cover
Contact Name
I Komang Astana Widi
Contact Email
jurnal_flywheel@scholar.itn.ac.id
Phone
+6282233465678
Journal Mail Official
jurnal_flywheel@scholar.itn.ac.id
Editorial Address
Jln. Raya Karanglo Km.2 Malang 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JURNAL FLYWHEEL
ISSN : 19795858     EISSN : 27457435     DOI : https://doi.org/10.36040/flywheel
Jurnal Flywheel merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Teknik Mesin S1 Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Nasional Malang sebagai sarana diseminasi dan publikasi artikel hasil penelitian di bidang teknik mesin yang bukan hanya mencakup mesin semata namun terdapat bidang-bidang lain yang memiliki keterkaitan dengan mesin misalnya bidang otomotif, desain dan simulasi serta perhitungan biaya mesin. Artikel yang diajukan untuk diterbitkan pada Jurnal Flywheel merupakan naskah asli dan belum pernah dipublikasikan secara tertulis pada majalah atau jurnal ilmiah dimanapun.
Articles 185 Documents
PENGGUNAAN SERAT JUTE (CHORCORUS CAPSULARIS) SEBAGAI BAHAN PENGUAT KOMPOSIT MATRIK POLYESTER Djiwo, Soeparno; Hiunsiustio, Fredy
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.497

Abstract

Komposit matrik polyester dengan penguat serat jute adalah salah satu jenis komposit polimer. Resin Polyester merupakan resin termoset yang banyak di gunakan pada industri manufaktur. Hal ini dikarenakan resin polyester mempunyai sifat yang menguntungkan, misalnya tahan terhadap bahan kimia, hanya terjadi sedikit pengerutan pada saat di cetak, isolator listrik cukup baik, dan tahan korosi. Sedangkan serat jute selama ini di pergunakan sebagai bahan dasar pembuatan karung dan alas permadani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik dan ketahanan impak komposit. Tahapan dalam kegiatan penelitian di awali dengan pembuatan komposit sistem hand lay-up, dimana polyester sebagai pengikat (70%), sedangkan serat jute sebagai penguat (30%) yang disusun secara acak dan kontinyu, kemudian di uji kekuatan tarik dan ketahanan impak-nya. Pembuatan spesimen uji tarik menggunakan standard ASTM D 3039, untuk uji ketahanan impak ASTM D 5942. Pada penelitian di lakukan juga pengamatan bentuk patahan hasil uji tarik dan ketahanan impak dengan menggunakan mikroskop optik. Jumlah spesimen setiap pengujian adalah 12 spesimen untuk susunan serat acak dan kontinyu. Dari hasil pengujian di ketahui hasil kekuatan tarik komposit yang menggunakan susunan serat acak 2,804 (kgf/mm2), sedangkan susunan serat kontinyu 3,554 (kgf/mm2). Untuk hasil pengujian ketahanan impak, komposit yang menggunakan susunan serat acak 0,1643 (Joule/mm2), dan untuk susunan serat kontinyu 0,1214(Joule/mm2).
ANALISA PENGARUH CLEARANCE PADA PUNCH, BLANK HOLDER DAN DIES TERHADAP KERUSAKAN PRODUK PADA MESIN DRAWING Edy Susanto, Eko
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.504

