Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles
218 Documents
Hadis dan Sunah dalam Perspektif Fazlur Rahman
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1805
Eksistensi hadis dan sunah tidak pernah berhenti diperdebatkan kalangan ilmuan, hal ini dapat dipahami mengingat hadis dan sunah dua entitas yang sama sama menjadi rujukan kedua dalam beragama Islam. Karena posisinya yang demikian sentral, maka tidak heran apabila sering terjadi kontrofersi dikalangan para pembahasnya. Fazlur Rahman sebagai salah seorang intelektual muslim yang kritis berusaha menetralisir adanya perdebatan tersebut dengan menawarkan sebuah pemikiran kritis tentang entitas hadis dan sunah. Tawaran Rahman tersebut mampu menjadi salah satu model pemikiran yang selama itu sering mengalami kebuntuan. Rahman bukan saja mampu memberikan penjelasan yang utuh tentang hakikat hadis dan sunah, tetapi juga menjelaskan posisi keduanya dari sisi asal muasalnya, dalam praktik keseharian, akibat yang muncul setelahnya dan keberadaanya sekarang.
MENDEKONSTRUKSI TRADISI PENGAJARAN HADIS: Studi Kasus Ebook Hadis untuk Anak
Bisri, Kasan
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.4933
Pengajaran hadis di Indonesia semakin meningkat saat ini. Ini tidak terlepas dari kesadaran umat muslim akan pentingnya hadis sebagai sumber ajaran Islam. Sekarang kita bisa mendapati banyak buku hadis yang dengan sengaja didesain untuk anak, baik berbentuk cetak ataupun digital. Hadirnya buku digital (Ebook) hadis untuk anak tentu membawa perubahan perilaku sosial dan tradisi tak terkecuali pengacaran hadis. Artikel ini bermaksud menjawab bagaiamana Ebook hadis mendekonstruksi tradisi pengajaran hadis? Bagaimana Ebook mengemas hadis untuk diajarkan pada anak? Kitab hadis apa yang menjadi sumber rujukan hadis yang dicantumkan dalam Ebook? Apa tema yang menjadi titik tekan dalam Ebook? Artikel ini menyimpulkan pertama Ebook hadis untuk anak telah menggeser paradigma lama ke paradigma baru, yaitu paradigma memperlajari hadis yang dulunya harus dilakukan secara face to face dengan orang-orang yang memiliki otoritas keilmuan menuju paradigma setiap orang memiliki otoritas keagamaan; kedua, ada dua varian bagaiamana Ebook memaparkan hadis yakni, pertama, redaksi hadis ditulis dalam bahasa arab dan disertai terjemahan; kedua, terjemahan hadis saja. Hadis dipaparkan melalui cerita yang disertai dengan ilustrasi berupa gambar. ketiga, hadis yang dikutip dalam Ebook bersumber dari kitab induk hadis sumber yang merentang dari yang populer hingga tidak, seperti kutub sittah hingga al-Mustadrok Hakim, Sunan al-Baihaqi, Musnad al-Haris. Tema besar yang menjadi titik tekan Ebook hadis adalah akhlaq, iman, dan ibadah.
