cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
REREADING HADITH OF MAHRAM AND WOMEN’S MOBILITY IN INDONESIAN CONTEXT Nikmatullah, Nikmatullah; Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28252

Abstract

The differences in Muslim understanding of mahram impact women’s mobility in the public sphere. This study aims to map the diversity of interpretations on mahram hadith among Indonesian Muslims viewed from the interpretation of arguments and their influence on women’s lives. Through qualitative research, the data was obtained from online media, which was strengthened by interviews, and analyzed by using content analysis. The study results show that mahram is understood textually and contextually with three categories, namely family mahram, which impacts prohibitions, restrictions on women outside the home, and restraint on women in public spaces. Whereas mahram, as a friend and community, functions as a support system for protection for women, which is supported by the state’s security system, affecting women’s freedom in travel and public spaces. The arguments influencing this understanding are different arguments, interpretations, schools of thought, and individual experiences. In the Indonesian context, progressive ulemas reinterpret mahram traditions from personal protection to communal and state protection through three methods, namely reciprocal interpretation, considering context, and using maqashid sharia. The understanding of mahram is not only related to protecting women while traveling but extends to all women’s activities in the public sphere, including worship. Thus, the issue of mahram in the Indonesian context is inseparable from religious, social, cultural, and political discourse.[Perbedaan  pemahaman umat Islam  tentang mahram berdampak pada mobilitas perempuan di ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan keberagaman penafsiran hadis mahram di kalangan umat Islam Indonesia dilihat dari penafsiran dalil dan pengaruhnya terhadap kehidupan perempuan. Melalui penelitian kualitatif, data diperoleh dari media daring yang diperkuat dengan wawancara, dan dianalisis dengan menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahram dipahami secara tekstual dan kontekstual dengan tiga kategori, yaitu mahram keluarga yang berdampak pada larangan, pembatasan bagi perempuan di luar rumah, dan pengekangan bagi perempuan di ruang publik. Sedangkan mahram sebagai sahabat dan masyarakat berfungsi sebagai sistem pendukung perlindungan bagi perempuan yang didukung oleh sistem keamanan negara, sehingga memengaruhi kebebasan perempuan dalam bepergian dan ruang publik. Dalil yang memengaruhi pemahaman tersebut adalah perbedaan argumen, penafsiran, mazhab pemikiran, dan pengalaman individu. Dalam konteks Indonesia, ulama progresif menafsirkan kembali tradisi mahram dari perlindungan pribadi menjadi perlindungan komunal dan negara melalui tiga metode, yaitu penafsiran resiprokal, mempertimbangkan konteks, dan menggunakan maqashid syariah. Pemahaman tentang mahram tidak hanya terkait dengan perlindungan terhadap perempuan saat bepergian, tetapi meluas ke seluruh aktivitas perempuan di ruang publik, termasuk beribadah. Dengan demikian, persoalan mahram dalam konteks Indonesia tidak dapat dipisahkan dari wacana keagamaan, sosial, budaya, dan politik.]
THE SOCIAL CONSTRUCTION OF HADITH AUTHORITY: A Comparative Analysis of al-Shafi’is and al-Tusi’s Epistemological Frameworks Mawarda, Lisa; Arifah, Afro' Anzali Nurizzati; Said, Imam Ghazali; Salim, Moh Fuad; Agatha, Afifah Nurulia
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.34081

