cover
Contact Name
Intan Kurniawati Pramitaningrum
Contact Email
jurnalmitrakesehatan@stikesmitrakeluarga.ac.id
Phone
+6282136005597
Journal Mail Official
jurnalmitrakesehatan@stikesmitrakeluarga.ac.id
Editorial Address
STIKes Mitra Keluarga,jl pengasinan,margahayu,bekasi timur
Location
Kota bekasi,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Mitra Kesehatan
ISSN : 25803379     EISSN : 27160874     DOI : 10.47522
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Mitra Kesehatan adalah jurnal yang memuat artikel penelitian di bidang kesehatan. Fokus penelitian yang dipublikasikan terkait dengan aspek: Bidang Gizi Klinis Bidang Gizi Masyarakat Pangan dan Gizi Inovasi Pangan Hematologi Parasitologi Biokimia Laboratorium Kesehatan Teknologi Laboratorium Farmakologi Farmasi Keperawatan Jiwa Keperawatan Anak Keperawatan Maternitas Keperawatan Medikal Bedah Keperawatan Keluarga Keperawatan Komunitas Jurnal Mitra Kesehatan diharapkan mampu menjadi media publikasi hasil penelitian bagi dosen dan mahasiswa yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas terutama dalam bidang kesehatan. Jurnal Mitra Kesehatan diterbitkan 2 kali dalam setahun (bulan juni dan Desember)
Articles 196 Documents
ASUPAN ZAT GIZI DAN HUBUNGANNYA DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI Nuryani Nuryani
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2018): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i1.11

Abstract

Pendahuluan: Remaja merupakan kelompok rentang mengalami permasalahan gizi yang berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status gizi dan asupan zat gizi pada remaja putri. Metode: Jenis penelitian adalah cross sectional study dengan jumlah sampel 50 remaja yang dilakukan secara accidental sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan indeks massa tubuh 22,39 ± 4,46 dan lingkar lengan atas 26,35 ± 3,51 cm, terdapat 20% remaja mengalami kekurangan energy kronik dan 20% obesitas. Gambaran asupan zat gizi menunjukkan asupan vitamin C 3,87 ± 8,10 mg (96% kurang), vitamin E 1,22 ± 0,89 mg, zat besi 3,59 ± 2,84 mg, seng 1,22 ± 1,15 mg (100% kurang) sementara asupan kalsium 172,93 ± 302,02 mg (98% kurang). Kesimpulan: Analisis bivariate menunjukkan tidak terdapat hubungan antara asupan zat gizi dengan status gizi pada remaja. Disimpulkan bahwa remaja putri masih mengkosumsi zat gizi di bawah angka kecukupan gizi yang dianjurkan.
STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN SIBOLGA SAMBAS, KOTA SIBOLGA Bibi Ahmad Chahyanto; Edwin Sovvan Aritonang; Mesa Laruska
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.12

Abstract

Pendahuluan: Masalah gizi pada anak sekolah dasar saat ini masih relatif tinggi. Salah satu cara memantau status gizi anak sekolah yaitu melalui program penjaringan peserta didik baru sekolah dasar. Studi ini bertujuan untuk menganalisis gambaran status gizi dan prevalensi kegemukan, kekurusan, dan kependekan pada siswa baru masuk sekolah dasar di Kecamatan Sibolga Sambas, Kota Sibolga. Metode: Studi potong lintang ini melibatkan 344 siswa kelas 1 yang berasal dari tujuh sekolah dasar di wilayah kerja Puskesmas Pelabuhan Sambas. Siswa dipilih menjadi responden dengan teknik total sampling menggunakan kriteria inklusi. Pengukuran tinggi dan berat badan dilakukan pada seluruh responden untuk selanjutnya indeks massa tubuh (IMT) dihitung untuk masing-masing responden. Pengumpulan data dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas yang terdiri dari ahli gizi, bidan, perawat, dan penyuluh kesehatan pada bulan Agustus hingga September 2017. Hasil: Hasil studi membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk rata-rata indeks massa tubuh dan tinggi badan antara responden laki-laki dengan perempuan. Perbedaan yang signifikan hanya ditunjukkan pada rata-rata indeks massa tubuh dan tinggi badan antara siswa yang bersekolah di sekolah negeri dan swasta. Prevalensi kegemukan, kekurusan, dan kependekan sebesar 4,94%, 15,12%, dan 3,78%. Kesimpulan: Angka prevalensi yang tersedia ini dapat menambah database status gizi anak sekolah serta dijadikan acuan dalam menentukan kebijakan dan program intervensi sensitif dan spesifik untuk mencegah peningkatan prevalensi kekurusan dan kependekan, serta menurunkan kegemukan.
IDENTIFIKASI BORAKS DAN FORMALIN PADA JAJANAN ANAK SD MALAKA JAYA JAKARTA Apriani Apriani; Intan Diah Ferna
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.13

