cover
Contact Name
Joni Setiawan
Contact Email
setiawanjoni@yahoo.com
Phone
+628151657716
Journal Mail Official
redaksi.dkb@gmail.com
Editorial Address
Balai Besar Kerajinan dan Batik Jl. Kusumanegara No 7 Yogyakarta
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Dinamika Kerajinan dan Batik : MAJALAH ILMIAH
ISSN : 20874294     EISSN : 25286196     DOI : http://dx.doi.org/10.22322/dkb.v37i1
Majalah Ilmiah : Dinamika Kerajinan dan Batik (DKB) adalah jurnal ilmiah untuk mempublikasikan hasil riset dan inovasi di bidang kerajinan dan batik. Ruang lingkup DKB adalah meliputi aspek bahan baku perekayasaan teknologi, proses produksi, penanganan limbah dan desain kerajinan dan batik. Jurnal ini diperuntukkan bagi para peneliti, akademisi, dan praktisi industri kerajinan dan batik. Majalah Ilmiah : Dinamika Kerajinan dan Batik (DKB) is a scientific journal publishing research and innovation in field of handicrafts and batik. The scope of DKB is include raw materials, production processes, waste treatment and designs in handicrafts and batik sector. The journal is intended for researchers, scholars and practitioners from handicraft and batik.
Articles 295 Documents
Evaluasi Canting Elektrik (Cantrik Lama) Sebagai Dasar Perbaikan Dalam Pengembangan Canting Elektrik (Cantrik) Studi Kasus di Balai Besar Kerajinan dan Batik Siti Lestariningsih; Rini Dharmastiti; Bambang Moyoretno
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 30, No 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v30i1.952

Abstract

AbstrakBeberapa kekurangan yang terjadi dalam penggunaan canting tradisional menjadi dasar Balai Besar Kerajinan dan Batik melakukan penelitian tentang rekayasa canting listrik (cantrik), mengingat begitu pentingnya alat tersebut dalam pembuatan batik khususnya batik tulis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi cantrik lama sebagai dasar perbaikan dalam pengembangan cantrik supaya diperoleh cantrik yang sesuai dengan keinginan pengguna. Penelitian dilakukan di Balai Besar Kerajinan dan Batik, pengambilan data tentang evaluasi cantrik lama dengan kuesioner I, data kebutuhan dan keinginan pengguna diketahui dari kuesioner II yang diolah berdasarkan metode Kano dan QFD. Hasil evaluasi dari cantrik lama adalah tidak ergonomis, untuk memperoleh cantrik yang sesuai keinginan, faktor teknik yang perlu diperbaiki dalam pengembangan cantrik yaitu: mekanisme, model sesuai dengan pekerjaan, kualitas bahan, ukuran sesuai dengan antropometri, keringanan bahan, dan kekuatan bahan. Kata Kunci: Canting elektrik, evaluasi, faktor teknis AbstractSome disadvantages which are found in utilization of traditional canting, are the main reasons for Balai Besar Kerajinan dan Batik in conducting research to develop an electrical canting  (Cantrik), given the importance of these tools in batik making process, specifically written batik. This research aims to evaluate old cantrik, as a basic to develop it into a cantrik which fulfill the needs of batik makers.This research is conducted at Balai Besar Kerajinan dan Batik. The data about old cantrik evaluation are collected using questionnaire I, while data of users’ requirements are obtained using questionnaire II, which then are proceeded using Kano method and QFD. The evaluation results of old cantrik show that it does not meet ergonomic requirements. To obtain appropriate cantrik, it needs some technical factor improvements, namely: mechanism, suitable model for work, quality of materials, sizes according to Anthropometry, Materials light weight, and strength. Keywords: Electrical canting, evaluation, technical factor
BATIK GRINGSING DAN CEPLOK KEMBANG KATES BANTUL Noor Sulistyobudi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 34, No 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v34i2.2861

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif, warna, serta makna batik Gringsing dan Ceplok Kembang Kates. Penelitian deskriptif kualitatif dan subjek penelitian karya seni batik di Bantul. Data yang diperoleh berupa gambar dan informasi melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh, motif batik Gringsing Bantul berupa bulatan-bulatan kecil seperti sisik ikan yang saling bersinggungan. Warna asli batik Gringsing sogan, tetapi sekarang menggunakan warna-warna lain seperti merah, biru, hijau, atau sesuai permintaan konsumen. Makna simbolik dari motif Gringsing adalah doa atau harapan agar terhindar dari pengaruh buruk dan kehampaan. Motif batik Ceplok Kembang Kates menggunakan ide dasar tanaman kates, motif utama biji dan bunga, dan motif tambahan putik, isen-isen cecek dan sawut. Warna yang diterapkan merah, hijau, dan biru. Makna simbolik Ceplok Kembang Kates sebagai simbol semangat mempertahankan bangsa, negara, dan kesejahteraan masyarakat.
Perancangan Alat Pemanas Elektrik da Penoreh Malam Terpadu yang Bersifat Inklusif Paulus Bawole; Eko A. Prawoto; Puspitasari Darsono; Winta Guspara
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 31, No 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i2.1078

