Journal of Psychological Perspective
JOPP (Journal of Psychological Perspective), with registered ISSN 2715-4785 (Print) and ISSN 2715-4807 (online), is a Presented to encourage and facilitate the publication of result of the research in psychology: This journal contains a article on psychology field that includes: Social Psychology Clinical Psychology Educational Psychology Industrial and Organisational Psychology Islamic Psychology JOPP (Journal of Psychological Perspective) is an international journal devoted to publishing theoretically oriented, empirical research that is at the intersection of psychology and media/mediated communication. Research topics include media uses, processes, and effects. Reports of empirical research, theory papers, state-of-the-art reviews, replication studies and meta-analyses that provide a major synthesis of primary research findings in a pivotal area will be considered. We encourage preregistrations and welcome the inclusion of supplementary materials, such as stimuli, measures, preanalysis plans, deidentified data, and code as a part of new submissions. Manuscripts will be judged by the degree to which they contribute to theory and advance the body of knowledge about the psychology of uses, processes, or effects of the media. Peer Review Policy: All research articles in this journal have undergone rigorous peer review, based on initial editor screening and anonymous refereeing by at least two anonymous referees.
Articles
228 Documents
Metode Systematic Literature Review untuk Identifikasi Body dysmorphic disorder pada Remaja
Zulmi Ramdani
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.32952021
Humans certainly always have the desire to be better in all aspects, especially physical aspects. The desire to be good is sometimes excessive considering that no one is perfect. Excessive craving for a perfect, body shape causes Body Dysmorphic Disorder or Body Dysmorphic Disorder (BDD). Watkins (2006) defines BDD as a fictitious physical disability or excessive attention to appearance that is actually insignificant. As for the method used in this literature review is the Systematic Literacy Review where data is obtained through one source, namely Google Scholar and through the checking stage with the criteria that have been made. The results showed that the tendency for BDD characteristics to be obsessed with one or more perceived defects or deficiencies in the patient's physical appearance which cannot be observed or appears only slightly in the sufferer, is followed by repetitive behavior or mental actions in response to concerns about their appearance and is manifested as appearance problem. Manusia tentu selalu mempunyai keinginan untuk menjadi lebih baik dalam segala aspek, terutama aspek fisik. Keinginan untuk menjadi baik kadang berlebihan mengingat tidak ada satupun manusia yang sempurna. Keinginan-keinginan berlebihan untuk bentuk, tubuh yang sempurna menyebabkan gangguan dismorfik tubuh atau Body Dysmorphic Disorder (BDD). Watkins (2006) mendefinisikan BDD ini sebagai cacat fisik yang fiktif atau perhatian berlebihan pada penampilan yang sebenarnya tidak signifikan. Kajian literatur ini bertujuan untuk mendeskripsikan Body dysmorphic disorder serta penyebab dan penangannya. Adapun metode yang dipakai pada kajian literatur ini adalah Systematic Literatue Review dimana data didapat melalui satu sumber yaitu google scholar dan melalui tahap pencokan dengan kriteria yang telah dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan karakteristik BDD terobsesi dengan satu atau lebih cacat yang dirasakan atau kekurangan pada penampilan fisik penderita yang mana tidak dapat diamati atau muncul hanya sedikit pada penderita, kemudian diikuti dengan perilaku berulang atau tindakan mental dalam menanggapi keprihatinan pada pemampilannya, dan dimanifestasikan sebagai masalah penampilan.
