cover
Contact Name
Obing Katubi
Contact Email
jurnalmasyarakati@gmail.com
Phone
+6281319021904
Journal Mail Official
jurnalmasyarakati@gmail.com
Editorial Address
Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-LIPI Gedung Widya Graha Lantai 9, Jalan Gatot Subroto Nomor 10 Jakarta Selatan.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Masyarakat Indonesia
ISSN : 01259989     EISSN : 25025694     DOI : https://doi.org/10.14203/jmi.v44i2
Artikel yang dimuat dalam Jurnal Masyarakat Indonesia dapat berbasis hasil penelitian maupun pemikiran, dengan fokus bahasan yang berkaitan dengan perihal masyarakat Indonesia. Tiap terbitan memiliki tema yang berbeda-beda dan dapat ditelaah dari berbagai disiplin ilmu berdasar sudut pandang keahlian penulis. Jurnal Masyarakat Indonesia mengutamakan tulisan tentang isu dan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia yang dikaji dari berbagai sudut pandang ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Artikel yang dikirim ke Jurnal Masyarakat Indonesia, dapat ditulis, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Isi Jurnal Masyarakat Indonesia meliputi artikel ilmiah, ringkasan disertasi, dan review buku-buku terbaru dalam bentuk artikel.
Articles 268 Documents
TEKS KETTE KATONGA WERI KAWENDO PADA MASYARAKAT ADAT WEWEWA DI PULAU SUMBA: ANALISIS LINGUISTIK SISTEMIK FUNGSIONAL Magdalena Ngongo
Masyarakat Indonesia Vol 41, No 1 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v41i1.246

Abstract

Kette Katonga Weri Kawendo (KKWK) is one of marriage sessions called proposing to a girl practiced by Wewewa traditional society at Sumba island. This research is aimed to find out and describe text lexico-grammar, inter-clause relationship, context of situation, genre/structure, and ideology. The results show that text on lexicogrammar level covers transitivity, mood, and theme. (1) The transitivity indicated experiential meaning consists of three elements, (a) participant realized by noun and personal pronoun, (b) circumstance realized by adverbial and prepositional phrase, (c) process consists of six process types. (2).Mood realizing interpersonal meaning consists of indicative and imperative. It also has mood structure, such as affirmative is S^P); exclamation is EW^S^P; etc. Text appraisal concerns affect, judgment, and appreciation. (3) Theme realizing contextual meaning has three types: topical, interpersonal, and textual theme. Text thematic structure consists of interpersonal theme ^ textual ^ topical theme. Clause relation covers interdependency and logico-semantic. Context of situation covers field, tenor, and mode. The field relates to topics. Every stage has its own topic. Concerning to talking frequency, brides mediators status is higher than others. Based on topic discussed, tenors status is equal.Tenors have closed relationship. Text mode is spoken realized by the use of theme, Text genre is dialog of proposing to a girl. Generic structure covers various stages: preintroduction, introduction, content and closing. Each stage has sub-stages called. text generic potential structure. Text ideology is Watu nda ngeroka-Tana nda dikki Stone is not movedLand is not shifted. This ideology has six values.Keywords: KKWK, text, traditional society, Wewewa, Waijewa, SFL, Sumba
KELANJUTAN TRADISI LISAN MADDOJA BINE DALAM KONTEKS PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT BUGIS Andi Sulkarnaen
Masyarakat Indonesia Vol 43, No 2 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v43i2.743

