cover
Contact Name
Muhammad Shidiq
Contact Email
shidiqmuhammad17393@gmail.com
Phone
+6281222979930
Journal Mail Official
jurnalatrat@gmail.com
Editorial Address
Jalan Buah Batu No.212, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, kode pos: 40265
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Atrat: Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23391642     EISSN : 27227200     DOI : http://dx.doi.org/10.26742
Atrat is a Journal of Visual Arts containing scientific papers which includes Fine Art and Design, publisher by Jurusan Seni Rupa STSI Bandung (p-ISSN 2339-1642 & e-issn 2722-7200). Jurnal Atrat also embodies the results of various forms of scientific research as well as the creation of artworks, which can become new knowledge published in scientific articles, so it is worthy to be read and understood by readers. Atrat aims to give land to Artists, Designers, Art Students, Teachers/ Lecturers, and Fine Arts Society to exchange insights.
Articles 404 Documents
REINTERPRETASI DRUPADI DENGAN PENDEKATAN ESTETIK SKIZOFRENIA SEBAGAI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS Fanhani Aina Hermawan; Nandang Gumelar Wahyudi; Zaenudin Ramli
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i3.3195

Abstract

Draupadi, a character who occupies an important role in the plot of the epic Mahabharata, appears in splendor as a dazzling queen with transcendent beauty and intelligence. He has an alluring intelligence, he is able to conquer anyone so that everyone submits and feels shy towards him. Behind her perfection, Draupadi keeps a complex story related to womens rights and justice. In this work, Draupadis Reinterpretation will be presented, which is described as a woman who defends her human rights. A compilation of Draupadis wounds and sorrows is presented in the form of a painting with 100 pieces of kanvas. Draupadis point of strength in facing each of her trials is taken to raise awareness for women that there are many twists and turns in life that will happen to us, even though living in wounds, Draupadi is able to accept it and live life as usual because it does not extinguish or diminish the spirit of life. also as a warning to anyone to spread goodness and justice wherever and against anyone and not to hurt each other in greed. Keywords : Draupadi, Ornament Gothic art, Kesutan Dadu, Mahabharata, Painting ------------------------------------------------------------------------------------ Drupadi, seorang tokoh yang mendiami peran penting dalam alur epos Mahabharata, tampil dengan kemegahan sebagai seorang ratu yang mempesona dengan kecantikan yang melampaui batas dan kecerdasan. Ia menyandang kecerdasan yang memikat, ia mampu menaklukan siapapun sehingga setiap orang tunduk dan merasa segan terhadapnya. Dibalik kesempurnannya, Drupadi menyimpan kisah yang pelik yang berkaitan dengan hak-hak perempuan serta keadilan. Pada karya ini, akan disuguhkan Reinterpretasi Drupadi yang digambarkan sebagai sosok perempuan yang membela hak asasinya. Kompilasi luka dan duka Drupadi disajikan dalam bentuk Seni Lukis dengan pecahan 100 kanvas. Point kekuatan Drupadi dalam menghadapi setiap cobaannya diambil untuk menimbulkan awareness terhadap perempuan bahwa banyak sekali lika-liku kehidupan yang akan terjadi kepada kita, meskipun hidup dalam luka, tetapi Drupadi mampu menerimanya dan menjalani hidup seperti biasanya karena hal itu tidak memadamkan atau memudarkan semangat hidup, pun juga sebagai peringatan kepada siapapun untuk menyebarkan kebaikan dan keadilan dimanapun dan terhadap siapapun serta tidak menyakiti satu sama lain dalam keserakahan. Kata kunci : Drupadi, Ornament Gothic art, Kesutan Dadu, Mahabharata, Seni Lukis.
Pengenalan Warna Primer untuk Menggambar Kepada Siswa MTS Al-Khoiriyah Ciranjang Cianjur Fadhila Luqman
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i1.2840

