JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO
Jurnal Teologi Gracia Deo merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan bidang ilmu teologi dan Pendidikan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2655-6863 (online), ISSN: 2655-6871(print), diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta. Focus dan Scope dalam Jurnal ini adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Pastoral Misiologi Kepemimpinan Kristen Pendidikan Kristiani
Articles
112 Documents
Perubahan Pola Penghayatan Nilai-nilai Keagamaan pada Generasi Milenial
Susanto Dwiraharjo;
Rieka Noviana
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.105
Perubahan pola penghayatan nilai-nilai keagamaan pada generasi milenial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan pola penghayatan nilai-nilai kegamaan pada generasi millennial. Internet pada faktanya telah menyatu dengan kehidupan masa kini. Kehadirannya tidak saja telah mengubah banyak hal dalam tatanan kehidupan sosial, tetapi juga telah mengubah perilaku keagamaan. Perilaku ibadah yang selama ini terbatasi oleh ruang dan waktu, dan itu telah dijadikan standar baku keimanan seseorang, sekarang tidak lagi demikian. Bukan saja terkait dengan ruang serta waktu peribadatan, bahkan lebih dari itu liturgi gereja yang selama ini disakralkan pun juga ikut berubah. Luaran dari penulisan artikel ini adalah untuk pemenuhan tugas perkuliahan. Penelitian ini menerapkan metode kualtatif dengan analisis fenomenologi. Dengan metode ini akan dapat ditemukan data-data yang terserak selanjutnya dikonstruksikan dalam satu tema yang lebih bermakna dan mudah dipahami. Di sini peneliti akan lebih banyak berkaitan dengan data kualitatif yang bermakna, maka dengan demikian peneliti harus mampu memberi makna atau interpretasi terhadap fakta yang diperoleh. Penelitian ini dilakukan melalui 4 proses, yaitu: pertama mendiskripsikan fakta berdasarkan data, kedua melakukan analisis terhadap fakta yang ditemukan, ketiga melakukan kajian terhadap topik dari sudut pandang ajaran Kekristeenan, dan keempat menemukan relevansinya pada pola peribadatan generasi milenial.
Kedudukan Bapa Rohani dalam Penggembalaan Generasi Digital menurut 1 Korintus 4:14-21
Joni Manumpak Parulian Gultom;
Selvyen Sophia
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.92
Special attention was paid to the church as a New Testament divine institution with a pastor's role as a spiritual father who was the key in shepherding the digital generation to find an entire Christian life. It did not happen because of discontinuity in functions such as motivational factors, world pressures, and the wrong mentality of the shepherd. They should be maximized the part of the shepherd as a spiritual father in the digital era. The question was, what is the role and function of the spiritual father according to Paul in 1 Corinthians 4:14-21? And what is the strategy for developing the quality of spiritual fathers in existing pastoral leadership? The purpose of this study is [1] to explain the role and function of spiritual fathers as spiritual fathers referred to by Paul in 1 Corinthians 4:14-21, [2] to define strategies in developing the quality of spiritual fathers in maximum shepherding. This study concludes that the role and function of spiritual fathers in the digital era is [1] Disciplining and teaching the digital generation as loved children (v14). [2] Gospel-centered ministry is a key in character building (v15). [3] The spiritual father has the maximum life in exemplary (v16). [4] Creating and preparing new leaders from the digital generation to the future (v17).
Kajian Teologis tentang Murka Allah terhadap Bangsa Lain dalam Nahum 1:1-8
Tomi Supriyanto
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.113
God’s wrath is a theological study of the concept of God's wrath against other nations in Nahum 1:1-8. An article that will describe how to understand theologically the wrath of God towards those who do not have a relationship or a covenant with God. There is a work of God that is also done and prepared by God for every human being in God’s own way. But it was the attitude of neglect and abandonment of God’s work that became the turning point of God’s wrath against them.AbstrakMurka Allah adalah sebuah kajian teologis pada konsep murka Allah terhadap bangsa lain dalam Nahum 1:1-8. Sebuah tulisan yang akan menguraikan bagaimana memahami secara teologis murka Allah pada mereka yang tidak memiliki ikatan relasi atau perjanjian dengan Tuhan. Murka Allah tidak berlaku sewenang-wenang karena identitas yang tidak punya relasi dengan Allah. Ada karya Allah yang juga dikerjakan dan disiapkan Allah bagi setiap umat manusia dengan cara Allah sendiri. Namun sikap pengabaian dan meninggalkan karya Allah itulah, yang menjadi titik balik murka Allah berlaku pada mereka.
