cover
Contact Name
Ferry Purnama
Contact Email
jurnalkharis@gmail.com
Phone
+6285959999152
Journal Mail Official
jurnalkharis@gmail.com
Editorial Address
Jln. Mekar Laksana no 8, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi
ISSN : 27226433     EISSN : 27226441     DOI : -
Fokus dan Scope Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi adalah: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Teologi Kontemporer, Teologi Praktika, Teologi Pastoral, Teologi Kontekstual
Articles 95 Documents
Analisis Sikap Mahasiswa Teologi terhadap Kejahatan Media Sosial dalam Era Transformasi Digital Marda Rona Taneo; Yesri Esau Talan
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 7, No 1 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v7i1.300

Abstract

AbstractDigital transformation has influenced theological education, particularly through social media, which presents both opportunities and challenges—including online crimes such as fraud, hoaxes, and online gambling. This study aims to analyze theology students’ attitudes toward these phenomena. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through semi-structured interviews with 10 theology students from various academic levels, supported by relevant literature studies. The findings indicate that while most informants are aware of the negative impact of social media on their spiritual and social lives, they have not consistently applied digital ethics based on biblical values. The main factor influencing this attitude is the lack of integrated guidance on responsible technology use within the theological curriculum. Romans 12:2 and Proverbs 1:7 serve as essential foundations for renewing the mind and cultivating a reverent fear of the Lord. This study underscores the need for integrating spiritual formation and digital literacy in theological education to equip students to be critical, wise, and faithful to their calling in the midst of an increasingly complex and ever-changing digital world.Top of FormBottom of Form Abstrak  Transformasi digital memengaruhi pendidikan teologi, khususnya melalui media sosial yang menawarkan peluang sekaligus tantangan, termasuk kejahatan daring seperti penipuan, hoaks, dan judi online. Penelitian ini bertujuan menganalisis sikap mahasiswa teologi terhadap fenomena tersebut. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap 10 mahasiswa teologi dari berbagai jenjang studi, serta didukung oleh studi literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan menyadari dampak negatif media sosial terhadap kehidupan rohani dan sosial, namun belum secara konsisten menerapkan prinsip etika digital yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Faktor utama yang memengaruhi sikap ini adalah kurangnya pembinaan terpadu mengenai penggunaan teknologi secara bertanggung jawab dalam kurikulum teologi. Roma 12:2 dan Amsal 1:7 menjadi dasar penting dalam membentuk pembaruan budi dan sikap takut akan Tuhan. Penelitian ini menegaskan perlunya integrasi antara pembinaan spiritual dan literasi digital dalam pendidikan teologi, agar mahasiswa mampu bersikap kritis, bijaksana, dan tetap setia pada panggilan pelayanan di tengah tantangan dunia digital yang kompleks dan terus berubah.
Pemahaman Makna Kematian Alkitabiah dan Implikasi Bagi Iman Kristen Mega Fergie Bagensa; Yanto Paulus Hermanto
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 7, No 1 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v7i1.390

