cover
Contact Name
Febriaman Lalaziduhu
Contact Email
ferdinanmarcos1994@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
lp2mebenhaezer@gmail.com
Editorial Address
JI Buluran No.02 Talang Jawa RT 007 / RW 004 Kelurahan Pasar Tanjung Enim Kecamatan Lawang Kidul Kabupaten Muara Enim Prop. Sumatera Selatan
Location
Kab. muara enim,
Sumatera selatan
INDONESIA
SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
ISSN : 26852144     EISSN : 27228231     DOI : https://doi.org/10.47154/scripta
Core Subject :
Jurnal Scripta merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, dan sebagai sarana publikasi hasil penelitian serta sharing perkembangan ilmu teologi Kristen dan pelayanan kontekstual. Jurnal ini memuat artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel hasil penelitian ataupun penelitian terapan, serta artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu teologi berdasarkan isu-isu terkini. Informasi mengenai pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel terdapat pada setiap penerbitan. Semua artikel yang masuk akan melalui ‘peer-review process’ setelah memenuhi persyaratan sesuai pedoman penulisan artikel. Penerbitan jurnal ini dilakukan sebanyak enam bulan sekali yaitu pada bulan Mei dan November setiap tahunnya.
Arjuna Subject : -
Articles 125 Documents
Roh Kudus Memberikan Kuasa Bagi Pertumbuhan Gereja luhut sinaga
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 11 No. 1 (2021): Edisi Tahun 2021, Volume 11 No. 1 Bulan Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.707 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v11i1.120

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Roh Kudus atas pertumbuhan gereja. Dengan keyakinan bahwa Roh Kudus memberikan kuasaNya bagi gereja dan setiap orang beriman padaNya. Penelitian berangkat dari pemahaman dimana gereja mula-mula pada saat itu diberkati pelayananya dalam bersaksi memberitakan Yesus karena sebelumnya mereka telah menerima kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 2). Dimana mereka (para rasul) berhasil menobatkan mereka, mengalami lahir baru dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Dan Roh Kudus terus bekerja melalui orang-orang yang sudah menerima pertobatan dan hasilnya bahwa orang-orang percaya semakin bertambah. Roh Kudus inilah yang dipercaya saat ini yang terus berkarya bagi pertumbuhan GerejaNya. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian kualitatif, kepustakaan. Dimana sampel tidak menentukan jumlah atau keterwakilan. Data yang diperoleh adalah kualitas informasi, kredibilitas dan kekayaan informasi. Hasil Penelitian ini menyimpulkan bahwa tanpa adanya peran Roh Kudus maka Gereja tidak akan mengalami pertumbuhan. Baik pertumbuhan secara kualitatif maupun kuantitatif. Sebab Yesus sendirilah yang memiliki Gereja itu karena Dialah yang mendirikan JemaatNya (Mat 16:18). Jadi Yesus sebagai kepala dan Gereja sebagai tubuhNya.Sebelum Yesus naik kesurga Ia berpesan agar mereka terlebih dahulu menerima kuasa yang dari Roh Kudus untuk memulai pelayanan memberitakan kabar Injil keseluruh bumi.
Diakonia Lintas Agama dan Lintas Gender: Suatu Pengantar Teologi Kristiani dalam Praktik Diakonia Lintas Agama dan Lintas Gender Dina Maria Nainggolan
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 11 No. 1 (2021): Edisi Tahun 2021, Volume 11 No. 1 Bulan Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.257 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v11i1.122

Abstract

Artikel ini membahas suatu pengantar terhadap konsep diakonia lintas agama dan lintas gender yang masih relatif baru dalam teologi Kristen pada saat ini. Meskipun kedua tema ini terkesan sangat luas, namun saya membatasi diri dalam melihat konsep-konsep diakonia agama-agama besar di Indonesia secara umum  untuk memperlihatkan bahwa agama-agama di Indonesia memiliki titik temu terkait tindakan belas kasih terhadap sesama sekaligus dimensi yang melanggengkan kemiskinan. Yang menjadi pertanyaan penelitian ialah apakah di tengah pandemi Covid-19 saat ini, praktik diakonia lintas agama dan lintas gender telah dilakukan dalam menyikapi kemiskinan di Indonesia? Apa landasan teologis Kristen yang dapat dilakukan dalam melakukan misi diakonia ini? Dalam menjawab pertanyaan ini saya menggunakan metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur yang berfokus pada teologi misi dan pembebasan. Tujuan penelitian ini untuk menunjukkan bahwa agama-agama dan masyarakat lintas gender dapat saling merangkul dalam menghadapi kemiskinan yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19 saat ini.
Hoax dan Kekerasan: Sebuah Refleksi Terhadap Kejadian 39:1-23 serta Upaya Mencegah Timbulnya Kekerasan di Era Post-Truth Jonatan Dwiputra
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 11 No. 1 (2021): Edisi Tahun 2021, Volume 11 No. 1 Bulan Mei
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.386 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v11i1.125