Menggereja dalam Ruang Pluralitas Sosial
Simanjuntak, Roy Martin
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.116
Hidup menggereja adalah sebuah aktualisasi iman dalam masyarakat, yang mampu meghadirkan Allah di tengah dunia. Gereja seringkali melupakan perannya di tengah masyarakat karena terfokus kepada masalah-masalah spiritualitas secara interen. Panggilan hidup menggereja dalam bingkai relasi sosial sebenarnya sebuah upaya gereja dalam menciptakan dan membangun dimensi-dimensi sosial di dalam masyarakat dengan tujuan supaya gereja berpartisifasi dalam membangun persatuan, keharmonisan dalam bermasyarakat dan bernegara. Dalam penelitian ini ditemukan beberapa hal yang harus dipahami oleh orang percaya di dalam hidup menggereja; pertama hidup menggereja dalam bingkai relasi sosial memiliki dasar teologis. Kedua, hidup menggereja di tengah bangsa Indonesia harus memahami keragaman dalam beragama, kekayaan budaya serta memahami adanya kesenjangan sosial dalam masyarakat. Metode yang dipakai dalam penelitian ini studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif.
Keadilan, Penghukuman, Pengharapan: Kontribusi Teologis Kitab Mikha bagi Umat
Lili Lili;
Maria Evvy Yanti
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.106
A life that upholds obedience to God will create individuals who have integrity in moral practice according to His will. But this is faced with a situation of the times that shows the disobedience committed by the group that become the enforcer of the truth. The hope of the people as expressed through the truth and justice of the leaders accompanied by condemnation for their perversion of behavior. The situation of life that occurred was the same as that experienced by the Israelites at the time of the preaching of the book of Micah. This study aims to analyze the theological message of the book of Micah which is loaded with the teachings of behavior to exercise obedience and diligence on God's will in the midst of the punishment experienced by the people. In addition, the narrative written in the book of Micah is very interesting because in the midst of god's condemnation bestows salvation for the people. The method used in this study is qualitative by applying descriptive methods through historical analysis of the social situation of the text. This research shows that people's practices of life are centered on obedience to teach God's truths that occur in the lives of people. AbstrakKehidupan yang menjunjung tinggi ketaatan kepada Allah akan menciptakan individu yang memiliki integritas dalam praktik moral sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi hal ini dihadapkan pada situasi zaman yang menunjukkan ketidaktaatan yang dilakukan oleh kelompok yang diamanahkan menjadi penegak kebenaran. Harapan umat dinyatakan melalui tindakan kebenaran dan keadilan dari para pemimpin disertai dengan penghukuman atas penyimpangan perilaku mereka. Situasi kehidupan yang terjadi sama seperti yang dialami oleh orang Israel pada saat pemberitaan kitab Mikha. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan teologis kitab Mikha yang sarat dengan ajaran perilaku untuk menjalankan ketaatan dan ketekunan pada kehendak Tuhan di tengah hukuman yang dialami oleh umat. Selain itu, narasi yang ditulis dalam kitab Mikha sangat menarik karena di tengah kecaman Allah menganugerahkan keselamatan bagi umat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menerapkan metode deskriptif melalui analisis sejarah situasi sosial teks. Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik kehidupan masyarakat berpusat pada kepatuhan untuk mengajarkan kebenaran Tuhan yang terjadi dalam kehidupan umat.
Allah di Dunia Digital: Dampak Perubahan Pola Komunikasi terhadap Perspektif orang Kristen tentang Allah
Chandra, Robby Igusti;
Dwiraharjo, Susanto
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.117
Past studies especially done by Walter Ong have shown that the changes in technology and culture could trigger the emergence of new patterns of communication and relationship that influence human self-understanding, the meaning of life, and the image of God that they believe. This article explores whether the rapid development of digital technology and culture in Indonesia can change the modern Christians’ image of God. By using literature research, it is found that the Indonesian Christians who are already immersed in the digital culture that emphasizes experiential reality, non-stop flexible relationships, and subjective nonphysical presence might prefer the Holy Spirit as God-image in their mind. They even wish for an experiential relationship with the Holy Spirit who relates to human beings in a nonphysical and flexible manner. This study gives hints for Indonesian churches to recognize some challenges in the theological and practical spheres that they have to face. AbstrakStudi masa lalu misalnya dari Walter Ong telah menunjukkan bahwa, perubahan teknologi dan budaya memicu hadirnya pola komunikasi dan relasi yang berbeda sehingga mengubah pemahaman manusia mengenai dirinya, makna hidup, bahkan gambaran mereka mengenai Allah yang dipercayanya. Artikel ini meneliti apakah perubahan yang disebabkan oleh hadirnya teknologi dan budaya digital yang sangat cepat di Indonesia akan mengubah pandangan orang Kristen mengenai Allah. Dengan metode penelitian kepustakaan didapatkan temuan bahwa, orang-orang Kristen yang sudah terbiasa hidup dalam budaya digital yang menekankan realitas subjektif yang eksperinsial, relasi terus menerus, kehadiran non ragawi akan lebih mudah menghayati hubungan dengan Roh Kudus yang berelasi dengan manusia secara cair. Studi ini memberikan isyarat bagi gereja di Indonesia tenta tantangan-tantang yang perlu di jawab baik di ranah teologis maupun praktis.