Abstract

This study compares the methodologies for validating āḥādḥadīth according to Imām al-Shāfiʿī (Sunni) and Shaykh al-Ṭūsī (Imāmī Shīʿī). A sociology of knowledge analysis demonstrates that the fundamental differences between the two systems are not merely technical, but rather reflect distinct social contexts and communal needs. The findings show that al-Shāfiʿī formulated universal criteria, such as the integrity (ʿadl) and precision (ḍabṭ) of transmitters, to unify a fragmented Muslim community during the Abbasid era. The system he developed functioned to centralize legal authority based on textual sources, thereby reinforcing Sunni identity as an integrated majority. In contrast, al-Ṭūsī developed a four-tier classification that associates the highest level of authority (ṣaḥīḥ) with Imāmī Shīʿī transmitters, while simultaneously positioning reason (ʿaql) as an independent evaluative filter. Al-Ṭūsī’s system served to maintain identity boundaries, safeguard doctrinal authority, and strengthen internal coherence within a minority community in the post-Occultation period. Both methodologies were subsequently institutionalized through their canonical works such as al-Risālah and al-Kutub al-Arbaʿah, thereby shaping enduring scholarly frameworks that persist until now. This study contributes by uncovering the sociological roots of epistemological differences in ḥadīth studies, demonstrating that religious knowledge authority is shaped by social dynamics such as majority integration and minority preservation. [Penelitian ini mengkomparasikan metodologi validasi hadis āḥād menurut Imam al-Shāfiʿī (Sunni) dan Shaykh al-Ṭūsī (Syiah Imamiyah). Analisis sosiologi pengetahuan menunjukkan bahwa perbedaan mendasar kedua sistem bukan semata teknis, melainkan refleksi dari konteks sosial dan kebutuhan komunal yang berbeda. Hasil menunjukkan bahwa al-Shāfiʿī merumuskan kriteria universal, seperti integritas (‘adl) dan ketelitian (ḍabṭ) periwayat, untuk menyatukan umat Muslim yang terfragmentasi di era Abbasiyah. Sistem yang dikembangkan al-Shafi’i berfungsi memusatkan otoritas hukum berbasis teks, memperkuat identitas Sunni sebagai mayoritas yang terintegrasi. Sebaliknya, al-Ṭūsī mengembangkan klasifikasi empat tingkat yang mengaitkan otoritas tertinggi (ṣaḥīḥ) dengan periwayat Syiah Imamiyah, sekaligus menempatkan nalar (‘aql) sebagai filter mandiri. Sistem yang dikembangkan al-Ṭūsī berfungsi menjaga batas identitas, melindungi otoritas doktrinal, dan memperkuat koherensi internal komunitas minoritas pasca okultasi Imam. Kedua metodologi tersebut kemudian terinstitusionalisasi melalui karya kanonik mereka berupa al-Risālah dan al-Kutub al-Arbaʿah, sehingga membentuk kerangka keilmuan yang bertahan hingga kini. Penelitian ini berkontriusi dengan mengungkap akar sosiologis dari perbedaan epistemologis dalam studi hadis, yakni menunjukkan bahwa otoritas pengetahuan agama dibentuk oleh dinamika sosial seperti integrasi mayoritas dan preservasi minoritas.]
THE USE OF MAJAZ IN HADITH TEXTS: A Systematic Literature Review of Contextual Interpretation and Linguistic Analysis Hidayati, Eni; Marhumah, Marhumah; Syaifuddin, Najamudin Dano; Nadhifa, Hasna Putri
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.34084

