cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 200 Documents
KONTEKS ARAB SEBELUM DAN SESUDAH PENGUTUSAN NABI: Menelisik Faktor-Faktor di Balik Keistimewaan Bahasa Hadis Ihsannudin, Nurul; Nisa’, Khoirun
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.10135

Abstract

Melalui ajaran yang terkandung dalam al-Quran dan Hadits, Islam telah mempengaruhi tradisi dan budaya di masyarakat Arab. Hadits, ucapan Nabi Muhammad saw, dipandang oleh ahli bahasa Arab memiliki keistimewaan dan kelebihan. Pada artikel ini, penulis bertujuan untuk mencari jawaban terkait konteks tradisi-budaya sastra di masa kelahiran dan pertumbuhan Nabi Muhammad saw berikut faktor yang membentuk bahasa dan gaya hadits berdasarkan asumsi bahwa konsep al-ta`atstsur wa al-ta`tsīr berlaku untuk setiap manusia. Penulis melakukan analisis terhadap data penelitian dengan menggunakan metode deskriptif-analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks tradisi-budaya sastra Arab sudah mengalami kemajuan di masa kelahiran dan pertumbuhan Nabi saw. Selain itu, terdapat faktor-faktor utama dan pendukung dalam pembentukan bahasa hadits. Wahyu Alquran dan Jawāmi 'al-kalim merupakan faktor utama dalam membentuk bahasa hadits. Sedangkan konteks kemajuan tradisi-budaya sastra Arab menjadi faktor pendukung dan merupakan bentuk sunatullah yang diterapkan dalam kehidupan manusia.[The Contexts of The Prophet’s Life: Reading the Factors Behind the Excellence of the Hadith Language. Through the teachings contained in the Quran and hadith, Islam has influenced the traditions and cultures in Arab society. The hadith, the sayings of the Prophet Muhammad (PBUH), were viewed by Arab linguists as having specialties and advantages. In this article, the authors aim to find the context of literary traditions during the birth and growth of the Prophet Muhammad (PBUH) and the factors that shape the language and style of hadith based on the assumption that the concept of al-ta`atstsur wa al-ta`tsīr applies to every human being. The authors analyzed the research data using descriptive-analytic methods. The results showed that the context of Arabic literary cultures had progressed at the time of the Prophet's birth and growth. Besides, there are major and supporting factors in the formation of hadith language. The revelation of the Quran and Jawāmiʿ al-kalim are the major factors in shaping the language of hadith. Meanwhile, the contexts of literary progress in Arabic society are supporting factors and are forms of sunatullah that are applied in human life.]
Implementasi Teori Common Link dan Projecting Back dan Implikasinya terhadap Otentisitas Hadis
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.2539

Abstract

Salah satu teori kritik hadis yang dikembangkan oleh kaum orientalis yang sangat terkenal hingga saat ini adalah Teori Common Link (CL) dan Projecting Back. Teori Projecting Back merupakan sebuah teori yang diajukan Schacht tentang adanya rekonstruksi sanad yang dilakukan generasi tabi’ al-tabi’in yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat kepada tokoh-tokoh di belakang hingga sampai kepada Nabi saw. Sedangkan Teori Common link (CL) merupakan teori yang menganggap bahwa rawi tertua dalam jaringan isnad merupakan tokoh sumber penyebaran jalur-jalur periwayatan yang ada dan rawi tersebut bukan merupakan figur abad pertama hijriyah. Menurut Schacht, keberadaan CL dalam rantai periwayatan mengindikasikan bahwa hadis itu berasal dari masa tokoh tersebut. Kedua teori itu merupakan metode kritik hadis yang membantah historisitas dan otentisitas hadis yang diajukan Schacht dan dikembangkan oleh Juynboll berdasarkan prinsip tidak diterimanya klaim kesejarahan jalur periwayatan tunggal (single strand), yaitu jalur tunggal dari CL ke periwayat termuda (kolektor) maupun jalur tunggal dari CL ke Nabi. AbstractOne of the theories of criticism of hadith developed by orientalists which is very famous until today is the theory of Common Link (CL) and the theory of Projecting Back. The Projecting Back Theory is a theory by Schacht that proposes on the reconstruction of sanad by the tabi 'al-tabi'in generation by projecting the opinions to the figures in the back up and then to the Prophet. While the Theory of Common Link (CL) is a theory which assumes that the oldest rawi in isnad chains is the source of the spread of narrative pathways that existed and the rawi is not a figure of the first century hijriyah. According to Schacht, the existence of CL in the chain of transmission indicates that the hadith was originated from that period. Both theories are methods of hadith criticism by Schacht which deny the historicity and authenticity of hadith and then developed further by Juynboll based on the principle of non-acceptance of historical claim through the single strand, namely the single path from CL to the youngest narrator (collector) or the single path of the CL to the Prophet.Keywords: authenticity, hadith, common link, projecting back
Epistemologi Hadis (Kajian Tingkat Validitas Hadis Dalam Tradisi Ulama Hanafi)
RIWAYAH Vol 2, No 1 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i1.2035

