cover
Contact Name
Aan Hasanah
Contact Email
dna.mika@unsur.ac.id
Phone
+628999216842
Journal Mail Official
dna.mika@unsur.ac.id
Editorial Address
https://jurnal.unsur.ac.id/dinamika/about/editorialTeam
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
ISSN : -     EISSN : 27158381     DOI : -
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya is a scientific journal published by Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Program Magister, Universitas Suryakancana that covers various issues related to the learning of bahasa Indonesia. The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been studied in the area of Indonesian language-literature, art, and teaching.
Articles 117 Documents
Stimulasi Linguistik Melalui Tiktok dan Lingkungan Sosial pada Anak Usia 3–6 Tahun: Analisis Behaviorisme Skinner Haerana Haerana; Juanda Juanda*; Nensilianti Nensilianti
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5871

Abstract

This study aims to describe the utilization of the TikTok platform as a medium for language acquisition among children aged 3–6 years, viewed through a psycholinguistic approach using B.F. Skinner’s Behaviorist Theory. The research focuses on identifying linguistic stimuli presented in TikTok content, children’s verbal responses (including mand, tact, echoic, and intraverbal), and reinforcement patterns that support language acquisition. This research applies a descriptive qualitative method, with data derived from educational TikTok accounts such as @belajardariibu_, @dhaneswara.kids, and @dunia.edukasianak_, along with observations of children’s interactions with these contents. Data analysis followed the three stages of Miles and Huberman’s model: data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that TikTok provides rich linguistic stimuli in the form of audio, visual, and textual cues that attract children’s attention. Verbal responses emerged in the form of imitation, object naming, and simple question–answer exchanges. Positive reinforcement from parents and the surrounding environment plays a crucial role in strengthening these responses, enabling the effective operation of the stimulus–response–reinforcement process. Consequently, TikTok can serve as an interactive and effective tool for early language learning when used under proper supervision and guidance.Keywords: acquisition; behaviorism;  children; TikTok Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan platform TikTok sebagai media pemerolehan bahasa anak usia 3–6 tahun melalui pendekatan psikolinguistik dengan menggunakan teori Behaviorisme B.F. Skinner. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk stimulus linguistik yang muncul dalam konten TikTok, respons verbal anak (meliputi mand, tact, echoic, dan intraverbal), serta bentuk penguatan (reinforcement) yang mendukung pemerolehan bahasa anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan sumber data berupa video TikTok dari akun edukatif seperti @belajardariibu_, @dhaneswara.kids, dan @dunia.edukasianak_, serta hasil observasi terhadap anak usia dini berinteraksi dengan konten tersebut. Data dianalisis menggunakan tiga tahapan analisis Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok memberikan stimulus linguistik berupa suara, gambar, dan teks yang menarik perhatian anak. Respons anak tampak melalui perilaku verbal seperti meniru, menamai objek, hingga merespons pertanyaan sederhana. Penguatan positif dari orang tua dan lingkungan berperan penting dalam memperkuat respons anak, sehingga proses stimulus–respons–reinforcement berjalan secara efektif. Dengan demikian, TikTok dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran bahasa yang interaktif, selama terdapat pengawasan dan pengarahan dari orang dewasa.Kata Kunci: pemerolehan; behaviorisme;  anak; TikTok
Representasi Gender dalam Media Sosial TikTok: Kajian Semiotika Visual Sosial Theo van Leeuwen dan Gunther Kress Wulan Fadillah; Juanda Juanda*; Nensilianti Nensilianti
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5889

Abstract

This article will describe forms of gender representation in TikTok video content based on Theo van Leeuwen and Gunther Kress's theory of Social Visual Semiotics. The research was conducted using a descriptive qualitative approach with an analysis of three visual metafunctions: representational meaning, interactional meaning, and compositional meaning. Data were obtained through documentation techniques and non-participant observation of gender-themed TikTok content. The results show that TikTok is a multimodal space that displays various forms of gender representation, ranging from the reinforcement of traditional stereotypes to resistance to gender role constraints. Multimodal elements such as visuals, text, audio, gestures, camera angles, and lighting work simultaneously to shape social meaning. TikTok thus functions as an ideological arena that helps build public awareness of gender equality.Keywords: multimodality; gender representation; social visual semiotics; TikTokArtikel ini akan mendeskripsikan bentuk representasi gender dalam konten video TikTok berdasarkan teori Semiotika Visual Sosial Theo van Leeuwen dan Gunther Kress. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis tiga metafungsi visual, yaitu representational meaning, interactional meaning, dan compositional meaning. Data diperoleh melalui teknik dokumentasi dan observasi nonpartisipan terhadap konten TikTok bertema gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TikTok menjadi ruang multimodal yang menampilkan beragam bentuk representasi gender, mulai dari penguatan stereotip tradisional hingga resistensi terhadap batasan peran gender. Elemen multimodal seperti visual, teks, audio, gestur, sudut pandang kamera, dan pencahayaan bekerja secara simultan membentuk makna sosial. TikTok dengan demikian berfungsi sebagai arena ideologis yang turut membangun kesadaran masyarakat terhadap kesetaraan gender.Kata kunci: multimodalitas; representasi gender; semiotika visual sosial; TikTok 
Kesantunan Berbahasa dalam Novel "Dunia Nadhira" karya Alnira: Kajian Pragmatik Brown dan Levinson Ningrum Amalia Putri*; Mahmudah Mahmudah; Faisal Faisal
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5900