Abstract

The use of majaz (figurative language) in hadith texts has long been recognized as an important element in understanding the linguistic depth and contextual meaning of the Prophet Muhammad’s sayings. However, studies on this topic have generally focused on majaz within theoretical or semantic discourse, without providing a systematic mapping of its methodological role and socio-religious implications. This study aims to fill this gap by employing a Systematic Literature Review (SLR) method following the PRISMA protocol, examining 36 scholarly articles on majaz in hadith published between 2019 and 2025. The review focuses on publication trends, dominant methodological approaches, geographical distribution of research, and the implications of majaz for contextual interpretation and contemporary Muslim life. The findings reveal a significant increase in academic interest during the period 2021–2024, marked by a strong dominance of qualitative, linguistic, and contextual approaches, particularly those integrating balaghah, semantics, socio-historical analysis, and hermeneutics. Majaz is increasingly positioned not merely as a rhetorical device but as a substantive interpretive instrument with important implications for legal reasoning, ethical formation, and socio-religious construction. Nevertheless, a gap remains between the theoretical recognition of majaz and its application in religious practice, education, and public policy, largely influenced by the persistence of conservative literalist paradigms. This study offers both methodological and thematic novelty by systematically mapping the role of majaz in hadith studies and positioning it as a bridge between textual fidelity and contemporary relevance, thereby supporting the development of a more adaptive, interdisciplinary, and context-sensitive methodology in hadith scholarship. [Penggunaan majaz (bahasa figuratif) dalam teks-teks hadis telah lama diakui sebagai unsur penting dalam memahami kedalaman linguistik dan makna kontekstual sabda Nabi Saw. Namun, kajian-kajian terhadapnya selalu fokus pada diskursus majaz yang menekankan pada aspek teoretis atau semantik, tanpa pemetaan yang sistematis terhadap peran metodologis dan implikasi sosio-keagamaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi celah tersebut dengan menerapkan metode Systematic Literature Review (SLR) yang mengikuti protokol PRISMA, terhadap 36 artikel ilmiah tentang majaz dalam hadis yang dipublikasikan antara tahun 2019–2025. Kajian ini berfokus pada tren publikasi, pendekatan metodologis yang dominan, distribusi geografis penelitian, serta implikasi majaz terhadap penafsiran kontekstual dan kehidupan Muslim kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan minat akademik pada periode 2021–2024, dengan dominasi kuat pendekatan kualitatif, linguistik, dan kontekstual, terutama yang mengintegrasikan balaghah, semantik, analisis sosio-historis, dan hermeneutika. Majaz semakin diposisikan bukan sekadar sebagai perangkat retorika, melainkan sebagai instrumen penafsiran substantif yang memiliki implikasi penting terhadap penalaran hukum, pembentukan etika, dan konstruksi sosial-keagamaan. Meskipun demikian, masih terdapat kesenjangan antara pengakuan teoretis terhadap majaz dan penerapannya dalam praktik keagamaan, pendidikan, dan kebijakan publik, yang sebagian besar dipengaruhi oleh kuatnya paradigma literalistik-konservatif. Studi ini memberikan kebaruan metodologis dan tematik dengan memetakan secara sistematis peran majaz dalam studi hadis, serta menempatkannya sebagai penghubung antara kesetiaan terhadap teks dan relevansinya terhadap konteks kontemporer, sehingga mendukung pengembangan metodologi kajian hadis yang lebih adaptif, interdisipliner, dan peka terhadap konteks.]
THE ORIGIN OF THE HADITH ABOUT JAMPI-JAMPI: A Review of Harald Motzki's Isnad Cum Matan Analysis Syaiful, Muhammad; Masuwd, Mowafg Abrahem
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31666

