cover
Contact Name
Wildan
Contact Email
jurnal.tawsiyah.2021@gmail.com
Phone
+6281324428464
Journal Mail Official
jurnal.tawshiyah.2021@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Petaling Km. 13 Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Indonesia ZIP code: 33173
Location
Kab. bangka,
Kepulauan bangka belitung
INDONESIA
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagamaan dan Pendidikan Islam
ISSN : -     EISSN : 26564688     DOI : https://doi.org/10.32923/taw.v15i2.1401
awshiyah: Jurnal Sosial Keagamaan dan Pendidikan Islam is an The Institute of Research and Community Services/ Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M)-listed group journal, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Indonesia. The Journal publishing original scholarly research in the comparative and interdisciplinary study of socio-religious community, and Islamic Education. Tawshiyah is committed to the publication of significant, novel research, as well as review symposia and responses. In addition, the journal includes book reviews and discussions of important venues for the publication of scholarly work in the study of religion. Tawshiyah has an international expertise editorial board and is committed to publishing work from scholars of religion around the globe, including occasional translations of important papers. Tawshiyah accepts papers on all socio-religious and Islamic education studies topics and themes with trans-disciplinary perspective: including the history, literature, thought, practice, material culture, and institutions of particular religious traditions and communities from a variety of perspectives such as social scientific, cultural, cognitive, ethnographic, economic, ecological, and geographic, theology or philosophy of religion. Tawshiyah expects that authors frame their research questions and present their results in terms of relevant theoretical or methodological discussions. Purely descriptive papers are not generally accepted for publication. Papers on theory and methodology are encouraged. All publications in Religion are intended to be of interest to a wide audience of academic scholars of religion; submitted work should be presented in a manner intelligible to more than specialists.
Articles 78 Documents
Alumni Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) Antara Peluang dan Tantangan Sulaiman, Rusydi; Kusniati, Endang
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 21 No. 1 (2025): Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagamaan dan Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i1.1031

Abstract

Perkembangan PTAI dalam mengalami transformasi berlangsung cukup lama dari STAI, STAIN, IAIN, sampai pada UIS/UIN. PTAI/PTAIN telah melahirkan banyak alumni yang mampu berkompetensi dibidang agama Islam, hingga ia berperan dibanyak sektor kebidangan (profesi) baik nasional maupun internasional. Namun kondisi tersebut masih belum menyelesaikan masalah, karena masih banyak lulusan PTAI yang belum bekerja sesuai kebidangannya, padahal secara keilmuan sudah mumpuni, namun daya serap kerja belum terpenuhi bagi alumni PTAI/PTAIN. Secara khusus dalam penulisan artikel ini menggunakan landasan operasional, sebagai kerangka teoritis. Sedangkan jenis metodologinya deskriptif kualitatif atau kajian pustaka (library research). Adapaun hasil dari penulisan artikel ini, telah ditemukan peluang bagi lulusan dari PTAI/PTAIN saat ini sudah mampu menggabungkan antara ilmu umum dan ilmu agama (Integrasi-interkoneksi), dengan demikian akan terjalin secara seimbang dan Islam tidak hanya berkutat pada pembahasan akhirat semata, melainkan mampu membicarakan persoalan sosial, hurmaniora dan lain sebagainya. Melihat tantangan yang ada sesuai dengan latar belakang masalah tersebut di atas, dengan kurangnya daya serap lulusan PTAI untuk itu diperlukannya langkah alternatif seperti perlu dibukannya Manajeman Berbasi Sekolah (MBS) bagi masyarakat sebagai pendekatan pendidikan untuk semua kalangan masyarakat, guna meminimalisir stigma negatif terhadap lulusan PTAI/PTAIN. Langkah strategis ini bisa dijadikan sebagai bentuk penguatan peradaban di dunia pendidikan Islam.
Beyond Borders Ummah: The Analysis of Sunni‚ Shiite‚ And ISIS Ummah Irawan, Irawan
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 14 No. 1 (2019): Tawshiyah Vol. 14, No. 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i1.1032

