cover
Contact Name
Ali Ramadhan
Contact Email
ali.ramadhan@mercubuana.ac.id
Phone
+6285813007765
Journal Mail Official
jurnal.narada@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana Gedung E Lantai 4 Jl. Raya Meruya Selatan no.1, Kembangan, Jakarta 11650 Tlp./Fax: +62215871335
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Narada : Jurnal Desain dan Seni
ISSN : 24775134     EISSN : 26215233     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/narada
Core Subject : Art,
Narada: Jurnal Desain dan Seni diterbitkan oleh Fakultas Desain dan Seni Kreatif, Universitas Mercu Buana. Jurnal ini merupakan sarana untuk mempublikasikan tulisan ilmiah berupa hasil penelitian, hasil pemikiran (gagasan konseptual), serta hasil perancangan karya desain dan seni terapan (Applied Art) dalam ruang lingkup bidang desain dan seni rupa yang mencakup desain interior, desain produk, desain fashion, desain multimedia, desain komunikasi visual, fotografi, HAKI Desain, Hak Cipta Desain serta bidang perluasan yang ditujukan untuk mengembangkan bidang ilmu tersebut. Narada: Jurnal Desain dan Seni terbit sebanyak tiga kali dalam setahun, yakni pada bulan April, September, dan Desember. NARADA Jurnal Desain dan Seni menerima artikel yang ditulis menggunakan Bahasa Indonesia.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2018)" : 10 Documents clear
PENCIPTAAN SENI MOTIF BATIK WAYANG TOPENG JATIDUWUR JOMBANG Prayogo W Waluyo; Wyna Herdiana
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RingkasanWayang topeng Jatiduwur merupakan satu- satunya kesenian pertunjukan wayang topeng yang ada di Kabupaten Jombang. Wayang topeng Jatiduwur merupakan seni pertunjukan tradisional rakyat berbentuk teater total (perpaduan antara unsur tari, drama, sastra, musik, dan rupa) yang telah lama hidup di Desa Jatiduwur.Wayang topeng digunakan masyarakat setempat sebagai upacara ritual, ruwatan, atau ketika seseorang mempunyai nadzar yang harus dipenuhi. Kesenian ini merupakan salah satu dari kekayaan budaya asli yang dimiliki Jombang dengan kondisinya yang saat ini sudah hilang. Akan tetapi, masih meninggalkan artefak. Tujuan penciptaan motif batik ini sebagai bentuk keprihatinan, sekaligus kebanggaan dan kepedulian untuk mengenalkan kembali kesenian daerah wayang topeng Jatiduwur yang telah hilang pada media kesenian yang lain.Penciptaan seni motif batik ini menampilkan motif baru dengan prose stilasi visual wayang topeng Jatiduwur Jombang.Teknik pembuatan yang dipakai adalah batik cap dengan pewarnaan naphtol. Teori pendekatan penciptaan motif batik ini menggunakan teori penciptaan kriya dan estetika. Metode penggalian data yang dipakai adalah wawancara tidak terstruktur.Seni motif batik ini diharapkan dapat mengenalkan kembali kesenian wayang topeng Jatiduwur sekaligus memberikan pandangan positif tentang sejarah kesenian wayang topeng Jatiduwur pada masyarakat Jombang.Kata Kunci: Perancangan, Wayang Topeng Jatiduwur Jombang,Motif BatikAbstractThe Puppet Mask Jatiduwur is the only wayang mask performance in Jombang. Puppet Mask Jatiduwur is a traditional folk performance art in the form of a total theater (a combination of elements of dance, drama, literature, music, and appearance) that have long lived in Jatiduwur Village. Puppet masks are used by the local community as a ritual ceremony, ruwatan, or when someone has nadzar which must be fulfilled. This art is one of the original cultural treasures that Jombang has with its current condition. However, still leaving artifacts. The purpose of creating this batik motif as a form of concern, as well as pride and concern to reintroduce the art of wayang topeng Jatiduwur area which has been lost in other art media.The creation of this batik motif displays a new motif with the visual stylization process of the puppet mask of Jatiduwur Jombang. The manufacturing technique used is stamped batik with naphtol staining. The approach to creating batik motifs uses craft and aesthetic creation theory. The method of extracting data used is unstructured interviews.This batik motif art is expected to be able to reintroduce Puppet Mask Jatiduwur art while at the same time giving a positive view of the history of the Puppet Mask Jatiduwur art in the Jombang community.Keywords: Design, Puppet Mask Jatiduwur Jombang, Batik.
