cover
Contact Name
Ferry Purnama
Contact Email
jurnalkharis@gmail.com
Phone
+6285959999152
Journal Mail Official
jurnalkharis@gmail.com
Editorial Address
Jln. Mekar Laksana no 8, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi
ISSN : 27226433     EISSN : 27226441     DOI : -
Fokus dan Scope Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi adalah: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Teologi Kontemporer, Teologi Praktika, Teologi Pastoral, Teologi Kontekstual
Articles 87 Documents
Tantangan Kepemimpinan Kristen di Era Disrupsi: Tanggung Jawab, Integritas, dan Adaptasi dalam Melayani Gereja Gunarto, Rita Oktavia; Herman, Samuel; Abraham, Jovita Elizabeth
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.256

Abstract

Leadership cannot be separated from the responsibility inherent in it, as the core of this role is being accountable for the outcomes of one's actions. In an era of disruption filled with various challenges, a leader's ability to adapt or become ensnared by the changes of the times becomes crucial. This research employs a qualitative method and references relevant literature and journals to understand the essence of responsibility in the context of church leadership. This article discusses the price that leaders must pay, such as receiving criticism, pressure, and rejection from both internal and external sources. In the context of the church leader's responsibility to serve, discipline, and guide the congregation, the relevance of sacrifices made, such as draining energy, mental faculties, and even facing loneliness in carrying out duties, is apparent. Integrity in leadership becomes a focal point inseparable from ministry. The author aims to provide a deep understanding through this article, so that the spirit of Christian leaders remains steadfast in fulfilling their noble calling as co-workers of God. Kepemimpinan seseorang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab yang melekat padanya, sebagai inti dari peran tersebut adalah pertanggungjawaban atas hasil dari tindakan yang dipimpinnya. Di era disrupsi yang penuh dengan berbagai tantangan, kemampuan seorang pemimpin untuk beradaptasi atau terjebak oleh perubahan zaman menjadi sangat penting. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan mengacu pada literatur dan jurnal terkait untuk memahami esensi tanggung jawab dalam konteks kepemimpinan gereja. Artikel ini mengulas tentang harga yang harus dibayar oleh pemimpin, seperti menerima kritik, tekanan, dan penolakan baik dari internal maupun eksternal. Dalam konteks tanggung jawab pemimpin gereja untuk melayani, mendisiplinkan, dan membimbing jemaat, terlihat relevansi antara pengorbanan yang harus dilakukan, seperti menguras tenaga, pikiran, bahkan menghadapi kesepian dalam menjalankan tugas. Integritas dalam kepemimpinan menjadi sorotan yang tak terpisahkan dari pelayanan. Penulis bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam melalui tulisan ini, agar semangat para pemimpin Kristen tetap tegar dalam melaksanakan panggilan mulianya sebagai rekan sekerja Allah.
Manajemen Kepemimpinan: Refleksi Praktis Memaksimalkan Potensi Pemimpin Dalam Proses Pelipatgandaan Jemaat Menurut Efesus 4:11-12 Baskoro, Paulus Kunto; Gara, Rony; Prihanto, Joko
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.279

Abstract

Balanced leadership management can provide space for leaders so that their potential develops to the maximum. A dysfunctional leader will definitely have a negative impact on the church. Likewise with the church. The church is God’s institution that should develop and grow healthily. If that doesn’t happen, then the main problem is not God, the founder of the church, but the system, management or leadership that exists in the church. The purpose of this article is to explain the truth in Ephesians 4:11-12 that the function of leadership is to equip all believers (congregation) so that they also function correctly, so that the process of multiplication occurs in the church. The research method used is a qualitative descriptive. The aim of this research is First, to find effective management in local church leadership. Second, providing a theological study based on Ephesians 4:11-12 congregiational ministries. Third, provide a leadership management pattern for multiplying new leaders. Manajemen kepemimpinan yang seimbang dapat memberikan ruang kepada para pemimpin sehingga potensi dalam diri mereka pun berkembang dengan maksimal. Tidak berfungsinya pemimpin pasti membawa dampak yang buruk bagi gereja. Demikian halnya dengan gereja. Gereja merupakan institusi Allah yang harusnya berkembang dan bertumbuh secara sehat. Jika hal itu tidak terjadi maka yang menjadi pokok masalahnya bukanlah Allah sang pendiri gereja, melainkan: sistem, manajemen atau kepemimpinan yang ada dalam gereja tersebut. Tujuan artikel ini adalah untuk memaparkan kebenaran dalam Efesus 4:11-12 bahwa fungsi kepemimpinan, memperlengkapi semua orang percaya (jemaat) supaya mereka juga berfungsi dengan benar sehingga terjadi proses pelipatgandaan dalam gereja. Metode penelitian yang dipakai adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Tujuan dalam penelitian ini adalah Pertama, menemukan managemen yang efektif dalam kepemimpinan gereja lokal. Kedua, memberikan kajian teologis berdasarkan Efesus 4:11-12 dalam jawatan-jawatan di jemaat. Ketiga, memberikan pola managemen kepemimpinan untuk pelipatgandaan pemimpin baru.
Peran dan Karakter Istri dalam Mengurangi Konflik Ketimpangan Penghasilan: Studi Reflektif Berdasarkan Amsal 31:10-31 Santoso, Novie; Hindradjat, Juliana
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.301

