Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENERAPAN KONSELING INDIVIDU STRATEGI SELF-MANAGEMENT UNTUK MENGURANGI PERILAKU KECANDUAN MENONTON DRAMA KOREA PADA PESERTA DIDIK KELAS X MIA 7 SMA NEGERI 2 LAMONGAN SUDRAJAD NURISMAWAN, ACH.; WININGSIH, EVI
Jurnal BK UNESA Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Jurnal BK UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk menonton drama korea melalui gawai atau laptop, kemudian menarik diri dari lingkungan, serta tidak mampu mengontrol aktivitasnya adalah beberapa indikator yang mana seseorang dikategorikan mengalami perilaku kecanduan menonton drama korea. Perilaku-perilaku kecanduan menonton drama korea tersebut, selain dapat mengganggu aktivitas individu, juga dapat menjadikan individu kurang bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Seperti halnya yang dialami oleh salah satu peserta didik kelas X MIA 7 SMA Negeri 2 Lamongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konseling individu strategi self-management dalam mengurangi perilaku menonton drama korea pada peserta didik kelas X MIA 7 SMA Negeri 2 Lamongan. Desain penelitian yang digunakan adalah Single Subject Design model A-B dengan subyek berjumlah satu siswa/orang. Untuk metode pengumpulan data, penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan pedoman observasi sebagai instrument pengumpulan data. Setelah itu, untuk menganalisis hasil data yang diperoleh, penelitian ini menggunakan dua analisis yaitu analisis dalam kondisi serta analisis antar kondisi. Merujuk pada hasil analisis data penelitian di lapangan, terdapat perubahan skor tingkah laku dan skor durasi perilaku menonton drama korea pada fase baseline dengan fase intervensi. Yaitu pada perubahan arah dan efeknya subyek K positif. Level perubahannya menunjukkan membaik (+) pada subyek K. Sedangkan persentase overlap tingkah laku kecanduan menonton drama korea pada subyek K sebesar 8.33%. Persentase overlap durasi menonton drama korea pada subyek K sebesar 0%. Persentase overlap frekuensi menonton drama korea pada subyek K 83%. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan skor sebelum dan sesudah diberi perlakuan/treatment konseling individu strategi self-management pada peserta didik kelas X MIA 7 SMA Negeri 2 Lamongan. Kata Kunci: Konseling Individu, Strategi Self Management, Kecanduan Menonton Drama Korea.
PENERAPAN KONSELING INDIVIDU STRATEGI SELF-MANAGEMENT UNTUK MENGURANGI PERILAKU KECANDUAN MENONTON DRAMA KOREA PADA PESERTA DIDIK KELAS X MIA 7 SMA NEGERI 2 LAMONGAN SUDRAJAD NURISMAWAN, ACH.; WININGSIH, EVI
Jurnal BK UNESA Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Jurnal BK UNESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aktivitas menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk menonton drama korea melalui gawai atau laptop, kemudian menarik diri dari lingkungan, serta tidak mampu mengontrol aktivitasnya adalah beberapa indikator yang mana seseorang dikategorikan mengalami perilaku kecanduan menonton drama korea. Perilaku-perilaku kecanduan menonton drama korea tersebut, selain dapat mengganggu aktivitas individu, juga dapat menjadikan individu kurang bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Seperti halnya yang dialami oleh salah satu peserta didik kelas X MIA 7 SMA Negeri 2 Lamongan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan konseling individu strategi self-management dalam mengurangi perilaku menonton drama korea pada peserta didik kelas X MIA 7 SMA Negeri 2 Lamongan. Desain penelitian yang digunakan adalah Single Subject Design model A-B dengan subyek berjumlah satu siswa/orang. Untuk metode pengumpulan data, penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan pedoman observasi sebagai instrument pengumpulan data. Setelah itu, untuk menganalisis hasil data yang diperoleh, penelitian ini menggunakan dua analisis yaitu analisis dalam kondisi serta analisis antar kondisi. Merujuk pada hasil analisis data penelitian di lapangan, terdapat perubahan skor tingkah laku dan skor durasi perilaku menonton drama korea pada fase baseline dengan fase intervensi. Yaitu pada perubahan arah dan efeknya subyek K positif. Level perubahannya menunjukkan membaik (+) pada subyek K. Sedangkan persentase overlap tingkah laku kecanduan menonton drama korea pada subyek K sebesar 8.33%. Persentase overlap durasi menonton drama korea pada subyek K sebesar 0%. Persentase overlap frekuensi menonton drama korea pada subyek K 83%. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan skor sebelum dan sesudah diberi perlakuan/treatment konseling individu strategi self-management pada peserta didik kelas X MIA 7 SMA Negeri 2 Lamongan. Kata Kunci: Konseling Individu, Strategi Self Management, Kecanduan Menonton Drama Korea.
Studi Aksiologi Etika Konselor dalam Memperbaiki Pemberian Layanan Konseling Individu di Sekolah Ach. Sudrajad Nurismawan; Findivia Egga Fahruni; Najlatun Naqiyah
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v5i1.42036

