cover
Contact Name
Made Gautama Jayadiningrat
Contact Email
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Phone
+6287762961886
Journal Mail Official
jurnaladatdanbudayaindonesia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Udayana Kampus Tengah Singaraja, Bali, Indonesia 81116
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia
ISSN : 26156113     EISSN : 26156156     DOI : http://dx.doi.org/10.23887/jabi.v1i1
Jurnal ini memuat hasil penelitian dan pemikiran tentang adat istiadat dan budaya. Jurnal ini bertujuan untuk mewadahi artikel-artikel hasil penelitian dan hasil pengabdian kepada masyarakat dibidang adat dan kajian budaya.
Articles 20 Documents
Search results for , issue "vol. 8 no. 2 (2026)" : 20 Documents clear
Transformasi Tradisi Dandangan di Kudus: Adaptasi Kreatif, Negosiasi Budaya, dan Ketahanan Identitas dalam Perspektif Teori Bourdieu Agus Wahyudi; Dewi Ulya Mailasari; Moh. Rosyid; Mas'udi Mas'udi
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.104852

Abstract

Transformasi bentuk ritual keagamaan menjadi festival budaya sering kali dianggap sebagai desakralisasi. Namun, studi tentang Tradisi Dandangan di Kudus, Jawa Tengah ini, mengungkap dinamika yang lebih kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan Dandangan dari ritual penanda awal Ramadhan menjadi festival sosio-kultural dalam perspektif teori Bourdieu. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dan etnografi kritis, sedangkan pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif serta wawancara mendalam dengan sepuluh partisipan di antaranya dari tokoh agama dan pedagang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di balik komersialisasi yang berjalan secara massif di masa sekarang, masyarakat Kudus aktif menegosiasi makna tradisi Dandangan dengan tetap mempertahankan esensi spiritual  dari tradisi tersebut. Filosofi Gusjigang (“Bagus, Ngaji, Dagang”) berfungsi sebagai habitus kolektif sehingga memungkinkan adaptasi kreatif terhadap modernitas tanpa kehilangan identitas. Dandangan dipetakan sebagai arena pertarungan modal simbolik, budaya, sosial, ekonomi antara aktor agama, pemerintah, dan pedagang melalui kerangka Pierre Bourdieu.  Secara teoretis, temuan ini menawarkan model adaptasi kreatif yang melampaui narasi linier desakralisasi dan menegaskan relevansi teori Bourdieu dalam menjelaskan transformasi tradisi di Indonesia. Implikasinya, model ini dapat menjadi rujukan bagi kebijakan pelestarian warisan budaya yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan nilai spiritual. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan ketahanan tradisi lokal di tengah arus modernitas.
Tradisi Mandi Safar sebagai Praktik Kesejahteraan Holistik: Kajian Sistematis tentang Nilai Spiritual, Sosial, Budaya dan Potensinya bagi Wellness Tourism Wita Izzatul Jannah; Reiza D. Dienaputra; Ute Lies Siti Khadijah; Awaludin Nugraha; Yunus Winoto; Dina Oktavia
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.106114

Abstract

Tradisi Mandi Safar merupakan praktik budaya masyarakat Melayu yang memuat nilai spiritual, sosial, dan budaya, namun kajian mengenai keterkaitannya dengan wellness tourism masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai utama dalam tradisi Mandi Safar serta menilai potensi ritual tersebut sebagai dasar pengembangan wellness tourism berbasis kearifan lokal. Penelitian menggunakan Kajian Literatur Sistematis dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dilengkapi analisis bibliometrik untuk memetakan perkembangan dan kecenderungan penelitian, serta analisis tematik untuk menelaah pola makna dalam literatur. Proses penelaahan mencakup pencarian, pemilahan, dan analisis mendalam terhadap dua belas artikel yang memenuhi kriteria relevansi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mandi Safar mengandung dimensi kesejahteraan holistik yang tercermin melalui praktik penyucian diri, doa bersama, kebersamaan komunitas, dan pelestarian identitas budaya. Keempat dimensi tersebut selaras dengan prinsip wellness tourism yang menekankan ketenangan batin, hubungan sosial yang harmonis, serta kedekatan dengan alam. Temuan ini menegaskan bahwa Mandi Safar memiliki potensi yang kuat untuk dikembangkan sebagai pengalaman wellness tourism berbasis budaya, selama pengelolaannya memperhatikan nilai sakral dan konteks budaya yang melekat.
Dinamika Prajuru Desa Adat Dalam Masyarakat Bali: Erspektif Sosiologi Adat Terhadap Kepemimpinan Tradisional Ni Nyoman Raka Astrini; Komang Ayu Suseni; Ni Ketut Raka Utariani
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.114769

