cover
Contact Name
Ferry Purnama
Contact Email
jurnalkharis@gmail.com
Phone
+6285959999152
Journal Mail Official
jurnalkharis@gmail.com
Editorial Address
Jln. Mekar Laksana no 8, Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi
ISSN : 27226433     EISSN : 27226441     DOI : -
Fokus dan Scope Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi adalah: Teologi Biblika, Teologi Sistematika, Teologi Kontemporer, Teologi Praktika, Teologi Pastoral, Teologi Kontekstual
Articles 87 Documents
Peran Orang Percaya dalam Konservasi Lingkungan: Mengaplikasikan Ajaran Matius 5:13-16 sebagai 'Garam' dan 'Cahaya' dalam Mempertahankan Bumi yang Lebih Berkelanjutan Paliling, Gilbert; Nunung, Donny Stevianus
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i1.259

Abstract

The purpose of this article is to explore the roles and responsibilities of believers in maintaining environmental sustainability, particularly in the context of natural disasters in Indonesia in 2023. This research applies a combined qualitative and quantitative method, with a focus on natural disaster data analysis and biblical interpretation, especially Matthew 5:13–16. The quantitative method involves collecting and analyzing statistical data on natural disasters from various sources, such as government reports and mass media. On the other hand, the qualitative method utilizes biblical exposition and analysis to understand the role of believers in maintaining harmony with the environment. The results show that the use of combined methods provides a holistic and contextual understanding of environmental issues. The impact of natural disasters in 2023 in Indonesia was systematically analyzed, including the number of victims, damage, and related trends. Biblical analysis illustrates the role of believers as "salt" and "light," demonstrating their responsibility in environmental conservation. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi peran dan tanggung jawab orang percaya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, khususnya dalam konteks bencana alam di Indonesia pada tahun 2023. Penelitian ini menerapkan metode gabungan kualitatif dan kuantitatif, dengan fokus pada analisis data bencana alam dan interpretasi Alkitab, terutama Matius 5:13-16. Metode kuantitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data statistik bencana alam dari berbagai sumber, seperti laporan pemerintah dan media massa. Di sisi lain, metode kualitatif menggunakan eksposisi dan analisis Alkitab untuk memahami peran orang percaya dalam menjaga harmoni dengan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode gabungan memberikan pemahaman holistik dan kontekstual terhadap isu-isu lingkungan. Dampak bencana alam pada tahun 2023 di Indonesia dianalisis secara sistematis, termasuk jumlah korban, kerusakan, dan tren terkait. Analisis Alkitab menggambarkan peran orang percaya sebagai "garam" dan "cahaya," mengilustrasikan tanggung jawab mereka dalam konservasi lingkungan.
Peran Gereja dalam Meningkatkan Literasi Media Sosial pada Generasi Z di Indonesia Martha, Jessica; Wihardja, Edy Widjaja; Ardianto, Putra Ageng
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i1.233

Abstract

Social media has become inseparable from Generation Z. However, Gen-Z's use of social media has not been accompanied by strong literacy skills. The majority of Generation Z is still unaware of how social media works. Gen-Z, known as digital natives, are often called digital navies. As a result, social media literacy is an important skill for Gen-Z, particularly in Indonesia. The government has undertaken a number of initiatives to improve social media literacy. However, the government’s efforts need to be supported by other actors, including churches. This paper explained church can role in improving social media literacy among Gen-Z in Indonesia. The author used qualitative research methods, specifically case studies and literature studies, as well as the theory of faith-based media literacy education. This paper found that there are a number of roles that churches can play in supporting the improvement of social media literacy in Gen-Z in Indonesia, one of which is implementing a media mindfulness strategy. Media sosial menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Gen-Z. Media sosial memiliki berbagai manfaat, namun penggunaannya oleh Gen-Z belum disertai dengan kemampuan literasi yang baik. Sebagian besar Gen-Z masih belum memiliki pengetahuan tentang bagaimana sebenarnya media sosial bekerja. Gen-Z yang dikenal sebagai digital natives pun akhirnya sering disebut sebagai digital naives. Oleh karena itu, literasi media sosial menjadi hal penting yang harus dipelajari oleh Gen-Z, khususnya di Indonesia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan literasi media sosial. Namun, upaya pemerintah tersebut perlu didukung oleh aktor lainnya, termasuk gereja. Tulisan ini menjelaskan peran yang dapat dilakukan oleh gereja dalam meningkatkan literasi media sosial pada Gen-Z di Indonesia. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya studi kasus dan studi literatur, dengan pendekatan teori faith-based media literacy education. Tulisan ini menemukan sejumlah peran yang dapat dilakukan oleh gereja dalam mendukung peningkatan literasi media sosial pada Gen-Z, salah satunya adalah dengan menerapkan media mindfulness strategy.
Kritik Etika Kristen Feminis atas Sikap GMIT Ebenhaezer Naimuti Terhadap Praktik Adat Suus Oef Ora, Thresia Nina; Ludji, Irene
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i1.191

