Articles
380 Documents
EVALUASI DAN PERENCANAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN : Studi Kasus Jalan Kapten Mulyadi Kabupaten Karanganyar
Vicky Yoga Arisma;
Erni Mulyandari;
Teguh Yuono
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 27 No. 1 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36728/jtsa.v27i1.1645
Permasalahan yang ada pada Jalan Kapten Mulyadi yaitu munculnya genangan air ketika hujan turun. Hal tersebut terjadi akibat perubahan tata guna lahan dan kondisi eksisting saluran drainase yang ada tidak berfungsi secara maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya genangan, menghitung kapasitas saluran drainase eksisting, dan merencanakan ulang dimensi saluran drainase di lokasi tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu dengan melakukan survei terlebih dahulu di lokasi penelitian kemudian menganalisis data yang diperoleh dengan aturan yang berlaku di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa penampang saluran drainase eksisting kurang memadai atau terlalu kecil sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang agar saluran mampu menampung debit limpasan air hujan dan air dari perumahan sekitar sehingga tidak menimbulkan terjadinya genangan ataupun banjir. Adapun hasil perencanaan dimensi saluran drainase yang baru dengan menggunakan debit banjir kala ulang 25 tahun adalah sebagai berikut, nilai tinggi muka air dari dasar saluran (y) = 0,25 m; lebar saluran (b) = 0,50 m; dan tinggi saluran (H) = 0,45 m.
PENYESUAIAN DESAIN PASAR KANJENGAN SEMARANG MENUJU KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG HIJAU
Ratri Septina Saraswati;
LMF Purwanto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 27 No. 1 (2022): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36728/jtsa.v27i1.1646
Perancangan bangunan gedung termasuk pasar rakyat harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu SNI Pasar, persyaratan bangunan gedung, aksesibilitas dan persyaratan gedung hijau. Bangunan Gedung Hijau mengutamakan pada penghematan energi dengan cara menetukan orientasi bangunan Utara-Selatan untuk mengurangi pemanasan karena sinar matahari, ventilasi dalam ruangan, pemnafaatan pencahayaan alami semaksimal mungkin, dan pengelolaan limbah, sampah, air, dan pemanfaatan material hijau. Apabila dalam tahap perencanaan belum terpenuhi, maka perlu dilakukan peninjauan ulang desain sebelum permohonan izin membangun diajukan.
PEMANFAATAN LIMBAH GERGAJI (SERBUK KAYU) SEBAGAI BAHAN CAMPURAN PEMBUATAN BATACO
Isnarno FT UTP
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Semakin pesatnya pembangunan di Indonesia, bahan-bahan bangunan yang digunakan semakin banyak sedangkan jumlah bahan tersebut sangat terbatas di alam. Bataco dengan campuran biasa memiliki berat yang sangat besar perlu diciptakan inovasi baru. Penelitian ini untuk mengetahui apakah limbah gergaji (serbuk kayu) dapat di manfaatkan sebagai bahan campuran dalam pembutan bataco guna mengurangi berat dan memperhalus tekstur bataco. Pembuatan bataco dengan beberapa sample yang dibuat dengan menambahkan limbah gergaji (serbuk kayu) kedalam adukan beton dengan jumlah prosentase yang berbeda-beda yaitu 5%, 10%, 15%, 20%, 25%, dan 30%. Benda uji berupa trasram dengan perbandingan campuran 1 semen : 6 pasir. Setelah umur 28 hari dilakukan penimbangan dan uji desak pada sample benda uji kubus bataco. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, semakin banyak serbuk kayu yang dipakai sebagai bahan campuran maka berat bataco semakin ringan, tekstur bataco semakin halus, dan kuat desaknya semakin kecil.
KAJIAN TEORI MEMBRAN PADA ANALISIS PLAT CANGKANG TIPIS PADA STRUKTUR TANGKI STORAGE SILINDRIS
Sri Haryono
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Teori membran biasanya relatif lebih praktis dalam menetukan respon struktur yang terjadi dari pada teori tegangan lentur. Bentuknya juga jauh lebih sederhana dalam perhitungannya. Untuk struktur plat cangkang tipis dengan tidak adanya perubahan pada ketebalan secara mendadak, kemiringan lereng, atau lengkungan, tegangan meridional seragam di seluruh tebal dinding. Teori lentur umumnya terdiri dari solusi membran, yang harus dilakukan koreksi pada daerah-daerah di mana efek diskontinuitas terjadi. Tujuannya adalah tidak untuk perbaikan dari solusi struktur membran, melainkan analisis tegangan dan regangan yang disebabkan karena gaya pada tepi plat atau beban trpusai, tidak dapat dicapai dengan teori membran saja. Penting untuk dicatat bahwa gaya pada struktur membran tidak bergantung pada momen lentur dan sepenuhnya ditentukan oleh kondisi kesetimbangan statis. Karena tidak ada sifat material yang digunakan dalam menurunkan persamaan gaya ini ,maka teori membran berlaku untuk semua cangkang yang terbuat dari berbagai bahan (logam, beton bertulang, plywood dan sebagainya). Berbagai hubungan yang dikembangkan untuk teori lentur, bagaimanapun, terbatas pada plat cangkang yang homogen, elastis dan isotropik.
