PAMPAS: Journal of Criminal Law
PAMPAS: Journal of Criminal Law (ISSN Print 2721-7205 ISSN Online 2721-8325) is a periodical scientific publication in the field of Criminal Law. The word Pampas comes from the Malay language which means Compensation, Pampas is a traditional Jambi sanction as a law to injure people. This journal is published by the Faculty of Law, Jambi University as a medium for discussing Criminal Law. First published in February 2020, PAMPAS: Journal of Criminal Law is published three times a year, namely in February, June and October. In each of its publications, PAMPAS: Journal of Criminal Law publishes 8-10 articles on the results of research or research on criminal law. PAMPAS: Journal of Criminal Law publishes articles on the results of research or studies of criminal law, including: (1) criminal law (2) criminal procedural law (3) criminology (4) victimology (5) special crimes (6) criminal law enforcement (7) criminal law reform (8) penal policy (9) comparative criminal law (10) criminal law and punishment (11) international criminal law (12) criminal customary law (13) criminal justice system (14) Islamic Criminal Law (15) military crime and the study of Indonesian criminal law which is global in nature in accordance with the latest developments in the dynamics of criminal law.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 5 No. 1 (2024)"
:
10 Documents
clear
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Sebagai Korban Tindak Pidana : Bagaimana Aturan Hukum Pidananya?
Pradea, Regina;
Haryadi, Haryadi;
Arfa, Nys
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31794
This article aims to analyze the legal protection regulations for people with mental disorders as victims. Serious health problems worldwide are mental and mental disorders. People with mental disorders (ODGJ) experience stigmatization and discrimination which makes them easy victims of acts of violence. In Indonesia, there are around 2.5 million people who experience mental disorders and about 60% of them are at risk of experiencing violent behavior. The research method used is a normative juridical research type. The results of this research article are People with Mental Disorders (ODGJ) Individuals who are victims of crime will still be given legal protection in accordance with the provisions contained in Law Number 31 of 2014 which amends Law Number 13 of 2006 concerning Protection of Witnesses and Victims and Law Number 18 of 2014 concerning Mental Health. Legal protection will also be provided to ensure the rights of people with mental disorders (OMGJ) are protected. Being a victim has not been fully realized, so the government must be more concerned about all forms of legal protection for people with mental disorders (ODGJ). Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menganalisis regulasi perlindungan hukum orang dengan gangguan jiwa sebagai korban. Masalah kesehatan yang serius di seluruh dunia adalah gangguan jiwa dan mental. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mengalami stigmatisasi dan diskriminasi yang membuat mereka mudah menjadi korban tindakan kekerasan. Di Indonesia, terdapat sekitar 2,5 juta orang yang mengalami gangguan jiwa dan sekitar 60% dari mereka berisiko mengalami perilaku kekerasan. Metode penelitian yang digunakan adalah tipe penelitian Yuridis Normatif. Hasil penelitian artikel ini adalah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Individu yang menjadi korban kejahatan masih akan diberikan perlindungan hukum sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 yang mengubah Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban serta Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Mental. Perlindungan hukum juga akan diberikan untuk memastikan hak-hak Orang yang Mengalami Gangguan Jiwa (OMGJ) terlindungi. Sebagai korban belum sepenuhnya terealisasikan, sehingga pemerintah harus lebih peduli terhadap segala bentuk perlindungan hukum terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Bentuk Pidana Anak Pelaku Pelanggaran Lalu Lintas Yang Menyebabkan Kematian
Prayoga, Surian Rahma;
Lasmadi, Sahuri;
Rapik, Mohamad
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31796
