cover
Contact Name
Dr. Hj. Mujizatullah
Contact Email
jeducandum@gmail.com
Phone
+6281343755509
Journal Mail Official
jeducandum@gmail.com
Editorial Address
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar Jl. AP. Pettarani No. 72 Makassar Sulawesi Selatan 90222
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Educandum Jurnal Ilmiah Pendidikan
ISSN : 24771619     EISSN : 26557738     DOI : https://doi.org/10.31969/educandum
Fokus kajian jurnal ini adalah berkaitan dengan penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan Lingkup jurnal Lektur Keagamaan meliputi 1. Pendidikan Agama 2. Pendidikan Keagamaan
Articles 157 Documents
PEMAHAMAN KEBHINEKAAN SISWA MADRASAH ALIYAH DI KOTA KENDARI Asnandar Abubakar
EDUCANDUM Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v6i2.405

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pemahaman kebhinekaan peserta didik secara umum dan pemahaman kebhinekaan dalam konteks suku, agama, ras, dan antar golongan. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kota Kendari dengan fokus peserta didik madrasah aliyah yaitu MA Negeri 1 Kendari dan MA Ummusshabri. Metode penelitian adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara sistematis yang meliputi pengorganisasian data, kategorisasi data, dan menginterpretasi sesuai dengan pemaknaan. Hasil penelitian menunjukkan pemahaman kebhinekaan peserta didik Paham kebhinekaan peserta didik ada yang bersifat ke dalam (internal) dan bersifat ke luar (eksternal). Pemahaman internal adalah pemahaman peserta didik akan keyakinan dan kesadaran dirinya pentingnya mengaplikasikan wujud kelakuan (behavioral manifestation) rasa hormat atau menghormati orang lain yang berbeda dengan kita baik agama, suku, dan budaya, untuk kepentingan bersama. Pemahaman kebhinekaan peserta didik secara eksternal diperoleh dari proses pembelajaran di madrasah, di lingkungan sekolah baik melalui program sekolah, kegiatan ekstrakurikuler ataupun organisasi madrasah, melalui media sosial, dan interaksi sosial di masyarakat melalui perbauran budaya atau kebiasaan-kebiasaan adat istiadat pada kelompok entitas suku bangsa tertentu di Kota Kendari. Manifestasi dari pemahaman kebhinekaan ini adalah pentingnya saling hormat dan tolong menolong dalam konteks sosial.
PERAN PONDOK PESANTREN SALAFIYAH TERHADAP REVITALISASI PENDIDIKAN ISLAM (Studi Pada Pondok Pesantren Salafiyyah Parappe, Campalagian, Polman) M.Taufiq Hidayat Pabbajah; Mustaqim Pabbajah
EDUCANDUM Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v6i2.406

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang peran Pondok Pesantren Salafiyah Pareppe dalam melakukan revitalisasi pendidikan Islam dengan mempertahankan proses pembelajaran tradisional, peningkatan kualitas tenaga pendidik dan santri serta pondok pesantren dalam menghadapi peluang dan tantangan pendidikan modern. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode penelitian etnografi partisipatif, yaitu suatu metode yang melibatkan secara aktif subjek yang diteliti. Adapun sumber data penelitian ini adalah Kiai, ustad, dan santri Pondok Pesantren Salafiyah Parappe sebagai sumber data primer, sedangkan data sekunder adalah dokumen tentang Pondok Pesantren Salafiyah Parappe dan stakeholder. Selanjutnya, metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini adalah: 1) Pendidikan tradisional yang diterapkan di Pondok Pesantren Salafiyah Pareppe dimulai dari bentuk kepemimpinan kiai yang kharismatik dan partisipatif; santri yang majemuk; kurikulum keilmuan keislaman yang bercorak salafy. 2) Peran dan upaya Pondok Pesantren Salafiyah Parappe dalam merevitalisasi pendidikan Islam, ada dua upaya yang dilakukan Pondok Pesantren Salafiyah Parappe yaitu maksimalisasi potensi internal pondok pesantren meliputi pengembangan kompetensi pendidik; dan pembenahan kepemimpinan kiai dan sistem pendidikan pondok pesantren.
PEMBERDAYAAN GURU NON PNS: KEBIJAKAN RESPONSIF MADRASAH NEGERI DI KALIMANTAN TIMUR Badruzzaman Badruzzaman
EDUCANDUM Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v6i2.407

