cover
Contact Name
Nurlisa Ginting
Contact Email
nurlisa@usu.ac.id
Phone
+6285276901644
Journal Mail Official
koridor@usu.ac.id
Editorial Address
Gedung J7, Lt. 2 Jalan Perpustakaan Kampus USU Medan 20155 Indonesia Telp/Fax. 061-8219525
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Koridor
ISSN : 2086910X     EISSN : 27213463     DOI : https://search.crossref.org/?q=2721-3463
Core Subject : Engineering,
Jurnal Koridor (J.Koridor) is a scientific journal in the field of architecture and its applied sciences. Areas in the Jurnal Koridor: 1. Architectural design - Conservation - Sustainable design - Green architecture 2. Landscape and environment - Landscape design - Built Environment Planning 3. Urban Planning - Town planning - Urban design - Housing and settlements - Tourism 4. Building technology - Building technology - Construction - Sustainable structure 5. Architectural theory and criticism - Architectural history - Architectural theory - Vernacular architecture - Neo-Vernacular Architectural
Articles 156 Documents
DEMOLITION: TANTANGAN PELESTARIAN ARSITEKTUR KAWASAN KESAWAN MEDAN Dwi Lindarto Hadinugroho
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.803 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1364

Abstract

Today's modern development puts the area of heritage in the classic dilemma in the management area of heritage between conservation and development of modernity. This study aims to examine how the form of demolition that occurs in architecture at the Kesawan District. Using a qualitative descriptive method through interpretative criticism evocative then this study identifying the model of demolition objects architectural heritage in the Kesawan District. This study revealed and indicating the existence of a variant form of demolition model issues are amputation, inactivity, redesign, masking/facelift, visual blurring and architecture sprawl. A number of heritage objects originality 17.14% indicates the level of concern occurred in the demolition of Kesawan District. This study can be used as a toolo of preservation action and evaluation for all stakeholders and the Medan City Government.
PERGESERAN POLA RUANG PADA RUMAH ADAT KARO SIWALUH JABU: Studi Kasus: Desa Budaya Lingga, Karo, Sumatera Utara Farida Ulfa; Imam Faisal Pane
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.168 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1365

Abstract

Budaya lokal atau daerah semakin tergeser eksistensinya seiring berkembangnya zaman. Pergeseran budaya ini tidak hanya terjadi di daerah kota saja namun juga di desa. Fakta bahwa masyarakat pribumi terutama generasi muda lebih memilih untuk tinggal di rumah tinggal tembok dengan dinding plesteran batu bata. Hal ini dapat mengakibatkan lama kelamaan rumah adat bergeser eksistensi dan keasliannya. Sumatera Utara memiliki cukup banyak peninggalan warisan yang tersebar diseluruh wilayah kota dan kabupaten, termasuk Kabupaten Karo. Warisan Karo tersebut berasal dari masa prakolonial berupa perkampungan adat yang cukup unik, salah satunya adalah Desa Budaya Lingga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi rumah adat di Desa Budaya Lingga saat ini dan mengetahui pergeseran pola ruang apa yang telah terjadi pada Rumah Adat Karo, Siwaluh Jabu. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melihat berbagai sumber penelitian kebudayaan rumah adat Karo melalui observasi, wawancara, dan melihat berbagai sumber pustaka. Hasil dari penelitian ini dapat diketahui bahwa pola ruang Rumah Adat Karo terjadi beberapa perubahan. Salah satunya adalah terdapat dinding sekat pembatas antara ruang sebagai pembatas zona publik dengan zona pribadi. Hal ini sangat bertolak belakang dengan ciri khusus Rumah Adat Karo, yaitu rumah tanpa dinding sekat pembatas.
NILAI MASJID JAMI KALI PASIR SEBAGAI SEBUAH BANGUNAN CAGAR BUDAYA: PENGAMATAN SEORANG PEJALAN KAKI Feby Hendola
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.004 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1366