Abstract

Abstract The secular view of death leads people to misunderstand death as merely the end of existence, it leads people to have lack of appreciation of their lives or the lives of others, resulting in acts of suicide or murder others, which is disrespect God's sovereignty. This study used a qualitative method with a multidisciplinary integrated literature review approach and historical-grammatical hermeneutic exegesis with a narrative based on the analysis of 16 Bible verses from the Old and New Testaments about the meaning of death, as well as practical theological implications for Christian faith in everyday life. Awareness of death helps Christians understand that death is not merely a biological end, but part of God's plan that leads to the fulfillment of eternal life and transforms Christians to live meaningfully and be better prepared to face death with firm faith and eschatological hope of eternal life with God. This study contributes to deepening understanding and enriching theological reflection on the nature of life, death, and resurrection in the light of Christ's work of salvation, also serves as a pastoral basis for serving congregations who are grieving or facing death by reaffirming the value of life as a gift from God and rejecting all forms of violence or murder that demean human dignity. Abstrak Pandangan sekuler tentang kematian sebagai akhir eksistensi mengakibatkan manusia tidak sungguh-sungguh memaknai kehidupannya ataupun kehidupan orang lain, sehingga terjadi tindakan bunuh diri ataupun tindakan membunuh orang lain yang tidak menghormati kedaulatan Allah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka integrasi multidisipliner dan eksegesis hermeneutik historis-gramatikal dengan narasi berbasis analisis 16 ayat Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tentang makna kematian, serta implikasi teologis praktis terhadap iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran akan kematian menolong orang Kristen memahami bahwa kematian bukan sekadar akhir biologis, melainkan bagian dari rencana Allah yang menuntun pada penggenapan hidup kekal dan mentransformasi orang Kristen untuk hidup dengan penuh makna dan lebih siap menghadapi kematian dengan iman yang teguh serta pengharapan eskatologis akan kehidupan kekal bersama Tuhan. Penelitian ini berkontribusi memperdalam pemahaman dan memperkaya refleksi teologis tentang hakikat hidup, kematian, dan kebangkitan dalam terang karya keselamatan Kristus, juga menjadi dasar pastoral dalam pelayanan kepada jemaat yang berduka atau menghadapi kematian dengan menegaskan kembali nilai kehidupan sebagai anugerah Allah dan menolak segala bentuk kekerasan maupun pembunuhan yang merendahkan martabat manusia.
Makna Present, Listening dan Touching dalam Pendampingan Pasien Hemodialisa: Tinjauan Teori Anton Boisen (Studi Literatur) Yuni Cahyati Siregar; Elkana Siburian; Reni Hutauruk; Eleven Sihotang
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 7, No 1 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v7i1.367

Abstract

AbstractThis study examines the meaning of presence, listening, and touching in pastoral care for hemodialysis patients through Anton Boisen’s theory of the living human document. Hemodialysis patients undergo long-term therapy that affects not only their physical condition but also their psychological and spiritual well-being, including anxiety, despair, mental fatigue, and loss of life meaning. This research employs a qualitative method with a literature review approach, drawing on theological, pastoral, and healthcare-related sources. The findings show that presence provides security and reduces loneliness, listening creates space for patients to express their lived experiences, and touching functions as non-verbal communication that conveys empathy and emotional support. These three aspects enrich holistic pastoral care and help hemodialysis patients rediscover hope, meaning, and overall well-being amid their suffering. AbstrakPenelitian ini membahas makna kehadiran (present), mendengarkan (listening), dan sentuhan (touching) dalam pendampingan pastoral pasien hemodialisa berdasarkan teori Anton Boisen tentang the living human document. Pasien hemodialisa menghadapi terapi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis dan spiritual, seperti kecemasan, keputusasaan, kelelahan mental, serta hilangnya makna hidup. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur terhadap sumber-sumber teologis, pastoral, dan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran memberi rasa aman dan mengurangi kesepian, mendengarkan membuka ruang bagi pasien untuk mengekspresikan pengalaman hidupnya, sedangkan sentuhan menjadi komunikasi non-verbal yang menghadirkan empati dan dukungan emosional. Ketiga aspek tersebut memperkaya pendampingan pastoral yang holistik, serta menolong pasien hemodialisa menemukan kembali harapan, makna hidup, dan kesejahteraan secara menyeluruh.
Rekonseptualisasi Pendidikan Agama Kristen di Tengah Arus Sekularisasi Modern Harun Puling; Sandra Rosiana Tapilaha
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 7, No 1 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v7i1.393