Abstract

This article examines the attitude of the Evangelical Christian Church in Timor (GMIT) Ebenhaezer Naimuti towards the suus oef custom in Nekmese Village, South Amarasi, from a feminist Christian ethics perspective. The research employs a qualitative method, including field observations, structured and unstructured interviews, and literature studies. The results indicate that suus oef, part of the bride price, influences how men treat women, with women being considered men's property after payment. GMIT Ebenhaezer Naimuti addresses this issue by providing mass wedding services for couples who have lived together but are not yet legally married in the church. This approach underscores the church's stance that both men and women are made in the image of God (Imago Dei).Artikel ini mengkaji sikap Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Ebenhaezer Naimuti terhadap praktik adat suus oef di Desa Nekmese, Amarasi Selatan, dengan perspektif etika Kristen feminis. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik observasi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil menunjukkan bahwa suus oef, sebagai bagian dari mahar, memengaruhi perlakuan laki-laki terhadap perempuan, di mana perempuan dianggap milik laki-laki setelah pembayaran. GMIT Ebenhaezer Naimuti merespons isu ini dengan menyediakan pelayanan nikah massal bagi pasangan yang sudah tinggal bersama namun belum menikah secara sah di gereja. Pendekatan ini menegaskan pandangan gereja bahwa laki-laki dan perempuan adalah gambar Allah (Imago Dei).
Strategi Flooding: Menyikapi Childfree Berdasarkan Perspektif Mandat Illahi Kej 1:28 Ria, Natal; Tobing, Nurhayati; Simangunsong, Meriko Zonnedy; Simanjuntak, Ferry
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i1.178

Abstract

The declining birth rate has an adverse impact on the whole of life, psychologically, economically, socio-culturally and the deterioration of a country's stability. In response to this, couples should understand and recognize that phobia is one of the fundamental reasons for choosing a child-free concept. The research will help change the perspective for steps that can be taken to address the concept based on the perspective of the divine mandate of Genesis 1:28. Through this research, the author uses a qualitative approach as a way to answer the problem formulation. From the discussion, the author examines the results regarding the steps that couples should take whether they are planning or married, which are as follows: informs that the flooding strategy can be used to change the perspective of not deciding childfree and the obstacles experienced in carrying out the flooding strategy in addressing the concept of childfree phobia (the concept of children) based on the divine mandate. The Flooding strategy used invivo is to present a stimulus to the source of the couple's fear, while imagineri is to imagine the impact of anxiety. From the discussion, it is obtained that the importance of supporting information and education media regarding the truth values of the concept of children, the source of anxiety from childfree and the enactment of government policies on child protection.               Semakin menurunnya angka kelahiran berdampak buruk pada seluruh kehidupan baik secara psikologis, ekonomi, sosial budaya dan kemerosotan stabilitas suatu negara. Menyikapi hal tersebut, pasangan sebaiknya perlu memahami dan mengetahui bahwa fobia menjadi salah satu alasan mendasar adanya pemilihan konsep bebas anak. Penelitian akan membantu mengubah cara pandang untuk langkah-langkah yang dapat dilakukan menyikapi konsep tersebut berdasarkan perspektif mandat Illahi Kej 1:28. Melalui penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif sebagai cara untuk menjawab rumusan masalah. Dari pembahasan tersebut, penulis mengkaji hasil mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan pasangan baik yang berencana ataupun menikah, yakni sebagai berikut: menginformasikan bahwa strategi flooding dapat digunakan untuk mengubah cara pandang untuk tidak memutuskan childfree dan hambatan-hambatan yang dialami dalam melakukan strategi flooding dalam menyikapi konsep fobia childfree berdasarkan mandat Illahi. Strategi yang digunakan invivo adalah menghadirkan stimulus pada sumber ketakutan pasangan, sedangkan imajineri adalah membayangkan dampak dari adanya kecemasan. Dari pembahasan maka diperoleh pentingnya media informasi dan edukasi yang mendukung mengenai nilai-nilai kebenaran terhadap konsep anak, sumber rasa kecemasan dari childfree dan serta adanya pemberlakuan kebijakan pemerintah tentang perlindungan anak.
Beban Ganda Perempuan Di Desa Sitapongan Provinsi Sumatera Utara Di Kaji Dari Perspektif Konseling Feminis Pardede, Refina; Engel, Jacob Daan; Tampake, Tony
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.292