Abstract

Masjid Jami Kali Pasir (MJKP) is believed as the oldest mosque in Tangerang. It is located at Pasar Lama-Kali Pasir heritage site, near old Chinese settlements. In 2011 MJKP was legitimated as an architectural heritage by government of Tangerang City regardless its unnoticeable appearance and its lack of accurate historic and architecture documentary. Nevertheless the board of MJKP’s welfare mosque has tried to conserve its original parts. These facts show that MJKP has significant meaning despite its status, as an architectural heritage, is questionable. Based on this background, this writing is an attempt to know what value that MJKP contains apart from its valid historical data by experiencing its architecture and spatial conditions around it from a pedestrian’s viewpoint. Pictures of walking sequence to MJKP and interview with visitors and local people about their perception on Pasar Lama-Kali Pasir heritage site and the mosque were used to study the value. After analyzing the data with Kevin Lynch’s theory about ‘sense’ dimension, the study revealed that MJKP’s spiritual value could maintain its existence even though its physical appearance was not significant. In conclusion, the spiritual value might be essential in architectural conservation to know why an architectural heritage that has lack of historic documentary and unnoticeable appearance, such as MJKP, needs to be preserved.
HIDUP MARADEKA DALAM TATA RUANG RUMAH BUGIS Hartawan Madeali
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.265 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1367

Abstract

Maradeka life is the highest idea of Bugis ethnic in South Sulawesi Province. Life and maradeka terminology are a unity which is found by exploring Bugis script called lontaraq.The research topic is learning from Bugis in planning and design space. The main objective of this study was to reveal the basic consideration of Bugis ethnic in space design which is applied in they traditional house. The research method is historical interpretation and logical argumentaion. Historical interpretation to reveal the meaning of maradeka in script. Logical argumentation to reveal local knowledge in space problem solving for human better life. The script which used to explain maradeka derived from lontaraq Meong Mpalo and lontaraq Attoriolonge Ri Wajo. The study results that Bugis house space design for maradeka life. The application of maradeka life is suitable to vertical space arrangement in Bugis house. The highest space in Bugis house function as food stuff storage as life warranty. The lowest space function as the support of daily life. The human space placed in the middle of life warranty and support of daily life. This space composition suitable to used as basic consideration in macro planning too. Good planning should be prepared space for food stuff, space for living, and space for supporting life. This spaces should be interconnected and proportional to regard for humanity.
KAJIAN GEOMETRI HUNIAN MASA LAMPAU: Studi Kasus: Lamban Pesagi di Pekon Kenali Kabupaten Lampung Barat Iwan Muraman Ibnu
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.862 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1368

Abstract

Hunian masa lampau adalah salah satu produk budaya bangsa Indonesia, Lamban Pesagi merupakan hunian masa lampau yang terletak di Pekon Kenali Kabupaten Lampung. Kajian geometri yang akan dilakukan dengan memakai teori dari Francis D.K. Ching, dengan melakukan analisa olah bangun dasar, proporsi dimensi bangun dan elemen pembentuk wajah (artikulasi) bangun. Hasil kajian menunjukan Lamban Pesagi terdiri dari 3 (tiga) lapis bangun dengan bangun dasar yang dipakai adalah silinder, kubus dan piramid dan teknik olah bangun perubahan dimensi, pengurangan dan penambahan. Proporsi dimensi vertikal dan horisontal di Lamban Pesagi untuk setiap lapisnya berkisar antara 1:2 sampai 1:6, hal ini menunjukan proporsi bangun dari Lamban Pesagi adalah bangun horisontal. Elemen artikulasi sebagai pembentuk wajah menunjukan dominasi elemen vertikal di lapis bawah dan tengah hal ini menjadi penyeimbang dari proporsi bangun yang horisontal. Hasil kajian ini akan disandingkan dengan kajian geometri dari Rumah Potong Ulu di Desa Minangga OKU Timur, Rumah Baghi di Desa Pulau Panggung Muara Enim , Rumah Pasemah di desa Plang Kenidai Pagar alam, Rumah Lamban Bhajak di Pekon Hujung dan Rumah Bathin di Desa Gedung Batin Way Kanan, guna mendapatkan tipologi geometri hunian masa lampau di dataran tinggi Bukit Barisan sisi barat Sumatera.
PEMETAAN RAGAM HIAS ACEH DALAM KAJIAN GEOGRAFI BUDAYA DAN ETNOGRAFI T. Junaidi; Mufti Riyani
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.484 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1369

Abstract

Ornament is a symbol of cultural identity in a society that is in tune with the essence as homo symbolicus. The process spawned a culture in the development of decoration that is specific typical by region or culture. This study intends to acquire mapping in order to facilitate the identification of decorative ornamentation Acehnese, because in creative economy industry appears uniform and does not address the real wealth Aceh. Mapping the typical decorative loacl region these cultures can be analyzed based on the study of geographical and ethnographic analysis that refers to a system of understanding of space and time which embraced the people of Aceh. This study utilizes ethnographic methods to move select projects ethnography, collecting ethnographic data, creation of ethnographic recordings, analysis and writing ethnography. The result showed that the outline of decorative Aceh can be divided into pattern Aceh East Coast, West Coast and Interior Styling Aceh. This study is expected to be the conservation of the wealth of decorative Aceh so can be used in a variety of media culture in the future.
MEMPERTAHANKAN IDENTITAS LOKAL MELALUI PENGELOLAAN LORONG-LORONG DI KAMPUNG ALUN-ALUN KOTAGEDE Made Algo Ellais Firlando; Wiyatiningsih
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.932 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1370