Abstract

Hingga saat ini, masih banyak guru BK atau konselor yang cenderung abai terhadap kode etik profesi konselor khususnya dalam pelaksanaan layanan konseling individu, di mana hal ini berdampak pada meningkatnya stigma negatif dan anggapan guru BK sebagai polisi sekolah. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan kode etik bimbingan dan konseling dan etika konselor dalam memperbaiki pelaksanaan layanan konseling individu di sekolah. Dengan menggunakan metode kajian literatur pada sumber-sumber mutakhir dari jurnal ilmiah dan buku kode etik terbaru yang diterbitkan oleh ABKIN. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu bahwasanya etika konselor dalam pelaksanaan layanan konseling individu siswa di sekolah berupa tidak menggunakan pendekatan kekerasan (fisik/psikis) dan hukuman sebagai bentuk bantuan serta menjaga data konseli (gambar/video) selama konseling dan meminta persetujuan konseli jika data tersebut akan digunakan di luar konteks konseling dengan tetap menyamarkan video/gambar konseli. Kesimpulan dari penelitian ini ialah penerapan etika konselor dalam layanan konseling individu wajib dilakukan, sebab jika konselor abai akan menyebabkan siswa ragu dan takut untuk meminta bantuan pada konselor serta yang paling parah adalah anggapan guru BK sebagai polisi sekolah semakin sulit untuk direduksi. Penelitian ini bisa digunakan untuk mendeskripsikan dan memberi arahan tentang nilai profesionalisme seorang konselor terutama pada etika dalam melakukan layanan konseling individu pada siswa. 
Model Bimbingan untuk Meningkatkan Aspek Sosial dan Motorik Anak Tunaganda di Sekolah Dasar Ach. Sudrajad Nurismawan; Findivia Egga Fahruni; Endang Pudjiastuti Sartinah
Jurnal Basicedu Vol 6, No 4 (2022): August Pages 5501-7663
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i4.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model bimbingan untuk meningkatkan aspek sosial dan motorik anak tunaganda di SD umum. Dalam penelitian kualitatif ini metode fenomenologi dipilih sebagai kerangka penelitian dengan memanfaatkan teknik wawancara mendalam, observasi, pengolahan dokumen untuk pengumpulan data. Sedangkan untuk proses analisis data, data dianalisa dengan cara trianggulasi. Adapun subjek penelitian meliputi guru kelas sekaligus konselor, guru pendamping khusus, dan 1 anak tunaganda kelas IV yang bersekolah di SD umum. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 1) model bimbingan bagi anak tunaganda di SD umum berupa play therapy dengan menggunakan berbagai alat permainan. Model bimbingan terbukti dapat meningkatkan aspek motorik dan sosial bagi anak tunaganda karena adanya peningkatan secara bertahap yang terjadi dari waktu ke waktu dalam proses bimbingan, 2) Sedangkan untuk upaya pengembangan model bimbingan dapat dilakukan beberapa hal seperti mengadakan workshop, sosialisasi terkait anak berkebtuhan khusus bagi guru pengajar, sekolah perlu menyediakan ragam metode pengajaran dan media permainan sederhana, serta guru pendamping khusus perlu menyusun program pengajaran secara individual sekaligus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk pelatihan dan memantau perkembangan kondisi anak tunaganda secara berkala.
MUHAMMADIYAH AND PROGRESSIVE EFFORTS FOR THE RIGHTS OF CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS Ach. Sudrajad Nurismawan; Findivia Egga Fahruni; Endang Pudjiastuti Sartinah; Budi Purwoko
Paedagoria : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Vol 13, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/paedagoria.v13i2.8555