Abstract

Kehadiran berita hoax bukanlah menjadi hal yang baru tetapi sudah ada sejak dahulu kala bahkan dalam dunia Alkitab. hoax yang beredar di banyak media sosial pada masa ini telah menimbulkan keresahan tidak hanya bagi masyarakat melainkan juga bagi pemerintah. Berita hoax yang dimanipulasi sedemikian rupa sedikit banyak telah berpartisipasi dengan memantik timbulnya kekerasan di Republik ini. Kekerasan yang timbul akhir-akhir ini dapat dikatakan sebagai kekerasan yang irasional karena tidak berdasarkan fakta dan informasi yang benar. Emosi dan perasaan pengguna media sosial dimanipulasi sedemikian rupa sehingga menjadikan mereka tidak lagi memiliki nalar dan rasio yang kritis. Di sisi lain, hal ini membuktikan kebangkitkan dari era Post-Truth yang tidak hanya menjadi tantangan bagi Indonesia melainkan juga bagi dunia. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi bersama untuk melawan dan mengantisipasi hoax dan munculnya kekerasan supaya tercipta kedamaian di Republik ini. Paradigma kritis dan literasi media harus menjadi agenda khusus yang harus terus menerus dibangun sebagai antisipasi terhadap kebangkitan era Post-Truth sekarang ini. The presence of hoax news is not something new but has existed since time immemorial, even in the world of the Bible. Hoax news circulating on social media at this time has caused unrest not only for the community but also for the government. Hoax news which is manipulated in such a way has participated in sparking violence in this Republic. The violence that has recently occurred can be said to be irrational violence because it is not based on facts and correct information. 
Homoseksual dalam pandangan Sains dan Teologi Manuel Waskito Prasetyo
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 12 No. No. 2 (2021): SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.421 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v12iNo. 2.124

Abstract

Permasalahan tentang homoseksualitas dalam kehidupan sudah bukan lagi menjadi hal yang asing di tengah masyarakat. Bahkan, ada dari orang-orang yang menganggap bahwa permasalahan tentang homoseksualitas ini merupakan sebuah hal yang wajar terjadi dalam kehidupan karena dianggap sebagai kejadian biologis yang dipengaruhi oleh faktor genetika. Permasalahan ini bukan hanya terjadi dalam dunia sekuler saja, melainkan juga dalam kekristenan. Dalam tulisan ini, akan mencoba untuk melihat apa yang menjadi pandangan teologi Kristen terhadap mereka yang ada dalam komunitas homoseksualitas ini. The problem of homosexuality in life is no longer an alien thing in society. Some people think that the problem of homosexuality is a natural thing that occurs in life because it is considered a biological event that is influenced by genetic factors. This problem does not only occur in the secular world but also in Christianity. In this paper, we will try to see Christian theology responds to those in this community of homosexuality.
Pola Pengembalaan dalam Menangkal Paham Relativisme Berdasarkan 1 Timotius 4:13 Timotius Shandery; Yanto Paulus; A. L. Jantje Haans
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 12 No. No. 2 (2021): SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.405 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v12iNo. 2.126

