cover
Contact Name
Ida Bagus Putu Eka Suadnyana
Contact Email
idabaguseka09@gmail.com
Phone
+6287862277494
Journal Mail Official
idabaguseka09@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja Jl. Kresna, Gang III No 2B Singaraja Telp. (0362) 21289
Location
Kab. buleleng,
Bali
INDONESIA
GENTA HREDAYA: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja
ISSN : 25986848     EISSN : 27221415     DOI : -
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja hadir untuk memberi ruang bagi para penulis yang ingin mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai filsafat Hindu. Implementasi ajaran filsafat khususnya filsafat Hindu ini hampir setiap saat dijumpai dalam setiap aspek kehidupan umat beragama. Genta Hredaya sebagai Jurnal Filsafat Hindu berusaha melakukan pencerahan melalui kontemplasi hakikat berbagai macam pengetahuan keagamaan. Fokus Genta Hredaya adalah: 1. Filsafat Hindu 2. Ilmu Filsafat 3. Ilmu Agama 4. Ilmu Budaya 5. Filsafat India 6. Filsafat Nusantara 7. Kajian Susastra Hindu
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2022)" : 10 Documents clear
VERSI SEKULARISME INDONESIA SEBAGAI KEBIJAKAN YANG DEMOKRATIS Ambrosius Markus Loho; Karen Alfa Pontoan
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2131

Abstract

The fact of plurality in Indonesia is characterized by a religious diversity. This discussion paper is going to present the efforts to manage the tolerance of the inter-faith, including also how a precise trategy is related to the relationship between the religions and the state. Is the relationship between the religions and the state in Indonesia linked closely with any radical secularism such as in France or Indonesia that has a version of secularism itself? The writer will discuss the question by elaborating on the relationship between the religions and the state according to Pancasila. The type of secularism that is suitable and ideal for Indonesia is the one that nuances a separation of the religions and the state that is in the rigor version of liberal democracy, cannot be absolutely applied in Indonesia. The reason is that Indonesia has a wealth of culture that affecs the different way of view and reception against secularism. Even some thinkers argue that the acceptance of Indonesia against secularism can be one of the new examples/alternatives in which that the reception against secularism does not mean to be standing on the preconditions for a la western like democracy, liberalism, etc,. The issue is how to translate the values of cultural religious are to be matched with the values of the secular with the consideration that Indonesia still maintain the condition of ethnocentrism. Keywords: Secularism, Indonesia, plurality, Indonesia
PERANAN NYAYA-VAISESIKA DARSANA DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARGUMENTASI MAHASISWA putu yuliani dewi; wayan juli artiningsih
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2090

Abstract

Rendahnya rasa keingintahuan dan keengganan mahasiswa untuk menyampaikan pendapat atau berdiskusi selain karena ketidakbiasaan melakukan argumentasi/debat juga disebabkan kurangnya literasi mahasiswa utamanya minat membaca untuk menggali pengetahuan baru. Dosen selaku tenaga pendidik memiliki tanggung jawab dalam capaian kompetensi soft skill maupun hard skill mahasiswa seperti yang diamatkan dalam PERMENRISTEKDIKTI. Transfer ilmu yang diberikan dari dosen kepada mahasiswa dikatakan berhasil apabila mahasiswa selain mampu memahami ajaran yang diberikan juga mampu menerapkan serta menyebarluaskan ajaran yang diberikan. Tentunya untuk diperlukan kemampuan argumentasi untuk dapat menyebarluaskan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang mana ingin menjelaskan mengenai peranan filsafat Nyaya-Vaisesika dalam meningkatkan kompetensi agumentasi mahasiswa. Nyaya dan Vaisesika merupakan filsafat yang mengajarkan realisme logis, kritis dan analisis dalam memecahkan masalah dan meletakkan konsep yang benar dalam memperoleh pengetahuan yang benar sehingga sering digunakan sebagai dasar dalam argumentasi dan diskusi. Sumbangan Filsafat Nyaya–Vaisesika sangat berarti terhadap alam pemikiran Hindu karena dengan mempelajarinya seseorang akan belajar untuk menggunakan kecerdasannya untuk menemukan kekeliruan dan menganalisanya sehingga tidak terjebak dengan diskusi atau argument tasi tanpa dasar pengetahuan yang jelas dan benar.Kata kunci : Nyaya Vaisesika, Argumentasi, Darsana
PERMASALAHAN PENDIDIKAN PADA ASPEK ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN HINDU Ni Putu Dian Utami Dewi
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2187