HUBUNGAN ANTARA DIMENSI KOLAM OLAK DAN EFEKTIFITAS PEREDAM ENERGI DI HILIR PINTU AIR
Yuliman Ziliwu
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Loncat air di hilir sluice gate sering menimbulkan masalah yaitu terjadinya local scouring. Salah satu untuk mengatasi masalah tersebut adalah menambah kekasaran apron menggunakan endensill di hilir sluice gate. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan hubungan antara dimensi kolam olak dan efektifitas peredam energi di hilir pintu air. Pelaksanaan penelitian ini dimulai dari kalibrasi debit aliran yang melalui standard tilting flume dan didapatkan nilai debit yaitu Q= 4830 cm3/det yang besarnya disesuaikan dengan kapasitas flume pada saat sluice gate di pasang dengan bukaan pintu terkecil agar tidak meluap. Dari hasil penelitian : 1. nilai frude number untuk model dengan panjang kolam olak yang sama adanya penambahan kedalaman kolam olak mengakibatkan LS semakin pendek; 2.Untuk suatu nilai Froude number yang sama, panjang loncat hidraulik yang terjadi semakin berkurang dengan adanya penambahan kedalaman kolam olak, penambahan tailwater depth dan penambahan tinggi endsill; 3.Penambahan kedalaman dan panjang kolam olak, penambahan tailwater depth dan penambahan tinggi endsill dapat memperbesar pengaruh peredaman energi; 4.Penambahan endsill pada ujung hilir kolam olak dapat mengurangi terjadinya osilasi yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada tanggul – tanggul dari tanah dan riprap.
PERAN PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN BANGUNAN DAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PADA KAWASAN KRATON YOGYAKARTA SEBAGAI BAGIAN DARI UPAYA MEMINIMALISIR DEGRADASI KUALITAS KAWASAN CAGAR BUDAYA
Abito Bamban Yuuono
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penyusunan peraturan bangunan khusus merupakan rancangan pengendalian bangunan kawasan yang diperlukan setelah adanya rencana tata ruang pada kota dimaksud. Kegiatan penyusunan peraturan bangunan khusus dimaksudkan untuk mewujudkan tertib bangunan, sehingga dapat berjalan tertib dan lancar sesuai dengan karakteristik bangunan setempat, pengaturan keselamatan bangunan yang bertujuan agar setiap bangunan dapat memberikan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya, mendukung keselarasan dan keseimbangan lingkungannya. Kedudukan masyarakat yang bergiat pada lingkungan permukiman pada kawasan Cagar Budaya Kraton Yogyakarta perlu diarahkan agar mampu memberi nilai positif sebagai bagian yang menentukan dalam upaya yang meminimalisir degradasi kualitas kawasan cagar budaya, melalui pendampingan dalam penataan bangunan dan lingkungan permukiman.
HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTARA PENGHUNI DENGAN LINGKUNGANNYA KASUS : PERUMAHAN FAJAR INDAH SURAKARTA
Djumiko FT UTP
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Berdasarkan pada suatu teori yang menganggab bahwa lingkungan merupakan stimulus atau rangsangan terhadap proses kejiwaan manusia/ masyarakat, yang kemudian dapat menghasilkan tingkah laku tertentu. Dalam  hubungannya dengan arsitektur, maka lingkungan dalam hal ini merupakan lingkungan buatan, yang termasuk di dalamya adalah lingkungan pemukiman. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengaruh hubungan timbal – balik antara lingkungan dengan manusianya/ masyarakat, maka diambil kasus Perumahan Fajar Indah di kota Surakarta, untuk diketahui hubungan timbal-balik lingkugan buatan yang berupa lingkungan pemukiman dengan penghuninya, dilihat tingkah lakunya terhadap pola bentuk lingkungan, ruang terbuka, serta interaksi sosial yang terjadi. Dengan metoda survey dan observasi lapangan, serta studi literature, dihasilkan bahwa  penghuni berperilaku: a) Pola jalan lingkungan menjadi pola sirkulasi penghuni dalam aktivitasnya setiap harinya. b) Ruang terbuka merupakan tempat yang paling sering digunakan penghuni untuk kontak sosial. c) Hubungan antar keluarga  tipe rumah  kecil lebih akrab dibandingkan dengan rumah tipe besar. d) Interaksi dengan lingkungan sekitar di luar perumahan, tipe rumah kecil lebih akrab dibandingkan dengan rumah tipe besar.
