cover
Contact Name
T Heru Nurgiansah
Contact Email
setiawan1000@gmail.com
Phone
+6281322551635
Journal Mail Official
nurgiansah@upy.ac.id
Editorial Address
Jl. IKIP PGRI I Sonosewu No.117, Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kewarganegaraan
ISSN : 19780184     EISSN : 27232328     DOI : https://doi.org/10.31316/jk.v7i1.5299
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Kewarganegaraan is published 2 times in 1 year in June and December. The scope of the article includes: 1. Pancasila Education 2. Citizenship Education 3. Social Sciences 4. Politic 5. Law
Articles 1,679 Documents
PROSTITUSI DITINJAU DARI SILA KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB Choirunnisa Amalia
Jurnal Kewarganegaraan Vol 2 No 1 (2018): 1 Januari - 30 Juni 2018
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.305 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.922

Abstract

AbstrakProstitusi berarti berhubungan fisik secara intim atau hubungan badan antara laki-laki dan perempuan diluar ikatan yang sah atau perkawinan dan dilakukan secara berganti-ganti pasangan setelahnya mendapatkan uang atau imbalan serta maretial lainnya. Prostitusi yang ada di Indonesia dimulai sejak campur tangan Belanda pada waktu negara tersebut menjajah negara Indonesia dan mempengaruhi kehidupan dan tata kehidupan di Indonesia. Menurut nilai-nilai masyarakat di Indonesia yaitu pada sila kedua Pancasila terdapat urgensi dimana tercantum pesan atau amanat bahwasanya setiap warga negara harus memiliki nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang tinggi serta bisa menerapkan hal itu dalam kehidupan bernegara. Cita-cita hukum Indonesia terhadap kemanusiaan yang adil dan beradab akan terwujud apabila prostitusi lenyap dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Prostitusi di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya, kemiskinan dan lingkungan sosial. Dari faktor tersebut yang mendominasi masuknya dunia prostitusi yaitu kurangnya kesejahteraan dan fungsi serta peran dari keluarga dan pemerintah. Perlu ada bimbingan dan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kepribadian individu sejak dini.Kata Kunci: Prostitusi, Pancasila, sosial AbstractProstitution means intimate physical intercourse or intercourse between a man and a woman outside of a legal bond or marriage and is performed in alternating partners afterwards to obtain money or rewards and other benefits. Prostitution in Indonesia began since dutch intervention at the time the country colonized the country and affected the life and living system in Indonesia. According to the values of the people in Indonesia, namely in the second precept of Pancasila there is an urgency where there is a message or mandate that every citizen must have a fair and high civilized humanitarian value and can apply it in state life. Indonesia's legal ideals for a just and civilized humanity will be realized if prostitution vanishes in Indonesian people's lives. Prostitution in Indonesia is caused by several factors. One of them, poverty and the social environment. Of these factors that dominate the entry of the world of prostitution is the lack of welfare and the functions and roles of families and governments. There needs to be guidance and education that suits the characteristics and personalities of the individual early on. Keywords: Prostitution, Pancasila, social.
PERAN MEDIA SOSIAL UNTUK PENINGKATAN KREATIVITAS Cahya Nusantara
Jurnal Kewarganegaraan Vol 1 No 2 (2017): 1 Juli - 31 Desember 2017
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.148 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.923

