BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Bonafide: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen is a scientific journal that publishes some original articles in Christian theology and education. Our focus and scope are biblical studies, Christian education, contextual theology, Christian leadership, church services, practical theology, systematic theology, and sociology of religion.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 4 No 2 (2023)"
:
10 Documents
clear
MENGAJAR SECARA PROFESIONAL DISERTAI OTORITAS ILAHI DENGAN BERCERMIN PADA YESUS DAN IMPLEMENTASINYA BAGI GURU PAK MASA KINI
Hudianto, Swandriyani;
Stevanus, Kalis;
Lie-Lie, Tan
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.139
Era perkembangan pengetahuan dan teknologi sekarang ini menuntut pelayanan keguruan yang berkualitas dalam membangun hidup peserta didik sehingga guru PAK dituntut untuk terus meningkatkan bobot pengetahuan akademik dan keterampilan mengajar serta pentingnya dipenuhi Roh Kudus sebagaimana diteladankan Yesus dalam seluruh aktivitas mengajar-Nya. Kajian pustaka ini akan menguraikan tentang Pendidikan Agama Kristen dan relasinya dengan pembentukan iman dan moral Kristiani, serta landasan teologis tugas dan panggilan mengajar. Berdasarkan penyelidikan induktif pada Kitab Injil disimpulkan bahwa aktivitas mengajar Yesus Kristus dapat dijadikan model dan teladan bagi guru Kristen maupun guru Pendidikan Agama Kristen masa kini. Ia mengajar secara profesional dengan berbagai metode dan pendekatan kreatif, variatif dan kontekstual dengan pendengar-Nya guna mencapai hasil belajar secara holistik, baik aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ia mengajar dengan penuh otoritas Ilahi dan berwibawa. Hidup-Nya sesuai dengan ajaran-Nya.
IMPLIKASI PERAN YESUS BAGI GURU PENGGERAK DAN MERDEKA BELAJAR
Sastri Rukua, Ivo;
Kalprianus Ismail, Jeffrit;
Karlau, Sensius Amon
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.146
Penelitian ini bertujuan mengetengahkan mengenai guru penggerak dan merdeka belajar sebagai model pendidikan yang dicetuskan Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk membenahi kualitas pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan. Metode kualitatif dan studi kepustakaan digunakan untuk menginventarisasi berbagai sumber seperti buku dan jurnal. Kemudian, data-data yang diperoleh dan terkait dengan guru penggerak, peran Yesus, merdeka belajar dan era industri 4.0 dianalisis secara mendalam. Dalam pada itu, ditemukan kesan bahwa semantik guru penggerak dan merdeka belajar telah dilakukan Yesus. Bahkan, sebagai Guru Agung dengan sebutan Rabbi, Ia adalah Guru yang membebaskan secara fisik, psikologi maupun spiritual. Maka disimpulkan bahwa konsep dan kebijakan pendidikan sebaiknya teraktualisasi melalui implikasi peran Yesus sebagai inisiator, inovator, fasilitator, motivator dan komunikator yang efektif serta berorientasi pada guru penggerak dan merdeka belajar pada era industri 4.0.
MENINJAU ULANG KEJADIAN 22:1-19: BENARKAH ALLAH MENGIZINKAN KEKERASAN PADA ANAK?
Siburian, Carel Hot Asi
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.151
The different images of God in the Old Testament and New Testaments have long been scrutinised. This has resulted in the assertion that the God of the Old Testament favours evil, genocide, murder, etc., whereas the God of the New Testament (in the form of Jesus) is a loving and forgiving God. This article aims to show that God basically does not allow violence against [creation], in this case children, despite the many texts in the Old Testament (one of which is the sacrifice of Isaac) that have this connotation. The findings of this article also vary, ranging from the finding that there is a possibility that the story of Isaac's sacrifice did not happen historically to Abraham's belief that Isaac would still be the son God promised him, so he did not hesitate to sacrifice Isaac. Some [further] findings are also presented in this article, such as the finding of God's tendency to avoid Abraham and Isaac when delivering sacrifices, the possibility that God misused his authority, to the opening of further discussion about how Abraham and Isaac's relationship after they returned home. All of this is presented to show that reading just one text and concluding that God is an evil God is a wrong approach to reading.