Abstract

Artikel ini mengelaborasi secara mendalam tentang epistemologi hadis dalam presepektif ulama Hanafi, menelusuri tentang kebenaran informasi masa lalu, menelusuri tentang klasifikasi kebenaran hadis dalam tingkatan kebenaran dari yang paling valid ke tingkat kebenaran yang paling rendah.Penelitian ini secara khusus membandingkan tingkatan kebenaran dalam pendapat para ulama Hanafi. Ulama Hanafi membagi tingkat kebenaran dalam tiga klasifikasi; kebenaran yang sifatnya ilmu al yaqin yaitu kebenaran mutawatir sehingga hadis yang memenuhi kriteria ini disebut hadis mutawatir. kebenaran yang membawa tuma’ninatul qulb, sehingga hadis yang memenuhi kriteria ini disebut hadis masyhur. dan kebenaran yang bisa saja salah atau benar sehingga hadis yang memenuhi kriteria ini disebut dengan hadis ahad.
Pergulatan Hadis di Era Modern
RIWAYAH Vol 3, No 2 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i2.3720

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang Pergulatan Hadis di Era Modern. Melacak akar-akar pemikiran para modernis tentang eksistensi sunnah/ hadis Nabi. Bahwa faktanya hadis itu muncul dari Nabi Muhammad yang secara de facto merupakan penyambung lidah wahyu yang diturunkan oleh Allah swt untuk disampaikan kepada umatnya. Tulisan ini dengan menggunakan metode konten analisis,  berusaha mengungkapkan fakta historis sunnah/hadis yang menjadi permasalahan di era modern, di antaranya yaitu tentang persoalan otoritas Nabi dan otentisitas hadis. Hasilnya adalah bahwa dalam literatur klasik  kedudukan nabi Muhammad sebagai messanger/ utusan itu tidak bisa dipisah-pisahkan dari perannya sebagai seorang Nabi sekaligus perannya ditengah-tengah kehidupan sosial yang lainnya. Maka dalam berbagai perannya ulama’ klasik memahaminya sebagai satu kesatuan, tidak ada pembagian dan pembedaan secara dikotomis. Hal ini berbeda dengan cara pandang para modernis yang lebih bersifat kritis dalam melihat kedudukan Nabi Muhammad. Sehingga apa yang datang dari Nabi Muhammad tidak selalu dimaknai sebagai doktrin yang harus atau wajib dilaksanakan sebagai bagian dari ajaran agama. 
PENDEKATAN MUBĀDALAH PERSPEKTIF FAQIHUDDIN ABDUL KODIR DALAM PEMAKNAAN HADIS KEPEMIMPINAN PEREMPUAN Zakiyah, Zaimatuz; Arifin, Zainal
RIWAYAH Vol 7, No 2 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i2.10172

