cover
Contact Name
Harianto GP
Contact Email
hariantogp@sttexcelsius.ac.id
Phone
+6282115511552
Journal Mail Official
hariantogp@sttecelsius.ac.id
Editorial Address
Barata Jaya IV No. 26, 28 Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi dan Pendidikan
ISSN : 26848724     EISSN : 26850923     DOI : https://doi.org/10.51730/ed.v4i2
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi, misiologi, dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2684-8724 (print) dan e-issn: 2685-0923 (online) yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Excelsius dengan lingkup kajian penelitian adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) Teologi Sistematika dengan pendekatan non-doktrinal Teologi dan Kontekstual Teologi Pastoral dan Etika Pelayanan Gerejawi Teologi dan Etika Kontemporer Misiologi Biblikal dan Praktikal Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga, dan Sekolah Section Policies
Articles 114 Documents
PENCARIAN YESUS SEJARAH: THE QUEST OF THE HISTORICAL JESUS? Paulus Sentot Purwoko; Gerald Moratua Siregar
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.95

Abstract

“Kata orang, Siapakah Aku ini?” (Markus 8:27). Pertanyaan Yesus ini telah menjadi perdebatan serius sepanjang masa. Mulai dari catatan pertama tentang Yesus pada zaman pra gereja mula-mula sampai ke masa kini. Permasalahan Siapa Yesus sebenarnya sudah dimulai sejak Ia hidup bersama murid-murid-Nya. Murid-murid-Nya menjawab pertanyaan-Nya berdasarkan pengamatan orang sezaman-Nya; ada yang menjawab bahwa Yesus ialah Yohanes Pembaptis, Elia atau hanya sekedar nabi belaka. Lantas Siapakah Dia sebenarnya?  Pada zaman Pencerahan ini, rasionalisme berkembang pesat, berbagai macam bidang studi muncul dan berkembang, termasuk bidang studi sejarah. Para ahli sejarah menemukan berbagai macam metodologi untuk meneliti obyek-obyek sejarah secara lebih kritis, termasuk Alkitab dan semua tokoh yang ada di dalamnya. Mereka mengakui bukanlah hal mudah untuk melakukan observasi dan menggabungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, serta kemudian menarik benang merah dari padanya. Rentang waktu yang sangat panjang, kurangnya bukti-bukti otentik, serta tidak adanya tulisan langsung seorang tokoh sejarah (autobiography) membuat observasi menjadi sulit. Para ahli PB melihat bahwa para reformator lebih banyak membahas doktrin tentang Kristus daripada sejarah Yesus. Mereka lebih banyak menjawab pertanyaan: “Mengapa Yesus mati?”, namun jarang menjawab pertanyaan: “Bagaimana Yesus hidup?
PERJAMUAN KUDUS DALAM 1 KORINTUS 11:27-30 TERHADAP SIKAP BERIBADAH JEMAAT TUHAN Amanda Shalomita
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2022): Vol, 6 No.2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i2.110

Abstract

Perjamuan Kudus merupakan Sakramen yang diakui oleh gereja-gereja sejak periode Abad pertengahan setelah ditemukannya konsolidasi dari teologi sakramen-sakramen, khususnya dalam tulisan Petrus Lombardus. Tujuan penelitian adalah:  Bagaimanakah sikap beribadah dalam 1 Korintus 11:27-30 terhadap gaya hidup jemaat Tuhan? Penelitian studi kepustakaan ini menghasilkan: Perjamuan Kudus dalam 1 Korintus 11: 27-30 adalah sebuah sakramen gereja yang diselenggarakan untuk: memberikan bimbingan jemaat agar mempunyai sikap beribadah yang yaitu: layak, menguji dirinya sendiri, dan mengakui tubuh Tuhan. Karena sikap beribadah wajib mengandung: mempersembahkan tubuh yang kudus (hagios) dan mempersembahkan tubuh yang berkenan (euarestos) kepada Allah.
MISI PAULUS DALAM GALATIA 2:6-10: SATU INJIL YANG BENAR DAN PELAYANAN SOSIAL Sarni Hasang
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2022): Vol, 6 No.2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i2.100