PENERAPAN WARNA PADA RUANG INTERIOR ANAK AUTIS Anggi Dwi Astuti
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RingkasanPenderita autisme mempunyai gangguan pada interaksi sosial, komunikasi, imajinasi serta pola perilaku yang repetitif dan resistensi (tidak mudah mengikuti/menyesuaikan) terhadap perubahan pada rutinitas. Gangguan pada interaksi sosial ini menyebabkan mereka terlihat aneh dan berbeda dengan orang lain. Untuk menangani anak autis, salah satu metode yang dapat diterapkan adalah terapi warna. Terapi warna dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran anak akan keberadaannya dalam lingkungan. Hal itu dapat dilakukan dengan memberi warna panas atau hangat dalam desain interior kamar tidur, sehingga ketika setiap harinya mereka melihat warna-warna tersebut pikiran mereka terdorong dan sadar bahwa mereka ada dalam suatu ruangan.Kata Kunci: Autisme, Interior Ruang, Aplikasi WarnaAbstractPeople with autism have a disruption to social interaction, communication, imagination and repetitive behavioral patterns and resistance (not easy to follow/adjust) to changes in routine. This disturbance to social interaction makes them look strange and different from others. Autistic children can be treated with color therapy. This method is expected to raise children’s awareness of their existence within their environment. It can be done by applying hot or warm colors in the interior design of the bedroom, so when they see the colors everyday, their minds are pushed to realize that they are in a room.Keywords: Autism, Interior Space, Color Applications.
ANALISIS HUBUNGAN SYSTEM USABILITY SCALE DENGAN DESKILLING PENGGUNA ADOBE PHOTOSHOP CC Rinkapati Swatriani
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

New features found in Adobe Photoshop CC software cause problems about usability. Because a modern technology that has some automatic function and default setting provides an opportunity to anyone to use that software without learn to operate or understand how it works. Therefore, this research was made for measure the degree of user convenience to Adobe Photoshop CC and the linkage between the ease of using Adobe Photoshop CC and the user’s helplessness. The methode used in this research is quantitative with SUS (System Usability Scale), developed by oleh John Brooke (1996). SUS contains 10 simple statements about the system and the answer be measured with Likert scale that organized from left to right 1 – strongly disagree, 2 – disagree, 3 – doubtful, 4 – agree, 5 – strongly agree
PERSEPSI KUALITAS RUANG PAMER MUSEUM SENI: SEBUAH STUDI OBSERVASI Polniwati Salim
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RingkasanKeberadaan museum di era globalisasi sudah semakin menjanjikan karena semakin banyak turis maupun non turis memiliki kesadaran budaya. Latar belakang penelitian ini adalah fenomena masyarakat luas yang terlihat kesadaran untuk berkunjung ke museum, terlihat pada akun sosial media masyarakat jaman sekarang yang semakin marak. Ruang pamer museum merupakan sebuah wadah aktivitas yang dilakukan pengguna dalam museum yang berfungsi sebagai elemen utama visualisasi, ruang sebagai program, ruang sebagai susunan tata letak, dalam sebuah museum. Sering ditemukannya ruang pamer yang tidak sesuai harapan dan lemahnya interaksi museum terhadap pengunjung, kegagalan kepuasan pengunjung terhadap ruang pamer dapat menjadi kendala menurunnya minat untuk datang kembali. Uraian di atas menegaskan bahwa aspek desain ruang pamer masih menjadi masalah besar yang banyak ditemukan dalam konteks desain sebuah museum. Oleh karena itu, studi ini bermaksud menggali kembali berbagai permasalahan dalam ruang pamer museum.Metode yang digunakan adalan dengan teknik pengamatan dan pendokumentasian serta analisa interior objek penelitian, dipadukan dengan studi literature, diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi pada teknik perancangan museum sebagai sebuah ruang publik, yang ergonomis dan interaktif menyenangkan bagi pengunjung. Melalui studi kualitatif, penulis melakukan studi observasi dan wawancara untuk mengkaji kualitas desain interior ruang pamer museum dengan studi kasus sebuah museum seni kontemporer. Secara khusus, studi ini ingin menggali berbagai kelemahan fasilitas ruang pamer museum dengan studi observasi, dan dijadikan sample pada penelitian selanjutnya. Dengan desain ruang pamer yang baik dan menarik pada sebuah museum, diharapakan akan semakin menaikkan minat para pengunjung dan kesadaran masayarakat mengeksplorasi isi museum semakin meningkat.Kata Kunci: Ruang Pamer, Museum, Interior, Kontemporer.AbstractThe existence of museums in the era of globalization is increasingly promising because more and more tourists and non-tourists have cultural awareness. The background of this study is a