cover
Contact Name
Kukuh Kurniawan Dwi Sungkono
Contact Email
kukuh.kurniawan@lecture.utp.ac.id
Phone
+6281326666114
Journal Mail Official
jtsa@utp.ac.id
Editorial Address
Jl. M. Walanda Marimis No.31 Cengklik, Surakarta
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
ISSN : 28079418     EISSN : 25982257     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur dibentuk sebagai wadah publikasi karya ilmiah dibidang teknik sipil dan arsitektur.
Articles 350 Documents
TIPOMORFOLOGI TATA LETAK BANGUNAN KANTOR ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA PERIODE TAHUN 1870-1940 DI SEMARANG DWI SUCI SRI LESTARI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia yang pada masa pra kemerdekaan disebut para leluhur sebagai Nusantara, dari segi penjajah/kolonial Belanda mereka sebut Hindia Belanda. Kolonial Belanda banyak meninggalkan arsitekturnya di masa lalu pada hamper seluruh wilayah negeri ini, tak terkecuali kota Semarang. Semarang sebagai kota pelabuhan, pada era kolonialisme Belanda kota ini berperan strategis bagi penyelenggaraan kegiatan supply pangan, komersial maupun pertahanan keamanan mereka. Antara lain terwujud dalam bangunan kantor.   Pada periode tahun 1870-1940 sejak diterbitkannya Undang-Undang Agraris adanya Cultuurstelsel dan adanya politik etis, hingga pada era surutnya arsitektur kolonial pada tahun 1940, di Semarang terdapat banyak bangunan kantor yang hingga kini masih dilestarikan, meski terdapat pula yang sudah terlanjur didemolisi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali macam tipologi dan morfologi  bangunan yang berfungsi awal kantor, dalam periode antara tahun 1870-1940.  Penggalian tipomorfologinya, ditelusur dari pengaruh arsitektur Belanda dan Negara sekitarnya yang terbawa dan mempengaruhi arsitektur lokal Jawa; baik dalam wujud yang masih kental karakter asal Eropanya, maupun yang lebih berimbang sebagai persenyawaan antara kedua karakternya.Baik dalam aspek tata letak, tata ruang dan bentuk arsitektural. Macam metoda penelitiannya, deskriptik analitis kualitatif. Hasil penelitiannya, macam tipomorfologi bangunan kantor di Semarang, baik yang berlokasi di kota lama Semarang, maupun di luar sekitarnya. Pertama, adalah tipologi sejenis dengan bangunan komersial  Eropa abad XVII. Kedua, serupa dengan tipe bangunan kantor merangkap rumah dinas di kota-kota lama di Nederland. Ketiga, Berdenah layaknya bangunan publik masa awal Arsitektur Modern, yang berperencanaan open plan Keempat, kurang spesifik sebagai bangunan karena  mirip denah bangunan rumah tinggal.
UNGKAPAN BENTUK DAN MAKNA FILOSOFI DALAM KAIDAH ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL JAWA DI ERA MODERNISASI ABITO BAMBAN YUUWONO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya jawa telah dikenal dunia sebagai budaya yang adiluhung, hal ini tidak lepas dari pandangan hidup dalam budaya jawa yang memahami hidup sebagai hanya semata karena tuhan yang maha kuasa (uriping manungso mung sakdermo), dan hidup itu hanya singkat (uriping menungso ibarat mung mampir ngombe) hal ini melebur dan mendasari semua aspek dalam kehidupan sosial budaya masyarakat jawa, dimana karya-karya budaya jawa didedikasikan kepada pemahaman akan dari mana asal kehidupan, apa yang harus dilakukan dalam kehidupan ini, hingga akhirnya akan kembali lagi kepada tuhan, hal ini terlihat dalam mengekspresikan pikiran kedalam karya-karya seni (wayang, bathik, tosan aji, tarian, tembang-tembang, dll.), bentuk arsitektur rumah tradisional jawa, maupun prilaku sebagai individu maupun dalam tatanan bersosial dan bermasyarakat, dimana semua itu ditujukan kepada pengagungan kepada tuhan