PSIKO-HOMILETIKA: MEMBANGUN KEPERCAYAAN DIRI MAHASISWA TEOLOGI DALAM BERKHOTBAH
Markes, Karlitu Dias;
Wijaya, Hengky
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.167
Penelitian ini didasarkan pada tinjauan psiko-Homiletik untuk menghasilkan sebuah formulasi pembelajaran homiletik yang bermuara pada terbangunnya kepercayaan diri bagi mahasiswa sebagai pengkhotbah pemula dengan pendekatan psikologis. Konsep ini didasarkan pada sebuah kerangka berfikir bahwa tujuan utama dari pembelajaran Homiletik mencakup kemampuan teoritis mahasiswa untuk memahami prinsip-prinsip menyusun materi khotbah yang berlandaskan firman Tuhan serta mampu untuk menyajikan materi tersebut dengan penuh kepercayaan diri, yang pada akhirnya mewujudkan sebuah khotbah yang efektif dan berkualitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan Literatur review yakni elaborasi beberapa literatur yang berhubungan dengan pokok kajian tentang konsep Homiletik dan Kepercayaan diri dalam berkhotbah. Hasilnya ialah ditemukannya sebuah rumusan psiko-homiletik yang mencakup aspek spiritual, psikis, dan fisik yang secara simultan membangun kepercayaan diri seseorang dalam berkhotbah.
NILAI EMPATI DALAM LUKAS 10:25-37 DAN SIGNIFIKANSINYA UNTUK ORANG YANG MENGALAMI GANGGUAN KESEHATAN MENTAL
Esterina Londo, Elsye
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.178
Penelitian ini mengkaji peran empati dalam konteks kesehatan mental, khususnya melalui lensa Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati dalam Lukas 10:25-37. Dengan meningkatnya kasus depresi dan gangguan kesehatan mental di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara, penelitian ini menyoroti pentingnya dukungan sosial dan kepedulian lingkungan terhadap individu dengan gangguan kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk menganalisis data dari berbagai literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empati yang ditunjukkan oleh orang Samaria dalam perumpamaan tersebut merupakan contoh kasih yang nyata dan universal, yang melampaui batas-batas perbedaan sosial dan identitas. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab untuk terlibat secara praktis dalam pergumulan kesehatan mental jemaatnya, dengan menunjukkan kasih dan empati yang konkret. Hal ini sejalan dengan ajaran gereja tentang kasih yang harus diwujudnyatakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
HAGAR YANG TERTINDAS: ANALISIS RELASI-KUASA DALAM KEJADIAN 16:1-16
Muryati, Muryati
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.181
Dasar terbentuknya relasi antara atasan dan bawahan adalah saling membutuhkan satu sama lain. Hal ini akan menciptakan iklim keharmonisan antara keduanya, jauh dari konflik. Namun, faktanya ditemukan konflik antara atasan dan bawahan yang menyebabkan kekerasan yang dilakukan atasan/majikan terhadap bawahannya. Hal ini memperlihatkan bahwa relasi adalah aspek dari kekuasaan. Kasus ini menimpa Hagar yang terekam dalam Kejadian 16:1-16. Hagar yang berstatus hamba mendapat tindak kekerasan yang dilakukan oleh majikannya yaitu Sarai. Sikap Hagar yang meremehkan Sarai karena ia mengandung memantik terjadinya kekerasan tersebut. Sarai yang tersakiti dan menderita, menggunakan otoritasnya untuk menindas Hagar. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan relasi-kuasa dengan kekerasan yang dialami oleh Hagar di Kejadian 16:1-16. Metode yang digunakan adalah kualitatif berbasis studi pustaka murni dengan pendekatan sosial-kultur. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa penyalahgunaan kekuasaan yang berdampak kekerasan pada Hagar dipicu oleh kultur yang berlaku saat itu dan emosi Sarai atas penghinaan Hagar.