phenomenon of the wider community that shows awareness to visit the museum, seen in the social media accounts of today's society which are increasingly prevalent. The museum exhibition room is a place of activity carried out by users in the museum which functions as the main element of visualization, space as a program, space as an arrangement of layout, in a museum. Often found showrooms that do not match expectations and weak museum interaction with visitors, the failure of visitor satisfaction to the showroom can be an obstacle to the decline in interest in coming back. The description above confirms that the design aspect of the showroom is still a big problem that is found in the context of the design of a museum. Therefore, this study intends to explore the various problems in the museum showroom.The method used is the technique of observing and documenting and analyzing the interior of the research object, combined with a literature study. It is hoped that this research will contribute to thedesign techniques of the museum as a public space, which is ergonomic and interactive fun for visitors. Through qualitative studies, the authors conducted observation and interview studies to examine the quality of interior design of museum showrooms with case studies of a museum of contemporary art. In particular, this study wants to explore various weaknesses of museum showroom facilities withobservation studies, and be sampled in subsequent studies. With the design of a good and attractive showroom in a museum, it is hoped that it will increase the interest of the visitors and public awarenessof exploring the contents of the museum is increasing.Keywords: Showroom, Museum, Interior, Contemporar
KAJIAN EKSPRESI SENI DALAM RAGAM HIAS BATIK BETAWI Hady Soedarwanto; Waridah Muthi'ah; Nina Maftukha
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RingkasanSeiring dengan meningkatnya popularitas batik, berbagai daerah berusaha mengembangkan batik dengan mengangkat tradisi dan ciri khas daerah setempat. Salah satunya adalah Jakarta, dengan mengusung Batik Betawi. Sebagai bagian dari khasanah kriya Indonesia, kain batik tidak hanya merupakan selembar sandang. Ragam hias batik merupakan ungkapan rupa yang dapat memberikan gambaran dan refleksi atas kebudayaan pembuatnya, dalam hal ini masyarakat Betawi. Penelitian ini menitikberatkan pada ekspresi seni yang terdapat pada Batik Betawi, berupa pengembangan gagasan/ide/inspirasi ke dalam stilasi ragam hias. Hal ini dilakukan dengan dengan menelaah unsur visual seperti karakter garis dan bidang, komposisi bentuk dan warna, gaya penggambaran, serta detail ragam hias. Obyek penelitian ini adalah motif batik yang tersebar di wilayah kebudayaan Betawi, dengan mengambil studi kasus motif Ondel-Ondel di Jakarta dan Bekasi. Penelitian dilakukan di sentra-sentra industri batik di Jakarta, antara lain KBB Setu Babakan dan Batik Seraci Bekasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan estetika yang dilaksanakan dengan metode kualitatif dan pengolahan data dilakukan dengan metode deskriptif. Dengan adanya penelitian ini, dapat diungkap kecenderungan ekspresi seni pada Batik Betawi, dikaitkan dengan profil masyarakat pendukungnya.Kata kunci: Ekspresi Seni, Ragam Hias, Batik BetawiAbstractThe increasing popularity of batik leads many regions in Indonesia to develop their own batik that represent their own traditions and unique characteristics. One of them is Batik Jakarta, that posed not only as the representation of Betawi’s custom, but also the image of Jakarta as the capital of Indonesia. As part of Indonesian craft, batik is not only a piece of textile. Batik ornaments is a visual language that reflected their maker’s custom. Nevertheless, This research focuses on the art expression in Batik Betawi, that is the development of idea or inspiration to ornament stylization.This process is conducted by styding the visual elements such as the character of line and shape, the composition of shape and color, visual style, and the ornament’s details. The object of this research is batik motives in Betawi cultural region, with the Ondel-ondel motives in two batik industrial centers, KBB Setu Babakan, Jakarta, and Batik Seraci, Bekasi, as case study. This is conducted with aesthetical approach, by performing qualitative methods. Data that have been obtained is presented with descriptive method. This research aims to discover the tendency of art expression in Batik Betawi, in its relation to the profile of traditional society in modern world.Keywords: visualization, drawing, interpretation of psychoanalysis, visual language
ANALSIS PENAMBAHAN FUNGSI DAN MAKNA SERAGAM (JERSEY) PADA PENDUKUNG CLUB SEPAK BOLA Irfandi Musnur