Abstract

Guru non-PNS sejatinya mendapat pemberdayaan yang sama dengan guru PNS, karena perekrutan guru non-PNS dibutuhkan untuk menanggulangi kekurangan guru PNS. Penelitian deskriptif kualitatif ini mengungkap realitas pemberdayaan guru non-PNS dalam tiga aspek, yaitu pembentukan iklim kerja, peningkatan kompetensi, dan jaminan kesejahteraan. Penelitian menemukan bahwa guru non-PNS mendapatkan peluang yang sama dengan guru PNS dalam melaksanakan tugas dan mengembangkan diri; meningkatkan kompetensi secara mandiri atau bersama dengan guru PNS, dan keragaman tingkat kesejahteraan. Penelitian merekomendasikan, bahwa kajian pengembangan diperlukan untuk menyusun stratifikasi kompetensi guru non- PNS yang berimplikasi pada besaran nominal gaji, demikian halnya dengan jaminan keselamatan kerja dan kesehatan.
INDEKS KARAKTER PESERTA DIDIK SMA/MA DI SULAWESI TENGGARA Rosdiana Rosdiana
EDUCANDUM Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v6i2.408

Abstract

Penelitian indeks karakter peserta didik di sekolah/madrasah ini penting untuk dilakukan mengingat sekolah/madrasah merupakan lembaga yang sangat berperan dalam aspek pembentukan karakter peserta didik. Sekolah/madrasah dijadikan sebagai lokus dalam penelitian ini untuk melihat dan mengetahui indeks karakter dan faktor yang mempengaruhi karakter peserta didik di SMA/MA di Sulawesi Tenggara. Penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif ini mengambil sampel penelitian peserta didik di SMA/MA. Instrumen yang digunakan angket dan pedoman wawancara. Data yang terkumpul dianalisis dengan deskriftif kuantitatif untuk mendeskripsikan secara mendalam dari tujuan penelitian dengan tahap: tabulasi, skoring, analisis pemusatan, transformasi data ke presentasi, kategorisasi data berdasarkan tingkat kualitas pembinaan, dan penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan indeks karakter peserta didik di Provinsi Sulawesi Tenggara terhadap variabel yang diukur diperoleh tingkat kategori tinggi dengan skor 3.54, indeks karakter ini diukur melalui lima variabel diantaranya adalah religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Tingkat religiusitas peserta didik terkategori tinggi (3.62), nasionalisme sebagai wujud cinta tanah air yang menjadi dasar identitas dan kepribadian personal terkategori tinggi dengan skor (3.61), tingkat kemandirian terkategori tinggi (3.58), gotong royong terkategori tinggi (3.39) dan tingkat integritas peserta didik yang diukur melalui aspek kejujuran, amanah, hormat atau menghargai, bertanggungjawab ini berada dalam katergori tinggi (3.55). Penamankan nilai karakter kepada peserta didik sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan baik lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Pembiasaan sebagai salah satu metode yang diharapkan mampu membentuk sikap dan prilaku peserta didik. Pembiasaan secara terus menerus dan berulang akan menimbulkan dampak yang positif dan akan melekat bagi peserta didik. Pembiasaan ini dapat saja dilakukan secara pribadi maupun secara berkelompok terutama di lingungan sekolah dalam pembelajaran maupun di luar pembelajaran.
PERSPEKTIF TOKOH MASYARAKAT TENTANG PENDIDIKAN MODERASI BERAGAMA DI KABUPATEN TAKALAR PROVINSI SULAWESI SELATAN Mujizatullah Mujizatullah
EDUCANDUM Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v6i2.409

