also experience and apply it in real life. In addition, the integration of technology and digital media in religious education is an effective means of increasing student engagement, especially for Generation Alpha, who are growing up in a digital environment. The application of active participation-based spiritual discipline also serves as the foundation for continuous spiritual growth, where students are invited to experience faith in a tangible way through Bible reflection, communal prayer, and involvement in social service. This study employs a qualitative method, combining literature reviews from various sources, including book libraries and other academic research. Data was analyzed descriptively to evaluate the effectiveness of the holistic approach in Christian religious education. The results of the study show that it significantly improves students' understanding and experience of faith. The conclusion of this study affirms that transformative Christian religious education must accommodate these various aspects in order to shape individuals who not only have strong religious knowledge but are also able to apply these values in their lives.   Pendekatan holistik memungkinkan integrasi nilai-nilai kristiani dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya memahami doktrin agama secara teoretis, tetapi juga mengalami dan menerapkannya dalam tindakan nyata. Selain itu, integrasi teknologi dan media digital dalam pembelajaran agama menjadi sarana yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa, terutama Generasi Alpha yang tumbuh dalam lingkungan digital. Penerapan disiplin spiritual berbasis partisipasi aktif juga menjadi fondasi bagi pertumbuhan rohani yang berkelanjutan, di mana siswa diajak untuk mengalami iman secara nyata melalui refleksi Alkitab, doa bersama, dan keterlibatan dalam pelayanan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yang menggabungkan studi literatur dari berbagai sumber, termasuk perpustakaan buku dan penelitian akademik lainnya. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan holistik dalam pendidikan agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara signifikan meningkatkan pemahaman dan pengalaman iman siswa. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan agama Kristen yang transformatif harus mengakomodasi berbagai aspek ini agar dapat membentuk individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang kuat, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka.
Meneladani Integritas Paulus: Refleksi 2 Korintus 4:1-18 bagi Pelayanan Guru Sekolah Minggu Winro Baitau Tse; Jonar Situmorang Situmorang; Jefit Sumampouw Sumampouw
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/7ajktj57

Abstract

Sunday School teachers' ministry requires exemplary integrity and perseverance. Paul, in 2 Corinthians 4:1-18, demonstrates the principles of ministry based on honesty, resilience, and dependence on God. This study aims to explore Paul's values of integrity and reflect on their relevance in the context of Sunday School teachers' ministry. The research method used is a qualitative approach with a literature review and exegetical analysis of the biblical text. The findings indicate that Paul's integrity is reflected in the sincerity of his ministry, endurance in facing challenges, and commitment to the truth. Reflection on these teachings provides an understanding that Sunday School teachers must possess steadfastness in teaching and serve as role models for children. Thus, the ministry can be carried out responsibly and centered on Christian values. Pelayanan guru Sekolah Minggu menuntut keteladanan dalam integritas dan ketekunan. Paulus, dalam 2 Korintus 4:1-18, menunjukkan prinsip pelayanan yang berlandaskan kejujuran, ketabahan, dan ketergantungan kepada Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai integritas Paulus dan merefleksikannya dalam konteks pelayanan guru Sekolah Minggu. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan dan analisis eksegetis terhadap teks Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integritas Paulus tercermin dalam ketulusan pelayanan, ketahanan dalam menghadapi tantangan, dan komitmen terhadap kebenaran. Refleksi terhadap ajaran ini memberikan pemahaman bahwa guru Sekolah Minggu harus memiliki keteguhan hati dalam mengajar dan menjadi teladan bagi anak-anak. Dengan demikian, pelayanan dapat dilakukan secara bertanggung jawab dan berpusat pada nilai-nilai kristiani.
Dari Paha Yakub ke Duri Paulus: Kelemahan dan Kekuatan dalam Teologi Alkitabiah Isak Suria
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/t9kss294