RELASI MUSLIM DAN NON MUSLIM PERSPEKTIF TAFSIR NABAWI DALAM MEWUJUDKAN TOLERANSI
RIWAYAH Vol 4, No 2 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v4i2.4628
Fenomena pluralitas agama yang hadir di tengah kehidupan saat ini menuntut kita agar mampu menyikapinya dengan bijaksana. Terlebih bagi umat muslim, di mana dewasa ini Islam seringkali dituduh sebagai agama yang diskriminatif dan sulit menerima adanya keberagaman. Pasalnya bermula dari munculnya sebagian muslim yang mendakwahkan Islam dengan jalan kekerasan, memerangi bahkan membunuh umat-umat lain yang tidak sejalan dengan Islam. Sehingga tentu saja ini berimbas pada rusaknya citra Islam. Padahal, 14 abad yang lalu Nabi Muhammad telah mengajarkan dan mempraktekkan langsung bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dalam berhubungan dengan umat-umat lain di luar Islam. Alhasil, Nabi berhasil menjadikan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘ālamīn yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi antar umat beragama. Di samping itu, perlu disadari bahwa sikap dan perilaku Nabi tersebut tidak terlepas dari wahyu yang Allah turunkan kepadanya (al-Qur’an). Artinya, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi Nabi dalam menentukan sikap yang harus dilakukan ketika berhubungan dengan non-muslim ketika itu. Seperti misalnya dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8-9, di mana Allah memberitahukan bahwa Nabi tidak dilarang untuk tetap berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang non-muslim yang tidak memeranginya. Maka, dari ayat ini muncullah respon Nabi, baik itu berupa perkataan maupun sikap dan perbuatan. Sehingga respon tersebut dijadikan tafsiran yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an ini. Lebih lanjut, dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, dalam tulisan ini penulis akan mencoba menganalisis hadis-hadis Nabi yang menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an mengenai relasi muslim dan non-muslim tersebut, agar nantinya dapat menjadi salah satu upaya dalam mewujudkan toleransi antar umat beragama.
Metode Kritik Abu Hafs Umar Bin Ali Al-Basri Al-Fallas Terhadap Para Perawi Hadis
Masruri, Ulin Niam
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1229
Activities of hadith criticism have already been running in the era of the Prophet. However, the criticisms are still very limited. In the next period, this activity develops after an unstable political and social conditions after the murder of Caliph Us}ma>n bin Affa>n in the year 36 H. The experts increasingly sharpen criticism of hadith narrators to fortify the traditions of counterfeiting of people who seek profit in order political interests. This article discusses the critic figure Imam al-Falla> s in criticizing the narrator of traditions with an objective approach so that the hadith experts who live afterwards make it as a reference. And, not surprisingly, Imam Bukhari narrated the hadith through him.
URGENSI INTEGRASI ANTARA AHLI FIQH DAN AHLI HADIS DALAM MEMAHAMI SUNAH: Studi atas Pemikiran Syekh Muhammad al-Ghazali dalam Karyanya al-Sunah al-Nabawiyah baina Ahl al-Fiqh wa Ahl al-Hadis
Hosen, Mat;
Musyafiq, Ahmad
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.4551
Selama ini kajian hadis lebih sering dilakukan secara terpisah oleh para ahli dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Perbedaan ini sering menimbulkan benturan baik dari segi metode maupun makna yang dihasilkan. Yang paling terkenal benturan terjadi antara ahli fiqih dan ahli hadis. Tulisan ini akan menganalisis elaborasi Muhammad Al-Ghazali terhadap hadis-hadis perspektif ahli hadis dan ahli fiqih. Melalui konten analisis ditemukan bahwa elaborasi yang dilakukan Ghazali dalam karyanya “al-Sunnah baina ahli al-Fiqih wa ahli al-Hadis” ada dua poin penting. Pertama, antara ahli fiqih dan ahli hadis ada perbedaan cukup mendasar dalam menganalisis sebuah hadis. Menurut Ghazali ahli fiqih lebih dominan kontekstual, sementara ahli hadis lebih dominan kepada tekstual. Kedua, dengan perbedaan di atas Ghazali berharap agar kedua belah pihak saling sapa dan bahu-membahu dalam menganalisa sebuah hadis. Meskipun pada uraiannya Ghazali menghendaki kedua belah pihak saling bekerja sama namun pada tataran operasionalnya Ghazali lebih condong pada kritik matan. Dalam hal ini tentu Ghazali cenderung terhadap metode ulama fiqih sebab ulama fiqih menurut Ghazali lebih proporsional dalam menentukan keshahihan hadis.
