cover
Contact Name
Nelly
Contact Email
jurnalkharismata@gmail.com
Phone
+6282332575637
Journal Mail Official
jurnalkahrismata@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjen Suprapto VI No. 86 Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta
ISSN : 26558653     EISSN : 26558645     DOI : 10.
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta merupakan jurnal ilmiah yagn diterbitkan secara online oleh Sekolah Tinggi Alkitab Jember yang bertujuan untuk memublikasi hasil penelitian para dosen di bidang teologi Kristen, baik di gereja, maupun pelayanan kristiani lainnya. Scope dalam KHARISMATA adalah: 1. Teologi Biblika 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika
Articles 199 Documents
Falsafah Tallu Lolona dan Perspektif Teologi Penciptaan Norman Wirzba sebagai Landasan Ekoteologi Kontekstual Binsar Jonathan Pakpahan; Hiskianta Septian Masseleng
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 1: Juli 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i1.227

Abstract

This article builds a contextual eco-theology based on the Toraja’s local wisdom of tallu lolona and Norman Wirzba's eco-theology to respond to the environmental crisis, especially in Toraja. Tallu lolona is the philosophy of the Toraja people which shows the relationship between humans, animals, and plants as fellow creatures. The relations between creations should form a harmony because no creature should be dominant than others. Meanwhile, Norman Wirzba emphasized that God is the creator and humans should not dominate other creations; they are responsible for protecting and caring for them. Through descriptive methods with the theology of creation, the research shows that the philosophy of tallu lolona combined with the emphasis on God is the creator and humans are only part of creation, strengthen the contextual eco-theology especially for the Toraja people. Humans must no longer abuse other creation purposes for their interests but must respect and care for them. Artikel ini membangun ekoteologi kontekstual berdasarkan falsafah Tallu Lolona dan ekoteologi Norman Wirzba untuk menjawab krisis lingkungan hidup khususnya di Toraja. Tallu Lolona merupakan falsafah masyarakat Toraja yang memperlihatkan hubungan manusia, binatang dan tumbuhan sebagai sesama ciptaan. Relasi antar ciptaan membentuk kerukunan dan harmoni karena tidak ada yang lebih dominan. Sementara Norman Wirzba memberi penekanan bahwa Tuhan adalah pencipta dan manusia tidak boleh mendominasi ciptaan lain, bahkan bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Melalui metode deskriptif dan pendekatan teologi penciptaan, penelitian menunjukkan bahwa falsafah Tallu Lolona yang dikombinasikan dengan penekanan bahwa Tuhan adalah pencipta dan manusia hanya bagian dari ciptaan, membuat bangunan ekoteologi kontekstual khususnya bagi masyarakat Toraja menjadi kuat. Manusia tidak boleh lagi menyalahgunakan tujuan ciptaan lainnya untuk kepentingan dirinya, namun harus menghargai bahkan merawatnya.
Keselarasan dan Ketegangan: Menjelajahi Interaksi antara Narasi Alkitab, Penemuan Sains, dan Iman Kristen Wennar Wennar; Choe Jin Hee; Darmawan Darmawan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.228

Abstract

The relationship between the Bible and scientific discovery has long been a topic of debate, with perceived contradictions often causing tension between the two fields. This research aims to explore the potential for harmony and tension between the Bible, scientific discovery, and the Christian faith, and examine the implications of these dynamics. The discussion will examine certain areas that are considered contradictory, such as the age of the Earth, the origins of humanity, and the creation narrative, and assess the validity of these claims based on scientific findings. Based on the results of the research, it was found that although tensions may arise, there are many opportunities for reconciliation and mutual enrichment between the Bible and science. By integrating insights from both domains, humans can cultivate a more comprehensive understanding of the world, fostering a deeper appreciation of the complexity of nature and the relevance of biblical teachings in relation to scientific progress.Hubungan antara Alkitab dan penemuan ilmiah telah lama menjadi topik perdebatan, dengan kontradiksi yang dirasakan sering kali menyebabkan ketegangan di antara kedua bidang tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi keselarasan dan ketegangan antara Alkitab, penemuan ilmiah, dan iman Kristen, serta mengkaji implikasi dari dinamika tersebut. Pembahasan akan mengkaji bidang-bidang tertentu yang dianggap bertentangan, seperti usia bumi, asal usul umat manusia, dan narasi penciptaan, serta menilai validitas klaim-klaim tersebut berdasarkan temuan ilmiah. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan, bahwa meskipun ketegangan mungkin timbul, terdapat banyak peluang untuk rekonsiliasi dan saling memperkaya antara Alkitab dan sains. Dengan mengintegrasikan wawasan dari kedua domain tersebut, manusia dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dunia, memupuk apresiasi yang lebih dalam terhadap kompleksitas alam dan relevansi ajaran alkitabiah dalam kaitannya dengan kemajuan sains.
Konseling Pastoral dalam Meningkatkan Kesejahteraan Psikologis Jemaat Milenial Penderita Anxiety Disorders Ruth Caroline Mengga; Yanto Paulus Hermanto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.231