Abstract

This research is motivated by the presence of the double burden phenomenon which very often create gender injustice for women, especially in Sitapongan Village, North Sumatra Province which experiencing a double burden. Apart from playing a role in the domestic realm such as taking care of household, being a wife and being a mother to their children, they also playing a role in the public sphere that is working as farmer. The double burden that experienced by women in this village is caused by the unequal division of gender roles between men and women in their family. The purpose of this research is to analyze the double burden and impacts that experienced by women with double burdens in Sitapongan Village. In this research, the writer used a qualitative research method and ethnographic approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. Then, the scalpel in this research is feminist counseling theory because it is can be used as a new change in the world of counseling and can be a tool to see the phenomenon of the double burden experienced by women in Sitapongan Village. Counseling theory with a feminist approach encourages individuals to pay attention to societal patterns of change and encourage social change that emphasizes gender equality as a way to create a change. Furthermore, the purpose of feminist counseling is to increase awareness in the division of gender roles or burdens.Penelitian ini mengangkat fenomena beban ganda yang sering menimbulkan ketidakadilan gender terhadap perempuan di Desa Sitapongan, Sumatera Utara. Perempuan di desa ini tidak hanya menjalankan peran domestik seperti mengurus rumah tangga, menjadi istri, dan ibu, tetapi juga bekerja di ranah publik sebagai petani. Beban ganda ini terjadi akibat pembagian peran gender yang tidak seimbang dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis jenis beban ganda yang dialami perempuan serta dampaknya. Dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan etnografi melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menggunakan teori konseling feminis sebagai kerangka analisis. Teori ini menekankan pentingnya perubahan sosial yang mendorong kesetaraan gender. Konseling feminis berupaya meningkatkan kesadaran akan pembagian peran gender yang adil, sekaligus menawarkan perspektif baru dalam memahami dan mengatasi beban ganda perempuan.
Menjaga Kesucian dalam Pelayanan: Refleksi terhadap Konsumsi Minuman Beralkohol Ndruru, Elvinniska
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.270

Abstract

This research addresses the issue of church servants consuming alcoholic beverages, emphasizing the need for correct understanding and awareness. It explores views and practices regarding alcohol consumption in the context of maintaining purity in ministry. Using narrative analysis and literature study, the research examines cultural and historical perspectives to uncover diverse opinions on this topic. The study highlights the spiritual and moral implications of alcohol consumption and the importance of personal responsibility to God and oneself. By providing insights into this issue, the research aims to guide church servants in making wise decisions about alcohol use outside of service, ensuring their integrity and purity in ministry. The findings undersc ore the need for church ministers to remain accountable in their calling, fostering a commitment to uphold the sanctity of their service.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan dan praktik terkait konsumsi minuman beralkohol dalam konteks pelayanan. Fokus utama adalah menjaga kesucian dalam pelayanan sebagai pelayan gereja. Dengan menggunakan metode penelitian analisis naratif dan studi literatur dan pemahaman konteks budaya serta historis, penelitian ini mengidentifikasi pandangan yang beragam tentang konsumsi minuman beralkohol. Melalui pendekatan ini, penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana konsumsi minuman beralkohol dipandang dalam konteks spiritual dan moral, serta implikasinya terhadap pelayanan. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi para pelayan gereja dalam mempertimbangkan sikap terhadap konsumsi minuman beralkohol di luar waktu pelayanan, sekaligus mempertahankan kesucian dan integritas dalam panggilan pelayanan.
Pendalaman Alkitab Berkesinambungan Untuk Menghasilkan Jemaat Yang Berkualitas Sodikdiana, Martinus Hartono; Novita, Tricia
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.138