Abstract

This research examines the continuation of maddoja bine tradition in the context of Bugis society social change. Literally maddoja means staying up or waking, not sleeping; Bine means seed. Farmers who carry out maddoja bine will be waking at night watching the seeds of the rice, before sowing in the field on the next day. To fill the waking time massureq is held. It is the recital of Sureq La Galigo in song. Maddoja bine is one of La Galigo's traditions which is performed as a tribute to Sangiang Serri (goddess of rice). It is told in the epic / myth of La Galigo that Sangiang Serri is the daughter of Batara Guru.In the beginning, the implementation of maddoja bine was part of communal ritual in one wanua (kampung), when the customary institutions still remained and functioned. The social changes of Bugis society affect the implementation of maddoja bine tradition. This research finds four ways of the implementation of maddoja bine among Bugis farmers: 1) conducted individually accompanied by massureq, 2) carried out individually by incorporating elements of Islamic religion (barzanji) and without accompanying the reading of Sureq La Galigo, 3) carried out individually without accompanying the reading of Sureq La Galigo, 4) executed collectively or in communal accompanied by the recital of Sureq La Galigo.The emergence of four ways of implementing maddoja bine is inseparable from the socio-cultural context of the community in which the tradition is carried out. The sustainability of the tradition is influenced by external and internal elements (inheritance systems). The survival of the tradition is a reflection of the meaningfulness of cultural practice for its supporting community.Keywords: Bugis, tradition sustainability, maddoja bine, social change ABSTRAKTulisan ini membahas kelanjutan tradisi maddoja bine dalam konteks perubahan sosial masyarakat Bugis. Secara harfiah maddoja berarti 'begadang atau berjaga, tidak tidur'; bine berarti 'benih.' Petani yang melaksanakan maddoja bine akan berjaga di malam hari menunggui benih padi yang diperam, sebelum ditabur di persemaian keesokan harinya. Untuk mengisi waktu berjaga-jaga tersebut, diadakan massureq, yaitu pembacaan Sureq La Galigo dengan berlagu (resitasi). Maddoja bine merupakan salah satu tradisi La Galigo yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Sangiang Serri (dewi padi). Dalam epos/mitos La Galigo diceritakan bahwa  Sangiang Serri merupakan puteri Batara Guru. Pada mulanya pelaksanaan maddoja bine merupakan bagian dari ritual komunal dalam satu wanua (kampung). Pada saat itu pranata adat masih ada dan berfungsi. Perubahan sosial masyarakat Bugis berpengaruh terhadap pelaksanaan tradisi maddoja bine. Dari penelitian ini, didapatkan empat cara pelaksanaan maddoja bine di kalangan petani Bugis, yaitu; 1) dilaksanakan secara perorangan disertai dengan massureq, 2) dilaksanakan secara perorangan dengan memasukkan unsur agama Islam (barzanji) dan tanpa disertai dengan pembacaan Sureq La Galigo, 3) dilaksanakan secara perorangan tanpa disertai dengan pembacaan Sureq La Galigo, 4) dilaksanakan secara kolektif atau komunal dengan disertai pembacaan Sureq La Galigo. Munculnya empat cara pelaksanaan maddoja bine ini tidak terlepas dari konteks sosial budaya masyarakat tempat dilaksanakannya tradisi tersebut. Keberlanjutan tradisi dipengaruhi oleh elemen-elemen eksternal dan internal (sistem pewarisan). Kebertahanan tradisi merupakan cerminan kebermaknaan dari praktik budaya bagi komunitas pendukungnya.Kata kunci: Bugis, kelanjutan tradisi, maddoja bine, perubahan sosial
TINJAUAN BUKU POLITIK WACANA BUDAYA KEBERSIHAN DALAM PASCAKOLONIAL INDONESIA Wahyudi Akmaliah Muhammad
Masyarakat Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v38i2.660