Abstract

Everyone is no exception to feeling anxious about something. Anxiety can be caused by biological factors. Millennials with anxiety disorder, which continues to increase in number from year to year with various triggering factors, are often cornered due to stigma and cynical views about lack of faith. Scientific studies have shown that genes and nervous system disorders also contribute to anxiety disorders. Through a literature study that explores anxiety as a health disorder, a pastoral counseling approach that focuses on psychological well-being, and an analysis of the characteristics of the millennial generation, a concept is obtained that can help pastoral counselor services in dealing with millennial congregations suffering from anxiety disorder. Pastoral counseling as a companion to medical treatment and psychotherapy is effective because it is based on the word of God. Gradual and holistic recovery can be achieved through pastoral counseling methods that prioritize the psychological well-being of anxiety sufferers. Setiap orang tidak terkecuali pernah merasa cemas karena sesuatu hal. Kecemasan bisa saja disebabkan karena faktor biologis. Jemaat milenial penderita anxiety disorder yang terus meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun dengan berbagai faktor pemicu, sering kali tersudut karena stigma dan pandangan sinis tentang kurangnya iman. Padahal penelitian-penelitian ilmiah menunjukkan gangguan faktor gen maupun sistem syaraf juga memiliki andil dalam gangguan kecemasan seseorang. Melalui studi literatur yang mengupas tentang anxiety sebagai sebuah gangguan kesehatan, pendekatan konseling pastoral yang berfokus pada kesejahteraan psikologis, serta analisa karakteristik generasi milenial, didapat sebuah konsep yang dapat membantu pelayanan konselor pastoral dalam menangani jemaat milenial yang menderita anxiety disorder. Konseling pastoral sebagai pendamping pengobatan medis dan psikoterapi menjadi efektif karena berlandaskan firman Tuhan. Pemulihan bertahap dan holistik dapat tercapai melalui metode konseling pastoral yang mengutamakan kesejahteraan psikologis penderita anxiety.
Pola Pengasuhan Berbasis Keluarga dalam Pembentukan Karakter Kristen Anak Remaja di Panti Asuhan “Budi Mulia” Pekutatan, Jembrana Bali Elsye Ribkah Runkat; Doni Heryanto; Noldy Najoan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.234

