cover
Contact Name
Susanto Dwiraharjo
Contact Email
jurnalgraciadeo@gmail.com
Phone
+6282310002924
Journal Mail Official
jurnalgraciadeo@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
ISSN : 26556871     EISSN : 26556863     DOI : 10.46929
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles 112 Documents
Kajian Teologis terhadap Pengaruh Postmodernisme dalam Gereja Agustina Pasang
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.107

Abstract

The emergence of the era of Postmodernism marked the end of the modern era and at the same time rejected all modern thought because it was considered old-fashioned and incompatible with today’s developments. The spirit of the era of Postmodernism is marked by progress in all areas of human life, both technology, science, as well as philosophy, theology, and religion. The purpose of this paper is to understand the theological study of Postmodernism and its impact on the church. This research uses a descriptive research method with a literature review approach, namely finding facts with the right interpretation of various literature and the results of research needed in writing the existing topic from various literature and the results of research needed in writing the spelling of exciting topic. Conclusion: Postmodernism poses a serious threat to the church because it adheres to the principle that truth is subjective and determined by individuals which is a person’s personal right, there is no absolute and final truth because everything is relative, meaning that the Word of God is no longer absolute truth and Jesus is not the only truth, only Saviour. This means that Postmodernism is contrary to the Bible which is a source of teaching for Christianity. AbstrakLahirnya era Postmodernisme menandai berakhirnya era modern sekaligus menolak semua pemikiran modern karena dianggap kolot dan tidak sesuai dengan perkembangan masa sekarang. Semangat era Postmodernisme ditandai dengan adanya kemajuan di segala bidang kehidupan manusia, baik teknologi, ilmu pengetahuan, juga dalam filsafat, theologi dan agama. Tujuan penulisan ini adalah untuk memahami kajian teologis terhadap Postmodernisme dan pengaruhnya bagi gereja. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kajian literature yakni pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat dari berbagai literatur dan hasil dari suatu penelitian yang diperlukan dalam penulisan topik yang ada. Kesimpulan: Postmodernisme menjadi ancaman serius bagi gereja karena berpegang pada prinsip bahwa kebenaran bersifat subjektif dan ditentukan oleh individu yang merupakan hak azasi pribadi seseorang, tidak ada kebenaran mutlak dan final karena semuanya relatif, itu berarti Firman Allah bukan lagi kebenaran  mutlak dan Yesus bukan satu-satunya Juruselamat. Artinya Postmodernisme bertolak belakang dengan Alkitab yang menjadi sumber pengajaran bagi Kekristenan. 
Konstruksi Teologia Persahabatan Melalui Pemaknaan Koinonia dalam Bingkai Moderasi Beragama Agustin Soewitomo Putri; Elkana Chrisna Wijaya
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.114

Abstract

Teologia Persahabatan: Merekonstruksi makna Koinona dalam Moderasi Bergereja dan Beragama. Salah satu dari Tri tugas gereja, yaitu koinonia. Sehubungan dengan tugas tersebut, gereja mengemban tugas yang tidak sederhana, yaitu tidak hanya sekedar membangun hubungan yang harmonis antara umat dan Allah, namun juga membangun hubungan yang harmonis dengan sesama, baik yang di dalam gereja maupun di luar gereja (umat beragama lainnya), dalam upaya untuk menghindari atau mengurangi kekerasan, yang disebut dalam penelitian ini dengan moderasi bergereja dan beragama.Pendekatan penulis dalam penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif, yaitu dengan mendeskripsikan dan mengkaji kata koinonia tersebut dengan menggunakan berbagai sumber literatur yang mendukung penelitian ini. Dengan demikian melalui penelitian ini diperoleh sebuah pemahaman baru bahwa dunia kekristenan dapat membangun persahabatan yang harmonis dan Alkitabiah baik dengan tubuh Kristus sendiri, maupun dengan masyarakat di luar gereja, sehingga moderasi bergereja dan antar umat beragama dalam berjalan dengan penuh toleransi.
Peran Roh Kudus yang Kurang Dikenali: Studi Kasus Dua Narasi dalam Kisah Para Rasul 8 Robby Igusti Chandra
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.103

