cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 119 Documents
MEMAHAMI MAKNA HUKUM TAURAT SEBAGAI PEMBENTUKAN MORAL YANG BAIK BAGI ORANG PERCAYA Citra Purnamasari Gulo
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.79

Abstract

Abstract: The law is the way of life of God's people which includes moral, civil, and religious laws. However, with this law, humans are more inclined to sin, not more moral, because the law is against the desires of the flesh. Given the importance and vulnerability of human moral existence to carry out daily life, instructions and guidelines for human life are needed to create a pattern of life that contributes to God and others. This study aims to review the true meaning of the law in the lives of believers to get to know themselves better before God and experience repentance so that they become more and more like Christ. In relation to the Law as the formation of good morals, several questions arise as follows: 1). How can the law shape human morals to be good? 2). What was the main purpose of the Law? 3). What are the results of obedience to the laws of the Torah? The method used in writing this article is literature research. The results of this study indicate that the Torah is a moral instruction and teaching for believers who confess their sins and know their true selves before God. The law is more precisely a moral law that will educate and direct humans to love more and do good deeds based on God's will to be more like Christ.Abstrak: Hukum Taurat adalah pedoman hidup umat Allah yang mencakup hukum-hukum moral, sipil, dan keagamaan. Namun, dengan adanya hukum ini manusia justru semakin cenderung berbuat dosa bukan semakin lebih bermoral oleh karena hukum Taurat bertentengan dengan keinginan daging. Mengingat begitu penting dan rentanya keberadaan moral manusia untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, maka diperlukan intruksi dan penuntun kehidupan manusia untuk menciptakan suatu pola kehidupan yang berkontribusi terhadap Allah dan sesama. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kembali makna hukum Taurat yang sesungguhnya dalam kehidupan orang percaya untuk semakin mengenal dirinya dihapadan Allah dan mengalami pertobatan sehingga semakin hari semakin serupa dengan Kristus. berhubungan Hukum Taurat sebagai pembentukan moral yang baik, maka muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut: 1). Bagaimana hukum Taurat dapat membentuk moral manusia menjadi baik? 2). Apa yang menjadi tujuan utama Hukum Taurat? 3). Apa yang menjadi hasil dari ketaatan pada hukum Taura? Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah penelitian secara literatur. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa hukum Taurat sebagai instruksi dan pengajaran moral bagi orang percaya yang mengukapkan dosa dan mengenal dirinya yang sebenarnya dihadapan Allah. hukum Taurat lebih tepatnya sebagai hukum moral yang akan mendidik dan mengarahkan manusia untuk semakin mengasihi dan melakukan perbuatan baik berdasarkan kehendak Allah untuk semakin serupa dengan Kristus.  
STUDI BIOGRAFI KEHIDUPAN DAN PERTOBATAN PAULUS SEBAGAI MODEL PERTOBATAN PELAKU KRIMINALITAS SAAT INI Fandri Watulingas
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.84

Abstract

Tingkat kejahatan di dunia ini, takkan ada habisnya hingga kedatangan Tuhan Yesus pada kali yang kedua.  Ada banyak tingkat kriminalitas yang terjadi di masyarakat mulai dari penipuan, perampokan, pemerkosaan bahkan sampai pada pembunuhan.  Dan terkadang peluku kriminalitas berpikir dengan besarnya kejahatan yang mereka lakukan, Allah tidak akan mengampuni dosa mereka.  Pada tulisan ini bertujuan memberikan pemahaman bahwa tidak ada dosa sebesar apapun yang dihadapan Allah yang tidak bisa diampuni apa bila seseorang pelaku kriminalitas bertobat dengan sungguh-sungguh dan percaya kepada Tuhan Yesusu Kristus.  Belajar dari Paulus seorang penganiaya jemaat Tuhan, hingga akhirnya ia bertobat dan percaya kepadaYesus dalam perjalanannya di Damsik untuk menangkap setiap orang yang percaya. Setelah pertobatannya tersebut, ia memberikan hidup sepenuhnya hanya untuk melayani Kristus.  Metode penelitian yang digunakan adalah bibliografi dengan mengambil setiap sumber yang ada hubunngan dengan biografi dan pertobatan Paulus dan disusun berdasarkan berdasarkan latar belakang kehidupan hingga pertobatannya.  Melalui pengalaman pertobatan Paulus memberikan contoh pada pelaku kriminalitas bahwa tidak ada dosa yang tidak bisa diampuni apabila mereka sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.
GEMBALA ABAD KE-21: PANGGILAN, KARAKTER DAN KOMPETENSINYA Pudun Tadam; Belinda Mau
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i2.81