Abstract

Interpretasi teks-teks keagamaan yang diyakini bias gender berimplikasi pada subordinasi dan marginalisasi perempuan dalam berbagai ranah kehidupan. Oleh karena itu, reinterpretasi mutlak diperlukan untuk memulihkan kesenjangan yang ada antara laki-laki dan perempuan. Kajian ini bertujuan memaparkan konsep dasar pendekatan mubādalah dalam perspektif Faqihuddin Abdul Kodir dan mengimplemetasikan pendekatan mubādalah dalam menginterpretasikan hadis kepemimpinan perempuan. Metode yang digunakan adalah penelitian studi literatur menggunakan teknik deskriptif-analitik. Sumber utama dari studi ini adalah buku Qirā’ah Mubādalah, sedangkan sumber sekundernya adalah karya-karya ilmiah yang berkaitan dengan kajian. Hasil studi ini menunjukkan bahwa Faqihuddin Abdul Kodir adalah seorang mufassir feminis asal Indonesia, konsep mubādalah yang ia tawarkan melahirkan relasi ketersalingan yang adil terhadap laki-laki dan perempuan, termasuk dalam diskursus kepemimpinan perempuan, baik dalam ibadah maupun sosial-politik. Meskipun mayoritas ulama melarang perempuan menjadi pemimpin dalam shalat, namun keyakinan tersebut tidak berlaku dalam ranah sosial-politik karena berdasarkan perspektif mubādalah, kepemimpinan tidak didasarkan pada jenis kelamin, melainkan dapat diemban bagi mereka yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk memimpin, sehingga laki-laki dan perempuan dapat bekerjasama dalam menciptakan kemaslahatan di muka bumi.[Mubādala Approach in the Perspective of Faqihuddin Abdul Kodir on the Meaning of Women's Leadership Hadith. The interpretation of religious texts which is believed to be gender-biased has implications for the subordination and marginalization of women in various spheres of life. Therefore, reinterpretation is necessary to restore the existing gap between men and women. This study aims to explain the basic concepts of the mubādalah approach in Faqihuddin Abdul Kodir’s perspective and to implement the mubadalah approach in interpreting the hadiths of women's leadership. The method used is a literature study research using descriptive-analytic techniques. The main source of this study is the book Qirā’at Mubādala, while the secondary sources are scientific works related to studies. The results of this study indicate that Faqihuddin Abdul Kodir is a feminist exegete from Indonesia, the concept of mubadalah that he offers creates a fair relationship of alienation towards men and women, including in the discourse of women's leadership, both in worship and socio-politics. The majority of scholars prohibit women from becoming prayer leaders, but this belief does not apply in the socio-political realm because based on the perspective of mubādala, leadership is not based on gender, but can be carried out by those who have the capacity and ability to lead, so that they can work together in creating benefit on earth.]
Perbedaan antara Hadis Mudallas dan Mursal Zulham Qudsy Farizal Alam
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1811

Abstract

Ilmu hadist adalah ilmu tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui kondisi sanad dan matan. Hadis ataupun sunnah Rasul merupakan pedoman dan tuntunan bagi umat islam setelah Al-quran. Rasulullah juga memberi motivasi bagi umatnya untuk mendengar dan meriwayatkan hadits. Hadist yang dapat dijadikan hujjah adalah hadist yang memenuhi persyaratan shohih yang meliputi memiliki sanad hingga kepada Nabi saw, rawinya ‘adil dan dhabith, tidak mengandung syadz, dan tidak ada illah.Namun yang jadi permasalahan adalah ternyata disana banyak sekali hadits-hadits dha’if yang tidak bisa dijadikan hujjah. Kedhoifan hadits disebabkan oleh berbagai macam sebab, diantaranya adalah cacat dalam sanadnya. Hadits yang mengalami cacat sanad terbagi dalam lima macam yaitu hadits Mu’dlol, Munqathi, Mu’allaq, Mursal dan Mudalas. Jenis hadits mursal dan mudalaslah yang akan dibahas dalam artikel ini. Diharapkan dengan mengetahui ciri dan sifat dari hadits dhoif karena cacat sanadnya tersebut dapat membantu dalam penyeleksian hadits yang memang layak digunakan sebagai hujjah.
PERSPEKTIF ORIENTALIS DALAM MENGKAJI HADITS DAN BANTAHAN KAUM MUSLIM: Perspektif Ignaz Goldziher, Joseph Franz Schacht dan Mustafa Azami Anusantari, Inama
RIWAYAH Vol 6, No 1 (2020): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v6i1.6749