Abstract

ABSTRAKPenguasaan ketrampilan membatik harus lebih menyebar ke berbagai pelosok di Indonesia. Kecacatan tubuh (impairment), baik brakidaktili maupun paraplegia bukanlah halangan untuk menguasai ketrampilan membatik. Terdapat tiga faktor penyebab tingginya biaya produksi batik tulis, yaitu waktu, energi dan ketrampilan tinggi. Penelitian ergonomi dengan studi kasus para pembatik difabel ini bertujuan memperoleh pemahaman tentang kemampuan pengguna dan keluhan muskuloskeletal para pembatik difabel yang diakibatkan oleh alat tersebut. Hasil yang diperoleh akan menjadi spesifikasi performa produk untuk perancangan alat membatik elektrik yang bersifat inklusif, dapat digunakan oleh berbagai pengguna, mulai dari kalangan pembatik pemula hingga yang berpengalaman, bertangan normal maupun tidak sempurna. Pengukuran dengan metode RULA, pengamatan dan wawancara dalam ujicoba penggunaan aneka jenis gagang canting desain baru diperoleh kesimpulan bahwa genggaman presisi eksternal menghasilkan kebutuhan ukuran gagang yang sama baik bagi pembatik dengan tangan normal maupun brakidaktili. Sedangkan pada analisa metode NBM dan HTA didapatkan kesimpulan bahwa jika unit pemanas malam bisa disatukan dengan canting maka didapatkan pengurangan satu langkah dalam kegiatan membatik sekaligus mengurangi keletihan dalam membatik. Penelitian ini menghasilkan konsep perancangan unit pemanas malam elektrik arus DC yang menyatu dengan penoreh malam. Alat membatik yang bersifat inklusif ini akan membuat pekerjaan membatik bisa dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat terutama di desa dengan pasokan listrik yang terbatas. Kata kunci: pembatik difabel, inklusif, pemanas arus DCABSTRACTThe skill of batik craftmanship should spread wider to the nook and corner of Indonesia archipelago. Impairment such as brachydactile as well as paraphlegia shouldn’t be a hindrance to master the batik technique. There are three factors found as a source of high production cost in  hand-made batik; time, energy, and high skill. The goal of this ergonomic research using case studies of difable batik artisans is to get an understanding of user capabilities and musculoskeletal problems of users while operating standard batik equipment. The result then will be used as a specification of product performance for designing inclusive electric batik equipment, that can be operated by most users, from beginners to advance artisans, with normal fingers as well as challenged. Measurement using RULA method, observation and interviews on the trials of several new handles showed that there is an agreement on handle size when both extreme impaired users performed external precision grip. NBM and HTA analyzes concluded that if wax heating unit could be integrated with canting, it will eliminate one production step as well as reduce fatique. This research had produced a design of electric batik equipment with DC current. This inclusive equipment will enable batik production to be made in villages with limited supply from national electrical company. Keywords: diffable batik artisan, inclusive, DC heating unit
Penelitian Pengaruh Konsentrasi Natrium Silikat pada Proses Pelorodan Kain Batik Sutera Dwi Suheryanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v26i1.1038