Abstract

The needs in the congregation are not always the same, various congregations have their own characteristics and talents. Even though the needs of the congregation are different, there are fundamental needs in the church that cannot be replaced. The congregation's need for God's Word is absolute and non-negotiable. Fulfilling the need for understanding God's Word will increase faith and hope besides that it needs to be given to the congregation to equip the congregation to have a deeper knowledge of God. Equipping parishioners who feel thirsty for the truth of God's Word will not only make them spiritually mature, but will also make them agents of change in society which will greatly impact the expansion of God's kingdom and in carrying out the Great Commission. The church as a vessel must be a bridge to meet these needs and prepare quality congregations. Kebutuhan dalam jemaat tidaklah selalu sama, berbagai jemaat mempunyai ciri khas, maupun talenta masing – masing. Walaupun kebutuhan jemaat berbeda – beda tetapi ada kebutuhan yang mendasar dalam jemaat yang tidak dapat tergantikan. Kebutuhan jemaat akan Firman Tuhan merupakan hal yang absolut dan tidak dapat ditawar. Pemenuhan kebutuhan akan pengertian Firman Tuhan akan memperbesar iman dan pengharapan selain itu perlu diberikan kepada jemaat untuk memperlengkapi jemaat akan pengetahuan akan Tuhan lebih mendalam. Memperlengkapi jemaat yang merasakan haus akan kebenaran Firman Tuhan selain akan membuat mereka menjadi dewasa rohani juga akan menjadikan mereka agen perubahan ditengah masyarakat yang akan sangat berdampak dalam perluasan kerajaan Tuhan dan dalam melaksanakan Amanat Agung. Gereja sebagai wadah harus menjadi jembatan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan mempersiapkan jemaat yang berkualitas.
Kajian Biblika Wahyu 3:14-22 Tentang Jemaat Laodikia Dan Implikasinya Bagi Jemaat Kristen Dawolo, Freddy Lans Deo
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.264

Abstract

The Church of Laodicea was described by Christ as a congregation that was neither hot nor cold, lukewarm, and arrogant because of its riches. Even though they are rich materially, they experience inconsistent faith and spiritual poverty, and are less aware of their need for God. Christ threatened to vomit them out if they persisted in this way of life. In today's materialistic world, it is easy for congregations to ignore spiritual needs. This brings problems to the growth of the congregation's faith. The research method uses biblical interpretation within the framework of verse-by-verse exegesis. The author also uses qualitative methods by collecting data from various articles and commentary books. The result of this research is that Christ as the head of the church rebukes inconsistent congregations, emphasizes spiritual riches as more important, and offers forgiveness for those who want to come to Him. There is a reward for those who obey until the end, namely the opportunity to feel the presence and glory of God. Jemaat Laodikia digambarkan oleh Kristus sebagai jemaat yang tidak panas dan tidak dingin, suam-suam kuku, dan sombong karena kekayaan. Meskipun kaya secara material, mengalami ketidakkonsistenan iman dan kemiskinan rohani, serta kurang menyadari kebutuhan akan Allah. Kristus mengancam akan memuntahkan apabila mempertahankan cara hidup demikian. Di dunia materialistik saat ini, mudah bagi jemaat mengabaikan kebutuhan rohani. Hal tersebut membawa masalah pada pertumbuhan iman jemaat. Metode penelitian menggunakan penafsiran biblika dalam bingkai eksegesis ayat per ayat. Penulis juga menggunakan metode kualitatif dengan menggumpulkan data dari berbagai artikel dan buku-buku commentary. Hasil dari penelitian ini adalah Kristus sebagai kepala gereja menegur jemaat yang tidak konsisten, menekankan kekayaan rohani lebih penting, dan menawarkan pengampunan bagi yang mau datang kepada-Nya. Ada upah bagi yang taat sampai akhir, yaitu kesempatan merasakan kehadiran dan kemuliaan Allah.
Metode Konseling Yesus dan Implementasinya Pada Masa Kini Berdasarkan Yohanes 4:1-42 Tamahiwu, Yekholya; Hermanto, Yanto Paulus
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.278