Abstract

Kebersihan menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihansering kali menjadi prasyarat dalam pergaulan dan interaksi sosial. Seseorangdikatakan bersih bisa dilihat dari penampilan, baik itu cara berpakaian, tatakrama yang dipraktikkan, maupun cara menggunakan perangkat makan, sepertisendok dan garpu, serta cara menyikapi kondisi tubuh dalam mengeluarkansesuatu dari dalam tubuh (misalnya, ketika batuk, mengeluarkan dahak, ataupun bersin). Di sisi lain, kebersihan bisa menjadi penanda tingkat pendidikanseseorang, apakah ia bisa dikategorikan sebagai modern atau tradisional,berpendidikan atau kurang berpendidikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 180-181), kata bersih, secara harfiah, diartikan bebas dan tidaktercemar dari kotoran, serta tidak tercampur unsur zat lain. Sementara itu,kata kebersihan lebih merujuk pada perihal keadaan bersih, suci, murni, dankepercayaan manusia yang tidak mengandung noda, kotoran, ataupun dosa.Di sini, kebersihan tidak hanya menyangkut lingkungan, tapi juga pengelolaantubuh terkait sesuatu yang berada ataupun di dalam yang mesti dihilangkan.Tidak ada definisi yang ketat mengenai kebersihan dan maknanya, dalamhal dan konteks apa sesuatu ataupun seseorang dianggap bersih. Alasannya,wacana kebersihan lebih menyangkut dengan cara pandang, dan bagaimanacara pandang itu dikonstruksi dan direproduksi, yang dapat membentukpemahaman seseorang atas apa yang dianggap bersih dan kotor. Melaluimekanisme ini makna kebersihan diartikulasikan. Bagi orang yang bergayahidup di perkotaan, misalnya, membuang ludah di sembarang tempat tidakhanya dianggap jorok, tetapi tidak berbudaya dan dianggap kampungan. Agarterlihat santun dan beradab, seseorang yang membuang ludah menggunakansapu tangan ataupun tisu, lalu disimpan di saku baju bila tidak menemukantempat sampah. Sebaliknya, bagi orang yang hidup di pinggiran kota besar danperdesaan, membuang ludah bisa di mana saja, asalkan tidak di dalam rumah.Alasannya, ludah adalah kotoran yang harus dibuang segera. Ia tidak terlalumemikirkan apakah tindakan itu berbudaya atau tidak. Justru, baginya, orangtidak dianggap berbudaya ketika menyimpan ludah di sapu tangan ataupun tisulalu menyimpannya ke dalam saku. Definisi kebersihan dan posisi orang yanglebih berbudaya menjadi relatif terkait dengan cara pandang dan relasi sosialyang bersinggungan dalam memaknai kebersihan.Untuk lebih jelas mengetahui bagaimana kebersihan dikonstruksi dandirepro duksi massal, kita bisa melihat iklan produk pembersih. Pada tahun1980 hingga 1990-an, saat televisi hanya memiliki satu jaringan, TVRI, kitahanya mengenal dua produk pembersih. Sabun mandi yang digunakan untukmembasuh seluruh permukaan badan, termasuk wajah. Sabun batangan yangdigunakan untuk keperluan mencuci pakaian, peralatan memasak, dan perkakasdapur. Melalui iklan televisi, kita dihadapkan pada pelbagai macam produkpembersih yang sudah terspesialisasikan. Tiap-tiap produk tersebut dianggapmemiliki kegunaan untuk membersihkan dan menghilangkan kotoran dan nodadari setiap anggota tubuh dan barang yang kita gunakan. Melalui dramatisasi dalam mengonstruksi kuman dan bakteri yang terdapat dalam kotoran,iklan-iklan tersebut berusaha menciptakan efek filmis untuk memengaruhikita agar berhati-hati dan tetap menjaga kebersihan dalam situasi apa pun.Dengan visualisasi yang kuat, iklan tersebut seakan meneguhkan bahwa juruselamat penghindar dari kotoran yang mengandung bakteri dan kuman adalahproduk-produk pembersih mereka (Dovita 2011).Penjelasan di atas adalah wacana kebersihan melalui praktik-praktik budayapopuler dalam konteks kekinian, khususnya pascarezim Orde Baru. Bagaimanadengan wacana kebersihan dalam sejarah Indonesia, khususnya fase kolonialBelanda yang sangat memengaruhi watak dan budaya masyarakat Indonesiakebanyakan hingga saat ini? Buku hasil dari konferensi, dipimpin oleh Keesvan Dijk dan disponsori oleh KTILV, Royal Netherlands Institute of SoutheastAsian and Carribbean, Leiden, Belanda, setidaknya bisa menjawab pertanyaanitu. Buku yang terdiri dari tujuh bab, ditulis oleh akademisi Belanda dan Australia, dapat membantu pembaca memahami wacana kebersihan masa HindiaBelanda dipraktikkan dan digunakan untuk mengonstruksi atas apa yang dianggap bersih dan kotor. Selain itu, melalui buku ini, pembaca akan ditunjukkanmakna kebersihan bagi orang Indonesia kebanyakan, khususnya di daerah Jawadan perubahan makna kebersihan dengan berkiblatnya orang-orang Barat kedunia Timur, melalui spa (lulur, mandi air hangat, dan pijat refleksi).Untuk mempermudah pembahasan tinjauan buku tersebut, pertama, saya akanmenjelaskan terlebih dahulu studi poskolonial sebagai pijakan yang digunakandalam mendiskusikan buku ini. Kedua, dinamika wacana kebersihan sebagaipembahasan utama yang membentuk identitas kelas dan ideologi. Ketiga,penutup, yang berisi catatan konstruktif terhadap isi buku ini dengan memberikan sejumlah masukan.
INTERSEKSI BUDAYA DAN PERADABAN NEGARA-NEGARA DI SAMUDRA HINDIA: PERSPEKTIF INDONESIA Dedi Supriadi Adhuri; Amorisa Wiratri; Angga Bagus Bismoko
Masyarakat Indonesia Vol 41, No 2 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v41i2.310