The purpose of this study is to find out how the criminal liability of children as perpetrators of traffic violations that cause death based on the Analysis of Decision Number 58/Pid.Sus/2020PN Mbn and Decision Number 1/Pid.Sus-Anak/2020/PT Jmb. The formulation of the problem in this writing, namely: 1) How is the criminal responsibility of children perpetrators of traffic violations that cause death?, and 2) What is the basis for the judge's consideration in Decision Number 58/Pid.Sus/2020PN Mbn. In writing this thesis, the author uses normative juridical research methods using a statute approach, a case approach and a conceptual approach. The legal materials that the author uses are Primary Legal Materials, Secondary Legal Materials and Tertiary Legal Materials. Results of research on this thesis 1) Based on the facts at trial that the child perpetrator is forced to follow orders from his parents, so he cannot refuse to continue running the vehicle as instructed by his parents. Middelijke Daderschap (An act with an intermediary) is a person who wants to do a delict not to do it himself, but to tell others to do it, in that act must meet an important condition, namely that the person told must be a person who cannot be accounted for according to the Criminal Code, 2) The basis for the judge's consideration in Decision Number 58 / Pid.Sus/2020/PN Mbn. is in accordance with Pasal 55 ayat 1, namely the criminal act of participation (deelneming) and this decision also contains elements of vicarious liability. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pertanggungjawaban pidana anak sebagai pelaku pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan kematian berdasarkan Analisis Putusan Nomor 58/Pid.Sus/2020PN Mbn dan Putusan Nomor 1/Pid.Sus-Anak/2020/PT Jmb. Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini, yaitu: 1) Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana anak pelaku pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan kematian?, dan 2) Apa dasar pertimbangan hakim pada Putusan Nomor 58/Pid.Sus/2020PN Mbn. Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian yuridis normatif menggunakan pendekatan undang-undang (statute approach), pendekatan kasus (case approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum yang penulis gunakan adalah Bahan Hukum Primer, Bahan Hukum Sekunder dan Bahan Hukum Tersier. Hasil dari penelitian pada skripsi ini 1) Berdasarkan fakta di persidangan bahwa pelaku anak dalam keadaan terpaksa untuk mengikuti perintah dari orang tuanya, sehingga tidak dapat menolak untuk terus menjalankan kendaraan sebagaimana perintah yang diberikan oleh orang tuanya tersebut. Middelijke Daderschap (Perbuatan dengan perantara) adalah seseorang yang berkehendak melakukan suatu delict tidak melakukannya sendiri, akan tetapi menyuruh orang lain melakukannya, dalam perbuatan tersebut harus memenuhi syarat penting, yaitu orang yang di suruh itu harus orang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan menurut KUHP, 2) Dasar pertimbangan hakim pada Putusan Nomor 58/Pid.Sus/2020/PN Mbn. yaitu sesuai dengan dengan Pasal 55 ayat 1 yaitu tindak pidana penyertaan (deelneming) dan putusan ini juga mengandung unsur pertanggungjawaban pidana pengganti (vicarious liability).
Kajian Hukum Atas Pembantuan dalam Melakukan Penganiyaan dengan Rencana yang Mengakibatkan Kematian (Studi Putusan No. 212/Pid.B/2017/PN Gpr)
Julianto, Riki;
Arifin, Ridwan
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.23681
This article study the case of the District Court decision in the city of Kediri number 212/Pid.B/2017/PN Gpr in the same case as decision number 213/Pid.B/2017/PN Gpr, in which in both decisions there are many criminal elements that could be discussed such as complicity, forms of complicity within complicity, failure of assistance, reasons for reduce the sentences, and separation in filing criminal cases. the first decision was about assisting the crime and the second was about participating in the murder. Even though the two case files were split (splitsing), the material or subject matter was the same, predominantly about murder which was caused by rape to the defendant in prior. Both decisions are criminal acts of deelneming (complicity), complicity is a form of crime committed by more than one person who is involved psychologically or physically, so that the criminal responsibility of each person is different. The purpose of writing this article is to analyze a. whether and the criminal categorization of the perpetrator's actions in decision number 