Abstract

Abstrak Sosial media, kita mengenal bahwa sosial media pada saat ini adalah media yang sangat popular dan banyak sekali yang memakai soaial media ,Dari media sosial pun kita bisa mendaptkan banyak sekali infomasi dengan secara cepat hingga kita bisa mengetahui informasi yang tepat.Dan kita sudah tahu  bahwanya media sosial sangat berpengaruh di massa sekarang. Dan dari informasi infomasi yang banyak di dapat dari media sosial bisa membuat orang menjadi memperbanyak pengetahuan dana bisa juga menunjang kreativitas dari orang yang menggunakan media sosial , di sosial media sendiri sudh banyak app yang tersedia seperti whatshaap,twiter,youtube,facebook,instagram dll, yang menunjang kreativitas orang yang menggunakan sosial media tersebut.kreativitas dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah (kemampuan untuk mencipta / Daya cipta perihal berkerasi /kratifitas) jadi kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mencipatakan / berkerasi di video,foto,tulisan dan gambar dan media sosial apakah bisa untuk peningkatan kreativitas sesorang.Kata kunci : Sosial media, Peningatan Kreativitas AbstractSocial media, we know that social media at this time is a very popular media and a lot of people who use social media, From social media, we can get a lot of information quickly so that we can know the right information. And we already know that social media is very influential in the masses now. And from information that can be obtained from social media can make people become more knowledgeable funds can also support the creativity of people who use social media, on social media itself sudh many apps available such as WhatsApp, Twitter, Youtube, Facebook, Instagram, etc., which supports the creativity of people who use social media. creativity in a large dictionary of the Indonesian language is (the ability to create / Copyright about the constellation/creativity) so creativity is the ability of a person to create / constellation in videos, photos, writings and images, and social media whether it can be to increase one's creativity.Keywords: Social media, warn of creativity.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN NON TATAP MUKA PADA MATA PELAJARAN PPKN Grandi Wicaksono
Jurnal Kewarganegaraan Vol 1 No 2 (2017): 1 Juli - 31 Desember 2017
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.745 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.924

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran non tatap muka pada mata pelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan dalam pencapaian hasil belajar siswa secara optimal. Untuk mengetahui efektivitas pembelajaran non tatap muka dapat dilhat dari perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran non tatap muka dan pembelajaran siswa dengan tatap muka pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. tentunya sangat menghasilkan pembelajaran yang menggunakan pembelajaran secara tatap muka, karna jika secara tatap muka siswa akan mendapatkan pembelajaran dari guru akan lebih mudah di pahaminya dan mudah di mengerti. Dengan demikian siswa yang mendapatkan pembelajaran non tatap muka dengan menggunakan modul pembelajaran tatap muka memiliki skor rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang dalam pembelajaran non tatap muka dengan pembelajaran Pendidikan kewarganegaraan.Kata Kunci: Pembelajaran, PPKN AbstractThis study aims to find out the effectiveness of non-face-to-face learning in pancasila and citizenship education subjects in achieving optimal student learning outcomes. To know the effectiveness of non-face-to-face learning can be seen from the difference in student learning outcomes using non-face-to-face learning and face-to-face student learning in Citizenship Education courses. of course, it is very much a learning that uses face-to-face learning, because if face-to-face students will get learning from lecturers will be easier to understand and easy to understand. Thus students who get non-face-to-face learning by using the face-to-face learning module have a higher average score compared to students who are in non-face-to-face learning with citizenship education learning.Keywords: Learning, PPKN
IMPLEMENTASI UNDANG-UNDANG NO. 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK (Studi Kasus Perkawinan Dini di Desa Kendayakan Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu) Tyssa Yanuari Archida Maulia; Rosalia Indriyati Saptatiningsih
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4 No 1 (2020): 1 Januari - 30 Juni 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.524 KB) | DOI: 10.31316/jk.v4i1.877

