cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 1,679 Documents
PERAN PKN MENGATASI FENOMENA KECINTAAN PRODUK LUAR YANG TERJADI DI INDONESIA Hidapenta, Detania; Dewi, Dinie Anggraenie
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.046 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1401

Abstract

AbstrakAncaman yang datang mengganggu kedaulatan Indonesia dari waktu semakin beragam. Tidak hanya dalam bentuk ancaman militer yang bisa dilihat oleh mata secara langsung, tetapi ancaman tak kasat mata lainnya jauh lebih banyak megancam kedaulatan negara. Salah satu wujudnya adalah kalahnya produk lokal denan produk luar dipasar Indonesia. Hal tersebut, jika dibiarkan secara terus menerus akan mengakibatkan rusaknya sitem ekonomi di Indonesia. Selain dari itu, apabila sistem ekonomi dalam suatu negara hancur maka kedaulatan negara pun dapat terancam. Disinilah fungsi dan peran dari nasionalisme dan bela negara pelu dikembangkan dan dipahami oleh masyarakat. Dalam hal ini selain diperlukannya pemahaman bela negara dan nasionalisme diperlukan juga sebuah realisasi dari hasil pemahaman tersebut, untuk menciptakan negara yang aman dan makmur. Kata kunci; Ancaman, Nasionalisme, dan Bela negara AbstractThe threats that have come to interfere with Indonesia's sovereignty have varied from time to time. Not only in the form of a military threat that can be seen directly by the eye, but other invisible threats threaten the sovereignty of the state. One form of this is the defeat of local products with foreign products in the Indonesian market. This, if allowed to continue, will result in damage to the economic system in Indonesia. Apart from that, if the economic system in a country is destroyed, the sovereignty of the country can be threatened. This is where the functions and roles of nationalism and state defense need to be developed and understood by the community. In this case, apart from the need for an understanding of state defense and nationalism, a realization of the results of this understanding is also needed in order to create a safe and prosperous country.Key words: Threats, Nationalism, and State Defense
IMBAS NEGATIF GLOBALISASI TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA Setyawati, Yuliana; Septiani, Qori; Ningrum, Risky Aulia; Hidayah, Ratna
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021 ( In Press )
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.496 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1530

Abstract

Pendidikan dalam perkembangannya tidak dapat lepas dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Perkembangan globalisasi telah tampak dan mulai ada sekitar 1000 dan 1500 M. Saat itu ditandai dengan adanya interaksi dalam hubungan antar bangsa di dunia, mulai dari para pedagang melalui jalur darat maupun jalur laut. Para pedagang selain melakukan perdagangan mereka juga menyebarkan nilai-nilai agama, nilai-nilai sosial, seni, dan pendidikan. Sistem pendidikan di era dahulu dengan era globalisasi sangat berbeda, misalnya saja pada pembelajaran. Jika dahulu dilakukan secara tatap muka maka sekarang pembelajaran bisa dilakukan dengan tatap maya dimanapun berada. Hal ini mengakibatkan kurangnya komunikasi antara guru dan siswa. Imbas negatif dari globalisasi di bidang pendidikan lainnya yaitu pengelompokan status sosial, melemahnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara, menurunnya kualitas moral siswa, tergerusnya kebudayaan local, dan munculnya tradisi serba cepat.Sebagai warga negara Indonesia yang kental akan budaya, sudah seharusnya kita menyaring hal-hal yang masuk. Karena jika tidak dapat menggerus budaya local yang sudah ada. Karena tidak semua budaya luar itu cocok dengan budaya kita. Saran bagi penulisan selanjutnya semoga dapat lebih divariasikan sumber dan topic pembahasan agar semakin menarik.
IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NO. 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK (Studi Kasus Perkawinan Dini di Desa Kendayakan Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu) Maulia, Tyssa Yanuari Archida; Saptatiningsih, Rosalia Indriyati
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.524 KB) | DOI: 10.31316/jk.v1i1.926