Abstract

This paper discusses educational problems in the aspects of ontology, epistemology, and axiology. Hindu education philosophy is the application of Hindu philosophical concepts into Hindu education problems which is found in the real teaching learning process. Vice versa, the implementation of education can also provide ideas/input for the improvement of the Hindu philosophical concepts. Those concepts and applications influence each other and work together to enhance each other. The problems of educational ontology in the study of Hindu educational philosophy covers the definition and nature of education and learning according to the Hindu perspective. Epistemological problems of education according to the study of Hindu education philosophy including philosophical problems (goals, curriculum and materials of Hindu education), actual problems (methods, educators and students in Hindu education), supporting problems (facilities, infrastructure and approaches of Hindu education). The problem of educational axiology in the study of Hindu educational philosophy concerns the philosophy of value. The intended value according to the study of Hindu religious education is the value of the usefulness/benefit of knowledge. Insightfully to those problems in the three pillars of philosophy, the educators, policy makers and education observers will be able to answer challenges and support the establishment of Hindu education that is beneficial, especially for students and the young generation of Hindus.@font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}@font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-469750017 -1073732485 9 0 511 0;}p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:"Calibri",sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi; mso-fareast-language:EN-US;}div.WordSection1 {page:WordSection1;}
KESETARAAN WARGA NEGARA DALAM TRADISI PERKAWINAN NYENTANA KAJIAN FILSAFAT HINDU Ida Bagus Wika Krishna
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2138

Abstract

Penelitian ini berupaya mendeksripsikan eksistensi tradisi perkawinan nyentana di tengah-tengah masyarakat patriarkhi sebagai upaya mewujudkan kesetaraan warga negara. Melalui upaya ini diharapkan menjadi solusi dalam mewujudkan tujuan Pendidikan Kewarganegaraan (citizenship education) yaitu untuk membentuk warga negara yang baik dan cerdas salah satunya diwujudkan dengan sikap tidak membedakan status, kedudukan, dan gender seseorang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan nyentana itu muncul sebagai upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sesuai dengan konvensi CEDAW dan undang-undang nomor 1 tahun 1974. Hal ini dikarenakan pada tradisi perkawinan nyentana memungkinkan seorang perempuan berkedudukan sebagai purusa (memiliki kekuasaan tertinggi) di tengah-tengah masyarakat patriarkhi selain itu keluarga yang hanya memiliki anak perempuan diberi hak yang sama dengan keluarga yang memiliki anak laki-laki untuk melanjutkan keturunannya dalam prinsip patriarkhi.
Tradisi Ngeningang Raga saat Tumpek Kuningan Di Desa Adat Kebonjero Desa Munduktemu Kecamatan Pupuan Kabupaten Tabanan (Perspektif Teologi Hindu) I Nyoman Surpa Adisastra; Yunitha Asri Diantary
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2085