Abstract

Marriage is a union between a man and a woman that involves both physical and emotional connection, with the goal of building a joyful and stable family. However, income disparity between spouses can become a source of conflict that threatens family harmony. This study seeks to explore the role of women as supporters of the family in the context of income inequality, from a biblical perspective—specifically through Proverbs 31:10–31. A qualitative approach was employed, using literature review and questionnaires completed by three Christian wives who have experienced income disparity in their households. The findings indicate that although navigating income inequality is challenging, applying the principles found in Proverbs 31:10–31 can help reduce conflict and strengthen family relationships. This study provides insights for Christian couples in managing income inequality in their households by building a family that values the contributions of each partner. Pernikahan merupakan ikatan fisik dan emosional antara laki-laki dan perempuan yang dimaksudkan untuk membentuk keluarga yang harmonis dan sejahtera. Dalam perjalanan pernikahan, ketimpangan penghasilan antara suami dan istri dapat menjadi faktor pemicu konflik yang berpotensi merusak keharmonisan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk menggali peran dam karakter perempuan sebagai penopang keluarga dalam menghadapi ketimpangan penghasilan dengan menggunakan perspektif Alkitab, khususnya Amsal 31:10-31. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yang mengandalkan studi literatur dan kuesioner yang diisi oleh tiga istri Kristen yang mengalami ketimpangan penghasilan dalam rumah tangga mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun peran perempuan dalam menghadapi ketimpangan penghasilan tidak mudah, penerapan prinsip-prinsip dalam Amsal 31:10-31, dapat membantu mengurangi konflik keluarga. Penelitian ini memberikan wawasan bagi pasangan Kristen dalam mengelola ketimpangan penghasilan dalam rumah tangga mereka dengan membangun keluarga yang saling menghargai kontribusi masing-masing pasangan.
Yusuf sebagai Teladan Pria Kristen Kontemporer: Sebuah Telaah Teologi Konseling dalam Merespon Krisis Pembapaan Napitu, Hernita D; Simanjuntak, Ferry; Prihanto, Joko
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.339

Abstract

This study explores the crisis of pembapaan in contemporary Christian families, marked by the emotional and spiritual absence of fathers. This crisis impacts children’s identity, psychological health, and character formation. Contributing factors include economic stress, patriarchal structures, and flawed views of masculinity. Through theological counseling and library research, this study examines Joseph, the earthly father of Jesus, as a model for transformative Christian fatherhood. Joseph exemplifies presence, faithfulness, and obedience rather than dominance. By synthesizing insights from Akili Kumasi, Tony Evans, and A.E. Ellis, the study proposes a framework of pembapaan rooted in love, servant leadership, and spiritual intimacy. It recommends Joseph as a paradigm to guide Christian men in restoring family wholeness and strengthening spiritual life at home. The study not only contributes to theological counseling but also offers practical steps toward reclaiming Christian male identity through a fatherhood shaped by divine love. Studi ini mengkaji krisis pembapaan dalam keluarga Kristen kontemporer yang ditandai oleh ketidakhadiran emosional dan spiritual para ayah. Krisis ini berdampak pada pembentukan identitas, kesehatan psikologis, dan karakter anak. Faktor-faktor penyebabnya meliputi tekanan ekonomi, struktur patriarkal, dan pandangan maskulinitas yang keliru. Melalui pendekatan konseling teologis dan studi pustaka, penelitian ini menyoroti Yusuf, ayah duniawi Yesus, sebagai model pembapaan Kristen yang transformatif. Yusuf menunjukkan keteladanan dalam kehadiran, kesetiaan, dan ketaatan, bukan dominasi. Dengan mensintesiskan pemikiran Akili Kumasi, Tony Evans, dan A.E. Ellis, studi ini membangun kerangka pembapaan yang berakar pada kasih, kepemimpinan hamba, dan keintiman spiritual. Penelitian ini merekomendasikan Yusuf sebagai paradigma untuk membimbing pria Kristen dalam memulihkan keutuhan keluarga dan memperkuat kehidupan rohani di rumah. Studi ini berkontribusi bagi pengembangan konseling teologis sekaligus menawarkan langkah praktis untuk memulihkan identitas laki-laki Kristen melalui pembapaan yang berlandaskan kasih ilahi.
Respon Terhadap Penganiayaan Menurut Lukas 6:22-23: Studi Hermeneutik tentang Pembentukan Identitas Teologis Kristen Hu, Samuel Abdi
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.328