Abstract

Shepherding ministry is never easy. Paul told Timothy to “suffice with me as a good soldier of Christ Jesus. False doctrine teachers are in the church and Christians face lawless, rebellious, ungodly, sinners, unholy, unclean, murderers, kidnappers, and liars, just to name a few characteristics. Timothy was counseled not to be rude to older men and to maintain chastity in his relationships with younger women. The method used is qualitative research, with an exposition approach and a study of biblical literature in which the author conducts research on books and explores the internet. The aims of this research are 1). What is the meaning of a twenty-first-century shepherd's call? 2). What is the character of a twenty-first-century shepherd? 3). What are the competencies a twenty-first-century shepherd should have? The results of this study are 1). The call of the 21st-century shepherd is a call that comes to certain people to serve God in a vocational capacity; 2). A pastor must stay true to the biblical foundation, taking every opportunity to hone his skills and abilities to maximize effectiveness for the Lord; 3). Basically, there are three competencies that must be possessed, namely competence in preaching, competence in pastoral care, and competence in church administration.Pelayanan penggembalaan tidak pernah mudah. Paulus memberi tahu Timotius untuk “ menderita bersama saya sebagai prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Para pengajar doktrin palsu ada di gereja dan orang-orang Kristen menghadapi orang-orang yang melanggar hukum, memberontak, tidak saleh, orang berdosa, tidak suci, najis, pembunuh, penculik, dan pendusta, hanya untuk menyebutkan beberapa karakteristik. Timotius dinasihati untuk tidak bersikap kasar terhadap pria yang lebih tua dan menjaga kemurnian dala hubungannya dengan wanita yang lebih muda. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif, dengan pendekatan eksposisi dan kajian literatur Alkitabiah di mana penulis mengadakan penelitian terhadap buku-buku serta melakukan eksplorasi internet. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1). Apakah makna panggilan gembala abad ke dua puluh satu? 2). Bagaimanakah karakter seorang gembala abad dua puluh satu? 3). Apakah kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki seorang gembala abad dua puluh satu? Hasil penelitian ini adalah: 1). Panggilan gembala abad 21 adalah panggilan yang datang kepada orang tertentu untuk melayani Allah dalam kapasitas vokesyenal; 2). Seorang gembala harus tetap setia pada fondasi alkitabiah, mengambil semua kesempatan untuk mengasah keterampilan dan kemampuannya untuk memaksimalkan efektifitas bagi Tuhan; 3). Pada dasarnya ada tiga kompetensi yang harus dimiliki yaitu kompetensi dalam berkhotbah, kompetensi dalam ‘pastoral care’ dan kompetensi dalam administrasi gereja.
MODEL PENJAMINAN MUTU NEHEMIA SEBAGAI STANDAR SISTEM MANAJEMEN MUTU PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KRISTEN Yakub Hendrawan Perangin Angin; Tri Astuti Yeniretnowati
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.92

