cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1: Agustus 2021" : 14 Documents clear
Persepsi Orang tua Mengenai Belajar dari Rumah dan Pendampingan Keluarga Kristen Selama Masa Pandemi Covid-19 Ezra Pradeksa Widyawan; J Priyanto Widodo; Tan Lie Lie
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.77

Abstract

This research aims to describe the implementation of Learning from Home (BDR) based on the regulations of the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia, regarding parents' perception of the implementation of BDR and the implementation of Christian family assistance during the Covid19 pandemic. The type of research used is qualitative research. The results showed the impact of the Covid-19 pandemic, The government sets regulations related to learning, namely online learning. The results showed the impact of the Covid-19 pandemic, the government set regulations related to learning, namely online learning. Then parents' perception of BDR, online learning was done during the COVID-19 pandemic, students can use technological devices when learning from home, although many are still lazy to do tasks given by teachers and do not focus on learning. In terms of mentoring, many parents are unable to directly assist this because most parents work when BDR is done. The main factor that must be considered by the school in learning during the pandemic is cleanliness, school health facilities, implementation of health protocols, and schools/teachers being able to follow learning materials.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) berdasarkan peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, mengenai persepsi orang tua terhadap pelaksanaan BDR dan pelaksanaan pendampingan keluarga Kristiani di masa pandemi Covid19. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan dampak pandemi Covid-19, pemerintah menetapkan peraturan terkait pembelajaran yaitu pembelajaran online. Kemudian persepsi orang tua terhadap BDR, pembelajaran online dilakukan pada masa pandemi COVID-19, siswa dapat menggunakan perangkat teknologi saat belajar dari rumah, meskipun banyak yang masih malas mengerjakan tugas yang diberikan guru dan tidak fokus belajar. Dalam hal pendampingan, banyak orang tua yang tidak dapat mendampingi secara langsung hal ini dikarenakan sebagian besar orang tua bekerja saat dilakukan BDR. Faktor utama yang harus diperhatikan pihak sekolah dalam melakukan pembelajaran pada masa pandemi adalah tentang kebersihan, fasilitas kesehatan sekolah, menerapkan protokol kesehatan dan sekolah/guru mampu mengikuti materi pembelajaran. 
Spirtualitas Kristen yang tidak Menjadi Batu Sandungan: Refleksi Roma 14:20-21 Daniel Agustinus P.L Tobing; Maria Evvy Yanti
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.115

Abstract

In Christian fellowship, it is important to accept one another, especially those who are weak in faith without judging their beliefs or lack of understanding. This study aims to analyze the meaning of not being a stumbling block in the text of Romans 14:20-21 to gain Paul's understanding of the ethics of Christian life in building fellowship in which the essence of God's kingdom is truth, peace, and joy by the Holy Spirit. The method used in this research is the descriptive method through technical analysis. Through this research, it is hoped that in Christian fellowship a Christian life will be created that does not become a stumbling block because of the love that is responsible for one another beyond anything let alone trivial things (food and drink) for the sake of the unity of the fellowship and Christian life.  AbstrakDalam persekutuan Kristen penting untuk saling menerima apalagi mereka yang lemah dalam iman tanpa menghakimi keyakinan atau kurangnya pemahaman mereka. Penelitian ini ber-tujuan menganalisa makna tidak menjadi batu sandungan dalam teks Roma 14:20-21 untuk mendapat-kan pemahaman Paulus tentang etika hidup Kristen dalam membangun persekutuan yang di dalam-nya ada esensi kerajaan Allah yaitu kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif melalui analisa teks. Melalui penelitian ini diharapkan dalam persekutuan Kristen tercipta kehidupan Kristen yang tidak menjadi batu sandungan karena adanya kasih yang bertanggug jawab terhadap satu sama lain melampaui apapun apalagi hal-hal sepele (makanan dan minuman) demi keutuhan persekutuan dan kehidupan Kristen.  
Kajian Teologis tentang Kehidupan Kristen dalam Berbangsa dan Bernegara: Refleksi Teologis Roma 13:1-7 Munatar Kause
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.98

