cover
Contact Name
Nurlisa Ginting
Contact Email
nurlisa@usu.ac.id
Phone
+6285276901644
Journal Mail Official
koridor@usu.ac.id
Editorial Address
Gedung J7, Lt. 2 Jalan Perpustakaan Kampus USU Medan 20155 Indonesia Telp/Fax. 061-8219525
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Koridor
ISSN : 2086910X     EISSN : 27213463     DOI : https://search.crossref.org/?q=2721-3463
Core Subject : Engineering,
Jurnal Koridor (J.Koridor) is a scientific journal in the field of architecture and its applied sciences. Areas in the Jurnal Koridor: 1. Architectural design - Conservation - Sustainable design - Green architecture 2. Landscape and environment - Landscape design - Built Environment Planning 3. Urban Planning - Town planning - Urban design - Housing and settlements - Tourism 4. Building technology - Building technology - Construction - Sustainable structure 5. Architectural theory and criticism - Architectural history - Architectural theory - Vernacular architecture - Neo-Vernacular Architectural
Articles 156 Documents
The Implementation Of Green Architecture In Music Center Building Harisdani, D. D; Tantri, W
Jurnal Koridor Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.672 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v10i2.1353

Abstract

Green architecture can be implemented on the design of a music center building in Medan, Indonesia. The effectiveness of the studying process is related to the environment of the study places created through the implementation of green architecture into a natural, comfortable and tranquil environment both in and outside of the building. With this implementation, an energy-efficient building is designed which supports the development of the city’s green area. To design the building itself, the architectural and non –architectural design stages are carried out by analyzing through various libraries and media as a consideration in solving design problems. The design of this building is related to the orientation of the building itself which utilizes natural lightning, attention to the direction of wind to create natural air circulation, provision of parking spaces and open spaces for convenience and the reuse of water resources which is a green architectural concept that is implemented in urban area’s buildings.
The Design Of Resort Hotel In TukTuk (Neo-Vernacular Architecture) Melinda , Elvina; Rahman , N. Vinky
Jurnal Koridor Vol. 10 No. 2 (2019): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.195 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v10i2.1354

Abstract

Tuktuk Siadong located on Samosir Island has amazing natural potential and cultural characteristics that make Tuktuk one of the favorite destinations of tourists. To fulfill the growth and needs of tourists in Tuktuk anaccommodation in the form of a Resort Hotel is needed. This design begins with a literature study and is followed by a field survey to produce the data needed ina design concept. These concepts produced a Resort Hotel design themed Neo-Vernacular Architecture that developed the basic principles of Batak Toba architecture and applied them in design. Resort hotels that are designed to be lodging accommodations that have supporting facilities to serve tourists who come.
KARAKTER FASAD SUATU KELOMPOK BANGUNAN RUKO CINA MELAYU PADA KORIDOR JALAN JAMIN GINTING PANCUR BATU Almira Raissa; Beny O.Y Marpaung
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.144 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1356

Abstract

Kecamatan Pancur Batu merupakan salah satu daerah yang memiliki peranan penting dalam perkembangan perusahaan tembakau Belanda di Deli. Kegiatan perkebunan tembakau tersebut mengakibatkan kehadiran orang-orang Tionghoa yang bekerja sebagai pekerja kontrak di perusahaan perkebunan Belanda. Kenyataan inilah yang menjadi awal warga keturunan Tionghoa mewarnai kehidupan di Pancur Batu hingga hari ini khususnya pada kawasan pasar. Warga Tionghoa yang berdiam pada area kedai panjang atau deretan ruko pada koridor Jalan Jamin Ginting Pancur Batu memilih pekerjaan sebagai pedagang. Kenyataannya pengaruh budaya Tionghoa dapat ditemukan pada kelompok bangunan ruko di kawasan pasar Pancur Batu dan menjadi daya tarik bagi kawasan tersebut. Seiring berjalannya waktu, pengalihan pemilik bangunan menyebabkan ruko-ruko tersebut tidak terawat lagi dan menghilangnya aksen Tionghoa pada setiap elemen bangunan. Identifikasi karakter fasad kelompok bangunan ruko ini bertujuan untuk mengembalikan citra kawasan pasar sebagai pusat perdagangan yang dibentuk oleh warga Tionghoa. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Adapun penelitian ini akan menghasilkan pedoman dalam hal melestarikan kelompok bangunan ruko aksen Tionghoa pada koridor Jalan Jamin Ginting Pancur Batu. Dengan menerapkan pedoman pelestarian bangunan ruko aksen Tionghoa tersebut diharapkan dapat mengembalikan citra kawasan pasar pada koridor Jalan Jamin Ginting Pancur Batu.
KAJIAN BENTUK ARSITEKTUR SHOPHOUSE SEBAGAI HASIL ADAPTASI BUDAYA IMIGRAN TIONGHOA DI KOTA BANDUNG Andrie Irawan Kartamihardja
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.367 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1357