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui Implementasi Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak di Desa Kendayakan Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu. Penelitian Kualitatif ini dilaksanakan di Desa Kendayakan Kecamatan Terisi Kabupaten Indramayu. Prosedur yang dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triagulasi sumber dan triagulasi teknik. Subjek penelitian 10 (Sepuluh) orang terdiri dari 1 Kepala KUA Kecamatan Terisi, 1 Kepala Desa, 1 Wali Nikah, 6 Pasangan Menikah, 1 Orang Tua pasangan yang menikah. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Undang-Undang Perlindungan Anak No.35 Tahun 2014 belum terimplementasikan dengan baik karena pemahaman masyarakat Desa Kendayakan mengenai ketentuan usia pernikahan sangat beragam. Mayoritas mereka berpendapat bahwa usia perkawinan adalah ketika anak- anak sudah mencapai baligh yang mengatakan bahwa haid dan hamil merupakan bukti ke-baligh-an seorang wanita. Ada juga yang berpendapat antara usia 15-17 tahun. Mereka menganggap usia tersebut adalah usia siap menikah Pemahaman tersebut dipengaruhi oleh : (1) Mereka menganggap mengawinkan anak lebih cepat adalah lebih baik. (2) Agar cepat lepas tanggung jawab orang tua. Alasan ini biasanya lebih bersifat ekonomis. (3) Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 masih belum sepenuhnya berjalan dengan baik. (4) Keberadaan kitab-kitab fiqih klasik masih menjadi rujukan dan pedoman kuat bagi masyarakat. Masyarakat memahami bahwa pernikahan atau menikahkan anak (diusia anak anak) merupakan salah satu bentuk perlindungan orang tua terhadap anak, dan Undang-Undang Perlindungan Anak ada untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan, akan tetapi masyarakat juga tidak setuju jika Undang-Undang tersebut untuk mencegah pernikahan di usia anak-anak.Kata Kunci: Implementasi, Undang-Undang No. 35 Tahun 2014, Perlindungan Anak AbstractThis study aims to determine the Implementation of Law No. 35 of 2014 concerning the Protection of Children in Kendayakan Village, Terisi Subdistrict, Indramayu Regency. This Qualitative Research was conducted in the Village of Kendayakan, Sub-District of Terisi, Regency of Indramayu. The procedure is carried out using observation, interview, and documentation techniques. Validity checking of data using source triagulation and technique triagulation. The research subjects were 10 (ten) people consisting of 1 Head of KUA Subdistrict, 1 Village Chief, 1 Marriage Guardian, 6 Married Couples, 1 Parent of a married couple. The results of this study conclude that the Child Protection Act No. 35 of 2014 has not been implemented properly due to the understanding of the village community. The challenge of the provisions on marriage age is very diverse. The majority of them argued that the age of marriage is when children have reached the age of high who say that menstruation and pregnancy are proof of a woman's balance. There are also those who argue between the ages of 15-17. They consider that age is age ready to marry. Understanding is influenced by: (1) They consider marrying a child faster is better. (2) In order to quickly escape the responsibilities of parents. This reason is usually more economical. (3) Implementation of Marriage Law No. 1 of 1974 is still not fully running well. (4) The existence of classical jurisprudence books is still a strong reference and guideline for the community. The community understands that marriage or marrying children (in the age of children) is one form of parental protection for children, and the Child Protection Act is there to protect children from acts of violence, but the community also does not agree if the Law is to prevent marriage at the age of children.Key Words: Implementation, Law No. 35 of 2014, Protection of Children
KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR Dika Triyana
Jurnal Kewarganegaraan Vol 1 No 2 (2017): 1 Juli - 31 Desember 2017
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.1 KB) | DOI: 10.31316/jk.v3i2.927

Abstract

AbstrakPengakuan adanya bencana banjir telah terjadi di seluruh dunia ,banjir dan genangan merupakan masalah tahunan dan memberikan pengaruh besar terhadap kondisi masyarakat baiksecara cocial,ekonomi maupun lingkungan. Banjir bukan masalah pribadi yang di teliti berdasarkan disipil ilmu,tetapi bnjir di akibatkan oleh dua faktor yaitu faktor alamiah dan aktivitas manusia seperti seperti sistem lingkungan yang rusak ,membuang sampah sembarangan.    Banjir yang sering terjadi salah satunya di daerah Jakarta atau pun daerah lainya bnyak di  disesbabkan seperti  sistem pengelolaan tata ruang  dan banyaknya gedung-gedung besar ,kurang nya penghijaun lahan,salah satu cara kita untuk menanggulanginya yaitu melalukan reboisasi tanaman seperti pepohonan,mengurangi membangun gedung-gedung besar,tidak menebang pohon secara liar,dan menjaga lingkungan yang besih dan sehatKata Kunci: Pendidikan Karakter, Karakter Peduli Lingkungan, Banjir AbstractRecognition of flood disasters has occurred around the world, floods and inundation is an annual problem and has a big impact on the condition of the community both economically and environmentally. Flooding is not a personal matter that is studied based on the selection of science, but flooding is caused by two factors, namely natural factors and human activities such as damaged environmental systems, littering.    Floods that often occur in the Jakarta area or other areas are caused by spatial management systems and the number of large buildings, lack of greening land, one of our ways to overcome it is by reforestation of plants such as trees, reducing large buildings, not cutting down trees wildly, and maintaining a clean and healthy environment Keywords: Character Education, Character Care for the Environment, Flooding
PERAN ORANGTUA DALAM OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG ANAK UNTUK MEMBANGUN KARAKTER ANAK USIA DINI Iqra Mulyati Bayna
Jurnal Kewarganegaraan Vol 1 No 2 (2017): 1 Juli - 31 Desember 2017
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.488 KB) | DOI: 10.31316/jk.v5i1.928