Abstract

Ngeningang raga saat Tumpek Kuningan yang dilaksanakan oleh Desa Adat Kebonjero merupakan tradisi yang mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan komitmen sebagai manusia. Terlebih sebagai manusia yang beragama, tradisi ini menjadi momentum berserah dan pasrah di bawah kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Di sisi lain, dalam hubungannya dengan Dharma Agama dan Dharma Negara, tradisi ini menjadi bagian dari upaya penyadaran masyarakat untuk patuh dan taat kepada aturan-aturan agama dan negara. Tradisi Ngeningang raga dengan latar belakang sejarahnya dan kemuliaan niat pelaksanaannya perlu dilestarikan untuk kedepannya. Walaupun tradisi ini cukup sederhana, namun tidak mengurangi makna yang diwariskan oleh leluhur. Keharmonisan dalam masyarakat merupakan kunci dalam kesejahteraan dan kebahagiaan yang diharapkan terwujud, baik oleh agama maupun negara.
PELITA DHARMA: Keutamaan Dharma Menurut Sarasamuccaya I Ketut Wisarja; Ni Wayan Aryani; Ni Nyoman Suastini
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2282

Abstract

 Rapid progress in the field of information and technology on the one hand makes human life easier and pragmatic, but on the other hand it raises quite deep concerns because it has negative impacts, such as; triggers stress, irritability, self-determination, and selfishness. This article aims to discuss and analyze the virtues of dharma as a light or enlightenment of the spirituality of human life and its implementation for Hindus, with the aim of realizing a peaceful, peaceful, harmonious, and happy society both physically and mentally. Therefore, make dharma as a basis in seeking wealth, seeking satisfaction, obtaining happiness, and as a means to heaven. Practically, this article is expected to be useful for Hindus as a guide and foundation in carrying out all activities of daily life.
Filsafat Positivistik, Manusia Modern dan Kegagalan Modernitas Ketut Agus Nova
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2108

Abstract

AbstrakMunculnya filsafat positivistik yang menjunjung tinggi penalaran inderawi dan ilmu pengetahuan menjadi awal kelahiran zaman modern. Akan tetapi, kelahiran zaman ini tidak serta merta membawa manusia ke dalam tatanan hidup yang lebih baik. Justru meninggalkan berbagai masalah kemanusiaan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan eksplanasi mengenai kegagalan modernisme didalam membawa manusia ke tahap yang lebih baik. Metode yang dipergunakan dalam tulisan ini adalah studi kualitatif-eksploratif dengan fokus “literature review”. Modernisme menciptakan berbagai dampak kemanusiaan, seperti terjadinya “holocaust” atau “human waste”. Tragedi ini terjadi dilatarbelakangi oleh rasionalisme, konformitas dan terciptanya mekanisme otoritas legal rasional. Modernisme adalah fakta tentang kemajuan manusia yang justru membawa manusia pada penciptaan tragedi kemanusiaan.Kata kunci: positivistik, manusia, modernisme 
Nilai Agama Hindu Pada Lirik Lagu Band Subkultur Metal Rudra: Hymns from The Blazing Chariot i gusti agung ngurah agung yudha pramiswara
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2097

Abstract

Hindu sebagai sebuah agama memiliki konsep filosofis maupun teologis yang digunakan sebagai sebuah panduan kehidupan (way of life) bagi umat hindu di seluruh dunia. Nilai-nilai tersebut tersurat dan tersirat dalam berbagai bentuk literasi yang digubah oleh para rsi yang merupakan orang yang telah tercerahkan dan telah diwariskan dan diajarkan serta diterapkan secara turun temurun. Nilai-Nilai atau konsepsi kehidupan Hindu ini seringkali tidak tersampaikan dengan baik, terlebih pada era disrupsi saat ini dimana massive-nya perkembangan teknologi dan globalisasi membuat orang semakin enggan untuk membaca dan mempelajari nilai-nilai kehidupan atau way of life dari ajaran agama Hindu melalui Bhagawadgita. Melalui lagu yang berjudul “Hymns From The Blazing Chariot” dari band Rudra nilai-nilai agama Hindu di dalam Bhagavand Gita lebih mudah diserap terutama oleh kaum muda. Nilai-nilai Ketuhanan dalam agama Hindu disampaikan atau dikomunikasikan melalui lirik lagu, dimana di dalam lirik lagu tersebut disampaikan pula sloka-sloka yang mendukung pernyataan dalam lirik lagu tersebut. Nilai-nilai agama hindu mengenai pencerahan akan Atman yang mejatinya adalah bagian dari Brahman dan tidak akan dapat dimusnahkan dengan menggunakan apapun terpampang dengan jelas secara eksplisit.Kata Kunci: Bhagavand Gita, Nilai agama Hindu, Subkultur Metal, Vedic Metal
TRADISI OGOH-OGOH DI BALI DALAM TINJAUAN KRITIS FILSAFAT KEBUDAYAAN CORNELIS ANTHONIE VAN PEURSEN Gede Agus Siswadi
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2305