Motivasi Belajar Remaja yang Mengalami Kematian Orang Tua
Citami Vastya;
Fatimah Az Zahro;
Mufaridah Fauziah;
Rifqi Kurniawan;
Tri Wisda;
Zulmi Ramdani
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.31962021
Kehilangan orang tua memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan psikologis remaja, yang mempengaruhi rasa diri dan problem traumatis tetapi banyak dari mereka yang bisa bangkit dan menunjukkan prestasti yang lebih baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi belajar pada remaja yang orangtuanya telah meninggal dunia. Penelitian ini menggunakan studi kasus dengan subjek sebanyak tiga orang yang memiliki karakterisik remaja hingga dewasa awal yang memiliki prestasi dan salah satu orangtuanya telah meninggal dunia, pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara semi terstruktur yang kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Penelitian ini mengungkapkan bahwa remaja yang mengalami kematian orang tua mengalami kesedihan dan keadaan trauma yang buruk, kehilangan sosok orang yang dicintai yang menghilangkan dukungan sumber motivasi utama serta hilangnya kenyamanan. Menghadapi berbagai situasi masalah yang menyebabkan stress, dalam beberapa waktu membutuhkan kemampuan untuk mengelola permasalahan dan resiliensi yang mampu membuat mereka bertahan. Mereka juga memiliki sumber motivasi yang tinggi baik internal dan eksternal sehingga mampu memberikan prestasi yang terbaik
Pemaafan Diri Mantan Homoseksual (Lesbian); Studi Kualitatif
Annisa Hidayati;
Joko Kuncoro
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.311022021
Pemaafan diri merupakan sebuah kesatuan proses untuk memotivasi diri agar mampu untuk menerima rangsangan yang menyakitkan dengan melakukan perubahan perilaku. Memaafkan diri diperlukan untuk dapat melepaskan emosi negatif terhadap kesalahan yang pernah dilakukan. Pemaafan diri dapat terjadi karena adanya dorongan dari dalam diri agar tidak terus terjebak dalam kesalahan yang pernah diperbuat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam mengenai pemaafan diri pada mantan homoseksual (lesbian), meneliti tahapan-tahapan pemaafan diri yang telah dilalui oleh subjek, dan faktor-faktor yang mendorong subjek untuk berubah menjadi mantan lesbian. Penelitian ini menggunakan mentode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara mendalam dengan wawancara semi terstruktur serta dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini sebanyak tiga responden yang diperoleh melalui metode purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 3 subjek telah melalui tahapan-tahapan pemaafan diri yaitu uncovering phase, decision phase, work phase, dan outcame phase, namun pada subjek 2 belum sepenuhnya berada pada uncovering phase hal ini dapat dilihat dari subjek yang masih merasa bahwa yang terjadi dimasa lalu subjek tidak sepenuhnya salah, serta subjek belum dapat terlepas dari masa lalu subjek serta belum menerima sepenuhnya bahwa subjek telah berubah menyukai laki-laki, namun subjek memiliki keinginan untuk berubah dan tidak ingin kembali menjadi lesbian. Faktor yang mempengaruhi ketiga subjek untuk berubah menjadi mantan lesbian adalah faktor internal dari dalam diri subjek serta adanya faktor eksternal yaitu keluarga. Selain itu terdapat hambatan yang dirasakan subjek ketika proses berubah dan memaafkan, yaitu ada dalam diri subjek sendiri seperti menahan diri dan emosi yang subjek rasakan.
Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan Penyesuaian Diri Remaja di SMA Pondok Modern Selamat 2 Batang
Siti Lailatin Nishfi;
Agustin Handayani
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.311132021
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri remaja. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMA Pondok Modern Selamat 2 Batang dengan sampel 230 siswa. Metode pengambilan sampel mengunakan teknik Purposive Sampling. Alat ukur penelitian terdiri dari 2 skala. Skala penyesuaian diri yang terdiri dari 20 aitem dengan reliabilitas skala sebesar 0,809 dan skala dukungan sosial terdiri dari 34 aitem dengan reliabilitas skala sebesar 0,900. Analisis data menggunakan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan penyesuaian diri dengan R= 0,264 Fhitung= 38.464 dengan signifikansi 0,000 (p kurang dari 0,05). Semakin tinggi dukungan sosial maka semakin baik penyesuaian diri di pesantren. Sumbangan efektif yang diberikan oleh variabel dukungan sosial terhadap penyesuaian diri adalah sebesar 26,4%.
Psychological stressor caused alpha-male non-human-primate Macaca fascicularis to become agonistic when struggling over food
Rosyid Ridlo Al Hakim;
Erie Kolya Nasution
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.311152021
Primates are the object of increased research recently. Experiments on non-human-primates (NHP) can determine their psychological level. NHP Macaca fascicularis is a primate that lives socially with a social hierarchy. Alpha-male becomes the leader of the group. Beneficial access is higher in alpha-male, against the conflicts to be initiated for certain interests. This study provides an overview of alpha-male aggressiveness in groups based on psychological stressors obtained during field observations. The research was conducted at Mbah Agung Karangbanar Religious Tourism Park, Central Java, Indonesia, group-size of 12 adult male, 14 adult female, 8 sub-adult male, 9 sub-adult female, 10 juvenile male, 14 juvenile female, and 6 infants. Aggressive observation (sampling-rules) is behavioral-animal sampling on alpha-male individuals and one individual for each age group as the subject of observation. Observations were carried out for 8 days with one-zero sampling. Adult male and alpha-male aggressive behavior ranked the highest during observation, that psychological stressors obtained.