Abstract

Proses drawing untuk proses pembentukan dengan penekanan plat sebagai benda kerja dan pembentukan terjadi karena perenggangan mengikuti betuk dies dan punch. Tujuan yang ingin didapat dari analisa ini yaitu mengetahui kegagalan hasil mesin deep drawing untuk plat dengan ketebalan 0,3mm; 0,4mm; 0,5mm; dan 0,6mm untuk bahan aluminum, galvanisdan kuningan. Sehingga dapat diketahui hasil mesin deep drawing yang presisi dengan clearance antara dies dan punch tetap dan perubahan dies dan punch karena ketebalan plat yang berbeda. Secara umum, analisa kepresisian hasil mesin deep drawing menunjukkan bagian yang paling besar meregangnya adalah pada bagian dinding. Pada bagian dinding; berdasarkan hasil pengujian memberikan keterangan bahwa pada pelat tipis terjadi cacat wrinkling. Sedangkan pada plat yang tebal tidak terjadi. Hal ini terjadi karena pada plat yang tipis terdapat celah (clearance) antara punch, blank holder, dan dies sehingga terjadi regangan positif (tarik) dan regangan negatif (tekan) yang mengakibatkan cacat kerut pada dinding. Pada bagian flans masih terdapat cacat wrinkling. Hal ini terjadi karena gaya tekan dari blank holder kurang kuat, sehingga blank holder tidak mampu menjepit blank dengan baik.
PENGARUH PENAMBAHAN KATALIS KALIUM HIDROKSIDA DAN WAKTU PADA PROSES TRANSESTERIFIKASI BIODIESEL MINYAK BIJI KAPUK Setyawati, Harimbi; Andjar Sari, Sanny; Nur Handayani, Hetty
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.508

Abstract

Penggunaan minyak biji kapuk sebagai sumber minyak nabati yang akan diolah menjadi fatty acid methyl ester atau biodiesel diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari biji kapuk. Pada penelitian ini digunakan minyak hasil esterifikasi dengan kadar FFA sebesar 0,8768% dan rasio methanoldengan minyak pada proses transesterifikasi adalah 6 : 1, variabel yang digunakan adalah konsentrasi katalis KOH yaitu sebesar 0,5% - 1,5% dan waktu reaksi yaitu 30 - 150 menit. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa flash point tertinggi dicapai pada konsentrasi KOH 1% dengan waktu 150 menit, sebesar 135,5°C, viskositas tertinggi 5,4 CP dicapai pada konsentrasi KOH 0.5% dan waktu 150 menit dan cetane index sebesar 47 dicapai pada konsentrasi KOH 1,5 % dan waktu 60 menit. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa biodesel yang dihasilkan telah memenuhi standart yang disyaratkan.
PENGARUH TEMPERATUR TUANG DAN WAKTU TUANG TERHADAP PENYUSUTAN SILINDER CORAN ALUMUNIUM DENGAN CETAKAN LOGAM Sujana, Wayan; Setiawan, Agus
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.509

Abstract

Pada saat ini terdapat bermacam-macam cara pengecoran, antara lain pengecoran yang umum dan pengecoran yang khusus. Masing-masing mempunyai ciri khas pada cetakan dan cara pembekuannya.Pengecoran cetakan logam dilakukan dengan jalan menuangkan logam cair ke dalam cetakan, sehingga dihasilkan coran yang mengikuti model cetakan karena pengaruh gaya gravitasi. Berkenaan dengan itu maka cara ini cocok untuk coran yang sederhana, karena prosesnya yang mudah. Untuk memperoleh cetakan dengan kualitas yang baik maka diperlukan pengaturan proses penuangan. Untuk itu maka pada kesempatan ini dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh temperatur tuang dan waktu tuang terhadap penyusutan silinder coran aluminium dengan cetakan logam. Pada penelitian ini digunakan material aluminium skrap dan cetakan logam sederhana metode gravitasi tanpa riser. Sebagai variabel berubah digunakan waktu tuang 1, 5 dan 10 detik sedangkan temperaturnya adalah 800°C, 900ºC dan 1000°C. Pengujian yang dilakukan adalah pengukuran penyusutan specimen. Dari data penelitian didapatkan hasil terbaik pada perlakuan waktu tuang 10 detik dan temperatur 1000°C. Penyusutan yang dihasilkan pada waktu tersebut adalah 1,61 gram sedangkan pada temperatur tuang 1000°C penyusutannya sebesar 1,85 gram Berdasarkan analisa dari hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada proses pengecoran sangat penting untuk diperhatikan tentang penentuan temperatur penuangan dan waktu tuang karena kedua faktor tersebut ternyata memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil pengecoran tepatnya terhadap penyusutan hasil coran.
Analisa Pengaruh Temperatur Air Terhadap Aliran fluida dan laju PemanasanPada Alat Pemanas Air Subardi, Anang
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.516