Abstract

 Many studies on the Book of Acts chapter 8 focus on two kinds of baptism, or the Samaritans as the receivers of the Gospel. Further, some works even point out that the text is a part of oral tradition concerning the role of the Apostle Philips. This study explores the message of Acts 8 mainly through the relation between the two narratives in it, and with the whole message of the Book of Acts mainly chapter 1, 2, and 10.  By using narrative analysis, the result shows that Act 8 actually teaches that, the role of the Holy Spirit is to reconcile and unite the believers who have different identities although they have been mentally separated for centuries.  The fact that, 300 years later, the residue of the conflict have resurrected and many Samaritans have killed shows that there is an unfinished task in Christianity, that is to be more sensitive to the Holy Spirit’s role and intention to make them experience conflict resolution and new social relation. Abstrak Berbagai penafsir umumnya meneliti Kisah Rasul 8 dengan menyoroti adanya dua jenis baptisan, atau kekhasan orang Samaria sebagai penerima Injil dan orang yang dibaptis, bahkan, ada yang menunjukkan teks ini sebagai bagian tradisi lisan mengenai peran Filipus. Tulisan ini menelusuri pesan Kisah Rasul 8 dengan mengkaji hubungan antara dua narasi di dalamnya, juga hubungannya dengan bagian lain dari Kisah Rasul khususnya, pasal 1, 2, dan 10. Hasilnya menunjukkan bahwa, bila dilihat dari kaitan dengan keseluruhan pesan Kisah Rasul, maka inti Kisah Rasul 8 sebenarnya mengajarkan peran Roh Kudus untuk menolong orang-orang percaya yang berbeda identitas dalam menjalani penyatuan dan rekonsiliasi walau secara mental mereka sudah terpisah selama beberapa generasi. Bahwa, 300 tahun kemudian residu konflik tersebut muncul kembali dalam kekristenan sehingga antara lain membuat orang Samaria ditumpas menunjukkan adanya pekerjaan rumah yang belum selesai di dalam hidup Kekristenan yaitu, perlunya peningkatan pemahaman dan kepekaan akan peran  Roh Kudus sebagai pendamai dan pembentuk relasi sosial yang baru dalam situasi pemisahan dan konflik antar orang-orang percaya.   
Konstrukti Moderasi Beragama melalui Pembacaan Matius 23:25-32 Reni Triposa; Broto Yulianto
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.100

Abstract

In Christianity, a friendly religious attitude has a much deeper meaning than the general meaning. According to the teachings of the Bible, this attitude is not limited to a duty to be carried out but is an inherent necessity of life for believers. The purpose of this research is to present a friendly religious construction through meditation in the Gospel of Matthew 23:25-32. This is important to convey considering that nowadays disharmony in life is increasing as a result of the appreciation and practice of religions that do not contain the truth. The research method uses descriptive qualitative with a hermeneutic approach. The results of the research found that a friendly religion according to God's teachings contains a noble element, namely self-awareness as a weak creature who is completely dependent on God. The main principle of friendly religion according to the theological study of Matthew 23 is the need for a foundation that is in accordance with the truth of God's word, namely a perspective on oneself as a weak sinful creature and a perspective on others as friends who must be loved and appreciated as God loves. AbstrakDalam Kekristenan sikap beragama yang ramah memiliki makna yang jauh lebih mendalam dari makna secara umum. Sesuai ajaran Alkitab, sikap tersebut bukan sebatas sebagai  tugas untuk dijalankan namun merupakan  kebutuhan hidup yang melekat bagi umat percaya. Tujuan riset ini  adalah menuangkan kontruksi beragama yang ramah melalui perenungan dalam Injil Matius  23:25-32. Hal ini penting disampaikan mengingat saat ini disharmonisasi kehidupan semakin meningkat sebagai akibat penghayatan dan pengamalan agama yang tidak memuat kebenaran. Metode riset mempergunakan deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Hasil riset menemukan bahwa beragama yang ramah sesuai ajaran Tuhan mengandung unsur mulia yaitu kesadaran diri sebagai makhluk lemah yang bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Prinsip utama  beragama yang ramah menurut Kajian Matius 23 secara teologis adalah dibutuhkannya landasan yang sesuai kebenaran firman Tuhan yaitu cara pandang terhadap diri pribadi sebagai makhluk berdosa yang lemah dan cara pandang terhadap sesama sebagai sahabat yaang harus dikasihi serta dihargai sebagaimana Tuhan mengasihi.
Menjadi Gereja yang Inklusif dalam Konteks Keberagaman berdasarkan Injil Matius 8:5-13 Mefibosed Radjah Pono
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.97

