Jurnal Filsafat Indonesia
Jurnal Filsafat Indonesia is a scientific journal published by LPPM Ganesha Educational University, which publishes scientific articles on the development and research in philosophy. Journal of Philosophy is published three times a year, in April, June, and September. Editorial Team Journal of Philosophy accepts manuscripts in the field of philosophy which have never been published in other media. The Editorial Team has the right to edit the text to the extent that it does not change the substance of its contents.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 5 No. 1 (2022)"
:
10 Documents
clear
Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Mencegah Kemunduran Moralitas Pemuda (Telaah Pemikiran Sir Muhammad Iqbal)
khairul Walid;
Mohamad Salik
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.36375
Pemuda sebagai agen perubahan dan aktor masa depan memilik andil untuk menuntaskan konflik yang terjadi baik secara subversif maupun persuasif melalui kajian keagamaan. Kondisi sosial masyarakat sangat menuntut peran serta dan andil dari pemuda sehingga keberadaan pemuda menjadi penentu perubahan sosial yang lebih progresif menuju ke arah perubahan kehidupan yang lebih baik. Dengan perkembangan zaman yang sangat cepat banyak masalah yang dihadapi pemuda sebagai agen perubahan, banyak peran pemuda yang terhambat karena berkembangnya zaman dan teknologi, keadan ini memaksa pemuda berubah mulai dari sikap, gaya hidup sampai hubungan sosial. Penelitian ini merupakan kajian teori konseptual dan menelaah hasil pemikiran Muhammad Iqbal yang dikenal sebagai salah satu pembaharu pendidikan islam, dengan menggunakan metode kualitatif diskriptif terhadap hasil karya Muhammad Iqbal tentang rekonstruksi pendidikan islam. “Dari penelitian ini disimpulkan bahwa bahwa intelektualisme Islam pada waktu itu dapat dikatakan nyaris berhenti, karena Umat Islam telah berhenti mengambil inspirasi dari Al-Quran. Diagnosis yang ditawarkan Iqbal untuk menyembuhkan persoalan ini adalah dengan jalan menumbuhkan kembali semangat intelektualisme melalui tiga sumber, yaitu serapan indrawi, rasio, dan intuisi. Apabila Umat Islam mampu melakukan berpikir semacam ini, revolusi pengetahuan dalam dunia Islam akan terjadi secara mengagumkan dan persoalan- persoalan yang timbul dari dampak westernisasi dan dekansi moral remaja yang terjadi bisa atasi.
Analisis Aksiologis Kebebasan Ekspresi Majalah Charlie Hebdo dalam Penerbitan Kartun Nabi Muhammad
Imadah Thoyyibah
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.38824
AbstrakPenerbitan secara bebas kartun Nabi Muhammad oleh majalah satir Prancis, Charlie Hebdo, telah mengundang beberapa aksi penyerangan dan teror. Kebebasan berekspresi dan berpendapat menjadi alasan Charlie Hebdo secara berulang menerbitkan kartun Nabi Muhammad yang secara interpretatif dianggap menghina dan menodai agama Islam. Penelitian ini bertujuan mengkritisi alasan kebebasan ekspresi majalah Prancis Charlie Hebdo terkait penggambaran kartun Nabi Muhammad secara aksiologis.Penelitian bersifat deskriptif kualitatif rasionalistik dengan menggunakan metode observasi fenomenologis berdasarkan studi kepustakaan. Hasil analisis ditemukan bahwa akar kebebasan ekspresi tersebut berasal dari nilai humanisme sekular.Tindakan pennggambaran kartun Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo diakui bertujuan untuk mengkritik kaum fundamentalis agama. Meskipun memiliki pesan humanis dan tidak bertujuan untuk menghina atau menistakan agama Islam, namun secara aksiologis Charlie Hebdo telah mencampuradukkan antara prinsip nilai adikodrati dari agama supernatural dengan nilai-nilai kodrati dari humanisme sekular. Basis moral agama supernatural berasal dari prinsip nilai kesucian, keagungan, dan ketaatan. Sedangkan basis moral humanisme sekular berasal dari nilai liberalisme yang antroposentris dan ateistik. Perbedaan prinsip aksiologis keduanya menciptakan benturan ideologis yang berpotensi pada konflik horizontal yang tidak berkesudahan yaitu konflik antara radikalisme agama dan radikalisme politik global. Kata kunci: Kebebasan Ekspresi, Charlie Hebdo, Humanisme Sekular; Kartun Nabi AbstractThe free publication of cartoons of the Prophet Muhammad by the French satirical magazine Charlie Hebdo has invited several acts of attack and terror. Freedom of expression and opinion is the reason Charlie Hebdo repeatedly publishes cartoons of the Prophet Muhammad which are interpretively considered to be insulting and desecrating Islam. This study aims to criticize the reasons for the freedom of expression of the French magazine Charlie Hebdo in relation to the axiological depiction of the Prophet Muhammad's cartoon. This research is descriptive qualitative rationalistic using phenomenological observation method based on literature study. The results of the analysis found that the roots of freedom of expression came from the values of secular humanism. Charlie Hebdo magazine's cartoon depiction of the Prophet Muhammad is purportedly aimed at criticizing religious fundamentalists. Even though it has a humanist message and does not aim to insult or insult Islam, Charlie Hebdo axiologically has confused the supernatural values of supernatural religion with the natural values of secular humanism. . Meanwhile, the moral basis of secular humanism comes from the values of liberalism which are anthropocentric and atheistic. The difference in the axiological principles of the two creates ideological clashes that have the potential for endless horizontal conflicts, namely the conflict between religious radicalism and global political radicalism. Keywords : Freedom of Expresion, Charlie Hebdo, Secular Humanism, Prophet Cartoons.