Abstract

This study analyzes Jesus' teaching in Luke 6:22-23 regarding the response to short stories, with a hermeneutic approach that integrates historical and theological dimensions. This study aims to understand how Jesus' teachings can provide a foundation for Christians in the face of social challenges and pressures of modern times. The findings of the study show that this text not only offers pastoral advice for dealing with suffering, but also becomes a strategy for the formation of Christian theological identity from the early church to the contemporary era. By instilling ethical, spiritual, and eschatological values, the text encourages courage, steadfastness of faith, and the hope of eternal rewards in heaven. This research enriches academic discourse by providing a relevant conceptual framework for pastoral practice and theological education in the midst of modern social dynamics.Penelitian ini menganalisis pengajaran Yesus dalam Lukas 6:22-23 mengenai respon terhadap cerpen, dengan pendekatan hermeneutik yang mengintegrasikan dimensi historis dan teologis. Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana ajaran Yesus dapat memberikan landasan bagi umat Kristen dalam menghadapi tantangan sosial dan tekanan zaman modern. Temuan penelitian menunjukkan bahwa teks ini tidak hanya menawarkan nasihat pastoral untuk menghadapi penderitaan, tetapi juga menjadi strategi pembentukan identitas teologis umat Kristen sejak masa gereja awal hingga era kontemporer. Dengan menanamkan nilai-nilai etika, spiritual, dan eskatologis, teks ini mendorong keberanian, keteguhan iman, serta harapan akan ganjaran kekal di surga. Penelitian ini memperkaya diskursus akademis dengan memberikan kerangka konsep yang relevan untuk praktik pastoral dan pendidikan teologi di tengah dinamika sosial modern.
Membangun Dialog Transformatif: Pendekatan Komunikasi Inklusif Untuk Pedagang Asongan Berdasarkan Yohanes 4:1-42 Harming, Harming; Rujali, Rujali; Lawai, Hendry; Toni, Toni
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.318

Abstract

In an era of increasingly advanced globalization, building intercultural relationships has become a growing challenge. This article examines the application of inclusive communication approaches in the context of street hawkers, a group often marginalized in discussions of social and cultural inclusion. Based on the theological narrative of John 4:1–42, the study identifies key principles of transformative dialogue, such as sensitivity to cultural contexts, expanding the boundaries of diversity, and striving for unity through constructive dialogue. Using a qualitative interpretive method, this research provides an in-depth analysis of the biblical text and its relevance to real social contexts. The findings show that transformative dialogue principles can serve as the foundation for communication strategies that promote social inclusion and intercultural cooperation among street hawkers. This article not only presents a theological analysis but also offers practical insights for developing inclusive and empowering communication strategies in an increasingly diverse society. Di era globalisasi yang semakin maju, membangun relasi antarbudaya menjadi tantangan yang kian kompleks. Artikel ini mengkaji penerapan pendekatan komunikasi inklusif dalam konteks para pedagang kaki lima, kelompok yang sering terpinggirkan dalam wacana inklusi sosial dan budaya. Berdasarkan narasi teologis Yohanes 4:1–42, studi ini mengidentifikasi prinsip-prinsip dialog transformatif seperti kepekaan terhadap konteks budaya, perluasan batas keberagaman, dan upaya mencapai kesatuan melalui dialog konstruktif. Metode yang digunakan adalah kualitatif interpretatif untuk menganalisis teks biblika secara mendalam dan relevansinya dalam konteks sosial konkret. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip dialog transformatif dapat menjadi landasan strategi komunikasi guna mendorong inklusi sosial dan kerja sama antarbudaya di kalangan pedagang kaki lima. Artikel ini tidak hanya menawarkan analisis teologis, tetapi juga pandangan praktis untuk mengembangkan strategi komunikasi yang inklusif dan memberdayakan dalam masyarakat yang semakin beragam.
Kristen Progresif – Inkonsistensi Misi yang Menginjak Otoritas Alkitab Sirait, Hikman; Yustinus, Yustinus
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.284

