cover
Contact Name
Muhammad Ilham Akbar Alamsyah
Contact Email
231320043.muhammadilham@uinbanten.ac.id
Phone
+6285798995400
Journal Mail Official
hikmatul.luthfi@uinbanten.ac.id
Editorial Address
Jl. Syekh Moh. Nawawi Albantani, Kemanisan, Kec. Curug, Kota Serang, Banten
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
Al-Fath
ISSN : 19782845     EISSN : 27237257     DOI : https://doi.org/10.32678/alfath
Al-Fath: published twice a year since 2007 (June and December), is a multilingual (Bahasa, Arabic, and English), peer-reviewed journal, and specializes in Interpretation of the quran. This journal is published by the Alquran and its Interpretation Department, Faculty of Ushuluddin and Adab, Sultan Maulana Hasanuddin State Islamic University of Banten INDONESIA. Al-Fath focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, and Theology. Editors welcome scholars, researchers and practitioners of Alquran and its Interpretation, Hadith, and Theology around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008" : 8 Documents clear
Segi-segi Hukum Ekonomi Islam Nihayatul Maskuroh
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3287

Abstract

Maraknya ekonomi Islam, atau perbankan syari’ah, sudah tidak lagi dibendung-bendung lagi, apalagi konstitusi negara Indonesia terhadap pertumbuhan nilai ekonomi berdasrakan syari’ah sudah lama yang di telah diarah secara jelas tentang adanya jaminan pelaksanaan syari’at Islam. Bahkan secara teks-teks ayat-ayat al-quran sudah di yakini oleh umat Islam, bahwa ekonomi Islam berada dalam tataran ideal posisinya lebih tinggi dan lebih baik dari system konvensional saat ini. Fokus bahasan tulisan dalam makalah ini mencoba menyoroti ekonomi Islam dari segi hukum dan peraturan perundang-undangan( legislasi) yang telah ada yang mengatur dan memberi ruang gerak ekonomi Islam, peluang dan tantangan pada masa depan, dalam kaitannya upaya formalisasi penerapan hukum Islam secara umum dan khususnya ekonomiIslam di Indonesia, serta political will pemerintah Indonesia atas pemberlakuan dan penerapan hukum islam di bidang ekonomi Islam.Tulisan ini hanya membahas legislasi Perbankan Islam
Metode Muhādisin dalam Penyusunan Hadis pada Abad Pertama Hijriah Endad Musaddad
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3276

Abstract

Hadis-hadis dikumpulkan selama masa hidup rasulullah, para istri dan sahabat Nabi yang memiliki keistimewaan mendapat pelajaran langsung dari beliau’ memperaktekan sunnah dan menyampaikan pengetahuan tentang hadis-hadis pada generasi sesudah mereka. Mereka menggunakan semua cara yang mungkin termasuk catatan-catatan tertulis. Pengingatan dan pengamalan untuk menyimpan dan menyampaikan hadis Nabi. Terdapat bukti bahwa sebagian dari sahabat menuliskan hadis-hadis itu dan mebuat catatan-catatan yang sangat teliti atas ucapan-ucapon dan tindakan-tindakan Nabi. Oleh karenanya periwayatan hadis telah dimulai sejak masa Nabi, namun pertumbuhannya sangat pesat pada dua ratus tahun pertama setelah hijrah, meski ada beberapa pemalsuan hadis yang tak terpisahkan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu untuk tujuan-tujuan politis yang dangkal yang di dorong oleh pengaruh sectarian. Tulisan ini lebih jauh akan membahas tentang perkembangan hadis yang terjadi pada abad pertama hijriah, berikut beberapa metode yangditempuh oleh orang-orang yang hidup pada masa itu guna melestarikan Sunnah Nabi sebagai pedoman bagi kehidupan komunitas muslim. Hal inimenarik untuk dibicarakan mengingat selama ini pembahasan mengenai pentadwinan hadis, para pembahas langsung tertuju pada abad ke dua Hijriah, dimana hadis sudah mulai di tadwinkan.
Prinsip dan Etika Komunikasi dalam Islam Umdatul Hasanah
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3288