Abstract

Teknologi alat pemanas air pada masa sekarang ini sudah banyak perubahan dimasyarakat dari pemanas konvensional yang dipergunakan didalam kehidupan masyarakat pedesaan dan perkotaan sehari–haridengan pemanas yang menggunakn energi minyak maupun gas keernergi listrik, terutama untuk pemanas air untuk kamar mandi (water heater) . Dengan menambahkan selubung pembatas yang berlubang-lubang disekitar sumber panas untuk mengatur volume air yang dipanaskan dan mempercepat laju pemanasannya dengan tujuan agar pemanasannya lebih efisien. Dengan demikian ada pengaruh volume temperature air terhadap aliran fluida yaitu dengan naiknya temperature air maka laju fluidapun lebih cepat. Pengaruh jumlah dan diameter lubang pada selubung dan posisi sikulasi air dari pusat sumber panas sangat berpengaruh pada laju kecepatan kenaikan panas air.
MEREKAYASA PEMANFAATAN GAS METAN (CH4) MENJADI ENERGI LISTRIK KAPASITAS 500 KWH (Hasil Studi Kelayakan di TPA Supit Urang Kota Malang) Sutriyono; Rusdi
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.523

Abstract

Keberadaan TPA untuk sementara waktu dapat dianggap sebagai sarana penyelesaian permasalahan sampah perkotaan yang berkaitan dengan kebersihan. Namun demikian terdapat efek negatif lain yang dapat ditimbulkan, diantaranya adalah potensi timbulnya gas metan dalam sampah yang tertumpuk di TPA. kandungan gas metan yang terdapat dalam TPA (Di Malang adalah TPA Supit Urang) sebaiknya dikelola sehingga dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar sebagai pembangkit energi alternatif. Tujuan dari kegiatan Studi Kelayakan Penangkapan Gas Metan di TPA Supit Urang ini adalah untuk (1) mengkaji kelayakan kandungan potensi gas, ditinjau dari teknologi, ekonomi, sosial dan dampak lingkungan, jika diberdayakan menjadi pembangkit energi alternatif. (2) Mengkaji kandungan potensi gas ikutan lain yang berperan terhadap pengotoran udara dan lingkungan. (3) Mengkaji volume dan kandungan gas metan jika di rencanakan untuk diubah menjadi pembangkit energi alternatif. Dari studi yang telah dilakukan, dapat direkomendasikan hal-hal sebagai berikut : (1) Aspek Teknologi : Gas metan TPA Supit Urang hanya mempunyai prosentase kurang lebih 27 %, Agar mempunyai prosentase diatas 50 % atau setara dengan LPG, maka harus ditingkatkan melalui : Pemilahan jenis sampah, Sampah organik harus dilembutkan, Megontrol kondisi pH, temperatur, BOD dan COD, Konstruksi penampung sampah organik dibuat anaerob. (2) Aspek Dampak Lingkungan : Permasalahan kesehatan masyarakat (penyakit ISPA) yang disebabkan dari pengaruh gas metan. Penentuan lokasi pengolahan/penimbunan sampah dan pemisahan sampah yang bisa dan tidak bisa didaur ulang dari sumbernya (rumah tangga). (3) Aspek ekonomi : Gas metan TPA Supit Urang mempunyai potensi yang kurang apabila digunakan sebagai sumber energi alternatif. Hal ini dapat diatasi dengan : Peningkatan prosentase gas metan dengan rekayasa teknologi, Peningkatan fungsi TPA menjadi area komposting, mengoptimalkan kuantitas sampah dengan pemilahan sampah. (4) Aspek Sosial : Di kawasan TPA Supit Urang sebagian penduduknya mempunyai tingkat pendidikan yang rendah. Hal ini dapat diatasi dengan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah; pembuatan kompos; Sosialisasi bahaya dan manfaat sampah; Melaksanakan motivasi dan manjaga fungsi saluran drainase; Pembuatan bangunan peresapan air;Penerapan kebijakan pemisahan sampah domestik (organik dan anorganik).
PENGARUH PERBANDINGAN GAS NITROGEN DAN LPG PADA PROSES NITROKARBURISING DALAM REAKTOR FLUIDIZED BED TERHADAP SIFAT MEKANIS BAJA KARBON RENDAH Rahardjo, Teguh
JURNAL FLYWHEEL Vol 3 No 2 (2010): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v3i2.527