Abstract

This article provides significant insight regarding family-based parenting patterns which have strong implication for shaping the Christian character of adolescent children raised in a social community in a Christian orphanage. Basing a family-based parenting pattern on the Bible is a very appropriate choice because the principles of family-based parenting pattern, as taught by Moses to the Israelities, have had a long-term impact in which the personality of the Israelitie family was formed according to the tradition stated by God in Deuteronomy 6:4-9. This family-based parenting pattern was also exemplified by the Lord Jesus in His life and ministry, becoming an inspiration that is able to transform the character of teenegers undergoing a typical crisis at the age of searching for self-identity. The result guarantee expectations rather than maintaining a collective parenting pattern that provides general attention without considering the uniquesness of each individual adolescent child who is still experiencing ongoing identity struggles. So the family-based parenting pattern according to the Bible for teenegers at the “Budi Mulia” orphanage in Pekutatan, Jembrana Bali will soon be realized continuously or sustainably. This paper was preceded by qualitative research on leaders, caregevers, spiritual mentors, and several teenegers aged 12 to 18 years, as concrete experiences and events for a credible, constructive an tranformative solution.Artikel ini memberikan pemahaman signifikan terkait pola pengasuhan berbasis keluarga yang berimplikasi kuat membentuk karakter kristiani anak remaja diasuh dalam sebuah komunitas sosial di panti asuhan Kristen. Mendasari pola pengasuhan berbasis keluarga pada Alkitab merupakan pilihan yang sangat tepat karena prinsip-prinsip pola pengasuhan berbasis keluarga, seperti diajarkan Musa kepada bangsa Israel telah memberi dampak jangka panjang di mana kepribadian keluarga Israel terbentuk menurut tradisi yang difirmankan Tuhan dalam Ulangan 6:4-9. Pola pengasuhan berbasis keluarga ini pun diteladankan oleh Tuhan Yesus dalam hidup dan kehidupan pelayanan-Nya menjadi inspirasi yang mampu mentransformasi karakter anak remaja menjalani krisis khas di usia pencarian identitas diri. Hasilnya lebih menjamin ekspektasi ketimbang mempertahankan pola pengasuhan kolektif yang memberikan perhatian secara umum tanpa mempertimbangkan keunikan setiap individu anak remaja yang sedang mengalami pergumulan identitas masih berlangsung. Maka pola pengasuhan berbasis keluarga sesuai Alkitab bagi anak remaja di panti asuhan “Budi Mulia” Pekutatan, Jembrana Bali segera direalisasikan secara terus-menerus atau berkelanjutan. Karya tulis ini telah didahului penelitian kualitatif terhadap pemimpin, pengasuh, pembina rohani, dan beberapa anak remaja usia 12 tahun hingga 18 tahun, sebagai pengalaman dan peristiwa kongkret bagi suatu solusi kredibel, konstruktif, dan transformatif.
Ketekunan Spiritual: Kompetensi Karakter Pelayan Tuhan dalam Narasi 2 Timotus 1:1-18 Jonatan Ivan Jemy Lawa; Sutikto Sutikto
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.238

Abstract

Problems and challenges as a servant of God are things that always happen, many of which become withdrawn and do not act as expected. This problem can be a difficult challenge for anyone who is specifically called to serve God. This article uses qualitative methods to expose verse 2 Timothy 1:1-18, arguing this research for the importance of God's servants building a theology of perseverance as saints in carrying out their ministry duties. focuses on Paul's advice to Timothy to persevere as a constructive point in building pastoral theology. The aim of the research is to understand the socio-psychological context of Timothy and the situation of the church in Ephesus, explore the theological message, and highlight the challenges of Timothy's ministry. Findings show that perseverance in ministry is a key element, expressed through Paul's admonitions, with analysis of the Biblical text identifying the characteristics of God's servants. The results of the research include understanding the call to ministry, Timothy's specific challenges, and the importance of perseverance in the success of God's ministry. This article significantly enriches theological and practical understanding regarding Christian ministry, encouraging further reflection on the integration of the principles of 2 Timothy in the context of modern church ministry. Tantangan sebagai pelayan Tuhan bukan masalah biasa, banyak diantaranya menjadi mundur dan tidak berperan sesuai harapan. Masalah ini bisa menjadi tantangan yang berat bagi siapapun yang terpanggil khusus melayani Tuhan. Artikel ini menggunakan metode kualitatif untuk mengeksposisi ayat 2 Timotius 1:1-18, argumentasi penelitian ini pentingnya pelayan Allah membangun teologi ketekunan sebagai orang-orang kudus dalam menjalani tugas pelayanan. fokus pada nasehat-nasehat Paulus kepada Timotius untuk bertekun menjadi titik konstruktif membangun teologi pastoral. Tujuan penelitian adalah memahami konteks sosio-psikologis Timotius dan situasi gereja di Efesus, mengeksplorasi pesan teologis, serta menyoroti tantangan pelayanan Timotius. Temuan menunjukkan bahwa ketekunan dalam pelayanan adalah elemen kunci, diungkapkan melalui nasihat-nasehat Paulus, dengan analisis teks Alkitab mengidentifikasi karakteristik pelayan Tuhan. Hasil penelitian mencakup pemahaman panggilan pelayanan, tantangan spesifik Timotius, dan pentingnya ketekunan dalam kesuksesan pelayanan Tuhan. Penelitian ini memberi kontribusi signifikan untuk memperkaya pemahaman teologis dan praktis terkait pelayanan kristiani, mendorong refleksi lebih lanjut tentang integrasi prinsip-prinsip 2 Timotius dalam konteks pelayanan gereja modern.
Harapan Kristen: Antara Keterlibatan Ilahi dan Paradoks Ketersembunyian dalam Dinamika Kehidupan Manusia Bernhard Hehakaya; Daud Manno; Oral Oko
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.239