Abstract

Hadiths concerning conjuring or ruqyah constitute a significant theme in hadith studies, particularly regarding issues of authenticity in both isnād and matn. Divergent perspectives between classical and modern scholars on the validity of these traditions underscore the necessity for a more nuanced and critical analysis. This study investigates the origin and transmission of the jampi-jampi (incantation) hadiths using the isnād-cum-matn analytical framework pioneered by Harald Motzki. Employing a qualitative methodology through literature-based research, data were sourced from canonical hadith collections such as Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, and Sunan Abī Dāwūd, along with contemporary scholarship in hadith criticism. Through descriptive-analytical techniques, this study maps the transmission chains (asānīd), evaluates narrator reliability, and compares textual variants of the matn. The findings reveal that while variations exist in wording, the jampi-jampi hadiths possess multiple strong lines of transmission. Motzki’s method proves instrumental in uncovering the historical strata of hadith development, demonstrating that the majority of ruqyah-related traditions can be traced reliably to the generation of the tābi‘īn. This study contributes to the field of hadith methodology by reinforcing the importance of integrated textual and transmission analysis and offers deeper contextual insight into the normative role of ruqyah within Muslim religious practice.[Hadis-hadis tentang jampi atau ruqyah merupakan tema penting dalam studi hadis, khususnya dalam hal keotentikan baik dari sisi sanad maupun matan. Perbedaan pandangan antara ulama klasik dan sarjana modern terkait validitas hadis-hadis tersebut menunjukkan perlunya kajian yang lebih mendalam dan kritis. Penelitian ini mengkaji asal-usul dan transmisi hadis jampi-jampi dengan menggunakan pendekatan isnād-cum-matn yang dikembangkan oleh Harald Motzki. Dengan metode kualitatif melalui studi pustaka, data diperoleh dari kitab-kitab hadis kanonik seperti Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Muslim, dan Sunan Abī Dāwūd, serta literatur kritik hadis kontemporer. Melalui teknik analisis deskriptif-analitis, penelitian ini memetakan jalur transmisi (asānīd), menilai kredibilitas para perawi, dan membandingkan varian teks (matan) hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan redaksi, hadis-hadis jampi-jampi memiliki beberapa jalur transmisi yang kuat. Pendekatan Motzki terbukti efektif dalam mengungkap lapisan-lapisan historis dalam perkembangan hadis, serta menunjukkan bahwa sebagian besar tradisi tentang ruqyah dapat ditelusuri secara andal hingga generasi tābi‘īn. Studi ini memberikan kontribusi pada metodologi ilmu hadis dengan menegaskan pentingnya analisis integratif antara teks dan transmisi, serta menawarkan pemahaman kontekstual yang lebih mendalam terhadap peran normatif ruqyah dalam praktik keagamaan umat Islam.]
PRESERVING THE TRADITION OF HADITH SANAD IJAZAH IN PESANTREN OF MANDAILING NATAL: Scholarly Continuity and Academic Challenges Siregar, Ilham Ramadan; Ritonga, Raja; Hamid, Asrul; Hsb, Zuhdi; Nst, Andri Muda; Rababah, Mahmoud Ali
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31428