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak di Desa Kendayakan Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu. Penelitian Kualitatif ini dilaksanakan di Desa Kendayakan Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu. Prosedur yang dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triagulasi sumber dan triagulasi teknik. Subjek penelitian 10 (Sepuluh) orang terdiri dari 1 Kepala KUA Kecamatan Terisi, 1 Kepala Desa, 1 Wali Nikah, 6 Pasangan Menikah, 1 Orang Tua pasangan yang menikah. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Undang-Undang Perlindungan Anak No.35 Tahun 2014 belum terimplementasikan dengan baik karena pemahaman masyarakat Desa Kendayakan mengenai ketentuan usia pernikahan sangat beragam. Mayoritas mereka berpendapat bahwa usia perkawinan adalah ketika anak- anak sudah mencapai baligh yang mengatakan bahwa haid dan hamil merupakan bukti ke-baligh-an seorang wanita. Ada juga yang berpendapat antara usia 15-17 tahun. Mereka menganggap usia tersebut adalah usia siap menikah Pemahaman tersebut dipengaruhi oleh : (1) Mereka menganggap mengawinkan anak lebih cepat adalah lebih baik. (2) Agar cepat lepas tanggung jawab orang tua. Alasan ini biasanya lebih bersifat ekonomis. (3) Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 masih belum sepenuhnya berjalan dengan baik. (4) Keberadaan kitab-kitab fiqih klasik masih menjadi rujukan dan pedoman kuat bagi masyarakat. Masyarakat memahami bahwa pernikahan atau menikahkan anak (diusia anak anak) merupakan salah satu bentuk perlindungan orang tua terhadap anak, dan Undang-Undang Perlindungan Anak ada untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan, akan tetapi masyarakat juga tidak setuju jika Undang-Undang tersebut untuk mencegah pernikahan di usia anak-anak.Kata Kunci: Implementasi, Undang-Undang No. 35 Tahun 2014, Perlindungan Anak AbstractThis study aims to determine the Implementation of Law No. 35 of 2014 concerning the Protection of Children in Kendayakan Village, Terisi Subdistrict, Indramayu Regency. This Qualitative Research was conducted in the Village of Kendayakan, Sub-District of Terisi, Regency of Indramayu. The procedure is carried out using observation, interview, and documentation techniques. Validity checking of data using source triagulation and technique triagulation. The research subjects were 10 (ten) people consisting of 1 Head of KUA Subdistrict, 1 Village Chief, 1 Marriage Guardian, 6 Married Couples, 1 Parent of a married couple. The results of this study conclude that the Child Protection Act No. 35 of 2014 has not been implemented properly due to the understanding of the village community. The challenge of the provisions on marriage age is very diverse. The majority of them argued that the age of marriage is when children have reached the age of high who say that menstruation and pregnancy are proof of a woman's balance. There are also those who argue between the ages of 15-17. They consider that age is age ready to marry. Understanding is influenced by: (1) They consider marrying a child faster is better. (2) In order to quickly escape the responsibilities of parents. This reason is usually more economical. (3) Implementation of Marriage Law No. 1 of 1974 is still not fully running well. (4) The existence of classical jurisprudence books is still a strong reference and guideline for the community. The community understands that marriage or marrying children (in the age of children) is one form of parental protection for children, and the Child Protection Act is there to protect children from acts of violence, but the community also does not agree if the Law is to prevent marriage at the age of children.Key Words: Implementation, Law No. 35 of 2014, Protection of Children
VONIS 20 TAHUN TERHADAP JESSICA KUMALA WONGSO Handayanti, Handayanti
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.59 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1311

Abstract

AbstrakPada kasus kopi sianida dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso dalam hal ini Jessica adalah pihak yang mengundang teman lamanya yaitu Mirna dan Hani untuk bertemu di cafe olivier yang berada di salah satu tempat perbelanjaan di Jakarta. Sebagai seorang tamu Mirna dan Hani menghadiri undangan dari Jessica di cafe olivier. Selaku tuan rumah mengundang orang lain sebagai tamunya dengan maksud untuk mencelakai tamu tersebut merupakan perbuatan yang salah dan jelas menyalahi etika kesopanan dalam pergaulan. Hal ini berarti Jessica sudah menyalahi norma atau nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat yaitu tidak memuliakan tamunya. Perbuatannya tersebut Jessica dijatuhi hukum penjara selama 20 tahun.Kata kunci: Kopi Sianida, Etika, Hati Nurani AbstractIn the case of cyanide coffee with defendant Jessica Kumala Wongso in this case Jessica is the party that invited her old friends Mirna and Hani to meet at olivier café located in one of the shopping centers in Jakarta . As a guest Mirna and Hani attended an invitation from Jessica at the olivier café. As the host invites others as his guests with the intention to harm the guest is a wrong act and clearly violates the ethics of decency in association. This means that Jessica has violated the norms or values that apply in society that is not glorifying her guests. Jessica was sentenced to 20 years in prison. Keywords: Cyanide Coffee, Ethics, Conscience
UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR DAN KETERAMPILAN TENIS MEJA MENGGUNAKAN METODE LATIHAN Suprihatin, Tinuk
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.531 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1387