Partisipasi Gereja dalam Menangani Kemiskinan Dampak Pandemi Covid-19
Rieka Noviana
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i1.104
The Covid-19 pandemic has had a broad impact on all aspects of life, including the community's economy. The number of workers who were laid off because of the company's inability to pay salaries triggered an increase in the poverty level of the community. This has created a new social problem and requires many parties to participate in dealing with it, including the church in it. This study uses a case study method that aims to provide an overview of the phenomena that occur and seek solutions to cases that occur. It is hoped that this research can provide an overview of the problems that occur and solutions to these problems. The conclusion to all of this is to emphasize that the Covid-19 pandemic has had an impact on the community's economy, which has increased poverty. In this context, the church must be able to take a role in handling it. AbstrakPandemi Covid-19 telah memberi dampak luas pada seluruh sendi kehidupan, di dalamnya termasuk perekonomian masyarakat. Banyaknya pekerja yang dirumahkan karena ketidakmampuan perusahaan membayar gaji, memicu naiknya tingkat kemiskinan masyarakat. Hal ini telah menimbulkan persoalan social yang baru, dan menuntut banyak pihak dapat ikut serta dalam menanganinya, termasuk gereja di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus yang bertujuan untuk memberi gambaran tentang fenomena yang terjadi, dan mencari penyelesaian atas kasus yang terjadi. Diharapkan dengan penelitian ini dapat ditemukan gamba-ran atas persoalan yang terjadi, dan jalan keluar atas persoalan tersebut. Kesimpulan atas semua-nya adalah menegaskan bahwa pandemi Covid-19 ini telah berdampak pada perekonomian masyarakat, yang membuat kemiskinan semakin meningkat. Pada konteks ini gereja harus dapat ambil peran dalam penangannya.
Hidup Menggereja dalam Bingkai Relasi Sosial
Roy Damanik;
Go Heeng
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This paper aims to find out the role of the church in the reality of multiple social relations frames. The church is in the midst of a world that cannot be separated from its social environment. The church is in the spirit of pluralism that promotes religious tolerance, which agrees that in all religions there is salvation. This spirit affects the church, some are open and some are closed to the spirit of pluralism. The author wants to convey that the church was sent to manifest God's love in society. The task of calling and sending the church into the world provides space for churches to participate and take responsibility for social life. This study aims to find out the function and way of life of the church within the framework of social relations in Indonesia which is pluralistic. In this study, the author applies a qualitative method oriented to the study of literature or literature. The author concludes that the church as a divine organism must be able to be an example and still glorify God in the context of social relations with the spirit of plurality. The role of the church is to be able to church within the framework of social relations, namely living in the principle of hospitality, being the perpetrator of harmony, and interpreting the role of religion in the reality of pluralism. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menemukan peran gereja dalam realitas bingkai relasi sosial yang majemuk. Gereja ada di tengah-tengah dunia yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosialnya. Gereja berada dalam semangat pluralisme yang mengedepankan toleransi beragama, yang menyetujui bahwa dalam semua agama ada keselamatan. Semangat tersebut mempengaruhi gereja, ada yang membuka diri dan ada yang menutup diri terhadap semangat pluralisme tersebut. Penulis hendak menyampaikan bahwa gereja diutus untuk mewujudkan kasih Allah di dalam masyarakat. Tugas panggilan dan pengutusan gereja ke dalam dunia memberikan ruang bagi gereja-gereja untuk berpartisipasi dan turut bertanggung jawab atas kehidupan bermasyarakat. Kajian tulisan ini bertujuan untuk menemukan peran dan cara hidup menggereja dalam bingkai relasi sosial di Indonesia yang pluralitas. Dalam penelitian ini, penulis menerapkan metode kualitatif yang berorientasi pada studi literatur atau kepustakaan. Penulis memberi kesimpulan bahwa gereja sebagai organisme Ilahi harus mampu menjadi teladan dan tetap mempermuliakan Allah dalam konteks relasi sosial dengan semangat pluralistasnya. Peran gereja untuk dapat menggereja dalam bingkai relasi sosial, yakni hidup dalam prinsip hospitalitas, menjadi pelaku kerukunan dan memaknai peran agama dalam realitas kemajemukan.