Abstract

The sanad tradition serves as a fundamental mechanism for preserving the authenticity and continuity of hadith through a reliable and accountable chain of transmission. In Indonesia, particularly in Mandailing Natal, this tradition is actively maintained in Pesantren (pesantren), where the transmission of canonical hadith texts—such as Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, and Sahih al-Bukhari—relies on a sanad-based educational system. This study explores the mechanism of granting ijazah sanad (sanad certificates) in selected pesantren—notably Musthafawiyah, Darul Ulum, and Roihanul Jannah—and examines their contribution to sustaining hadith scholarship. Employing a qualitative methodology that includes fieldwork and historical analysis, the research reveals that sanad certification is not a mere formal acknowledgment, but the result of a rigorous academic and spiritual process. Teaching methods such as musyafahah, talaqqi, and sorogan are employed alongside recitations in class, mosques, and during Ramadan. Certificates are granted only to students who meet strict academic criteria, including completion of hadith study under a teacher with authenticated sanad lineage, comprehension of the matan, and observance of proper adab. Most sanad lineages trace back to scholars connected to Madrasah Ash-Shalatiyah and Darul Ulum Makkah, including Shaykh Muhammad Yasin al-Fadani. Despite its critical role, academic studies on hadith sanad remain limited compared to Qur’anic sanad research. This study underscores the need to revitalize scholarly attention to hadith sanad traditions and affirms the strategic role of pesantren as institutions preserving the integrity and transmission of classical Islamic knowledge. [Tradisi sanad merupakan mekanisme fundamental dalam menjaga keautentikan dan kesinambungan hadis melalui rantai transmisi yang andal dan dapat dipertanggungjawabkan. Di Indonesia, khususnya di Mandailing Natal, tradisi ini secara aktif dilestarikan di lembaga pendidikan pesantren, di mana transmisi kitab-kitab hadis klasik seperti Arba‘in an-Nawawi, Bulugh al-Maram, dan Sahih al-Bukhari dilakukan melalui sistem pendidikan berbasis sanad. Penelitian ini mengkaji mekanisme pemberian ijazah sanad (sertifikat sanad) di beberapa pesantren—terutama Musthafawiyah, Darul Ulum, dan Roihanul Jannah—dan menelaah kontribusinya dalam mempertahankan keberlanjutan keilmuan hadis. Dengan pendekatan kualitatif melalui studi lapangan dan analisis historis, penelitian ini menemukan bahwa pemberian ijazah sanad bukan sekadar formalitas, melainkan hasil dari proses akademik dan spiritual yang ketat. Metode pengajaran seperti musyafahah, talaqqi, dan sorogan diterapkan bersamaan dengan pengajian di kelas, masjid, dan selama bulan Ramadan. Sertifikat hanya diberikan kepada santri yang memenuhi kriteria akademik ketat, termasuk menyelesaikan kajian kitab hadis di bawah bimbingan guru bersanad sah, memahami matan hadis, dan menunjukkan adab serta komitmen belajar. Mayoritas rantai sanad ditelusuri hingga ulama-ulama yang terhubung dengan Madrasah Ash-Shalatiyah dan Darul Ulum Makkah, termasuk Syekh Muhammad Yasin al-Fadani. Meskipun memiliki peran krusial, kajian akademik tentang sanad hadis masih terbatas dibandingkan dengan kajian sanad Al-Qur’an. Studi ini menegaskan pentingnya revitalisasi perhatian akademik terhadap tradisi sanad hadis dan meneguhkan peran strategis pesantren dalam menjaga integritas dan transmisi keilmuan Islam klasik.]
THE HERMENEUTICAL STRATEGY AND PRIBUMISASI OF HADITH IN THE JAVANESE SYARAH OF MISBAH AL-ANAM FI TARJAMAH BULUGH AL-MARAM BY A. SUBKI MASYHADI Su'aidi, Hasan; Dimyathi, Aniq
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33983

Abstract

This research analyzes the methodology of hadith commentary in the book Miṣbāḥ al-Anām fī Tarjamah Bulūgh al-Marām by A. Subki Masyhadi, a prolific scholar from Pekalongan. Utilizing a descriptive-qualitative method with content analysis techniques, this study reveals Masyhadi’s hermeneutical strategies in bridging authoritative classical texts with the socio-cultural realities of Javanese society. The findings indicate the use of a combined ijmālī (global) and muqārin (comparative) method, integrated through three primary approaches: textual, contextual, and intertextual. Masyhadi maintains the orthodoxy of the pesantren tradition by referencing the Qur'an, Shafi'i jurisprudential literature, and linguistic authorities such as al-Nihāyah and Subul al-Salām. The originality of Masyhadi’s work lies in its massive effort toward the "indigenization" (pribumisasi) of hadith. The use of the Arabic-Pegon script is not merely a technical choice but serves as an epistemological bridge for non-Arabic speaking communities. The localization of prophetic teachings is carried out creatively through the inclusion of regional nuances, such as utilizing the Rupiah currency in legal transactions, employing local foodstuffs (tape and beras jowo) as jurisprudential analogies, and validating rebana art as a cultural identity. This research contributes to the mapping of Islamic intellectual history in the Nusantara, demonstrating that vernacular hadith commentaries are vital instruments for maintaining religious continuity while serving as a form of creative adaptation in responding to Indonesia's local identity and realities. [Penelitian ini menganalisis metodologi syarah hadis dalam kitab Miṣbāḥ al-Anām fī Tarjamah Bulūgh al-Marām karya A. Subki Masyhadi, seorang ulama produktif asal Pekalongan. Menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan teknik analisis isi (content analysis), studi ini mengungkap strategi hermeneutika Masyhadi dalam menjembatani teks otoritatif klasik dengan realitas sosiokultural masyarakat Jawa. Temuan penelitian menunjukkan penggunaan kombinasi metode ijmālī (global) dan muqārin (komparatif) yang diintegrasikan melalui tiga pendekatan utama: tekstual, kontekstual, dan intertekstual. Masyhadi mempertahankan ortodoksi tradisi pesantren dengan merujuk pada Al-Qur'an, literatur yurisprudensi Syafi'i, serta otoritas linguistik seperti al-Nihāyah dan Subul al-Salām. Orisinalitas karya Masyhadi terletak pada upaya pribumisasi hadis yang masif. Penggunaan aksara Arab-Pegon bukan sekadar pilihan teknis, melainkan jembatan epistemologis bagi masyarakat non-Arab. Lokalisasi ajaran kenabian dilakukan secara kreatif melalui penyertaan nuansa regional, seperti penggunaan satuan mata uang Rupiah dalam transaksi hukum, pemanfaatan bahan pangan lokal (tape dan beras jowo) sebagai analogi fikih, hingga validasi seni rebana sebagai identitas kultural. Penelitian ini berkontribusi pada pemetaan sejarah intelektual Islam di Nusantara, menunjukkan bahwa syarah hadis vernakular merupakan instrumen vital dalam menjaga kontinuitas keagamaan sekaligus bentuk adaptasi kreatif Islam dalam merespons identitas dan realitas lokal Indonesia.]
HADITH SEARCH TRENDS ON GOOGLE IN INDONESIA REFLECT SOCIO-POLITICAL INFLUENCES AND ITS IMPLICATIONS (2020-2024) Monady, Hanief; Hilmy, Masdar; Erawati, Desi
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.32280