RESEPSI HADIS ANJURAN TERSENYUM DAN APLIKASINYA DALAM EMOTICON SENYUM PADA SOSIAL MEDIA
Ismaila, Melati
RIWAYAH Vol 5, No 1 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v5i1.4937
Tulisan ini membahas mengenai pengaplikasian hadis anjuran tersenyum dalam sosial media sebagai bentuk komunikasi non-verbal. Proses transmisi dan resepsi terhadap hadis anjuran tersenyum diekspresikan melalui emoticon senyum yang digunakan dalam sosial media, salah satunya yakni Whatsapp. Oleh karena itu kajian ini termasuk ke dalam kajian living hadis. Adapun teori yang digunakan adalah pendekatan teori semiotika komunikasi Charles Sanders Pierce yang dikenal dengan segitiga makna atau segitiga semiotik. Dengan kajian ini diharapkan dapat diketahui kontekstualisasi hadis dalam komunikasi menggunakan sosial media yang kini tengah berkembang di tengah masyarakat.
Shilaturrahim Sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus
Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3143
ABSTRAKDi dalam al-Qur’an kata taqwa dan shilaturrahim selalu dirangkai, itu artinya shilaturrahim merupakan salah satu karakteristik bagi orang-orang yang beriman. Shilaturrahim memiliki makna yang sangat universal yaitu segala perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain baik berbentuk material maupun moral, dan tidak mengenal batas waktu dan bentuk, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang ada. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa yang dinamakan shilaturrahim adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya. Jadi shilaturrahim tidak sekedar datang berkunjung ke rumah tetangga atau saudara untuk meminta maaf. Namun shilaturrahim adalah sebuah komunkasi tinggi yang dilandasi iman kepada Allah. Dengan saling menyayangi, menghormati sesama umat manusia, karena ketika sudah tidak ada lagi kasih sayang, maka yang terjadi adalah pertengkaran dan permusuhan. Dalam kehidupan yang singkat ini teruslah untuk selalu menaburkan kebaikan di muka bumi, merajut kasih sayang kepada sesama tanpa melihat tingkat posisi, kedudukan, dan status sosial. Kasih sayang itu tentunya harus diberikan untuk seluruh umat manusia yang di temui di muka bumi.
KONTEKS ARAB SEBELUM DAN SESUDAH PENGUTUSAN NABI: Menelisik Faktor-Faktor di Balik Keistimewaan Bahasa Hadis
Ihsannudin, Nurul;
Nisa’, Khoirun
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.10135
Melalui ajaran yang terkandung dalam al-Quran dan Hadits, Islam telah mempengaruhi tradisi dan budaya di masyarakat Arab. Hadits, ucapan Nabi Muhammad saw, dipandang oleh ahli bahasa Arab memiliki keistimewaan dan kelebihan. Pada artikel ini, penulis bertujuan untuk mencari jawaban terkait konteks tradisi-budaya sastra di masa kelahiran dan pertumbuhan Nabi Muhammad saw berikut faktor yang membentuk bahasa dan gaya hadits berdasarkan asumsi bahwa konsep al-ta`atstsur wa al-ta`tsīr berlaku untuk setiap manusia. Penulis melakukan analisis terhadap data penelitian dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks tradisi-budaya sastra Arab sudah mengalami kemajuan di masa kelahiran dan pertumbuhan Nabi saw. Selain itu, terdapat faktor-faktor utama dan pendukung dalam pembentukan bahasa hadits. Wahyu Alquran dan Jawāmi 'al-kalim merupakan faktor utama dalam membentuk bahasa hadits. Sedangkan konteks kemajuan tradisi-budaya sastra Arab menjadi faktor pendukung dan merupakan bentuk sunatullah yang diterapkan dalam kehidupan manusia.[The Contexts of The Prophet’s Life: Reading the Factors Behind the Excellence of the Hadith Language. Through the teachings contained in the Quran and hadith, Islam has influenced the traditions and cultures in Arab society. The hadith, the sayings of the Prophet Muhammad (PBUH), were viewed by Arab linguists as having specialties and advantages. In this article, the authors aim to find the context of literary traditions during the birth and growth of the Prophet Muhammad (PBUH) and the factors that shape the language and style of hadith based on the assumption that the concept of al-ta`atstsur wa al-ta`tsīr applies to every human being. The authors analyzed the research data using descriptive-analytic methods. The results showed that the context of Arabic literary cultures had progressed at the time of the Prophet's birth and growth. Besides, there are major and supporting factors in the formation of hadith language. The revelation of the Quran and Jawāmiʿ al-kalim are the major factors in shaping the language of hadith. Meanwhile, the contexts of literary progress in Arabic society are supporting factors and are forms of sunatullah that are applied in human life.]