Abstract

Abstrak: Jumlah kajian ilmiah terkait kontribusi nyata Muhammadiyah di bidang pendidikan sangatlah berlimpah. Akan tetapi, dalam konteks kontribusi Muhammadiyah di bidang pendidikan khusus/inklusif masih sangatlah minim, padahal dalam beberapa tahun belakangan lembaga pendidikan Muhammadiyah sangatlah progresif untuk memfasilitasi hal ini. Karena itu tulisan ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan upaya-upaya progresif Muhammadiyah di bidang pendidikan inklusif; 2) Menganalisis peluang dan tantangan pendidikan inklusi di sekolah Muhammadiyah, dan 3) Memberikan beberapa rekomendasi yang konstruktif untuk meningkatkan kualitas pendidikan inklusi di sekolah Muhammadiyah. Makalah ini menggunakan metode studi kepustakaan pada sumber-sumber yang relevan seperti jurnal ilmiah, buku, dan berita kemudian dianalisis secara sistematis sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah banyak berkontribusi dalam pemenuhan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus, terutama melalui program pendidikan inklusi di sekolah Muhammadiyah. Temuan penelitian ini dapat dijadikan acuan dan pedoman bagi para pemangku kepentingan dalam mengevaluasi dan mengembangkan kurikulum sumber daya manusia dan pendidikan inklusif di sekolah Muhammadiyah ke arah yang lebih baik.Abstract: The number of scientific studies related to the actual contribution of Muhammadiyah to education is abundant. However, the gift of Muhammadiyah in special/inclusive education is minimal, although, in recent years, Muhammadiyah educational institutions have advanced to facilitate this. Therefore, this paper aims to 1) describe Muhammadiyah's progressive efforts in the field of inclusive education, 2) Analyze the opportunities and challenges of inclusive education in Muhammadiyah schools, and 3) Provide some constructive recommendations to improve the quality of inclusive education in Muhammadiyah schools. This paper uses a literature study method on relevant sources such as scientific journals, books, and news, then analyzed systematically according to scientific principles. The study results show that Muhammadiyah has contributed much to fulfilling the educational rights of children with special needs, primarily through inclusive education programs in Muhammadiyah schools. The findings of this study can be used as a reference and guideline for stakeholders in evaluating and developing a human resource curriculum and inclusive education in Muhammadiyah schools in a better direction.
Model Bimbingan untuk Meningkatkan Aspek Sosial dan Motorik Anak Tunaganda di Sekolah Dasar Ach. Sudrajad Nurismawan; Findivia Egga Fahruni; Endang Pudjiastuti Sartinah
Jurnal Basicedu Vol 6, No 4 (2022): August Pages 5501-7663
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/basicedu.v6i4.3480