212/pid.B/2017/PN Gpr is coherent according to the teachings of criminal law regarding complicity (deelneming) b. whether assistance in the case of PN decision number 212/pid.B/2017/PN Gpr is failed-assistance of committing crime c. whether the court's decision in sentencing already adhere principle of reducing sentence. this research is using the normative-empirical legal research method with the approach of studying the judge's decision in the case of a criminal act that occurred. Abstrak Artikel ini merupakan kajian atas studi kasus putusan Pengadilan Negeri di kota Kediri no. 212/Pid.B/2017/PN Gpr dalam perkara yang sama dengan putusan no. 213/Pid.B/2017/PN Gpr, yang mana dalam kedua putusan tersebut banyak unsur pidana yang dapat dibahas seperti penyertaan, bentuk penyertaan dalam penyertaan, gagalnya penyertaan, alasan peringanan pidana, dan splitsing dalam pemberkasan kasus pidana. putusan pertama adalah tentang pembantuan tindak pidana dan yang kedua adalah tentang ikut serta dalam pembunuhan. Meski kedua berkas perkara dipisahkan (splitsing) tapi materi atau pokok perkaranya sama tentang sebuah tindak pidana pembunuhan yang disebabkan terlebih dahulu oleh pemerkosaan terhadap terdakwa pembantuan. Kedua putusan tersebut merupakan perkara tindak pidana deelneming (penyertaan), dimana tindak pidana dilakukan oleh lebih dari satu orang yang terlibat secara psikis atapun fisik sehingga tanggung jawab pidana masing-masing berbeda. Tujuan ditulisnya artikel ini adalah untuk menganalisis a. apakah pengkategorian pidana terhadap perbuatan pelaku dalam putusan no. 212/pid.B/2017/PN Gpr sudah tepat sesuai dengan ajaran hukum pidana tentang penyertaan (deelneming) b. apakah pembantuan dalam perkara putusan PN no. 212/pid.B/2017/PN Gpr merupakan pembantuan gagal terhadap tindak pidana c. apakah keputusan pengadilan sudah tepat dengan memperhatikan hal yang meringankan pidana. kasus Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif-empiris dengan pendekatan kajian putusan hakim dalam kasus tindak pidana yang terjadi.
Pertanggungjawaban Pidana terhadap Pelaku pembuat Konten Perjudian Online Berbasis Live Streaming
Alhasani, Ahmad Ghifari;
Ridwan, Ridwan;
Rofiana, Reine
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31489
This research aims to find out about live streaming-based online gambling content in criminal law and to find out the criminal liability of the perpetrators of live streaming-based online gambling content. This research method uses normative juridical research methods, with the research specifications used are the statutory approach, the news approach regarding online gambling and the case approach. The data source used is secondary data which consists of primary, secondary and tertiary legal materials, with literature study data collection techniques. The results of the research obtained are that online gambling content in criminal law is a criminal offense because it fulfills the elements of a criminal offense and there are regulations regarding gambling located in Articles 303 and 303bis of the Criminal Code, Article 426, Article 427 of Law No. 1 of 2023 and Article 27 paragraph (2) of the ITE Law. As for criminal liability regarding online gambling content creators, it is still arguably quite a few who can be held accountable. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengenai konten perjudian online berbasis live streaming dalam hukum pidana serta untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana pelaku pembuat konten perjudian online berbasis live streaming. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dengan spesifikasi penelitian yang digunakan adalah pendekatan perundang-undangan, pendekatan berita mengenai perjudian online dan pendekatan kasus. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder yang didalamnya terdiri dari bahan hukum primer, sekunder dan tersier, dengan Teknik pengumpulan data studi Pustaka. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu konten perjudian online dalam hukum pidana termasuk tindak pidana karena memenuhi unsur-unsur tindak pidana dan ada peraturan tentang perjudian terletak pada Pasal 303 dan 303bis KUHP, Pasal 426, Pasal 427 UU No 1 Tahun 2023 dan Pasal 27 ayat (2) UU ITE. Sedangkan untuk pertanggungjawaban pidana mengenai pembuat konten perjudian online ini masih dibilang cukup sedikit yang dapat dimintai pertanggungjawaban.