Abstract

This article aims to explain the ummah concept of Sunni‚ Shiite‚ ISIS perspective and its implication in Indonesia. Differently‚ Sunni (especially after khilāfah system removal by the Kingdom of the Ottoman Turk) regards that ummah should be governed with khilāfah system. Shiite views that ummah ought to be led imāmah. Whereas ISIS would like to convert a state to be Dawlat al-Islam Qamat. This article concludes that the concept and the implication of ummah had better return to what had been practiced by Prophet Muhammad and contextualized based on time and era where communities live. This writing uses social-idiological-political approach that is analysed by comparative method. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan konsep ummah dalam perspektif Sunni‚ Syiah‚ ISIS dan implikasinya di Indonesia. Secara berbeda‚ Sunni (khusunya setelah perubahan sistem khilāfah oleh Kerajaan Otoman Turki) menganggap bahwa ummah harus dipimpin dengan sistem khilāfah. Syiah memandang bahwa ummah seharusnya dipimpin oleh imāmah. Sedangkan ISIS menginginkan agar suatu negara dirubah menjadi Dawlat al-Islam Qamat. Artikel ini menyimpulkan bahwa konsep dan implikasi ummah sebaiknya kembali kepada apa yang telah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan dikontekstualisasikan berdasarkan waktu dan zaman dimana masyarakat tinggal. Tulisan ini menggunakan pendekatan sosial-ideologi-politik yang dianalis dengan metode komparatif.
Bigo Live Wajah Baru Cybersex: Lemahnya Penegakan UU Pornografi Kusuma, Rafles Abdi; Satria, Sigit
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 14 No. 1 (2019): Tawshiyah Vol. 14, No. 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i1.1033

Abstract

This article discusses about the development of information and communication technology in broadcasting in the digital era. Today the development of the internet raises new ways of broadcasting (boardcasting) carried out by ordinary citizens. Livecasting is a contemporary way to make anyone appear realtime in front of the camera. Some of the livecasting features that people use are live facebook, and bigo live. This article focuses on the Bigo Live feature which offers chat features with realtime audio and video support. Bigo live at the beginning of the appearance of a lot of pornographic content in it. So the author argues that Bigo is the new face of CyberSex carried out by ordinary users who are not commercial sex workers. The author tries to examine from the perspective of the development of cell phones and new cultures from the use of cellular phones in the digital era. For example features the gift of diamond coins purchased from real money and given to "impromptu porn artists" or users who broadcast live by showing pornographic content. In bigo live, it is known as "saweran", with the word sorry that the writer mentions these women asking for compensation money for sex acts that they will do, such as showing their genitals, doing sighs of sensuality, body swaying, stimulating tongue, and some even doing live broadcast of intimate relationships with their partners. This discussion it can be concluded that it is necessary to review further the use of online broadcasting technology that has been misused by citizens as a place to conduct pornography and even lead to CyberSex. Enforcement of regulations is important so that the use of information and communication technology in the digital era does not erode the religious values ​​and culture of the Indonesian nation. Artikel ini membahas tentang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam penyiaran di era digital. Dewasa ini perkembangan internet memunculkan caru baru penyiaran (boardcasting) yang diakukan oleh warga biasa. livecasting merupakan cara kekinian untuk semakin membuat siapa saja dapat tampil realtime didepan kamera. Beberapa fitur livecasting yang dimanfaatkan warga adalah facebook live, dan bigo live. Pada tulisan ini berfokus pada fitur Bigo Live yang menawarkan fitur chating dengan dukungan audio dan video yang terhubung secara realtime. Bigo live pada kemunculan awalnya banyak berlangsung konten pornografi didalamnya. Sehingga penulis berpendapat bahwa bigo menjadi wajah baru CyberSex yang dilakukan oleh pengguna biasa yang bukan merupakan pekerja sex komersil. Adapun penulis mencoba mengkaji dari perspektif perkembangan telepon seluler dan kebudayaan baru dari pemanfaatan telepon seluler di era digital. Misalnya fitur pemberian coin berlian yang dibeli dari uang asli dan diberikan kepada “artis porno dadakan” atau pengguna yang melakukan siaran langsung dengan mempertontonkan konten pornografi. Dalam bigo live dikenal dengan istilah “saweran”, dengan kata maaf penulis bahwa menyebutkan perempuan-perempuan tersebut meminta imbalan uang untuk aksi sex yang akan dilakukannya, seperti mempertontonkan alat vitalnya, melakukan desahan sensualitas, goyangan tubuh, lidah yang merangsang, bahkan ada yang melakukan siaran langsung hubungan intim dengan pasangannya. Dengan demikian dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa perlu di tinjau lebih lanjut mengenai pemanfaatan teknologi penyiaran secara online yang telah di salah gunakan warga sebagai wadah melakukan pornografi bahkan mengarah pada CyberSex. Penegakan regulasi menjadi penting agar pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di era digital tidak mengikis nilai-nilai religius dan budaya bangsa Indonesia.
Emansipasi Intelektual Jacques Rancière: Kritik Radikal atas Paradoks Kesetaraan dalam Pendidikan Kritis Drianus, Oktarizal; Meitikasari, Diah
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 14 No. 1 (2019): Tawshiyah Vol. 14, No. 1 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i1.1036