Implementasi Teori Common Link dan Projecting Back dan Implikasinya terhadap Otentisitas Hadis
falak, reza akbar
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.2539
Salah satu teori kritik hadis yang dikembangkan oleh kaum orientalis yang sangat terkenal hingga saat ini adalah Teori Common Link (CL) dan Projecting Back. Teori Projecting Back merupakan sebuah teori yang diajukan Schacht tentang adanya rekonstruksi sanad yang dilakukan generasi tabi’ al-tabi’in yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat kepada tokoh-tokoh di belakang hingga sampai kepada Nabi saw. Sedangkan Teori Common link (CL) merupakan teori yang menganggap bahwa rawi tertua dalam jaringan isnad merupakan tokoh sumber penyebaran jalur-jalur periwayatan yang ada dan rawi tersebut bukan merupakan figur abad pertama hijriyah. Menurut Schacht, keberadaan CL dalam rantai periwayatan mengindikasikan bahwa hadis itu berasal dari masa tokoh tersebut. Kedua teori itu merupakan metode kritik hadis yang membantah historisitas dan otentisitas hadis yang diajukan Schacht dan dikembangkan oleh Juynboll berdasarkan prinsip tidak diterimanya klaim kesejarahan jalur periwayatan tunggal (single strand), yaitu jalur tunggal dari CL ke periwayat termuda (kolektor) maupun jalur tunggal dari CL ke Nabi. AbstractOne of the theories of criticism of hadith developed by orientalists which is very famous until today is the theory of Common Link (CL) and the theory of Projecting Back. The Projecting Back Theory is a theory by Schacht that proposes on the reconstruction of sanad by the tabi 'al-tabi'in generation by projecting the opinions to the figures in the back up and then to the Prophet. While the Theory of Common Link (CL) is a theory which assumes that the oldest rawi in isnad chains is the source of the spread of narrative pathways that existed and the rawi is not a figure of the first century hijriyah. According to Schacht, the existence of CL in the chain of transmission indicates that the hadith was originated from that period. Both theories are methods of hadith criticism by Schacht which deny the historicity and authenticity of hadith and then developed further by Juynboll based on the principle of non-acceptance of historical claim through the single strand, namely the single path from CL to the youngest narrator (collector) or the single path of the CL to the Prophet.Keywords: authenticity, hadith, common link, projecting back
Epistemologi Hadis (Kajian Tingkat Validitas Hadis Dalam Tradisi Ulama Hanafi)
Shofiyyuddin, Shofiyyuddin
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.2035
Artikel ini mengelaborasi secara mendalam tentang epistemologi hadis dalam presepektif ulama Hanafi, menelusuri tentang kebenaran informasi masa lalu, menelusuri tentang klasifikasi kebenaran hadis dalam tingkatan kebenaran dari yang paling valid ke tingkat kebenaran yang paling rendah.Penelitian ini secara khusus membandingkan tingkatan kebenaran dalam pendapat para ulama Hanafi. Ulama Hanafi membagi tingkat kebenaran dalam tiga klasifikasi; kebenaran yang sifatnya ilmu al yaqin yaitu kebenaran mutawatir sehingga hadis yang memenuhi kriteria ini disebut hadis mutawatir. kebenaran yang membawa tuma’ninatul qulb, sehingga hadis yang memenuhi kriteria ini disebut hadis masyhur. dan kebenaran yang bisa saja salah atau benar sehingga hadis yang memenuhi kriteria ini disebut dengan hadis ahad.