Abstract

Di era postmodern berbagai perbedaan tidak dianggap sebagai suatu musuh atau ancaman. Perbedaan justru dianggap sebagai satu tantangan yang untuk berbagai pihak yang berbeda dapat hidup berdampingan. Setiap pihak dianggap memiliki kebenaran masing-masing dan pihak yang lain tidak mempermasalahkan hal tersebut. Kebenaran yang absolut tidak diakui karena postmodernisme percaya bahwa kebenaran tergantung dari konteks dan individu yang menghadapinya. Alkitab diterima sebagai kitab suci agama Kristen dan satu literatur sejarah, namun tidak sebagai firman Allah. Relativisme berusaha menurunkan otoritas Alkitab dalam pandangan umat Tuhan. Gembala sebagai pemimpin jemaat memiliki tanggung jawab untuk menjaga kawanan domba dari serigala-serigala aliran sesat yang bisa menerkam dan mencerai beraikan jemaat. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola penggembalaan yang diharapkan dapat menangkal paham relativisme berdasarkan 1 Timotius 4:13. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui studi literatur. Pola penggembalaan yang diharapkan dapat menangkal paham relativisme dapat diaplikasikan menjadi tiga langkah dengan urutan yang jelas, pertama firman Allah harus tekun dibaca dan dipegang sebagai dasar hidup jemaat. Selanjutnya seorang gembala perlu membangun spiritualitas umatnya dan terakhir pengajaran kebenaran perlu disampaikan dengan perkataan dan teladan hidup gembala.
Suatu STUDI NARASI: INTERAKSI AMOS DENGAN AMAZIA DALAM KONTEKS VISI KETIGA (AMOS 7:10-17): Interaksi Amos dan Amazia Dalam Konteks Visi Ketiga (Amos 7:10-17) Anon Dwi Saputra; Daniel Adiatma; Saul Gurich
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 12 No. No. 2 (2021): SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.627 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v12iNo. 2.128

Abstract

Artikel ini menjelaskan mengenai kajian biblika mengenai narasi interaksi Amos dan Amazia (Amos 7:10-17) dalam serangkaian visi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan hermeneutik dengan memperhatikan gramatis, historis, dan sastra dalam bentuk genre narasi dalam kitab Amos 7:10-17. Dalam penelitian ini penulis juga melakukan eksegesa dengan memperhatikan historikal, gramatikal dan konstektual. Beberapa penafsir (Campos. Tucker, Wöhrle, Perkins dan lain-lain) hanya menekankan masalah otoritas, legitimasi profetik dan peranan sosial. Namun, narasi ini memiliki hubungan dengan ayat 9 lebih mengarah kepada ancaman kepada Yerobeam dan keluarganya dan menceritakan bagaimana Amos dipaksa untuk mengakhiri pekerjaannya sebagai nabi di Israel. Penolakan terjadi karena nubutan yang disampaikan oleh Amos merugikan dan mengancam keberadaan Yerobeam.
Karakter Kepemimpinan Musa Inspirasi Setiap Pemimpin Janes Sinaga; Juita Lusiana Sinambela; Rolyana Ferinia; Stimson Hutagalung Hutagalung
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 12 No. No. 2 (2021): SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.258 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v12iNo. 2.137

Abstract

ABSTRAK   Setiap komunitas sosial apapun membutuhkan seorang pemimpin yang dapat mengarahkan komunitas tersebut untuk mencapai tujuan dari komunitas tersebut. Beberapa orang ingin menjadi seorang pemimpin, namun apakah dia dapat menjadi pemimpin yang berhasil dan memiliki karakter yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Musa adalah seorang pemimpin besar dan berkarakter dalam tokoh Alkitab, seorang pemimpin yang selalu berhubungan dengan Tuhan dan menuruti kehendak Tuhan dimasa kepemimpinan dan hal inilah yang menuntun kepada keberhasilannya. Melalui kehidupan Musa pemimpin besar Bangsa Israel yang adalah pemimpin yang dipilih Allah maka setiap pemimpin atau yang berniat jadi pemimpin dapat mencontoh kehidupan hamba Tuhan Musa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisa literatur dari daftar Pustaka dan alkitab sehingga dapat disimpulkan menjadi sebuah petunjuk maupun model bagi para pemimpin masa kini.
AKULTURASI BUDAYA “SAKASUR, SADAPUR, SASUMUR, SALEMBUR DALAM PENGINJILAN BERDASARKAN KISAH PARA RASUL 1: 8” Jimmy Allen Sakul; B.D Nainggolan; Stimson Hutagalung
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 12 No. No. 2 (2021): SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.908 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v12iNo. 2.139