Populisme Berwajah Politik Identitas Keagamaan di Indonesia
Hubertus Herianto;
Robertus Wijanarko
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.39581
Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan populisme berwajah politik identitas keagamaan di Indonesia. Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah pembacaan kritis atas fenomena politik identitas keagamaan di Indonesia dalam kaca mata populisme. Penggunaan metode ini mengantar pada suatu temuan penting mengenai adanya kesamaan antara populisme dengan politik identitas berwajah agama yang terjadi di Indonesia. Kesamaan ini membuat politik identitas keagamaan lolos kategori populisme. Artinya politik identitas keagamaan menjadi salah satu wajah populisme. Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab munculnya populisme di Indonesia, yakni tingginya angka korupsi, ada dua berakarnya keinginan membentuk negara berasas agama, dan menguatnya peran agama dalam penyelenggaraan negara, dalam keseluruhan corak hidup berbangsa dan bernegara. Upaya mengatasi populisme berwajah politik identitas keagamaan ini dapat dituangkan dengan melakukan beberapa langkah berikut, yaitu menerapkan suatu penyelenggaraan negara yang transparan dan responsif, memaksimalkan pendidikan kewarganegaraan, dan mengoptimalkan peranan media.
Analisis Perkembangan Teori-Teori Psikologi dengan Epistemologi Problem-Solving Menurut Karl Popper
Kurniawan Madyo Utomo
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.39725
Artikel ini memaparkan epistemologi Karl R. Popper mengenai teori problem-solving yang berusaha mensistematisasi cara pertumbuhan ilmu pengetahuan melalui koreksi atas kesalahan. Epistemologi problem-solving dari Karl Popper yang realistis dan rasional, sangat relevan dan bermanfaat untuk menelaah perkembangan teori-teori psikologi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji pergeseran filsafat ilmu dari positivisme logis ke epistemologi problem-solving menurut Karl Popper, menelaah perkembangan teori-teori psikologi, dan merefleksikan secara kritis sumbangan epistemologi problem-solving tersebut bagi ilmu psikologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan studi pustaka (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kritik atas teori itu adalah suatu keniscayaan dan setiap teori harus bersikap terbuka terhadap kritik. Kritik juga merupakan perwujudan prinsip penyangkalan terhadap suatu teori. Suatu kritik akan menghasilkan eror elimination, yaitu eliminasi terhadap kemungkinan kesalahan yang ada dalam teori. Terjadinya eror elimination melahirkan teori baru. Oleh karena itu, ilmu psikologi akan terus mengalami perkembangan kalau ada kritik terhadap ilmu tersebut.