Abstract

Proses pelorodan (pelepas Iilin) Iilin pada kain batik sutera umumnya dapat menggunakan kanji, natrium silikat, dan bensin. Penggunaan kanji biasanya digunakan pada kain katun. Jika digunakan pada kain sutera hasilnya kurang sempurna dan menyebabkan kain sutera berkerut. Sedangkan penggunaan natrium stlikat selain dapat menurunkan kekuatan tarik juga menurunkan derajat intensttas warna. Penggunaan bensin juga tidak ekonomis dan sangat berbahaya bagi keselamatan kerja, selain juga akan menurunkan intensitas warna.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pelorodan Ii/in batik dengan bahan kimia yang lain yaitu natrium silikat (Na2Si03) sekaligus terhadap kekuatan tarik kain batik sutera hasil pelorodan tersebut. Pada penelitian proses pelorodan ini digunakan berbagai konsentrasi natrium silikat, yaitu 2 gr/l, 4 gr/I. dan 6 gr/l. Sedangkan kain sutera yang dipakai sebagai contoh diuji adalah jenis T 54 dan pewamaannya menggunakan zat warna indigosol. Pengujian dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh prosentase Iilin batik yang lepas dari kain, dan kekuatan tarik kain sutera.Penelitian memberikan basil bahwa nilai rata-rata konsentrasi natrium silikat yang meningkat memberikan kekuatan arah lusi yang meningkat diikuti pula meningkatnya arah pakan. Selanjutnya hasil yang diperoleh adalah prosentasi berat Iilin yang terlorod menunjukan hasil similar, yaitu meningkat sesuai dengan meningkatnya konsentrasi natrium silikat yang digunakan. Ternyata dari hasil analisa dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap uji kekuatan tarik terhadap penggunaan konsentrasi natrium silikat pada proses pelorodan. Akan tetapi diperoleh hasil bahwa natrium silikat dengan konsentrasi 2 g/l dapat digunakan untuk pelorodan kain batik sutera dan nilai yang lebih ekonomis.Kata kunci : natrium silikat, pelorodan, kain batik sutera, kekuatan tarik
Aplikasi Mesin Berkas Elektron (MBE) sebagai Alternatif Fiksator pada Pewarnaan Batik Warna Alam Lilin Indrayani; Wiwien Andriyati; Elin Nuraini; Mutiara Triwiswara
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 37, No 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v37i1.6199

Abstract

ABSTRAK Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan. Hal ini mempengaruhi peningkatan industri batik di Indonesia dengan berbagai ragam motif dan ciri khas daerah. Namun seiring dengan berkembangnya industri batik maka semakin marak pula isu beban pencemaran lingkungan akibat limbah yang ditimbulkan oleh zat warna sintetis dari proses pewarnaan batik. Dalam upaya mewujudkan batik ramah lingkungan maka potensi sumberdaya alam Indonesia dapat dikembangkan melalui pemanfaatan zat warna alam sebagai pengganti zat warna sintetis. Namun penggunaan logam berat sebagai bahan fiksator pada zat warna alam menjadi persoalan yang harus diselesaikan agar tidak menambah beban pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh radiasi berkas elektron sebagai substitusi proses fiksasi dengan logam berat sebagai bahan fiksator pada batik yang menggunakan pewarnaan zat warna alam. Metode yang digunakan adalah aplikasi energi radiasi berkas eletron pada kain batik tanpa proses fiksasi dan dengan proses fiksasi dengan menggunakan tiga jenis bahan fiksator yaitu kapur (CaO), tawas (Al2(SO4)3) dan tunjung (FeSO4). Adapun zat warna alam yang digunakan adalah secang (Caesalpinia sappan), mahoni (Swietenia mahagoni). tegeran (Cudrania javanensis) dan tingi (Ceriops tagal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi berkas elektron dapat mempengaruhi hasil proses pewarnaan batik yang ramah lingkungan dengan kualitas yang baik sesuai standar SNI Batik dan dapat mengurangi konsentrasi logam berat dalam limbah batik sehingga mewujudkan industri batik yang berkelanjutan.
STUDI PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI ZAT FIKSASI TERHADAP KUALITAS WARNA KAIN BATIK DENGAN PEWARNA ALAM LIMBAH KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium Lappaceum) Rizka Amalia; Iqbal Akhtamimi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 33, No 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v33i2.1474

Abstract

Pewarnaan kain batik dapat dilakukan dengan menggunakan zat warna alami dan zat warna sintetis. Keunggulan zat warna alam antara lain lebih murah, ramah lingkungan, dan menghasilkan warna yang khas. Salah satu zat warna alam yang berasal dari limbah yang dapat dimanfaatkan adalah limbah kulit buah rambutan. Kelemahan dari penggunaan pewarna alam yaitu ketahanan luntur warna dan intesitas (ketuaan) warna yang relatif kurang baik. Penggunaan zat fiksasi adalah salah alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan konsentrasi dan jenis zat fiksasi kapur, tawas dan tunjung pada proses fiksasi terhadap daya tahan luntur dan penodaan warna kain batik katun yang dicelup dengan zwa ekstrak kulit buah rambutan. Bahan yang digunakan adalah kain batik katun yang dicelup dengan ekstrak zwa kulit buah rambutan, kemudian dilanjutkan pengerjaan fiksasi pada larutan kapur dengan variasi konsentrasi 5 g/l, 25 g/l dan 45 g/l pada setiap zat fiksasi sebagai variabel bebas dan variabel terikat yaitu ketahanan luntur dan penodaan warna terhadap pencucian. Hasil uji ketahanan luntur dan penodaan warna menunjukkan bahwa penggunaan zat fiksasi tawas didapatkan nilai ketahanan luntur yang lebih baik dibandingkan dengan zat fiksasi kapur dan tunjung sedangkan pada konsentrasi zat fiksasi yang berbeda menunjukkan bahwa pada penggunaan konsentrasi bahan fiksasi yang lebih tinggi (25% dan 45%), nilai greyscale dan stainingscale akan semakin baik.Kata kunci : rambutan, pewarna alam, kain, fiksasi
Alat Pengolah Sabut Kelapa Bagi Usaha Kecil Sentot Azis; Dwi Suheryanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v0i10.985