Abstract

This article explores the important role of hope in the Christian life by exploring the concept of hope in the Bible and the development of the theology of hope from the Old Testament to the New Testament. This research highlights that Christian hope is not just optimism based on current conditions, but a belief in divine promises that create new forces from outside the current situation. Theological analysis emphasizes the role of perseverance in nurturing hope amidst challenges and suffering. The article also discusses the paradox between divine involvement and God's hiddenness, emphasizing that Christian hope cannot always be predicted from the current situation, but rather stems from the promise of a certain future existence for humans. The results of this research say that hope is not just an emotional aspect or optimism, but a certainty that grows from belief in God who is involved in every aspect of life. Through this paradox, hope becomes a driver of courage and strength, creating a firm anchor that guides the steps of His people on the journey of life. Artikel ini mendalam tentang peran penting harapan dalam kehidupan Kristen dengan mengeksplorasi konsep harapan dalam Alkitab dan perkembangan teologi pengharapan dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Penelitian ini menyoroti bahwa harapan Kristen tidak hanya sekadar optimisme berdasarkan kondisi saat ini, tetapi sebuah keyakinan pada janji-janji ilahi yang menciptakan kekuatan baru dari luar situasi kini. Analisis teologis menekankan peran ketekunan dalam merawat harapan di tengah tantangan dan penderitaan. Artikel juga membahas paradoks antara keterlibatan ilahi dan ketersembunyian Tuhan, menegaskan bahwa harapan Kristen tidak selalu dapat diprediksi dari situasi saat ini, melainkan bersumber dari janji keberadaan masa depan yang pasti bagi manusia. Hasil penelitian ini mengatakan bahwa harapan bukan hanya aspek emosional atau optimisme, tetapi kepastian yang tumbuh dari keyakinan akan Tuhan yang terlibat dalam setiap aspek kehidupan. Melalui paradoks ini, harapan menjadi pendorong keberanian dan kekuatan, menciptakan suatu jangkar kokoh yang memandu langkah umat-Nya dalam perjalanan kehidupan.
Biblical Entrepreneurship: Dasar dalam Memulai Bisnis bagi Anak Muda Kristen Usia 18-25 Tahun Daniel Martin Tamera; Angelica Liveani Rivela; Sugeng Santoso; Erastus Sabdono; Anwar Three Millenium Waruwu
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.241