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gagasan dan perspektif tokoh masyarakat tentang substansi materi , pendekatan, dan kebijakan pemberlakuan sistem pembelajaran pendidikan moderasi beragama di Kabupaten Takalar , dengan metode kualitatif, melalui wawancara dan observasi. Penelitian menemukan bahwa gagasan dan perspektif tokoh masyarakat tentang Pendidikan Moderasi Beragama pendidikan yang mengajarkan pada peserta didik untuk bersikap netral, tidak ekstrem berdasarkan nilai-nilai agama , budaya dan kearifan lokal, pancasila. Substansi materi agama : aqidah, akhlak,landasan pancasila dan kearifan lokal. Materi bernuansa tradisi dan budaya lokal Appakasulapa dan Maudhu Lompoa. Berdasarkan ketiga hal tersebut pendekatan sistem pembelajaran pendidikan moderasi beragama, kurikulum dilaksanakan pada pembelajaran intrakurikuler dengan integrasi pada setiap mata pelajaran secara monolitik pada kegiatan ekstrakurikuler dan muatan lokal waktu 2 jam. Pendidikan non formal dan penerapannya mengenai nilai Appaka sulapa diaplikasikan dengan metode ceramah dan demonstrasi melalui outbond. Strategi pembelajaran mengimplementasikan materi agama, dan kearifan lokal. Pendidik sukarelawan anggota Forum Pemerhati Galesong . kebijakan penerapan Pendidikan Moderasi Beragama ; kebijakan penyediaan satuan pendidikan Sekolah Adat Karaeng Galesong pelopor Prof.Dr.H.Aminuddin Salle, SH, MH, beliau tokoh Guru Besar Unhas, Tokoh Adat dan Pendidikan. Dalam hal ini masih berusaha untuk mengambil kebijakan memasukkan ke Draf Peraturan Daerah Kabupaten Takalar, Tahun 2020-2025, menampilkan even budaya Maudu Lompoa ke kalender nasional. Sumber belajar ,alat pembelajaran, menulis dan menerbitkan buku khusus budaya yang terkait dengan budaya lokal di Kabupaten Takalar. Penerapan pendidikan moderasi beragama dapat diterapkan dengan mengajak para siswa ke acara budaya lokal.
POTRET PENYELENGGARAAN BELAJAR DARI RUMAH PADA RAUDHATUL ATHFAL KABUPATEN BULUKUMBA, SULAWESI SELATAN (STUDI KASUS : RA BABURRAHMAN TANUNTUNG) Syarifah Halifah; Khaerun Nisa
EDUCANDUM Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v6i2.410

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret penyelenggaraan belajar dari rumah pada Raudhatul Athfal di Kabupaten Bulukumba, yang meliputi tahapan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pada tahap persiapan, guru menyediakan rancangan pembelajaran mingguan dan media-media pembelajaran sederhana seperti menyediakan media buku LKS, dan media yang tersedia di rumah sebagai perangkat output pembelajaran dari rumah. Konten tidak dituntut untuk menuntaskan kurikulum, tapi lebih disesuaikan kearah pengembangan life skill. (2) Tahap pelaksanaan, pihak RA Baburrahman melibatkan orang tua dalam menyepakati agenda pembelajaran anak yang disesuaikan dengan kondisi RPPM Ayah Bunda dengan segala keterbatasan. (3) Tahap evaluasi selama pembelajaran dari rumah yaitu guru menilai hasil karya anak selama kegiatan belajar dari rumah untuk mencapai aspek perkembangan anak. Penyelenggaraan pembelajaran belajar dari Rumah pada RA Baburrahman memiliki tantangan tersendiri dikarenakan kondisi pandemi, sehingga pihak RA Baburrahman dan orang tua berusaha secara optimal untuk memaksimalkan kondisi belajar dari rumah dengan membangun kerjasama dan kolaborasi.
PEMAHAMAN KEBHINEKAAN PESERTA DIDIK DI MADRASAH ALIYAH (STUDI KASUS MAN 1 MAKASSAR DAN MAN 2 BULUKUMBA) Abdul Rahman Arsyad
EDUCANDUM Vol 6 No 2 (2020): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/educandum.v6i2.411