Abstract

Tulisan ini membahas interseksi budaya, termasuk peradaban bangsa-bangsa yang terhubung dengan Samudra Hindia dari perspektif Indonesia. Paparan berfokus pada tiga isu, yakni (1) sejarah pelayaran yang dilihat sebagai proses interaksi yang melibatkan socio-cultural exchange di antara pihak yang terlibat; (2) produk dari interaksi yang difasilitasi oleh aktivitas pelayaran; dan 3) diaspora berbagai bangsa di negara-negara dalam lingkup Samudra Hindia. Makalah ini menunjukkan bahwa berbagai suku bangsa di Indonesia sudah ribuan tahun terlibat aktif sebagai host, yakni pihak yang dikunjungi. Juga sebagai tamu (visitor) dari dan ke berbagai negara di tepi Samudra Hindia, baik ke arah timur (India, Afrika, dan Arab) maupun utara (negara-negara ASEAN) dan selatan (Benua Australia). Sebagai hasil dari proses interaksi yang lama dan intensif itu, terjadilah saling adopsidengan kontekstualisasi elemen-elemen kebudayaan, termasuk peradaban di antara bangsa-bangsa itu. Bahasa, agama, struktur sosial, monumen-monumen kuno, seperti candi dan masjid adalah produk dari pertukaran dan adopsi itu. Diaspora berbagai suku bangsa Indonesia di negara-negara tepian Samudra Hindia, juga sebaliknya, diaspora bangsa-bangsa lain di Indonesia, adalah wujud lain dari silang budaya ini. Berbeda dengan saling adopsi elemen-elemen budaya yang terjadi pada masa lalu, diaspora berlangsung sampai sekarang. Hal itu ditunjukkan oleh interaksi antara kelompokkelompok diaspora itu, baik dengan bangsa-bangsa yang menjadi host-nya, maupun dengan bangsa-bangsa mereka sendiri di tanah asalnya.Kata kunci: interseksi sosial budaya, Samudra Hindia, diaspora
WARISAN KOLONIAL DAN MARGINALISASI ORANG LOLODA DI PANTAI BARAT HALMAHERA Abdul Rahman
Masyarakat Indonesia Vol 44, No 2 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v44i2.804

Abstract

Paper ini bertujuan membahas secara singkat mengenai situasi keterpinggiran Loloda di Pesisir Pantai Barat Halmahera dalam segala sektor pembangunan dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Maluku Utara. Berbicara mengenai Maluku Utara, tidaklah lengkap apabila tidak membicarakan Loloda, sebagai bagian integral dari dunia Maluku, baik dalam konteks mitologi, genealogi, geografis, sosiologis, ekonomis, politis, kultural, maupun historis, menurut sumber-sumber lisan setempat. Informasi sezaman menyatakan bahwa Loloda merupakan sebuah bekas kerajaan tertua Maluku (Moloku Loloda) yang terletak di pesisir pantai barat laut Halmahera bagian utara di Kawasan Laut dan Kepulauan Maluku.  Loloda merupakan bagian utama dari sejarah dan kebudayaan “dunia Maluku”. Belum ada sumber yang menjelaskan secara pasti kapan persisnya kerajaan ini berdiri. Namun, sejumlah sumber lisan terbatas mengatakan bahwa kerajaan ini sudah berdiri sejak abad ke-13 Masehi.
DEGRADASI KEBUDAYAAN MARITIM: SEJARAH, IDENTITAS, DAN PRAKTIK SOSIAL MELAUT DI BANTEN Amarulla Octavian; Bayu A Yulianto
Masyarakat Indonesia Vol 40, No 2 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v40i2.115