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model bimbingan untuk meningkatkan aspek sosial dan motorik anak tunaganda di SD umum. Dalam penelitian kualitatif ini metode fenomenologi dipilih sebagai kerangka penelitian dengan memanfaatkan teknik wawancara mendalam, observasi, pengolahan dokumen untuk pengumpulan data. Sedangkan untuk proses analisis data, data dianalisa dengan cara trianggulasi. Adapun subjek penelitian meliputi guru kelas sekaligus konselor, guru pendamping khusus, dan 1 anak tunaganda kelas IV yang bersekolah di SD umum. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 1) model bimbingan bagi anak tunaganda di SD umum berupa play therapy dengan menggunakan berbagai alat permainan. Model bimbingan terbukti dapat meningkatkan aspek motorik dan sosial bagi anak tunaganda karena adanya peningkatan secara bertahap yang terjadi dari waktu ke waktu dalam proses bimbingan, 2) Sedangkan untuk upaya pengembangan model bimbingan dapat dilakukan beberapa hal seperti mengadakan workshop, sosialisasi terkait anak berkebtuhan khusus bagi guru pengajar, sekolah perlu menyediakan ragam metode pengajaran dan media permainan sederhana, serta guru pendamping khusus perlu menyusun program pengajaran secara individual sekaligus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk pelatihan dan memantau perkembangan kondisi anak tunaganda secara berkala.
How Do School Counselors Advocate for Gifted and Intelligent Children in Junior High School? Findivia Egga Fahruni; Ach. Sudrajad Nurismawan; Nabila Salma Salsabila
Bisma The Journal of Counseling Vol. 6 No. 3 (2022): Bisma The Journal of Counseling
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v6i3.50671

Abstract

This case study research attempts to 1) investigate in detail the provision of advocacy services carried out by counseling guidance teachers to gifted and intelligent students in junior high school, 2) know the collaboration between counseling guidance teachers with homeroom teachers and parents in dealing with obstacles in gifted and intelligent students. Referring to the findings in schools, there are two forms of advocacy services provided by counselors: holding academic conferences and collaborating with homeroom teachers for gifted and intelligent children. Meanwhile, to handle the problems of gifted, intelligent children in terms of learning, social, and career, the counselor collaborates with subject teachers to provide enrichment materials and participate in the Olympics. Then, with parents, arrange social activities for gifted, intelligent children. At the same time, at home, and periodically provide group guidance related to career planning. The results of this study can be used as evaluation material for schools and become an inspiration, especially for policymakers in counseling guidance to facilitate the rights of gifted and intelligent children.
SUPERVISI BIMBINGAN DAN KONSELING DI INDONESIA: PROBLEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSI Ach. Sudrajad Nurismawan; Budi Purwoko; Hadi Warsito Wiryosutomo
Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia Vol 8, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jmbkan.v8i3.7242

Abstract

Tujuan dari penyusunan artikel ini adalah menjabarkan problematika dan faktor penyebab ketidakefektifan supervisi konseling, serta memberikan sejumlah alternatif solusi bagi problematika tersebut. Artikel ini menggunakan metode studi literatur pada berbagai artikel jurnal dan buku terbaru yang dinilai paling relevan dalam menjawab tujuan tersebut. Hasil dari artikel ini memperlihatkan bahwa: 1) Pelaksanaan supervisi konseling lebih bersifat administratif dan belum mengarah pada ranah klinis, 2) banyak sekolah yang belum menjadwalkan secara sistematis terkait proses evaluasi dan supervisi pada layanan yang telah dilaksanakan, 3) banyak supervisor layanan BK yang tidak berlatar belakang BK, 4) keenganan pihak kepala sekolah atau pimpinan pendidikan untuk belajar dan memahami layanan BK di sekolah, 5) minimnya instrument supervisi konseling yang akurat sesuai dengan konteks di lapangan. Sedangkan untuk alternatif solusi meliputi: 1) menyelenggarakan pelatihan supervisi konseling dari praktisi dan akademisi BK khususnya bagi pengawas/supervisor dan kepala sekolah, 2) perlunya pengembangan model dan instrumen supervisi konseling yang kredibel, 3) forum Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) harus memberikan workshop berkaitan dengan paradigma supervisi konseling pada guru BK, 4) secara bertahap para pengawas/supervisor dan konselor perlu mengubah pola supervisi dari sebatas administrasi menjadi supervisi klinis, 5) melakukan pelatihan dan supervisi kelompok sebagai alternatif pelaksanaan supervisi terbimbing.
Meningkatkan Pengetahuan Siswa SMK tentang Bahaya Phubbing (Phone Snubbing) melalui Penyuluhan Budaya Tepo Seliro Surya Adhi Nugraha; Ach. Sudrajad Nurismawan; Najlatun Naqiyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 9 (2022): Volume 5 No 9 September 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i9.6848