Abstract

Prajuru Desa Adat merupakan aktor sosial penting yang mengatur tatanan kehidupan masyarakat adat Bali melalui kewenangan tradisional yang berakar pada ajaran Hindu dan sistem sosial komunal. Kajian ini bertujuan menganalisis dinamika prajuru dalam konteks perubahan sosial kontemporer, menggunakan perspektif sosiologi adat, terutama teori solidaritas mekanik Durkheim, kepemimpinan tradisional Weber, dan konsep sistem sosial Parsons. Kajian ini bersifat kualitatif-deskriptif dengan menggunakan pendekatan studi pustaka (library research) yang mengintegrasikan teori-teori sosiologi adat, hasil penelitian sebelumnya, awig-awig desa adat, serta dinamika empiris masyarakat Bali kontemporer. Analisis dilakukan secara interpretatif dengan menautkan teori sosial dan dinamika adat. Secara keseluruhan, metode penelitian ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai dinamika prajuru desa adat dalam masyarakat Bali, serta menjelaskan bagaimana kepemimpinan tradisional beradaptasi dan merespons perubahan sosial kontemporer. Penelitian ini menemukan bahwa kepemimpinan prajuru memiliki daya adaptif tinggi dalam menghadapi modernisasi, namun tetap mempertahankan legitimasi adat sebagai sumber otoritas utama. Meskipun demikian, tantangan berupa konflik peran, birokratisasi adat, dan tekanan eksternal dari pariwisata serta teknologi digital terus memengaruhi proses pengambilan keputusan adat. Kajian ini menyimpulkan bahwa prajuru desa adat berada dalam ruang negosiasi antara tradisi dan modernitas yang saling bertautan.
Toleransi Antar Umat Beragama Melalui Kepemimpinan Adat Jojao di Misool Barat Kepulauan Raja Ampat Muhamad Yusuf; Pahri Pahri; Akhmad Kadir; Yotan Manga’pan
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.88966

Abstract

Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui secara komprehensif keberadaan kepemimpinan Jojao dan keterampilannya dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Misool Barat Kepulauan Raja Ampat. Merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma fenomenologi sosial. Pengumpulan data dengan melakukan observasi partisipatoris pasif, indept interview dan dokumentasi. Tehnik analisa data menggunakan model alir dari Milles B. Huberman. Hasil penelitian: Pemilihan pemimpin adat Jojao pada masyarakat Mat Bat bersifat pewarisan (Ascription), terdapat keunikan yaitu diberikan pada warga Kampung Gamta bermarga/fam Wihel secara turun temurun yang beragama Islam, yang ditentukan oleh masyarakat Mat Bat marga/fam lain yang ada di Kampung Magei yang beragama Kristiani. Tradisi dilakukan turun temurun, merupakan kemampuan masyarakat menciptakan, memelihara, mempertahankan makna, di dalamnya terdapat keyakinan, pengetahuan, kebiasaan dan pemahaman dalam mengembangkan interaksi dan tindakan bersama dalam mempersatukan masyarakat untuk menjaga kerukunan, memperkuat struktur adat yang terdapat tugas dan fungsi masing-masing marga/fam/klain. Partisipasi Jojao pada kegiatan adat untuk meningkatkan persaudaraan, memotivasi dan membangkitkan perasaan individu untuk berpartisipasi. Jojao memiliki kekuasaan mempersatukan dan mempertahankan wilayahnya. Kemampuan Jojao menjaga toleransi umat beragama melalui aktifitas bersama berupa tradisi rutin atau kegiatan yang melibatkan kedua Kampung. Interaksi bersama menimbulkan pemahaman tentang hidup bersama dalam bingkai toleransi beragama, dalam menyatukan perbedaan pada masyarakat. Penerapan aturan adat sebagai ketaatan yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat adat.
Perkawinan Adat Lampung Pepadun sebagai Upaya Pelestarian Identitas Budaya dan Nilai Kewarganegaraan di Era Modern Elsa Nurhalisa; Suyato Suyato
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.104391