dan penghormatan kepada nilai-nilai kehidupan. Karya budaya jawa dapat dilihat dlam dua aspek yaitu aspek fisik dan aspek yang menjiwai, sehingga semua ditampilkan dalam bentuk fisik yang serba indah, cantik, dan merdu agar orang tertarik untuk melihat, mendengar,atau membaca kemudian dapat menikmati dan menghayati sehingga akan menemukan makna atau pesan- pesan simbolik yang terkandung didalamnya hingga pada akhirnya dapat mengingatkan, menyadarkan, dan dpat menjadi sarana membentuk tatanan dalam kehidupan sosial masyarakat jawa, sehingga dapat disimpulkan bahwa karya budaya jawa dituntut untuk dapat memenuhi tiga unsur yaitu sebagai sesuatu yang menarik, mengandung pesan-pesan/ajaran, dan dapat membentuk pola aturan dalam masyarakat (tontonan, tuntunan dan tatanan). Bertolak dari pemahaman tersebut maka dapat diulas bagaimana makna bentuk arsitektur rumah tradisional jawa, apa yang melandasi bentuk-bentuk tersebut, pesan-pesan simbolik apakah yang akan disampaikan dan apa tujuan yang hendak dicapai. Waktu terus berjalan kemasa depan sehingga kita dituntut untuk bisa arif dan bijaksana dalam menghadapi modernisasi dan perkembangan tuntutan jaman,  kemudian bagaimana kita memahami dan mensikapi nilai-nilai arsitektur tradisional jawa dalam era modern ini.
UNSUR ESTETIKA PADA STRUKTUR KABEL DALAM BANGUNAN ARSITEKTUR MODEREN DJOKO PRATIKTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bicara tentang struktur dan konstruksi maka image yang ada di benak kita adalah terkait dengan kekuatan, kekokohan, tahan beban, gaya tarik, gaya tekan dan lain sebagainya. Namun kalau dikaji lebih dalam lagi, ada beberapa struktur yang mempunyai nilai estetika yang tinggi yang dapat menunjang keindahan suatu bangunan arsitektur, antara lain bangunan hightrise building ( mall, hotel, office), bangunan yang mempunyai bentang panjang, bangunan bandar udara, pelabuhan, terminal, bangunan jembatan bentang panjang dan lain sebagainya. Kekokohan dan kekuatan yang ada pada struktur yang kadang-kadang membuat para arsitek/perencana bangunan lupa bahwa di balik kekokohan dan kekuatan dalam sistem struktur terkandung nilai-nilai estetika yang menunjang keindahan dalam penampilan arsitektur. Dengan demikian, kalau para arsitek jeli terhadap sistem struktur yang diterapkan dalam desain bangunan, maka akan dapat menimbulkan suatu keterpaduan antara kekokohan kekuatan dan keindahan bangunan Arsitektur. Salah satu sistem struktur yang mempunyai nilai keindahan atau estetika tersebut adalah sistem struktur kabel. Kabel adalah suatu bahan dari baja atau bahan lainnya yang dapat digunakan sebagai salah satu unsur sistem struktur/konstruksi  bangunan karena sifatnya yang dapat menahan gaya tarik dan gaya tekan bila diregangkan.Kabel sebagai material konstruksi sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno.Pada saat itu kabel dibuat dari serat alami.Pada abad pertengahan Leonardo da Vinci (1452 – 1519) sudah membuat sketsa gambar konstruksi jembatan dengan sistem kabel-kabel penahan girder jembatan.Sejak akhir abad ke-19, mulai digunakan kabel-kabel dari bahan metal besi/baja, di mana penggunaannya masih terbatas untuk konstruksi jembatan berbentang lebar. Tetapi kini para arsitek pun dapat menggunakan struktur kabel untuk menciptakan bangunan dengan ruangan dalam yang luas, dengan kesan ringan, anggun, dan transparan. Melalui kajian yang dilakukan dalam penelitian beberapa tahun yang lalu tulisan ini dibuat dengan menambahkan materi dan bahasan disesuaikan dengan perkembangan desain arsitektur modern pada masa kini khususnya desain bangunan yang menggunakan sistem struktur kabel sebagai struktur utamanya.