Abstract

AbstrakPentingnya pendidikan dini pada anak telah menjadi perhatian pemerintah. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar, ternyata tidak benar, bahkan pendidikan yang dimulai usia taman kanak2 pun sebenarnya sudah terlambat. Menurut hasil penelitian di bidang neurologi seperti yang dilakukan oleh Dr. Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari universitas Chicago, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0-4 tahun mencapai 50%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka segala tumbuh kembang anak baik fisik maupun mental tidak akan berkembang secara optimal. Peran yang sangat strategis dalam optimalisasi pendidikan usia dini adalah peran orang tua. Pembiasaan yang disertai dengan teladan dan diperkuat dengan penanaman nilai-nilai yang mendasari secara bertahap akan membentuk budaya serta mengembangkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara ini lingkungan keluarga dapat menjadi pola penting dalam pembudayaan karakter bangsa bagi anak dan generasi muda. Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang baik dan mana yang sala tetapi lingkuan keluarga juga memiliki peran dalam mengajarkan keterampilan seorang anak agar anak memiliki keterampilan di masa yang akan datang.Kata Kunci: Orang Tua, Karakter, Anak Usia Dini AbstractThe importance of early childhood education in children is a concern of the government. Assuming that new education can begin after primary school age, that's not true, even education that starts kindergarten age is actually too late. According to the results of research in the field of neurology as conducted by Dr. Benyamin S. Bloom, an education expert from the University of Chicago, USA, shows that the growth of brain tissue cells in children aged 0-4 years reached 50%. This means that if at that age the child's brain does not get maximum stimulation then all child development both physically and mentally will not develop optimally. A very strategic role in optimizing early childhood education is the role of parents. Habituation that is accompanied by example and strengthened by the planting of the underlying values will gradually form a culture and develop a relationship with The One True God. In this way, the family environment can be an important pattern in the culture of the nation's character for children and young people. On that basis, character education not only teaches which ones are good and which are sala but the family environment also has a role in teaching children skills so that the child has skills in the future.Keywords: Parents, Characters, Early Childhood
REAKTUALISASI IMPLEMENTASI SISTEM PENDIDIKAN INTEGRATIF DI SEKOLAH DALAM MENGANTISIPASI DEGRADASI MORAL Abdul Rahim
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4 No 1 (2020): 1 Januari - 30 Juni 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.622 KB) | DOI: 10.31316/jk.v4i1.929

Abstract

AbstrakReaktualisasi Implementasi Sistem Pendidikan Integratif di Sekolah dalam Mengantisipasi Degradasi Moral ini bertujuan untuk memaparkan strategi dalam mereaktualisasi pelaksanaan sistem pendidikan yang terintegratif di sekolah untuk mengantisipasi degradasi moral. Metode penelitian dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data digunakan teknik literatur, wawancara dan observasi. Metode analisis data digunakan metode deduktif. Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan masalah reaktualisasi implementasi sistem pendidikan di sekolah dalam mengantisipasi degradasi moral adalah perlunya penyegaran kembali pelaksanaan sistem pendidikan di sekolah dengan membangun komitmen bersama seluruh stakeholder pendidikan untuk melaksanakan berbagai strategi. Strategi yang dapat ditempuh antara lain (1) penguasan sistem dalam budaya sekolah, dengan membangun budaya sekolah yang terfokus pada peningkatan moral, pembuatan slogan yang mengacu pada peningkatan moral, mapun membuat banner; (2) penguatan penguatan ESQ, EQ dan Pembiasaan seperti pemberian waktu yang longgar untuk melaksanakan ibadah bersama membangun warung kejujuran, serta (3) perubahan indoktrinasi kepada pembelajaran tidak langsung, dengan berbagai strategi pembelajaran yang mengarah pada pembentukan nilai sikap yang dilandasi oleh moral reasioning.Kata kunci: Reaktualisasi, Sistem Pendidikan, Degradasi Moral AbstractReactualization of the Implementation of the Integrative Education System in Schools in Anticipating Moral Degradation is intended to explain the strategy in re-actualizing the implementation of an integrated education system in schools for moral degradation review. Qualitative research methods. Data collection methods using literary techniques, interviews and observations. The data analysis method uses the deductive method. The conclusion that can be drawn from the discussion of the problem of reactivating the implementation of the education system in schools in the agreement on moral degradation is the need to refresh the implementation of the education system in schools by building a commitment together with all education stakeholders to implement various strategies. Strategies that can replace include (1) a satisfaction system in school culture, by building a school culture that focuses on improving morale, making slogans that raise morale, and making banners; (2) strengthening the strengthening of ESQ, EQ and Habituation as well as providing the assistance needed to build worship together with honesty stalls, and (3) indoctrination changes for indirect learning, with learning strategies that are in accordance with motivations based on moral reationing.Key Words : Reactualization, Educational Systems, Moral Degradation
PENGGUNAAN SCHOOLOGY PADA MATA PELAJARAN PPKN TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA Ardian Wicaksono; Supri Hartanto
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4 No 2 (2020): 1 Juli - 31 Desember 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.469 KB) | DOI: 10.31316/jk.v4i2.1163

