cover
Contact Name
Obing Katubi
Contact Email
jurnalmasyarakati@gmail.com
Phone
+6281319021904
Journal Mail Official
jurnalmasyarakati@gmail.com
Editorial Address
Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK)-LIPI Gedung Widya Graha Lantai 9, Jalan Gatot Subroto Nomor 10 Jakarta Selatan.
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Masyarakat Indonesia
ISSN : 01259989     EISSN : 25025694     DOI : https://doi.org/10.14203/jmi.v44i2
Artikel yang dimuat dalam Jurnal Masyarakat Indonesia dapat berbasis hasil penelitian maupun pemikiran, dengan fokus bahasan yang berkaitan dengan perihal masyarakat Indonesia. Tiap terbitan memiliki tema yang berbeda-beda dan dapat ditelaah dari berbagai disiplin ilmu berdasar sudut pandang keahlian penulis. Jurnal Masyarakat Indonesia mengutamakan tulisan tentang isu dan tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia yang dikaji dari berbagai sudut pandang ilmu-ilmu sosial kemanusiaan. Artikel yang dikirim ke Jurnal Masyarakat Indonesia, dapat ditulis, baik dalam bahasa Indonesia maupun dalam bahasa Inggris. Isi Jurnal Masyarakat Indonesia meliputi artikel ilmiah, ringkasan disertasi, dan review buku-buku terbaru dalam bentuk artikel.
Articles 268 Documents
DARI ISLAM RADIKAL KE ISLAM PLURALIS GENEALOGI GERAKAN PADERI DAN PENGARUHNYA TERHADAP ISLAM PLURALIS DI PERBATASAN MINANGKABAU Syafwan Razi
Masyarakat Indonesia Vol 41, No 1 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v41i1.240

Abstract

Dialectics of religion and social reality can be seen as one of the factors driving the emergence of religious movements. Social reality in the community can lead to the interpretation of typical social movements with basicly social implication. Thus, the radical religious movement grows as a backlash against perceived unjust structures and threatens its existence. Polemics about Padri movement in the Minangkabau as a radical movement must be thoroughly understood and not partially, through the study of history with genealogical approach, interpreting the history of this war will not merely in the sense of time, space, and actor. By tracing genealogy of this religious movement lead us to understand change of identity and historical facts that speak another. Allegations that the Padri movement is extreme and radical to be deeply reconsidered. In fact, the Padri movement has been instrumental in creating a religious understanding of Islamic societies tend Minangkabau northern frontier in the puritanical religious understanding, more pluralist because it is inhabited by several ethnic and even religious, and most importantly between customary and religious accommodation. Under this approach, especially genealogy postmodernism and identity, this paper will examine the history and influence of the Padri movement toward religious understanding Minangkabau societys northern frontier.Keyword: Radical Islam, Pluralist Islam, Genealogy of Paderi Movement
IMPLIKASI GLOBALISASI DALAM POLA KEKERASAN SEKTARIANISME DI INDONESIA Bintang Indra Wibisono; Rommel Utungga Pasopati
Masyarakat Indonesia Vol 43, No 2 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v43i2.737