Abstract

This study aims to educate the first grade students of MTS Al-Khoiriyah in Nanggalamekar Village about the primary color and its mixing techniques. The location of this research was conducted in MTS Al-Khoiriyah, Nanggalamekar Village, Ciranjang District, Cianjur Regency, Jawa Barat, for the reason that they deprived art education even though they had high enthusiasm about things that related to art. This research is a qualitatitve research with the Research and Development (R&D). Research and Development aims to produce human resources with knowledge and skill about basic visual art which is color and color mixing. This research emphasizes according to practical activity and exploration and Brewsters color theory approach. Keyword: Ciranjang, Primary Color, School ------------------------------------------------------------------------------------ Penelitian ini bertujuan untuk mengedukasi siswa-siswi kelas 1 di MTS Al-Khoiriyah Desa Nanggalamekar mengenai warna primer dan teknik pencampuran warnanya. Lokasi penelitian ini dilakukan di MTS Al-Khoiriyah Desa Nanggalamekar, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dengan alasan kurangnya pendidikan kesenirupaan yang diajarkan disana padahal desa tersebut merupakan salah satu desa dengan antusiasme tinggi akan hal-hal berbau seni. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tahap penelitian dan pengembangan Research and Development (R&D). Penelitian dan Pengembangan bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan mengenai dasar-dasar seni rupa yaitu warna dan pencampuran warna. Penelitian ini menekankan praktik dan eksplorasi serta pendekatan teori warna Brewster. Kata Kunci: Ciranjang, Warna Dasar, Sekolah
EKSISTENSI BATIK TULIS SUKAPURA DI DESA JANGGALA KECAMATAN SUKARAJA (2020-2023) Ade Ayu Puspita Munawaroh; Deni Yana; Anis Sudjana
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i3.3190

Abstract

The existence of Sukapura-written batik is now decreasing due to the regeneration crisis of batik craftsmen, which has reduced batik production. The purpose of this study is to find out the existence of Sukapura written batik based on the history of development and changes in the existence of Sukapura written batik in Janggala Village, especially from 2020 to 2023. The method used in this study is a qualitative method with a historical approach. The results of this study describe the intensity of the development of Sukapura- written batik and how batik is produced and distributed to consumers. In addition, this research describes the obstacles faced by Sukapura written batik in the last three years and the strategy for preserving Sukapura written batik in Janggala Village. Keywords: Batik, Local Culture, Existence, Sukapura ------------------------------------------------------------------------------------ Keberadaan batik tulis Sukapura kini semakin menurun karena krisis regenerasi pengrajin batik yang menyebabkan produksi batik pun semakin berkurang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui keberadaan batik tulis Sukapura berdasarkan sejarah perkembangan dan perubahan eksistensi dari batik tulis Sukapura di Desa janggala khususnya dari tahun 2020-2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan sejarah. Hasil penelitian ini memaparkan tentang intensitas perkembangan batik tulis Sukapura, bagaimana batik di produksi dan didistribusikan kepada konsumen, selain itu penelitian ini memaparkan kendala yang dihadapi batik tulis Sukapura dalam perkembangan tiga tahun terakhir serta strategi melestarikan batik tulis Sukapura di Desa Janggala. Kata Kunci: Batik, Budaya Lokal, Eksistensi, Sukapura
ANALISIS PROSES KREATIF PEMBUATAN BATIK PENDULUM DI RUMAH BATIK KOMAR Herawati Herawati
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i2.2851