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untukmeningkatkan keaktifan belajar dan keterampilan tenis meja menggunakan metode latihan pada Siswa Kelas V SD Negeri 6 Baturetno Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2019/2020. Jenis penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas, dengan subyek penelitian yaitu siswa kelas VI  SD Negeri 6 Baturetno  semester II Tahun Pelajaran 2019/2020. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu observasi, tes, angket dan dokumentasi. Prosedur penelitian terdiri dari 2 siklus dengan langkah-langkah meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi. Indikator kinerja meliputi hasil observasi tentang aktifitas belajar siswa dan tes keterampilan bermain tenis meja dengan menggunakan test  unjuk kerja. Hasil penelitian diperoleh keterangan bahwa metode latihan dapat meningkatkan keaktifan belajar dan keterampilan tenis meja pada siswa kelas VI SD Negeri 6 Baturetno Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri Tahun Pelajaran 2019/2020.Kata kunci: Aktifitas Belajar, keterampilan tenis meja, metode latihan AbstractThis study aims to increase learning activeness and table tennis skills using the training method for Class V SD Negeri 6 Baturetno, Baturetno District, Wonogiri Regency, 2019/2020 Academic Year. This type of research is classroom action research, with the research subjects namely students of class VI SD Negeri 6 Baturetno semester II of the 2019/2020 academic year. Data collection techniques in this study are observation, tests, questionnaires and documentation. The research procedure consisted of 2 cycles with steps including planning, implementing, evaluating and reflecting. Performance indicators include the results of observations about student learning activities and skills tests to play table tennis using performance tests. The results obtained information that the training method can improve learning activeness and table tennis skills in grade VI SD Negeri 6 Baturetno, Baturetno District, Wonogiri Regency, 2019/2020 Academic Year.Keywords: Learning activities, table tennis skills, training methods
IMPLEMENTASI NILAI NILAI PANCASILA MELALUI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH DAN DI MASYARAKAT Najm Al Inu, An Nisaa'an; Dewi, Dinie Anggraenie
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.125 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1383

Abstract

AbstarakPendidikan di Indonesia sangatlah beragam dari yang mengenal agama, ilmu sosial, ilmu alam dan masih banyak lagi, tetapi ada satu Pendidikan yang sangat dan harus di pahami seluruh siswa dan siswi yang ada di Indonesia yaitu pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Kewarganegaraan adalah salah satu mata pelajaran yang memfokuskan pda pembentukaan karakter warganegaranya yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dalam memahami pendidikan Kewarganegaraan secarah utuh dan baik serta menyeluruh sebagai suatu bidang kajian yang memepelajari kependidikan perlu dilakukannya analisis terhadap berbagai dimensi yang kini melekat padanya.Sebagai mata pelajaran di sekolah pendidikan Kewarganegaraan telah mengalami perkembangan yang fluktuatif, baik dalam kemasan maupun substansinya.Kata kunci: Pendidikan  kewarganegaraan, Pancasila, Pendidik AbstractEducation in Indonesia is very diverse, from those familiar with religion, social sciences, natural sciences and many more, but there is one education that is very and must be understood by all students and students in Indonesia, namely Citizenship education. Citizenship Education is one of the subjects that focuses on building the character of its citizens who understand and are able to carry out their rights and obligations to become smart, skilled and character Indonesian citizens mandated by Pancasila and the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. Understanding Citizenship education as a whole and well and comprehensively as a field of study that studies education, it is necessary to conduct an analysis of the various dimensions that are now attached to it. As a subject in schools Citizenship education has experienced fluctuating developments, both in its packaging and in its substance.Keywords: Citizenship education, Pancasila, Educators
EKSPLORASI KEKAYAAN SENI DAYAK NGAJU DI DESA TUMBANG MANGGU KABUPATEN KATINGAN Agel, Pepe Rusmitha; Khasanah, Nur; Muslimah, Muslimah; Wulan, Hernes Demar; Karliani, Eli; Tryani, Tryani
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 2 (2021): Desember 2021 ( In Press )
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.315 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i2.1732