Abstract

Pendahuluan: Boraks dan Formalin sering disalahgunakan oleh produsen nakal sebagai tambahan pengawet pada makanan jajanan seperti bakso, lontong, kerupuk dan makanan lainnya. Sebagian besar pedagang jajanan di SDN Malaka Jaya membeli bahan baku di lokasi (pasar) yang sebelumnya diketahui pernah ditemukan bahan tambahan boraks dan formalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan senyawa boraks dan formalin pada makanan yang dijual oleh pedagang jajanan anak di SD Malaka Jaya. Metode: Pengujian dilakukan secara kualitatif dengan metode uji nyala api dan perubahan warna. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 14 jenis jajanan anak. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua sampel jajanan yang diuji dengan uji nyala api menghasilkan reaksi warna api bewarna biru/merah dan pada uji perubahan warna tidak menghasilkan larutan bewarna bening. Kesimpulan: Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa penjual makanan/jajanan di SD Malaka Jaya tidak menambahkan borak dan formalin pada dagangannya.
ANALISIS BENZOIL PEROKSIDA DALAM TEPUNG TERIGU Vitri Juliana Anggraeni; Mutiara Esya Ariestika
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.14

Abstract

Pendahuluan: Benzoil peroksida merupakan senyawa organik golongan peroksida yang disalahgunakan sebagai pemutih tepung (pematang tepung).Dalam penelitian ini, analisis benzoil peroksida yang terkandung dalam tepung terigu dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri Ultraviolet. Metode: Diperoleh persamaan regresi linier y = 0,091x+0,2425 sedangkan koefisien korelasinya 0,998. Dari penelitian ini, sampel yang direaksikan dengan larutan KI dalam medium asam serta penambahan suspensi amilum menunjukkan hasil yang positif karena adanya reaksi warna merah keunguan. Hasil: Dari 6 sampel yang dianalisis, 3 sampel bermerk mengandung benzoil peroksida kurang dari 75mg/kg yaitu sampel merk A 28,88 mg/kg; sampel merk B 48,36 mg/kg dan sampel merk C 71,90 mg/kg, sedangkan 3 sampel Non Merk mengandung benzoil peroksida lebih dari 75mg/kg yaitu sampel Non Merk A 87,00 mg/kg; sampel Non Merk B 75,07 mg/kg dan sampel Non Merk C 83,52 mg/kg. Kesimpulan: Pada sampel tepung terigu bermerk kadar Benzoil peroksida kurang dari 75mg/kg, sedangkan pada sampel tepung terigu non Merk yang beredar kadar benzoil peroksida lebih dari 75mg/kg. Sehingga dapat disimpulkan sampel tepung terigu non Merk tidak memenuhi syarat.
FORMULASI PEWARNA RAMBUT DARI BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM BENTUK SEDIAAN GEL Ira Adiyati Rum; Maria Ulfha; Dolih Ghazali
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.15

