SCRIPTA : Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual
Jurnal Scripta merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, dan sebagai sarana publikasi hasil penelitian serta sharing perkembangan ilmu teologi Kristen dan pelayanan kontekstual. Jurnal ini memuat artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang berupa artikel hasil penelitian ataupun penelitian terapan, serta artikel telaah yang berkaitan dengan perkembangan ilmu teologi berdasarkan isu-isu terkini. Informasi mengenai pedoman penulisan artikel dan prosedur pengiriman artikel terdapat pada setiap penerbitan. Semua artikel yang masuk akan melalui ‘peer-review process’ setelah memenuhi persyaratan sesuai pedoman penulisan artikel. Penerbitan jurnal ini dilakukan sebanyak enam bulan sekali yaitu pada bulan Mei dan November setiap tahunnya.
Articles
129 Documents
Pentingnya Tongkat Didikan Dalam Pola Asuh Anak Berdasarkan Amsal 22:15 Sebagai Evaluasi Terhadap Permissive Parenting
Obet Nego;
Debby Chirst Mondolu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (620.243 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v7i1.60
Keluarga adalah kelompok sosial yang paling kecil, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dimana individu berada untuk mempelajari banyak hal penting dan mendasar melalui pola asuh dan binaan orang tua serta anggota keluarga lainnya. Orang tua mempunyai peran penting bagi pertumbuhan jiwa anak dan dalam meletakkan dasar-dasar kepribadian anak, sebab orang tua merupakan pendidik, pembimbing, dan pelindung bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, pembimbingan orang tua terhadap anak haruslah yang alkitabiah. Salah satunya untuk mengatasi permasalah Permissive Parenting yang banyak terjadi di dalam rumah tangga. Dengan demikian, Amsal 22: 15 dinilai sangat tepat untuk menjadi landasan untuk menjawab kekeliruan pola asuh yang selama ini umum terjadi di keluarga-keluarga Kristen. Dalam tulisan ini, penulis akan membahas mengenai makna Tongkat Didikan dalam Pola Asuh anak berdasarkan Amsal 22: 15. The family is the smallest social group, consisting of father, mother and child. The family is the first social group where individuals are to learn many important and fundamental things through parenting and fostering parents and other family members. Parents have an important role for the child's soul growth and in laying the foundations of the child's personality, because parents are educators, guides, and protectors for their children. Therefore, parental guidance for children must be biblical. One of them is to overcome Permissive Parenting problems that often occur in the household. Thus, Proverbs 22:15 is considered very appropriate to be the basis for answering the errors of parenting that have been common in Christian families. In this paper, the author will discuss the meaning of the Educational Stick in Parenting based on Proverbs 22:15.
Konstruksi Kristologi Di Bumi Indonesia
Febriaman Lalaziduhu Harefa;
Jeane Paath;
Ferdinan Pasaribu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 7 No. 1 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (464.012 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v7i1.62
Kristologi adalah pusat dari disiplin ilmi teologi, karena dalam studi Kristologi memuat tentang Pribadi dan Karya Yesus Kristus dalam rangka penyelamatan umat manusia dari dosa agar manusia memperoleh hidup yang kekal. Namun dewasa ini khususnya di Indonesia, finalitas doktrin Kristologi mengalami pergeseran makna oleh karena studi interpretasi radikal dari beberapa teolog. Bertolak dari pergumulan konteks dan didukung oleh filsafat Postmodern, mereka berusaha untuk melakukan Re-Kristologi yang selama ini diajarkan di dalam gereja-gereja dan menghasilkan model-model Kristologi Kontekstual khususnya yang berkenaan dengan konteks bumi Indonesia. Pendekatan Kristologi ini telah kehilangan makna serta identitasnya dan sangatlah berbeda dengan doktrin Kristologi sebagaimana yang dinyatakan oleh teks-teks Alkitab firman Allah. Kristologi yang benar adalah Kristologi yang bertolak dari pernyataan teks-teks Alkitab kemudian Kristologi tersebut menjawab problematika konteks khususnya di bumi Indonesia. Christology is the center of the scientific discipline of theology, because in the study of Christology it contains the Person and Work of Jesus Christ in the context of saving mankind from sin so that humans can have eternal life. But today especially in Indonesia, the finality of the Christology doctrine has shifted in meaning because of the study of radical interpretations of some theologians. Starting from the struggle of context and supported by Postmodern philosophy, they tried to do Re-Christology that had been taught in the churches and produced contextual Christology models especially with regard to the context of the Indonesian earth. This Christological approach has lost its meaning and identity and is very different from the Christological doctrine as stated by the biblical texts of God's word. The correct Christology is a Christology that departs from the statement of the biblical texts and then the Christology answers the problematic context especially in Indonesian soil.