Abstract

This article will be based on Galatians 2:6-10 as it discusses Paul's mission as it relates to bringing people to the truth. Based on a text analysis approach based on syntax and semantics, which focuses on the verse. The text will interact with the thoughts of the Church Fathers. Mission is the main message of the gospel message. Because the gospel is the foundation of the church. But the reality is that the ministry is not only conveying the truth but also caring for the poor. The literature that the author uses is exegesis of the text. The author who specifically explores this topic by doing exegesis based on the four layers of meaning in the scriptures. This letter is Paul's most prominent mission letter in the NT. The topic of Paul's mission in this paper is studied using the method of exegesis. Paul's mission in Jerusalem emphasized the one true gospel and social service. The discussion of the word study only focuses on the true gospel that brings people to salvation. Moreover, discussions like this prove that the true gospel is the gospel that brings salvation. The purpose of the author uses the method of semantic exegesis to formulate Paul's mission according to the Galatians. This study has implications for the congregation in Indonesia in the context of community and church life. In the context of community life, the congregation increases a sense of concern for others through the practice of living that becomes a light for the world. Keywords: Paul's Mission in Jerusalem, Paul Affirms One Gospel, Paul's Social Service.
RELEVANSI FAKTOR PENENTU PERLUASAN MISI GEREJA MULA-MULA BAGI MISI SEDUNIA Sostenis Nggebu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2022): Vol, 6 No.2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i2.97

Abstract

ABSTRACT: The problem of this article examines the challenging and decisive factors for the expansion of the mission of the Early Church in Asia Minor, from Jerusalem to Rome. These determining factors allow the expansion of the Church's mission to be used as a benchmark for the church throughout the centuries in mission. The study of this article uses a descriptive method. The results show that the early Christians carried out the Great Commission for the expansion of the church's mission because it was supported by the obedience of their leaders and members of the congregation, the motivation to establish new congregations, diverse outreach strategies, and geo-political conditions that were conducive to reaching nations outside of the world. Jews with the Gospel of Jesus Christ. Therefore, the yellowing harvest fields in Asia Minor became the target of their ministry to establish a church. The uniqueness of the Early Church can inspire church members in Indonesia to take advantage of conducive geo-political factors in order to reach open ethnic groups and are ready to be harvested.ABSTRAK: Problem artikel ini membahas faktor yang menantang dan yang menentukan bagi perluasan misi Gereja Mula-mula di Asia Kecil, mulai dari Yerusalem sampai ke Roma. Faktor-faktor penentu itu memungkinkan perluasan misi Gereja dapat ini dapat dijadikan patokan bagi gereja sepanjang abad dalam bermisi. Kajian artikel ini menggunakan metode deskriptif. Hasilnya, menunjukkan orang Kristen mula-mula melaksanakan Amanat Agung demi perluasan misi gereja karena didukung oleh ketaatan para pemimpin dan warga jemaatnya, motivasi untuk mendirikan jemaat baru, strategi penjangkauan yang beragam, dan kondisi geo-politik yang kondusif untuk mencapai bangsa-bangsa di luar Yahudi dengan Injil Yesus Kristus. Oleh karena itu, ladang tuaian yang menguning di Asia Kecil menjadi terget pelayanan mereka untuk mendirikan jemaat. Keunikan Gereja Mula-mula ini dapat menginspirasi warga gereja di Indonesia agar memanfaatkan faktor geo-politik kondusif guna mencapai suku-suku bangsa yang terbuka dan siap dituai.Kata kunci: Gereja mula-mula, Perluasan Injil, faktor penentu, teladan pemimpin
BEDA KHASUS PENYEBAB PENYAKIT PECAHNYA GEREJA Jana Wati
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2022): Vol, 6 No.2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i2.102