Abstract

Shophouse adalah jenis bangunan “mixed-use” yang terdiri atas ruang hunian dan retail dalam satu struktur. Karena memiliki integrasi fungsi antara rumah dan toko, maka di Indonesia shophouse lebih dikenal dengan sebutan rumah toko (ruko). Tipe bangunan ini merupakan tipe bangunan hunian yang dibawa dan dikembangkan oleh imigran Tionghoa yang tersebar di Asia Tenggara karena jalur perdagangan sutra maritim. Komunitas imigran Tionghoa yang kemudian menetap di kota-kota pesisir di Asia Tenggara ini menghasilkan tipe hunian yang khas yaitu tipe hunian shophouse. Bandung adalah salah satu kota yang juga terdapat komunitas imigran Tionghoa dan tipe bangunan shophouse, namun sedikit berbeda dari kota-kota lainnya. Daerah pecinan di kota Bandung terbentuk karena adanya peraturan pengelompokan masyarakat berdasarkan ras oleh pemerintahan Belanda, sedangkan arus datangnya imigran Tionghoa di Bandung terjadi di akhir pemerintahan Belanda sehingga komunitas imigran tionghoa di Bandung tidak tersentralisasi ketat pada daerah pecinan. Komunitas imigran Tionghoa di Bandung tinggal berdampingan dengan komunitas Pribumi sehingga menyebabkan terjadinya adaptasi budaya. Rapoport menjelaskan bahwa aspek sosio-kultur menjadi faktor utama yang menentukan bentuk rumah dari sebuah masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bentuk shophouse di kota Bandung yang dipengaruhi oleh adaptasi budaya oleh imigran Tionghoa untuk merespon kondisi sosial di kota Bandung. Manfaat dari penelitian ini yaitu diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana bentuk rumah sangat dipengaruhi oleh aspek sosio-kultur. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitan kualitatif, dengan metode pengumpulan data purposeful sampling, yang kemudian akan dilakukan interpretasi data dan diskusi secara narasi. Keberagaman interface jalan di Bandung terlihat lebih radikal menunjukkan kondisi adaptasi budaya yang lebih kuat terjadi di Bandung. Adaptasi budaya yang terjadi di Bandung ini melemahkan eksklusifitas warga imigran Tionghoa yang berdampak pada melemahnya identitas arsitektur Cina pada shophouse.
PERUBAHAN RUANG SAKRAL WILAYAH KUTA, BALI Ari Djatmiko; Zulphiniar Priyandhoko
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.559 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1358