Abstract

This article investigates the missions of Progressive Christian organizations that seek to construct a better system than the one that existed previously through humanism and modernist approaches, as well as reinterpreting Biblical passages. Progressive Christians believe that their eight missions have the potential to influence many aspects of society. Compared to the Christian approach, which is deemed too judgmental and authoritative. The research is qualitative in nature and employs the library research method or library study, which entails collecting data from books, dictionaries, journal articles, periodicals, and so on. Data collecting revealed at least five inconsistencies in Progressive Christian missions. Aside from inconsistencies, progressive Christian missions undermine the Bible's absolute and final authority. The findings indicate that the eight Progressive Christian missions are unsystematic, theologically weak, and ideologically poor. Artikel ini mengkaji misi-misi kelompok Kristen Progresif yang bertujuan membentuk tatanan yang lebih baik dari sebelumnya melalui pendekatan humanis, modernist, dan tafsir ulang teks-teks Alkitab. Kristen Progresif memandang kedelapan misi mereka akan mampu mentransformasi banyak bidang kehidupan di tengah masyarakat. dibandingkan pendekatan Kristen yang dinilai terlalu menghakimi dan otoriter. Penelitian bersifat kualitatif dengan menggunakan metode library research atau studi pustaka, yakni pengumpulan data melalui buku, kamus, artikel jurnal, majalah, dan lain sebagainya. Melalui pengumpulan data ditemukan minimal lima inkonsistensi di dalam misi-misi Kristen Progresif. Selain inkonsistensi, misi-misi Kristen Progresif juga menginjak otoritas Alkitab yang mutlak dan final. Berdasarkan hasil temuan dapat disimpulkan bahwa kedelapan misi Kristen Progresif tidak sistematis, lemah secara teologis, dan illogical.
Strategi Pendidikan Moral Gen-Z dengan Pendekatan Konseling Alkitabiah Jay E Adams untuk Menangkal Krisis Nilai di Era Digital Hermawan, Abraham Rendy; Herman, Samuel
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.319

Abstract

Generation Z is experiencing a moral crisis amid rapid digitalization and secular cultural influences. This study addresses the weakening of moral foundations among Gen Z, which contributes to behaviors such as violence, social media addiction, and declining personal ethics. To respond, the study explores the relevance of Jay E. Adams’ biblical counseling as a moral education strategy for the digital age. Using a qualitative literature review method, the research analyzes Adams’ theory, Gen Z characteristics, and the integration of counseling in Christian education. The findings reveal that Adams’ four counseling stages—teaching, reproving, correcting, and training in righteousness—effectively help youth internalize moral values in a gradual and transformative way. This study offers a contextual and systematic model of moral education based on biblical principles, which can be applied by educators, churches, and parents to shape the character of Generation Z holistically in today’s digital era.Generasi Z sedang mengalami krisis moral di tengah arus digitalisasi dan pengaruh budaya sekuler yang cepat. Studi ini menyoroti lemahnya dasar moral di kalangan Gen Z, yang memicu perilaku seperti kekerasan, kecanduan media sosial, dan menurunnya etika pribadi. Untuk merespons hal ini, penelitian ini mengkaji relevansi konseling biblika Jay E. Adams sebagai strategi pendidikan moral di era digital. Dengan metode kualitatif melalui studi pustaka, penelitian ini menganalisis teori Adams, karakteristik Gen Z, serta integrasi konseling dalam pendidikan Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat tahap konseling Adams—mengajar, menegur, memperbaiki, dan melatih dalam kebenaran—terbukti efektif membantu kaum muda menginternalisasi nilai-nilai moral secara bertahap dan transformatif. Studi ini menawarkan model pendidikan moral yang kontekstual dan sistematis berbasis prinsip Alkitab, yang dapat diterapkan oleh pendidik, gereja, dan orang tua untuk membentuk karakter Gen Z secara holistik di era digital.
Penerjemahan Alkitab dalam Bahasa Ibu Misi Kontekstual dan Dampaknya bagi Orang Percaya Abraham, Rubin Adi
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i1.383