KUALITAS PENERANGAN ALAMI BANGUNAN GEREJA BLENDUK SEMARANG
Dwi Suci Lestari
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 8 No. 12A (2010): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Beberapa bangunan kuno peninggalan Kolonial Belanda, seringkali menunjukkan upaya pemanfaatan faktor–faktor iklim seperti matahari dan angin dalam konteks iklim tropis lembab di Indonesia dengan baik, meskipun arsiteknya berasal dari negara beriklim empat musim. Seperti dalam tata letak membujur utara-selatan beserta selasar depannya untuk mengurangi panas matahari. Namun, tak jarang, membawa kebiasaan mereka, membuat bukaan dinding (pintu dan jendela) yang berukuran lubang tinggi vertikal hampir ke plafondnya yang tinggi pula dalam rangka mendapatkan penerangan alami cukup. Mengingat seumumnya kavling di negaranya berlebar sempit, sangat panjang ke dalam, dan berpenataan close-plan. Melalui kasus bangunan kuno peribadahan umat Katolik berlantai dua Gereja Blendhuk di Semarang penelitian ini dilakukan; bertujuan untuk mengungkapkan kualitas penerangan alaminya. Metode penelitian berpendekatan kombinasi antara kualitatif (menggunakan teori) dan kuantitatif (menggunakan alat pengukur penerangan lux meter). Jendela lantai bawahnya berkaca timah, dan pada lantai atas: jendela jungkit. Hasil penelitian, luas bukaan untuk penerangan sudah memenuhi persyaratan, kekuatan penerangan alami pada ruang dalampun memenuhi, serta kedalaman ruang yang dapat dijangkau penerangan alami juga terpenuhi. Dengan demikian desain penerangan alami pada bangunan Gereja Blenduk, sesuai dengan kriteria penerangan alami.
PERGESERAN NILAI BUDAYA PADA BANGUNA RUMAH TRADISIONAL JAWA
Danarti Karsono
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 3 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Rumah tradisional sebagai salah satu peninggalan Arsitektur Tradisional mempunyai arti sebagai arsitektur yang mencerminkan gagasan dan perilaku masyarakat pendukungnya berkenaan dengan pemafaatan bentuk dan ruang untuk memenuhi hajad hidup masyarakat pada masanya baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Masyarakat jawa dalam membangun rumah selalu berpedoman pada kaidah-kaidah yang telah dianut secara turun temurun berdasarkan kebudayaan jawa. Kaidah-kaidah membangun dalam arsitektur jawa sebagai suatu unsure kebudayaan sangat ditentukan oleh manusia, tradisi dan filosofi dan unsur-unsur itu sangat menentukan fungsi dsari arsitektur, bangunan dan ruang. Pada penelitian ini dikaji fenomena karateristik pergeseran nilai budaya dengan mengkaitan perubahan aspek fisik dan non fisik. Untuk memperoleh faktor pengaruh yang bersifat deskriptif dari perubahan bentuk bangunan maka metoda pendekatan yang digunakan adalah metoda observasi jejak fisik. Diharapkan dengan metoda ini nantinya akan dapat dijelaskan adanya pengaruh yang melatar belakangi terjadinya perubahan tersebut. Dalam pembahasan penelitian ini diambil kriteria pergeseran nila-nilai budaya yang berkaitan dengan bangunan rumah tradisional jawa, bangunan-bangunan yang digunakan perbandingan adalah bangunan rumah tradisional yang terletak diwilayah inti (kutanegara) dan nagaragung. Pengambilan smpel ini dengan pertimbangan bahwa bangunan-bangunan yang terdapat pada wilayah tersebut dalam pembangunannya menggunakan kaidah dan norma yang baku. Hasil pembahasan menghasilkan kesimpulan yang antara lain menggugah kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai luhur budaya jawa yang dicerminkan pada bagnuna rumah tradisional, hendaknya selalu dijaga kelestariaannya dan dipelihara selaras dengan perkembanhan jaman.
PENGARUH PERKEMBANGAN TEMPAT USAHA PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP CITRA WAJAH ARSITEKTUR KOTA SURAKARTA
Djoko Pratikto
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 1 No. 3 (2001): Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Suasana kota Surakarta yang semakin semrawut dan kotor yang kita lihat pada saat ini, akibat perkembangan yang tidak terkendali dari para pedagang kaki lima didalam mencari tempat usahanya dibeberapa sudut kota tanpa memperhatikan tata tertib maupun peraturan tentang keindahan kota Surakarta. Gejala perkembangan tempat usaha pedagang kaki lima yang bentuk fisiknya merupakan bangunan sederhana yang sifatnya bangunan temporer terkesan kumuh dan kotor serta sangat mengganggu pemandangan kota. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap wajah kota Surakarta yang selama ini terkenal dengan slogannya, bersih, sehat, rapi dan indah (berseri) .citra ini nampaknya akan hilang apabila perkembangan pedagang kaki lima ini akan dibiarkan terus tumbuh dan berkembang sendiri tanpa dikendalikan ( diatur). Melalui studi penelitian yang dilakukan akan dapat menjawab pertanyaan : adakah pengaruh perkembangan pedagang kaki lima ini dengan Citra wajah Arsitektur Kota Surakarta yang akan diuraikan dalam tulisan ini.