Merengkuh Spiritualitas Persahabatan Ekumenis: Sebuah Refleksi Paradigma Misi Gereja Posmodern
Fredy Simanjuntak;
Jammes Juneidy Takaliuang;
Budin Nurung
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.101
The narrative about God's Mission always manifests in the space of friendship with the world even after the fall until today's Postmodern era. In today's world, the world is largely globalized and urbanized. The church no longer lives in a closed community with limited interaction. Cultural Networks are interconnected into a system. Yet most churches still grapple with theologically and dogmatically fragmented paradigms. The church needs a friendly spiritual restoration as the body of Christ to meet God's mission with ecumenical energy. This study aims to adapt the relevant mission paradigm through the spirituality of ecumenical friendship in postmodern reality. This study uses a descriptive method with critical and socio-theological discourse analysis. It is hoped that through this research the Church can make more serious observations and position itself as an integralist to become a bridge of friendship in carrying out God's mission in a relevant way. AbstrakNarasi mengenai Misi Allah senantiasa mewujud dalam ruang persahabatan dengan dunia sekalipun pasca kejatuhan hingga di masa Postmodern sekarang ini. Di masa kini dunia sebagian besar terglobalisasi dan terurbanisasi. Gereja tidak lagi hidup dalam komunitas tertutup dengan interaksi terbatas. Jaringan Budaya saling berhubungan ke dalam suatu system. Namun sebagian besar gereja-gereja masih bergulat dalam paradigma yang terfragmentasi secara teologis dan dogmatis. Gereja memerlukan restorasi spiritual yang bersahabat sebagai tubuh Kristus untuk menyongsong misi Allah dengan energi ekumenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasikan paradigma misi yang relevan melalui spiritualitas persahabatan ekumenis dalam realitas postmodern.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis wacana kritis dan sosio-teologis. Diharapkan melalui penelitian ini Gereja dapat melakukan pengamatan yang lebih serius serta menempatkan dirinya sebagai integralis untuk menjadi jembatan persahabatan dalam mengemban misi Allah secara relevan.
Mengaktualisasikan Sila Ketiga Pancasila dalam Perspektif Iman Kristen: Refleksi Teologis tentang Kerukunan
Hestyn Natal Istinatun;
Andreas Fernando;
Carolina Etnasari Anjaya
JURNAL TEOLOGI GRACIA DEO Vol 4, No 2: Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46929/graciadeo.v4i2.121
The actualization of the third principle of Pancasila in the plurality of Indonesian society is a necessity, in the midst of the threat of national disintegration. In a pluralistic society, harmony is needed as the foundation for the implementation of a peaceful life. The Bible teaches that harmony is a calling in life that every believer must live. The purpose of this study is to open an understanding of what and how the task of believers is in building harmony, and how to actualize the third precepts of Pancasila in social life in accordance with Bible teachings. This study uses a descriptive qualitative method with a literature study approach. The author explores the theme of harmony and the actualization of the third principle of Pancasila from various literature, both journal articles, books, and other literature. There were also excavations of various biblical texts that describe how Christians should live to fulfill God's call to create and maintain harmony. The results of this study conclude that the actualization of the third precept can be done by building harmony through the spirit of nationalism and patriotism in accordance with Bible teachings. AbstrakAktualisasi sila ketiga Pancasila dalam kemajemukan masyarakat Indonesia merupakan suatu keniscayaan, di tengah ancaman disintegrasi bangsa. Dalam masyarakat majemuk dibutuh-kan kerukunan sebagai fondasi demi terselenggaranya kehidupan yang damai sejahtera. Alkitab mengajarkan bahwa kerukunan adalah panggilan hidup yang harus dijalankan oleh setiap orang percaya. Tujuan dari penelitian ini adalah membuka pemahaman mengenai apa dan bagaimana tugas orang percaya dalam membangun kerukunan, dan bagaimana cara mengaktualisasikan sila ketiga Pancasila dalam hidup bermasyarakat yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Penulis menggali tema tentang kerukunan dan aktualisasi sila ketiga Pancasila dari berbagai literatur baik artikel jurnal, buku, maupun literatur lain. Dilakukan pula penggalian berbagai teks Alkitab yang menggambarkan bagaimana orang Kristen harus hidup memenuhi panggilan Tuhan dalam mewujudkan dan menjaga kerukunan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa aktualisasi sila ketiga dapat dilakukan dengan membangun kerukunan melalui spirit nasionalisme dan sikap patriotisme yang sesuai dengan ajaran Alkitab.