Abstract

AbstrakPenelitian bertujuan untuk analisis penggunaan Schoology pada Mata Pelajaran PPKn terhadap minat belajar siswa di SMA Negeri 1 Srandakan Bantul Tahun 2020. Penelitian ini dilakukan di  SMA  Negeri  1  Srandakan pada bulan Juli sampai Agustus tahun 2020. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah : (1) satu orang Kepala Sekolah SMA N 1 Srandakan Bantul (2) satu orang Guru Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (3) Siswa SMA N 1 Srandakan sejumlah 8 orang. Teknik analisis data  melalui  pengumpulan data, reduksi data,  penyajian  data  dan  penarikan  kesimpulan. Pemerikasaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi data. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Schoology memiliki kemudahan dalam mengatur administrasi pembelajaran siswa di SMA Negeri 1 Srandakan karena siswa dapat presensi, mendapat materi hingga evaluasi di  Schoology;  (2) Schoology dapat mengendalikan minat belajar siswa dalam aspek preventif dengan cara kegiatan belajar menyenangkan, persuasif dengan cara membujuk melalui fitur massages, dan represif dengan cara didatangi rumahnya berdasarkan informasi yang disajikan dalam aplikasi tersebut; (3) Schoology memiliki tampilan seperti media sosial Facebook ditandai warna dasar yang sama yaitu biru dan putih serta menu yang identik; (4) Schoology memiliki keunggulan untuk diskusi pada pembelajaran daring, siswa dapat berdiskusi kelompok dengan guru sebagai pemantik materi dalam fitur Groups; (5) Schoology mengakomodasi aneka macam media pembelajaran antara lain media gambar visual, audio, dan audio visual atau video.Kata Kunci: Schoology, PPKn, Minat Belajar Siswa AbstractThe research aims to analyze the use of Schoology in PPKn Subjec ts on student interest in learning at SMA Negeri 1 Srangkan Bantul in 2020. This research was conducted at SMA Negeri 1 Srangkan from July to August 2020. This study used a qualitative descriptive method. Data were collected through observation, interviews and documentation. The subjects of this study were: (1) one principal of SMA N 1 Srangkan Bantul (2) one teacher of Pancasila and Citizenship Education (3) 8 students of SMA N 1 Srangkan. Data analysis techniques through data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. Data validity was checked by data triangulation. The results of this study are: (1) Schoology has the convenience of managing the administration of student learning at SMA Negeri 1 Srangkan because students get presence, receive material and evaluation in Schoology; (2) Schoology can control student interest in preventive aspects by means of fun, persuasive learning activities by persuading through massages, and repressive features by visiting their house based on the information presented in the application; (3) Schoology has a display similar to Facebook's social media marked with the same basic colors, namely blue and white and identical menus; (4) Schoology has the advantage of discussions on online learning, students can have group discussions with the teacher as material triggers in the Groups feature; (5) Schoology accommodates various kinds of learning media, including visual images, audio, and audio-visual or video media.Keywords: Schoology, PPKn, Student Learning Interest
TEMBANG MOCOPAT DALAM SERAT WULANG-REH DAPAT MEMBENTUK MANUSIA BERKARAKTER Sukadari Sukadari
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4 No 2 (2020): 1 Juli - 31 Desember 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.173 KB) | DOI: 10.31316/jk.v4i2.1164