Abstract

Budaya mutu mulai menjadi perhatian oleh pemerintah Indonesia di dunia pendidikan, yang dibuktikan dengan dikeluarkannya berbagai peraturan perundangan mengenai mutu lembaga pendidikan. Permasahan menyangkut pendidikan tinggi teologi di Indonesia sangatlah komplek dan banyak serta sudah berlangsung sangat lama Potret Pendidikan Tinggi di Indonesia masih jauh dari harapan. Tujuan penelitian: Untuk menjelaskan secara mendalam makna Model Penjaminan Mutu menurut Kitab Nehemia. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif penelitian kepustakaan (library research)  Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Penjaminan Mutu Nehemia terdiri dari 12 Prinsip yang dapat digunakan sebagai landasan tata kelola penyelenggaraan Pendidikan Kristen.
KEBENARAN ALKITAB MENDEWASAKAN UMAT ALLAH MENURUT II TIMOTIUS 3:14-16 Yulian Anouw
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.96

Abstract

Alkitab adalah Firman Tuhan, buku dari segala buku dan mujizat terbesar dalam sejarah umat manusia. Manfaat yang bisa kita dapatkan tatkala kita mempelajarinya sungguh tak terhingga. Alkitab adalah otoritas tertinggi dan sumber kebenaran yang sejati. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus menekankan pentingnya Firman Allah. Ia menulis, ”Hendaklah engkau tetap berpegang pada perkara-perkara yang telah engkau pelajari dan yang tentangnya engkau telah diyakinkan untuk percaya.” ”Perkara-perkara” yang Paulus sebutkan adalah kebenaran Alkitab yang menggerakkan Timotius untuk beriman kepada kabar baik. Dewasa ini, kebenaran tersebut juga menguatkan iman kita dan membantu kita agar tetap ”berhikmat untuk keselamatan”. (2 Tim. 3:14, 15) Kata-kata Paulus selanjutnya sering kita gunakan untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa Alkitab berasal dari Allah. Tetapi, kita sendiri juga bisa mendapat manfaat tambahan dari kata-kata di 2 Timotius 3:16
INTEGRASI IMAN DAN PEMBELAJARAN: MEMBENTUK KERANGKA BERPIKIR ALKITABIAH BAGI PENDIDIK KRISTIANI Yusak Tanasyah; Bobby Kurnia Putrawan
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.94

Abstract

The integration of faith and learning is regarded to b a primary distinctive of Christian education, yet this terminology conveys a false dichotomy. The frequent call for integration suggests that the Christian faith and learning belong to different areas of knowledge and practice; consequently, there is a need for bringing the two realms together. In this article, a biblical worldview is presented as the unifying factor for the fusion of faith and learning. The biblical narrative provides a solid foundation for a comprehensive worldview, offering implications for the Christian faith and Christian education. What I believe as Christian educators is conveyed in many different ways to our students. The concept of worldview has been used in recent years to describe the comprehensive approach to reality that provides the foundation for how we understand the world and how we teach our students. Christian’s worldviews are offering education that is faithful to our calling to celebrate the lordship of Christ over all of creation. Integrasi iman dan pembelajaran dianggap sebagai ciri khas utama pendidikan Kristen, namun terminologi ini menyampaikan dikotomi yang salah. Seringkali panggilan untuk integrasi menunjukkan bahwa iman dan pembelajaran Kristen termasuk dalam bidang pengetahuan dan praktik yang berbeda; akibatnya, ada kebutuhan untuk menyatukan kedua dunia. Dalam artikel ini, kerangka berpikir alkitabiah disajikan sebagai faktor pemersatu untuk penyatuan iman dan pembelajaran. Narasi Alkitab memberikan dasar yang kuat untuk kerangka berpikir yang komprehensif, menawarkan implikasi bagi iman Kristen dan pendidikan Kristen. Apa yang saya yakini sebagai pendidik Kristen disampaikan dengan berbagai cara kepada peserta didik. Konsep kerangka berpikir telah digunakan dalam beberapa tahun terakhir untuk menggambarkan pendekatan komprehensif terhadap kenyataan yang memberikan landasan bagi bagaimana kita memahami dunia dan bagaimana kita mengajar peserta didik kita. Kerangka berpikir alkitabiah menawarkan pendidikan yang setia kepada panggilan kita untuk merayakan ketuhanan Kristus atas semua ciptaan.
PRINSIP ALKITAB MENGENAI PERNIKAHAN, PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN KEMBALI Yanto Sugiarto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.72