Abstract

The church exists and is an integral part of the Indonesian nation. The church is expected to participate in the life of the nation because the Bible also recommends it. This article is a descriptive qualitative study that conducts an understanding of the text of Romans 13:1-7, in which Paul suggests that believers, Christians can perform their functions in order to live as citizens. AbstrakGereja ada dan menjadi bagian yang integral dari bangsa Indonesia. Gereja diharapkan dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa, karena Alkitab pun menyarankan demikian. Artikel ini merupakan sebuah kajian kualitatif deskriptif yang melakukan pemahaman terhadap teks Roma 13:1-7, di mana Paulus menyarankan agar umat percaya, orang Kristen dapat melakukan fungsinya dalam rangka hidup sebagai warga negara.    
Evaluasi Penafsiran Kelompok LGBT terhadap Makna Kebebasan Hidup dan Kasih Manase Gulo; Abad Jaya Zega; Oren Siregar; Estherlina Maria Ayawaila; Sarwono Sarwono
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.100

Abstract

Good and correct interpretation always follows standard and correct hermeneutic principles. Standard and correct hermeneutics is meant to always pay attention to the context and strive for each interpretation result not to conflict with other parts. Based on the results of the researcher's evaluation of the interpretation of the First LGBT people, the term freedom of life according to the 1945 Constitution, especially Article 28 concerning freedom of life, has been mistaken and has even gone astray, because the results presented are contradictory to other articles that have been stated in the 1945 Constitution, For example, the Marriage Law Number 1 Article 1 of 1974, In addition, the LGBT argument is also contrary to Pancasila values and religious values adhered to by religions in Indonesia. The freedom to live in question is the right to live, the right to have an opinion, as long as it does not conflict with the 1945 Constitution and religious values recognized in Indonesia. Christian theology also understands that the freedom a believer has is not the freedom to sin, but freedom from the penalty of sin and the demands of the law. Paul also told the Corinthians that all things are lawful for me, but not all things are useful. Second, the interpretation of love by LGBT people is also mistaken because only seeing and interpreting love is the highest law regardless of the context and the true meaning of love. The behavior of LGBT people is a sin and an abomination in God's eyes. The findings above are the result of an evaluation of the LGBT literature.  AbstrakPenafsiran yang baik dan benar selalu mengikuti kaidah hermeneutik yang baku dan benar. Hermeneutik yang baku dan benar yang dimaksud adalah selalu memperhatikan konteks serta berusaha untuk setiap hasil penafsiran tidak bertentangan dengan bagian-bagian yang lain. Berdasarkan hasil evaluasi peneliti terhadap penafsiran kaum LGBT Pertama, istilah kebebasan hidup menurut UUD 1945 khususnya pasal 28 tentang kebebasan hidup telah mengalami kekeliruan dan bahkan sampai kepada kesesatan berpikir, karena hasil yang dikemukakan bertentangan dengan  pasal-pasal yang lain yang telah dituangkan dalam UUD 1945, misalnya UU pernikahan nomor  1 Pasal 1 tahun 1974, Selain itu, argumentasi LGBT juga bertentangan dengan nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai agama yang dianut oleh agama-agama di Indonesia. Kebebasan hidup yang dimaksud adalah berhak untuk hidup, berhak untuk berpendapat, sepanjang tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan nilai-nilai agama yang diakui di Indonesia. Teologi Kristen juga memahami bahwa kebebasan yang dimiliki oleh orang percaya bukan kebebasan untuk berbuat dosa, tetapi kebebasan dari hukuman dosa dan tuntutan hukum Taurat. Paulus juga mengemukakan kepada kepada Jemaat di Korintus bahwa segala sesuatu halal bagiku, tetapi tidak semuanya berguna.Kedua, Penafsiran tentang  kasih oleh kaum LGBT juga mengalami kekeliruan karna hanya melihat dan menafsir kasih adalah hukum yang tertinggi tanpa mempedulikan konteks dan makna kasih yang sesungguh. Perilaku kaum LGBT adalah dosa dan merupakan kekejian di mata Tuhan. Hasil temuan di atas merupakan hasi evaluasi literatur kaum LGBT. 
Signifikansi Persekutuan Umat Allah pada Masa Pandemik-Covid 19 Made Nopen Supriadi; Tony Salurante; Minggus Dilla
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.99