IDENTIFIKASI SIRKULASI DAN PARKIR DALAM KONTEKS PENGENDALIAN ARSITEKTUR DAN PRESERVASI JALAN JENDERAL SUDIRMAN KOTA SURAKARTA DJUMIKO DJUMIKO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sirkulasi  dan parkir pada suatu kota berkaitan dengan aspek-aspek perancangan urban lainnya. Keseluruhan aspek perancangan urban  terdiri dari: tata guna lahan, masa dan bentuk bangunan, sirkulasi dan parkir, ruang terbuka, jalur pedestrian, pendukung kegiatan, tanda-tanda, dan preservasi. Oleh sebab itu, sirkulasi dan parkir kota tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek urban dimaksud. Sistem sirkulasi kota sebagai suatu sarana pergerakan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lainnya pada dasarnya merupakan media transportasi,sedangkan parkir sebagai tempat pemberhentian  kendaraan. Penelitian ini mengambil lokasi di Jalan Jenderal Sudirman kota Surakarta,  untuk mengetahui kondisi sirkulasi dan parkir di Jalan Jenderal Sudirman dilakukandengan metoda survey dan observasi lapangan, serta studi literature. Hasilnya Jalan Jenderal Sudirman menggunakan dua arus lalu-lintas, dilewati  mobil, sepeda motor, pejalan kaki, dengan kepadatan lalu-lintas yang tinggi. Sedangkan parkir terdapat di dalam tapak masing-masing bangunan, khusus tapak pada Benteng Vastenburg digunakan untuk parkir umum.Sirkulasi dalam konteks pengendalian arsitektur sudah terbentuk  streetscape  yang menarik dan unik, sedangkan dalam konteks preservasi bangunan disusun dengan tata masa setback, sehingga tidak mengganggu konstruksi bangunan, dan terdapat hubungan dengan jalan lainnya sehingga  mendapatkan keuntungan aksesibilitas ke pusat kota lama Surakarta.
TATA MASA BANGUNAN PUSAT KOTA LAMA SURAKARTA DWI SUCI SRI LESTARI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota lama Surakarta, merupakan transformasi negara kota tradisional Mataram-Islam,yang disusun dari empat komponen: keraton, Alun-alun, masjid, dan pasar yang  disebut Catur Tunggal, disusun berdasarkan konsep kosmologi berorientasikan pada sumbu Utara-Selatan Hutan Krendowahono-Laut Kidul dan Timur-Barat Gunung Lawu-Gunung Merapi. Sumbu kosmologi utara-selatan, dari selatan ke utara adalah jalan Gading Kidul-jalan Pakubuwono-jalan Jenderal Sudirman.Dalam perkembangannya, pusat kota lamatradisional Surakarta diintervensi oleh kolonial Belanda. Khususnya pada jalan Jenderal Sudirman dibangun oleh Belanda,muncul bangunan-bangunan yang hingga kini masih ada: Benteng  Vastenburg, Bank Indonesia dan Gereja Katolik St. Antonius. Tujuan pembahasan, untuk mengidentifikasi tata masa bangunan  di jalan Jenderal Sudirman kota Surakarta, dilakukan dengan metoda survei, observasi lapangan, serta eksplorasi pustaka. Dihasilkan bahwatata masa bangunan komponen pokokCatur Tunggal dimaksud, yang berarsitektur tradisional Jawa, bertinggi bangunan  satu sampai dengan dua lantai, berkomposisi open plan. Sedangkan bagi bangunan kolonial Belandanya,bertata masa awal tunggal kemudian berkembang jamak berkomposisi open plan.