Abstract

The problem of fraud and crime in entrepreneurial practice is rampant in the business world, behaviorally or characteristically, so damaged and said to violate morals and also ethics in business. Therefore, this study discusses the importance of entrepreneurship for young Christians from a biblical perspective and its implications for business practices. In this article, the researcher uses a qualitative method through literature sources such as books, journal articles, the Bible, and internet media that can be accounted for as well as in-depth analysis. Furthermore, with a focus on biblical values, the research highlights the importance of supporting young people to become entrepreneurs. The results of the study highlight the essence of entrepreneurship from a biblical perspective that emphasizes character building, spiritual growth, and responsibility. In addition, Entrepreneurship is seen as a calling to serve and bless others, as well as understanding the principles of Biblical Entrepreneurship to realize God's Great Commission in Christian youth business.Permasalahan kecurangan dan kejahatan dalam praktek berwirausaha marak terjadi di dunia bisnis, secara perilaku atau karakter, begitu rusak dan dikatakan melanggar moral dan juga etika dalam berbisnis. Maka dari itu, penelitian ini membahas pentingnya kewirausahaan bagi anak muda Kristen dalam perspektif Alkitab dan implikasinya terhadap praktik bisnis. Dalam artikel ini, peneliti memakai metode kualitatif melalui sumber-sumber kepustakaan seperti buku-buku, artikel jurnal, Alkitab, dan media internet yang dapat dipertanggungjawabkan juga dengan analisis yang mendalam. Selanjutnya, dengan fokus pada nilai-nilai Alkitab, penelitian ini menyoroti pentingnya mendukung anak muda untuk menjadi wirausahawan. Hasil penelitian menyoroti esensi kewirausahaan dalam perspektif Alkitab yang menekankan pembentukan karakter, pertumbuhan rohani, dan tanggung jawab  Selain itu, entrepreneurship dipandang sebagai panggilan untuk melayani dan memberkati sesama, serta memahami prinsip-prinsip Biblical Entrepreneurship untuk mewujudkan Amanat Agung Tuhan dalam bisnis anak muda Kristen.
Peran Kompetensi Manajerial Gembala dalam Mewujudkan Visi “Terwujudnya Jemaat yang Misioner” di Gereja KIBAID Jemaat Marinding Yunita Sombolayuk; Firdaus Firdaus; Setblon Tembang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.243

Abstract

This research is motivated by the fact that church growth cannot be separated from understanding the importance of the management of a congregational pastor in realizing the church's vision. In this case, the role of the pastor's managerial competence is really needed to achieve the church's vision. KIBAID Church is an evangelical church with the vision of "Creating a missionary congregation." Implementation of the vision of "Creating a Missionary Congregation" is very dependent on local churches, one of which is the KIBAID church of the Marinding Congregation. This research aims to discover the role of the pastor's managerial competence in the vision of "Creating a Missionary Congregation" at the KIBAID Congregation of Marinding Church. This research is descriptive qualitative research. The findings in this research are that the pastor's role is to complete the vision with planning, the pastor's role is to share the vision, the pastor's role is to raise enthusiasm, the pastor's role is as a driving force in the church, the pastor's role is as a trainer for the next leader. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa pertumbuhan gereja tidak terlepas dari pemahaman akan pentingnya manajemen seorang gembala jemaat dalam mewujudkan visi gereja. Dalam hal ini peran kompetensi manajerial gembala sangat dibutuhkan untuk mencapai visi gereja. Gereja KIBAID merupakan salah satu gereja injili dengan visi “Terwujudnya Jemaat yang Misioner”. Implementasi visi “Terwujudnya Jemaat yang Misioner” sangat bergantung pada gereja lokal, salah satunya adalah gereja KIBAID Jemaat Marinding. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan peran kompetensi manajerial gembala dalam visi “Terwujudnya Jemaat yang Misioner” di Gereja KIBAID Jemaat Marinding. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Adapun hasil temuan dalam penelitian ini yaitu gembala berperan untuk melengkapi visi dengan perencanaan, gembala berperan membagikan visi, gembala beperan untuk membangkitkan semangat, gembala berperan sebagai penggerak dalam gereja, gembala sebagai pelatih bagi pemimpin berikutnya.
Karakteristik Kepemimpinan Gideon sebagai Seorang Generasi Muda Dalam Perspektif Pentakostal: Analisis Naratif Hakim-Hakim 6-8 Samuel Geovany Paendong; Ellen Inggriati Wake Lulu; Gernaida K.R. Pakpahan
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 6 No. 2: Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v6i2.246