Keunikan Teologi Kristen Di Abad Xxi Sebagai Queen Of Sciences Di Era Postmodern
Febriaman Lalaziduhu Harefa
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (454.884 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v8i2.66
ABSTRAK Kecurigaan umat manusia terhadap bidang studi teologi Kristen pada abad XXI adalah tantangan baru bagi kekristenan masa kini. Orang menganggap bahwa teologi adalah sebuah bidang studi yang kuno dan telah hilang ketenarannya di dunia akademis. Memperhatikan hal di atas, maka dibuatlah penelitian untuk mengkaji ulang secara historis dan teologis tentang urgensitas bidang studi teologi di abad XXI. Untuk menemukan jawabannya, maka dibuatlah sebuah penelitian dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research). Hasilnya adalah teologi adalah jawaban atas segala ”kegalauan” manusia tentang problematika kehidupan, teologi menuntun manusia memahami Allah Pencipta, teologi menjadi pedoman hidup manusia, teologi menuntun manusia memiliki kehidupan kekal dibalik kematian. Maka teologi adalah guru bagi ilmu pengetahuan (science), sehingga teologi wajib memberikan evaluasi terhadap ilmu pengetahuan (science) dengan cara intergrasi. ABSTRACT Humanity's suspicion of the field of Christian theology in the XXI century is a new challenge for Christianity today. People think that theology is an ancient field of study and has lost its fame in the academic world. Noting the above, a study was made to review historically and theologically about the urgency of theological studies in the XXI century. To find the answer, a study was made using a qualitative approach and using the method of library research. The result is that theology is the answer to all the "turmoil" of humans about the problems of life, theology leads people to understand the Creator God, theology is the guide to human life, theology leads humans to have eternal life behind death. So theology is a teacher for science (science), so theology must provide an evaluation of science (science) by way of integration.
Keberdosaan Manusia Menurut Alkitab
Yanjumseby Yeverson Manafe
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (690.803 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v8i2.67
ABSTRAK Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa sebagaimana diuraikan dalam kitab Kejadian 3:1-24, membuat semua manusia keturunan Adam dan hawa hidup dalam dosa. Kendatipun demikian masih ada banyak orang Kristen yang belum dapat memahami dengan pasti adanya dosa di dalam hidup mereka. Jika setiap orang kristen tidak tahu bahwa ada dosa dalam dirinya maka akan sulit sekali untuk menanganinya. Oleh sebab itu, setiap orang Kristen harus mengetahui dan menyadari hakikat dari manusia berdosa serta mau melepaskan diri dari belenggu dosa. Dan hal ini akan terwujud di dalam dan melalui Roh Kudus. Berkenaan dengan keberdosaan manusia maka dalam tulisan ini akan dibahas berturut-turut mengenai keberdosaan manusia, yaitu: definisi dosa, istilah-istilah dosa dalam Alkitab, asal dosa, aspek-aspek dosa, akibat dosa dan jalan keluar dari dosa. ABSTRACT After the fall of man into sin as described in Genesis 3: 1-24, made all humans descend from Adam and Eve live in sin. Nevertheless there are still many Christians who have not been able to understand with certainty the existence of sin in their lives. If every Christian does not know that there is sin in him it will be very difficult to handle it. Therefore, every Christian must know and realize the nature of sinful humans and want to break away from the bondage of sin. And this will be realized in and through the Holy Spirit. With regard to human sinfulness, this paper will be discussed in succession regarding human sinfulness, namely: the definition of sin, the terms of sin in the Bible, the origin of sin, aspects of sin, the consequences of sin and the way out of sin.