Studi Komparatif Pendekatan Matematika dan Filsafat dalam Menganalisis Permasalahan Konsep “Segala Sesuatu”
Rilliandi Arindra Putawa
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.39727
Kata semua atau semesta sebagai konsep paling universal menjadi kajian dari berbagai keilmuan, tidak terkecuali keilmuan matematika dan filsafat. Permasalahan konsep segala sesuatu tidak hanya sekedar bagaimana memenuhi kelengkapan, melainkan apa yang akan terjadi apabila konsep tersebut berada pada kondisi lengkap. Pada bidang matematika, suatu himpunan yang dikatakan lengkap bertentangan dengan beberapa paradox. Adapun pada bidang filsafat masih jarang adanya penelitian berkaitan dengan Being sebagai konsep, sehingga perlu adanya penelitian lanjut untuk mengenalisis konsep ini menggunakan sudut pandang yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode komparatif untuk melakukan analisis dua arah, sehingga kedua keilmuan dapat berperan sebagai objek material, maupun objek formal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problem rekursivitas pada konsep segala sesuatu menjadi inti pokok dari himpunan universal. Pemisahan antara Pure Being dan Determinate Being merupakan salah satu bentuk penyelesaian solusi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Di sisi lain, analisis matematis atas konsep Being menemukan adanya celah dari pembagian Being menjadi tiga bagian, sehingga memungkinkan adanya himpunan yang berada di luar konsep Being. Adapun permasalahan kemudian dapat diselesaikan dengan metode simbolisasi yang memungkinkan adanya kelompok Being baru yang hanya akan berada ketika dilakukan simbolisasi. Penelitian ini juga memiliki relevansi dengan beberapa produk pemikiran dan kebudayaan modern yang telah ada, terutama berkaitan dengan konsep hyperreality.
Tradisi Med-Medan di Banjar Kaja Desa Adat Sesetan Kota Denpasar Bali dalam Perspektif Filsafat Nilai Max Scheler
Gede Agus Siswadi;
Septiana Dwiputri Maharani
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.40067
The culture or tradition in Bali is full of philosophical values, especially the Med-Medan tradition in Banjar Kaja, Sesetan Traditional Village, Denpasar City. However, due to the lack of literacy, people's knowledge and understanding of the tradition is only limited to euphoria. This article seeks to explore and analyze in depth the values contained in the Med-Medan tradition by using the perspective of Max Scheler's philosophy of values and using descriptive analytical methods. Based on the results of this study, it can be concluded that the philosophical values contained in the Med-Medan tradition are the value of enjoyment, vital or life values, psychological values and religious values. Based on the perspective of Max Scheler's hierarchy of values, religious values are priority values that residents want to achieve as a form of respect for their ancestors and devotion to God Almighty.
Makna Filosofis Ketiadaan dan Relevansinya dengan Tipe Data Undefined pada Javascript
Rilliandi Arindra Putawa
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.41775
Artikel ini merupakan artikel bidang kefilsafatan yang berusaha menelusuri makna dari salah satu konsep penting dalam bidang metafisika, yakni konsep Ketiadaan. Konsep ini sendiri pada dasarnya tidak mudah untuk didefinisikan bahkan cenderung mustahil untuk didefinisikan, seperti halnya konsep Ada, sehingga perlu ada penelusuran lebih lanjur dari berbagai pemikiran filsuf yang turut membahas konsep ini mulai dari Parmenides, hingga filsuf eksistensialisme, seperti Sartre. Konsep ini juga turut berkembang pada bidang keilmuan lain, hingga turut menjadi bagian dari perkembangan teknologi, melalui bahasa pemrograman pada ilmu komputer. Pada bahasa pemrograman JavaScript terdapat dua tipe data set yang identik dengan konsep ketiadaan, yakni tipe data Null dan tipe data Undefined. Penelitian ini merupakan penelitian bidang filsafat yang akan mencoba menelusuri pemikiran-pemikiran filosofis mengenai konsep Ketiadaan menggunakan kajian pustaka dari beberapa karya-karya bidang kefilsafatan. Adapun setelah itu akan dianalisis dan dicari relevansinya dengan tipe data Null dan tipe data Undefined. Ada dua hasil yang diperoleh dari riset kualitatif pada penelitian ini. Pertama, pada filsafat barat, konsep Ketiadaan memiliki perubahan makna yang awalnya identik dengan kondisi murni tiada, hingga berubah menjadi identik dengan manusia, selaku pengada. Di sisi lain pada filsafat timur, ketiadaan sedari awal telah identik dengan suatu kondisi positif yang dicapai manusia melalui spontanitas. Kedua, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kedua tipe data tersebut di satu sisi dapat menggambarkan Ketiadaan layaknya himpunan kosong, namun di sisi lain adanya kontrol dari manusia dan fakta bahwa kedua konsep tersebut telah dideklarasikan dan diketahui oleh sript sebelumnya menjadikan keduanya juga tidak identik dengan Ketiadaan.