Abstract

Exclusivity in religious groups, including Christianity, is a threat to a harmonious and peaceful life in the context of a pluralistic Indonesia. The church needs to be inclusive and reinterpret its presence in this context by learning from Jesus in his encounters with “others” as in the Gospel of Matthew 8:5-13. This study seeks to find the meaning of Jesus' attitude towards foreign officers and the healing that Jesus gave to officers' servants in the context of the Matthew congregation, as well as the kerygma for efforts to become an inclusive church in a pluralistic context in Indonesia. This study uses an interpretive description method with socio-historical interpretation. The result is that Matthew's Gospel demonstrates Jesus' inclusive attitude by accepting all people, not just Jews, to experience His love and salvation. The acceptance was not based on Jewish background, but because of faith in Jesus. Therefore, groups in Matthew's congregation must avoid exclusivity, mutual acceptance, and respect. The message for the church in Indonesia is that the church must stay away from exclusivity, Christianization efforts, but seek to reveal God's reign in the world. The church must be an inclusive church, loving and serving “others”, hearing and knowing “others” in order to see God's work in them. The presence of the church is seen through its service to all people, especially to solve humanitarian problems. Through her ministry, the church shows Christ to “others” so that they experience His saving works and believe in Him. AbstrakPaham dan sikap eksklusif dalam kelompok agama, termasuk agama Kristen merupakan ancaman bagi hidup yang rukun dan damai di konteks Indonesia yang plural. Gereja perlu bersikap inklusif dan memaknai kembali kehadirannya dalam konteks seperti ini dengan belajar dari Yesus dalam perjumpaannya dengan “yang lain” seperti dalam Injil Matius 8:5-13. Penelitian ini berupaya untuk menemukan makna sikap Yesus terhadap perwira asing dan penyembuhan yang diberikan Yesus kepada hamba perwira dalam konteks jemaat Matius, serta kerygma bagi upaya menjadi gereja yang inklusif dalam konteks plural di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi interpretatif dengan tafsir sosio historis. Hasilnya adalah, Injil Matius memper-lihatkan sikap Yesus yang inkusif dengan menerima semua orang, bukan hanya orang Yahudi saja, untuk mengalami kasih dan keselamatan dari-Nya. Penerimaan itu bukan berdasarkan latar belakang Yahudi, tetapi karena iman kepada Yesus. Oleh karena itu, kelompok dalam jemaat Matius harus menjauhi sikap ekslusif, saling menerima dan menghormati. Pesannya bagi gereja di Indonesia adalah gereja harus menjauhi paham dan sikap eksklusif, upaya kristenisasi tetapi berupaya menyatakan pemerintahan Allah dalam dunia. Gereja harus menjadi gereja yang inklusif, mengasihi dan melayani “yang lain”, mendengar dan mengenal “yang lain”agar dapat melihat karya Allah dalam diri mereka. Kehadiran gereja terlihat melalui pelayanannya bagi semua orang, terutama untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan. Melalui pelayanannya gereja memperlihatkan Kristus kepada “yang lain” sehingga mereka mengalami perbuatan penyela-matan-Nya dan percaya kepada-Nya. 
Memetakan Strategi Kepemimpinan Pastoral di Era Posmodern Munatar Kause; Daud Darmadi
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 2, No 2 (2020): Januari 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v2i2.126