Abstract

This article will describe the forms of politeness strategies in utterances or quotations in the novel and identify the most frequently used strategies in Alnira's novel "Dunia Nadhira" using Brown and Levinson's pragmatics. This research is a qualitative descriptive study using content analysis techniques. The data sources in this study are utterances or quotations contained in the novel published in 2018. Data collection techniques used include documentation techniques, namely listening, reading, and note-taking. The results show that four politeness strategies found by Brown and Levinson in utterances or quotations in the novel: positive politeness strategies, negative politeness strategies, direct strategies, indirect strategies, with the most dominant strategy found being positive politeness strategies. It can be concluded that in this study, politeness is not only found in everyday life but is also applied in literary works, novels, and to understand each context of speech, to whom, when, and where the speaker is communicating.Keywords: language; politeness; novel; pragmatics; strategy Abstrak Artikel ini akan mendeskripsikan bentuk strategi kesantunan berbahasa pada tuturan atau kutipan dalam novel dan mengidentifikasi strategi yang paling sering digunakan dalam novel “Dunia Nadhira” karya Alnira dengan menggunakan kajian pragmatik Brown dan Levinson. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif kualitatif  dengan teknik analisis isi. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan atau kutipan yang terdapat dalam novel yang diterbitkan pada tahun 2018. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi teknik dokumentasi yaitu simak, baca, dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan empat strategi kesantunan Brown dan Levinson yang terdapat pada tuturan atau kutipan dalam novel, yaitu strategi kesantunan positif, strategi kesantunan negatif, strategi langsung, strategi tidak langsung, dan strategi yang paling dominan yang ditemukan adalah strategi kesantunan positif. Dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini kesantunan berbahasa tidak hanya terdapat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga diterapkan dalam karya sastra novel dan untuk memahami setiap konteks tuturan kepada siapa, kapan, di mana penutur berkomunikasi.Kata kunci: berbahasa; kesantunan; novel; pragmatik; strategi
Gangguan Kejiwaan Tokoh Utama “Perempuan dan Ilusinya” Karya Adhyra Pratama: Kajian Psikologi Sigmund Freud Salsabilla Anggelina Putri
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5903

Abstract

This article will describe the psychological state of the main character in the play "Perempuan dan Ilusinya" by Adhyra Pratama, using the concepts of id, ego, and superego based on Sigmund Freud's psychoanalytic theory. This study employed a qualitative descriptive method with an analytical critical approach. The research data consisted of dialogue excerpts reflecting aspects of Aini's personality and mental state. The data analysis technique was conducted by reading the play script, taking notes, and identifying dialogue excerpts related to Aini's mental state. The research findings indicate that Aini's mental state is disturbed by loneliness and her desire to feel the warmth of a complete family, leading her to create an imaginary child (AK) through her illusion. Aini's dominant id drives her to create an imaginary child (AK) through her illusion. Aini's ego is so weak that it makes her unable to resist and control her id. The superego, which appears through the Shadow Antagonist (BA), serves as a reminder to Aini that her child is merely an illusion she created.Keywords: drama; illusion; psychology; character Abstrak Artikel ini akan mendeskripsikan  kondisi psikologi tokoh utama dalam naskah drama “Perempuan dan Ilusinya” karya Adhyra Pratama dengan konsep id, ego, dan superego berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan kritik analitis. Data penelitian berupa kutipan-kutipan dialog yang mencerminkan aspek kepribadian dan kondisi kejiwaan Aini. Teknik analisis data penelitian dilakukan dengan cara membaca naskah drama, mencatat, dan mengidentifikasi kutipan-kutipan dialog yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan Aini.  Temuan penelitian menunjukkan bahwa kondisi kejiwaan Aini terganggu akibat dari rasa kesepian dan keinginannya untuk merasakan kehangatan hadirnya sebuah keluarga yang utuh, sehingga ia menciptakan anak khayalan (AK) melalui ilusinya. Id Aini yang begitu mendominasi mendorongannya untuk menciptakan seorang (AK) melalui ilusinya. Ego Aini yang begitu lemah, sehingga membuatnya tidak mampu untuk melawan dan mengendalikan id. Superego yang datang melalui Bayangan Antagonis (BA) menjadi pengingat bagi Aini bahwa anaknya itu hanya sebuah ilusi yang ia ciptakan.Kata kunci:  drama;  ilusi; psikologis;  tokoh
Senja dalam Intertekstualitas Riffaterre pada Naskah Drama "Janji Senja" dan Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" Dinda Listiana Awali*; Moh. Badrus Solichin
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5904