Abstract

The last decade was marked by sectarian violence in Indonesia. In 2008, violence occurred on Ahmadiyah groups in Cikeusik, Pandeglang and in Manis Lor, Kuningan in 2010. Violence also experienced by Shia groups in Bangil and Sampang in 2011 and 2012. Some of these events indicate the interaction between globalization and identity that is not always peaceful because it affirms identity by exclusion until applying violence to another in the process. There is a landmark that the rampant exclusion to violence is facilitated by globalization. This study looks at this link by analyzing how globalization allows for patterns of violence in sectarianism in Indonesia. Globalization forms the basis of this study primarily as a condition that facilitates the flow of information and communication. As a result, individuals become more open to the possibilities or find the fundamentally inclined side. The authors argue that globalization also enables an increase in the spread of violence against other rather than bringing tolerance and togetherness. This can be seen from the hate narratives formed against Ahmadiyya and Shiite groups by conservative groups. In conclusion, globalization tends to serve as enabling conditions rather than actors who form discourse. Against the pattern of sectarian violence, globalization also allows the narrative of hatred to spread into violence as normal in strengthening identity. In other words, far from acknowledging the truth, globalization in fact also enables subscribers to the pattern of sectarian violence in Indonesia.Keywords: globalisation, violence, other, narration, sectarianABSTRAKDekade terakhir diwarnai kekerasan sektarian di Indonesia. Pada 2008, kekerasan terjadi atas kelompok Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang dan di Manis Lor, Kuningan pada 2010. Kekerasan juga dialami kelompok Syiah di Bangil dan Sampang pada 2011 dan 2012. Beberapa peristiwa tersebut menunjukkan interaksi antara globalisasi dan identitas yang tidak selalu damai karena mengokohkan identitas dengan mengeksklusi hingga menerapkan kekerasan kepada liyan (other) dalam prosesnya. Terdapat tengara bahwa maraknya eksklusi hingga kekerasan tersebut terfasilitasi oleh globalisasi. Studi ini melihat kaitan tersebut dengan menganalisis bagaimana globalisasi memungkinkan pola kekerasan dalam sektarianisme di Indonesia. Globalisasi menjadi dasar studi ini terutama sebagai kondisi yang mempermudah arus informasi dan komunikasi. Dampaknya, individu menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan atau mencari sisi fundamental yang cenderung pasti. Penulis berargumen bahwa globalisasi juga memungkinkan peningkatan penyebaran kekerasan terhadap liyan daripada memunculkan toleransi dan kebersamaan. Hal ini bisa dilihat dari narasi kebencian yang dibentuk terhadap kelompok Ahmadiyah dan Syiah oleh kelompok konservatif. Dalam kesimpulan, globalisasi cenderung berlaku sebagai kondisi yang memampukan daripada aktor yang membentuk wacana. Terhadap pola kekerasan sektarianisme, globalisasi juga memungkinkan narasi kebencian makin tersebar hingga menjadikan kekerasan sebagai hal yang normal dalam penguatan identitas. Dengan kata lain, jauh dari pengakuan atas liyan, globalisasi nyatanya juga memungkinkan pelanggengan pola kekerasan sektarianisme di Indonesia. Kata Kunci: globalisasi, kekerasan, liyan, narasi, sektarian
RINGKASAN DISERTASI RAKYAT MISKIN DAN PEREBUTAN RUANG KOTA DI SURABAYA TAHUN 19001960-an Purnawan Basudoro
Masyarakat Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v38i2.657

Abstract

Surabaya is one of urban destinations for people coming from its surrounding area toseek livelihood. From time to time, the number of city dwellers increases continuously.At the same time, the city is also expanded. This condition affects the waysthe pooraccess city space to reside. Poor people do not have access to city space legally. Inorder to survive in the city, they often took over the city space ilegally. The poorhastostruggle in various ways in order to obtain space to live in Surabaya. This paperreveals the struggle of the poor for accessing city space in Surabaya.The city wasdeveloped to be the center of government and the center of leading industry andbusiness in Indonesia, all at once. Since the early twenty century until 1960s, thestruggle for cityspace in Surabaya involving the poor can be divided into two periods.Firstly, defensive period, which went on until the infiltration of Japan inIndonesia. Inthis period the struggle forcity space involved the poor, landlords and gemeente (municipality). The struggle for cityspace happened at private lands. Secondly, offensiveperiod, which went on since the beginning of Indonesias independence until the 1960s.In this period the struggle for cityspace had extended to public spaces involving thepoor, City Government and other communities.Keywords: poor people, city space, Surabaya
TINJAUAN BUKU: MENGAPA KRISIS KEUANGAN KEMBALI TERULANG Siwage Dharma Negara
Masyarakat Indonesia Vol 38, No 1 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v38i1.305

Abstract

Buku ini ditulis oleh dua ekonom terkemuka, Carmen Reinhart, seorang Profesor ekonomi dari Universitas Marryland dan Kenneth Rogoff, seorang Professor ekonomi dari Universitas Harvard. Dalam buku ini, Reinhart dan Rogoff mengulas sejarah panjang krisis keuangan di dunia sejak enam abad yang lalu meliputi lebih dari 60 negara. Penulis berupaya menggali pelajaran berharga tentang krisis keuangan dan bagaimana menjaga agar krisis tidak kembali terulang di masa depan. Reinhart dan Rogoff secara sistematis dan teliti mengumpulkan berbagai data tentang variabel dan indikator keuangan selama periode 600 tahun. Mereka meneliti perkembangan variabel-variabel ekonomi dan keuangan sebelum, selama dan setelah terjadi krisis keuangan. Data yang berhasil mereka kumpulkan meliputi data tingkat utang pemerintah, tingkat utang swasta, harga asset, tingkat in? asi, nilai tukar, tingkat suku bunga, tingkat output (diukur dengan pendapatan domestik bruto/PDB) dan berbagai data makroekonomi lainnya. Dengan menggunakan data tersebut, Reinhart dan Rogoff menyimpulkan bahwa krisis keuangan dapat menimpa negara manapun. Tidak ada satu negara pun di dunia yang kebal dari krisis keuangan. Bahkan mereka menemukan adanya kemiripan dalam krisis keuangan 2008 di Amerika Serikat (subprime crisis) dengan pengalaman negara-negara lain di masa lalu. Artinya krisis keuangan dapat terus berulang.
KOMODIFIKASI KEHIDUPAN PRIBADI DAN DEMOKRASI SEMU DALAM BUDAYA DIGITAL Nina Widyawati
Masyarakat Indonesia Vol 44, No 1 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v44i1.802