Abstract

Ruang sakral dinyatakan sebagai bangunan atau obyek utama yang memiliki nilai sakral. Perubahan ruang sakral dapat dinilai dari sisi internal sebagai adanya perubahan unsur-unsur fisik pada ruang atau obyek tersebut seperti perubahan fungsi baik penambahan ataupun pengurangan; perubahan tata letak dan orientasi serta perubahan luas ruang. Selain itu perubahan ruang sakral dapat dinyatakan pula dari sisi eksternal dengan mempertimbangkan perubahan ruang sekitarnya/berbatasan yang dapat mempengaruhi nilai kesakralan bangunan atau obyek sakralnya, seperti perubahan radius jarak dengan bangunan terdekat, perubahan ketinggian bangunan terdekat dan daya pandang bangunan terdekat ke arah bangunan/obyek sakralnya. Pentingnya mempertahankan ruang sakral sebagai bentuk menjaga pluralisme masyarakat tradisional dalam konteks perencanaan keruangan.Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan penelitian tentang perubahan ruang sakral Kuta dengan mempertimbangkan konsepsi ruang relasional. Dalam mencapai tujuan studi ini, maka dilakukan pengumpulan data baik primer maupun sekunder. Teknik analisis yang melandasi penelitian ini adalah analisis diskriptif, kualitatif dan interpretatif yang dilakukan sejak pengumpulan data dimulai.Berdasarkan kajian terhadap 7 (tujuh) jenis ruang-ruang sakral (Pura Dalem Kahyangan, Pura Dalem Tunon, Pura Pesanggaran, Sanggah, Pekarangan, Bale Banjar dan Catus Patha) pada 3 zona kesakralan (parahyangan, pawongan dan palemahan) di wilayah Desa Adat Kuta menunjukkan kecenderungan perubahan ruang. Terdapat beragam pola perubahan ruang sakral baik publik maupun privat terutama mencakup perubahan fungsi; perubahan tata letak dan orientasi; perubahan radius jarak dengan bangunan terdekat; perubahan ketinggian bangunan terdekat dan daya pandang bangunan terdekat ke arah bangunan/obyek sakralnya; serta perubahan lokasi ruang sakral. Perubahan tersebut mengindikasikan mulainya kemunculan kekuatan dominasi ekonomi dan politik yang mempengaruhi nilai-nilai sosial budaya lokal.
PERENCANAAN RUANG KAWASAN PESISIR BERDASARKAN DAYA DUKUNG DAN KEARIFAN LOKAL Aris Subagiyo; Nyoman Trisna Kurniawan; Adipandang Yudono
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.034 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1359

Abstract

Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng merupakan kawasan pesisir dengan potensi sektor perikanan maupun pariwisata. Kawasan pesisir Gerokgak berkembang sangat dinamis, terjadinya perubahan pola penggunaan lahan yang memungkinkan terjadi konflik pemanfaatan ruang kawasan pesisir. Perlu perencanaan kawasan yang komprehensif untuk dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat dengan memperhatikan potensi, daya dukung, dan kearifan lokal yang berlaku di kawasan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daya dukung kawasan pesisir dan kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan menyusun arahan zonasi kawasan pesisir terkait daya dukung kawasan pesisir. Daya dukung wilayah pesisir diidentifikasi menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan variabel-variabel dalam Ketentuan Penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K) dan dilakukan skoring serta overlay pada masing-masing kriteria. Analisis terhadap kearifan lokal yaitu adanya peraturan adat (awig-awig) mengenai batas kawasan suci Pura. Hasil analisis tersebut akan digunakan dasar dalam menyusun arahan zonasi kawasan pesisir yaitu dengan membagi wilayah pengembangan menjadi: zona preservasi, zona konservasi, dan zona pengembangan intensif. Berdasarkan analisis daya dukung, kesesuaian lahan untuk kawasan permukiman seluas 10.487,77 ha (25,80%), kesesuaian kawasan perikanan tangkap seluas 18.945,89 ha (24,67%), kesesuaian kawasan perikanan budidaya seluas 444,68 ha (1,22%), kesesuaian kawasan pelabuhan seluas 181,62 ha (0,24%) dan kesesuaian kawasan pariwisata seluas 59,38 ha (0,08%). Arahan zonasi pesisir Kecamatan Gerokgak yaitu: zona preservasi adalah sempadan pantai, mangrove, taman nasional, konservasi terumbu karang, dan area kawasan suci Pura Pulaki (radius 2 km); zona konservasi adalah area penangkapan ikan, tambak, kawasan pariwisata Batuampar, dan pelabuhan; zona pengembangan intensif adalah zona pengembangan daratan yaitu pemanfaatan lahan yang tidak berhubungan dengan kegiatan pesisir.
PENERAPAN ARSITEKTUR TRADISIONAL MINANGKABAU PADA BANGUNAN PERKANTORAN BUKITTINGGI: Studi Kasus: Kantor Bersama DPKAD, Bapedda, Kesbangpolinmas, dan BAZ di Bukittinggi Aulia Azmi; Imam Faisal Pane
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.235 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1360