Abstract

Abstrak Suku Dayak Ngaju memiliki kekayaan dalam hal kesenian. Suatu ciri yang dijumpai dalam kebudayaan Dayak Ngaju adalah kemampuan menyerap kebudayaan dari luar. Bahkan proses perpaduan dan pembauran kebudayaan tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak dapat disangkal bahwa ada juga kelompok - kelompok dari orang Dayak Ngaju yang meninggalkan kebudayaannya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui macam - macam kesenian yang terdapat di Desa Tumbang Manggu, bagaimana kesenian tersebut dibuat dan apa saja manfaat serta kegunaannya, upaya apa saja yang dilakukan oleh masyarakat Desa Tumbang Manggu untuk tetap menjaga kesenian tersebut agar tidak hilang seiring zaman. Pendekatan yang digunakan dalam penelian ini adalah kualitatif deskriftif dan metode yang digunakan adalah wawancara, dokumentasi dan observasi. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa  Suku Dayak Ngaju yang ada di Desa Tumbang Manggu Kecamatan Sanaman Mantikei Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah, memiliki kesenian yang beragam. Mulai dari kesenian tari, musik, menganyam, memahat dan melukis. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi yang semakin canggih nilai-nilai kesenian daerah mulai pudar dan perlahan hilang. Untuk mencegah hal itu terjadi masyarakat Desa Tumbang Manggu membentuk sebuah sanggar dan memperkenalkan kesenian daerah kepada pelajar yang ada di daerah tersebut, agar kesenian tidak dilupakan oleh generasi penerus dan ada hingga masa yang akan datang. Dari sanggar yg didirikan ini lah para pelajar mempelajari kesenian tari, musik, meganyam, memahat dan melukis serta memperkenalkan kepada masyarakat luas dengan cara mengikuti lomba-lomba yang ada. Kata kunci :Kesenian; Adat Istiadat Dayak; Suku Dayak Ngaju; Desa Tumbang Manggu AbstractThe Ngaju Dayak tribe has a wealth of art. A characteristic found in the Ngaju Dayak culture is the ability to absorb culture from outside. In fact, the process of cultural integration and assimilation is carried out in such a way that it cannot be denied that there are also groups of Ngaju Dayak people who have left their own culture.This study aims to find out the various arts found in Tumbang Manggu Village, how the art is made and what are the benefits and uses, what efforts are made by the people of Tumbang Manggu Village to keep the art from being lost over time. The approach used in this research is descriptive qualitative and the methods used are interviews, documentation and observation. The results of this study indicate that the Ngaju Dayak tribe in Tumbang Manggu Village, Sanaman Mantikei District, Katingan Regency, Central Kalimantan, has a variety of arts. Starting from the arts of dance, music, weaving, sculpting and painting. Along with the development of the times and increasingly sophisticated technology, the values of regional art began to fade and slowly disappear. To prevent this from happening, the people of Tumbang Manggu Village formed a studio and introduced local arts to students in the area, so that the arts were not forgotten by the next generation and existed for the future. From the studio that was established, the students learned the arts of dance, music, weaving, sculpting and painting and introduced them to the wider community by participating in existing competitions.Keywords: Art; Dayak Customs; Ngaju Dayak Tribe; Fallen Manggu Village
TINJAUAN PENDIDIKAN KARAKTER PADA BUDAYA TITIP ABSEN DALAM MENINGKATKAN NILAI KEJUJURAN Cahyani, Antika Mega
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.009 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.514

Abstract

AbstrakPendidikan karakter pada sistem pendidikan berupaya untuk membantu perkembangan jiwa anak-anak baik secara lahir dan batin dari sifat kodratinya menuju ke arah peradaban menjadi menusia lebih baik. Sehubung dengan itu Dewantara pernah mengemukakan bahwa menjalankan pendidikan karakter perlu diperhatikan yakni ngerti-ngroso-nglakoni (menyadari, menginsyafi, dan melakukan). Hal tersebut bahwa pendidikan karakter harus merujuk pada adanya keselarasan antara tekad-ucap-lampah (niat, ucapan, kata-kata dan perbuatan.Kata Kunci: Karakter, Nilai Kejujuran AbstractCharacter education in the education system seeks to help the development of children's souls both physically and mentally from their nature towards civilization to be better aging. In connection with that, Dewantara once suggested that carrying out character education needs to be considered, namely ngerti-ngroso-nglakoni (realizing, insyafi, and doing). It is that character education should refer to the harmony between determinations (intentions, speeches, words and deeds.Keywords: Character, Honesty Value
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI Erisa, Erisa
Jurnal Kewarganegaraan Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.562 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.1306