Abstract

Pendahuluan: Sediaan pewarna rambut adalah kosmetika yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan warna rambut asli atau mengubah warna rambut asli menjadi warna baru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pembuatan pewarna rambut alami dari biji papaya dengan penambahan bahan pembangkit warna piragolol, juga untuk mengetahui konsentrasi ekstrak biji pepaya yang menghasilkan warna terbaik. Metode: Metode dilakukan dengan maserasi, pengujian ini dengan berbagai konsentrasi ekstrak biji papaya yaitu 3%, 5% dan 8% masing-masing dicampur dengan formula gel yang mengandung HPMC 2,5%, gliserin 6,25%, propilenglikol 15%, dmdm hidantoin 0,6% sebagai pengawet antimikroba dan piragolol 1%. Formula sediaan yang telah dihasilkan dilakukan uji stabilitas fisik meliputi pengamatan secara visual, pH, viskositas, stabilitas warna terhadap pencucian, stabilitas warna terhadap sinar matahari, uji daya sebar, dan uji biologis (iritasi). Hasil: Hasil penelitian menujukkan bahwa warna rambut yang dihasilkan dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak biji pepaya dan waktu perendaman, yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak dan semakin lama waktu perendaman akan menghasilkan warna yang semakin gelap dari pirang sampai dengan pirang kecoklatan. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak biji pepaya dapat diformulasikan sebagai pewarna rambut. Konsentrasi ekstrak biji pepaya 8% memberikan warna terbaik yaitu pirang kecoklatan, pH masih sesuai persyaratan pH gel untuk kulit yaitu 5,0-10. Viskositas mengalami perubahan turun naik, perubahan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor yang berpengaruh selama penyimpanan. Stabilitas terhadap pencucian, sinar matahari langsung, daya sebar dan tidak menimbulkan reaksi iritasi pada kulit.
ELEMEN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERHASILAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DI BPM BIDAN “B” SUKASARI SERANG BARU KABUPATEN BEKASI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2017 Anni Suciawati
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.16

Abstract

Pendahuluan: Pada faktanya tidak semua Ibu yang baru melahirkan memberikan ASI secara ekslusif kepada anak yang baru dilahirkannya, padahal hal tersebut merupakan sebuah pelaksanaan dari program Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Kegiatan pemberian ASI tersebut biasanya dilakukan pada jam pertama kehidupan bayi yang bertujuan untuk mencegah kematian di masa awal kehidupan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui elemen yang berhubungan dengan keberhasilan Inisiasi Menyususi Dini (IMD). Metode: Metode penelitian ini adalah deskripsi analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Dalam pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode kuisioner pada keseluruhan sample (total sampling), yakni 55 responden Adapun analisis data menggunakan univariate dan bivariate. Hasil: menunjukan bahwa pendidikan ibu bersalin tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD (p. Value 0,098) Pengetahuan ibu bersalin tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD (p. value 0,220). Paritas tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD dengan p. value 0,508, Dukungan keluarga tidak memiliki hubungan dengan keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini (p value 0,650,). Sedangkan, sikap bidan memiliki hubungan yang signifikan dengan keberhasilan IMD dengan (p. value sebesar 0,007) karena nilai p lebih rendah dari 0,05. Kesimpulan: Bahwa dari lima faktor yang diteliti diperoleh hasil 4 faktor tidak berhubungan signifikan dengan keberhasilan IMD. Dukungan keluarga merupakan faktor yang tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD. Sikap bidan memiliki hubungan yang signifikan dengan keberhasilan IMD. Sikap bidan yang positif berperan dalam keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini. Diharapkan Hubungan yang baik dan sikap positif dapat memudahkan bidan dalam memberikan informasi kesehatan kepada ibu bersalin.
IDENTIFIKASI PIGMEN FIKOBILIPROTEIN PADA KAPPAPHYCUS ALVAREZII DALAM PELARUT BUFFER FOSFAT DENGAN METODE FREEZE THAW CYCLE Noor Rohmah Mayasari; Karseno Karseno; Retno Setyawati
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.17