Hubungan Antara Durasi Penggunaan Instagram Dengan Autonomy Pada Mahasiswa
Elmaida Situmorang
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.321162021
Mahasiswa merupakan pelajar yang paling tinggi levelnya tidak terlepas dari Persoalan yang dihadapi mahasaiswa saat ini bermacam seperti masalah akademik dansosial. Untuk mengatasi masalah tersebut, mahasiswa harus memiliki psychological well-being guna mempermudah masa studinya diperguruan tinggi. Salah satu dimensi psychological well-being ialah autonomy. Secara spesifik kondisi autonomy pada mahasiswa FKIP Universitas Lampung tergolong rendah dengan persentase 51,29% yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk menyusun standar hidup. Jenis media sosial dengan pengguna terbanyak ke-empat di Indonesia adalah instagram. Lama atau tidaknya individu menggunakan instagram terlihat pada my activity akun individu. Individu yang aktif menggunakan instagram dalam waktu yang lama akan memperburuk autonomy-nya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan antara durasi penggunaan instagram dengan kualitas autonomy mahasiswa. Metode penelitian kuantitatif yang bersifat korelasional. Hasil Menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan instagram dengan autonomy pada mahasiswa FKIP Universitas Lampung tahun akademik 2019-2020. Artinya tinggi atau rendahnya durasi penggunaan instagram tidak membuat autonomy menjadi buruk atau membuat autonomy menjadi lebih baik. Instagram merupakan media non-toxic ini sangat bermanfaat bagi responden. Dimana instagram dapat menjadi media sosial yang informatif, edukatif, dan inspiratif apabila penggunanya mampu menggunakan instagram dengan bijak.
Gambaran Academic Hardiness Pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan Dan Konseling Periode 2019-2020
Muhammad Arsyad
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.321182021
College is an education unit that is expected to prepare individuals to become members of society who have academic and professional abilities who can apply science and technology, develop science and technology and improve the standard of living of the community. Various demands occur, not only being able to have good knowledge but the world of work also demands that individuals be able to work with good attitudes and soft skills. To face these challenges, it is necessary to have the attitude or character of Hardiness to be able to balance academic needs with the needs for developing soft skills. This study aims to conduct a survey on academic hardiness in Guidance and Counseling students who participate in the Guidance and Counseling Student Association for the period 2019-2020. The number of samples in the study was 38 people. The results showed that most of the students of the guidance and counseling study program had high academic hardiness (52.6%) and some of them had moderate academic hardiness (47.4%). In addition, none of the students had low academic hardiness (0%). The result of this study that, it can be concluded that on average, the Guidance and Counseling Study Program students who are active in organizations as administrators of the Guidance and Counseling Study Program Student Association have high and moderate academic hardiness. There are no students who have low academic hardiness. Abstrak: Pendidikan tinggi merupakan satuan Pendidikan yang diharapkan dapat menyiapkan individu menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan professional yang dapat menerapkan IPTEK, mengembangakan IPTEK dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Berbagai tuntutan terjadi, tidak hanya mampu memiliki pengetahuan yang baik namun dunia kerja juga menuntut individu mampu bekerja dengan sikap dan keterampilan soft skill yang baik. Untuk menghadapi tantangan tersebut maka perlu adanya sikap atau karakter Hardiness untuk mampu menyeimbangkan antara kebutuhan akademik dengan kebutuhan pengembangan soft skill. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan survey mengenai akademik hardiness pada mahasiswa Bimbingan dan Konseling yang mengikuti organisasi Himpunan Mahasiswa Bimbingan dan Konseling periode 2019-2020. Jumlah sampel penelitian adala 38 orang. Hasil penelitian menunjukkan data sebagian besar mahasiswa program studi bimbingan dan konseling memiliki akademik hardiness yang tinggi (52.6%) dan sebagiannya lagi memiliki akademik hardiness sedang (47.4%). Selain itu, tidak didapatkan mahasiswa yang memiliki akademik hardiness yang rendah (0%). Berdasarkan penelitian diatas didapatkan hasil bahwa rata-rata dari mahasiswa yang cenderung aktif berorganisasi sebagai Pengurus Himpunan Mahasiswa telah memiliki akademik hardiness yang tinggi dan sedang. Tidak ada mahasiswa yang memiliki akademik hardiness rendah.