Abstract

Pengolahan sabut kelapa menjadi serat sabut kelapa telah dilakukan secara sederhana oleh para perajin, yaitu dengan cara direndam yang memerlukan waktu lama sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh prototip alat pengolah sabut kelapa yang dapat meningkatkan produktivitas dan sesuai bagi usaha kecil.Penelitian ini menghasilkan alat pengolah sabut kelapa jenis mesin pemisah serat kelapa dengan silinder bersisir (defibring machine) yang diberi kode pengenal MSK-M1. Alat ini menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di pasaran seperti: besi siku, as, bantalan peluru, multiplex, baut-mur dan sekrup kayu. Pembuatan alat ini meliputi pekerjaan-pekerjaan: potong bubut dan las; sehingga dapat dilaksanakan di bengkel kontruksi kecil.Pada uji coba di lapangan alat ini dapat menghasilkan serat kelapa kering sebanyak 3,675 s/d 4,757 kg per jam. Hasil perhitungan ekonomis menunjukkan bahwa usaha pengolahan sabut menjadi serat sabut dengan menggunakan MSK-M1 ini cukup layak untuk dilaksanakan sebagai usaha industri kecil.  Pengolahan sabut kelapa menjadi serat sabut kelapa telah dilakukan secara sederhana oleh para perajin, yaitu dengan cara direndam yang memerlukan waktu lama sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh prototip alat pengolah sabut kelapa yang dapat meningkatkan produktivitas dan sesuai bagi usaha kecil.Penelitian ini menghasilkan alat pengolah sabut kelapa jenis mesin pemisah serat kelapa dengan silinder bersisir (defibring machine) yang diberi kode pengenal MSK-M1. Alat ini menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di pasaran seperti: besi siku, as, bantalan peluru, multiplex, baut-mur dan sekrup kayu. Pembuatan alat ini meliputi pekerjaan-pekerjaan: potong bubut dan las; sehingga dapat dilaksanakan di bengkel kontruksi kecil.Pada uji coba di lapangan alat ini dapat menghasilkan serat kelapa kering sebanyak 3,675 s/d 4,757 kg per jam. Hasil perhitungan ekonomis menunjukkan bahwa usaha pengolahan sabut menjadi serat sabut dengan menggunakan MSK-M1 ini cukup layak untuk dilaksanakan sebagai usaha industri kecil.  
DIVERSIFIKASI DESAIN PRODUK TENUN IKAT NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN PADUAN TEKNIK TENUN DAN TEKNIK BATIK Irfa ina Rohana Salma; Dana Kurnia Syabana; Yudi Satria; Robets Christianto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 35, No 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v35i2.4174