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk melihat seberapa besar pengaruh dari penginjilan kepada suku sunda dengan menerapkan konsep budaya sunda yang sudah melekat yaitu sakasur, sadapur, sasumur, dan salembur sehingga mereka dapat menerima Injil. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa konsep budaya 4-ur dalam suku Sunda merupakan implementasi Kisah 1:8 yang dapat meningkatkan kerohanian dan berperan aktif dalam penginjilan The purpose of this study was to see how much influence evangelism had on the Sundanese by applying the inherent concept of Sundanese culture, namely sakasur, sadapur, sasumur, and salembur so that they could accept the gospel. The research method in this paper is descriptive qualitative with interview techniques, observation, and literature study. The results of the study found that the concept of 4-ur culture in the Sundanese is an implementation of Acts 1:8 which can increase spirituality and play an active role in evangelism.
Pentingnya Penerapan Pola Asuh Dalam Kolose 3:21 Dan Efesus 6:4 Terhadap Anak Usia 1-5 Tahun : Pentingnya Penerapan Pola Asuh Dalam Kolose 3:21 Dan Efesus 6:4 Terhadap Anak Usia 1-5 Tahun Riky Handoko Sitindaon; Putri Rosinta Sianturi
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 13 No. 1 (2022): Isu Teologi dan Pastoral Konseling
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.788 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v13i1.151

Abstract

Setiap orang tua selalu memiliki cara tersendiri dalam mengasuh atau mendidik anak-anaknya. Tidak jarang banyak orang tua melalaikan pola asuh yang benar sesuai dengan Firman Tuhan. Pola Asuh yang benar akan menjadikan anak bertumbuh dengan benar juga, pola asuh yang salah akan menjadikan anak bertumbuh menjadi pribadi yang kehilangan identitas. Pola Asuh berdasarkan Firman Tuhan merupakan penerapan yang tepat, apalagi jika dimulai sejak dini yakni usia 1-5 tahun. Usia ini adalah usia emas dimana anak mulai memahami banyak hal dan mulai menyimpan memori-memori yang mereka lihat dalam pertumbuhan mereka. Mengasuh anak tidaklah mudah, terkadang ketidaksabaran orang tua dalam mengasuh anak mengakibatkan anak mendapat pola asuh yang salah, dipukul saat tidak taat, dibentak saat menangis, bahkan ada yang rela mengurung di tempat yang sempit. Pola asuh yang salah akan menimbulkan karakter yang buruk pada anak. Maka, pada tulisan ini akan mengulas tentang Pentingnya Penerapan Pola Asuh Dalam Kolose 3:21 Dan Efesus 6:4 terhadap Anak Usia 1-5 Tahun. Metode yang digunakan metode deskriptif bibliologis dengan mendahului penafsiran Alkitab. Hasil penelitian menemukan pentingya pola asuh kepada anak usia 1-5 tujuannya agar para orang tua sadar bahwa anak itu adalah anugerah Tuhan yang harus di didik dengan penuh kasih sayang, dan tentunya sesuai dengan pola yang benar berdasarkan Alkitab.
Konsep Paulus Tentang “Kesatuan Tubuh Kristus” Menurut 1 Korintus 12: 12-13 Dan Efesus 4: 16 Lamtota Manalu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 13 No. 1 (2022): Isu Teologi dan Pastoral Konseling
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.671 KB) | DOI: 10.47154/scripta.v13i1.152

Abstract

Pada era ini gereja sering saling tidak memperdulikan satu dengan yang lain dan akibatnya perpecahan yang terjadi dan tidak menciptakan satu tubuh yang efektif. Jadi setiap gereja atau orang percaya seharusnya menyadari apa tugas dan tanggung jawabnya sebagai anggota tubuh Kristus. Itu sebabnya dalam bagian yang penulis bahas bahwa berbagai gereja atau keragaman gereja tetap pada satu tubuh, yaitu Kristus sebagai tubuh dan gereja sebagai anggota tubuh dan hal ini perlu harus diketahui dengan benar agar tidak menjadi suatu pendangan yang salah dalam memahami konsep kesatuan anggota tubuh Kristus. Berbagai pandangan yang keliru mengenai kesatuan anggota tubuh Kristus. Metode yang digunakan oleh penulis dalam penulisan karya ilmiah ini adalah metode kualitatif, yang dilakukan pada natural setting karena penelitiannya langsung kepada sumber data dan peneliti itu sendiri menjadi instrumen kunci. Kesatuan sudah selayaknya dimiliki oleh setiap denominasi ketika memahami akan konsep kesatuan tubuh Kristus yang benar. Konsep yang benar dalam memahami kesatuan tubuh Kristus sesuai dengan Firman Allah akan mendapatkan kesatuan dalam denominasi gereja apapun

Page 7 of 13 | Total Record : 125