Tindak Pidana Penipuan Melalui Aplikasi Digital (Gagasan Pemikiran Pertanggungjawaban Oleh Bank)
Elisa Putri, Dina;
Sudarti, Elly;
Siregar, Elizabeth
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31716
The aim of this research is 1) to determine and analyze the regulations for criminal acts of fraud through digital applications, and 2) the form of bank criminal liability for criminal acts of fraud through digital applications. The type of research is normative juridical. The research results show that regulation of criminal acts of fraud through digital applications can be guided by Article 492 and Article 263 of the new Criminal Code as well as Article 28 paragraph (1) of the ITE Law. However, in the regulation there is still a blurring of norms because Article 378, Article 492 and Article 263 of the Criminal Code as well as Article 28 paragraph (1) of the ITE Law also do not specifically emphasize the proportion of "fraud", especially for fraud that is not related to buying and selling. The form of bank accountability for criminal acts of fraud through digital applications can be carried out by providing protection to customers by providing implicit protection through supervision and explicit protection through the establishment of an institution that guarantees public savings. Furthermore, the bank has the responsibility to provide compensation to customers who experience losses if technical errors or leakage of bank customer data occurs due to negligence on the part of the Bank. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan terhadap tindak pidana penipuan melalui aplikasi digital, dan 2) bentuk pertanggungjawaban pidana bank atas tindak pidana penipuan melalui aplikasi digital. Jenis penelitian adalah yuridis normative. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan terhadap tindak pidana penipuan melalui aplikasi digital dapat berpedoman pada Pasal 492 dan Pasal 263 KUHP baru maupun dalam Pasal 28 ayat (1) UU ITE. Akan tetapi dalam pengaturannya masih terjadi kekaburan norma karena dalam Pasal 378, Pasal 492 dan Pasal 263 KUHP maupun dalam Pasal 28 ayat (1) UU ITE tersebut juga tidak menegaskan proporsi “penipuan” secara spesifik, terutama untuk penipuan yang tidak berkaitan dengan jual beli. Bentuk pertanggungjawaban bank atas tindak pidana penipuan melalui aplikasi digital dapat dilakukan dengan memberikan perlindungan terhadap nasabah dengan melakukan perlindungan secara implicit melalui pengawasan dan perlindungan secara eksplisit melalui pembentukan suatu lembaga yang menjamin simpanan masyarakat. Se;anjutnya pihak bank memilki tanggung jawab untuk melakukan ganti rugi terhadap nasabah yang mengalami kerugian jika kesalahan teknis atau bocornya data nasabah bank terjadi karena kelalaian dari pihak Bank.
Kebijakan Hukum Pidana terkait Illicit Enrichment Sebagai Upaya Pemulihan Aset Negara
Ubaidila, Atta Syach;
Liyus, Herry;
Munandar, Tri Imam
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31791
The purpose of this research is to find out and examine how future criminal law policies related to illicit enrichment as an effort to recover state assets in Indonesia. The formulation of the problem in this study is how criminal law policy related to illicit enrichment as an effort to recover state assets. This research uses a type of Normative Judicial research, which is writen by analyzing and examining legal materials such as literature studies, legal literature, and laws and regulations related to research. The results of the study found that Indonesia has not yet made illicit enrichment an offense in the Anti-Corruption Law so that efforts to restore state financial losses have not been maximized, because there are still limitation in Law Number 20 of 2001 Concerning Amendments to Law Number 31 of 1999 concerning Eradication of Corruption in combating corruption and recovering state financial losses. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji bagaimana kebijakan hukum pidana kedepannya terkait dengan illicit enrichment sebagai upaya pemulihan aset negara di Indonesia. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah kebijakan hukum pidana terkait illicit enrichment sebagai upaya pemulihan aset negara. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Yuridis Normatif, yang ditulis dengan menganalisis serta mengkaji bahan-bahan hukum seperti studi kepustakaan, literatur hukum, serta peraturan perundang-undangan terkait dengan penelitian. Hasil penelitian diketahui bahwa Indonesia hingga saat ini belum menjadikan illicit enrichment sebagai delik di dalam Undang-Undang Tipikor sehingga upaya dalam mengembalikan kerugian keuangan negara belum berjalan secara maksimal, dikarenakan masih terdapat keterbatasan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam memberantas tindak pidana korupsi serta memulihkan kerugian keuangan negara.