KONTEKSTUALISASI PENGGUNAAN CAMPURSARI DALAM IBADAH GEREJAWI : STUDI KASUS GKJ KENALAN MAGELANG
Purnomo, Andreas Kurniawan;
Willyam, Verry
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.191
Musik telah digunakan dalam ibadah sejak awal kemunculan ibadah itu sendiri. Melalui musik, manusia mengekspresikan perasaan, permohonan, dan imannya kepada Tuhan dengan cara yang lebih indah daripada sekedar kata-kata yang diucapkan. Musik memberikan dimensi yang baru dalam hal keterlibatan penyembah, maupun kemampuannya untuk menarik perhatian pendengarnya. Tujuan kajian ini ialah menemukan dan menjelaskan mengenai manfaat dan fungsi musik ansambel (Pengiring) di dalam ibadah melalui musik campursari di Gereja Kristen Jawa Kenalan, Magelang. Metode yang diggunakan dalam penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pengamatan fenomena yang terjadi pada jemaat serta pendekatan accindental terhadap informan dan di dukung hasil kajian literature sebelumnya sebagai bahan perbandingan dalam fenomena yang diamati. Melalui pendekatan tersebut diharapkan dapat menjelaskan mengenai manfaat sarana musik gereja sebagai bentuk kontekstualisasi melalui musik campursari yang diggunakan dalam menarik dan mendekatkan musik gereja dengan budaya setempat yang di dalamnya jemaat menemukan medium ekspresi yang sesuai dengan latar belakang budaya dan talenta yang dimilikinya, serta menjadi bentuk upaya pelestarian budaya dan penanda identitas GKJ dalam budaya Jawa., serta memiliki manfaat sebagai : 1) Menjadi upaya bagi gereja untuk nguri-uri kebudayaan Jawa, yaitu pelestarian budaya Jawa. 2) Memberikan kesegaran baru dalam Ibadah, 3) mempertahankan identitas GKJ Kenalan dalam Kebudayaan Jawa.
KLAIM EKSKLUSIVITAS KRISTUS DALAM KONTEKS KEMAJEMUKAN AGAMA DI INDONESIA
Koanak, Ivoni Arisandi Kristina
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.200
Klaim eksklutivitas Kristus merupakan pengajaran fundamental yang membedakan kekristenan dengan agama-agama lain sekaligus tantangan bagi orang-orang Kristen yang hidup di tengah kemajemukan agama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menggali bagaimana makna makna klaim ekslusifitas Kristus di tengah-tengah pluralitas agama. Metode yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil dari penelitian untuk menunjukkan bahwa soteriologi Kristen adalah pengajaran Kristen yang dapat dibuktikan secara historis. Allah yang adil dan kasih menebus dan menyelamatkan orang-orang berdosa melalui karya agung kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus Kristus menjadi satu-satunya jalan serta syarat bagi keselamatan dan pendamaian antara umat-Nya dengan Allah.
WAHYU 20:1-10 DAN MILENIALISME: SEBUAH EVALUASI HERMENEUTIS DAN KANONIKAL
Nggadas, Deky Hidnas Yan
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.210
Revelation 20:1-10 is the only text that explicitly speaks of The Millennial Kingdom but has given rise to three main Millennial views: Premillennialism, Postmillennialism, and Amillennialism. This paper intends to carry out a critical evaluation of these three views. The method used is a literature study with a descriptive-evaluative approach from a hermeneutical and canonical perspective. It can be concluded that the Amillennialism view is more persuasive to adhere to, although it is not without difficulties.
PENGARUH GADGET TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 SIAU BARAT SELATAN
Oktavianus Katiandagho, Anggris
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 4 No 2 (2023)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v4i2.211
The use of gadgets among students of SMP Negeri 1 Siau Barat Selatan is a witness to change in student learning behavior and technological advances. This research aims to explore this, focusing on the negative impact of gadget use on students' learning motivation. This research identifies gadget usage patterns, analyzes their impact on learning motivation, and presents recommendations for more effective management in educational environments. The research method used was quantitative, involving students from South West Siau 1 Middle School as samples. The research results show that gadget use tends to be intense, involving many students in various activities. Data analysis shows a negative relationship between the intensity of gadget use and student learning motivation. Factors such as distraction, dependence on social media, and lack of time management are the main causes of low learning motivation. The rationale for this research was built by referring to the theory of learning motivation, the theory of the use of technology in education, and the theory of adolescent development. The proposed hypothesis strengthens the finding that the intensity of gadget use is negatively correlated with the level of student learning motivation. This research contributes to an in-depth understanding and treatment of the impact of gadget use in educational contexts. It is hoped that the findings of this research can guide educational institutions, parents, students, and future researchers in managing the use of gadgets so that they do not hinder students' learning motivation.