Abstract

Rumah gadang merupakan salah satu ekspresi Arsitektur tradisional Minangkabau yang mampu mencerminkan kebijakan.penggunaan bahasa arsitektural masyarakat etnis tersebut. Rumah gadang menjadi simbol kebesaran dari sebuah kaum, karena selain sebagai rumah tinggal rumah gadang juga menjadi tempat berkumpulnya seluruh keluarga seperti rapat keluarga, upacara adat, dan lain-lain.Seiring berkembangnya waktu dan kemajuan zaman, nilai dari arsitektur vernakular Minangkabau mulai ditinggalkan oleh warganya. Dampaknya bentuk keaslian rumah gadang semakin memudar dan tidak dikenali lagi. Namun, di samping itu banyak juga pihak yang tetap mempertahankan nilai rumah gadang dengan menerapkan beberapa aspek keaslian dari rumah gadang itu sendiri ke bangunan modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk arsitektur tradisional minangkabau, dan untuk mengetahui apa saja bentuk penerapan arsitektur tradisional minangkabau pada gedung perkantoran Bukittinggi dari segi bentuk fisik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melihat berbagai sumber penelitian arsitektur tradisional minangkabau melalui observasi dan melihat berbagai sumber pustaka. Penelitian ini menunjukan bahwa terjadi penerapan bentuk-bentuk arsitektur tradisional minangkabau pada gedung kantor Bersama DPKAD, Bapedda, Kesbangpolinmas, dan BAZ di Bukittinggi seperti atap bergonjong dan bentuk bangunan persegi simetris yang memanjang.
KONSERVASI ARSITEKTUR RUMOH ACEH Azhar Abdullah Arif
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.963 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1361

Abstract

Maintain the authenticity and identity of Architecture Rumoh Aceh, the mandate entrusted by its predecessor, the founder utoh or buildings in Aceh for the next generation of Acehnese society, especially who work as experts and historians and cultural buildings. Study Rumoh Aceh can be initiated from the treasury of the culture and customs of Aceh in the past, and continued with tectonic culture that blends the building's existence Rumoh Aceh that we know today. But if not maintained and conservation efforts then gradually Rumoh Aceh will increasingly disappear in Aceh. This is due to the less proficient Utoh building Rumoh Aceh and understand the philosophy and the building process. Rumoh Aceh is Aceh cultural treasures that can still be found in some areas in Aceh Province, among others in the region Lubok Gampong Aceh Besar district. Where there are several buildings Rumoh Aceh are well maintained. However, due to the growing need for space and residential facilities increasingly complex caused the changes and additions to the original building parts. This led to the decreasing number of Rumoh Aceh remaining. So that the necessary effort to organize the village area and an assessment of the suitability of the original typology Rumoh Aceh. Lubok gampong region is an area of the township near the city of Banda Aceh, making it easier to conduct visual observation of the phenomenon of change in residential building typology Rumoh Aceh in the region. The study involved several students who study subjects Architectural Conservation to record symptoms of the changes. Additionally the Aceh provincial government also has set Gampong Lubok as about culture village area periodically ceremonies by presenting the tourists at home and abroad. This is in accordance with the Aceh as Halal Cultural Tourism Destination.
KEMANFAATAN RUANG UTAMA PADA MASJID AGUNG ISLAMIC CENTER KOTA LHOKSEUMAWE Bambang Karsono; Julaihi Wahid; Irma Yunita Sari
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.969 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1362