Abstract

Pendulum batik is a batik created by Mr. Komarudin Kudiya. The creation of this batik was inspired by the pendulum technique used for coloring abstract styles in paintings. Mr. Komarudin Kudiya came up with his idea to apply the pendulum technique to batik which eventually created pendulum batik. And even this pendulum batik is one of the first contemporary batiks in the world created by Mr. Komarudin Kudiya, even though the pendulum technique is already popular, the pendulum batik itself has just been brought up by the Komar Batik House. This study aims to find out about the creative process of Mr. Komarudin Kudiya in creating pendulum batik which is described through his artistic and artistic experience. This research is a qualitative research that uses a descriptive analysis approach, the subject of this research is the place where the Komar Batik Business House is located. In collecting data, this research was conducted using several techniques namely, observation techniques, interview techniques, documentation techniques, and library techniques. The results of this study show the life journey of Mr. Komarudin Kudiya as a batik entrepreneur who has experienced stages of development from time to time in line with his life experience experiencing a journey of artistic experience and artistic experience, so that it has made him successful through various creative processes and freedom in making various batik works, one of which is pendulum batik. Keywords: batik, creative process, contemporary, pendulum batik ------------------------------------------------------------------------------------ Batik pendulum merupakan batik yang diciptakan oleh Bapak Komarudin Kudiya. Terciptanya batik tersebut terinspirasi dari teknik pendulum yang digunakan untuk pewarnaan gaya abstrak pada lukisan. Bapak Komarudin Kudiya memunculkan ide gagasnya untuk menerapkan teknik pendulum tersebut pada batik yang akhirnya terciptalah batik pendulum. Dan batik pendulum inipun termasuk batik kontemporer pertama di dunia yang diciptakan oleh Bapak Komarudin Kudiya walau teknik pendulum memang sudah popular namun batik pendulum sendiri baru dimunculkan oleh Rumah Batik Komar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang proses kreatif Bapak Komarudin Kudiya dalam menciptakan batik pendulum yang diuraikan melalui pengalalam seni dan pengalaman artistiknya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan deskriptif analisis, subjek dari penelitian ini ialah tempat dimana Rumah Usaha Batik Komar. Dalam pengumpulan data, penelitian ini dilakukan dengan beberapa teknik yakni, Teknik observasi, Teknik wawancara, Teknik pendokumentasian, dan Teknik kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan perjalanan hidup Bapak Komarudin Kudiya sebagai pengusaha batik yang mengalami tahapan perkembangan dari waktu kewaktu sejalan dengan pengalaman hidupnya mengalami perjalanan pengalaman seni dan pengalaman artistik, sehingga hal itu membuatnya berhasil melewati berbagai proses kreatif serta kebebasan dalam membuat berbagai karya batik salah satunya batik pendulum. Kata Kunci: batik, proses kreatif, kontemporer, batik pendulum
PERANCANGAN IKON CAGAR BUDAYA DAN MANUSKRIP DALAM LOGO OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN KOTA BANDUNG Muhamad Rafli Ramdan; Martien Roos Nagara; Hadianto Hadianto
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v12i1.3510

Abstract

Icons are one of the main elements in communicating and introducing visual identity to the outside world. The design of cultural heritage icons and manuscripts in the Bandung City Cultural Advancement Object logo is one of the programs created by the Bandung City Government which is also written in Bandung City Regional Regulation No. 7 of 2023 concerning the Advancement of Culture. The Bandung City Disbudpar collaborated with lecturers and students at the Bandung College of Technology majoring in Visual Communication Design in the process of forming a visual identity in the form of the Bandung City OPK logo and icon. The design of cultural heritage icons and manuscripts was created to create a visual identity to preserve the rich history and cultural heritage of the city of Bandung. This icon is designed to include elements typical of cultural heritage and manuscripts. The Cultural Heritage icon represented by the classic architectural form of the roof of Bank Mandiri (EX–nedhandel N.V) on Jalan Asia Afrika No. 01, while manuscript icons can be found in manuscripts, fibers, books and chronicles. It is hoped that the design of the Bandung City OPK icon can become an icon that arouses a sense of pride, increases public awareness of cultural riches, and has an interest in cultural development that attracts the outside world and strengthens the image of the City of Bandung. Keywords: Icon Design, Cultural Heritage, Manuscripts, Logos, Bandung City --------------------------------------------------------------------- Ikon menjadi salah satu elemen utama dalam mengkomunikasikan dan memperkenalkan identitas visual kepada dunia luar. Perancangan ikon cagar budaya dan manuskrip dalam logo Objek Pemajuan Kebudayaan Kota Bandung merupakan salah satu program yang dibuat oleh Pemerintah Kota Bandung yang juga tertulis di dalam Perda Kota Bandung No. 7 Tahun 2023 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Disbudpar Kota Bandung melakukan berkolaborasi bersama dosen serta mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Bandung jurusan Desain Komunikasi Visual dalam proses pembentukan identitas visual berupa logo dan ikon OPK Kota Bandung. Perancangan ikon cagar budaya serta manuskrip dibuat untuk menciptakan identitas visual untuk melestarikan kekayaan sejarah dan warisan budaya Kota Bandung. Ikon ini dirancang dengan memasukkan elemen khas cagar budaya dan manuskrip. Ikon Cagar Budaya yang diwakili oleh bentuk arsitektur klasik dari atap Bank Mandiri (EX–nedhandel N.V) di Jalan Asia Afrika No. 01, sementara ikon manuskrip dapat ditemui pada naskah, serat, kitab, dan babad. Perancangan ikon OPK Kota Bandung diharapkan dapat menjadi ikon yang membangkitkan rasa kebanggaan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kekayaan kebudayaan, serta memiliki minat terhadap pembangunan kebudayaan yang menjadi daya tarik dunia luar dan memperkuat citra Kota Bandung. Kata Kunci: Perancangan Ikon, Cagar Budaya, Manuskrip, Logo, Kota Bandung
PENGEMBANGAN MOTIF SINGOBARONG KERATON CIREBON BERGAYA FLATDESIGN UNTUK GENERASI MILENIAL Djuniwarti Djuniwarti; Hadi Kurniawan; Silvy Karisa
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i3.3185