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepak bola merupakan salah satu kejuaraan bergengsi yang mampu menjadi bahasa universal bagi seluruh masyarakan dunia. Tidak hanya digeluti untuk kepentingan kejuaraan antar negara, namun kejuaraan sepak bola setiap saat dapat disaksikan dalam satu negara yang disebut sebagai liga club sepak bola. Umumnya, justru dalam kejuaraan club sepak bola dalam liga satu negara lebih banyak digemari di belahan negara lainnya.Kejuaraan Club sepak bola dalam liga cenderung melahirkan penggemar dan pendukung fanatik. Sebagai penggemar maupun pendukung yang fanatik, tentu memerlukan identitas yang mampu mewakili sesuatu yang didukungnya. Salah satu cara menghadirkan identitas itu sendiri dengan meniru atau menggunakan sesuatu yang lebih dekat dengan yang digemari. Hal yang paling dekat dalam sebuah club sepak bola tentu saja adalah kostum dan atribut yang digunakannya.Pada dasrnya Fungsi kostum dalam permainan sepak bola tidak hanya sekedar pakaian biasa, melainkan sebagai kaos yang dirancang khusus untuk kenyamanan pemain. Atribut seperti warna costum (jersey) dan nomer punggung sebagai informasi pembeda dengan pemain lainnya. Jika dalam permainan sepak bola, fungsi kostum dan atribut seperti kaos, bendera, warna, dan  nomor punggung adalah sebagai pembeda dengan lawan main, justru sebagai penggemar menggunakan kaos dan atribut tersebut sebagai identitas.Melihat latar belakang tersebut, sebagai riset produk melihat adanya perubahan alih fungsi produk kaos dan atribut yang digunakan dalam permainan sepak bola. Produk kaos yang pada dasarnya dirancang untuk keprluan dalam permaian, beralih fungsi menjadi kaos yang dapat digunakan pendukung sebagai identitas.
PERANCANGAN DESAIN INTERIOR MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK JAKARTA Lelo Lelo; Maulana Agung Laksono
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RingkasanSelain sebagai tempat rekreasi, museum berguna juga sebagai sarana edukasi atau sebagai wadah tempat pembelajaran dan pengetahuan. Museum menurut batasan yang dikeluarkan oleh Internasional Council of Museum (ICOM) adalah sebuah lembaga yang bersifat tetap, tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan artefak-artefak perihal jati diri manusia dan lingkungannya untuk tujuan studi, pendidikan dan rekreasi.Museum Seni Rupa dan Keramik dirancang untuk menarik minat masyarakat agar mengunjungi serta mempelajari peninggalan sejarah yang ada di museum dengan menggunakan fasilitas yang modern sebagai sarana pemberi informasi dan edukasi yang dapat diterima oleh masyarakat dengan baik. Desain interior yang sesuai dapat menciptakan suasana yang mendukung tujuan tersebut. Sesuai dengan lokasi berdirinya Museum Seni Rupa dan Keramik, yakni di kawasan Kota Tua Batavia, Jakarta, konsep desain interior yang diterapkan pada museum ini mengangkat tema, “Modern Education And Ethnic Betawi”. Hal ini bertujuan untuk melestarikan budaya sekitar dan meningkatkan kepedulian masyarakat agar dapat melestarikan peninggalan-peninggalan karya pada zaman dahulu.Kata Kunci : Museum, Seni Rupa dan Keramik, Modern Education, Etnik BetawiAbstractOther than its function as a recreational place, museum also poses as an educational place. According to The International Council of Museums (ICOM), museum is a fixed and non-profit institution that serve the society and open to the public, with the main task to obtain, maintain, link, and display artifacts of the human identity and environment for educational and recreational purposes.The Museum of Fine Arts and Ceramics is designed to attract the public to visit and study the historical heritage by using modern facilities as a means of providing information and education that can be accepted by the community. A suitable interior design can create an ambience to increase its attractiveness and support its educational function. In relevance to its location in The Old City of Batavia, Jakarta, the design concept for the interior of art museum and ceramics is "Modern Education And Ethnic Betawi”. The application of this theme also aims to preserve the surrounding culture and increase public awareness in order to preserve the historical relics.Keywords: Museum, Fine Arts and Ceramics, Modern Education, Ethnic Betawi
TINJAUAN USER INTERFACE DESIGN PADA WEBSITE E-COMMERCE LAKU6 Nina Mastra