Implikasi Yuridis Pasca Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual Terhadap Pelecehan Seksual Pengidap Fetishistic Disorder Dalam Perspektif Hukum Progresif
Mahendra, Reza;
Erwin, Erwin;
Usman, Usman
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31808
The urgency of this study is made to find out how the implementation of Law Number 12 of 2022 concerning Criminal Acts of Sexual Violence against Sexual Harassment committed by people with fetishistic disorder in relation to progressive legal developments which is a breakthrough amid the loss of public trust in the current law. The formulation of the problem in this study is in two parts. First, what is the role of Law Number 12 of 2022 on sexual harassment of people with fetishistic disorder. Second, how is the role of progressive law in dealing with sexual harassment committed by people with fetishistic disorder to fill the legal impasse. results obtained in this study have not been able to answer and provide legal certainty for victims and perpetrators of sexual harassment with fetishistic disorder, because in Articles 5-6 of the Law only provide a definition that the material element of sexual harassment is only directed at sexual organs both physically and non-physically. In contrast to people with fetishistic disorder whose sexual desire is for non-sexual organs or on non-sexual objects which of course the article cannot be applied to overcome these sexual crimes. This research is important because sexual abuse of people with fetishistic disorder has taken its toll. In an effort to answer the legal impasse, the author recommends progressive legal ideas as an answer to provide legal certainty to the problem. method used in this study is normative juridical research with a legal approach and a case approach. Abstrak Urgensi pada penelitian ini dibuat untuk mengetahui bagaimana implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual terhadap Pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengidap fetishistic disorder dalam kaitannya terhadap perkembangan hukum progresif yang menjadi terobosan ditengah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum sekarang. Rumusan masalah dalam penelitian ini ada dua bagian. Pertama, bagaimana peran Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 terhadap pelecehan seksual pengidap fetishistic disorder. Kedua, bagaimana peran hukum progresif dalam menangani pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengidap fetishistic disorder untuk mengisi kebuntuan hukum tersebut. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini belum mampu menjawab dan memberikan kepastian hukum terhadap korban maupun pelaku pelecehan seksual pengidap fetishistic disorder, karena dalam Pasal 5-6 Undang-Undang tersebut hanya memberikan definisi bahwa unsur materiil dari pelecehan seksual hanya ditujukan kepada organ tubuh seksual baik dilakukan secara fisik maupun non fisik. berbeda terhadap pengidap fetishistic disorder yang hasrat seksualnya terhadap organ tubuh non seksual atau pada benda-benda non seksual yang barang tentu pasal tersebut tidak dapat diterapkan untuk mengatasi kejahatan seksual tersebut. Penelitian ini penting dilakukan karena pelecehan seksual pengidap fetishistic disorder telah memakan korban. Sebagai upaya untuk menjawab kebuntuan hukum tersebut penulis merekomendasikan gagasan hukum progresif sebagai jawaban untuk memberikan kepastian hukum terhadap permasalahan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan undang-undang dan pendekatan kasus.