Abstract

This paper aims to show at once critics and solutions for the logic of critical education, which has recently been sporadically appropriated by educational institutions and communities in Indonesia. This paper uses the method of library research with primary sources, namely: The Ignorant Schoolmaster: Five Lessons in Intellectual Emancipation by Jacques Rancière. Findings shed light on several things, namely: 1) Rancière's critics of critical education which perpetuates the paradox of equality; 2) The experience of “the teacher who did not know”, Josep Jacotot who accidentally found a way of learning that emancipated his students; 3) Rancière’s criticism of the explicative order which perpetuated the myth of pedagogy. Therefore, the world is divided into two: superior intelligence and inferior intelligence. So that, it made up the imaginary distance, thus it tied the domination relation between the master of explicator and the subordinated ones; 4) Rancière’s critics of the fundamental assumptions of critical education that it puts equality as teleological fiction. In fact, it plunges us into a spiral of stultification. Rancière opposed it. Thus, the presupposition of equality must be put in place as an emancipatory point of departure; 5) the notion of natural universal teaching as a way of learning for everyone. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan kritik sekaligus solusi atas logika pendidikan kritis yang akhir-akhir ini diapropriasi secara sporadis oleh lembaga pendidikan maupun komunitas-komunitas di Indonesia. Tulisan ini menggunakan metode kajian kepustakaan dengan sumber primer, yaitu: The Ignorant Schoolmaster: Five Lessons in Intellectual Emancipation karya Jacques Rancière. Temuan dari kajian ini memuat beberapa hal, yaitu: 1) Kritik Rancière terhadap pendidikan kritis yang menyimpan paradoks kesetaraan; 2) pengalaman sang guru yang tidak tahu, Josep Jacotot; 3) Kritiknya terhadap rezim penjelasan yang turut melanggengkan mitos pedagogis. Karenanya, dunia terbagi menjadi dua: kecerdasan superior dan kecerdasan inferior sehingga menciptakan jarak imajiner dan ketergantuan yang terus dikonfirmasi oleh pihak dominan terhadap pihak subordinat; 4) kritik terhadap asumsi pendidikan kritis yang meletakkan kesetaraan sebagai fiksi teleologis yang justru menjerumuskan kita ke dalam spiral pembodohan. Rancière menepisnya bahwa semestinya pra-andaian kesetaraan mesti diletakkan sebagai titik berangkat pendidikan yang emansipatoris; 5) Tawaran Pengajaran Universal-Alamiah sebagai cara belajar untuk semua orang.
Methods in Scientific and Religious Inquiry: (Metode Holmes Rolston dalam menyelidiki Ilmu Pengetahuan dan Agama) Irawan, Dody
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 22 No. 2 (2025): Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagamaan dan Pendidikan Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i1.1037

Abstract

The perspective of positivism and scientism that glorifies science and denigrates religion contains serious misconceptions about nature, as well as from the scientific method and the religious method. Holmes Rolston reveals methods in scientific and religious inquiry. In his theory, when the form of scientific and religious logic well-constructed. It had more similarity than what often suspected, especially at the core of them. In particular, both of Science and religion provide an-alternative interpretations of experience, scientific interpretations based on causality, while religious interpretations based on meaning. Both of them had different emphases on the specific logic forms of each other's rational ways. But disciplines of them were rational, and were vulnerable to development and use important theoretical paradigms as they encounter experience. The contradiction between interpretation of scientific and religion arises because the boundary between casuality and meaning is semi permeable. Pandangan positivisme dan saintisme yang mengagungkan ilmu pengetahuan dan merendahkan agama mengandung kesalahpahaman serius tentang alam, baik dari metode ilmiah maupun metode agama. Holmes Rolston hadir mengungkap metode dalam penyelidikan ilmiah (sains) dan agama. Dalam pemikirannya, bahwa di dalam bentuk logika ilmu pengetahuan dan agama, ketika dibentuk dengan baik, lebih memiliki kesamaan dari pada yang sering diduga, terutama pada intinya. Ilmu pengetahuan dan agama secara khusus memberikan penafsiran-penafsiran alternatif tentang pengalaman, penafsiran ilmiah yang didasarkan pada kausalitas, sedangkan penafsiran religius berdasarkan pada makna. Keduanya mempunya penekanan berbeda pada bentuk logika spesifik cara-cara rasional masing-masing. Tapi kedua disiplin ilmu tersebut rasional, dan rentan terhadap perkembangan dan menggunakan paradigma-paragigma teoritis penting sebagaimana mereka menghadapi pengalaman. Pertentangan antara penafsiran ilmiah dan agama muncul karena batas antara kasualitas dan makna bersifat semi permeabel.
Strategi Pembinaan Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Bangka Selatan Aloi Kamarasyid
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2019): TAWSHIYAH DESEMBER 2019
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i2.1039