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RingkasanPerkembangan website e-Commerce di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, ditandai dengan banyaknya perusahaan besar maupun ritel yang beralih menggunakan media digital demi memudahkan para user dalam bertransaksi secara online. Salah satunya adalah website Laku 6, yang khusus menjual smartphone bekas. Website ini telah menjadi salah satu andalan konsumen karena keberadaan fitur pengecekan produk dan pelayanan yang disediakan. Akan tetapi, belum ada telaah mengenai efektivitas user interface yang digunakan untuk menunjang image dan layanan website.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif untuk meninjau penerapan prinsip dasar user interface design pada elemen website e-Commerce Laku6, berdasarkan 17 Prinsip Dasar User Interface oleh Deborah J. Mayhew. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam perancangan website e-commerce. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa penggunaan anatomi, prinsip layout, dan warna pada website memiliki makna tersendiri. Website ini menerapkan beberapa prinsip dasar seperti user compatibility, product compatibility, responsivenesse, robustness, dan flexibility.Kata Kunci: Unsur Desain Website, Prinsip Dasar Desain Antarmuka, website e-commerce, Laku6AbstractThe development of e-Commerce website in Indonesia has increased rapidly. Currently, many large companies and retailers are switching to using digital media to create an e-Commerce website to facilitate the user in transacting online. One of them is Laku6, a website which specifically sell used smartphone. This website has been one of consumer’s mainstay due to its customer services, for examples product quality checking and delivery service. Nevertheless, there is still no research to review the effectiveness of its user interface in supporting the website’s image and service.This research is conducted by using qualitative approach to review the application of user interface design principles on the design elements of e-commerce website “Laku 6”, based on The 17 Basic Principles of User Interface by Deborah J. Mayhew. This research is expected to be a reference in designing an e-Commerce website. It is found that the web page anatomy on the website page is using layout principles and colors used have different meanings. Then the basic principles of user interface design applied to Laku6 website such as user compatibility, product compatibility, responsiveness, robustness, and flexibility.Keywords: Elements of Web Design, Principles of User Interface Design, e-commerce website, Laku6
TINJAUAN BENTUK SIRKULASI UDARA RUMAH ADAT KAMPUNG CIKONDANG, DESA LAMAJANG, KABUPATEN BANDUNG Nani Sriwardani; Savitri Savitri
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ringkasan Rumah adat Cikondang di kampung Cikondang desa Lamajang Kec.Pangalengan Kabupaten Bandung. dibangun sekitar abad ke-16, dan mengalami kebakaran di tahun 1942. Rumah adat ini hanya satu-satunya yang tersisa dicikondang, sehingga dilindungi dan telah menjadi situs cagar budaya arsitektur khas sunda. Pada berbagai paparan data menjelaskan rumah adat cikondang dan kehidupan masyakatnya,  namun paparan secara terukur dan detail bentuk fisik arsitektur belum ditemukan. Menurut data dan narasumber bahwa rumah adat yang hanya tersisa satu inipun tidak akan dibangun kembali.  Bahasan bertujuan menggambarkan bentuk sirkulasi udara dari bumi adat Cikondang berupa sketsa gambaran detail seperti jendela, jalosi dan kisi-kisi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis deskriptif yang didukung dengan observasi studi di lapangan dan studi literatur. Pada bangunan rumah adat Cikondang ini adalah menggunakan cross ventilation . Tiap sisi bangunan menjadi udara masuk dan keluar. Jendela kayu bisa mengatur besar-kecilnya volume udara dengan buka-tutup jendela. Material bangunan yang berbahan alami yang diambil dari hutan keramat. Bangunan yang berbentuk panggung mampu menjaga suhu di dalam ruangan. Abstract Cikondang traditional house in Cikondang village, Lamajang village, Pangalengan district, Bandung regency. was built around the 16th century, and experienced a fire in 1942. This traditional house is the only one left dicikondang, so it is protected and has become a cultural heritage site typical of Sundanese architecture. In various explanations, the data describes the cikondang traditional house and the life of the community, but the measured exposure and details of the physical form of architecture have not been found. According to the data and informants that the traditional house that is left only this one will not be rebuilt. The discussion aims to describe the form of air circulation from the Cikondang customary earth in the form of a detailed sketch of a picture such as a window, jalosi and grid. The method used in this study is a qualitative method with descriptive analysis that is supported by observations of field studies and literature studies. The shape of circulation in cikondang traditional house is using cross ventilation. Each side of the building becomes air in and out. Wooden windows can adjust the volume of air with open-close windows. Building materials made from natural materials taken from sacred forests. The building in the form of a stage is able to maintain the temperature in the room. 