Abstract

In the digital era, the internet has become a primary source for the public in seeking religious knowledge, including Hadith. The trend of Hadith searches on Google reflects society’s responses to the socio-political dynamics occurring within a given period. This study aims to examine the patterns of Hadith searches on Google from 2020 to 2024 and analyze the socio-political factors influencing fluctuations in these trends. The urgency of this research lies in the importance of understanding how society utilizes Hadith as a reference in responding to emerging issues, as well as its implications for religious understanding in Indonesia. This study adopts a qualitative approach, employing historical methods and digital data analysis. Data on Hadith search trends were collected through Google Trends and analyzed based on the evolving thematic patterns that emerged annually. Subsequently, the socio-political factors influencing these trends were examined by referring to national events occurring during the same period. The findings reveal that Hadith search trends experienced significant increases during certain periods, particularly in connection with political events, government policies, and religious-social issues. Dominant search themes include leadership, social ethics, and tolerance, reflecting a societal demand for moral guidance in addressing socio-political challenges. These findings underscore that digitalization has transformed the way people access and interpret Hadith, highlighting the need for both digital and religious literacy to ensure accurate and contextual interpretations. [Dalam era digital, internet telah menjadi sumber utama bagi masyarakat dalam mencari informasi keagamaan, termasuk hadis. Tren pencarian hadis di Google mencerminkan respons masyarakat terhadap dinamika sosial-politik yang terjadi dalam suatu periode. Penelitian ini berupaya mengkaji pola pencarian hadis di Google selama tahun 2020-2024 serta menganalisis faktor sosial-politik yang memengaruhi fluktuasi tren tersebut. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memahami bagaimana masyarakat menggunakan hadis sebagai rujukan dalam merespons isu-isu yang berkembang, serta implikasinya terhadap pemahaman keagamaan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode historis dan analisis data digital. Data tren pencarian hadis dikumpulkan melalui Google Trends, kemudian dianalisis berdasarkan pola perubahan tema yang muncul setiap tahunnya. Selanjutnya, faktor sosial-politik yang memengaruhi tren tersebut dikaji dengan merujuk pada peristiwa nasional yang terjadi dalam kurun waktu yang bersamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren pencarian hadis mengalami peningkatan signifikan pada periode tertentu yang berkaitan dengan peristiwa politik, kebijakan pemerintah, serta isu-isu sosial keagamaan. Tema yang dominan dalam pencarian mencakup kepemimpinan, etika sosial, dan toleransi, yang mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap landasan moral dalam menghadapi tantangan sosial-politik. Temuan ini menegaskan bahwa digitalisasi telah mengubah cara masyarakat mengakses dan memahami hadis, sehingga diperlukan upaya literasi digital dan keagamaan untuk memastikan interpretasi yang tepat dan kontekstual.]
HADITH AND THE ETHICS OF PUBLIC SPACE: the Case of the Sea Fence Conflict in Tangerang Saputra, Ilman Hendrawan
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31921