Abstract

Reaktor Fluidized Bed merupakan tungku untuk proses perlakuan panas yang mempunyai fungsi ganda, bisa untuk proses perlakuan panas biasa dan proses perlakuan panas nitrokarburisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tarik, kekerasan lapisan permukaan, komposisi kimia dan uji/foto makro dari baja karbon rendah setelah dilakukan nitrokarburisasi. Pada proses ini, dalam melakukan pengujian dengan memberikan gas doping yaitu gas Nitrogen dan gas LPG, yang masuk ke dalam tabung reaktor fluidized bed pada temperatur kerja 723 oC. Terdapat 4 perbandingan aliran gas masuk ke dalam reaktor, perbadingan pertama aliran gas Nitrogen 85% dan gas LPG 15%, pada perbadingan kedua aliran gas Nitrogen 80% dan aliran gas LPG 20%, untuk perbadingan ketiga aliran gas Nitrogen 75% dan gas LPG 25%, sedangkan perbandingan keempat aliran gas Nitrogen 70% dan gas LPG 30%. Untuk mengetahui sifat mekanis baja karbon rendah setelah dilakukan proses nitrokarburisasi yaitu dengan melakukan pengujian mekanis, diantaranya pengujian tarik, uji kekerasan mikro (vickers), uji komposisi, dan uji/foto makro. Dari hasil pengujian, hasil uji tarik sebelum perlakuan 57,54 (Kgf/mm2) setelah perlakuan nilai rata-rata 68,20 (Kgf/mm2), untuk hasil pengujian kekerasan sebelum perlakuan 275 (HRV) dan setelah perlakuan nilai rata-rata 353,33 (HRV). Sedangkan pada pengujian komposisi unsur C pada baja karbon rendah sebelum perlakuan 0,235 (%wt) setelah perlakuan nilai rata-ratanya 0,329 (%wt).
Analisa Kegagalan Poros Spindel Pada Mesin Discontinue Centrifugal Edy Susanto, Eko; Budiyanto; Stevanus
JURNAL FLYWHEEL Vol 4 No 1 (2011): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v4i1.534

Abstract

Pabrik gula merupakan salah satu industri yang sangat vital di Indonesia namun belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri karena mesinmsin pengolahnya belum optimal, salah satunya pada mesin-mesin molasses. Kerusakan yang terjadi ada pada poros spindel pada mesin tersebut. Tujuan penelitian untuk mengetahui penyebab kerusakan psda pros spindel pada mesin molasses. Dari bentuk patahan pada poros tersebut dianalisa penyebabnya dengan demikian perlu data untuk pembahasan dari hasil uji tentang bahan poros, beban poros, pengoperasian dan perawatan. Hail pengujian aboratoriu tentang kekuatan tarik bahan poros, puntir, metallografi dan proses pembuatan poros. Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan dikarenakan banyaknya konsentrasi tegangan yang terjadi pada poros, khususnya pada bagian akar seplain. Poros mengalami kelelahan karena fluktuasi beban yang berulang-ulang, bukan dikarenakan kesalahan dalam level tegangan disain. Pembuatan poros, khususnya pembuatan seplain banyak meninggalkan retak-retak kecil yang menjadi awal terjadinya retak dan merambat menjadi patah menyeluruh. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya proses perlakuan panas lanjut untuk menghilangkan tegangan sisa permesinan pada pembuatan seplain.
KARAKTERISASI DIFRAKSI SERBUK YTRIA NANOPARTIKEL HASIL PENGGILINGAN Junita Sinaga, Erni
JURNAL FLYWHEEL Vol 4 No 1 (2011): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v4i1.538