KAJIAN ULANG MANAJEMEN PENGADAAN JASA PEKERJAAN KONSTRUKSI GATOT NURSETYO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengadaan barang dan jasa (procurement) dalam proyek konstruksi dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain : pelelangan umum, pelelangan terbatas, pemilihan langsung dan penunjukkan langsung. Proses pengadaan barang/jasa dalam proyek konstruksi yang menggunakan sistem pelelangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu : pelelangan pasca kualifikasi dan pelelangan prakualifikasi. Dalam pelelangan pasca kualifikasi, semua penyedia jasa yang memenuhi syarat dapat ikut dalam pelelangan; sedangkan dalam pelelangan Prakualifikasi yang diijinkan ikut adalah penyedia barang / jasa yang lulus kualifikasi diundang oleh pengguna jasa (klien konstruksi). Pengguna jasa / klien konstruksi seharusnya mempunyai kriteria penilaian yang lebih baik dalam memilih kontraktor, di samping pertimbangan wajarnya harga penawaran yang diajukan kontraktor peserta tender. Jika kriteria-kriteria tersebut dapat diidentifikasi dan tingkat kepentingan masing-masing kriteria tersebut diketahui, maka pengembangan model ( framework) pemilihan kontraktor yang objektif dapat dijembatani. Pengguna jasa selanjutnya dapat menerapkan metode pemilihan kontraktor yang obyektif untuk mendapatkan penyedia jasa / kontraktor yang sesuai dengan proyek yang ditawarkan. Pemilihan kontraktor merupakan salah satu tahapan penting yang menentukan keberhasilan proyek konstruksi. Karena itu dalam tahap prakualifikasi untuk memilih kontraktor, seharusnya terdapat faktor kriteria seleksi yang lebih baik; di samping faktor harga penawaran yang diajukan kontraktor. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang dianggap penting bagi pengguna jasa /  klien proyek konstruksi dalam proses pemilihan kontraktor yang meliputi : faktor kemampuan peralatan, kemampuan personil, keuangan, pengalaman kerja, catatan kegagalan, penerapan asuransi dan keselamatan kerja.
PERAN ARSITEK PROFESIONAL DALAM PENGUASAAN BUILD ABILITY DAN DESIGN ABILITY SEBAGAI COMPETITIVE ADVANTAGE MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS ASEAN INDRO SULISTYANTO
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesepakatan Uruguay Round/GATT tanggal 15 April 1994, yang tidak hanya mengatur Trade in Goods and Services, namun juga Invesment dan Intelectual Property Right dan terbentuknya World Trade Organization (WTO), sebagai pengganti GATT (General Agreement in Trade and Tarriff). Indonesia sendiri telah meratifisir Uruguay Round 1994, dan akan memasuki era perdagangan bebas secara penuh pada Tahun 2020.  Sedangkan sebagai negara ASEAN, saat ini telah disepakati era perdagangan bebas ASEAN (MEA), yang berlaku mulai Tahun 2015. Liberalisasi perdagangan atau perdagangan bebas dapat diartikan adanya jaminan lalu-lintas barang, jasa, modal, dan manusia tanpa hambatan tarif, kuota, atau perlakuan khusus, berdasarkan prinsip MFN (Most Favored Nation). Semua negara akan diperlakukan sama dalam perdagangan (equality to bussiness), tidak akan ada lagi pilih kasih atau diskriminasi, favoritisme, maupun hak istimewa (GSP dan kuota), dan dihapuskannya proteksi di segala bentuk. Bagi Indonesia era perdagangan bebas berarti kemampuan untuk menjadikan komoditi ekspor yang memiliki unggulan daya saing tinggi (competitive advantage) dan tenaga ahli (intelectual property) Indonesia yang diharapkan mampu menjadi salah satu komoditi di pasar global, tidak terbatas untuk pasar dalam negeri, tetapi mampu menjadi experties di luar negeri. Perlu kesiapan yang benar-benar matang bagi Arsitek Profesional dan tidak terpaku menjadi konsumen, namun pengekspor Arsitek Profesional yang benar-benar siap bersaing di era perdagangan bebas. Salah satu kondisi yang harus diantisipasi oleh Arsitek Profesional di Indonesia adalah dengan masuknya para investor dan pengembang asing yang relatif mempunyai modal dan kemampuan (skill) tinggi. Pada saatnya persaingan para pelaku jasa arsitektur akan meningkat dengan ketat, sehingga pada akhirnya hanya produk rancangan dan hasil rekayasa bangunan yang berkualitas tinggi saja yang akan mampu bersaing. Arsitek merupakan salah satu tenaga ahli yang memberikan kontribusi menentukan di bidang rancang-bangun, dan diharapkan dapat secara profesional berperan pada  perancangan dan rekayasa bangunan. Kemampuan profesional ini merupakan salah satu syarat penting untuk mampu bersaing secara bebas dalam era globalisasi. Wawasan Arsitek yang secara profesional mampu menghayati dan menuangkan ide dan gagasannya secara runtut dalam kesatuan proses pembangunan yang sistematik, dengan penguasaan build ability dan design ability yang diprediksikan akan mampu secara menyeluruh dan runtut melakukan keseluruhan proses pembangunan yang terlanjutkan.