Abstract

AbstrakMakna dalam Tembang Mocopat yang ada dalam serat  wulang-reh  bertujuan untuk mendidik manusia yang berbudi luhur,  berjiwa  kesatria,  santun  dan beradab sehingga di era globalisasi ini dapat berperilaku sesuai dengan sila-sila yang ada dalam Pancasila termasuk pengamalannya. Setiap tembang mempunyai makna tentang penjalanan hidup manusia dari lahir sampai akhir hayatnya. Berperilaku tidak sombong menjauhkan rasa ego atau aku menajamkan mata  batin, menyadarkan manusia yang penuh keterbatasan  sebagai  makhluk  Tuhan, ini semua tersirat dan tersurat dalam ajaran serat wulangreh melalui tembang mocopat. Dengan mempelajari serta mengamalkan ajaran ini dapat membentuk manusia berkarakter sehingga serat  pula  mewujudkan  manusia  yang  beradab dan berkarakter.Kata kunci : Mocopat, wulang-reh, karakter AbstractThe essence of Mocopat song as depicted in wulang-reh composition purports to educate human with good character, brave, genteel and civilized, who is able to face the globalization challenge with consistent adherence to Pancasila values and experiences. Each part of the song possesses a meaningful story about human journey since birth to death. Avoiding arrogance attitude and liberating the self from ego can help to sharpen intuition while maintain human personal awareness as God’s creatures riddled with limitations, and all these both literally and figuratively can be found in the teaching of wulangreh and through mocopat song. By learning to practice this lesson human can furnish his character with nobility, and the composition helps him to be even more civilized.Keywords : Mocopat, wulang-reh, character
PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA MATI TERHADAP PEMBUNUHAN BERENCANA Amelia Kartika; Ari Retno Purwanti
Jurnal Kewarganegaraan Vol 4 No 2 (2020): 1 Juli - 31 Desember 2020
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.384 KB) | DOI: 10.31316/jk.v4i2.1165

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana mati terhadap pembunuhan berencana di Pengadilan Negeri Sambas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Peneliti menggumpulkan data dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk memperoleh data yang lengkap dan detail. Subjek Penelitian dengan teknik purposive atau hanya informan yang mengetahui Pembunuhan Berencana yaitu: (1) Hakim Ketua Pengadilan Negeri Sambas, (2) Panitera Pengganti, dan (3)  saksi  korban. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Pemeriksaan keabsahaan data menggunakan  teknik  triangulasi.  Hasil penelitian ini menyimpulkan Pertimbangan Hakim itu  dari  surat  dakwaan yang menyatakan terdakwa bersama adiknya telah melakukan tindakan pembunuhan yang direncanakan dalam pasal 340 KUHP Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, bahwa terdapat unsur kesengajaan, ada perencanaan dalam perbuatan tersebut serta terdapat adanya kematian, Pasal 80 ayat (3) Undang- Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta menyebabkan  anak mati, hakim melihat data, saksi, dan barang bukti yang ada, syarat-syarat terdakwa dipidana, dan hakim dapat memutuskan terdakwa dihukum pidana mati.Kata Kunci : Pertimbangan Hakim, Pidana Mati, Pembunuhan Berencana. AbstractThis study to determine the judge’s consideration in imposing capital punishment against premedditated murder at the Sambas District Court. This study uses a qualitative method. Researcher collect data by making observations, interviews and dokumentation to obtain complete and detailed data. The research subjec ts used purposive technique or only imformant who knew planned killings were (1) Chief Judge of the Sambas District Court, (2) Substitute Registrars, and (3) victim witnesses. Data analysis was performed using descriptive analysis techniques. Checkthe validity of the data using triangulation techniques. The results of this study concluded the Judge’s consideration from the indictment which stated the defendant and his younger brother had committednthe murder planned in Article 340 of the Criminal Code Jo. Article 55 paragraph (1)-1 of the Criminal Code, that there is a an element of deliberation, there is planning in the act and there is a death, Article 80 paragraph (3) of Law No. 23 of 2002 concerning Child Protection and causing children to die, the judge looks at the data, witnesses, and existing evidence,the conditions for the defendant to be sentenced,and the judge can decide that the defendant is sentenced to death.Keywords: Judge’s Consideration, Death Penalty, Planned Murder

Page 14 of 168 | Total Record : 1679