Abstract

Pernikahan adalah penyatuan dua pribadi yang melibatkan bukan hanya dua pribadi yang berbeda tetapi juga keluarga masing-masing. Bukan pula hanya mendapatkan izin dari kedua orangtua, diberkati oleh pendeta, diakui oleh negara, tetapi juga direstui oleh Tuhan. Karena Tuhan sendiri yang mengijinkan dan memerintahkan: “sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Dalam perjalanan kehidupan pernikahan, seiring berjalannya waktu, akan muncul banyak masalah dan konflik diantara mereka. Pasangan yang dewasa, bijak, mau mengalah, dan bisa mencari solusi bersama akan cepat menyelesikan permasalahan mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang egois, mau menang sendiri, tidak bisa menerima keadaan, sulit memaafkan kesalahan pasangannya, membiarkan masalah berlarut-larut sampai menjadi semakin memburuk, akhirnya banyak yang memilih untuk mengakhirinya dengan bercerai. Mereka yang bercerai, di kemudian hari berencana untuk menikah kembali dengan orang lain. Hal ini pasti menjadi pembicaraan dikalangan masyarakat luas, gereja, dan dalam komunitas orang percaya secara luas. Itu sebabnya, setiap orang percaya, terlebih para pemimpin gereja, harus bisa memberikan jawaban dan solusi yang baik dan tepat, bukan sekedar dari buku-buku yang mereka pelajari, pendapat para ahli, atau pengalaman dan pelayanan mereka yang panjang, tetapi bagaimana Alkitab memberikan jawaban atas hal itu semua.
KONSEP MENGENAL ALLAH DALAM PERTUMBUHAN IMAN DAN IMPLIKASI BAGI GEREJA MASA KINI Lurusman Jaya Hia Inoto Hia
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.89

Abstract

Abstrak: This article is a written work that offers a new means of knowing God, growing faith in God, and a personal relationship with the true God. Knowing God is an effort made by humans in their personal lives to know a transcendent and absolute person. In Christian dogmatic education, there are many views that offer different ways for Christians to know the person of God. Due to the reality of human life, there are those who know God in different perspectives and doctrines. Some feel they know God when they come to church to worship, or attend seminars from various Christian communities, without realizing this is crucial. Because he knows God from the exciting perspective of others and not from his personal life, he has a direct and intimate relationship with God. The concept of knowing God shows a model of personal life with faith growth in a personal relationship with God. Knowing God personally is a serious effort to know God with relentless sincerity. This research is designed to enable humans to get a new space to know God in their personal faith growth. Through a personal struggle with God that is carried out all the time, without stopping, and at the same time, its implications for the church today are numerous.Keywords: Knowing God, Faith, Repentance, Triune GodArtikel ini merupakan sebuah karya tulis yang menawarkan sarana baru mengenal Allah dalam pertumbuhan iman kepada Allah dengan kehidupan pribadi berelasi dengan Allah sejati. Mengenal Allah merupakan upaya yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupan pribadinya untuk mengenal pribadi yang transenden dan mutlak adanya. Dalam pendidikan dogmatis Kristen, banyak pandangan-pandangan yang menawarkan cara-cara orang Kristen mengenal pribadi Allah dengan model yang berbeda-beda. Karena realita kehidupan manusia ada yang mengenal Allah dalam prespektif dan doktrin yang berbeda-beda pula. Ada yang merasa mengenal Allah ketika ia datang ke gereja untuk beribadah, mengikuti seminar-seminar dari berbagai komunitas Kristen; tanpa disadari ini krusial. Sebab ia mengenal Allah dengan prespektif yang mengairahkan dari orang lain, bukan dengan kehidupan pribadi berhubungan intim secara lansung bersama dengan Allah. Konsep mengenal Allah ini menunjukan model kehidupan pribadi dengan pertumbuhan iman berelasi secara pribadi dengan Allah. Sesungguhnya mengenal Allah secara pribadi adalah upaya yang serius untuk mengenal Allah dengan kesungguhan hati tanpa henti. Penelitian ini dirancang untuk memampukan manusia untuk mendapatkan ruang baru untuk mengenal Allah dalam pertumbuhan iman secara pribadi. Melalui pergumulan pribadi bersama dengan Allah yang dilakukan setiap saat, tanpa henti, dan sekaligus implikasinya bagi gereja masa kini. Kata kunci: Mengenal Allah, Iman, Petobatan, Allah Tritunggal
IMAN DAN PERBUATAN DALAM PENGINJILAN JEMAAT MULA-MULA DITINJAU DARI YAKOBUS 2:14-26 Joko Priyono; Wahyudi Sri Wijayanto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.93