KETAATAN TERHADAP REGULASI KOEFISIEN DASAR BANGUNAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMINIMALISIR TERJADINYA DEGRADASI KUALITAS LINGKUNGAN KOTA SURAKARTA RULLY RULLY
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap kota akan dihadapkan pada kondisi yang akan menunjukkan bahwa ketersediaan lahan untuk menjadi lahan terbangun akan semakin terbatas, hal ini yang akan menjadi melatar-belakangi perlunya ketaatan regulasi terhadap koefisien dasar bangunan agar kualitas lingkungan tetap dapat terjaga dengan baik dan lestari. Permsalahannya menjadi semakin meningkat terjadi pada beberapa koridor jalan potensial yang ada di setiap kota, menyebabkan beberapa kegiatan investasi yang semakin marak berkembang, mencoba untuk dapat merancang setiap bangunan dengan memaksimalkan setiap bagian lahan yang telah diakuisisi, dapat memberi nilai lebih terhadap perhitungan ekonomis (sebagai bentuk upaya investasi yang menguntungkan). Tujuan yang dari penelitian ini adalah diperolehnya upaya untuk mensiasati dilakukan dalam kegiatan perancangan dan pembangunan, dengan mengambil celah pada setiap peraturan yang telah ditetapkan dalam Regulasi tentang Tata Bangunan dan Lingkungan yang berlaku pada setiap bagian kawasan dapat terjaga dengan baik. Metoda penelitian yang digunakan sebagai upaya untuk dapat merunut secara terstruktur aspek-aspek data, analisis, dan hasil yang ingin diperoleh dari kegiatan penelitian yang disusun berdasarkan hipotesis: prediksi atas dis-sinkronisasi pemanfaatan ruang yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan (hidup maupun binaan) pada suatu kota, dengan mengambil kasus Kota Surakarta, yang diorientasikan pada pembuktian dari hipotesis yang diajukan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tersusunnya rancang-bangun dengan memaksimalkan ruang terbangun, dan meminimalkan ruang terbuka (termasuk di dalamnya berbagai ketentuan tentang keberadaan ruang terbuka hijau dan ketetapan tentang upaya yang harus dilakukan dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup dan lingkungan terbangunnya. Bagi Kota Surakarta yang menjadi kasus dari penelitian ini, melalui kebijakan dari Dinas Tata Ruang Kota (DTRK), Tim Ahli Bangunan  Gedung (TABG) menjadi kunci strategis dalam mengawali setiap kegiatan rancang-bangun di Kota Surakarta agar tetap dapat menjaga berbagai kriteria dalam penataan bangunan dan lingkungan, sesuai dengan Ijin Peruntukan Ruang (IPR) untuk setiap usulan kegiatan perancangan bangunan gedung, khususnya yang diprakirakan akan memberi dampak yang signifikan bagi kepentingan aktivitas masyarakat di Kota Surakarta.