Abstract

Pendahuluan: Kappaphycus alvarezii mengandung pigmen fikobiliprotein yang terdiri dari fikoeritrin, fikosianin, dan alofikosianin. Pigmen tersebut telah banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, seperti sebagai fotosensitiser pada terapi kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut buffer fosfat dan waktu freeze thaw cycle pada jumlah fikobiliprotein dalam Kappaphycus alvarezii dan mengidentifikasi pigmen tersebut. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diuji adalah konsentrasi pelarut yang terdiri dari 4 taraf konsentrasi dan waktu freeze thaw cycles yang terdiri dari 3 taraf sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan dengan 2 kali ulangan. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi buffer fosfat dan lama freeze thaw cycle tidak berpengaruh pada jumlah pigmen fikobiliprotein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pigmen fikobiliprotein berwarna merah muda; memiliki tiga puncak absorbansi maksimal pada 565, 545; dan 498 nm dan lebih stabil pada pH 7. Kesimpulan: Identifikasi pigmen fikobiliprotein pada penelitian ini menunjukkan bahwa Fikoeritrin adalah pigmen yang paling dominan.
KEMAMPUAN MENYUSU PADA BAYI DENGAN PERSALINAN TINDAKAN Lina Herida Pinem; Yeni Iswari; Lisbeth Pardede
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.18

Abstract

Pendahuluan: Tingginya angka kejadian Sectio Caesarea tanpa indikasi, berdampak terhadap tingginya komplikasi pada ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan menyusu bayi yang lahir  dengan persalinan tindakan  di  Rumah Sakit swasta Jakarta dan Bekasi dengan menggunakan kuesioner Assessment scale of newborn sucking for breastfeeding dari UNICEF. Metode: Metode yang digunakan adalah analitik deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional untuk mengidentifikasi ada tidaknya hubungan variable independent: persalinan tindakan terhadap variable dependen: Kemampuan bayi menyusu dalam satu kali pengukuran. Sampel penelitian (70 orang) diambil dengan teknik non probability sampling jenis consecutive sampling. Hasil: Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menunjukkan nilai p:  0,19 dengan nilai a= 0,05 yang bermakna tidak ada hubungan tindakan persalinan dengan kemampuan bayi menyusu. Proporsi terbesar bayi yang memiliki kemampuan menghisap kurang (71,4%) lahir  dengan  persalinan  ekstraksi vacum, bayi yang lahir dengan induksi memiliki kemampuan menghisap lemah dan kuat setara yaitu sama-sama 50%, sedangkan bayi dengan SC mayoritas memiliki kemampuan menghisap kuat (63,2 %). Rata-rata berat badan bayi yang mengisap lemah adalah 2959,8 gram dengan standar deviasi 304,49 sedangkan rata-rata berat badan bayi yang menghisap kuat adalah 3201,1 dengan standar deviasi 337,86. Nilai p value uji t pada varian yang sama yaitu 0,03 dengan a (0,05) yang bermakna ada perbedaan signifikan rata-rata berat badan bayi yang menyusu kuat dan yang menyusu lemah. Usia ibu juga tidak berpengaruh terhadap kemampuan bayi menyusu dengan p value : 0,4 (a=0,05). Mayoritas responden dilahirkan secara SC (81,4%) dan 8,6 % permintaan sendiri tanpa indikasi medis. Kesimpulan: Data ini dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam memberikan informasi kesehatan tentang dampak persalinan SC terhadap ibu.
PERBEDAAN HASIL DETEKSI PEWARNAAN BAKTERI TAHAN ASAM DAN RAPID ANTIGEN PADA PASIEN DIAGNOSA TUBERKULOSIS PARU Farida Ariyani; Maulin Inggriani; Noor Andryan Ilsan
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.19