Abstract

Manusia adalah homo simbolicum, ia menggunakan bahasa sebagai wujud interaksi dan menunjukan eksistensi dirinya, yang melingkupi bahasa lisan, tulisan, tubuh. Dalam sejarahnya manusia dalam aktifitas proses komunikasi bukan hanya sekedar interaksi, tapi lebih dari itu memiliki makna dan tujuan. Tujuan-tujuan tersebut di antaranya ; manusia ingin mempengaruhi dan merubah perilaku dan sikap orang lain. Seorang komunikator muslim dalam melakukan kegiatan komunikasi agar dapat diterima dan berhasil dalam kegiatan komunikasinya maka komunikasi yang dilakukan harus sesuai dengan prinsip-prinsip dan etika,terutama yang bersumber dari ajaran Islam.
Dakwah dan Komunikasi Ilah Holilah
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3289

Abstract

Dakwah adalah tugas mulia yang disebutkan dalam al-quran dan hadits. Orang yang mendapat tugas dakwah dalam Islam adalah Nabi Muhammad, yang masa hidupnya telah berlangsung upaya-upaya merubah isi kitab suci sebelum al-quran seperti kitab Taurat, prilaku dakwah NabiMuhammad dimulai dalam hidupnya ditandai dengan kegiatan tahannuts, yang dilakukan di Gua Hira yang akhirnya menerima wahyu pertama. Dakwah merupakan aktivitas menyeru dan mengajak manusia kepada Iman, Islam, da Ihsan. Kewajiban dakwah tidak saja dibebankan Allah kepada Rasul-Nya, namun juga dibebankan kepada umat-Nya, sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing. Pada dasarnya jugakomunikasi merupakan ilmu retorika, sebagaimana telah dikembangkan pada zaman Yunani. Pada tulisan ini penulisan akan membahas tentang tujuan dakwah dan komunikasi.
Pluralitas Pemikiran Keagamaan A. Mahfudz
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3290

Abstract

Wawasan plural adalah wawasan yang menerima perbedaanatau kemajemukkan maka untuk itu, diperlukan wawasan tentang kearifan budaya. Suatu perbedaan cara pandang atau perspektifk eagamaan, apalagi jika terjadi perbedaan dalam cara pandang terhadap kebudayaan harus disikapi secara arif tidak langsung menghukumi hitam putih, halal-haram atau sunnah-bid’ah dan. Sebagainya. Disini sekali lagi diperlukan suatu kearifan budaya dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan risalah. Wawasan atau perspektif keagamaan yang plural dan kearifan budaya ini juga yang tampaknya dikembangkan oleh generasi awal Muhammadiyah dan menjadi kunci sukses dalam mengembangkan misi dakwah amar makruf nahy munkar. Beberapa penelitian membuktikan bahwa etos pluralitas dan kearifan budayamerupakan visi atau ide dasar pemikiran kyai Ahmad Dahlan.Pandangan kyai Ahmad Dahlan lebih bersifat relativis-pluralis yang menjadikannya bersipat terbuka, kritis kreatif dan menvcarikebenaran. Dalam tulisan ini menunjukkan bahwa wawasan pluraladalah wawasan yang menerima perbedaan atau kemajemukkan maka untuk itu, diperlukan wawasan tentang kearifan budaya. Suatu perbedaan cara pandang atau perspektif keagamaan, apalagi jikaterjadi perbedaan dalam cara pandang terhadap kebudayaan harus disikapi secara arif tidak langsung menghukumi hitam putih, halal haram atau sunnah-bid’ah dan sebagainya. Disini sekali lagi diperlukan suatu kearifan budaya dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan risalah. Wawasan atau perspektif keagamaan yang plural dankearifan budaya ini juga yang tampaknya dikembangkan oleh generasi awal Muhammadiyah dan menjadi kunci sukses dalam mengembangkan misi dakwah amar makruf nahy munkarnya.
Islam : Tradisi, Ritual dan Masyarakat Sholahuddin . Al Ayubi
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3291

Abstract

Islam, yang lahir pada abad ke VII di Arabia, tak diragukan lagi merupakan salah satu dari reformusi aguma yag paling radikal yang pernah munciil di kawasan Tiniur, dan kitcib suci al-quran yang merupakan kitab autentik yang paling awal dari peristiwa besar ini, yang mampu menjelaskan istilah-istilah kongkret dengan gamblangnya bagaimana dalam dalam priode penting tersebut ternjadi konflik yang banyak tneniimpahkan darah antara norma-iiorma suku yang saat itu dihormati dengan pandangan hidup baru tersebut. Arabia pada masa tersebut merupakan masa penyembahan terhadap berhala-berhala pra Islam hingga datangnya Islam, adalah masa yang paling penting bagi siapapun yang mempunyai kepentingan dengan masalah-masalah pemikiran etik, karena memberikan materi suatu kasus baik sekalf’ untuk mempelajari munculnya peraturan moral, yang mungkin kontradfktif bagi tradisi kehidupan bangsa Arabia pada masa itu. Melalui tulisan ini, penulis berusaha membahas islam, dan pencitraan.
Epistemologi Studi Keislaman Rodani Rodani
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3275