Abstract

AbstractThe modern wave of secularization has shifted human value orientation from spirituality toward rationality and materialism, resulting in a crisis of meaning that diminishes the role of Christian Religious Education (CRE) as a formative agent of faith and spiritual character. This study aims to theologically and philosophically analyze a reconceptualization model of CRE that integrates faith and modern rationality through a qualitative–theological approach employing literature analysis and contextual hermeneutics. The research is grounded in Stephen Bevans’ framework of contextual theology, particularly the praxis model, which emphasizes a dynamic interaction between theological reflection and social reality as the locus of faith’s actualization. The findings indicate that secularization, in light of the theology of common grace and divine providence, is not a threat but rather a space for God’s participation in human history through the missio Dei. Consequently, the renewal of Christian Religious Education should focus on integrating faith and knowledge, reflective-dialogical learning, and contextual praxis spirituality, so that religious education functions as a prophetic force amid the current of secularization. AbstrakArus sekularisasi modern telah menggeser orientasi nilai manusia dari spiritualitas menuju rasionalitas dan materialisme, menyebabkan krisis makna yang menurunkan peran Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai pembentuk iman dan karakter rohani. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara teologis dan filosofis model rekonseptualisasi PAK yang mampu mengintegrasikan iman dan rasionalitas modern melalui pendekatan kualitatif-teologis dengan analisis pustaka dan hermeneutik kontekstual. Kajian ini berlandaskan pada kerangka teologi kontekstual Stephen Bevans, khususnya praxis model, yang menekankan interaksi dinamis antara refleksi teologis dan realitas sosial sebagai ruang aktualisasi iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekularisasi, dalam terang teologi anugerah umum dan providensia Allah, bukan ancaman melainkan ruang partisipasi Allah dalam sejarah manusia melalui missio Dei. Pembaruan Pendidikan Agama Kristen diarahkan pada integrasi iman dan ilmu, pembelajaran reflektif-dialogis, serta spiritualitas praksis yang kontekstual, sehingga pendidikan agama berfungsi sebagai kekuatan profetis di tengah arus sekularisasi.
Makna Teologis dan Implementasi Perintah “Menjauhkan Diri dari Percabulan’’ Eksegesis 1 Korintus 6:18 dalam Kehidupan Kristen Kontemporer Durmia Sinta Tarihoran; Yanto Paulus Hermanto
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 7, No 1 (2026): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v7i1.403

Abstract

Abstract This study examines the theological meaning and implementation of the command to “flee from sexual immorality” based on the exegesis of 1 Corinthians 6:18 in contemporary Christian life. The study is grounded in the growing normalization of sexual immorality, digital pornography, and permissive culture, which weaken the witness of Christian faith. This research employs a qualitative method through literature review using historical-grammatical and theological-contextual approaches. The findings show that the command to flee from sexual immorality is absolute, immediate, and continuous because the believer’s body is the temple of the Holy Spirit and belongs to Christ. Its implementation involves three dimensions: personal, by guarding the mind, heart, and body; communal, through Christian sexuality education, discipleship, and spiritual discipline; and social, through holy living as a witness amid permissive culture. This study affirms that bodily holiness is an expression of obedience, worship, and contemporary Christian witness. Abstrak Penelitian ini membahas makna teologis dan implementasi perintah “menjauhkan diri dari percabulan” berdasarkan eksegesis 1 Korintus 6:18 dalam kehidupan Kristen kontemporer. Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya normalisasi perilaku seksual menyimpang, pornografi digital, dan budaya permisif yang melemahkan kesaksian iman orang percaya. Penelitian menggunakan metode kualitatif melalui studi pustaka dengan pendekatan historis-gramatikal dan teologis-kontekstual. Hasil kajian menunjukkan bahwa perintah “larilah dari percabulan” bersifat mutlak, segera, dan berkelanjutan karena tubuh orang percaya adalah bait Roh Kudus dan milik Kristus. Implementasinya mencakup tiga dimensi: pribadi, melalui penjagaan pikiran, hati, dan tubuh; komunal, melalui pendidikan seksualitas Kristen, pemuridan, dan disiplin rohani; serta sosial, melalui kesaksian hidup kudus di tengah budaya permisif. Penelitian ini menegaskan bahwa kekudusan tubuh merupakan bentuk ketaatan, ibadah, dan kesaksian iman Kristen masa kini.

Page 10 of 10 | Total Record : 95