Abstract

West Java has many batik motifs that must to be preserved and introduced for the millennial generation. So far, the millennial generation has been considered more interested with Western fashion but many of them are also starting to be interested toward batik fashion actually. This research aims to develop alternatives design of the Singabarong batik motif into flat design style for the millennial target market. This research method uses a qualitative approach and design creation through three stages that are exploration, design and embodiment. This research resulted three developments of the Singabarong batik motif in flat design style that are the Singabarong Raja motif, the Singabarong Resi motif and the Singabarong Rama motif. The results of this study are expected to add insight and increase the interest of public especially millennials about the Singabarong batik motif preservation. Keywords: Singabarong motif, flat design, millenial generation. ------------------------------------------------------------------------------------ Jawa Barat memiliki banyak motif batik yang perlu dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi milenial. Selama ini, generasi milenial dianggap lebih tertarik pada fesyen Barat, nyatanya banyak juga yang mulai tertarik pada fesyen berbahan batik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain alternatif motif batik Singabarong bergaya flat design untuk target pasar kaum milenial. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif serta penciptaan desain melalui tahap eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Penelitian ini menghasilkan tiga pengembangan desain motif batik singabarong bergaya flat design yaitu motif singabarong Raja, motif singabarong Resi dan motif singabarong Rama. Hasil penelitian ini diharapkan menambah wawasan dan meningkatkan minat masyarakat khususnya kaum milenial terhadap kelestarian batik keraton motif Singabarong. Kata Kunci: motif Singabarong, flat design, generasi millenial.
FASHION SEBAGAI BENTUK EKSPRESI DIRI DAN KARAKTER MAHASISWA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANDUNG Ghaitsa Salma; Asep Miftahul Falah
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i1.3197