Abstract

The fellowship of believers in the church faces problems during the Covid-19 pandemic, many Christians have made the Covid-19 pandemic a strong excuse not to go to church. However, after researching the authors found the phenomenon of Christians who do not make fellowship an important part of their spiritual life, it can be seen through the fact that believers are absent from fellowship face-to-face with health protocols and online. Many Christians still have the courage to attend wedding receptions, work at offices, vacations, and eat together at restaurants by applying health protocols. Then Christians are very compulsive and courageous to attend the fellowship in certain moments, namely grief, baptism, confirmation of faith, holy communion, and pastoral counseling. This phenomenon the author identifies as a decline in the understanding of many Christians about the significance of church fellowship. Through this method of theological analysis, this paper will provide a systematic descriptive study of the communion theological principles of the Old and New Testaments. This research provides novelty in the concept of building theological formulation of the community which is not tied to a literal word, but rather to concepts and principles. Through research, believers are reminded to understand the fellowship that God's people make despite the dangers, pressures, threats, and natural disasters. AbstrakPersekutuan orang percaya di gereja mengahadapi masalah pada masa pandemik covid-19, banyak orang Kristen menjadikan pandemik covid-19 sebagai alasan kuat untuk tidak pergi ke gereja. Namun setelah diteliti penulis menemukan fenomena tentang orang Kristen yang tidak menjadikan persekutuan sebagai bagian penting dalam kehidupan rohani, hal itu terlihat melalui fakta ketidak-hadiran orang percaya dalam persekutuan baik secara tatap muka dengan protokol kesehatan dan online. Orang Kristen masih banyak yang memberanikan diri untuk hadir dalam acara resepsi perni-kahan, kerja dikantor, liburan dan makan bersama di rumah makan dengan menerapkan protokol kesehatan. Kemudian orang Kristen dengan sangat terpaksa dan berani hadir dalam persekutuan dalam moment tertentu yaitu kedukaan, baptisan, peneguhan sidi, perjamuan kudus dan pastoral konseling. Fenomena tersebut penulis indentifikasi sebagai merosotnya pemahaman banyak orang Kristen mengenai signifikansi persekutuan gereja. Melalui metode analisis teologis tulisa ini akan memberikan kajian deskriptif sistematis tentang prinsip teologis persekutuan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Penelitian ini memberikan kebaharuan konsep dalam membangun rumusan teologis tentang persekutuan yang tidak terikat pada kata secara harafiah, tetapi lebih kepada konsep dan prinsip. Melalui penelitian orang percaya diingatkan agar memahami tentang persekutuan yang dilakukan umat Allah meskipun ada dalam bahaya, tekanan, ancaman dan bencana alam. 
Gereja dan Pendidikan Kristen: Ekspresi Iman Mengatasi Isu Pemanasan Global pada Ruang Virtual dan Dunia Nyata Carolina Etnasari Anjaya; Reni Triposa; Alfinny Jelie Runtunuwu
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.93

Abstract

Global warming is one of the serious threats to the world related to the environment and human survival. Global warming requires lifelong prevention efforts, therefore the church as a Christian community has a responsibility in it as a form of implementing God's cultural mandate. This study aims to describe the role of the church in efforts to prevent global warming through education by establishing relationships and utilizing virtual space. The research method uses a descriptive qualitative approach with library research techniques. The results of the study conclude that the church can play an active role in preventing global warming which is formulated in the Christian education curriculum. Some strategies that can be implemented include: first, implementing integrated ecological theological education in the church. Second, form a real community and program as a concrete effort in society by using technology optimally. Third, establish cooperative relations with the community, educational institutions, and the business world in terms of preventing global warming. Fourth, conduct periodic evaluations as a form of the church's seriousness in this issue.  AbstrakPemanasan global menjadi salah satu ancaman serius bagi dunia terkait dengan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia. Pemanasan global membutuhan upaya pencegahan seumur hidup, oleh karenanya gereja sebagai komunitas orang Kristen memiliki tanggungjawab di dalamnya sebagai wujud pelaksanaan mandat budaya Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran gereja dalam usaha pencegahan pemanasan global melalui pendidikan dengan menjalin relasi dan pemanfaatan ruang virtual. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa gereja dapat berperan aktif untuk mencegah pemanasan global yang dirumuskan dalam kurikulum pendidikan Kristen dan mem-bangun sinergitas. Beberapa strategi yang dapat dijalankan antara lain: pertama, menerapkan pen-didikan teologi ekologi yang terintegrasi dalam gereja. Kedua, membentuk komunitas dan program nyata sebagai upaya konkret dalam masyarakat dengan pemanfaatan teknologi secara optimal. Ketiga, menjalin relasi kerjasama dengan masyarakat, lembaga pendidikan dan dunia usaha dalam hal pencegahan pemanasan global. Keempat, melakukan evaluasi berkala sebagai bentuk keseriusan gereja dalam isu ini.
Mengembangkan Nilai-nilai Moral dan Pendidikan Kristiani melalui Penggunaan Media Pembelajaran pada Anak Usia Dini Suwandi Chuang; Maria Evvy Yanti
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.86