Abstract

Telah dilakukan karakterisasi difraksi sinar-x pada serbuk yttria nanopartikel dengan metode ball milling (penggilingan basah). Serbuk yttria diberi perlakuan mekanik menggunakan planetary ball milling dengan variasi waktu 0, 1, 5, 10, dan 20 jam dengan kecepatan penggilingan 100 rpm. Analisis kualitatif dilakukan melalui difraksi sinar-x pada serbuk asal dan serbuk setelah perlakuan penggilingan. Analisis lanjut data difraksi tersebut dilakukan menggunakan perangkat lunak MAUD untuk mengestimasikan ukuran kristal (Dv) dan sebarannya serta regangan yang terjadi akibat penggilingan. Hasil analisis Rietveld menunjukkan regangannya semakin besar, ukuran kristal semakin mengecil dan sebaran ukuran kristalnya semakin menyempit akibat variasi waktu penggilingan.
PERANCANGAN INTERIOR/ RUANG BELAJAR YANG ERGONOMIS UNTUK SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) Hutabarat, Julianus; Budiharti, Nelly; Suardika, Ida Bagus
JURNAL FLYWHEEL Vol 4 No 1 (2011): Jurnal Flywheel
Publisher : Teknik Mesin S1 ITN Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/flywheel.v4i1.543

Abstract

Dari penelitian yang dilakukan terdapat beberapa pemasalahan dari ruang kelas SLB/c Pembina di Lawang, khusus tuna grahita, yaitu dari beberapa aspek lingkungan yang kurang ergonomis, pencahayaan, suhu dan temperatur, kelembaban, kebisingan, warna, dan desain interior kelas yang konvensional. Serta dari tata letak papan tulis yang kurang sesuai untuk ukuran tubuh siswa tuna grahita di SLB tersebut. Untuk papan tulis di ukur dari kegiatan yang dilakukan dalam pemakaian papan tulis tersebut (duduk dan berdiri). Untuk tahap perbaikan desain interior harus lebih mengacu pada nilai ergonomis, dimulai dari mengetahui apa yang dibutuhkan, pengembangan kebutuhan, dan pengambilan keputusan. Peneliti mengandalkan pada studi literatur, rekomendasi para ahli dan hasil penelitian yang berkorelasi dengan perbaikan desain interior Hasil perhitungan dan pendekatan yang dilakukan untuk lebih ergonomis adalah dari ukuran tubuh pengguna ruang kelas yang disesuaikan dengan fasilitas pengajaran dan juga dari aspek lingkungan yang meliputi pencahayaan, kebisingan, kelembaban, suhu dan temperatur, serta warna. papan tulis tidak sesuai dengan data anthropometri siswa. Letak dari papan tulis yang terlalu tinggi untuk ukuran siswa SLB, dari ukuran kelas kecil, sedang, maupun besar. Sehingga diperoleh hasil penelitian untuk kondisi lingkungan kerja sebagai berikut : temperatur dari 13-17o C menjadi 24,5– 25o C, kelembaban dari 44 - 45.1 % menjadi 60 – 68%, kebisingan dari 50 dB menjadi 40dB, pencahayaan dari 120-900 lux menjadi 299- 300 lux, untuk warna kuning agak gelap menjadi kuning kehijauan dan putih.

Page 4 of 19 | Total Record : 185