Abstract

Banyak perancangan ruang pada masjid dihasilkan dari sebuah duplikasi dan peniruan terhadap tipologi ruang dari bangunan masjid lain yang dianggap baik sebagai produk masyarakat muslim. Pendekatan ini terbatasi dengan pengunaan ruang utama berupa ruang di tengah yang paling besar yang dipergunakan untuk sholat dan seringkali mengabaikan nilai dan prinsip dasar Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Artikel ini berusaha mengungkap kemanfaatan ruang utama pada Masjid Agung Islamic Center (MAIC) di Kota Lhokseumawe dikaitkan dengan ‘menghindari berlebih-lebihan’ yang merupakan salah satu nilai dan prinsip dasar Islam. Pengamatan dilakukan selama 30 hari, paralel dengan eksplorasi nilai dan prinsip Arsitektur Islami yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kemanfaatan ruang utama pada MAIC rata-rata hanya 3,24% menurut hari dan 3,26% menurut waktu sholat hal ini menunjukkan indikasi kemubaziran. Kajian ini diharapkan dapat menjadi diskusi bagi pengembangan ranah perancangan dan pemikiran Arsitektur Islami yang lebih bernilai khususnya di Aceh.
SENSATOPIA J.F. Bobby Saragih
Jurnal Koridor Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Koridor
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.743 KB) | DOI: 10.32734/koridor.v9i2.1363

Abstract

Kala pendekatan fisik tidak mampu memahami karya arsitektur secara tuntas maka pendekatan metafisik dapat digunakan (Hardjoko, 2011). Dan perkembangan pengetahuan arsitektur pun akan terjadi bila ide dan gagasan yang melatarbelakangi kehadiran objek tidak dibatasi (Yatmo, 2014). Dalam kehidupan perkotaan, kehadiran anak bermain di jalan adalah sebuah fenomena yang jamak terlihat dan jalan tersebut kadang berubah fungsi dan tidak jarang berfugsi bersamaan, sebagai jalur transportasi dan sebagai spasial yang digunakan anak bermain dan akhirnya jalan tidak lagi terdefenisi dengan jelas. Apakah jalan tersebut masih didefinisikan sebagai jalur transportasi atau sebagai spasial bermain? ambiguitas ini menjadi sebuah dilema dalam memahami spasial arsitektur. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif berbasis grounded theory. Sebagian besar data bersifat data primer yang diperoleh dengan metode wawancara terhadap anak usia sekolah dasar serta melalui pengamatan berkala terhadap perilaku bermain anak. Analisis dilakukan dengan pendekatan coding terhadap setiap ucapan yang disampaikan anak. Penelitian ini lebih berpihak kepada melihat makna dibalik setiap ucapan dan perilaku bermain anak melalui pendekatan metafisik dengan focus pada spasial. Dari penelitian ini diperoleh pemahaman baru bahwa bagi anak bermain itu lebih bersifat kepada laboring mind, dan dari proses analisa tersebut dapat dipahami bahwa bagi anak spasial bermain adalah spasial yang mampu memberikan kesenangan dan kegembiraan bagi anak oleh sebab itu tak salah bila anak sering terlihat bermain di spasial yang tidak semestinya. Oleh sebab itu bagi anak ternyata jalan atau tempat-tempat lainnya adalah spasial yang berpotensi menimbulkan sensasi yang dapat dicerap oleh indera anak. Dan akhirnya dari sensasi yang dihadirkan oleh jalan tersebut dan menghantarkannya sebagai topos (tempat) yang memberikan sensasi yang melahirkan istilah baru sebagai sensatopia. Jalan bukan lagi didefinisikan sebagai jalur transportasi dan bukan juga sebagai spasial bermain. Jalan adalah Sensatopia yang kehadirannya berwujud Spasial Berbasis Stimulus Sensasionalistic.

Page 6 of 16 | Total Record : 156