Abstract

 The religious and moral values of Indonesian society have recently been degraded so that the government of the Republic of Indonesia promotes the return of religious and moral education listed in Standard Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STTPA), Permendikbud RI no.137 of 2014 article 9 on Standard Content, namely the level of child development contains elements of religious and moral values. The development of religious and moral values must be pursued by all parties (stakeholders)be it the government, educational institutions, principals, teachers, and parents of students. All PAUD institutions in Indonesia must carry out a government mandate including the Christian PAUD institute. The Christian PAUD must help develop moral values and religious values based on Christian values or according to the word of God (Bible). The research aims to strive for the maximum development of Christian values and moral values through the medium of learning to early childhood. The method used in this research is qualitative research i.e. field research (interviews and observations) where phenomena occur. This research shows that maximum use of learning media will be very effective and efficient to develop Christian and Moral values in early childhood. AbstrakNilai-nilai agama dan nilai moral masyarakat Indonesia belakangan ini mengalami degradasi sehingga pemerintah Republik Indonesia menggalakkan kembali pendidikan agama dan pendidikan moral yang tercantum dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STTPA), Permendikbud RI no.137 tahun 2014 pasal 9 Tentang Standar Isi yaitu tingkat perkembangan anak memuat unsur-unsur nilai agama dan moral. Perkembangan nilai agama dan nilai-nilai moral harus diupayakan oleh semua pihak (stake holder) baik itu pemerintah, yayasan pendidikan, lembaga pendidikan, kepala sekolah, guru, dan orang tua perserta didik. Semua lembaga PAUD di Indonesia harus melaksanakan amanah pemerintah termasuk lembaga PAUD Kristen. Lembaga PAUD Kristen harus ikut mengembangkan nilai moral dan nilai-nilai agama dengan berdasarkan nilai-nilai kristiani atau sesuai firman Tuhan (Alkitab). Penelitian bertujuan untuk mengupayakan perkembangan nilai-nilai agama Kristen dan nilai moral secara maksimal melalui media pembelajaran kepada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian lapangan (wawancara dan observasi) di tempat fenomena terjadi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran secara maksimal akan menjadi sangat efektif dan efisien untuk mengembangkan nilai-nilai agama Kristen dan Moral pada anak usia dini.
Peran “Istri Yang Cakap” dalam Meningkatkan Perekonomian Keluarga pada Masa Pandemi Covid-19 Vera Herawati Siahaan; Mariati Br. Barus
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.78

Abstract

A capable wife in Proverbs 31: 10-31 and 1 Peter 3: 1 is a wife that wives today can emulate. Her godly life, how she arranges her family's economy, how she plans to prepare for the future of her family members, how she is obedient and submissive to her husband, and how she can please her husband really shows that she is a special woman, who is expensive as in verse 10 said to be a pearl that is difficult to find. This journal describes the analytical writing method with a qualitative approach. The analysis carried out is in the form of an analysis of the study of the Old Testament Fiman in Proverbs 31: 10-31 and the New Testament 1 Peter 3: 1 concerning the idea of a wise woman and obedient and submissive women. This related competent text is very helpful in improving the family economy, especially in this pandemic. So this journal describes how a capable wife is, how she allows her husband's heart, how she can become a good planner who is very helpful in meeting the needs of her household. And what he did all because of his marriage commitment.  AbstrakIstri yang cakap dalam Amsal 31:10-31 dan 1 Petrus 3 : 1 merupakan istri yang boleh diteladani oleh para istri zaman sekarang.  Hidupnya yang saleh, bagaimana dia menata perekonomian keluarganya, bagaimana dia merencanakan untuk persiapan masa depan anggota keluarganya, bagaimana ia taat dan tunduk pada suami serta bagaimana dia boleh berkenan kepada suaminya sangat menunjukkan kalau dia adalah seorang wanita yang istimewa, yang mahal sebagai mana dalam ayat 10 dikatakan sebagai mutiara yang sulit untuk ditemukan. Jurnal ini menjelaskan metode penulisanan alisis dengan pendekatan kualitatif. Analisis yang dilakukan berupa analisis studi Fiman Perjanjian Lama dalam Amsal 31:10-31 dan perjanjian Baru 1 Petrus 3:1 tentang ide wanita bijak dan wanita taat dan tunduk. Teks terkait yang cakap ini sangat menolong dalam peningkatan perekonomian keluarga khususnya dalam masa pandemiini. Maka itu dalam jurnal ini di paparkan bagaimanakah istri yang cakap itu, bagaimanadia memperkenankan hati suaminya, bagaimana dia boleh menjadi seorang perencana yang baik yang sangat menolong dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dan apa yang dilakukannya semua karena komitment pernikahan.
Menelisik Ketuhanan Yesus dalam Frasa “Eloi Eloi Lama Sabakthani”: Analisis Tekstual Markus 15:34 Marianus Patora; Nunuk Rinukti; Devi Maria Bungaa
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.74