Abstract

This study aims to show the characteristics and views of the truth that is held by the community and the church in the postmodern era. The second objective is to find a model of pastoral care that is relevant for congregations who have been affected by postmodern culture. The method used is literature research by comparing, synthesizing, and analyzing various literature related to pastoral care in the postmodern era. The results of the literature study presented in this study indicate that the influence of postmodern views has entered the life of the congregation, which views that the truth of the Word of God is no longer absolute, but they create views of truth that are subjectively created. Pastoral leadership services to deal with this are, 1) Leaders must be spiritual 2) Leaders must have vision 3) Leaders must change.In addition, the model of pastoral care to the congregation that can be done is 1) Conducting training for lay people, 2) Creating cell groups 3) Doing personal service. 
Peran Media Komik Alkitab dalam Proses Pembelajaran untuk Meningkatkan Keterampilan Bercerita Murid Sekolah Minggu Benyamin Pintakhari; Desi Arisandi Laga Nguru; Devi Maria Bungaa
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.108

Abstract

The study was conducted in Sabtu Ceria GPdI Betania, Buduran, Sidoarjo to investigate the role of Biblical Comic media in the learning process to improve storytelling skills. Biblical Comic media is essential to improving Sunday School students' storytelling skills. The research objective is achieved by using compare mean analysis Paired T-test. Instrument or measuring instruments used in collecting the data in this study is an observation before using Biblical Comic. This study used a total sampling of 32 Sunday School students. The results showed that there are significantly improve storytelling skills Sunday School student after used Biblical Comic media. Suggested Pastor and Sunday School Teachers in Ibadah Sabtu Ceria GPdI Betania, Buduran, Sidoarjo more innovate using Biblical Media to improve Sunday School students' storytelling skills Ibadah Sabtu Ceria GPdI Betania, Buduran, Sidoarjo. AbstrakPenelitian dilakukan di GPdI Betania, Buduran, Sidoarjo, dengan tujuan untuk meneliti peranan media komik Alkitab dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan bercerita murid Sekolah Minggu. Hal ini mengingat penggunaan komik Alkitab merupakan sarana bantu yang penting dalam peningkatan keterampilan bercerita murid Sekolah Minggu. Tujuan penelitian dicapai dengan menggunakan analisis deskriptif dan uji beda Paired T-test. Instrumen yang dipergunakan untuk mendapatkan data dalam studi ini ialah observasi. Penelitian ini menggunakan sampel sebesar 32 murid Sekolah Minggu, yang ditentukan dengan memakai metode total sampling. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan Media Komik Alkitab sangat efektif dalam membantu murid untuk lebih memudahkan dalam bercerita sesuai dengan materi yang ada. Disarankan agar guru Sekolah Minggu di ibadah Sabtu ceria GPdI Betania, Buduran, Sidoarjo dapat lebih inovatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan bercerita murid. 
The Meaning of The Martin Luther’s Five Soli for Christian Life Today Pujiastuti Liza Sindoro
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.85

Abstract

One important and influential part in the teachings of Martin Luther is the five soli teaching formula. The five soli teaching formula became the core of Martin Luther's teachings in reforming and changing the face of the church. These teachings entered into the practice of the life of the church and God's people as well as the academic study of theology. The purpose of this paper is to find out the meaning of Marthi Luther's five soli teaching formula and how it is applied to Christian life today. The method used in this paper is a descriptive analysis of related literature sources. The result of this paper is that the five Soli teachings are Luther's biographical theology, because they are formulated from life experiences, so that they can be applied to confessional theology, Seelsorge or pastoral counseling, as well as good deeds and the spirit of Protestantism.
Menghadapi Quarter Life Crisis dalam Terang Perspektif Alkitab Michael Salomo Hahuly
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.102