Abstract

Kampung Alun-Alun sebagai bagian sejarah dari Kotagede telah berkembang dengan pesat. Kampung ini terletak di sisi selatan dari Pasar Legi yang menjadi pusat kehidupan Kotagede.Secara fisik, Kampung Alun-Alun dibentuk oleh dinding-dinding dan gerbang kecil yang mempertemukan dengan gang-gang sempit dan sunyi penghubung antar kampung. Di Kampung Alun-Alun terdapat deretan rumah-rumah tradisional Jawa yang berada di antara dua pintu gerbang dan dikenal sebagai wilayah Between Two Gates. Bentuk dan tata ruang dari rumah-rumah tradisional Jawa yang terdapat di wilayah ini tetap dipertahankan keasliannya dan menjadi museum hidup. Berbeda dengan rumah-rumah di wilayah Between Two Gates, bangunan-bangunan di sekitar Between Two Gates tidak lagi memiliki karakter arsitektur tradisional Jawa. Namun demikian, lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah yang berada di Kampung Alun-Alun memiliki fungsi sosial yang tinggi. Sistem kekerabatan yang kuat tercermin melalui ruang-ruang interaksi di sepanjang lorong-lorong kampung. Ruang-ruang interaksi sosial di sepanjang lorong kampung membentuk pola-pola ruang yang unik. Keunikan tersebut membentuk karakter arsitektur sebagai identitas Kampung Alun-Alun. Berdasarkan pada kondisi tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen arsitektur spasial dan visual yang membentuk identitas Kampung Alun-Alun Kotagede dan pengelolaannya untuk keberlanjutan kampung pada masa mendatang.Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif yang dilakukan di Kampung Alun-Alun Kotagede. Data yang diperlukan untuk mengidentifikasi karakter kampung terdiri dari fasad bangunan, bentuk lorong, dan ruang-ruang interaksi sosial bagi warga Kampung Alun-Alun. Analisis dan pembahasan dilakukan terhadap data hasil observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa identitas Kampung Alun-Alun Kotagede dibentuk oleh karakter spasial yang dibentuk oleh interaksi sosial sehari-hari dari warga kampung dan visual dari bangunan yang berderet di sepanjang lorong-lorong di kampung. Pengelolaan ruang dan citra bangunan yang sesuai dengan konteks setempat menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan eksistensi Kampung Alun-Alun di era modern. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi warga Kampung Alun-Alun untuk berpartisipasi dalam mempertahankan identitas kampungnya. Hasil penelitian juga bermanfaatn bagi pemerintah, yaitu sebagai acuan untuk pengembangan kawasan bersejarah Kotagede, khususnya Kampung Alun-Alun. Pada akhirnya, dapat disimpulkan bahwa, Kampung Alun-Alun yang mulai kehilangan identitasnya dapat dihidupkan kembali melalui pemanfaatan potensi-potensi lokal, yang berupa fasad bangunan bersejarah, bentuk lorong, dan ruang-ruang komunal di sepanjang lorong kampung.
PERKEMBANGAN WACANA IDENTITAS ARSITEKTUR DALAM JURNAL-JURNAL ARSITEKTUR DI AWAL ABAD XX DI HINDIA BELANDA Mahatmanto
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.313 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1371

Abstract

The transition of the 19th century to the 20th century known as the flowering period of the printed mass media in the West and the colonies. Similarly, in the Dutch East Indies, in the turn of the century, many publications are created, written and read by the architects who come to enjoy this print technology development in order to always be able to follow the progress in the Netherlands. At the turn of the century it was known four publications that circulated among architects in the Indies. Ideologies and interests with each of them carrying, mixing, and developed the ideas of architecture are increasingly different from the original. This process is in line with the development of the ideas of nationalism in a society that demands the assertion of identity in the form of nation-state nation Indonesia. This study surveyed the development of the contents of the four publications related to architecture in the Dutch East Indies, which is the method of Discourse Analysis, found patterns of discourse that lies behind the development of architectural identity discourse in the aftermath of Indonesia's independence.
PEREMAJAAN FASAD ARSITEKTUR RUKO PECINAN UNTUK MEMPERKUAT CITRA VISUAL PADA KORIDOR SEI RAMPAH Dwira Nirfalini Aulia; Marisa Hajrina
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.447 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1372