Abstract

ABSTRAK Indonesia memiliki kekayaan berbagai jenis kain tradisional indah dan unik, salah satunya adalah kain tenun ikat. Tenun ikat memiliki pola-pola tertentu yang menghasilkan motif-motif khas untuk keperluan tradisional. Seiring dinamika perkembangan zaman dan selera fasyen yang berubah, maka perlu dilakukan pengembangan desain motif baru sesuai dengan tuntutan zaman. Penelitian dan penciptaan seni ini bertujuan melakukan diversifikasi produk baru dengan cara mengombinasikan teknik tenun ikat dan teknik batik dalam selembar kain. Metode yang digunakan adalah pengumpulan data, perancangan desain tenun ikat kombinasi batik, pengikatan dan pencelupan warna, penenunan, dan pembatikan. Tematik motif  yang diangkat yaitu seni budaya Nusa Tenggara Timur. Produk baru paduan tenun + batik ini disingkat nuntik. Tenun + batik = nuntik.  Kegiatan ini menghasilkan tujuh motif  nuntik yaitu Motif Jago, Motif Gading, Motif Gajah, Motif Kapas, Motif Lontar, Motif Tumpal, dan Motif Perhiasan.Kata kunci: diversifikasi, desain, tenun ikat, batik, nuntik, Nusa Tenggara Timur  ABSTRACT Indonesia has a wealth of different types of beautifully decorated traditional fabrics admired by the world, one of which is ikat cloth. Traditional ikat motifs have certain patterns that produce distinctive motifs to meet various traditional activities or ceremonies. Along with the dynamics of the times and changing fashion tastes, it is necessary to develop a new motif design in accordance with the demands of the times. This art research and creation aims to improve aesthetic values or discover new aesthetics as a result of combining ikat weaving techniques and batik techniques in a piece of cloth. The method used is data collection, design design weaving bundle of batik combination, binding and dyeing, weaving, and batik. Thematic traditional motifs adopted are the arts of East Nusa Tenggara, because it is hoped that the technology and design of the motifs produced can be a diversification of new weaving products typical of East Nusa Tenggara. This new product of batik weaving / batik is shortened nuntik, tenun + batik = nuntik. This activity produced seven motive motions, namely Motif Jago, Motif Gading, Motif Gajah, Motif Kapas, Motif Lontar, Motif Tumpal, dan Motif Perhiasan.Keywords: Value increase, design, batik alloy weaving, nuntic, East Nusa Tenggara
Tinjauan Tekno Ekonomi Cap Batik dari Bahan Kayu Lies Susilaning Sri Hastuti; Endang Pristiwati
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 27, No 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v27i1.1127

Abstract

Batik telah diakui sebagai warisan dunia, hal ini yang memberikan semangat kepada industri batik untuk dapat berkembang dan menghasilkan produk yang bermutu. Salah sau alat yang digunakan dalam membatik adalah canting cap yang umumnya terbuat dari tembaga. Pada tinjauan ini yang dilakukan adalah perhitungan tekno ekonomi terhadap canting kayu.Hasil tinjauan adalah sebagai berikut: Canting kayu dibuat dengan dua cara yaitu Jig-Saw Rekat dan Ukir Rekat. Kapasitas produksi cara Jigsaw Rekat adalah 4 buah/hari. Diasumsikan dalam 1 (satu) bulan ada 25 hari kerja sehingga kapasitas produksi per bulan adalah 100 buah canting kayu JigSaw Rekat dan 75 buah canting kayu Ukir Rekat. Jumlah total produksi adalah 175 buah canting kayu. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 1 (satu) orang pimpinan dan 20 orang karyawan. Modal yang dibuuhkan adalah Rp 87.740.000,-, biaya produksi Rp 20.573.334,-/bulan dan harga pokok Rp 120.000,-. Harga jual diperkirakan Rp 250.000,-/canting mengingat cara pengerjaannya yang cukup rumit. Keuntungan yang didapat Rp 19.700.166,-/bulan dan BEP=70 buah canting serta model diperkirakan dapat kembali dalam waktu 1,5 (satu setengah) bulan.Kesimpulan yang dapat ditetapkan adalah bahwa industri caning cap kayu merupakan industri yang dapat dikembangkan serta mempunyai prospek yang baik dalam mendukung perkembangan industri batik saat ini meskipun canting cap kayu mempunyai kelemahan yaitu desain motif yang dapat diterapkan pada canting kayu terbatas pada motif yang tidak menggunakan isen-isen. Kata Kunci: batik, canting cap kayu, tekno ekonomi
Preface DKB Vol.31 No.1 Redaksi, Tim
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 31, No 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i1.2290

Abstract


Filter by Year

1987 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 40, No 2 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 40, No 1 (2023): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 39, No 2 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 39, No 1 (2022): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 38, No 2 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 38, No 1 (2021): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 37, No 2 (2020): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 37, No 1 (2020): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol 36, No 2 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol 36, No 1 (2019): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol 35, No 2 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol 35, No 1 (2018): Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah Vol 34, No 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 34, No 1 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH Vol 33, No 2 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 33, No 1 (2016): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 2 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 1 (2015): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 1 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 30, No 2 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 30, No 1 (2013): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 32, No 2 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 31, No 1 (2012): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 28, No 1 (2011): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 27, No 1 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 28 (2010): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 26 (2009): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 25 (2008): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 24 (2007): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 23 (2006): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 22 (2005): Dinamika Kerajinan dan Batik No 21 (2004): Dinamika Kerajinan dan Batik No 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik No 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik Vol 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik No 10 (1992): Dinamika Kerajinan dan Batik No 9 (1991): Dinamika Kerajinan dan Batik No 8 (1988): Dinamika Kerajinan dan Batik No 7 (1987): Dinamika Kerajinan dan Batik More Issue