Abstract

Digital adalah perkembangan dari teknologi informasi dan komunikasi yang mempenggaruhi perubahan struktur masyarakat  dari mass ke mass -self . Pesan media  digital umumnya tersegmentasi dan menunjukkan pergeseran budaya dari budaya massa  ke  custom.  Teknologi digital melahirkan berbagai platform sosial media yang memfasilitasi individu memproduksi konten, sehingga lahirlah masyarakat sebagai produsen sekaligus konsumen (prosumer). Perkembangan ini diasumsikan melahirkan masyarakat yang egaliter. Oleh sebab itu, media digital dilihat sebagai ruang publik yang netral. Penelitian ini menganalisis perilaku prosumsi dalam praktek keseharian generasi  internet yaitu generasi  Y dan Z serta implikasinya terhadap interaksi sosial. Subyek penelitian adalah mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui focus group discussion (fgd).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua informan merupakan  prosumer.  Produksi dilakukan melalui ekspose kehidupan sehari-hari. Informan merupakan audience aktif terkait human interest, tetapi sedikit pasif dalam  konsumsi informasi sosial politik karena informasi diperoleh  dari portal berita dan komunitas.  Melalui teknologi digital, subjek penelitian mampu meningkatkan produktivitas karena dapat mengerjakan lebih dari satu kegiatan secara bersamaan, yaitu kuliah sambil bekerja. Akan tetapi media digital belum sepenuhnya egaliter dan demokratis, karena komunitas virtual bisa menghambat kebebasan berekspresi.
REVITALISASI TRADISI: STRATEGI MENGUBAH STIGMA KAJIAN PIIL PESENGGIRI DALAM BUDAYA LAMPUNG Risma Margaretha Sinaga
Masyarakat Indonesia Vol 40, No 1 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v40i1.109

Abstract

Kajian ini berangkat dari marginalisasi pada ulun (orang) Lampung. Sebagai etnik lokal, mereka kurang dihargai oleh pendatang. Di ranah eksternal, ulun Lampung mendapat stigma, karena berbagai tindakannya sering di luar konteks Piil Pesenggiri. Pada dasarnya, Piil Pesenggiri berhubungan dengan makna positif seperti keramahtamahan terhadap tamu, menjunjung martabat dan harga diri, namun sebaliknya yang tampil adalah kekerasan, malas, arogan dan tindakan lainnya yang dalam pandangan pendatang diasosiasikan dengan Piil Pesenggiri. Penelitian ini bertujuan menjelaskan tentang strategi ulun Lampung dalam merevitalisasi nilai Piil Pesenggiri sebagai modal budaya. Saat ini, dengan merevitalisasi kembali Piil Pesenggiri, adalah upaya untuk keluar dari dominasi pendatang dan mengubah stigma yang dilekatkan kepada ulun Lampung. Mereka menguatkan kesadaran kolektif melalui revitalisasi dan reartikulasi Piil Pesenggiri sebagai representasi identitas. Penelitian ini juga menemukan, bahwa reproduksi Piil Pesenggiri adalah bentuk resistensi terhadap ketidaksetaraan dengan pendatang, pengakuan dan dihargai sebagai etnis lokal. Revitalisasi tradisi yang dilakukan antara lain dengan menggelar begawi adok, yaitu ritual pemberian gelar kehormatan kepada orang luar (pendatang) sebagai tanda hubungan persaudaraanatau sebagai pertukaran.Kata Kunci: Ulun lampung, piil pesenggiri, revitalisasi, reproduksi, strategi
INTERGROUP CONTACT AVOIDANCE IN INDONESIA Cahyo Pamungkas
Masyarakat Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v42i2.722