Abstract

This article examined how human weakness became a space for manifesting divine power through a comparative study of Jacob's experience at Pniel (Genesis 32:25–32) and Paul's thorn in the flesh (2 Corinthians 12:7–10). The study addressed the problem of how suffering shaped identity and functioned as a means of revealing God's power. It aimed to explore the theological significance of these experiences in light of the Hebrew concept of shamar (?????? nurturing/thorns). The methods used included linguistic, historical-cultural, and typological-canonical approaches. The study shows that weakness is not a barrier but a vessel of grace. In the cases of Jacob and Paul, suffering leads to a transformation of identity and empowerment for ministry. The study concludes that, in the biblical tradition, human weakness is often God's way of forming, preserving, and fully revealing Himself in the lives of His people.   Artikel ini membahas bagaimana kelemahan manusia menjadi ruang bagi manifestasi kekuatan ilah. Melalui studi komparatif terhadap pengalaman Yakub di Pniel (Kejadian 32:25–32) dan duri dalam daging Paulus (2 Korintus 12:7–10). Permasalahan yang diangkat adalah bagaimana penderitaan membentuk identitas dan menjadi sarana pewahyuan kuasa Allah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji makna teologis dari pengalaman tersebut dalam terang konsep Ibrani ?????? shamar (memelihara/duri). Metode yang digunakan adalah pendekatan linguistik, historis-kultural, dan tipologis-kanonikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelemahan bukan penghalang, tetapi justru wadah kasih karunia. Dalam kasus Yakub dan Paulus, penderitaan berujung pada transformasi identitas dan kuasa pelayanan. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa dalam tradisi biblika, kelemahan yang dialami manusia seringkali merupakan cara Allah membentuk, menjaga, dan menyatakan diri-Nya secara penuh dalam kehidupan umat-Nya.
Pola Hidup Jemaat menurut Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Implementasinya bagi Jemaat GPdI di Wilayah Sentani Barat Jayapura Papua Roberth Ruland Marini; Moodi Yafeth Marweri
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 8 No. 1 (2025): Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/h47bdt17

Abstract

This study aims to examine the lifestyle patterns of the congregation as recorded in Acts 2:41–47 and to evaluate their relevance for the GPdI congregation in Sentani Barat, Jayapura, Papua. Thus far, the congregation’s understanding has largely remained at a theological level without being accompanied by authentic practices of faith, resulting in stagnation both in spiritual growth and in numerical development. Employing a qualitative descriptive method, this research explores the dynamics of the early church community, interprets the theological significance of their lifestyle, and investigates its applicability in the contemporary context of church ministry. The findings reveal critical issues such as limited doctrinal comprehension, the influence of secular lifestyles (e.g., alcohol consumption and smoking), and a lack of commitment to worship and fellowship. These factors have weakened the congregation’s spiritual vitality and diminished the solidarity of the faith community. The study highlights the urgency of internalizing the Word of God and relying on the work of the Holy Spirit as the foundation for shaping a renewed congregational lifestyle. Its contributions are twofold: (1) theological-conceptual, by deepening the understanding of the early church’s communal life as a timeless model of faith; and (2) practical-contextual, by offering concrete strategies for the GPdI Sentani Barat congregation to confront secularization and cultivate a more authentic, biblical, and transformative church life.   Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola hidup jemaat sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41–47 serta mengevaluasi relevansinya bagi jemaat GPdI Sentani Barat, Jayapura, Papua. Selama ini pemahaman jemaat cenderung berhenti pada dimensi teologis tanpa diikuti praksis kehidupan iman yang nyata, sehingga menyebabkan stagnasi baik dalam pertumbuhan rohani maupun perkembangan jumlah jemaat. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini menelusuri dinamika kehidupan jemaat mula-mula, menafsirkan makna teologis dari pola hidup tersebut, serta menelaah aplikasinya dalam konteks pelayanan jemaat masa kini. Hasil penelitian menunjukkan adanya problematika serius berupa minimnya pemahaman doktrinal, penetrasi gaya hidup sekuler seperti konsumsi minuman keras dan kebiasaan merokok, serta rendahnya komitmen terhadap ibadah dan persekutuan. Kondisi ini berimplikasi pada melemahnya kualitas spiritualitas jemaat serta kurangnya solidaritas komunitas iman. Penelitian ini menekankan pentingnya penghayatan Firman Tuhan dan ketergantungan pada karya Roh Kudus sebagai fondasi utama pembentukan pola hidup rohani. Kontribusi penelitian ini mencakup dua aspek penting: (1) dimensi teologis-konseptual, yakni memperdalam pemahaman terhadap praksis iman jemaat gereja mula-mula yang relevan sepanjang zaman; dan (2) dimensi praktis-kontekstual, yaitu penyajian strategi implementatif bagi jemaat GPdI Sentani Barat dalam menghadapi arus sekularisasi serta membangun kehidupan bergereja yang lebih otentik, alkitabiah, dan transformatif.