Abstract

Evangelism is an inseparable part of the Christian's life. The basis of evangelism is the motivation of “God's love” (John 3:16) or God's concern for those who are lost or lost. In doing so, God uses the means of believers to be channels of blessing to all nations (Gal. 3:9, 14, 29). Meanwhile, the ultimate goal is to establish the Kingdom of God. This shows that evangelism can never be separated from the demonstration of the faith and good works of believers. In this study, the writer aims to find the implications of faith and practice related to the context of early church evangelism in terms of James 2:14-26. The methodological reference that the author uses is biblical studies which include exegesis and Bible studies. According to the study of James 2:14-26, it implies that faith and works cannot be separated from the evangelistic life of Christians. A godly lifestyle and love for all is living evangelism. Because the development of the early church has shown that their quantity increases with the quality of life that shows the way of living the Kingdom of God.Penginjilan adalah bagian yang tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan orang Kristen Dasar dari penginjilan adalah motivasi “kasih Allah” (Yoh. 3:16) atau kepedulian Allah terhadap mereka yang sesat atau terhilang. Dalam pelaksanaannya Allah memakai sarana orang-orang percaya untuk menjadi saluran berkat bagi semua bangsa (Gal. 3:9, 14, 29). Sementara, tujuan puncaknya adalah mendirikan Kerajaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa penginjilan tidak pernah bisa dilepaskan dari demonstrasi iman dan perbuatan baik orang percaya. Dalam kajian ini penulis bertujuan untuk menemukan implikasi tentang iman dan perbuatan yang dikaitkan dalam penginjilan jemaat mula-mula ditinjau dari Yakobus 2:14-26. Adapun acuan metodologi yang penulis pakai adalah studi biblika yang mencakup eksegesis dan kajian Alkitab. Menurut kajian Yakobus 2:14-26 memberikan implikasi bahwa iman dan perbuataan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan penginjilan orang Kristen. Gaya hidup saleh dan kasih kepada semua orang merupakan penginjilan yang hidup. Sebab dari perkembangan jemaat mula-mula telah memperlihatkan bahwa kuantitas mereka bertambah seiring kualitas hidup yang menunjukkan cara hidup Kerajaan Allah.
ESENSI KEMANUSIAAN YESUS DALAM MAKNA KETIDAKBERDOSAAN Notatema Waruwu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.88

Abstract

Artikel ini adalah sebuah deskripsi tentang esensi kemanusiaan Yesus Kristus yang tidak berdosa. Pada masa kini, tidak semua orang Kristen memahami esensi atau natur Yesus Kristus yang sebagai Firman Allah yang berinkarnasi. Penelitian ini memberikan penjelasan tentang apa makna esensi kemanusiaan Kristus dalam ketidakberdosaan-Nya. Penelitian dengan mengumpulkan berbagai sumber dari buku, jurnal, ayat- ayat Alkitab, dan artikel-artikel lainnya dengan memakai metode pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Firman Allah telah menjadi manusia. Dan kemanusiaan-Nya adalah sempurna karena tidak berdosa oleh dosa dunia. Dengan ketidakberdosaan Kristus dapat memberikan keselamatan bagi manusia untuk menuju kekudusan yang dapat menyatukan diri kepada Allah.

Page 6 of 12 | Total Record : 119