Abstract

Dalam konteks makro, hampir semua sistem pendidikan yang ada didunia ini, selalu kalah berpacu dengan perubahan sosial. Konservatisme pendidikan makin dirasakan sebagai hambatan, karena "komoditi" yang dihasilkan dunia pendidikan selalu kalah berpacu dengan perkembangan masyarakat yang begitu dahsyat. Para ahli pendidikan semakin kewalahan dalam mengantisifasi arah perkembangan masyarakat. Perkembangan industri misalnya, sangat mendorong pertumbuhan industri komunikasi dan informasi, begitu juga kemajuan industri komunikasi dan informasi sangat berpengaruh terhadap hubungan kemasyarakatan, sehingga terjadi pergeseran nilai yang dihayati oleh masyarakat. Untuk menata pendidikan Islam masa depan, paling tidak harus’melihat kondisi pendidikan Islam masa lalu, juga keadaan pendidikan Islam saat ini. Setelah melihat kenyataan tersebut, maka harus dari mana dimulainya perbaikan dan dan bila perlu diadakan "pembongkaran" terhadap system pendidikan Islam. Pendidikan modern yang berorientasi pada materi dan bersifat pragmatis tidak mungkin dihentikan Tinggal bagaimana pendidikan Islam ditata kembali sehingga dapat dijadikan alternaif yang tidak hanya mementingkan urusan dunia, namun memilki dimensi spiritual (teologi). Bagaimanapun juga pendidikan Islam adalah merupakan salah satu sub sistem dari subsistem-subsistem yang ada, seperti sosial, politik, teologi, kebudayaan dan lebih-lebih adalah kekuasaan, dalam hal ini pemegang kebijakan. Untuk itu bila ingin merubah atau mengadakan inovasi pendidikan Islam, maka secara sistimatik seluruh komponen harus terlibat, sehingga pendidikan Islam benar-benar dapat terintegrasi. Dengan gambaran ini, maka dapat dipahami bahwa akar terdalam problematika pendidikan Islam, nampaknya sinkron dengan keberadaan umat Islam di era modern. Pendidikan Islam akan bangkit kembali sebagaiamana pernah diraih pada zaman "keemasannya" manakala caraberpikir umat Islam yang cenderung bersifat parsial ini segera diubah menjadi bersifat integral.
Khalifah Ali bin Abi Thalib: Masduki Masduki
Al-Fath Vol 2 No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Department of Ilmu al-Qur'an dan Tafsir, Faculty of Ushuluddin and Adab, State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32678/alfath.v2i2.3285

Abstract

Khalifah terakhir dari khulafa’ur Rasyidin adalah Ali bin Abi Thalib. la memegang tapuk pemerintahan dalam situasi dan kondisi kondisi umat Islam yang sangat jauh berbeda dengan masa Nabi Muhammad SAW. Wilayah kekuasaan yang sudah melebar ke berbagai penjuru Afrika dan Asia Tengah dengan penganut Islam yang tidak lagi hanya Bangsa Arab, tapi sudah berbagai macam bangsa, budaya dan etnik menyatu di bawah naungan kekhilafahan Islam. Namun ternyata kekuatan dan kedigdayaan umat Islam tersebut, digerogoti dari dalam dengan adanya perpecahan politik antar tokoh Islam. Sebenarnya perpecahan tersebut benih-benihnya telah timbul sejak kematian Rasulullah, ketika mereka menentukan siapa pelanjut kepemimpinan beliau. Rasulullah tidak pernah meninggalkan secara detail bagaimana cara mengangkat seorang pemimpin, semuanya diserahkan pada umat Islampada waktu itu. Benih-benih perpecahan meledak menjadi peperangan terbuka antara para sahabat senior di antaranya: Aisyah r.a., Thalhah,Zubair, dan Muawiyah pada masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib. Dari perpecahan dalam politik merembat ke masalah-masalah keyakinan (teologi), sehingga akhirnya umat Islam terkotak-kotak dalam berbagai aliran dan mazhab teologi.

Page 1 of 1 | Total Record : 8