cover
Contact Name
Acep Aripudin
Contact Email
staialfalah19@gmail.com
Phone
+6222-7948748
Journal Mail Official
staialfalah19@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kapten Sangun No.6, Panenjoan, Bandung, Jawa Barat 40395
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS)
ISSN : 00000000     EISSN : 27155374     DOI : -
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) menerima dan mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dengan tema kajian keislaman pendekatan sejarah, sosial, budaya, pendidikan, sains, politik dan ekonomi dan kajian Quran. AJIQS menerapkan sistem Double Blind Peer Review dan diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Falah Cicalengka Bandung dua kali terbit setiap tahunnya. Tujuan AJIQS untuk memfasilitasi dan mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah dalam bentuk artikel dari para peneliti dalam maupun luar negeri. Artikel dapat ditulis dalam bahasa Inggris, Indonesia atau Arab yang mengacu pada aturan penulisan yang dijadikan pijakan AJIQS.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid" : 6 Documents clear
The Ethics of Artificial Intelligence (AI) Utilization in Qur'anic Studies: An Islamic Philosophical Perspective Zuhri, M. Tajudin; Sahlani, Lalan; Munawaroh, Nenden
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/b6hexr21

Abstract

Artificial Intelligence (AI) has presented a major breakthrough in Qur'anic studies, enabling text analysis, thematic classification, and the development of digital commentaries. These innovations provide opportunities to expand accessibility and improve the accuracy of Qur'anic analysis. However, AI also poses ethical challenges, including the potential for algorithmic bias, distortion of meaning, and threats to Islamic scholarly authority. From an Islamic perspective, these challenges require a clear ethical framework so that the utilization of AI does not conflict with Qur'anic values.             This research aims to identify Islamic ethical principles relevant to the use of AI in Qur'anic studies and develop a philosophical framework based on maqashid sharia. The methodology used is library research with a content analysis approach to classical and modern Islamic literature on ethics, Islamic philosophy, and maqashid sharia. The results show that principles such as justice (al-'adl wa al-ihsan), expediency (maslahah), and prudence (wara') should be the main guides in any application of AI in the Qur'anic context. In addition, maqashid sharia provides an evaluation framework to ensure that AI applications support the main objectives of sharia, such as safeguarding religion (hifdh ad-din) and reason (hifdh al-'aql).             The conclusion of this study confirms that the ethical use of AI in Qur'anic studies requires an integration of technological innovation and Qur'anic values. With the application of strong Islamic ethical principles, AI can be effectively used to support Qur'anic understanding, without compromising the integrity of the text and scholarly authority. This study offers a contribution to the development of comprehensive ethical guidelines to bridge technological advancement with the spiritual and scholarly needs of Muslims. Keyword: Artificial Intelligence (AI), Qur'anic Studies, Philosophical Islam   Etika Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Studi Al-Qur'an: Perspektif Filosofis Islam Abstrak Artificial Intelligence (AI) telah menghadirkan terobosan besar dalam studi Al-Qur'an, memungkinkan analisis teks, klasifikasi tematik, hingga pengembangan tafsir digital. Inovasi ini memberikan peluang untuk memperluas aksesibilitas dan meningkatkan akurasi analisis Qur'ani. Namun, kehadiran AI juga memunculkan tantangan etis, termasuk potensi bias algoritma, distorsi makna, hingga ancaman terhadap otoritas keilmuan Islam. Dari perspektif Islam, tantangan ini memerlukan kerangka etika yang jelas agar pemanfaatan AI tidak bertentangan dengan nilai-nilai Qur'ani. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip etika Islam yang relevan dengan penggunaan AI dalam studi Al-Qur'an serta mengembangkan kerangka filosofis berbasis maqashid syariah. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan analisis konten terhadap literatur Islam klasik dan modern tentang etika, filsafat Islam, dan maqashid syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip seperti keadilan (al-‘adl wa al-ihsan), kemanfaatan (maslahah), dan kehati-hatian (wara') harus menjadi panduan utama dalam setiap penerapan AI dalam konteks Qur'ani. Selain itu, maqashid syariah memberikan kerangka evaluasi untuk memastikan bahwa aplikasi AI mendukung tujuan utama syariah, seperti menjaga agama (hifdh ad-din) dan akal (hifdh al-‘aql). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa etika pemanfaatan AI dalam studi Al-Qur'an memerlukan keterpaduan antara inovasi teknologi dan nilai-nilai Qur'ani. Dengan penerapan prinsip etika Islam yang kuat, AI dapat digunakan secara efektif untuk mendukung pemahaman Al-Qur'an, tanpa mengorbankan integritas teks dan otoritas keilmuan. Studi ini menawarkan kontribusi bagi pengembangan panduan etika yang komprehensif untuk menjembatani kemajuan teknologi dengan kebutuhan spiritual dan keilmuan umat Islam. Keyword : Artificial Intelligence (AI), Studi Al-Qur'an, Filosofis Islam
Interfaith Communication on Social Media: Content Analysis Log In, Eps 30 “Tolerance, We Make History” Hidayah, Childa Tanzilul
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/ehtw1z47