Abstract

Koridor Sei Rampah merupakan jalan lintas Sumatera yang terletak di pusat Kota Sei Rampah. Koridor perdagangan dan jasa ini didominasi oleh deretan ruko pecinan yang dahulunya merupakan kawasan perdagangan rempah-rempah oleh etnis Thionghoa. Hal ini dapat menjadikan ciri khas wajah arsitektur kota pada koridor Sei Rampah. Namun faktanya terdapat beberapa bangunan ruko pecinan yang telah direnovasi, tidak terawat, dan bahkan dibiarkan kosong hingga rusak. Selain itu terdapat pula bangunan ruko – ruko baru bergaya arsitektur modern yang tidak harmonis dengan bangunan lama, fenomena - fenomena fisik tersebut di khawatirkan akan menghilangkan kekhasan visual pada koridor Sei Rampah. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk peremajaan fasad bangunan ruko pecinan sebagai bangunan mixed–use yang dapat menjadikan acuan untuk mengembalikan ciri khas dalam koridor dan untuk mendesain fasad ruko yang baru. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif melalui teknik analisis karakter visual pada bangunan ruko pecinan, yang mengamati unsur-unsur warna, tekstur, pola, style dan skala bangunan. Penelitian ini berupa suatu pedoman yang digunakan untuk mengarahkan kepada pemilik bangunan dalam peremajaan desain fasad bangunan ruko pecinan yang ada di koridor agar tidak menghilangkan citra visual dalam koridor Sei Rampah. Sehingga nantinya mampu menciptakan sebuah koridor dengan deretan bangunan yang harmonis dan menarik.
ADAPTASI ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI PADA TEMPAT-TEMPAT KOMUNAL DI DESA BALINURAGA, KALIANDA, LAMPUNG SELATAN Monika Ata1; Agus S. Ekomadyo
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.629 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1373

Abstract

Kebudayaan tercipta dari perilaku dan pandangan hidup suatu tatanan masyarakat dengan latar belakang tertentu. Perilaku pemukim pada suatu permukiman menghasilkan keberagaman dan pola yang unik sehingga melahirkan identitas pada kebudayaannya sendiri dan pada wilayah tertentu. Adapun proses yang dihasilkan dari kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya demi bertahan hidup serta adanya perubahan pola dan pandangan hidup manusia disebut adaptasi. Adaptasi tentu dilakukan oleh setiap suku pendatang di daerah perantauannya. Proses adaptasi memiliki konsep Adaptation (adaptasi), Goals (tujuan), Integration (integrasi), dan Lattern Pattern Maintenance (pemeliharaan pola-pola) sesuai dengan teori yang disebutkan oleh Partson. Adapun salah satu kasus dari terjadinya proses adaptasi terjadi pada masyarakat suku Bali etnis Nusa Penida yang merantau ke tanah Lampung, Sumatra sejak tahun 1950an memiliki kemampuan beradaptasi yang baik dengan bukti mereka dapat bertahan hidup dengan menghasilkan kondisi sosial dan ekonominya yang cukup baik. Pada penelitian ini, fokus penelitian pada adaptasi arsitektur tradisional Bali yang menganut asta kosala-kosali pada tempat-tempat komunal di desa Balinuraga, Kalianda, Lampung Selatan. Tempat komunal pada asta kosala-kosali terdapat sedikitnya 6 tipe tempat-tempat komunal dengan beberapa tingkatan, yakni tingkat satu kepala keluarga, keluarga satu marga (pemaksan), banjar (dusun), dan tingkat desa. Penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif yang akan dilaksanakan dengan membandingkan data sekunder mengenai tempat-tempat komunal pada permukiman tradisional masyarakat Bali di Bali dan data hasil dari observasi serta wawancara dengan warga di desa Balinuraga, Kalianda, Lampung Selatan. Ditemukan perbedaan berupa penggunaan fungsi dari tempat-tempat komunal serta ketiadaan bale banjar pada tingkat desa. Ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi proses adaptasi adalah ekonomi, perubahan ekologis, politik, kebudayaan, dan sosialisasi.

Page 7 of 16 | Total Record : 156