Abstract

This article seeks to explore the ogoh-ogoh tradition in Bali. Ogoh-ogoh which is the result of the artistic expression of the Balinese people who are always experiencing dynamics of change and development. The ogoh-ogoh tradition in Bali is developing according to the times. The ogoh-ogoh tradition in Bali when viewed critically with the cultural philosophy of Cornelis Anthonie Van Peursen by paying attention to the stages of cultural development in the mythical stage, ontological stage and functional stage. Ogoh-ogoh historically, mythology appears as a symbol and embodiment of bhuta kala which is disturbing human life, so that the energies of bhuta kala (negative energy) are always harmonized and neutralized into the powers of the gods (positive energy). Thenext development of the bhuta kala myth developed by breaking away from the shackles of myth to an ontological understanding, and finally at the functional stage as a show (parade) for cultural tourism.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM GAGURITAN WATUGANGGA Ni Putu Gatriyani
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2304

Abstract

Gaguritan Watugangga is one of the literary works full of with the value of character education. However, the lack of public knowledge against geguritan causes this geguritan not to be familiar among the people Balinese people. The purpose of this research is to describe the formal structure, narrative structure and character education values contained in the in Gaguritan Watunggangga. This type of research is literary research, with an intrinsic approach and mimesis. The types of data collected are primary data and secondary data with qualitative data. While the method used in data collection is a method of recording documents. Data analyzed by descriptive method with induction and argumentation techniques. Based on the discussion of the research results, it is concluded that: 1) The formal structure in Gaguritan Watugangga, namely: (1) the literary code that building Gaguritan Watugangga is a pupuh of 75 stanzas consisting of 8 (eight) types of pupuh, namely Pupuh Sinom, Pupuh Ginada, Pupuh Semarandana, Pupuh Pucung, Pupuh Pangkur, Pupuh Durma, Pupuh Ginanti, and Pupuh Maskumambang; (2) the variety of languages used, namely Kawi and Balinese language (basa jabag rough, base andap, base alus sor, and base alus singgih); and (3) language style consists of affirmative figure of speech (tautology and esclamation) and comparative figure of speech (hyperbole). 2) Narrative structure in Gaguritan Watugangga, namely: (1) a synopsis (Telling about the Watugangga who looking for his father named Sang Anoman); (2) the theme is a child who is looking for his father; (3) characters and characterizations, namely Sang Watugangga (a human fish, handsome, dignified, brave, honest, and responsible), Sang Rama (a king who is patient, noble and forgiving), Sang Anoman (faithful, obedient, hardworking and powerful), Mother Sang Watugangga (a big fish, dear and loves his son), Detya Narayama (a cunning giant, agitator and a liar), and Sang Sugriwa (a loyal, obedient and ape-man respect for the leader); (4) the grooves used are mixed grooves; (5) background, namely in Mount Himawan, Tasiktala, Ganges River, forest, Cretatala, Mount Swela, and the road; (6) mandate, which is selective in making friends, don't arrogant, think before doing something, and stay calm in the situation however. 3) The value of character education contained in Gaguritan Watunggangga, namely: religious values, discipline, hard work, curiosity, honesty, friendship, peace-loving, and tolerance

Page 1 of 1 | Total Record : 10