Abstract

 In this article we discuss all things related to one phase in life that is the quarter life crisis and how to deal with it from a biblical point of view. Quarter life crisis is a situation where everyone will definitely experience it. The explanation in this article covers the meaning, an indication of a person being present during the quarter life crisis, to which aspect of life is vulnerable when a person is present during this quarter life crisis, also how to deal with the quarter life crisis. Looking at it from the point of view of the peace that God has given to the nation of Israel, it is hoped that it can provide motivation for everyone who is in the phase of the quarter life crisis.AbstrakDalam artikel ini membahas tentang segala hal yang berhubungan dengan salah satu fase dalam kehidupan yaitu adalah quarter life crisis dan bagaimana cara menghadapinya berdasarkan sudut pandang Alkitab. Quarter life crisis adalah suatut keadaan dimana semua orang pasti akan mengalaminya. Penjelasan dalam artikel ini meliputi pengertian, indikasi seseorang sedang ada dalam masa quarter life crisis, hingga aspek kehidupan mana yang rawan ketika seseorang sedang ada dalam masa quarter life crisis ini, juga bagaimana cara menghadapi masa quarter life crisis. Dengan melihat dari sudut pandang bagaimana damai sejahtera yang Allah berikan kepada bangsa Israel, diharapkan dapat memberikan motivasi bagi setiap orang yang sedang berada dalam fase quarter life crisi
Liturgi yang Bermain untuk Generasi Z di Masa Pandemi COVID-19: Suatu Panduan Melalui Perspektif Romano Guardini Tiarma Pintauli Tambun
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.86

Abstract

Pandemic Covid-19 led churches to strive for a virtual world and live with some boredom due to online interaction. Some churches and schools try to adjust themselves to these conditions by running the virtual service via Zoom and YouTube. However, this effort is not holistic for the whole people. Virtual worship is not paying attention enough to the Z generation who are facing boredom, loneliness, and anger due to the pandemic, especially during the quarantine. Basically, this generation is close to playful activity. Playful has been part of education (paideia). Some text in the Old Testament and the New Testament has connected playfully with rejoiceful, happiness, joy, and fun. From these Z generation’s problems and with the playful theology pedestal, this paper tries to construct a playful liturgy for the Z generation who lost enthusiasm for virtual worship during the pandemic. This research has shown that playful liturgy is able to give a space for the Z generation to be more interactive and active in worship.  AbstrakPandemi Covid-19 menghantar gereja kepada pergumulan dengan dunia virtual, sekaligus kebosanan hidup dengan interaksi daring tersebut. Berbagai gereja dan sekolah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan ini melalui berbagai usaha seperti menjalankan ibadah secara virtual via Zoom dan YouTube. Sayangnya, usaha penyelamatan itu tidak holistik menga-rah kepada seluruh warga jemaat. Ibadah virtual kurang memberi perhatian pada generasi Z yang menghadapi kebosanan, kesepian, bahkan kemarahan dengan situasi pandemi, terlebih ketika mereka melewati masa-masa karantina. Pada dasarnya, generasi ini erat dengan bermain. Bermain pun menjadi bagian dari pendidikan (paedeia). Sejumlah teks Perjanjian Lama (Mzm. 33:21; Ams. 13:9; Pkh. 8:15; 2 Sam. 6:5; 1Taw. 15:29; Zak. 8:5; Kel. 32:6) dan Perjanjian Baru (Kis. 2:26, Luk. 24:50-52) menghubungkan bermain dengan sukacita, kegembiraan, kebahagiaan, dan kesenangan. Dari problematika generasi Z dan sejumlah landasan teologis bermain yang mendatangkan sukacita, tulisan ini berupaya untuk mengonstruksi liturgi bermain bagi generasi Z yang kehilangan gairah ibadah virtual di masa pandemi. Penelitian ini menunjukkan bahwa liturgi bermain mampu memberi ruang bagi generasi Z untuk lebih interaktif dan aktif dalam ibadah.  

Page 6 of 12 | Total Record : 112