Abstract

This study aims to examine the intertextual relationship between the drama Janji Senja by Taofan Nalisaputra and the poem Senja di Pelabuhan Kecil by Chairil Anwar through symbolic analysis based on Riffaterre’s semiotic framework. The urgency of this research lies in the limited studies that specifically explore the transformation of the symbol “dusk” across genres within a heuristic and hermeneutic reading, where symbols serve as the core of textual meaning. This research employs a qualitative-descriptive method using primary texts and supporting theoretical literature. The findings reveal that both texts share the same matrix of meaning, positioning dusk as a representation of loss and absence. However, the drama develops a new model by framing dusk as a space of prolonged waiting and introduces a symbolic variant through its personification as a father figure. This transformation demonstrates that Janji Senja does not merely reproduce the symbol found in Chairil’s poem but expands its meaning, enriching the tradition of dusk symbolism in Indonesian literature. Keywords: heuristic–hermeneutics; intertextuality; Riffaterre; twilight Artikel ini akan mengungkap hubungan intertekstual antara naskah drama “Janji Senja” karya Taofan Nalisaputra dan puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwarmelalui analisis simbolik dengan pendekatan semiotik Riffaterre. Urgensi penelitian terletak pada minimnya kajian yang secara khusus menelaah transformasi simbol “senja” lintas-genre, terutama dalam kerangka pembacaan heuristik dan hermeneutik yang menempatkan simbol sebagai pusat struktur makna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan sumber data berupa teks primer dan literatur teoritis pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua teks memiliki matriks makna yang sama, yaitu senja sebagai representasi kehilangan dan ketiadaan, namun drama mengembangkan model baru berupa senja sebagai ruang penantian dan menghasilkan varian simbolik melalui personifikasi senja sebagai figur ayah. Transformasi makna ini menegaskan bahwa Janji Senja tidak hanya mereproduksi simbol dari puisi Chairil, tetapi menciptakan perluasan makna yang memperkaya tradisi simbol senja dalam sastra Indonesia Kata kunci: heuristik–hermeneutik; intertekstualitas; Riffaterre; senja
Ekletisisme, Ironi, dan Parodi dalam Novel Amore: By Your Side karya Bulan Nosarios (Pascamodernisme Jean Francois Lyotard) Yultriani Damat*; Aslan Abidin; Nensilianti Nensilianti
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5960