Abstract

This study examines the representation of interfaith communication in social media content through an analysis of the Log In program episode 30 entitled "Tolerance, We Print History". As one of the contents that discusses the issue of religious tolerance on digital platforms, this episode is an important object of study to understand how dialogue and interaction between religious communities are constructed and conveyed through social media. Using a qualitative content analysis method, this study aims to identify communication patterns, narratives, and tolerance values built in the episode. The analysis was carried out by paying attention to three main aspects: (1) the way to convey the message of interfaith tolerance, (2) the representation of interfaith dialogue, and (3) the framing strategy of sensitive issues related to religion. The results of the study show that Log In episode 30 succeeded in building a narrative of tolerance through a storytelling approach that presents real stories about harmony between religious communities. This program is also effective in presenting constructive dialogue involving perspectives from various religions, while maintaining the sensitivity of religious issues. Other important findings are the use of inclusive language and visuals, as well as messaging strategies that prioritize universal human values. This research contributes to the understanding of how social media content can play a role in building positive interfaith communication and supporting the creation of religious tolerance in the digital era. Keywords: interfaith communication, content analysis, Log In, religious tolerance, social media, interfaith dialogue   Abstrak Penelitian ini mengkaji representasi komunikasi antar agama dalam konten media sosial melalui analisis terhadap program Log In episode 30 yang bertajuk “Toleransi, Kita Cetak Sejarah”. Sebagai salah satu konten yang membahas isu toleransi beragama di platform digital, episode ini menjadi objek kajian penting untuk memahami bagaimana dialog dan interaksi antarumat beragama dikonstruksi dan disampaikan melalui media sosial. Menggunakan metode analisis konten kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola-pola komunikasi, narasi, dan nilai-nilai toleransi yang dibangun dalam episode tersebut. Analisis dilakukan dengan memperhatikan tiga aspek utama: (1) cara penyampaian pesan toleransi antar agama, (2) representasi dialog antariman, dan (3) strategi pembingkaian isu sensitif terkait keagamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Log In episode 30 berhasil membangun narasi toleransi melalui pendekatan storytelling yang menghadirkan kisah-kisah nyata tentang harmoni antarumat beragama. Program ini juga efektif dalam menyajikan dialog konstruktif yang melibatkan perspektif dari berbagai agama, sambil tetap menjaga sensitivitas isu keagamaan. Temuan penting lainnya adalah penggunaan bahasa dan visual yang inklusif, serta strategi penyampaian pesan yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan universal. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman tentang bagaimana konten media sosial dapat berperan dalam membangun komunikasi antar agama yang positif dan mendukung terciptanya toleransi beragama di era digital. Kata Kunci: komunikasi antar agama, analisis konten, Log In, toleransi beragama, media sosial, dialog antariman
Examining the Concept of Gratification in the Qur'an: Gone Theory Analysis of Bribery, Gifts, and Official Integrity Fajar, Muhamad
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/0jsgsm49