Abstract

Perkawinan adat Lampung Pepadun di Desa Margakaya menghadapi tantangan serius di era modern, terutama akibat arus globalisasi, perubahan demografi, dan pergeseran nilai generasi muda yang cenderung memilih pernikahan sederhana, praktis, dan lintas budaya. Kondisi ini memunculkan konflik antar generasi, penyederhanaan prosesi adat, tingginya biaya pelaksanaan, serta menurunnya pemahaman terhadap makna simbolik dan nilai filosofis yang terkandung dalam setiap tahapan upacara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik perkawinan adat Lampung Pepadun, mengungkap nilai-nilai kewarganegaraan yang terkandung di dalamnya, serta mengidentifikasi tantangan dan strategi pelestariannya di era modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan tokoh adat (punyimbang) dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan adat Pepadun masih dilaksanakan berdasarkan asas ngejuk-ngakuk dan tradisi sebambangan sebagai penanda identitas budaya masyarakat. Tradisi ini mengandung nilai musyawarah untuk mufakat, penghormatan terhadap hukum adat, tanggung jawab sosial, dan kepemimpinan kolektif yang relevan dengan prinsip demokrasi, supremasi hukum, dan solidaritas sosial. Namun, keberlanjutan tradisi menghadapi hambatan berupa pengaruh globalisasi, konflik nilai antar generasi, serta rendahnya internalisasi nilai adat pada generasi muda. Oleh karena itu, pelestarian perkawinan adat Pepadun memerlukan strategi konkret melalui penguatan peran tokoh adat, dukungan kebijakan pemerintah daerah, integrasi nilai adat dalam pendidikan kewarganegaraan, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana dokumentasi dan edukasi budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa perkawinan adat Pepadun tidak hanya merupakan prosesi seremonial, tetapi juga wahana pelestarian identitas budaya dan pembelajaran nilai kewarganegaraan yang kontekstual bagi masyarakat modern.
Perubahan Sosial dan Nilai-nilai Kearifan Lokal Adat Perkawinan Kenegerian Sentajo Kuantan Singingi Dhina Yuliana; Zulfan Saam; Melia Nur Afni
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.105214

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi dampak pada berbagai kehidupan dalam ekonomi, kesehatan, sosial dan budaya. Akhir-akhir ini ada fenomena terjadi perubahan dalam adat perkawinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan sosial dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung pada adat perkawinan di Kenegerian Sentajo. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan depth interview dengan informan kunci. Analisis data dilakukan secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Terjadi perubahan sosial dalam adat perkawinan meliputi: (a) berkurangnya peran ninik mamak, (b) Simbol pertunangan sudah berubah dari cincin pusaka menjadi cincin emas. (c) perubahan tempat dan waktu akad nikah, (d) Anggun-anggun pihak pengantin laki-laki sudah semakin meningkat sesuai peningkatan ekonomi sedangkan anggun-anggun yang dibawa bako selain membawa penganan/jajanan tradisional juga membawa berbagai macam kado. 2) Nilai-nilai kearifan lokal dalam adat perkawinan yaitu: (a) kesucian hati, (b) melestarikan resiprokal (budaya saling membantu), (c) penguatan tradisi makanan tradisional, (d) penguatan kekerabatan dalam kegiatan adat (e) mencegah kawin se-suku.
Transformasi Nilai Budaya Minangkabau ”Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” Dalam Perkembangan Media Populer M Budiman; Ajat Sudrajat; Rhoma Dwi Aria Yulianti; Danu Eko Agustinova
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.106428

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi nilai budaya Minangkabau yang berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS–SBK) dalam konteks perubahan sosial dan dominasi media populer. Sebagai sistem nilai yang menyatukan adat dan ajaran Islam, ABS-SBK menghadapi tantangan modernitas, globalisasi, dan komersialisasi budaya yang berpotensi mengurangi kedalaman makna budaya Minangkabau. Namun demikian, media populer juga menyediakan ruang baru bagi revitalisasi nilai melalui proses representasi, edukasi budaya, dan penyebaran informasi yang lebih luas. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, penelitian ini menganalisis bagaimana nilai ABS-SBK diadaptasi, ditafsirkan ulang, dan direpresentasikan dalam platform digital seperti media sosial yang populer digunakan saat ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa media populer dapat berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya apabila digunakan secara kritis dan kontekstual, terutama melalui narasi yang memperkuat pemahaman terhadap adat, syarak, serta identitas kultural Minangkabau. Transformasi nilai ABS-SBK melalui media populer terbukti mendorong penguatan literasi budaya, memperluas pemaknaan adat, dan menjaga keberlanjutan identitas lokal di tengah dinamika budaya global.
Makna Simbolik dalam Ritus Tunu pada Budaya Masyarakat Fehalaran-Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur Adrianus Fani; Maria Augustine Graciafernandy
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.107442