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang sifatnya studi kasus dengan menggunakan metode kualitatif, dengan menelusuri berbagai dimensi SARA, yaitu: Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan, yang dilaksanakan pada dua Madrasah Aliyah di Provinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan tujuan penelitian secara umum adalah untuk mengetahui secara mendalam mengenai nilai-nilai kebhinekaan yang dipahami dan dipraktekkan serta harapan peserta didik di MA. Hasil penelitian adalah pemahaman peserta didik dalam menyikapi kebhinekaan (keberagaman) lebih dominan didapatkan lewat lingkungan keluarga dan masyarakat, media sosialdibanding madrasah terutama pada aspek Suku dan Agama. Motivasi dan kreativitas guru sangat dibutuhkan dalam memberikan penguatan pemahaman kebhinekaan terhadap peserta didik, paling tidak metode harus relevansi dengan materi pembelajaran serta memberikan informasi yang terkait dengan issu-issu terkini. Oleh karena itu madrasah dalam hal ini guru dituntut secara professional dapat mengimplementasikan kebhinekaan (keberagaman) dalam berbagai kesempatan yang ada dalam setiap mata pelajaran. Pada hakikatnya memahami dan menyikapi keberagamandi lingkungan internal dan eksternal madrasah, diperlukan adanya saling menghormati dan menghargai satu sama lain, serta menjaga toleransi terhadap SARA.
Implementasi Kurikulum Darurat Pada Madrasah Negeri Di Kabupaten Gowa Baso Marannu
EDUCANDUM Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian tentang implementasi kurikulum darurat pada madrasah negeri di Sulawesi Selatan dengan menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan evaluasi pendidikan, sampel madrasah di Kabupaten Gowa yang diambil adalah MAN Insan Cendikia, MTsN Gowa dan MIN 2 Gowa. Hasil penelitian ini menemukan (1) Penerapan sistem pembelajaran berkaitan dengan penentuan materi, metode, media dan sumber belajar, serta pengelolaan kelas yang diterapkan oleh madrasah mkendapatkan respon 73% (tinggi), hal ini menunjukkan bahwa ada beberapa metode maupun pengelolaan pembelajaran yang masih perlu ditingkatkan; (2) Penerapan kurikulum darurat yang berkaitan dengan mendapatkan respon 93% (sangat tinggi), hal ini menunjukkan bahwa guru telah mampu dengan sangat baik melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan panduan kurikulum darurat; (3) Penerapan kurikulum darurat yang berkaitan dengan evaluasi pembelajaran mendapatkan respon 98%, artinya guru sudah sangat baik melaksanakan sistem evaluasi pembelajaran sebagaimana yang termuat dalam panduan kurikulum darurat. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya memperhatikan kondisi geografis dan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip pemenuhan standar kurikulum tapi lebih fkelsibel.
Perspektif Tokoh Masyarakat Tentang Pendidikan Moderasi Beragama Di Kota Pare-pare Khaerun Nisa
EDUCANDUM Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bermuara pada penggalian perspektif tokoh masyarakat terhadap pendidikan moderasi beragama, yang merujuk pada empat indikator yang digagas oleh Kementerian Agama, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan akomodatif terhadap budaya lokal. Dalam menggali perspektif tokoh masyarakat terhadap pendidikan moderasi beragama digunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Adapun temuan lapangan yang diperoleh adalah (1) secara umum tokoh masyarakat di Kota Parepare sepakat dengan konsep moderasi beragama yang disusun oleh Kementerian Agama dan urgensinya meregenerasi moderasi beragama ke dalam lembaga pendidikan, (2) konsep moderasi beragama yang belum familiar pada beberapa lapisan masyarakat (3) gagasan materi agama yang disampaikan oleh tokoh agama memuat beberapa ayat terkait empat indikator moderasi beragama, serta pentingnya hubbul wathan minal iman dan ukhuwah basyariah (4) Tradisi Mappadendang yang menjadi menjadi wadah perjumpaan dan pembauran untuk menyatukan rasa kebersamaan pemerintah dan masyarakat dari berbagai lapisan etnis dan agama. Sistem pangngaderreng orang Bugis yang telah mendarah daging ade’, bicara, rapang, wari, dan shara’ (6) tenaga pendidik adalah segmentasi pertama penerapan pendidikan moderasi beragama, sistem pembelajarannya dapat melalui pembentukan kurikulum, terintegrasi maupun injeksi melalui kegiatan ekstrakuler, serta atmosfer sekolah yang mendukung sistem (5) sekolah melakukan filterasisasi dan melakukan aktivasi kegiatan kerohanian serta menggandeng ormas untuk menumbuhkan pemikiran yang moderat. Dan menghidupkan kembali mata pelajaran muatan lokal, yang tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kebijakan.
Religious Moderation Education According To Islamic Scholars In Gowa Regency South Sulawesi Muhammad Rais
EDUCANDUM Vol 7 No 1 (2021): Jurnal Educandum
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is oriented to describe the perspective of public leaders on the educational discourse of religious moderation. which is currently being pursued by the government through the Ministry of Religion Affairs, so that it becomes the mainstream in religion. The principles of religious moderation include: nationality, tolerance, nonviolence, and local cultural accommodation. projected to be internalized, disseminated in all fields, including in educational institutions. Focuses on utilizing qualitative methods with specific data collection and analysis instruments, This study found that the informants, consisting of educators and religious figures, deeply understood religious moderation based on the al-Qur’an and hadith which emphasized Islam as a moderate religion. The principle of moderation (wasathiyyah) in Islam is in fact equivalent to the principle or value of religious moderation programmed by the current government. Then, if the idea of religious moderation is to be implemented in the realm of education, then some components should be prepared carefully, so that they do not overlap, and even duplicate with other programs. For example, several implementation models chosen, of course, with their respective advantages and disadvantages, include: autonomous, integrative, and enrichment models. In addition, what is also very urgent to formulate is the right curriculum, tools and learning designs, and competencies of educators, including an assessment tool which of course is more oriented towards attitudes and behavior. No longer trapped in the pathology of learning that has been ongoing, more focused on fulfilling the cognitive domain.

Page 7 of 16 | Total Record : 157