Abstract

Dalam sejarah dunia khususnya Islam telah banyak dihasilkan penelitian tentang orientalisme, bahkan dalam perkembangan pemikiran saat ini tema orientalisme semakin relevan untuk diangkat kembali. Karena pada zaman sekarang semakin berkembang dengan mengadopsi pandangan. Kerangka kerja dan kritik orientalis tentang Islam menjadi trend dikangan cendikiawan Muslim. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui perspektif tokoh-tokoh orientalis yaitu Ignaz Goldziher dan Joseph Franz Schacht dalam mengkaji hadits dan bantahan kaum Muslim atas pandangan tokoh orientalis. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah Library Research yang bersifat kualitatif. Dengan teknik analisis data deduktif. Hasil dari tulisan ini adalah Ignaz Goldziher secara garis besar meragukan keorisinilan dan keontetitasan hadits. Sedangkan Joseph Franz Schacht menunjukkan sikap skeptis terhadap bentuk-bentuk kritik periwayatan hadits. Sehingga baik Goldziher maupun Shcacht sama-sama mengkaji hadits dengan landasan pemikiran mentah-mentah. Namun Pendapat dan teori-teori yang dikemukakan oleh Schacht disanggah dengan jenius oleh Mustafa Azami, dengan mematahkan satu-persatu teori yang dikemukakan oleh Schacht dalam mengkritik hadits.
ANALISIS KITAB RUJUKAN HADIS YANG DIGUNAKAN DALAM KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALLIM OLEH SHAYKH AL-ZARNUJI bin Kirin, Arwansyah; Masruri, Muhammad; bin Husen Ismail, Faisal; Marpuah, Siti
RIWAYAH Vol 7, No 1 (2021): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v7i1.10735

Abstract

Kitab Ta’lim al-Muta’alim yang dikarang oleh shaykh al-Zarnuji merupakan kitab klasik yang berisikan adab atau etika belajar dan mengajar antara guru dengan murid. Kitab ini cukup terkenal di Nusantara khususnya Indonesia, karena ia banyak dipelejari bahkan dijadikan rujukan di pondok-pondok pesantren sama ada yang klasik mahupun moden hingga ke hari ini. Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab ini dirujuk dari pelbagai kitab sumber hadis. Namun sumber rujukan bagi kitab Ta’lim al-Muta’allim belum diterokai secara sistematik. Justeru kajian ini menerokai serta menganalisis sumber rujukan yang terdapat dalam kitab tersebut. Metodologi kajian ini adalah kualitatif melalui kaedah kepustakaan dan reka bentuk analisis kandungan kitab Ta’lim al-Muta’allim. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap 40 hadis dan 108 riwayat, didapati 23 kitab yang diguna pakai oleh Shaykh al-Zarnuji dalam karyanya Ta’lim al-Muta’allim mulai dari kitab-kitab yang berisikan hadis-hadis Sahih sampailah kitab yang mengandungi hadis Da’if dan Mawdu’. Oleh itu, analisis tematik ini amat penting dilakukan agar dapat dikenal pasti kitab sumber hadis yang digunakan oleh Shaykh al-Zarnuji dalam karyanya Ta’lim al-Muta’allim.[Analysis of Hadith References Used in The Book Ta'lim Al-Muta'allim by Shaykh al-Zarnuji. The book of Ta'lim al-Muta'allim written by shaykh al-Zarnuji is a classic book which contains manners or ethics of learning and teaching between the teachers and students. This book is well-known in the archipelago, especially in Indonesia since it has been studied a lot and has even been used as a reference in Islamic boarding schools as well as classical and modern ones nowadays. The hadiths contained in this book are referred from various sources of hadith. However, the source of reference for the book of Ta'lim al-Muta'allim has not been recorded systematically. In fact, this study explores and analyzes the reference sources contained in the book. The methodology of this study is qualitative through literary principles and design forms of analysis of the content of the book Ta'lim al-Muta'allim. Based on the analysis carried out on 40 hadiths and 108 narrations, it was found that 23 books used by Shaykh al-Zarnuji in his Ta'lim al-Muta'allim started from books containing Sahih hadiths until the book containing the hadiths of Da ' if and Mawdu '. Therefore, this thematic analysis is very important to ensure that the source book of the hadiths used by Shaykh al-Zarnuji can be identified in his work Ta'lim al-Muta'allim.]
AMALAN ZIKIR NIHADHUL MUSTAGFIRIN: Studi Living Hadis di Yayasan Miftahurrahman Mindahan Kidul Batealit Jepara Nafisah, Lailiyatun; Shofaussamawati, Shofaussamawati
RIWAYAH Vol 5, No 2 (2019): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v5i2.5013