Abstract

AbstrakPendidikan kewarganegaraan adalah sebuah wahana studi untuk mengembangkan, melestarikan  nilai-nilai luhur serta moral yang berasal dari budaya para leluhur bangsa Indonesia. Pendidikan kewarganegaraan sebagai Pendidikan nilai berarti pendidikan kewarganegaraan memuat pendidikan nilai, agar masyarakat dapat memahami dan berperilaku sesuai dengan pedoman nilai yang ada. Pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan nilai akan mengantarkan warga negara  untuk menjadi warga negara yang baik dan cerdas yang ditandai dengan terwujudnya sebuah warga negara yang baik, cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab. Pendidikan nilai adalah suatu penanaman serta pengembangan nilai-nilai untuk dikembangkan dalam kehidupan. Tujuan adanya pendidikan nilai adalah membentuk karakter dengan materi yang berhubungan dengan moralitas, dan nilai-nilai dalam kehidupan. Pendidikan nilai yang dapat diajarkan oleh anak-anak adalah mengenai hal sopan-santun, disiplin, rajin dan lain sebagainya.Kata kunci : Pendidikan kewarganegaraan, pendidikan nilai, tujuan, contoh. AbstractCitizenship education is a vehicle for study to develop, preserve noble and moral values derived from the culture of the ancestors of the Indonesian nation. Citizenship education as value education means that citizenship education contains value education, so that the public can understand and behave in accordance with existing value guidelines. Citizenship education as a value education will lead citizens to become good and intelligent citizens characterized by the realization of a good, intelligent, participatory, and responsible citizen. Value education is an planting and development of values to be developed in life. The purpose of value education is to form characters with materials related to morality, and values in life. Value education that can be taught by children is about manners, discipline, diligentness and so on. Keywords: Citizenship education, value education, goals, examples.
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENYUSUN RPP DARING MELALUI ACTIVE KNOWLEDGE SHARING Wasito, Wasito
Jurnal Kewarganegaraan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.595 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.1283

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan Kemampuan  guru dalam menyusun RPP Daring  melalui active knowledge sharing. Penelitian merupakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus. Lokasi penelitian ini yaitu di SD Negeri 2 Belikurip dengan subjek penelitian semua guru SD Negeri 2 Belikurip Tahun Pelajaran 2020/2021  yang berjumlah 8 orang. Penilaian Kemampuan Guru dilakukan dengan teknik observasi dengan lembar observasi. Validasi data dilakukan dengan teknik triangulasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptip komparatif. Berdasarkan data empiris hasil penelitian diperoleh fakta bahwa pada kondisi awal hanya terdapat 1 orang guru (12,50%) yang masuk predikat Baik dengan nilai rata-rata Kemampuan 56,3. Sementara itu, pada siklus I hasilnya menjadi 5 orang (62,5 %) yang masuk predikat Baik dengan nilai rata-rata 75,0. Selanjutnya, pada siklus II terjadi peningkatan kembali menjadi 2 orang guru (25,0%) yang masuk predikat Amat Baik, sebanyak 6 orang guru (75 %) yang masuk predikat Baik dengan nilai rata-rata Kemampuan guru 87,5. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa active knowledge sharing dapat meningkatkan Kemampuan guru menyusun RPP Daring di SD Negeri 2 Belikurip Tahun Pelajaran 2020/2021.Kata kunci: Kemampuan  guru, RPP , active knowledge sharing, online AbstractThis study aims to improve the ability of teachers in compiling online lesson plans through active knowledge sharing. This research is a School Action Research (PTS) which is conducted in 2 (two) cycles. The location of this research is SD Negeri 2 Belikurip with the research subjects of all teachers of SD Negeri 2 Belikurip in the academic year 2020/2021, totaling 8 people. Teacher Ability Assessment is done by observation techniques with observation sheets. The data validation was done by using triangulation technique. Data collection was carried out through observation. Data analysis was performed using comparative descriptive analysis techniques. Based on empirical data from the research results, it was found that in the initial conditions there was only 1 teacher (12.50%) who was included in the predicate Good with an average value of ability of 56.3. Meanwhile, in the first cycle the results were 5 people (62.5%) who entered the Good predicate with an average value of 75.0. Furthermore, in the second cycle there was an increase again to 2 teachers (25.0%) who were included in the Very Good predicate, as many as 6 teachers (75%) who were included in the predicate Good with an average score of 87.5. Based on these results, it can be concluded that active knowledge sharing can improve the ability of teachers to compile online lesson plans at SD Negeri 2 Belikurip for the 2020/2021 academic year.Keywords: Teacher ability, lesson plans, active knowledge sharing, online

Page 10 of 168 | Total Record : 1679