ANALISIS SIMPANG TAK BERSINYAL DENGAN BUNDARAN SUMINA SUMINA
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi kasus di simpang Gladak Surakarta. Pada hakikatnya dilatar belakangi oleh kinerja simpang tersebut, dimana jenis kendaraan yang melewati simpang teridiri dari berbagai macam kendaraan seperti becak, sepeda, sepeda motor, mobil, bus, dan lain-lain. Hal tersebut perlu mendapat perhatian karena ramainya arus lalu lintas yang terjadi sehingga menyebabkan kemacetan terutama pada jam-jam sibuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa, pengaruh simpang tak bersinyal dengan bundaran terhadap kapasitas, derajat kejenuhan, tundaan dan peluang antrian yang terjadi pada simpang Gladak Surakarta.Metode penelitian yang digunakan dalam pengambilan data adalah observasi dan pencatatan secara langsung di lapangan. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer deperoleh dari hasil pengamatan langsung di lapangan, sedangkan data sekunder diperoleh dari hasil instansi terkait. Sebagai dasar penyelesaian atau analisa data digunakan rumusan yang terdapat pada Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) tahun 1997 untuk mengetahui tingkat pelayanan simpang.Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa dari survey pada senin 8 Desember 2008, tingkat pelayanan simpang Gladak Surakarta ini masih cukup baik. Pada jam puncak nilai kapasitasnya untuk bagian jalinan AB = 5858 smp/jam, bagian jalinan BC = 6799 smp/jam, bagian jalinan CD = 6008 smp/jam, bagian jalinan DA = 3199 smp/jam. Sedangkan derajat kejenuhannya (DS), bagian jalinan AB = 0,11, bagian jalinan BC = 0,10, bagian jalinan CD = 0,07 dan bagian jalinan DA = 0,01.Sedangkan kinerja pada tahun 2011 pada jam puncaknya nilai kapasitas diasumsikan sama dengan tahun 2008. Untuk derajat kejenuhannya (DS) bagian jalinan AB = 0,14, bagian jalinan BC = 0,11, bagian jalinan CD = 0,03 dan bagian jalinan DA = 0,01. Sehingga tingkat pelayanan simpang Gladak Surakarta in pada tahun 2011 tidak layak dalam melayani arus lalu lintas.
TINJAUAN ASPEK BUDAYA PADA PURA MANGKUNEGARAN SURAKARTA DALAM UPAYA MENGGALI IDE KONSEP RUMAH TINGGAL JAWA ENY KRISNAWATI
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arsitektur tradisional, dalam hal ini rumah tinggal Jawa merupakan salah satu identitas dari pendukung kebudayaan, yang mempunyai arti penting dalam kehidupan. Sebagai identitas maka arsitektur tradisional menjadi kebanggaan dari setiap pendukungnya. keraton Mangkunegaran sering juga disebut Pura atau Puri Mangkunegaran, yang didirikan oleh Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa dan bergelar Mangkunegara I, keanggunan arsitektur tradisional pada bangunan pura Mangkunegaran dari pola tata ruang, orientasi bangunan, bentuk bangunan sampai dengan wujud, rupa, ragam, atau bentuk. Sisi lain yang melandasi terjadinya bentuk fisik,  falsafah, konsep, tata nilai, ide, gagasan, makna atau isi. Bangunan pura Mangkunegaran merupakan bangunan rumah tinggal Pangeran, karena itu konsep yang diterapkan pada bangunan rumah tinggal Jawa berbeda dengan konsep keraton, namun tetap berkiblat pada konsep keratin.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 30 No 2 (2025): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol 30 No 1 (2025): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol 29 No 2 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol 29 No 1 (2024): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 28 No. 2 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 28 No. 1 (2023): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 27 No. 2 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 27 No. 1 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 26 No. 2 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 26 No. 1 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 25 No. 2 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 25 No. 1 (2020): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 24 No. 2 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 24 No. 1 (2019): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 23 No. 27 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 22 No. 26 (2018): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 21 No. 25 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 20 No. 24 (2017): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 19 No. 23 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 18 No. 22 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 17 No. 21 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 16 No. 20 (2015): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 15 No. 19 (2014): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 14 No. 18 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 13 No. 17 (2013): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 12 No. 16 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 11 No. 15 (2012): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 10 No. 14 (2011): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 9 No. 13 (2011): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12 (2010): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 7 No. 11 (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 6 No. 10 (2009): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 5 No. 9.A (2008): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 5 No. 9 (2008): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 4 No. 8 (2007): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 3 No. 7 (2006): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 2 No. 6 (2003): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 2 No. 5 (2003): JURNAL TEKNIL SIPIL DAN ARSITEKTUR Vol. 2 No. 4 (2002): jurnal teknik sipil dan arsitektur Vol. 2 No. 2 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 3 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 2 (2001): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR More Issue