Abstract

There are doubts about the divinity of Jesus from non-Christian circles and the limited understanding of lay Christians in providing an explanation of the phrase Eloi Eloi Lama Sabaktani. This research is a study of the meaning of the phrase "Eloi Eloi Lama Sabakthani" as well as the Christian faith's answer to questions about the doubts of Jesus' divinity through his words on the cross. [A1] This study uses a qualitative method with an exegetical exposition approach [A2] to Inil Markus 15:34. Thus, it can be concluded that the meaning of the phrase “Eloi Eloi Lama Sabakthani” is a condition of separation between Jesus and God the Father. Jesus was abandoned by God the Father because He became a substitute for sinners, namely to replace man's position before God and reconcile man's relationship with God which had been damaged by sin, redeemed man who was in the curse of sin and justified human existence in perfect righteousness before God.  AbstrakAdanya keraguan tentang Keilahian Yesus dari kalangan non ktistiani dan  keterbatasan pemahaman kalangan awam kristiani dalam memberikan penjelesan tentang frasa Eloi Eloi Lama Sabaktani. Penelitian ini merupakan suatu kajian terhadap pemaknaan frasa “Eloi Eloi Lama Sabakthani” sekaligus sebagai jawaban iman Kristen terhadap pertanyaan-pertanyaan atas keraguan keilahian Yesus melalui perkataannya di atas kayu salib. Penelitian ini mengunakan metode Kualitatif dengan pendekatanan eksposisi eksegesa  terhadap Inil Markus 15:34.  Dengan demikian, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa makna dari frasa “Eloi Eloi Lama Sabakthani” merupakan suatu kondisi keterpisahan antara Yesus dan Allah Bapa. Yesus ditinggalkan Allah Bapa karena Ia menjadi penganti orang berdosa, yaitu untuk menganti posisi manusia dihadapan Allah dan mendamaikan hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak karena dosa, menebus manusia yang ada dalam kutuk dosa dan membenarkan keberadaan manusia dalam kebenaran yang sempurna dihadapan Allah.   
Kajian Teologis terhadap Praktik Peperangan Rohani Ferry Setiawan Budi
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.97

Abstract

Topik Peperangan Rohani ini telah berulang kali dibahas dalam pertemuan-pertemuan Kegerakan Lausanne, suatu kegerakan Injili yang dipelopori oleh Billy Graham, John Stott dkk. Dampaknya terhadap keberhasilan penginjilan, telah dapat diterima oleh kalangan injili. Walaupun demikian, salah satu subtopiknya yaitu Peperangan Rohani di Tingkat Strategis menghadapi roh-roh penguasa wilayah masih mendapat perdebatan. Peperangan Rohani Tingkat Strategis secara alkitabiah, bagaimana melakukannya misalnya melalui doa syafaat dan pemetaan rohani; apa saja dampaknya serta seberapa erat kaitannya terhadap pertumbuhan salah satu gereja injili di DKI Jakarta.  Penelitian dilakukan secara kualitatif secara studi kasus Ex-Post Facto, terhadap Gereja Jemaat Kristen Indonesia Hananeel.

Page 1 of 2 | Total Record : 14