Abstract

This aticle describe the form of eclecticism, irony, and parody in the novel Amore: by Your Side using the theory of postmodernism Jean Francois Lyotard. This type of research is descriptive qualitative by analyzing the text of the novel based on postmodern aspects. The results showed that eclecticism is present through three forms, namely eclecticism as a plurality of global music references, eclecticism through a blend of global culture in lifestyle, to eclecticism in a plurality of language games in the form of communication styles of the characters who often combine Indonesian with foreign languages such as English and French. The form of the aspect of irony is present in two forms, namely irony related to the contradiction of expectations and reality, as well as the irony of love and the uncertainty of feelings that reflect the ambiguity of postmodern life. As for the form of parody aspect appears through the form of parody of romance romance and parody of social life presented in a reflective, humorous and witty. Overall, these three aspects show that the novel Amore: by Your Side represents the spirit of Lyotard's postmodernism, namely the plurality of meanings, the rejection of a single truth, and the celebration of cultural diversity and forms of expression. Keywords: eclecticism; irony; novel; parody; postmodernism Artikel ini mendeskripsikan bentuk ekletisisme, ironi, dan parodi dalam novel Amore: By Your Side menggunakan teori pascamodernisme Jean Francois Lyotard. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menganalisis teks novel berdasarkan aspek-aspek pascamodern. Hasil penelitian menunjukkan ekletisisme hadir melalui tiga bentuk yakni ekletisisme sebagai pluralitas referensi musik global, ekletisisme melalui perpaduan budaya global dalam gaya hidup, hingga ekletisisme dalam pluralitas permainan bahasa berupa gaya komunikasi tokoh-tokohnya yang sering memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing seperti Inggris dan Prancis. Bentuk aspek ironi hadir dalam dua bentuk, yaitu ironi yang berkaitan dengan kontradiksi harapan dan kenyataan, serta ironi cinta dan ketidakpastian perasaan yang mencerminkan ambiguitas kehidupan pascamodern. Adapun bentuk aspek parodi muncul melalui bentuk parodi terhadap romansa percintaan dan parodi kehidupan sosial yang disajikan secara reflektif, humor dan jenaka. Secara keseluruhan, ketiga aspek ini menunjukkan bahwa novel Amore: By Your Side merepresentasikan semangat pascamodernisme Lyotard, yakni pluralitas makna, penolakan terhadap kebenaran tunggal, dan perayaan terhadap keberagaman budaya serta bentuk ekspresi. Kata kunci: ekletisisme; ironi; novel; parodi; pascamodernisme
Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert Tokoh Utama dalam Film "200 Pounds Beauty" Versi Korea dan Indonesia: Psikologi Analitik Carl Gustav Jung Nensilianti Nensilianti; Ridwan Ridwan; Nurul Syafiqah
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5986

Abstract

This article describe the comparison between extroverted and introverted characteristics of the main characters in the Korean version (2006) and the Indonesian version (2023) of the film 200 Pounds Beauty using Carl Gustav Jung’s analytical psychology approach. This approach was chosen because it can reveal personality dynamics through four psychic functions thinking, feeling, sensing, and intuition that shape an individual’s extroverted and introverted orientations. The research employs a qualitative descriptive method with a comparative design, using literature study and documentation techniques on both films. The data, consisting of dialogues, scenes, and expressions of the main characters, were analyzed to identify personality traits based on Jung’s theory.The results show that in the Korean version, the character Hanna/Jenny tends to be extroverted, demonstrated by her courage to appear in public and her pursuit of social recognition, while still harboring inner conflicts that reveal her introverted side. Meanwhile, in the Indonesian version, the character Juwita/Angel displays a balance between the two types, with a dominant introverted nature reflected through self-reflection, guilt, and moral awareness of her identity. Cultural differences also influence the expression of personality and the social values presented. This study concludes that Jung’s analytical psychology theory is effective for analyzing personality in cross-cultural films and understanding the process of self-acceptance.Keywords: analytical psychology; Carl Gustav Jung; extrovert; introvertArtikel ini  memaparkan komparasi karakter ekstrovert dan introvert tokoh utama dalam film 200 Pounds Beauty versi Korea (2006) dan versi Indonesia (2023) menggunakan pendekatan psikologi analitik Carl Gustav Jung. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap dinamika kepribadian melalui empat fungsi psikis pikiran, perasaan, pengindraan, dan intuisi yang membentuk orientasi ekstrovert dan introvert individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain komparatif dan teknik studi pustaka serta dokumentasi terhadap kedua film. Data berupa dialog, adegan, dan ekspresi tokoh utama dianalisis untuk menemukan ciri kepribadian berdasarkan teori Jung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam versi Korea, tokoh Hanna/Jenny cenderung ekstrovert dengan keberanian tampil di ruang publik dan pencarian pengakuan sosial, namun tetap menyimpan konflik batin yang memperlihatkan sisi introvert. Sementara itu, tokoh Juwita/Angel dalam versi Indonesia memperlihatkan keseimbangan antara kedua tipe, dengan dominasi sifat introvert yang tercermin melalui refleksi diri, rasa bersalah, dan kesadaran moral terhadap identitasnya. Tokoh utama dalam kedua versi film menunjukkan ekspresi kepribadian yang berbeda dalam menanggapi konflik batin dan pencarian jati diri. Penelitian ini menegaskan bahwa teori psikologi analitik Jung efektif digunakan untuk menganalisis kepribadian tokoh dalam film dan memahami proses penerimaan diri melalui dinamika fungsi psikis.Kata kunci: Carl Gustav Jung; ekstrovert;  introvert;  psikologi analitik

Page 12 of 12 | Total Record : 117