Abstract

Korupsi merupakan tantangan signifikan bagi negara Indonesia dengan Indeks Persepsi Korupsi menunjukkan penurunan dari skor 40 pada 2019 menjadi 34 pada 2023. Praktik korupsi, termasuk gratifikasi, suap, dan pemberian hadiah yang tidak etis merusak integritas pejabat dan kepercayaan publik. Agama mengambil peran sebagai society control termasuk dalam menekan angka korupsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep gratifikasi dalam literatur Islam, khususnya terkait dengan suap, hadiah, dan integritas pejabat, serta menganalisisnya melalui kerangka Gone Theory. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif dan studi pustaka. Data dikumpulkan melalui telaah literatur dari kitab-kitab klasik dan kontemporer yang membahas gratifikasi dan integritas dalam Islam, serta analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an dan berbagai literatur Islam tindakan gratifikasi dikenal dengan konsep ghulul dan risywah karena dianggap sebagai bentuk pengambilan harta yang tidak sah dan bertentangan dengan prinsip keadilan. Terdapat enam unsur pada konsep ini yang membedakan perilaku gratifikasi dengan pemberian hadiah pada umumnya yaitu penerima gratifikasi (pekerja atau pejabat publik), pemberi gratifikasi (pihak lain), objek gratifikasi (hadiah atau pemberian), tujuan atau niat, pengelolaan dan transparansi serta konflik kepentingan. Melalui teori Gone konsep ghulul dan risywah empat faktor utama gratifikasi yakni Greed (Keserakahan), Opportunity (Kesempatan), Needs (Kebutuhan), dan Exposures (Pengungkapan). Integritas pejabat dalam Islam didasarkan pada nilai-nilai moral-spiritual yang kuat dan diinternalisasi dengan baik dapat menjadi alat efektif dalam mencegah dan memberantas praktik gratifikasi dan korupsi secara umum. Kata Kunci: Gratifikasi, Islam, GONE
Religious Mission in the Indonesian Context between the Pull of Humanism and Ideology Rohmanudin, Deden
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/tf8has22

Abstract

Penelitian ini mengkaji isu sensitif Kristenisasi di Kecamatan Parongpong,Kabupaten Bandung Barat, serta dampaknya terhadap hubungan Islam-Kristen. Penelitian ini mengeksplorasi dinamika sosial-politik, ekonomi, dan budaya yang membentuk respons masyarakat setempat terhadap Kristenisasi, yang dipersepsikan oleh umat Islam sebagai ancaman terhadap identitas agama dan budaya mereka. Penelitian ini menemukan bahwa ketegangan antara kedua komunitas agama diperparah oleh aktivitas misionaris Kristen, khususnya yang melibatkan bantuan sosial, yang dianggap sebagai upaya konversi tersembunyi. Peran pemerintah setempat dan tokoh agama sangat penting dalam mengelola ketegangan ini, meskipun sering kali terbatas oleh regulasi yang belum jelas dansumber daya yang kurang memadai. Penelitian ini menekankan perlunya dialog antaragama yang terstruktur untuk memupuk keharmonisan jangka panjang antar komunitas. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus mendalam terhadap wilayah semi-urban Parongpong dan integrasi teori “Clash of Civilizations” dari Huntington dan teori “Mobilisasi Sumber Daya” dari Tilly untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang ketegangan agama di wilayah ini. Hasil penelitian ini menekankan pentingnya dialog antaragama yang inklusif untuk menjaga perdamaian sosial di tingkat lokal. Kata kunci: Kristenisasi, hubungan antaragama, Parongpong, ketegangan agama, dialog Islam-Kristen, mobilisasi sumber daya, Benturan Peradaban
Contestation and Reactualization of Religious Organizations in Indonesia Post 2024 Election Permana, Asep Amar
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/v3emmh19