Abstract

Kolonialisme dianggap sebagai tesis awal yang mengetengahkan meluruhnya kebudayaan maritim nusantara. Kendati demikian, dalam kerangka mengembalikan kebudayaan maritim itu sendiri, pertanyaan terkait representasi peluruhan itu di dalam masyarakat masih perlu dielaborasi lebih jauh. Artikel ini menyajikan proses peluruhan kebudayaan maritim di wilayah Banten, baik dari sisi historis maupun representasi dalam konteks praktik sosial melaut kekinian di masyarakat dalam perspektif sosiologi.Kata Kunci: Kebudayaan, maritim, sejarah, representasi, dan praktik sosial
MENIMBANG ULANG KONSEP GOOD GOVERNANCE: DISKURSUS TEORETIS Syarif Hidayat
Masyarakat Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v42i2.724

Abstract

This paper attempts to criticize the strengths and weaknesses of good governance concept and to further carry out a “conceptual reconstruction” for suitable and proper governance to developing countries, Indonesia in particular. According to the author, the theoretical discourse is undoubtedly needed in this matter, with bringing the government back-in as the main focus, as the existence of current good governance concept and its practice havebeen part of a “tool” in guarding the international development agendas, and also the derived parameters tends to be one size fits for all. Based on the basic argument, the success in managing the state and the society is mostly determined by the ability to adapt the concept of governance in accordance with the characteristics of the social, cultural, economic, and political, the author proposes the so called proper governance concept which means a governance that is more suitable and comfortable to each community according to their own characteristics of the state and society. Altogether, the proper governance concept focus on, at least, four pillars, namely developmental, democratic, socially inclusive, and cultural and historical context (local content).Keywords: state, society, democracy, governanceABSTRAKTulisan ini mencoba untuk mengkritisi kekuatan dan kelemahan dari konsep good governance, untuk selanjutnya melakukan “rekonstruksi konsep” tata kelola pemerintahan yang lebih sesuai dan tepat, khususnya bagi Indonesia. Menurut penulis, diskursus teoretis tentang “rekonstruksi” konsep diperlukan, dengan fokus utama pada upaya bringing the governance back-in mengingat keberadaan dari konsep good governance merupakan salah satu bagian dari “alat” dalam mengawal agenda pembangunan internasional dan parameter-parameter yang diturunkan puncenderung bersifat satu untuk semua (one size fits for all). Berdasarkan argumentasi dasar bahwa keberhasilan dalammelakukan tata kelola negara dan masyarakat lebih ditentukan oleh kemampuan melakukan adaptasi atas konsep governance sesuai dengan karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang dimiliki, penulis menawarkan konsep proper governance yang bermakna suatu tata kelola pemerintahan yang tepat, pantas, dan “nyaman” serta sesuai dengan karakteristik dari state dan society setiap komunitas negara-bangsa. Konsep proper governancebertumpu pada, sedikitnya, empat pilar, yaitu pembangunan (developmental), demokrasi (democratic), sociallyinclusive, dan konteks budaya dan sejarah lokal (cultural and historical context).Kata Kunci: negara, masyarakat, demokrasi, governance
FEMALE LEADERSHIP AND DEMOCRATIZATION IN LOCAL POLITICS SINCE 2005: TREND, PROSPECT, AND REFLECTION IN INDONESIA Kurniawati Hastuti Dewi
Masyarakat Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v38i2.651