Abstract

The construction of a sea fence along the coast of Tangerang Regency has sparked complex legal, social, and religious controversies. This study critically examines the legal status of the project and its socio-economic implications for coastal communities through the lens of prophetic hadiths and Indonesian agrarian law. Employing a multidisciplinary methodology, the research integrates spatial analysis using historical Google Earth imagery (1985–2024), linear regression modeling for shoreline change estimation, normative analysis of regulations such as Government Regulation No. 24/1997 and Ministry of Agrarian and Spatial Planning Regulation No. 17/2021, and a textual analysis of relevant ṣaḥīḥ hadiths. The findings reveal systemic administrative irregularities involving land document falsification and abuse of authority, which contravene both Indonesian law and prophetic ethical teachings. Key hadiths—such as "Whoever cheats is not one of us" (Muslim No. 102), the warning against untrustworthy leadership (Bukhari No. 7150), and severe eschatological consequences for land usurpation (Bukhari No. 2454)—underscore the moral gravity of such practices. Beyond legal transgressions, the sea fence has resulted in the marginalization of local fishermen, economic dispossession, and rising communal tensions. This study contributes to the scholarship on Islamic environmental ethics, legal anthropology, and hadith application in contemporary governance by demonstrating how prophetic teachings can serve as normative frameworks for assessing development policies and protecting vulnerable communities.[Pembangunan tanggul laut di pesisir Kabupaten Tangerang telah memicu kontroversi hukum, sosial, dan keagamaan yang kompleks. Studi ini secara kritis menelaah status hukum proyek tersebut serta implikasi sosial-ekonominya terhadap masyarakat pesisir melalui perspektif hadis Nabi dan hukum agraria Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan multidisipliner, penelitian ini mengintegrasikan analisis spasial menggunakan citra historis Google Earth (1985–2024), pemodelan regresi linear untuk estimasi perubahan garis pantai, analisis normatif terhadap regulasi seperti PP No. 24 Tahun 1997 dan Permen ATR/BPN No. 17 Tahun 2021, serta telaah tekstual terhadap hadis-hadis ṣaḥīḥ yang relevan. Temuan menunjukkan adanya penyimpangan administratif sistemik berupa pemalsuan dokumen tanah dan penyalahgunaan kewenangan, yang melanggar hukum positif maupun nilai-nilai etika kenabian. Hadis-hadis kunci—seperti “Barang siapa menipu, maka ia bukan dari golonganku” (HR Muslim No. 102), peringatan terhadap pemimpin yang tidak amanah (HR Bukhari No. 7150), serta ancaman keras terhadap perampas tanah (HR Bukhari No. 2454)—menegaskan beratnya pelanggaran moral tersebut. Di luar aspek hukum, pembangunan tanggul laut ini telah menyebabkan marjinalisasi nelayan lokal, kerugian ekonomi, dan meningkatnya konflik horizontal. Studi ini memberikan kontribusi terhadap kajian etika lingkungan Islam, antropologi hukum, dan penerapan hadis dalam kebijakan kontemporer, dengan menunjukkan bagaimana ajaran Nabi dapat menjadi kerangka normatif dalam menilai proyek pembangunan serta melindungi komunitas yang rentan.]