Peranan Sekolah Minggu Dalam Pertumbuhan Gereja
Yenny Anita Pattinama
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (697.054 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v8i2.68
ABSTRAK Pelayanan Sekolah Minggu merupakan salah satu faktor yang cukup potensif dalam proses pertumbuhan Gereja. Lebih jauh lagi Sekolah Minggu merupakan wadah yang di pakai untuk mengajar anak-anak sesuai dengan pertumbuhan usia mereka. Pelayanan Sekolah Minggu membawa pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan Gereja, karena anak-anak Sekolah Minggu akan menjadi generasi penerus Gereja yang melanjutkan tugas dan tanggung jawab Gereja sebagai saksi Kristus di tengah-tengah dunia yang penuh dengan tantangan ini. Tantangan yang akan di hadapi oleh Gereja pada masa yang akan datang semakin banyak di karenakan perubahan zaman dunia modern yang sudah tidak lagi mementingkan ajaran agama. ABSTRACT Sunday School service is one of the factors that is quite potential in the process of Church growth. Furthermore, Sunday School is a place that is used to teach children according to their age growth. Sunday School services have a positive influence on the growth of the Church, because Sunday School children will become the next generation of the Church who continue the Church's duties and responsibilities as witnesses of Christ in the midst of this challenging world. The challenges that will be faced by the Church in the future will be more and more due to the changes in the modern world era that are no longer concerned with religious teachings.
Manajemen Mutu Dan Pendidikan Mutu Melalui Standar Penjaminan Mutu (SPMI) Di STT Ebenhaezer
Fanny Y. M Kaseke
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (462.867 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v8i2.69
ABSTRAK Pendidikan adalah faktor yang sangat penting bagi kemajuan Bangsa dan Negara. Maka tidaklah heran jikalau manajemen mutu pendidikan adalah unsur penting yang diperhatikan oleh pemerintah untuk menghasilkan kualitas pendidikan yang baik dan unggul. Oleh sebab itu, sangat penting jikalau institusi pendidikan memperhatikan manajemen mutu melalui standart penjaminnan mutu (SPMI). Berdasarkan hal di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengulas sistem SPMI yang dilakukan di STT Ebenhaezer. Dengan tujuan menghasilkan standart mutu pendidikan yang baik dan unggul seperti yang diharapkan. Maka ada beberpa hal yang dilakukan untuk mencapai hal yang dimaksud. Membangun komunikasi yang baik di semua lini kerja di STTE, secara bertahap meningkatkan alokasi anggaran ideal untuk penjaminan mutu sesuai ketentuan Kemendiknas Dikti tahun 2009, membuat panduan kriteria keberhasilan SPMI, meningkatkan kinerja staf pengelola LP2M dan penjaminan mutu di lingkungan STTE melalui penghargaan dan sanksi, mendorong terbangunnya budaya mutu yang konsisten dan berkelanjutan. ABSTRACT The second abstract is written in English. Abstract length maximum 250 words. At least the abstract should include the background of the study, research methods, research results and recommendations. The abstract should include two to five keywords, and the format of writing follows the template.
Seks Menurut Alkitab Sebagai Kontribusi Bagi Pengajaran Gereja Masa Kini
Junius Halawa
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 8 No. 2 (2019): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (736.274 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v8i2.70
ABSTRAKSeks menurut Alkitab sebagai kontribusi bagi pengajaran gereja masa kini. Tujuan tulisan ini untuk menggali dan menjelaskan konsep seks di dalam Alkitab. Alkitab adalah firman Allah tertulis sebagai landasan iman dan sumber pengajaran yang sehat, misalnya pendidikan seks kepada jemaat. Jauh sebelum manusia diciptakan Allah telah merancang seks bagi kehidupan manusia. Sehingga seks harus dipahami sebagai karunia Allah yang baik, mulia dan nikmat. Namun pada faktanya sebagian orang mengangap seks sebagai sesuatu yang kotor atau hanya pemuas hawa nafsu manusia. Konsekwensiya ialah banyak orang melakukan tindakan seks yang salah diantaranya: perzinahan, onani atau mastrubasi, homoseksual, lesbian dan pedofilia. Berdasarkan hasil penggalian Alkitab, maka seks menggunakan istilah: “satu daging” dan “bersetubuh”. Lebih dalam Alkitab menyatakan bahwa seks merupakan inisiatif Allah sendiri kepada laki-laki dan perempuan, sehingga seks baik adanya. Seks hanya diizinkan Allah kepada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah masuk dalam pernikahan yang diberkati Tuhan. Pada hakekatnya seks memiliki empat dimensi, yakni: Dimensi