Abstract

The objective of this study is to investigate the relationship between ethno-religious identification and the avoidance of intergroup contact between Muslims and Christians in Ambon and Yogyakarta with considering individual factors. Also, this study aims to fill the gap in literature between studies that emphasize economic andpolitical contestation as the main sources of conflict and studies that focus on prejudice and discrimination as the causes of conflict. Lastly, this study focuses on examining ethnic group conflict theory, which is relevant to the analysis of ethno-religious conflicts in Western countries. The central research question is to what extent is there a relationship between ethno-religious identification among Christians and Muslims in Ambon and Yogyakarta, and avoidance of intergroup contact considering other individual-level determinants and particular intermediate determinants (salience of identity, perceived threats, intergroup contact, religiocentrism, attitudes toward religious plurality, interpretation of sacred writing, perceived discrimination, individual memory of violence, nationalistic attitudes, distrust, and social dominance orientation). I use both qualitative and quantitative methods as approaches to gathering and analysing data to support this study. The data collection methods included surveys, interviews, literature studies, and observations. Surveys were conducted among students at the undergraduate level with aminimum of second year standing from six universities in Ambon and Yogyakarta.Keywords: contact avoidance, ethno-religious identification, perceived-threat, religious pluralism ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara identifikasi etno-religius dan perilaku menghindari interaksi antarkelompok, antara Muslim dan Kristen di Ambon dan Yogyakarta, dengan mempertimbangkan faktor-faktor pada tingkat individu. Selain itu, studi ini juga dimaksudkan untuk mengisi kesenjangan dalam literatur antara studi yang menekankan kontestasi ekonomi dan politik sebagai sumber utama konflik dan studi yang berfokus pada prasangka dan diskriminasi sebagai penyebab konflik. Terakhir, penelitian ini difokuskan pada menguji teori konflik etnis yang relevan dengan analisis konflik etnik-agama di negara-negara Barat pada konteks Asia Tenggara. Pertanyaan penelitian studi ini adalah sejauh mana hubungan antara identifikasi etnikreligius di antara komunitas Muslim dan Kristiani di Ambon dan Yogyakarta dengan perilaku mereka menghindariinteraksi antarkelompok etnik-religius dengan mempertimbangkan faktor-faktor indivdu, seperti perceived threat, religious pluralism, perceived discrimination, dan kontak anatrkelompok serta memori kekerasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Metode pengumpulan data termasuk survei, wawancara, studi literatur, dan observasi. Survei dilakukan di kalangan mahasiswa tingkatsarjana dengan minimal tahun kedua di enam universitas di Ambon dan Yogyakarta.Kata kunci: perilaku menghindari interaksi, identifikasi etno-religius, perasaan terancam, pluralism keagamaan
REPRODUKSI STEREOTIPE DAN RESISTENSI ORANG KATOBENGKE DALAM STRUKTUR MASYARAKAT BUTON Tasrifin Tahara
Masyarakat Indonesia Vol 36, No 2 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v36i2.648

Abstract

This paper aims to study the stereotypes by the kaomu-walaka group towards the Katobengke people as the less advantaged papara group. In the age of the Wolio Sultanate, the kaomu and the walaka as the dominant classes considered the Katobengke as the low social strata, or the dominated group, also called stereotyped people. However, the Katobengke has been trying to fight this definition. The forms of resistance against the kaomu-walaka group that have been done by the Katobengke include: resistance against the knowledge system of the Wolio people, resistance against their field of education, resistance by using state/military symbols, and conducting political negotiations to improve the statuses/positions of the Katobengke people in Butons social structure.Key words: Social Stratification, Stereotype, Resistence
A FOREWORD BY THE GUEST EDITORS: PROFESSOR ANNE BOOTH, EMINENT AND PROLIFIC SCHOLAR, GENEROUS FRIEND AND COLLEAGUE J. Thomas Linbald; Thee Kian Wie
Masyarakat Indonesia Vol 39, No 2 (2013): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v39i2.613

Abstract

This Festschrift in honour of Professor Anne Booth on the occasion of herimpending retirement from the Department of Economics at the School ofOriental and African Studies (SOAS), University of London, is to celebrateAnnes formidable scholarly achievements and her generosity in sharing herresearch findings with her many colleagues, friends, and students.
TINJAUAN BUKU MEMBANGUN KESETARAAN, MENGIKIS KESENJANGAN Anggi Afriansyah
Masyarakat Indonesia Vol 46, No 1 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia
Publisher : Kedeputian Bidang Ilmu Sosial dan Kemanusiaan (IPSK-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmi.v46i1.917

Abstract

Page 2 of 27 | Total Record : 268


Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 49, No 1 (2023): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 2 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 48, No 1 (2022): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 2 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 47, No 1 (2021): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 2 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 46, No 1 (2020): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 2 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 45, No 1 (2019): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 2 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 44, No 1 (2018): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 2 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 43, No 1 (2017): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 2 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 42, No 1 (2016): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 2 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 41, No 1 (2015): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 2 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 40, No 1 (2014): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 2 (2013): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 39, No 1 (2013): Majalah Ilmu-ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 2 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 38, No 1 (2012): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 2 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 37, No 1 (2011): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 2 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia Vol 36, No 1 (2010): Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia More Issue