Abstract

In the history of its development, fashion is a symbol of the period of change in group culture. Fashion is often synonymous with clothing, although the true meaning of fashion can include anything related to jewelry, style, and clothing. Clothing is a symbol of the soul, and clothing cannot be separated from the development of human life and cultural history. In other words, fashion can be interpreted as a social aspect that contains messages and ways of life of certain individuals or communities that are part of social culture. The research method used in this study, in an effort to understand fashion as a form of self expression and character of Bandung Muhammadiyah University students, the authors used qualitative methods by distributing questionnaires to 50 students of the Muhammadiyah University of Bandung. The result is that 92% of students agree that the way they dress is in accordance with their individual personalities. This means they choose clothes according to the color, model, style, design, and aesthetic value that they feel suits their personality. So it is true that the style of dress is a form of self-expression of the character of Bandung Muhammadiyah University students. Keywords: Fashion, Style, Character, Self Expression, Personality Dalam sejarah perkembangannya, fashion adalah simbol periode perubahan budaya kelompok. Fashion seringkali identik dengan pakaian, meskipun arti sebenarnya dari fashion dapat mencakup apapun yang berhubungan dengan perhiasan, gaya, dan pakaian. Pakaian merupakan simbol jiwa, dan pakaian tidak dapat dipisahkan dari perkembangan kehidupan manusia dan sejarah kebudayaan. Dengan kata lain, fashion dapat diartikan sebagai suatu segi sosial yang mengandung pesan dan cara hidup individu atau komunitas tertentu yang menjadi bagian dari kultur sosial. Metode penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini, dalam upaya memahami fashion sebagai bentuk Ekspreksi Diri dan Karakter Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung, penulis menggunakan metode kualitatif dengan cara menyebar kuesioner kepada 50 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung. Hasilnya sebanyak 92% mahasiswa menyetujui jika cara berbusana mereka dalam berpakaian sesuai dengan kepribadian individu masing-masing. Ini artinya, mereka memilih pakaian sesuai dengan warna, model, gaya, desain dan nilai estetika yang dirasa sesuai dengan kepribadian mereka. Sehingga benar adanya jika gaya berpakaian menjadi bentuk ekspresi diri karakter mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung. Kata Kunci: Pakaian, Gaya, Karakter, Ekspresi Diri, Kepribadian
EKSISTENSI TEKNIK PATCHWORK SERTA PENERAPANNYA PADA PRODUK FASHION Nisa Haritsatul Ummah; Asep Miftahul Falah
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i1.2842

Abstract

Patchwork is traditional art that originated in Europe and developed in the continental United States. Patchwrok in the Indonesian dictionary means patchwork. But in its full sense, patchwork is a craft that combines pieces of patchwork with one another. Those that have different motifs or colors then become a new form. Patchwork is also included in sustainable design, also known as environmental design, (environmentally sustainable design, eco conscious design, etc. Generally, patchwork crafts use industrial waste materials and textile products in the form of scraps of cloth or commonly called patchwork. Even though it looks like a worthless item, patchwork waste can be turned into useful and economical items considering that patchwork has various patterns and textures and can be combined into useful creations, including as complementary elements of home interiors, such as curtains, curtain fasteners. Pillowcases (tassel), pillowcases, bed linen, blankets, lampshades, magazine holders, place mats, glass mats, tissue holders, dirty clothes holders, multi-purpose hanging bags and others. Keywords: Traditional art, Patchwork, industrial waste materials, home interior ------------------------------------------------------------------------------------ Patchwork merupakan seni tradisional yang berasal dari Eropa dan berkembang di benua Amerika Serikat. Patchwrok dalam kamus Bahasa Indonesia yang berarti kain perca. Namun pengertian lengkapnya, patchwork adalah kerajinan yang menggabungkan potongan-potongan kain perca satu dengan yang lainnya. Yang memiliki motif atau warna yang berbeda-beda lalu menjadi suatu bentuk baru. Patchwork juga masuk kedalam Desain berkelanjutan, atau disebut juga sebagai desain lingkungan, (desain berkelanjutan secara lingkungan, desain kesadaran lingkungan, dll.) Umumnya kerajinan patchwork menggunakan sisa bahan limbah industri dan produk tekstil yang berupa sisa potongan kain atau biasa disebut kain perca. Walaupun terlihat sebagai barang yang tidak berharga, limbah kain perca dapat diubah menjadi barang-barang yang berguna dan bernilai ekonomis mengingat kain perca memiliki corak dan tekstur yang beragam dan dapat dipadukan menjadi kreasi yang berguna termasuk sebagai unsur pelengkap interior rumah, seperti tirai, pengikat tirai (tassel), sarung bantal, sprei, selimut, kap lampu, tempat majalah, alas piring, alas gelas, tempat tissue, tempat pakaian kotor, kantong gantung serba guna dan lain-lain. Kata Kunci: Seni tradisional, Kain Perca, Patchwork, limbah industry, interior rumah
PENGARUH GEOGRAFIS TERHADAP WARNA BANGBARONGAN KESENIAN REAK SUNDA DI CIBIRU KOTA BANDUNG Muhamad Rifqi Rizqia; Anis Sudjana; Deni Yana
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i3.3191