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis atau TB paru merupakan penyakit infeksi kronis yang sering dikaitkan dengan daerah urban, populasi yang padat dan ventilasi bangunan yang buruk. Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacteriun tuberculosis. World Health Organization (WHO) melaporkan 9 juta kasus dan 1,4 juta kematian disebabkan oleh TB. Berdasarkan data pengendalian TB tahun 2010, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai penyumbang kasus terbanyak di dunia. Diagnosa utama TB ditegakkan bedasarkan keberadaan Bakteri Tahan Asam (BTA) pada pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis memiliki kelemahan yaitu memiliki spesifisitas dan sensitivitas yang relatif rendah. Pemeriksaan terkini M.Tb Ag rapid test merupakan uji serologi yang mendeteksi antigen protein yang disekresi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pewarnaan BTA metode Ziehl Neelsen secara mikroskopis dengan M.Tb Ag rapid test pada pasien yang didiagnosa klinis TB paru. Metode: Penelitian ini menggunakan observasi cross sectional. Sampel penelitian berupa sputum dari pasien dengan klinis TB paru sebanyak 40 sampel dengan populasi pasien dengan klinis TB. Analisis data menggunakan uji hipotesis chi- square. Hasil: Data yang diperoleh dianalisis menggunakan chi-square dari hasil perhitungan didapatkan hasil yang signifikan yaitu sig 0,001 (sig <0,05). Pada penelitian ini diketahui bahwa kasus positif TB pada pasien perempuan lebih tinggi (55%) dibandingkan dengan laki-laki (45%) Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pewarnaan BTA mikroskopis dengan pemeriksaan M.Tb Ag rapid test pada pasien diagnosa klinis TB paru.
KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DAN AKSES PANGAN SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA DIABETES MELITUS TIPE 2 Nor Eka Noviani; Istiti Kandarina; Fatma Z. Nisa
Jurnal Mitra Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Mitra Kesehatan
Publisher : STIKes Mitra Keluarga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47522/jmk.v1i2.20

Abstract

Pendahuluan: Tidak tahan pangan adalah situasi ketika seseorang tidak memiliki akses secara fisik, sosial dan ekonomi untuk memenuhi pangan yang cukup, beragam, aman dan bergizi sesuai kebutuhan untuk hidup sehat dan aktif, yang selanjutnya tidak tahan pangan berhubungan dengan penyakit kronis, termasuk diabetes melitus tipe 2 (DM2). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah tidak tahan pangan dan rendahnya akses pangan merupakan faktor risiko terjadinya DM2 di Kabupaten Kulon Progo. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain kasus dan kontrol. Kasus adalah 63 penyandang DM2 yang terdaftar di 4 kecamatan di Kulon Progo. Sedangkan kontrol adalah 63 responden bukan penyandang DM2. Penentuan sampel menggunakan metode purposive dengan penyetaran umur, jenis kelamin dan tempat tinggal. Ketahanan pangan diukur dengan 10 pertanyaan di kuesioner Radimer/Cornel, sedangkan akses pangan dihitung dengan pangsa pengeluaran pangan (PPP) dari kuesioner ekonomi nasional. Variabel lain adalah pendidikan, riwayat keluarga dan pendapatan keluarga. Hasil: Sebagian responden menempuh pendidikan>9 tahun (50,79% di kelompok kasus dan 60,31% kelompok kontrol). Mereka juga memiliki penghasilan keluarga yang tinggi (>3,2 juta) di kedua kelompok (kasus=65,07;kontrol=74,60%). Riwayat keluarga positif 52,38 di kelompok kasus. Berdasarkan uji x2, riwayat keluarga memiliki hubungan yang bermakna dengan DM2 (p<0,05;OR=10,45;95%CI=3,70-33,32). Tidak tahan pangan lebih banyak terjadi pada kelompok kontrol (79,36%) daripada kasus (66,67%). Total pengeluaran pangan dan bukan pangan di kelompok kasus lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Prosentase PPP tinggi (>60%) sebanyak 84,13% di kasus dan 77,78% di kontrol. Mc Nemar menunjukkan tidak tahan pangan dan akses pangan secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Berdasarkan regresi logistik, riwayat keluarga memiliki hubungan paling kuat berkembangnya DM2 (p<0,05;OR=11,95), tidak tahan pangan memiliki nilai p=0,034 dan OR=0,37. Kesimpulan: Tidak tahan pangan dan akses pangan bukan merupakan faktor risiko DM2, akan tetapi riwayat keluarga memiliki faktor risiko timbulnya DM2 di Kulon Progo tahun 2015.

Page 6 of 20 | Total Record : 196