rekreasi, dimensi prokreasi, dimensi relasi dan dimensi refleksi. Jika diamati secara baik antara konsep seks yang disaksikan oleh Alkitab dengan perilaku manusia diera ini, maka telah telah banyak terjadi penyimpangan. Oleh karena itu, fenomena ini merupakan bagian dari tanggungjawab gereja dan hamba Tuhan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan penangan dosa seksual diantaranya: Memberikan pengajaran seks yang Alkitabiah, membuat program yang kreatif dan inofatif dan melaksanakan pelayanan pastoral konseling. Kata kunci: seks atau seksual. ABSTRACT Sex according to the Bible as a contribution to the teaching of the church today. The purpose of this paper is to explore and explain the concept of sex in the Bible. The Bible is the written word of God as a foundation of faith and a source of healthy teaching, for example sex education to the congregation. Long before humans were created God had designed sex for human life. So sex must be understood as a gift from God that is good, noble and delicious. But in fact some people regard sex as something dirty or just satisfying human desires. The consequence is that many people commit wrong sexual acts including:
Kepemimpnan Wanita Dalam Gereja
Lina Manalu
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 10 No. 2 (2020): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (255.612 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v10i2.92
Pemimpin dan kepemimpinan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Apabila menyinggung tentang kepemimpinan, hal itu berkaitan dengan mendiskusikan suatu proses. Tetapi berbicara tentang pemimpin Kristen berarti berbicara tentang individu atau pribadi yang dipanggil oleh Tuhan untuk melaksanakan tugas kepemimpinan. Dewasa ini kepemimpinan dalam berbagai bidang telah diwarnai oleh terlibatnya wanita dalam memberikan peran sertanya dalam upaya meningkatkan pembangunan bangsa. Termasuk juga dalam kepemimpinan di gereja. Artikel ini akan memaparkan secara singkat tentang gambaran kepemimpinan wanita dalam gereja --------------------------- Leaders and leadership can not be separated from one another. If we mention the leadership, it relates to discuss the process. But talking about the Christian’s leader is talking about private individuals or who are called by God to carry out the task of leadership. Today leadership in various fields has been characterized by the involvement of women in delivering participation in efforts to improve the development of the nation. Included the leadership in the church. This article will explain briefly about the image of women in church of leadership
Spiritualitas Hana Menurut 1 Samuel 1:1-28 Dan Implementasinya Bagi Wanita
dian agustina20;
Yenny Anita Pattinama;
Febriaman Lalaziduhu Harefa
SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual Vol. 10 No. 2 (2020): Scripta : Jurnal Teologia dan Pelayanan Kontekstual
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer Tanjung Enim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (545.944 KB)
|
DOI: 10.47154/scripta.v10i2.102
Spiritualitas adalah hidup menurut roh. Dalam konteks hubungan yang transenden, roh itu adalah Roh Allah sendiri. Spiritualitas adalah hidup yang didasarkan pada pengaruh dan bimbingan Roh Allah. Spiritualitas bertujuan untuk membuat manusia hidup sesuai dengan cita-cita Allah atau tujuan Allah. Spiritualitas merupakan peningkatan hidup beragama yang bersumber pada religiositas. Dengan menghayati spiritualitas, manusia menjadi orang spiritual, yaitu orang yang menghayati Allah dalam hidup nyata sehari-hari sesuai dengan panggilan dan peran hidupnya. Untuk menemukan jawabannya, maka dibuatlah sebuah penelitian dengan menggunakan metode penelitian deskriptif bibliologis. Hasilnya adalah kaum wanita Kristen akan tekun mencari Tuhan, mengandalkan Tuhan, menjaga kekudusan hidup dan setia menepati janji. Spirituality is living according to the spirit. In the context of a transcendent relationship, that spirit is the Spirit of God Himself. Spirituality is a life based on the influence and guidance of the Spirit of God. Spirituality aims to make human beings live according to God's ideals or God's purposes. Spirituality is an increase in religious life which is rooted in religiosity. By living spirituality, humans become spiritual people, that is, people who live God in real everyday life according to their vocation and role. To find the answer, a study was made using descriptive bibliological research methods. The result is that Christian women will diligently seek God, rely on God, keep their lives holy and faithfully keep their promises.