Abstract

Indonesia has a variety of arts that have their own characteristics in various aspects, one of which is in terms of color selection. The use of color in an art can be influenced by various factors, including environmental factors or geographical location. This research discusses the problem of whether or not there is an influence of geographical location on color with a case study of Bangbarongan art in Reak Sunda art in Cibiru District, Bandung City. To dissect this problem, an approach between fine arts and ethnography is used. The results of this research show that Bangbarongan art is an art that has spread and developed outside its original area. Bangbarongan itself is an adaptation of Bengberokan art from Indramayu. Although it is not the original art of Cibiru, the Cibiru community still has enthusiasm in developing Bangbarongan art. This can be seen from how the Bangbarongan art still exists today as part of the Reak Sunda art. In the element of color, not much has changed except in terms of its application to Bangbarongan in Cibiru and it still seems to retain its original color like Bengberokan from Indramayu. This is known because Indramayu and Cibiru still hold the same beliefs, especially in terms of interpreting a color. In addition, the religiosity of reak art in Cibiru is still quite strong, this can be seen from the rituals and making offerings before the show takes place. Keywords: Geographical Location, Art, Reak, Bangbarongan, Color ------------------------------------------------------------------------------------ Indonesia memiliki bermacam-macam kesenian yang memiliki ciri khasnya masing-masing dalam berbagai sisi, salah satunya dalam hal pemilihan warna. Penggunaan warna pada sebuah kesenian dapat dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya faktor lingkungan atau letak geografisnya. Penelitian ini membahas masalah mengenai ada tidaknya pengaruh letak geografis terhadap warna dengan studi kasus seni Bangbarongan pada kesenian Reak Sunda di Kecamatan Cibiru Kota Bandung. Untuk membedah permasalahan ini, digunakan pendekatan antara seni rupa dan etnografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesenian Bangbarongan merupakan kesenian yang telah menyebar dan berkembang diluar daerah asalnya. Bangbarongan sendiri merupakan kesenian yang diadaptasi dari seni Bengberokan dari Indramayu. Meskipun bukanlah kesenian asli Cibiru, namun masyarakat Cibiru tetap memiliki antusias dalam mengembangkan kesenian Bangbarongan. Hal ini terlihat dari bagaimana kesenian Bangbarongan tetap eksis sampai sekarang sebagai bagian dari kesenian Reak Sunda. Dalam unsur warna, tidak banyak terjadi perubahan kecuali dalam hal pengamplikasiannya pada Bangbarongan di Cibiru dan terlihat masih mempertahankan warna aslinya seperti Bengberokan dari Indramayu. Hal ini diketahui karena antara di Indramayu dan Cibiru masih memegang kepercayaan yang sama terutama dalam hal memaknai sebuah warna. Selain itu, secara religiusitas kesenian reak di Cibiru masih cukup kuat, hal ini terlihat dari masih adanya ritual dan membuat sesajen sebelum acara pertunjukkan berlangsung. Kata Kunci: Letak Geografis, Kesenian, Reak, Bangbarongan, Warna
POTENSI DAYA TARIK GALERI SOPHILIA MEMAJANG KARYA SENI BERGAYA EROPA DAN CINA KUNO Nisa Restu Rahayu; Martien Roos Nagara
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i2.3186