Abstract

Abstract The Bible is the most translated book into various languages. Although, studies on the impact of these Bible translations on the spirituality of the language readers in their local community is still limited. This research is aimed to measure the role of Bible translations into the various heart languages as an integral part of contextual mission. This research uses a library research method with a qualitative theological approach, characterized by two main frameworks: a narrative and a hermeneutical approach to the Bible. The result of the research shows that Bible translations into heart languages, significantly increases understanding, affection and spiritual involvement of the users. Therefore, heart language translations are not just about a communication tool, but also as an emotional and cultural bridge that is important in spreading the Gospel. To that end, translating the Bible into more heart languages need to be supported even more as a relevant and transformative strategy for contextual mission.  AbstrakAlkitab merupakan buku yang paling banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Namun, studi tentang dampak penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa ibu terhadap spiritualitas pengguna bahasa tersebut di dalam komunitas lokal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji peran penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa ibu sebagai bagian integral dari misi kontekstual. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif teologis dengan dua corak utama yaitu pendekatan naratif dan hermeneutik dari Alkitab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa ibu, secara signifikan memperkuat pemahaman, afeksi, dan keterlibatan spiritual masyarakat penggunanya. Dengan demikian, fungsi bahasa ibu tidak terbatas sebagai alat komunikasi saja, tetapi juga sebagai jembatan emosional dan budaya yang penting dalam pewartaan Injil. Oleh karena itu, penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa ibu perlu terus didukung sebagai strategi misi kontekstual yang relevan dan transformatif.
Pembentukan Iman Generasi Muda Kristen di Era 5.0: Sinergi Teologis-Pedagogis antara Gereja dan Orang Tua Gulo, Rikias; Marbun, Ronaully
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 6, No 2 (2025): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v6i2.354

Abstract

AbstractThe digital era 5.0 brings complex challenges to Christian youth faith formation, as 91.8% of Indonesian Christian adolescents remain involved in religious activities, yet worship consistency declines, with 7.7% to 13.7% no longer worshiping regularly. This study explores how parents and churches can work synergistically to strengthen youth faith amid digital technology pressures, secular lifestyles, and emerging ideologies that weaken Christian values. Using qualitative methods with a literature-study approach, the research evaluates theological sources and church documents through a theological-pedagogical framework that integrates Christian faith principles with contemporary educational theory. Findings indicate that spiritual decline is driven by digital dependence, social isolation, and an imbalance between spiritual and material pursuits. The proposed synergy model emphasizes structured family-based discipleship, technology-supported church mentoring, and collaborative monitoring platforms. Ultimately, this research offers an integrative framework that reimagines traditional faith formation for Society 5.0, transforming technology from a threat into a strategic tool for spiritual development. AbstrakEra digital 5.0 menghadirkan tantangan kompleks bagi pembentukan iman remaja Kristen. Meskipun 91,8% remaja Kristen Indonesia masih aktif dalam kegiatan keagamaan, intensitas ibadah mengalami penurunan, dengan 7,7% hingga 13,7% tidak lagi beribadah secara teratur. Penelitian ini mengkaji bagaimana sinergi antara orang tua dan gereja dapat memperkuat pembentukan iman remaja di tengah tekanan teknologi digital, gaya hidup sekuler, dan ideologi alternatif yang melemahkan nilai-nilai Kristiani. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini menganalisis sumber-sumber teologis dan dokumen gerejawi melalui kerangka teologis-pedagogis yang mengintegrasikan prinsip iman Kristen dengan teori pendidikan kontemporer. Temuan menunjukkan bahwa penurunan spiritual dipengaruhi oleh ketergantungan digital, isolasi sosial, dan ketidakseimbangan antara kebutuhan rohani dan material. Model sinergi yang diusulkan mencakup pendampingan rohani berbasis keluarga, program mentoring gereja yang terintegrasi teknologi, serta platform pemantauan berkelanjutan. Penelitian ini menawarkan kerangka integratif yang mengadaptasi paradigma pembentukan iman menuju model Society 5.0, menjadikan teknologi bukan ancaman, tetapi alat strategis bagi penguatan iman.