Abstract

Counselling is a service that plays an important role in everyone’s life because every person faces various problems and difficulties in solving the problem. Therefore, a competent counsellor is needed to give careful consideration. An example of a competent counsellor can be learned from Jesus as a counsellor who everyone always seeks and asks for His advice. The counselling ministry that Jesus performed was comprehensive. The scope of Jesus’s ministry is not only focused on providing solutions to the problem faced by the counselee. The counselling method carried out by Jesus based on John 4:1-42 uses a method that is appropriate Konseling merupakan bentuk pelayanan yang memegang peranan penting dalam kehidupan setiap orang karena setiap orang menghadapi berbagai masalah dan kesulitan menyelesaikan masalahnya. Oleh sebab itu dibutuhkan konselor yang kompeten untuk memberikan pertimbangan yang matang. Contoh seorang konselor yang kompeten dapat dipelajari dari diri Yesus sebagai konselor yang setiap orang selalu mencari dan meminta nasihat-Nya. Pelayanan konseling yang dilakukan Yesus adalah pelayanan yang menyeluruh. Cakupan pelayanan Yesus tidak hanya terfokus pada memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi konseli. Metode konseling yang dilakukan oleh Yesus berdasarkan Yohanes 4:1-42 menggunakan metode yang sesuai dengan konteks konseli sehingga setiap masalah yang dihadapi konseli dapat diselesaikan dengan baik.
Kajian Etika Solidaritas Terhadap Peran Pekerja Sosial Pendamping Korban Kekerasan Seksual di Sentra Efata Kupang Eluama, Lita Meathy Dawi Ngana; Setyawan, Yusak Budi; Ludji, Irene
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.282

Abstract

This article explores the ethical aspects of solidarity in the role of social workers assisting victims of sexual violence. Social workers are expected to uphold equality and justice for victims, who are often vulnerable and marginalized. Using a qualitative approach, data were collected through observation, interviews, and literature study. The findings reveal that social workers provide protection and empowerment to support victims’ recovery. They emphasize solidarity as a foundation for effective assistance, recognizing its importance in their ethical duties. Despite challenges where some assistance may not be fully embraced by victims, social workers remain committed to their role in fostering solidarity and advocating for justice. This research underscores the ethical responsibility of social workers to assist victims with empathy and dedication, promoting their recovery and rights in the face of societal marginalization.Tulisan ini membahas Etika Solidaritas tentang peran pekerja sosial pendamping korban kekerasan seksual. Peran pekerja sosial yang dimaksudkan adalah sikap pekerja sosial dalam mendampingi korban kekerasan seksual dengan menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan bagi korban kekerasan seksual yang seringkali dianggap sebagai orang-orang paling rentan dan terpinggirkan dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menjalankan peran sebagai pendamping korban kekerasan seksual, pekerja sosial memberikan perlindungan serta pemberdayaan sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan diri korban. Selain itu sebagai pendamping yang memahami betul pentingnya solidaritas sebagai landasan dalam mendampingi korban. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pekerja sosial memahami dengan betul pangggilan etisnya melalui pendampingan terhadap korban meskipun beberapa pendampingan yang dilakukan tidak dapat diterima dengan baik oleh korban. Peran pendamping korban kekerasan seksual diwujudkan dengan solidaritas bersama para korban kekerasan seksual.