Abstract

Masyarakat multi-kelompok pasti akan mengalami kontestasi dan reaktualisasi kelompok. Asal muasal kontestasi ini dapat ditelusuri kembali pada kesamaan kepentingan, perbedaan sudut pandang, dan keyakinan agama. Halnya dimasyarakat, Islam sendiri khususnya Indonesia memiliki beberapa kelompok organisasi keagamaan salah satunya ada Muhammadiyyah yang didirikan pada tahun 1912 dan Persatuan Islam (PERSIS) pada tahun 1923. Sebagaimana yang diketahui, bahwa ormas Muhammadiyah dan Persis keduanya tidak terlalu memiliki banyak perbedaan, sehingga kedua ormas tersebut dapat dibilang mirip. Tentunya ada beberapa upaya atau strategi yang dilakukan kedua ormas tersebut pasca pemilu 2024. Dengan demikian tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana kontestasi dan reaktualisasi ormas keagamaan (Muhammadiyah dan PERSIS) pasca pemilu 2024 khususnya pilpres. Adapun metode penelitian yang dilakukan dalam penulisan ini adalah kualitatif. Hasil penelitian pun menyatakan bahwa kontestasi dan reaktualisasi ormas keagamaan pasca pemilu 2024 adalah strategi atau upaya yang dilakukan ormas guna mencapai agenda sosial dan guna mengamalkan nilainilai sebagaimana visi dan misi yang sesuai dengan ormasnya. Muhammadiyah dan PERSIS berupaya penuh dalam menanggapi keadaan pasca pemilu 2024. Meskipun PERSIS tidak sebanyak Muhammadiyah, tapi ormas tersebut juga aktif dalam berkontestasi dan mereaktualisasi pasca pemilu 2024. Kata Kunci: Kontestasi dan Reaktualisasi, Ormas Keagamaan
Harmony of Interfaith Communication Based on Economics: Literature Review of Hindu-Muslim Collaboration in Lingsar Village, Lombok Maesaroh
Asyahid Journal of Islamic and Quranic Studies (AJIQS) Vol. 6 No. 2 (2024): Asyahid
Publisher : STAI AL-FALAH CICALENGKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62213/yjrjec58

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran komunikasi lintas agama dalam membangun harmoni ekonomi antara komunitas Hindu dan Muslim di Desa Lingsar, Lombok. Desa ini menjadi contoh nyata kolaborasi dua kelompok agama yang berbeda melalui interaksi di sektor pariwisata, perdagangan, dan kerajinan lokal. Tujuan penelitian adalah menganalisis bagaimana komunikasi lintas agama mendorong sinergi ekonomi yang saling menguntungkan serta memperkuat kohesi sosial. Pendekatan studi pustaka digunakan untuk mengeksplorasi literatur terkait komunikasi lintas agama dan kolaborasi ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang terbuka dan saling menghormati di Desa Lingsar mampu menciptakan kolaborasi ekonomi yang memperkuat hubungan antaragama. Aktivitas ekonomi bersama, seperti pengelolaan Taman Lingsar, tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi sarana mempererat toleransi dan inklusivitas sosial. Kolaborasi ini membuktikan bahwa keberagaman agama tidak menjadi penghalang, melainkan kekuatan yang mendukung pembangunan ekonomi dan sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa komunikasi lintas agama berbasis ekonomi dapat menjadi model yang efektif dalam menciptakan harmoni sosial di masyarakat majemuk. Dengan modal sosial yang terbentuk melalui kolaborasi ekonomi, masyarakat dapat membangun toleransi yang lebih kuat dan kesejahteraan yang berkelanjutan. Kata Kunci: komunikasi lintas agama, harmoni ekonomi, kolaborasi Hindu-Muslim, Taman Lingsar, Lombok.

Page 1 of 1 | Total Record : 6