Penerapan Pidana Denda terhadap Pelaku Tindak Pidana Memperniagakan Satwa Dilindungi di Pengadilan Negeri Jambi
Utary, Sisi Delica;
Hafrida, Hafrida;
Wahyudi, Dheny
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31809
The use of fine categories is intended to provide a clear pattern for the highest sanctions set for various offenses, in this case offenses against protected animals. Protected animals are animals that are protected by the government. The decision of Jambi District Court Judge is considered to have exceeded the maximum penalty provided for in Article 40 (2) Law Number 5 of 1990 concerning Conservation of Natural Resources and Ecosystems, so that it becomes Article 65 (2) KUHP. The problem discussed in this work is how the judge uses legal considerations in imposing a fine exceeding the maximum limit the amount of the verdict and the judge's consideration in imposing a fine exceeding the maximum pada Putusan Nomor: 401/Pid.Sus.LH/2021/PN Jmb. The research was conducted using a prescriptive legal approach. Data collection was carried out by means of literatures study. This research resulted in conclusions. That is, the judge's decision is considered to exceed the maximum criminal limit of Article 40 (2) Law Number 5 of 1990. Based on the conclusions, it’s recommended that prosecutors be more careful in determining the punishment and be more specific in preparing the prosecution. The need to change the criminal provisions in the judge's decision. Abstrak Tujuan penggunaan kategori denda adalah untuk memiliki pedoman yang jelas mengenai jumlah denda maksimal yang dapat dikenakan untuk berbagai jenis tindak pidana, seperti dalam kasus tindak pidana terhadap satwa yang dilindungi. Satwa yang dilindungi adalah satwa yang mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Putusan hakim dari Pengadilan Negeri Jambi dianggap melampaui batas maksimum pidana denda yang ditetapkan dalam Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sehingga bertentangan dengan Pasal 65 ayat (2) KUHP. Fokus dari skripsi ini adalah untuk menganalisis pertimbangan hukum yang digunakan oleh hakim dalam menjatuhkan pidana denda yang melebihi batas maksimum, serta melakukan analisis hukum terhadap pertimbangan hakim dalam kasus Putusan Nomor: 401/Pid.Sus.LH/2021/PN Jmb. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan yuridis normatif dan pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Putusan hakim tersebut melewati batas pidana denda maksimum yang ditetapkan dalam Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem. Berdasarkan kesimpulan ini, disarankan agar Jaksa Penuntut Umum lebih teliti dalam menetapkan ketentuan pidana dan menyusun surat dakwaan dengan tepat. Juga diperlukan revisi terhadap ketentuan pidana dalam Putusan hakim yang melampaui batas maksimum pidana denda tersebut.
Pemenuhan Hak Ganti Rugi Bagi Anak Korban Kekerasan Seksual
Adri, Nadita;
Najemi, Andi;
Monita, Yulia
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31815
This article aims to analyze the fulfillment of the exercise of the right to restitution or compensation for child victims of sexual violence and the factors that impede the exercise of the right to restitution or compensation by child victims of sexual violence. Indecent or immoral acts and sexual harassment or sexual harassment are two forms of ethical behavior that are not only a matter of national law in a country, but have become legal issues in the United States, other countries in all countries in the world or have become global problems. The research results of this article are victims of sexual violence not only among adults but also those who are classified as minors (children). The low biological condition of children makes it easier for criminals to commit crimes against children and makes them the most vulnerable victims. It can be said that the application of efforts to exercise the right to compensation for victims of criminal acts has not been optimal in upholding these rights in the justice system. Victims of criminal acts are entitled to compensation in the form of compensation for property or income losses, compensation for losses suffered as a result of suffering directly related to the crime, and/or reimbursement for medical and/or psychological expenses, but laws and regulations do not specifically regulate guarantees, property rights and rights to compel the perpetrator to compensate the victim for losses resulting in the negligence of the perpetrator in carrying out his obligations without doing optimally for the victim to seek justice for his actions. guilty. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pemenuhan atas pelaksanaan hak restitusi atau ganti rugi anak korban kekerasan seksual dan faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan hak atas restitusi atau ganti rugi oleh anak korban kekerasan seksual. Perbuatan tidak senonoh atau tidak bermoral dan pelecehan seksual atau pelecehan seksual adalah dua bentuk perilaku etis yang tidak hanya menjadi masalah hukum nasional suatu negara, tetapi telah menjadi masalah hukum di Amerika Serikat, negara lain di semua negara di dunia atau telah menjadi masalah global. Hasil penelitian artikel ini adalah korban kekerasan seksual tidak hanya di kalangan orang dewasa tetapi juga mereka yang tergolong anak di bawah umur (anak-anak). Kondisi biologis anak yang rendah membuat pelaku kejahatan lebih mudah melakukan perbuatannya terhadap anak dan menjadikan mereka korban yang paling rentan. Dapat dikatakan bahwa penerapan upaya pelaksanaan hak atas ganti kerugian bagi korban tindak pidana belum optimal dalam penegakan hak tersebut dalam sistem peradilan. Korban tindak pidana berhak mendapat ganti rugi berupa penggantian kerugian harta benda atau penghasilan, penggantian kerugian yang dideritanya sebagai akibat penderitaan yang berkaitan langsung dengan tindak pidana, dan/atau penggantian biaya pengobatan dan/atau psikologis, tetapi peraturan perundang-undangan tidak secara khusus mengatur tentang jaminan, hak milik dan hak untuk memaksa pelaku mengganti kerugian kepada korban yang mengakibatkan kelalaian pelaku dalam menjalankan kewajibannya tanpa melakukan secara optimal bagi korban untuk mencari keadilan atas perbuatannya. bersalah.