Abstract

Artikel ini adalah suatu Pengangkatan judul yang dilatar belakangi oleh keinginan seorang penulis mengetahui apa yang menjadi penyebab “Beda Khasus penyebab Penyakit Pecahnya Gereja”, Berbicara tentang “Khasus Penyebab Penyakit Pecanya Gereja” sudah tidak lazim lagi, karena sudah banyak Khasus perpecahan yang terjadi didalam Gereja. Menggapa hal demikian terjadi? Karena banyak perbedaan - perbedaan yang sudah timbul diantara kalangan parah teolong-teolong atau parah Bapak-bapak Gereja yang ada, sehingah perbedaan tersebut banyak menimbulkan perselisihan-perselisihan yang berujung pada terjadinya perpecahan dalam Gereja, yang saling menghakimi satu dengan yang lain.  Didalam doa Tuhan Yesus Kristus sendiri Ia inggin menyatukan Gereja-Nya, (Yohanis 10:30). Tuhan Yesus Kristus sendiri tidak mengiginkan terjadinya Khasus perpecahan tetapi ia ingin sebagai mana Bapa satu didalam Dia begitu puN juga jemaatnya satu didalam Kristus, menjadi suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.Dedominasi-dedominasi yang ada sesugguhnya bukanlah yang menjadi suatu khasus dasar akan menyebabkan pecahnya Gereja yang saling membenarkan atau saling menghakimi. dedominasi yang ada seharusnya menjadi kekayaan untuk menyebar luaskan injil dimuka bumi ini, dedominasi yang ada harus memiliki kesatuan seperti doa Tuhan Yesus Kristus sendiri, yaitu dengan cara saling menerima, melengkapi dan menghargai satu dengan yang lain.Melalui penggangkatan Judul ini, penulis dapat mengetahuai penyebab penyakit pecahnya Gereja dan juga mengerti apa yang menjadi Arti, tugas dan panggilan Gereja. Gereja yang ada seharusnya, harus memiliki polah pengajaran yang hanyah berpusat kepada Kristus saja sehingga tidak menyebabkan pecahnya Gereja, yang saling menghakimi atau saling membenarkan.
MENINJAU ULANG HOMOSEKSUALITAS DARI STUDI BIBLIKA-ETIK DAN UPAYA MELAYANI KAUM HOMOSEKSUALITAS Anton Siswanto
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2022): Vol, 6 No.2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i2.104

Abstract

Isu Homoseksualitas dibicarakan dan diperdebatkan khususnya di kalangan orang Kristen di Indonesia sejak Pernyataan pastoral PGI tentang LGBT oleh Majelis Pekerja Harian pada medio Mei 2016, walau sebelumnya sudah ada juga tentunya. Orang Kristen menghadapi pemikiran yang Pro dan Kontra terhadap keberadaan Kaum Homoseksualitas (Gay dan Lesbian) dan Kaum LGBT secara umum. Jurnal ini berupaya memberikan tinjauangan ulang Homoseksualitas dari Studi ayat-ayat firman Tuhan seperti dalam Kejadian 19, Hakim-hakim 19, Imamat 18:22, 20:13, Roma 1:26-27, 1 Korintus 6:9 dan 1 Timotius 1:10 dan melalui itu juga berusaha memaparkan studi secara Etika Kristen. Melalui kedua studi ini maka berupaya melihat kaum Homoseksual dari pandangan iman Kristen dan melihat bahwa tentu saja di satu sisi orang Kristen perlu melihat bahwa homoseksual adalah salah satu dosa yang diperlihatkan Alkitab dan di sisi lain kita juga perlu mengasihi dan melayani Kaum Homoseksual dengan kasih yang berasal dari Tuhan. 
PENGELOLAAN EMOSI ANAK BERDASARKAN AMSAL 25:17-25 TERHADAP SIKAP BELAJAR PESERTA DIDIK DI SEKOLAH TK Nurdiria Waruwu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2022): Vol, 6 No.2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i2.106

Abstract

Sekolah mempunyai tujuan pendidikan anak usia dini dengan  membentuk anak yang berkualitas,  sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mempengaruhi kehidupan di masa dewasa, dan membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar di sekola. Tujuan penelitian adalah agaimanakah  peran guru untuk melakukan bersosialisasi dengan baik untuk  pengelolaan emosi anak berdasarkan Amsal 29:17-25 terhadap Sikap Belajar Peserta Didik di Sekolah? Penelitian kepustakaan ini menghasilkan: (1) Pengelolaan didiklah adalah suatu tugas utama dan tanggung jawab orang tua untuk mendidik, membenarkan, mengajar atau mendisplinkan anak agar menjadi anak yang dapat membanggakan orang tua. (2)  Pengelolaan Amarah adalah  menimbulkan pertengkaran di dalam dirinya dan orang lain dan memberikan suasana yang tidak baik. (2) Pengelolaan rendah hati  adalah orang  yang memiliki kerendahan hati adalah orang yang dicari Tuhan. (3) Pengelolaan percaya kepada Tuhan adalah membawa keselamatan untuk selama-lamanya sedangkan percaya kepada manusia tidak membawa keselamatan hidup yang kekal. (4) Sikap belajar peserta didik di Sekolah TK adalah melalui keteladanan, kebiasaan, dan kedisiplinan yang dilakukan oleh guru dalam setiap kegiatan di sekolah, baik dalam bermainan atau pun belajar di kelas. Dalam penilaian sikap belajar tersebut dengan cara berkesinambungan dalam kegiatan belajar, bermain peserta didik.
MENGAJAR BERDASARKAN 2 TIMOTIUS 4:1 DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BELAJAR DI SEKOLAH MINGGU GEREJA Rinimawati Buulolo
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2022): Vol, 6 No.2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i2.107