Abstract

ABSTRAK Maraknya perilaku bermain gawai secara berlebihan dan mengacuhkan orang di sekitarnya atau biasa disebut Phubbing di SMK YPM 7 Tarik sangatlah mengkhawatirkan. Sehingga perlu mendapatkan penanganan agar tidak semakin parah. Tujuan kegiatan ini adalah mendorong siswa agar dapat memahami pentingnya berkomunikasi secara langsung dengan orang lain dan menghindari perilaku Phubbing melalui budaya tepo seliro. Untuk metode, kegiatan menggunakan penyuluhan dengan media PowerPoint dan menampilkan video bertema phubbing secara langsung di kelas. Setelah dilakukan penyuluhan dan dibagikan angket sederhana pada siswa diketahui bahwa terdapat peningkatan pengetahuan siswa terkait bahaya phubbing serta cara menghargai orang di sekitarnya ketika bertatap muka secara langsung. Bisa disimpulakan bahwa kegiatan penyuluhan budaya tepo seliro ini telah sesuai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Kata kunci: Budaya Tepo Saliro, Phone Snubbing, Siswa SMK  ABSTRACT The rampant behavior of playing with gadgets excessively and ignoring the people around them, commonly called Phubbing at SMK YPM 7 Tarik, is worrying. Thus it needs to get treatment, so it doesn't get worse. This activity aims to encourage students to understand the importance of communicating directly with other people and avoiding Phubbing through the 'tepo seliro' culture, for the method of counseling activities using PowerPoint media and showing phubbing-themed videos directly in class. After conducting counseling and distributing simple questionnaires to students, it was found that there was an increase in students’ knowledge regarding the dangers of phubbing and how to respect the people around them when meeting face to face. We can conclude that this Tepo Seliro cultural extension activity has followed the predetermined objectives. Keywords: Budaya Tepo Saliro, Phone Snubbing, Vocational Students
EDUKASI PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI BERBASIS BUDAYA DI KALANGAN REMAJA Ach. Sudrajad Nurismawan; Findivia Egga Fahruni; Najlatun Naqiyah
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i1.12375

Abstract

Abstrak: Budaya menjadi salah satu faktor krusial pendorong terjadinya pernikahan dini di kalangan remaja, karena itu pemberian edukasi pencegahan pernikahan dini dengan menyisipkan muatan budaya lokal menjadi agenda penting yang harus dilaksanakan pada remaja, khususnya di kabupaten Gresik yang belakangan angka perceraian dan pernikahan dininya meningkat. Tujuan utama dari kegiatan edukasi ini ialah meningkatkan pemahaman para remaja terkait bahaya dan dampak negatif dari pernikahan dini. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan secara luring selama sehari melalui diskusi kelompok terfokus dengan melibatkan konselor dan 29 siswa di salah satu SMA swasta Gresik. Sedangkan untuk media penyampaian edukasi menggunakan power-point dan video pendek bertema dampak negatif pernikahan dini bagi remaja. Dari hasil pre-test dan post-test, diketahui bahwa kegiatan edukasi pencegahan pernikahan dini berbasis budaya di kalangan remaja dapat meningkatkan pemahaman siswa sebesar 2,79 poin terhadap bahaya dan dampak pernikahan dini dalam perencanaan karier siswa di masa mendatang. Abstract: Culture is one of the crucial factors driving the occurrence of early marriages among adolescents, therefore providing early marriage prevention education by inserting local cultural content is an important agenda that must be carried out for adolescents, especially in the Gresik district, where recently the number of divorces and early marriages has increased. The main objective of this educational activity is to increase the youth's understanding of the dangers and negative impacts of early marriage. The activities were carried out offline for a day through focus group discussions involving counselors and 29 students at one of Gresik's private high schools. Meanwhile, the media for delivering education uses power-points and short videos on the negative impact of early marriage on adolescents. From the pre-test and post-test results, it is known that culture-based early marriage prevention education activities among adolescents can increase students' understanding by 2.79 points of the dangers and impacts of early marriage in student career planning in the future.