Abstract

Analisis dan refleksi mengenai perkembangan demokratisasi di Indonesia pasca-OrdeBaru (setelah lengsernya Suharto sejak Mei 1998) dapat ditinjau dari perkembangandemokratisasi di tingkat lokal. Kebijakan desentralisasi baru, khususnya mengenaimekanisme pemilihan kepala daerah secara langsung (pemilukada langsung) sejaktahun 2005, merupakan salah satu rangkaian demokratisasi di tingkat lokal. Tulisanini menganalisis demokratisasi di tingkat lokal, khususnya melihat dampak pemilukadalangsung terhadap peran politik dan kepemimpinan perempuan. menganalisis tatacara pemilihan kepala daerah sesuai ketentuan UU No. 32/2004 dan data jumlah kandidat perempuan yang mencalonkan diri dalam pemilukada langsung sejak tahun 2005memberikan gambaran tren, karakteristik, dan prospek kepemimpinan perempuanyang muncul di tingkat lokal. Analisis terhadap tren dan karakteristik kepemimpinan perempuan di tingkat lokal sebagai dampak positif demokratisasi di Indonesiamerefleksikan pemahaman baru tentang peran agama (khususnya Islam), gender, danhubungan kekerabatan (familial ties) sebagai faktor penting yang ditemukan dibalikfenomena politik tersebut.Keywords: pemilukada, kepemimpinan perempuan, demokratisasi
AN AGRICULTURAL DEVELOPMENT LEGACY UNREALISED BY FIVE PRESIDENTS, 19662014 Sediono M.P Tjondronegoro
Masyarakat Indonesia Vol 39, No 2 (2013): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v39i2.616

Abstract

The founding fathers of the Indonesian Republic, Soekarno and Moh. Hatta, whobecame first President and Vice President respectively, designated the agriculturalsector as the major factor contributing to Indonesias economic growth. Prof AnneBooths research findings during the Green Revolution in the mid-1970s also indicatethe importance of the agricultural sector. Food self-sufficiency in the country wasachieved in 1985, when Indonesia was close to its take-off stage.However, subsequent developments after the New Order period indicated a gradual shiftof policy guide lines from Peoples Welfare to Export-driven Growth and IncreasingForeign investment. Five Presidents since Sukarno have neglected the urgency ofagrarian reform in Indonesia.Keywords: Agriculture, Food policy, Land use, Population
Memahami kualitas sumber daya manusia OAP berdasarkan pendekatan people-centered : Studi di Kabupaten Tambrauw dan Sorong Gusti Ayu Ketut Surtiari; Haning Romdiati; Luh Kitty Katherina; Dwiyanti Kusumaningrum; Ari Purwanto Sarwo Prasojo
Masyarakat Indonesia Vol 46, No 1 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v46i1.870

Abstract

Kualitas sumber daya manusia Orang Asli Papua saat ini belum banyak dibahas. Indeks Pembangunan Manusia yang selama ini digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui  gambaran kualitas sumber daya manusia merupakan gambaran agregat di tingkat provinsi. Berdasarkan angka Indeks Pembangunan Manusia atau IPM, Provinsi Papua Barat dan Papua merupakan terendah di Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah hal tersebut menunjukkan kualitas sumber daya manusia OAP memang rendah dan bagaimana jika tidak dilakukan perbandingan dengan daerah lain yang memiliki latar belakang sosial budaya dan ekonomi yang berbeda? Tulisan ini bertujuan untuk memahami lebih mendalam kualitas OAP dengan menggunakan pendekatan yang berfokus pada OAP atau people-centered. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan diskusi terpumpun serta observasi lapangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kualitas sumber daya manusia OAP tidak terlepas dari persepsi mereka terkait dengan kesejahteraan. Kecukupan dalam memenuhi kebutuhan dasar dan dapat melakukan aktivitas rutin dengan baik merupakan gambaran penilaian OAP terhadap kesejahteraan dan kemudian mempengaruhi motivasi untuk mendapatkan pendidikan tinggi. Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan banyak ditemui di daerah yang sudah terpapar pembangunan infrastruktur dan juga hidup berdampingan dengan migran dari luar Papua. Tulisan ini  menyimpulkan bahwa penting memahami kualitas SDM berdasarkan karakter wilayah dan budaya setempat. Sehingga upaya meningkatkan kualitas SDM tidak semata bersifat instruksi tetapi lebih partisipatif dan kolaboratif. Tulisan ini memberikan gambaran yang signifikan terkait dengan keadilan dalam menilai kondisi kualitas SDM kelompok masyarakat tertentu.

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 49, No 1 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 2 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 2 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 1 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 2 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 1 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 2 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 1 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 2 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 1 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 2 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 1 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 1 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 2 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 1 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 2 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 1 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 2 (2013): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 1 (2013): Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 1 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 2 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 1 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 2 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 1 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia More Issue