Abstract

Guru harus mengenal gaya belajar anak agar dapat menemukan apa yang menjadi masalah anak di dalam belajar. Tujuan artikel ini adalah menjaab: bagaimanakah mengajar berdasarkan 2 Timotius 4:1 dalam meningkatkan kualitas belajar di sekolah minggu Gereja? Penulisan ini menggunakan peneliian kepustakaan dengan hasil: (1) Seorang guru sudah menjadi keharusan atau wajib memberitakan firman kepada anak didik dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh setiap anak. (2) Seorang guru tidak hanya sekedar pintar berbicara, dan menguasai pembelajaran yang diberikan, tetapi guru harus juga pintar dalam memberikan nasihat, dan bijak memperhatikan setiap perilaku anak. (3) Seorang guru tidak boleh menunda-nunda waktu ketika mengajar, walaupun ada hambatan dan halangan.
PERAN ORANG TUA BERDASARKAN ULANGAN 6:4-7 SEBAGAI DASAR PENANAMAN PEMAHAMAN MENGASIHI ALLAH PADA ANAK Areyne Christi; Belinda Mau
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i3.111

Abstract

Tanggung jawab peran orang tua adalah kewajiban yang tidak bisa diabaikan begitu saja karena orangtua memiliki peranan yang penting untuk memenuhi kebutuhan spritual dan jasmani anak. Tujuan penelitian adalah  bagaimanakah peran orang tua yang mengajarkan berulang-ulang berdasarkan ulangan 6:4-5 sebagai landasan pemahaman mengasihi Allah pada anak sekolah minggu? Penelitian ini menghasilkan bentuk kepustakaan mengenai peranan orang yang dapat dipegang dalam hidup yaitu: (1) Kasihilah Tuhan Allahmu, Kasihilah Tuhan Allahmu adalah inti dari kata “Dengarlah” merupakan jembatan antara kasih dan ketaatan (2) Dengan segenap Hati mengasihi Tuhan segenap hati adalah standar kasih dan ketaatan yang dikehendaki Allah adalah pusat untuk memancar segala kehidupan (3) Dengan segenap jiwa diartikan bahwa manusia yang memiliki hubungan khusus kepada Tuhan dapat mencintainya seperti jiwanya sendiri. Begitu juga dengan cinta manusia kepada Tuhan dapat ditunjukan lewat setiap tindakan (4) Segenap Kekuatan Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan dapat diartikan sebagai kemampuan fisik anak untuk melakukan suatu perbuatan yang dapat memberikan seluruh hidupnya  untuk bisa mengasihi Allah.
PERAN GEREJA DI DALAM PEMBANGUNAN TRANSFORMASIONAL CITY: THE ROLE OF THE CHURCH IN TRANSFORMATIONAL CITY DEVELOPMENT Desire Karo karo; David Ming
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2023): Vol. 7 No. 1 Juni (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i3.112

Abstract

Abstract: The way a person understands poverty and its causes tends to shape the way a persondeals with it. Most government agencies and most institutions define poverty as a whole based onterminology. If the perception of the material used for the problem of poverty is a completeunderstanding, it is not surprising that the local church is not included in it. The purpose of thisstudy is to find out how Christian understanding of transformational city development is? what isthe role of the church in the development of a transformational city? The method used is descriptiveliterature. The result obtained is that being a Christian is not just a status, but is followed by thecharacter and traits attached to it. The Lord Jesus stated the importance of being salt and light whohave character and nature according to their essence. The church has an extraordinaryresponsibility to be involved in various aspects of life that have an impact in being a blessing andbeing open in the midst of people who do not yet know Jesus Christ (plural).Keywords: Church, Leading Transformational, Civil Society

Page 7 of 12 | Total Record : 114