STUDI ANALISIS SEMIOTIKA TERHADAP MAKNA DAN SIMBOLIS PADA TOKOH WAYANG BRAYUT JAWA Ananta Hari Noorsasetya
Narada : Jurnal Desain dan Seni Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

RingkasanSeni wayang merupakan produk kebudayaan yang dianggap sebagai karya seni adiluhung. Sebagai sebuah seni pertunjukan, wayang mengintegrasikan beragam aspek seni seperti seni rupa, seni drama, seni sastra, seni musik dan seni tari. Di balik kisah-kisah dan penokohan seni wayang pun terkandung nilai filosofi tinggi yang dapat dijadikan panutan hidup. Namun seiring dengan perkembangan zaman, saat ini generasi muda hanya mengenal tokoh-tokoh penting yang popular seperti Pandawa dan Kurawa. Sedangkan wayang yang bukan tokoh utama seperti Brayut mungkin sama sekali tidak dikenal.Kata Brayut berasal dari kata „bebrayutan‟ yang berarti „bergelantungan‟. Wayang ini mengambil sosok sepasang suami istri yang mendukung banyak sekali anak. Wayang dengan tokoh Brayut (Kyai Brayut: Laki-laki, Nyai Brayut: Perempuan) ini cukup dikenal dan hampir selalu ada pada setiap kotak wayang kulit yang lama, tetapi sekarang sudah jarang ditemui dalam kotak wayang kulit baru. Tinjauan terhadap tokoh Brayut sangat signifikan, terkait dengan konsep dan unsur budaya yang terkandung di dalamnya. Seperti tokoh Panakawan, tokoh Brayut merupakan sebuah karya asli Jawa yang diangkat dari falsafah “banyak anak banyak rezeki” dalam masyarakat tradisional. Hal ini sejalan dengan pemaknaan lain karya seni di luar kedudukannya sebagai karya adiluhung, yakni bahwa seni juga merupakan barang atau karya yang dihasilkan manusia dalam kesehariannya. Pesan yang ingin disampaikan dari tokoh Brayut adalah bahwa orangtua tidak perlu khawatir anaknya akan terlantar, sebuah pendirian bahwa mendapatkan uang harus disertai dengan kerja tekun memeras keringat. Di masa kini ketika banyak anak tak lagi dipandang sebagai sebuah nilai tambah, penggambaran Brayut boleh jadi menuai kontroversi. Meski demikian, Brayut dapat dipergunakan untuk mengusung sebuah konsep yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman.Kata Kunci: Brayut, Semiotika, Wayang KulitAbstractWayang art is a cultural product that is considered as a masterpiece of art. As a performing art, wayang integrates various aspects such as visual art, drama, literature, music, and dance. Behind the stories and characterizations, wayang also contains high philosophy values that can be a role model of life. Unfortunately, younger generation today only recognize popular important figures such as Pandavas and Kuravas, while puppets that are not main characters such as Brayut may be completely unknown.“Brayut” came of the word „bebrayutan‟ which means „hanging‟. This wayang takes the figures of a married couple who support many children. Wayang Brayut character (Kyai Brayut: Male, Nyai Brayut: Woman) is well known and almost always be found in every old shadow wayang box, but now rarely found in new leather wayang box. The study of Brayut figure is very significant, related to the concept and cultural elements contained in it. Like Panakawan figure, Brayut figures are a genuine Javanese work that is came from the philosophy of "much children, much fortune" in traditional society.46 | Volume 5 Edisi 2, 2018This is in line with the interpretation of art outside of its position as high art, that art is also a productmade by humans in their daily life. The message from Brayut's character is that the parent does notneed to worry that his son will be abandoned, a money stand should be accompanied by diligent workof sweating. In the present when many children are no longer seen as an added value, Brayut'sportrayal may reap the controversy. However, Brayut can be used to carry a concept that can beadapted to the needs of the times.Keywords: Brayut, Semiotics, Leather Wayang

Page 1 of 1 | Total Record : 10