Hubungan Antara Iklim Sekolah dan Kompetensi Pedagogik Dengan Kinerja Guru SMP
Astrid Rizqa Widyastika;
Menik Tetha Agustina
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.311192021
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pendidikan yang membutuhkan perubahan dan perkembangan baik di segala aspeknya. Peran iklim sekolah dan kompetensi yang dimiliki guru dalam hal kompetensi pedagogik merupakan faktor penting kinerja guru dalam perubahan dan perkembangan suatu sekolah. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Analisis data menggunakan analisis regresi ganda dua prediktor dan sumbangan efektif. Temuan penelitian ini adalah (1) terdapat kontribusi positif yang sangat signifikan iklim sekolah terhadap kinerja guru terlihat dari besarnya koefisien antara kedua variabel rx1y = 0,492 dengan p = 0,000 (p kurang dari 0,01), (2) terdapat kontribusi positif yang sangat signifikan kompetensi pedagogik terhadap kinerja guru terlihat dari besarnya koefisien antara kedua variabel rx2y = 0,806 dengan p = 0,000 (p kurang dari 0,01), (3) secara bersama-sama terdapat kontribusi yang sangat signifikan antara iklim sekolah, kompetensi pedagogik dengan kinerja guru SMP Eka Sakti Semarang dengan koefisien korelasi dari ketiga variabel Rx1,2y = 0,880 dengan F = 98,298 dan p = 0,000 (p kurang dari 0,01). Hipotesis mayor dan hipotesis minor yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Penelitian ini memberikan sumbangan efektif kedua variabel sebesar 77,5%.
Psikosomatis Ditinjau Dari Self-Resilience yang Dimiliki Mahasiswa Semester Akhir di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
Syarli Fanira;
Zahro Varisna Rohmadani
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 1 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.311212021
Psikosomatis adalah suatu gejala fisiologis yang disebabkan oleh psikis. Mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi, bagaimana mereka bisa menyelesaikan skripsi tepat pada waktunya, membutuhkan suatu ketekunan dan kekuatan dalam diri. Mahasiswa harus mampu beradaptasi dengan keadaan yang ada itu disebut self resilience. Self resilience merupakan daya tahan atau daya lenting yang dimiliki oleh setiap individu, untuk mampu bertahan dalam menghadapi permasalahan, kesulitan dan tekanan, serta mampu beradaptasi dengan keadaan menyulitkan tersebut.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan model penelitian deskriptif korelasi. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 51 responden di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala likert yaitu skala psikosomatis dan self resilience. Data dianalisis menggunakan uji korelasi product moment dengan bantuan program SPSS versi 16.0, pada penelitian diperoleh hasil kecenderungan psikosomatis sebanyak 28 (54%) masuk dalam kategori cukup rendah, pada self resilience terdapat 28 (55%) masuk dalam kategori tinggi. Korelasi dari kedua variabel yaitu memperoleh 0,002 kurang dari 0,05 artinya terdapat korelasi yang signifikan, serta diperoleh koefesien korelasi sebesar -0,417**, dengan arah hubungan bersifat negatif yang diasumsikan, dimana semakin tinggi self resilience yang dimiliki individu, maka semakin rendah untuk mengalami psikosomatis, begitupun sebaliknya.
Psychological contract breach as a stressor in the physician’s job commitment–extra-role behaviour relationship
Samuel Koomson
Journal of Psychological Perspective Vol. 3 No. 2 (2021)
Publisher : Utan Kayu Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47679/jopp.321372021
This paper finds out if a committed physician will go the extra mile for his/her employer when faced with psychological contract breach (PCB), a psychosocial stressor. Data from 214 physicians across 26 health-care units in the Upper East (UE) and Upper West (UW) regions of Ghana were analysed. A semi-structured, pre-tested and validated questionnaire was utilised. Research philosophy was positivism, research approach was quantitative, research design was explanatory, and study design was cross-sectional. Preliminary tests were conducted. Both reflective measurement and structural models were examined. PLS algorithm tool and bootstrapping procedure were used. Control variables were sex, age, employment type and tenure. A significant level was set at 5%. Smart PLS and IBM SPSS software were employed. In the end, physician’s commitment work (JCM) positively and significantly predicted extra-role behaviour (ETB). Also, PCB significantly interacted with JCM to predict ETB, such that the relationship between JCT and ETB was stronger when PCB was low than when it was high. Creating a balanced, fulfilled and harmonious hospital–physician relationship will transform the workplace into a less stressful, more meaningful and purposeful atmosphere for the benefit other health-care professionals, patients and the health-care organisation at large.