Dilema Penggunaan Plastik: Kebutuhan dan Keberlanjutan Lingkungan (Tinjauan Aspek Etika dalam Perspektif Aksiologi)
Fitriah Khoirunnisa;
Asep Kadarohman
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.41855
Topik tentang plastik tampak sederhana karena sudah sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari namun seringkali diabaikan. Plastik telah membawa banyak manfaat bagi manusia, namun tidak sedikit juga memberikan dampak negatif bagi keberlangsungan lingkungan. Baru-baru ini plastik telah mendapatkan perhatian karena alasan negatif, seperti keberadaannya yang berlangsung lama baik di lingkungan maupun tubuh manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu konsep berkelanjutan yang mampu menjadi dasar untuk menanggulangi dampak negatif yang terjadi akibat isu penggunaan plastik tersebut. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menganalisis sumber atau data dari buku teks, jurnal ilmiah, dokumen, media massa, dan bahan ajar yang berhubungan dengan Filsafat Ilmu. Metode analisis yang digunakan ialah interpretasi dan analisis wacana kritis. Artikel ini mengkaji mendeskripsikan dilema penggunaan plastik ditinjau dari aspek etika dalam perspektif aksiologi. serta peran sustainable development dalam menanggulangi dampak penggunaan plastik bagi keberlangsungan masa depan.
Studi Aksiologi Etika Konselor dalam Memperbaiki Pemberian Layanan Konseling Individu di Sekolah
Ach. Sudrajad Nurismawan;
Findivia Egga Fahruni;
Najlatun Naqiyah
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.42036
Hingga saat ini, masih banyak guru BK atau konselor yang cenderung abai terhadap kode etik profesi konselor khususnya dalam pelaksanaan layanan konseling individu, di mana hal ini berdampak pada meningkatnya stigma negatif dan anggapan guru BK sebagai polisi sekolah. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kode etik bimbingan dan konseling dan etika konselor dalam memperbaiki pelaksanaan layanan konseling individu di sekolah. Dengan menggunakan metode kajian literatur pada sumber-sumber mutakhir dari jurnal ilmiah dan buku kode etik terbaru yang diterbitkan oleh ABKIN. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu bahwasanya etika konselor dalam pelaksanaan layanan konseling individu siswa di sekolah berupa tidak menggunakan pendekatan kekerasan (fisik/psikis) dan hukuman sebagai bentuk bantuan serta menjaga data konseli (gambar/video) selama konseling dan meminta persetujuan konseli jika data tersebut akan digunakan di luar konteks konseling dengan tetap menyamarkan video/gambar konseli. Kesimpulan dari penelitian ini ialah penerapan etika konselor dalam layanan konseling individu wajib dilakukan, sebab jika konselor abai akan menyebabkan siswa ragu dan takut untuk meminta bantuan pada konselor serta yang paling parah adalah anggapan guru BK sebagai polisi sekolah semakin sulit untuk direduksi. Penelitian ini bisa digunakan untuk mendeskripsikan dan memberi arahan tentang nilai profesionalisme seorang konselor terutama pada etika dalam melakukan layanan konseling individu pada siswa.
Kontribusi Filsafat Moral dalam Meningkatkan Karakter Kinerja pada Masyarakat Produktif
Indra Gunawan;
Mustopa Mustopa;
Fuad Nawawi;
Hanung Sito Rohmawati
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.23887/jfi.v5i1.42290
Dengan befikir filsafat, kita dapat mengatasi kerumitan hidup. Hal ini dapat terjadi karena dengan memahami apa itu filsafat, maka kita dapat menggunakannya atau menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tidak mengarah kepada jalur yang tidak pernah diharapkan sebelumnya. Beragam permasalahan bisa selesai dengan sendirinya, jika setiap orang Indonesia mau berfilsafat, yakni menjadikan filsafat sebagai jalan hidup, terlepas dari profesi sehari-hari mereka. Pengetahuan itu digunakan untuk menyempurnakan kehidupannya, termasuk dalam hal ini karakter kinerjanya. Sebab konsekuensi dari pandangan filsafat itu sangat penting dan menentukan sikap orang terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, dunia, dan Tuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana filsafat moral dapat diaplikasikan dalam membentuk karakter kinerja di masyarakat usia produktif. Hasil dari penelitian adalah gejala-gejala kelemahkarsaan seorang individu dapat diminimalisir bahkan dihilangkan apabila seorang individu dapat memposisikan diri sebagai filsuf moral yang mampu menemukan jawaban-jawaban atas nilai keyakinan bagi karakter diri maupun kehidupannya. Pola semacam ini akan sangat berguna bagi kualitas kehidupan seorang individu di masa yang sedang dijalani maupun di masa depan, hal tersebut dikarenakan konstruksi berpikir filsafat dapat meredam gejolak-gejolak negatif di tengah-tengah kehidupan yang selalu bergerak dinamis dan fluktuatif.