Abstract

Manusia merupakan makhluk berbudaya yang secara konsisten menjalankan ritual tertentu yang mengandung nilai kearifan lokal. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan dan menggali makna simbolik dari ritus tunu yang dilakukan oleh masyarakat Fehalaran, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, melalui teknik observasi dan wawancara dengan para pemangku adat Fehalaran yang melakukan ritus tunu, yang memungkinkan peneliti untuk mengkaji tradisi ini dalam konteks kehidupan yang lebih luas. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori hermeneutika antropologi yang dicetuskan oleh Clifford Geertz. Unsur kebaruan dalam penelitian ini terletak pada penekanan akan dimensi makna simbolik dalam ritus tunu yang dilakukan oleh para pemangku adat di wilayah Fehalaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritus tunu yang dilakukan oleh masyarakat Fehalaran tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga merupakan sebuah tindakan yang memiliki aneka makna tentang bagaimana masyarakat adat Fehalaran membangun harmoni kehidupan di dunia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta melalui cara berpikir, bersikap dan bertingkah laku. Ritus tunu ini juga menggambarkan kapasitas masyarakat di wilayah Fehalaran untuk mewariskan nilai-nilai budaya dan spiritual dari satu generasi ke generasi berikut, di tengah kondisi sosial masyarakat yang terus berubah.
Tabu Tindakan dalam Masyarakat Daerah Sila, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat: Kajian Linguistik Historis Komparatif Octa Maria Tyas Miranti; Chattri Sigit Widyastuti
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.107818

Abstract

Penelitian ini mengkaji tabu perbuatan dalam masyarakat Sila, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, yang hingga kini masih diyakini membawa konsekuensi negatif bagi pelakunya. Permasalahan penelitian mencakup bentuk-bentuk tabu perbuatan yang hidup dalam praktik sosial masyarakat serta perannya dalam menjaga keharmonisan budaya lokal dan relasi kosmologis antara manusia, alam, dan aspek spiritual. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis-jenis tabu perbuatan dan menjelaskan pemaknaannya berdasarkan konteks sosial, budaya, dan kosmologi masyarakat Sila. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara terhadap dua informan asli masyarakat Sila. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengaitkan penjelasan informan dengan perspektif linguistik historis komparatif yang memandang tabu sebagai bagian dari sistem bahasa dan budaya yang berkembang serta diwariskan secara turun-temurun. Hasil penelitian menunjukkan adanya sebelas tabu perbuatan, meliputi larangan bagi perempuan hamil untuk beraktivitas pada waktu tertentu, larangan membeli atau menggunakan benda tajam pada malam hari, larangan meminta bahan kebutuhan tertentu, larangan menenun atau menjemur pakaian pada waktu yang dianggap tidak tepat, serta larangan yang berkaitan dengan hierarki keluarga dan ritual adat. Setiap tabu dipahami sebagai pedoman perilaku yang berfungsi menjaga keselamatan individu, keseimbangan relasi manusia dengan alam dan dimensi spiritual, serta keberlangsungan nilai-nilai leluhur. Penelitian ini menegaskan bahwa tabu perbuatan di masyarakat Sila tidak hanya memiliki fungsi spiritual, tetapi juga berperan sebagai mekanisme sosial dan kosmologis dalam menjaga keteraturan dan keharmonisan hidup masyarakat. Di tengah perkembangan masyarakat modern yang cenderung mengalami pergeseran persepsi terhadap alam dan spiritualitas, penelitian ini merekomendasikan pentingnya pendokumentasian dan pemahaman tabu perbuatan sebagai bagian dari warisan budaya yang hidup dan relevan dalam konteks kekinian.
Kajian Hermeneutik Penyingkapan Makna Tradisi Sedekah Laut di Pantai Sadeng Wahyu Mardaning Hardiyanti; Slamet Subiyantoro; Nugraheni Eko Wardani
Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jabi.v8i2.108463

Abstract

Tradisi Sedekah Laut di Pantai Sadeng merupakan praktik budaya simbolik yang membentuk identitas sosial dan spiritual masyarakat nelayan, meskipun makna filosofisnya masih sering dipahami secara terbatas. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan pelaksanaan tradisi Sedekah Laut di Pantai Sadeng berdasarkan pemahaman masyarakat (prafigurasi), mengidentifikasi simbol, unsur ritual, dan struktur makna dalam rangkaian tradisi tersebut (konfigurasi), serta menafsirkan makna mendalam Sedekah Laut melalui proses pemaknaan kembali (refigurasi). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur untuk menafsirkan makna simbolik tradisi Sedekah Laut sebagai teks budaya. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara interpretatif melalui tahapan reduksi, pengelompokan, dan penafsiran makna. Validitas data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik serta verifikasi kepada informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap prafigurasi, Sedekah Laut dipahami sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut dan permohonan keselamatan dalam aktivitas melaut. Simbol-simbol ritual pada tahap konfigurasi seperti sesaji, tumpeng, doa bersama, dan pelarungan membentuk struktur makna kolektif yang mencerminkan nilai syukur, solidaritas sosial, serta sinkretisme antara tradisi lokal dan ajaran Islam. Selanjutnya, pada tahap refigurasi, tradisi Sedekah Laut mengandung tiga dimensi makna utama, yaitu kepercayaan, keselamatan, dan relasi manusia dengan alam, yang memperkuat identitas budaya, kesadaran ekologis, serta kohesi sosial masyarakat pesisir Pantai Sadeng.

Page 1 of 2 | Total Record : 20