Pemidanaan terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana Eksploitasi Seksual Anak (Analsis Putusan Pengadilan Negeri Lubuk linggau Nomor 30/Pid.Sus-Anak/2022/PN LLG)
Utami, Tiara Ayu;
Rakhmawati, Dessy
PAMPAS: Journal of Criminal Law Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Faculty of Law, Universitas Jambi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22437/pampas.v5i1.31898
The purpose of this research is to know and analyze the basis judge's consideration in imposing a sentence on a child as a perpetrator crime of child sexual exploitation. With the formulation of the problem that is what become the basis for the judge's consideration in the District Court Decision Lubuklinggau Number 30/Pid.Sus-Children/2022/PN/Llg. The research results of this thesis contain consideration of the judge in passing the decision in the form of sentencing against child perpetrators of child sexual exploitation in District Court Decisions Lubuklinggau Number 30/Pid.Sus-Anak/2022/PN/Llg.In the judge's consideration in passing criminal decisions against children who are in conflict with the law as the perpetrator of the crime of child sexual exploitation in violation of Article 88 Law Number 35 of 2014 concerning Child Protection in Decisions Number 30/Pid.Sus-Children/PN/Llg in accordance with legal facts, trial facts and mitigating circumstances against defendants who were sentenced to imprisonment during prison for 5 (five) months and Job Training for 3 (three) months Even against the accused should not need to be sentenced to prison but enough with a sentence in the form of Job Training at the Lubuklinggau City Social Service. ABSTRAK Tujuan dari jurnal ini adalah guna megetahui terkait apa yang menjadikan pertimbangan dan dasar bagi hakim dalam mejatuhkan pidana terhadap anak pelaku tindak pidana berupa eksploitasi seksual anak. Dengan rumusan masalah yakni apa yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam melakukan pemidanaan terhadap anak pelaku tindak pidana eksploitasi seksual anak dalam Putusan Pengadilan Negeri Lubuklinggau Nomor 30/Pid.Sus-Anak/2022/PN/Llg. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis normatif dengan pendekatan Perundang-Undangan (statute approach), pendekatan konsep (conceptual approach), dan pendekatan kasus (case approach). Hasil penelitian skripsi ini berisi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan berupa pemidanaan terhadap anak pelaku tindak eksploitasi seksual anak pada Putusan Pengadilan Negeri Lubuklinggau Nomor 30/Pid.Sus-Anak/2022/PN/Llg.Dalam pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pidana terhadap anak yang berhadapan dengan hukum sebagai pelaku tindak pidana eksploitsi seksual anak yang melanggar Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak pada Putusan Nomor 30/Pid.Sus-Anak/PN/Llg sesuai dengan fakta hukum, fakta persidangan dan hal yang meringankan terhadap terdakwa yang dipidana penjara selama penjara selama 5 (lima) Bulan dan Pelatihan Kerja selama 3 (tiga) Bulan di Dinas Sosial Kota Lubuklinggau dan Membebankan kepada Anak untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.5.000,00 (lima ribu rupiah). Walaupun terhadap terdakwa seharusnya tidak perlu dijatuhi pidana penjara melainkan cukup dengan pidana berupa Pelatihan Kerja di Dinas Sosial Kota Lubuklinggau.