Abstract

The function and the aim of education is to create the quality human resource. The education must be done professionally by the teachers whose pedagogic competence, personality competence, professional competence, and social competence of education. Which is an instrument to perform the change at all aspecs. To form the education which has a high quality is needed the good cooperation of government, society, teachers and staff so that its aim care be teached according to the vision and mission. School is an institution which is managed by a leader whose part to perform a process of education in the school. Head master is a supervisor of the development of the leader of the teachers and the other personal in the school. In reaching the aim of education. He or she must give a support, guidance and a chance for growing the skill and ability of the teachers such as a guidance and execution of educational reformation and teaching, choosing of instrument of lesson and methods of teaching well and discipline, method of systimatic evaluation regarding the phase of all process of teaching. In performing the building, head master should observe the main principles, namely: (1) Science; by following the principles: systematic, regular, programmed, continue; objective, according to data and information by using instrument which can give the accurate data and information; able to be analysed and able to measure or value on performing of teaching. (2) Democracy. (3) Cooperative. (4) Constructive and creative. Some efforts to develop the professional teacher included three programs: (1) Program of pre-service, (2) program of in-service education, (3) program of-in service training. Fungsi dan tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan itu harus dilakukan secara profesional oleh guru-guru yang mempunyai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Pendidikan adalah alat untuk mengadakan perubahan di semua bidang. Untuk mewujudkan pendidikan yang memiliki kualitas tinggi dibutuhkan kerja sama baik dari pemerintah, masyarakat, para guru dan stafnya, sehingga tercapai tujuannya sesuai dengan visi-misinya. Sekolah merupakan lembaga dikelola oleh seorang pemimpin yang berperan menyelenggarakan proses pendidikan di sekolah. Kepala sekolah merupakan supervisi yang tertuju kepada perkembangan kepemimpinan guru-guru dan personel sekolah lainnya dalam mencapai tujuan pendidikan. Ia harus memberikan dorongan, bimbingan, dan kesempatan bagi pertumbuhan keahlian dan kecakapan guru-guru, seperti bimbingan dan pelaksanaan pembaharuan pendidikan dan pengajaran, pemilihan alat-alat pelajaran dan metode-metode mengajar yang lebih baik, cara-cara penilaian yang sistematis terhadap fase seluruh proses pengajaran. Dalam melaksanakan pembinaan kepala sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip utama, yaitu: (1) Ilmiah. Dengan menganut asas: Sistematis, teratur, terprogram, dan kontinue; Objektif, berdasarkan pada data dan informasi; Menggunakan instrumen (alat), yang dapat memberikan data/ informasi yang akurat, dapat dianalisis, dan dapat mengukur ataupun menilai terhadap pelaksanaan pembelajaran. (2) Demokrasi. (3) Kooperatif. (4) Konstruktif dan kreatif. Beberapa usaha pengembangan profesionalisme guru meliputi tiga program yaitu: (1) Program pre-service education. (2) Program in-service education. (3) Program in-service training.
Instrumen Higher Order Thingking Skill (HOTS) Dalam Kisah Penyembelihan Nabi Ismā‘īl (Tafsir Tarbawī Surat Aṣ-Ṣaffāt Ayat 102) Muhammad Amin
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2019): TAWSHIYAH DESEMBER 2019
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i2.1040