Abstract

The young generation currently dominates the population in the church. Indonesia is also currently experiencing the third Pentecost which is occurring for the younger generation. Therefore, the younger generation has an important role in church growth, including through leadership aspects. Reflecting on these conditions, the church has a responsibility to prepare the next generation to become leaders by instilling the right leadership characteristics. Appropriate leadership characteristics can be learned through leadership stories in the Bible. One of the stories of youth leadership that can be studied in the Bible is the story of Gideon's leadership in Judges 6-8. Therefore, this research will discuss Gideon's leadership characteristics from a Pentecostal perspective. The method used is a narrative analysis of the text of Judges 6-8 and comparing it with Daniel E. Albrecht's theory of leadership characteristics from the Pentecostal perspective. The results of this research indicate that four leadership characteristics in the Pentecostal perspective on Gideon's leadership can be applied in preparing the younger generation to become the next leaders. Generasi muda saat ini sangat mendominasi populasi yang ada di dalam gereja. Indonesia juga saat ini sedang mengalami Pentakosta ketiga yang terjadi bagi generasi muda. Oleh karena itu, generasi muda memiliki peranan penting bagi pertumbuhan gereja, termasuk melalui aspek kepemimpinan. Berkaca pada kondisi tersebut, gereja memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi menjadi pemimpin selanjutnya dengan menanamkan karakteristik kepemimpinan yang tepat. Karakteristik kepemimpinan yang tepat dapat dipelajari melalui kisah-kisah kepemimpinan dalam Alkitab. Salah satu kisah kepemimpinan anak muda yang dapat dipelajari dalam Alkitab adalah kisah kepemimpinan Gideon dalam Hakim-Hakim 6-8. Oleh karena itu, penelitian ini akan membahas karakteristik kepemimpinan Gideon dalam perspektif Pentakostal. Metode yang digunakan adalah analisis naratif terhadap teks Hakim-Hakim 6-8 dan membandingkannya dengan teori karakteristik kepemimpinan dalam perspektif Pentakostal dari Daniel E. Albrecht. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat karakteristik kepemimpinan dalam perspektif Pentakostal pada kepemimpinan Gideon yang dapat diterapkan dalam mempersiapkan generasi muda menjadi pemimpin selanjutnya.
Kasih yang Benar: Sebuah Analisis Roma 13: 8-14 di Tengah Kehidupan Orang Percaya Iwan Setiawan; Alfa Chrisen Hillasterion; Christian Marlen Firuli Simarmata; Juldistriani Amisha Diana Maelite; Marni Katue
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 1: Juli 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v7i1.249

Abstract

Jesus was a great teacher who set an example of humility, especially in teaching love to His students in various ways or methods. Love is very easy to say, it is easy to explain good theories about love, but in reality, good theories are not balanced with good life practices. The research method that the author uses is a qualitative approach with a descriptive method, explaining it in a hermeneutic way, namely a method that expresses, translates, and interprets. The source material is the biblical text to gain an understanding of the biblical text. The research aims to discover the principles of love contained in Romans 13: 8-14, to provide a deep understanding of this text so that believers can implement love correctly. The result of his research is Jesus as the Foundation of Love. Jesus Christ is the armor of light, wearing the Lord Jesus. The correct attitude of love is don’t owe anything, love each other, love your neighbor as yourself, don't commit adultery, don't kill, don't steal, don't covet and any other word, love doesn't do evil to fellow human beings because love is the fulfillment of the law. The action is to continue living in Love because time is getting shorter by having to wake up from sleep, put off the deeds of darkness put on the armor of light, and live according to God's will. Yesus adalah guru agung yang memberikan teladan kerendahan hati terkhusus dalam mengajarkan tentang kasih kepada murid-murid-Nya dengan berbagai cara atau metode. Kasih sangat mudah untuk diucapkan, mudah untuk menjelaskan teori-teori yang baik mengenai kasih, tetapi pada kenyataanya teori yang baik itu tidak diimbangi dengan praktek hidup yang baik pula. Metode penelitian yang penulis gunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, menguraikannya dengan cara hermeneutik yaitu sebuah metode yang mengekpresikan, menterjemahkan dan menafsirkan. Sumber bahannya adalah teks Alkitab dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman dari teks alkitab. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan prinsip-prinsip kasih yang terdapat dalam Roma 13: 8-14, supaya memberikan pemahaman yang mendalam mengenai teks ini sehingga orang percaya dapat mengimplementasikan kasih secara benar. Hasil penelitiannya adalah Yesus sebagai Dasar Kasih. Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang, mengenakan Tuhan Yesus. Sikap Kasih yang benar yaitu jangan berhutang apa-apa, saling mengasihi, mengasihi sesama seperti diri sendiri, jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia karena kasih adalah kegenapan hukum taurat. Tindakan untuk terus hidup dalam Kasih karena waktu yang semakin singkat dengan harus bangun dari tidur, menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang dan hidup sesuai kehendak Tuhan.