Abstract

Artikel ini bertujuan meneliti praktik serta pemaknaan dari pembacaan Zikir Nihadul Mustagfirin di Yayasan Miftahurrahman Mindahan Kidul Batealit Jepara dalam perspektif living hadis. Penulis menggunakan metode dan pendekatan kualitatif dengan pisau analisis teori sosial Karl Mannheim mengenai tindakan manusia dibentuk oleh dua dimensi, yakni perilaku (behavior) dan makna (meaning). Karl Mannheim menawarkan dan membedakan antara tiga macam makna yang terdapat dalam tindakan sosial, yakni: makna objektif, makna ekspresif dan makna documenter. Hasil penulisan menunjukkan bahwa 1) Zikir ini merupakan perilaku yang dilakukan sebagai bentuk pemahaman terhadap hadis Nabi dan memiliki makna. 2) Makna dari Zikir Nihadul Mustagfirin berdasarkan pada teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim adalah Pertama, makna objektif dzikir tersebut merupakan bentuk kepatuhan terhadap kyai yang Kedua, Makna ekspresif bahwa zikir tersebut bertujuan untuk media doa dalam memperlancar hajat, mendekatkan diri kepada Allah, penenang jiwa, ilmu, silaturrahim dan menghindari hal yang tidak bermanfaat. Ketiga, makna dokumenter yakni ZikirNihadul Mustagfirin secara sadar atau tidak sadar merupakan bentuk rutinitas dari masyarakat Yayasan Miftahurrahman.
Pemikiran Al-Qardhawi Tentang Metode Memahami Hadis dengan Membedakan Antara Sarana yang Berubah dan Tujuan yang Tetap dalam Hadis
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1225

Abstract

This article describes the thinking of al-Qaradhawi on methods to understand the hadith to distinguish between means and goals remain unchanged in the hadith. This article begins the biography setting of al-Qaradhawi. Al-Qaradhawi has the full name of Abdullah Yusuf al-Qaradhawi. Saft} Tura>b is the birthplace of al-Qaradhawi, a small village which is one of the beautiful villages of Egypt contained in Gharbiyah province, its capital is Tanta. The work of al-Qaradhawi’s “Kaifa Nata’a> mal ma’a al-Sunnah al-Nabawiyya” is a magnum opus in the study of hadith. In this work, al-Qaradhawi sparked about the various methods and principles to understand the traditions of the Prophet with a proper understanding. Hadith as an interpretation of the Qur’an in the practice or application of Islamic teachings in a factual and ideal, has a way of a comprehensive, balanced and facilitating (taisi>r). In the end, this article specifically describes methods of al-Qaradhawi, and their application in examples of hadith of the Prophet. The purpose of writing this article is to understand the tradition, should be able to distinguish between means and goals or objectives. Most errors are usually considered. That is what should be the purpose of our guidance is not a means, which can be changed at any time.

Page 9 of 20 | Total Record : 200