Abstract

Artikel ini ditujukan sebagai upaya untuk memahami kisah penyembelihan Nabi Ismā‘īl dalam perspektif tafsīr tarbawī. Fokus kajian ditujukan pada analisis instrumen Higher Order Thinking Skill (HOTS) yang ada dalam pertanyaan Nabi Ibrāhīm kepada Nabi Ismā‘īl. Dengan menggunakan langkah metodologis kajian tafsīr tarbawī yang ditawarkan Mahyudin, penulis dapat menentukan instrumen soal HOTS yang terdapat dalam kisah ini melalui beberapa indikator yaitu: 1) adanya stimulus berupa cerita Nabi Ibrāhīm tentang mimpinya menyembelih Nabi Ismā‘īl, 2) pertanyaan dengan ṣigat “فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ” yang menunjukkan adanya aktifitas nalar dalam merespon stimulus, dan 3) adanya gabungan antara berbagai konsep untuk menjawab soal tersebut sekaligus menjadi problem solving bagi kondisi dilematis yang dialami Nabi Ismā‘īl. Adapun pesan moral yang dapat ditarik dari kisah ini adalah perlunya kesantunan dalam berdakwah, perlunya kesabaran dalam menghadapi setiap ujian, dan juga tawaḍḍu’ sebagai hasil nyata dari pendidikan karakter yang ditanamkan.
Peran Lembaga Pendidikan Non Formal Di Era Milenial Muslim Ansori
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2019): TAWSHIYAH DESEMBER 2019
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i2.1041

Abstract

Lembaga Pendidikan Non Formal (PNF) merupakan jalur pendidikan yang dilaksanakan pada kalangan masyarakat yang merupakan layanan pendidikan serta berfungsi sebagai alat pengganti, penambah dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan. Kebutuhan masyarakat akan adanya pendidikan nonformal sekarang ini semakin bertambah meningkat. Banyak faktor-faktor yang mendorong terjadinya peningkatan kebutuhan PNF dalam kehidupan masyarakat khususnya di era milenial. Generasi millenial juga berpengaruh sekali pada dunia pendidikan. Kecenderungan minat belajar yang serius mulai menurun drastis, karena millenial khususnya di Indonesia sudah kecanduan internet yang disalahgunakan, bukan semata untuk mencari informasi berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Revolusi Mental Etnosentris: Piagam Madinah dan Konstruksi Relasi Islam-Yahudi Rofi’ah, Affaf Fadlilah
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 16 No. 2 (2021): Tawshiyah Vol. 16, No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i1.1054

Abstract

Piagam Madinah merupakan gagasan revolusioner yang ditawarkan Nabi untuk masyarakat Madinah yang majemuk dan kental akan kesukuannya. Dengan kemajemukan suku, budaya, dan agama jika tidak didasari oleh kesiapan menerima heterogentias akan rentan terhadap konflik. Konflik seperti rasisme dan diskriminasi akan mudah muncul seperti yang terjadi di kalangan masyarakat Yatsrib sebelum Nabi hijrah. Dua tindakan ini muncul akibat etnosentrisme. Etnosentrisme adalah faham di mana seseorang merasa bangga terhadap sukunya, kepercayaannya, dan menganggap suku atau kepercayaan orang lain adalah suatu hal yang buruk. Berkaca pada apa yang terjadi di Madinah saat Rasul hijrah, kaum di Madinah yang semula selalu dilanda kekacauan, peperangan, menjadi bersatu dalam konsep ummah. Konsep ummah dan prinsip-prinsip yang ditawarkan Nabi di dalam Piagam Madinah, merupakan sebuah proyek revolusi mental. Pengikisan sikap fanatik antar golongan dan penanaman semangat persaudaraan bagi bangsa heterogen dalam piagam ini, mampu menjadi bekal bagi negara yang memiliki heterogenitas tinggi untuk menciptakan persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, revolusi mental etnosentris penting untuk diteladani dalam kehidupan masa kini untuk mengimplementasikan pasal-pasal persatuan dan kesatuan di dalam Piagam Madinah sekaligus membumikan nilai al-Qur’an dalam al-Hujurat ayat 13.
Kebijakan Pendidikan di Madrasah Aliyah di Indonesia Adib, Noblana
Tawshiyah: Jurnal Sosial Keagaman dan Pendidikan Islam Vol. 14 No. 2 (2019): Tawshiyah Vol. 14, No. 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32923/taw.v14i1.1057

Abstract

Madrasah Aliyah