Abstract

Generally, galleries in Indonesia exhibit local art in traditional to contemporary style, but there is one gallery, the Sophilia Gallery, which is different from other galleries. The gallery displays almost all the works of art in European and Chinese styles and the gallery is permanent. This is an attraction for the general public, of course. The purpose of the discussion about what is the attraction of the gallery is as a means of introducing society in the world of art in particular the art of European and Chinese style. Not only do you know or see the paintings, but you can also know the history of the painting. This research method uses descriptive approaches as well as collection techniques by visiting galleries, viewing works of art, listening to what the tour guide tells, and documentation. There is an informant or tour guide who explains about the history and meaning of the paintings in the gallery. The results of the research showed that the gallery is really attractive, because the number of enders that come is approximately 100 people a day with a variety of purposes not only appreciating, but visitors can learn and create content for personal and public needs. Keywords : Art Criticism, Fine Art Galleries, Paintings ------------------------------------------------------------------------------------ Pada umumnya galeri-galeri di Indonesia memajang karya seni lokal berupa gaya tradisi sampai kontemporer, namun ada salah satu galeri yaitu Galeri Sophilia yang berbeda dari galeri lainnya. Galeri tersebut menampilkan hampir keseluruhan karya seni gaya eropa dan cina dan galeri tersebut bersifat tetap. Hal tersebut menjadi sebuah daya tarik bagi masyarakat umum tentunya. Tujuan dari pembahasan mengenai apa yang menjadi daya tarik galeri tersebut yaitu sebagai sarana mengenalkan masyarakat dalam dunia seni khususnya seni gaya eropa dan cina. Bukan hanya mengenal atau melihat lukisan, namun juga bisa mengetahui sejarah yang terdapat pada lukisan tersebut. Metode penelitian ini penulis menggunakan pendekatan deskritif serta teknik pengumpulan dengan mengunjungi galeri, melihat karya-karya seni, mendengarkan apa yang tour guide sampaikan., serta dokumentasi. Terdapat satu informan atau tour guide yang menjelaskan mengenai sejarah dan makna lukisan-lukisan yang ada pada galeri. Hasil penelitian menunjukan bahwa galeri tersebut memang memiliki daya tarik, karena banyaknya pengujung yang datang berjumlah sekitar 100 orang dalam sehari dengan tujuan yang bermacam-macam bukan hanya mengapresiasi, namun pengunjung dapat belajar dan membuat konten untuk kebutuhan pribadi maupun umum. Kata kunci: Kritik Seni, Galeri Seni Rupa, Lukisan

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 2 (2025): PERANAN SENI TRADISI DALAM PERKEMBANGAN KARYA VISUAL Vol 13 No 1 (2025): INOVASI DAN KREATIVITAS DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 2 (2024): KREATIVITAS DAN INOVASI SENI VISUAL DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 12, No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 11 No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 10 No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10, No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10, No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10, No 1 (2022): TEKNIK DAN TEKNOLOGI MEDIA KARYA VISUAL Vol 10 No 1 (2022): MEDIA PENERAPAN KARYA RUPA DALAM TEKNIK DAN TEKNOLOGI Vol 9 No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9, No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9, No 2 (2021): VISUAL ARTISTIK DALAM TEKNIK DAN POLA RUPA Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA Vol 8, No 2 (2020): ANALISIS MAKNA KARYA VISUAL DALAM SENI PUBLIK Vol 8, No 1 (2020): REPRESENTASI, PARTISIPASI, DAN GERAKAN SENI Vol 7, No 3 (2019): IMPLEMENTASI IDENTITAS BUDAYA LOKAL Vol 7, No 2 (2019): POTENSI TRADISI DALAM BUDAYA KONTEMPORER Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI Vol 6, No 3 (2018): IMPLEMENTASI MEDIA DAN TEKNIK DALAM KARYA RUPA Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA Vol 6, No 1 (2018): APLIKASI, STRATEGI, DAN ORIENTASI SENI DALAM RUPA, MEDIA, DAN WACANA Vol 5, No 3 (2017): EKSPLORASI RAGAM HIAS DAN BUSANA KONTEMPORER Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL Vol 3, No 3 (2015): DIALEKTIKA RUPA DALAM KEBUDAYAAN KONTEMPORER Vol 3, No 1 (2015): REALITAS TRADISI DALAM PERSEPSI VISUAL Vol 1, No 3 (2013): REPRESENTASI POTENSI DAN ESTETIKA SENI RUPA Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER Vol 1, No 1 (2013): MEDIA DALAM BUDAYA RUPA More Issue